Halo halo halo halo semuanya~ maaf chap 4 lambat update ya, habisnya Yuki banyak aktifitas nih! *sok sibuk* oke, pertama-tama sebelum memulai chap 4 dari fic gaje nan abal ini, yuki ucapkan TERIMAKASIH SUDAH MAU MEBACA DAN MEREVIEW FF YUKI! *nangis guling guling dengan gajenya*

Nah, ini dia balesan reviewnya, hehehe ^^

MeoNg ~ haha, gapapa. Yosh! ^o^ makasih udah ngikutin ff gaje nan abal sampai sekarang ini meong-san! *nangis nangis terharu*

Jee-ya Zettyra ~ haha… ups, jee-san kayaknya akan menemukan jawabannya diantara chap ini atau chap selanjutnya ^^ yosh, makasih ya udah mau review lagi~!

Yanz Namiyukimi-chan ~ hueee sama, yuki juga pembenci Inoue habisnyaaa T3T sip, chap 4 update nih ^^

Ruki Yagami –G LogIn ~ gak papa, kok.. hehe. Makasih banyak ya udah mau suka ff gaje dan abal ini, ruki-san! Gak kok, emang diawal awal chap emang gini, tapi tenang aja, nanti bakal ada *mungkin + diusahakan* ada unsur romance nya… karena genre-nya kan yuki juga nulis romance, hehe. Hee? Maaf ya ruki-san, tapi gimana dong, emang udah skenarionya rukia harus kayak gitu *ditabok* ho'oh, sip deh! Yosh~ chap 4 update nih cin! ^o^

yuuna hihara ~ maaf ya yuuna-san, kalau soal kenapa si inoue milih rukia itu belum bisa dikasih tau ^^" hoho kalau soal ichigo nolongin atau gak, bakal diketahui cepat atau lambat! Hehe. Makasih! Go ichiruki! ^o^

bl3achtou4ro ~ gapapa kok, asalkan bl3ach-san udah baca dan review udah bikin senang kok haha ^^ ngomong ngomong nama panggilannya bl3ach-san siapa ya? *maaf yukinya nanya nanya yang aneh aneh T-T* yang nolongin bakal diketahui sendiri oleh bl3ach-san hehehehe. siip! Chap 4, UPDATE nih! ^o^d

Kurochi Agitohana ~ emang inoue jahat ya kurochi-san! Yuki juga benci inoue! T-T benci benci benci! *ini mau balas review atau curhat sih? =="* siip deh! Chap 4, UPDATE! \^o^/

blekblek ~ hyaaa xD~ akhirnya kak tara nongol juga di ff ya! Hehehe~ siip deh, bakal diusahain ! EH? Jangan dong nanti rukia nya makin kasian dong aduh kakak… == hmm tapi nanti bos pertimbangin deh, hehehe. Di vote aja deh ^^ yo'i, siip! Chap 4 nih udah publish! ^o^v

aRaRaNcHa ~ hehe gak papa kok ^^ wah matanya udah sehat ya? Bagus dong! Iya nih, terpaksa, sebenarnya dorami-chan gak tega buat rukia-chan yang manis jadi tersiksa seperti ini, tapi, apa boleh buat… huhuhu T-T *lebay* siip cha-san, chap 4, UPDATE! ^^v

siip, tanpa membuang banyak waktu lagi, langsung saja kita mulai ff ini! ^o^ yup, mulai, START!

DISLAIMER : kubo taito-sensei pastinya ^^d

n.b. : warning: gaje, abal, jelek, OOC, (mungkin ada) typo, dll

pairing : *secepatnya yuki usahakan ada adegan* ichiruki ^^~

====================0=====================

HE IS…?

====================0=====================

Dengan hati-hati, Chizuru bertanya dengan bahasa sebaik-baiknya agar Inoue tidak tersinggung.

"Um, ngomong-ngomong, Orihime, kenapa kau pilih dia untuk melampiaskan kemarahanmu kali ini?"

Inoue berhenti tertawa saat mendengar pertanyaan Chizuru tersebut. Tiba-tiba, raut mukanya berubah menjadi tatapan sinis dan benci yang bercampur menjadi satu dimukanya dan tangannya dikepalkan dengan getaran kuat dan geram.

