Yare yare –w- setelah mendapat banyak permintaan dan lain hal semacamnya, yuki sudah berjanji kepada semua readers, reviewers, senpai, dan yang lainnya juga kalau di chapter 5 bakal menyelipkan unsur-unsur romance kedalam fic 'HE IS?' ini. Nah, jadi sesuai dengan perjanjian kita semua yang sudah disepakati dan disetujui oleh semuanya jugak, maka yuki akan membuat unsur romance dengan pairing ichiruki! Yeeey~ v^O^v jadi jangan ada yang nanya lagi ya, karena yuki sudah menepati janji nih, buat unsur romance nya! Dan tetap setia baca fic yuki ini ya! yuki juga jujur aja, dari pertama kali buat fic ini sudah ingiiiin… sekali membuat unsur romance nya T-T tapi apa mau dikata, takdir berkehendak lain… *lebay* okeh, untuk mempersingkat waktu, langsung aja ketahap selanjutnya, yaitu membalas review review dari minna =^^=

Yanz Namiyukimi-chan ~ Yang sabar, ya Yanz-san. Nih yuki udah tepati janji, di chap ini udah dimulai romance nya kok =^^= maaf udah lama nunggu.

MiRae Naomi Kurosaki ~ ikutin aja deh ceritanya ^^" *maksa*. Emm, bagaimana ya? Pokoknya pasti akan mirae-san ketahui kalau ngikutin ceritanya terus…

Aika Ray Kuroba ~ hehe benerkah? Haha ^^ yap, ini chap 5 update! Salam kenal juga aika-san!

bl3achtou4ro ~ baiklah, naoto-san ^^ akan diketahui~ yey! Sapu tangan? Coba deh naoto-san cek lagi di chap 4, ada kok dijelasin sama ichigo nya. "semua anak kelas 3 smp sudah tau akan hal itu" begitulah katanya. Hehe. Siapa yang siapa, naoto-san? Akan diketahui kok. Baiklah, maaf ya updatenya lama naoto san T-T gomen…

Ruki Yagami ~ oke, yuki udah tepati janji nih. Tetap jadi pembaca setia fic pertama yuki ini ya, ruki-san! ^^

blekblek ~ gak kok, waktu si inoue and the gank ninggalin, belum ada darah sih kak. Okeh, bakal bos bales pakek PM deh. Yosh, chap 5 update nih kak ^^v

yuuna hihara ~ makasih lagi ya yuuna-san ^^ oke, jadi intinya yuuna-san req pembalasan buat inoue nih? Hehe. Oke, yuki udah tepatin janji nih. Tetap setia, ya ^^v yosh, chap 5 update!

So-Chand 'Luph pLend' ~ akan diketahui ^^ yosh, chap 5 update nih so-chand san!

aRaRaNcHa ~ rukia nya ke gudang cha-san T-T huhu… yosh, chap 5 update ! wah ? baiklah, kalau gitu yuki bakal bales semua pakek PM ya ^^

Jee-ya Zettyra ~ dia ketakutan lho, jee-san ^^" emang ya, yuki jugak gak suka sama inoue loh, jee-san! *gak ada yg nanya* gak apa kok, makasih udah mau review lagi dan mengikuti terus fic gaje ini jee-san ^^ ya, chap 5 update!

Daaan, sesuai permintaan kak tara alias blekblek dan cha alias ararancha, yuki akan membalas reviewnya lewat PM juga ^^v

Yosh, ayo kita segera mulai aja fic ini ya.

DISCLAIMER: KUBO TAITO-sensei! ^^b

Warning: OOC, GAJE, ABAL ABAL

Pairing: pokoknya ICHIRUKI FOREVER! /

========================0=========================

-HE IS?-

========================0=========================

Rangiku segera masuk dan memberikan HP-nya kepada Ichigo yang sudah menunggu penerangan sedari tadi. Tapi tiba-tiba Rangiku merasa menginjak sesuatu saat masuk kedalam. Rangiku yang masih memegang HP sontak kaget dan menjatuhkan HP-nya saat melihat ada hal ganjil yang ia injak barusan.

TRAK!

"Kau kenapa? Hei?" Tanya Ichigo sambil menyipitkan mata karena mendegar suara sesuatu yang terjatuh, berusaha melihat apa yang terjadi didekatnya dan meraba-raba sekitarnya, karena hari sudah gelap.

Mata Rangiku membulat penuh, Rangiku segera terhuyung jatuh kebawah dengan keras dengan darah yang mulai menghitam yang telah melekat dibagian roknya, dekat dengan dimana HP-nya juga terjatuh tadi dan mulai menjauh dari dalam gudang tersebut dengan perlahan, tangan dan yang kelu dan gemetaran, dan mulai menitikkan air mata ketakutan.

"HUAAAAAAAAAAA!"

===========================0============================

-chapter 5-

===========================0============================

Teriakan keras Rangiku menggema sampai hampir keseluruh bangunan. Ichigo yang masih meraba-raba sekitar dan menyipitkan mata segera menghampiri Rangiku yang sudah menyeret dirinya keluar dari gudang yang gelap dan bau itu. Entah keberuntungan apa yang sedah merayap didiri mereka berdua, satpam bodoh sekolah masih tertidur ditemani oleh angin malam yang menyejukkan.