"Karena dia…-"

=======================0=====================

-chapter 4-

=======================0=====================

"RUKIAAAAAA!"

Teriakan Rangiku terdengar jauh… jauh hingga menggema sampai ke sudut-sudut bangunan sekolah. Tapi nampaknya teriakan itu hanya sia-sia saja, karena orang yang sedang dicarinya tak menjawab panggilannya sedari tadi.

'Hhh… Si… sial… aku tak menemukannya dimana pun!' Aku rasa sudah di semua ruangan aku mencarinya…' batin Rangiku dengan nafas terengah-engah dan memburu. 'Ini pasti ulah si Inoue busuk itu!' lanjutnya.

==============0=============

-FLASHBACK-

==============0=============

TOK TOK TOK!

"Siapa?" Seorang pria yang masih tergolong muda itu menyahut ketukan dari luar pintu ruang kerjanya.

"S-saya Matsumoto Rangiku, anak kelas 3-2, sensei."

"Oh, Matsumoto-san. Silahkan masuk."

CKLEK

"Ada apa kesini, Matsumoto-san? Harusnya kau sudah pulang, 'kan? Sekarang sudah jam 4 sore."

"K-karena itulah, Ichimaru-sensei. Ada y-yang ingin saya tanyakan…" ucap Rangiku gagap dan dengan jantung yang berdegup kencang. Ya, Matsumoto Rangiku, cewek yang terkenal pemberani itu, akan menjadi gugup jika berada didekat Ichimaru-sensei, guru kesayangannya, sama seperti sifat orang yang akan ditanyakannya kepada Ichimaru-sensei tersebut.

"Apa itu?" Ichimaru-sensei menaikkan salah satu alis matanya, tetap dengan senyuman khasnya.

"A-ano… E-eto, sensei… Apa sensei tahu Ruki- eh maksud saya, Kuchiki Rukia dari kelas 3-2 berada sekarang?"

"Kuchiki?" Alis Ichimaru-sensei semakin berkerut, membuat Rangiku menjadi agak mengingat si anak baru bernama Ichigo itu.

"I-iya. Bukankah tadi dia datang kesini sekalian bersama Arisawa dan Honshou?"

"Eh…?" mata Ichimaru-sensei menjadi agak terbuka mendengar pertanyaan dari Rangiku tersebut.

"Karena Arisawa dan Honshou bilang kepada Kuchiki kalau Sensei memanggil mereka, m-mungkin karena nilai ulangannya yang buruk."

Tawa Ichimaru-sensei lepas. Seakan tahu apa maksud muka Rangiku yang tiba-tiba heran kenapa ia malah tertawa, Ichimaru-sensei segera berhenti tertawa dan segera menjawab keheranan yang ada di muka Rangiku yang menatapnya terus sedari tadi.

"Matsumoto, sejak kapan ada cerita seperti itu? Aku tak ada memanggil mereka seharian ini untuk datang keruanganku. Lagipula kalau kata mereka benar pun…," Ichimaru-sensei menghentikan perkataannya sejenak. "… Aku akan percaya kalau Arisawa dan Honshou mendapat nilai buruk bahasa inggris. Tetapi tidak untuk Kuchiki, karena..."

Rangiku hanya mendengar perkataan guru kesayangannya yang selalu memperlihatkan senyuman khasnya dengan muka seperti ingin tahu kelanjutan kalimat Ichimaru-sensei.

"… Kau tahu sendiri kalau temanmu itu sangat pintar hampir di semua mata pelajaran, termasuk mata pelajaranku, bahasa inggris. Dan karena itulah dia selalu mendapat peringkat tinggi sejak kelas satu, 'kan?" senyum Ichimaru-sensei kepada Rangiku yang memperlihatkan kekhawatiran akan teman dekatnya tersebut.

"E-ehm, baiklah Ichimaru-sensei. Terimakasih sudah mau meluangkan waktu Sensei untuk menjawab pertanyaan saya. Kalau begitu, saya permisi dulu, I-Ichimaru-sensei. Sampai j-jumpa hari Senin besok." Rangiku memberikan senyumannya kepada Ichimaru-sensei yang didalam hatinya sudah heran akan pertanyaan-pertanyaan yang sempat dilontarkan oleh anak muridnya itu sebelum keluar dari ruangannya.

==============0===============

-END OF FLASHBACK-

==============0===============

Rangiku sudah sampai di koridor lantai satu, dengan keringat yang tak berhentinya bercucuran di tubuhnya. Satpam sekolah yang melihatnya dari tadi berlari mengelilingi sekolah tak melakukan apapun, karena satpam sekolah yang kebetulan diperintahkan untuk menjaga sekolah kali ini adalah termasuk golongan satpam yang pemalas.

'Haah, cewek itu, ngapain keliling sekolah dari tadi, apa kena hukuman, ya?' pikir Satpam sekolah yang sedang tidur-tiduran di pos satpam dekat gerbang sekolah bagian depan tersebut. 'Sebaiknya aku tak usah mengganggunya yang sedang melakukan hukuman, toh rasanya masih ada seseorang juga kok yang tadi lewat dekat sini. Jadi kututup saja dulu gerbangnya. Lagipula Inoue Orihime tadi menyuruhku untuk menutup gerbang jika melihat cewek berdada besar dan berambut pirang seperti cewek itu masih berkeliaran di sekolah ini jika sudah sepi, daripada aku kena marah Inoue Orihime itu. Untung saja dia cantik dan putri dari Inoue Sora itu, kalau tidak sudah kumaki dia karena suka membentak dan menyuruhku." Tambahnya dengan gerutu dan desahan pelan.

Lalu ia segera menuju ke gerbang dan segera menggembok gerbang sekolah. Setelah tugas yang diperintahkan 'ratu sekolah' itu selesai, ia teledor, ia meninggalkan kunci gerbang itu tetap di pintu gerbang karena sudah mulai mengantuk. Padahal Inoue menyuruhnya untuk menyimpan kunci gembok gerbang itu didalam kantong celananya. Tetapi apa dikata, dia sudah mengantuk, dan segera berjalan ke pos satpamnya kembali, dan mulai tertidur ditemani dengan angin senja yang melambai-lambai dengan lembut disekitar mukanya.

-SEMENTARA ITU…-

BRUK!

"Aduh… Sakit…" Rangiku mendesah pelan. Untung saja tadi dia masih bisa menyeimbangkan tubuhnya dengan lumayan baik saat terjatuh, jadi dia tidak terlalu kesakitan.

"Hei, kau tak apa-apa?" seorang cowok berambut orange mengulurkan tangannya kepada Rangiku yang masih tersungkur dilantai koridor tersebut.

"K… kau… kau si kepala jeruk yang menabrak Rukia tadi pagi di depan kelas dan yang menjadi anak baru di kelas 3-2, kan!" teriak Rangiku sambil menunjuk-nunjuk cowok itu membuat cowok tersebut menambah kerutan di alis matanya.

"Entahlah, aku tak ingat kalau aku menabrak seseorang tadi pagi, yang kuingat itu ada seorang cewek pendek yang mungkin temanmu itu menabrakku…" cowok itu menjeda kalimatnya untuk beberapa saat. "Tapi yah… aku memang anak baru di kelas 3-2 yang ada anak centil berambut coklat panjang itu. Dan, hei, namaku Kurosaki Ichigo, bukan si kepala jeruk." Tambahnya dengan nada yang datar.

"Hem, baiklah. Maaf, Kurosaki." Balas Rangiku agak sebal karena nada bicara Ichigo yang datar sambil meraih uluran tangan dari Ichigo. Mereka lalu mulai berjalan mengitari sekolah, dengan Rangiku sambil sekali-sekali melirik-lirik kesana-kemari mencoba mencari jejak seseorang. Ichigo yang heran akan kelakuan Rangiku, segera bertanya kepadanya.

"Hei, ngomong-ngomong kenapa kau masih belum pulang? Ini sudah sekitar jam 6. Sekolah juga sudah sepi."

Rangiku terdiam beberapa saat mendengar pertanyaan Ichigo.

"Temanku yang kau tabrak tadi pagi didepan kelas…-"

"Bukan aku yang menabrak, tapi dia." Ichigo memotong perkataan Rangiku yang menggantung, membuat Rangiku menjadi sebal dengannya.

"Yah, terserah kau lah, apapun itu, Rukia tak kembali-kembali sejak pergi bersama Honshou dan Arisawa."

"Oh, Honshou dan Arisawa itu dua cewek yang satu tomboy dan berambut pendek dan satu lagi berkacamata itu, ya?"

"Benar. Hebat juga kau bisa hafal fisik orang-orang disekitarmu dengan cepat."

"Yah, begitulah. Lalu, kenapa temanmu yang bernama…- siapa namanya? Yang pendek itu."

Rangiku berkerut semakin kesal karena Ichigo mengatakan Rukia 'pendek' walaupun itu memang sebenarnya.

"Kuchiki Rukia."

'Kuchiki…?' batin Ichigo.

"Oh, yah- Kuchiki itu-"

"Sudahlah, panggil saja dia Rukia. Dia itu orang yang baik, kok." Rangiku memotong perkataan Ichigo dan merasa puas karena dia berpikir dia sudah membalas yang dilakukan Ichigo terhadapnya tadi.

'Apa nyambungnya?' Ichigo berkata dalam hati.

"Baiklah, si Rukia itu, kenapa dia tak kembali-kembali ke kelas?"

"Itu… aku hanya menduga saja. Tapi aku rasa Inoue, si cewek centil itulah yang mencelakai Rukia."

"Hah?"

"Ya, aku tau benar sifat si brengsek itu. Kalau kesal, dia akan melampiaskan kemarahannya kepada siapapun yang dia mau. Tak peduli walaupun dia tidak mempunyai masalah dengan 'mangsanya'. Termasuk, Rukia."

"Hm. Kau kan bisa menelfonnya, 'kan?"

"Yah, bisa saja sih. Tapi, Rukia tidak punya HP." Rangiku menghentikan langkahnya.

"Kenapa kau berhenti berjalan? Hei?" Ichigo segera menyamakan letak posisinya dekat dengan Rangiku dan mengibaskan telapak tangannya tepat didepan muka Rangiku yang sedang menunduk kebawah.

"Tempat ini…"

"Memang kenapa dengan tempat ini?" Ichigo menjadi agak ingin tahu.

"Lihat dibawah. Seperti ada sedikit bercak… darah…? Dan sapu tangan…?" Rangiku tetap memandang tempat ia berpijak sekarang. Dia mulai berjongkok diikuti dengan Ichigo.

Ichigo yang beraut muka datar dengan kerutan alisnya tanpa rasa takut sedikitpun segera menyentuh sedikit bercak darah tersebut dan menciumnya.

"Darah ini belum lama sekali, tapi sepertinya sudah berjam-jam." Jelas Ichigo datar.

"Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Rangiku dengan ekspresi terkejut yang tak dibuat-buat.

"…" Ichigo terdiam beberapa saat. "Aku sudah terbiasa dengan darah."

"…?" Rangiku semakin terkejut dengan jawaban Ichigo itu.

"Dan jangan kau hirup sapu tangan itu, sapu tangan itu mengandung racun atau mungkin semacam bahan kimia." Lanjut Ichigo sambil melirik ke arah Rangiku yang sudah siap-siap untuk menghirup sapu tangan kotor dari bawah yang sekarang sudah berada ditangannya.

"Ba.. bagaimana kau tahu semuanya?" Ucap Rangiku terbata-bata.

"Tentu saja aku tahu, jelas-jelas sapu tangan itu berwarna bahan kimia kok. Rasanya pun semua anak SMP kelas 3 sudah tahu akan hal itu." Jawab Ichigo santai dan mulai berdiri.

Rangiku mematung mendengar perkataan Ichigo itu. 'Cih, jadi maksudnya aku ini anak SMP kelas 3 yang bodoh, begitu ya!' batinnya dalam hati. Rangiku pun memasukkan sapu tangan itu kedalam kantong roknya dan akhirnya berdiri juga.

"Hei, aku mulai curiga, darah ini mengalir dari dalam pintu gudang olahraga yang terkunci ini." Rangiku angkat bicara sambil menunjuk kearah pintu gudang tersebut.

"Jadi maumu apa?" Tanya Ichigo datar sambil tetap mengendus-endus kearah darah 'sisa' yang sudah mulai menghitam di jarinya.

"Aku…"

BRAK!

Sebelum Rangiku sempat menyelesaikan perkataannya, Ichigo telah mendobrak pintu gudang olahraga yang terbuat dari kayu tersebut.

Seperti diperintah, pintu itu langsung terbuka kasar dengan satu tendangan oleh Ichigo. 'Gelap, jorok, bauk, pengap.' Itulah pikiran yang terlintas oleh Ichigo saat mulai masuk kedalamnya.

"A… apa yang kau…-"

'Hei kau…-" teriak Ichigo dari dalam gudang itu kepada Rangiku yang masih berada diluar gudang, tanpa memerdulikan kata-kata menggantung dari Rangiku barusan.

"… Namaku Matsumoto Rangiku, tapi kau cukup memanggilku Rangiku saja." Kata Rangiku sebal.

"Yah, apapun itu, Rangiku, kau punya senter?"

"Aku punya, tapi tidak aku bawa. Aku hanya punya HP untuk penerangan didalam jika kau mau." Rangiku berteriak kearah Ichigo sambil mengacak-acak bagian dalam tasnya untuk mencari HP dan segera meng-unlock key HP-nya tersebut.

"Ya, baiklah." Jawab Ichigo dengan suara yang lebih datar dari sebelumnya.

Rangiku segera masuk dan memberikan HP-nya kepada Ichigo yang sudah menunggu penerangan sedari tadi. Tapi tiba-tiba Rangiku merasa menginjak sesuatu saat masuk kedalam. Rangiku yang masih memegang HP sontak kaget dan menjatuhkan HP-nya saat melihat ada hal ganjil yang ia injak barusan.

TRAK!

"Kau kenapa? Hei?" Tanya Ichigo sambil menyipitkan mata karena mendegar suara sesuatu yang terjatuh, berusaha melihat apa yang terjadi didekatnya dan meraba-raba sekitarnya, karena hari sudah gelap.

Mata Rangiku membulat penuh, Rangiku segera terhuyung jatuh kebawah dengan keras dengan darah yang mulai menghitam yang telah melekat dibagian roknya, dekat dengan dimana HP-nya juga terjatuh tadi dan mulai menjauh dari dalam gudang tersebut dengan perlahan, tangan dan mulut yang kelu dan gemetaran, dan mulai menitikkan air mata ketakutan.

"HUAAAAAAAAAAA!"

===============0================

-TBC-

===============0================

HONTOU NI ARIGATOU buat yang masih setia membaca dan mengikuti fict gaje yuki yang pertama ini… hiks hiks T-T lagi lagi, masih gak ada adegan romantisnya ichiruki... sebal sebul sebel! *kok jadi gaya pipiyot!* dan makasih banyak bagi yang udah menjadikan ff ini fav story! yuki terharuuuu sekali! *lebay* ngomong ngomong yuki ada pertanyaan nih, karena bingung mesti gimana untuk selanjutnya. Yuki harap senpai, readers dan yang lainnya membantu dan menjawab pertanyaan yuki ya ^^~

Q : menurut minna semua sebagusnya yuki membalas reviews semua dari PM saja atau tetap dari chapter selanjutnya untuk yang akan datang? (harus milih antara 2 ini ya ^^)

Nah, mohon untuk dijawab ya ^^ dan jika ingin masuk surga *lebay*, silahkan review ff yuki yang satu ini! Berikan komentar, kritik, saran, pujian, dll. oh iya soal kenapa ichigo masih disekolah walaupun sekolah udah sepi insyallah mungkin bakal di kasih tau di chap yang akan datang! Hehehe keep reviewing! ^^ maaf bila ada kekurangan, dan sampai jumpa di chapter 5, minna ! ^^v

(tentang penjelasan lanjut dari ff ini, silahkan buka profil yuki, di bagian bawah profil ada penjelasannya.)