"Hei! Rangiku! Kau kenapa!" Ichigo berteriak kearah Rangiku. Ia tak peduli dengan apa saja yang diinjaknya digudang itu karena sudah gelap, karena sepertinya telah terjadi sesuatu sehingga membuat gadis pirang itu berteriak sekeras-kerasnya.

"I… itu…." Rangiku mengangkat jari telunjuknya dan menunjuk sesuatu dari dalam gudang itu. Tangannya tak berhenti bergetar hebat. Ichigo segera menoleh kearah yang ditunjuk oleh jari telunjuk Rangiku yang sambil tetap mengeluarkan air mata.

Ichigo segera terdiam dan menelan ludah juga setelah melihat 'itu'.

"A… aku takut…" ujar Rangiku dengan suara parau. "Rambutnya… hitam legam… d-dan pendek… aku… takut… dia...-"

Ichigo segera menepuk kepalanya, bermaksud menyadarkan dirinya dari diam. Setelah merasa sadar, dia segera berjalan lagi kedalam gudang itu tanpa penerangan kecuali sinar bulan dan bintang yang sedikit redup, berusaha melihat sekitar dengan hati-hati, melewati Rangiku yang masih menangis ketakutan.

"Uh… bauknya…" ujar Ichigo pelan sambil menutup hidungnya serapat-rapatnya agar bauk darah yang sudah mulai menghitam itu tadi tidak merasuk sampai kedalam lubang hidungnya. Dia sedang duduk menyilang didekat kepala gadis yang ia tidak begitu tau siapa sebenarnya gadis itu.

'Apa ini teman yang dicari si Rangiku itu?' tanya Ichigo dalam hati.

Ichigo mulai menggerakkan tangannya kearah kepala perempuan yang sudah berlumuran darah itu. Ichigo memutar kepala gadis berambut hitam legam pendek itu agar Ichigo bisa melihatnya dengan jelas, dan Ichigo terkejut saat melihat muka gadis itu dari arah yang dekat. Ya, arah yang dekat, setelah Ichigo mengangkat kepala gadis itu dan mendekapnya dilengan Ichigo yang kekar dan kuat.

'Ga… gadis ini…' gumam Ichigo pelan. Ia menjadi mulai mengingat seseorang setelah melihat muka gadis yang penuh darah dengan lekat. Wajah putih mulus dengan bercak-bercak darah itu terpantul dari mata coklat musim gugur Ichigo. Ichigo seakan tak peduli lagi dengan aroma darah yang ada disekitarnya dan baju putih sekolahnya yang terkena darah. Dia mulai menggerakkan sebelah tangannya lagi untuk menyentuh pipi gadis itu, ketika…

"ICHIGO!" Tiba-tiba Rangiku masuk kedalam gudang itu sambil membawa lampu minyak. Roknya yang sudah ternodai bercak-bercak darah hitam melambai-lambai seiring dengan gerakan penggunanya yang diterpa oleh angin malam.

"Rangiku? Dari mana kau dapat lampu minyak itu?" ujar Ichigo mengalihkan pandangannya dari gadis itu ke arah Rangiku, tetap dengan kepala gadis berambut hitam legam itu dipelukan lengan Ichigo.

Tetapi, Seakan tak mendengar pertanyaan Ichigo, Rangiku segera terduduk kembali dan dengan cepat meletakkan lampu minyak itu didekat Ichigo saat melihat muka orang yang dicarinya sejak tadi sore.

"Ru… Rukia…" Rangiku mulai menangis kembali. "Di… dia… dengan darah… sebanyak i-itu… sebenarnya dia k-kenapa?" ucap Rangiku gemetaran.

"Jadi gadis ini yang dari tadi kau cari?" tanya Ichigo pelan.

"…" Rangiku masih terdiam sambil terisak. "… Ya."

Ichigo segera menolehkan kembali kepalanya kearah kepala gadis yang tergeletak tak berdaya yang sekarang berada dipelukan lengannya itu.

"Lihatlah, dibagian belakangnya, seperti ada tusukan benda kecil." Ichigo telah kembali menjadi sosok yang datar. Ia segera meraba lantai bawah, letak dimana bagian kepala Rukia yang banyak mengeluarkan darah tadi tergeletak.

"… Ada paku." Ujar Ichigo datar.

Rangiku segera membulatkan matanya yang masih berkaca-kaca.

"Pa… paku…? Ja… jadi itu yang m-membuat kepalanya mengeluarkan b-banyak darah…?"

Ichigo mendesah pelan. "Mungkin…, ya. Dan ada tusukan kecil juga di kakinya." Ichigo menunjuk kearah kak Rukia.

"A-apa? Siapa yang sudah berani berbuat seperti ini kepadanya… ?" Isak Rangiku semakin menjadi-jadi.

Ichigo hanya terdiam. Dia tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Sudah malam –diketahui karena sekarang bulan dan bintang sudah mengeluarkan sosoknya dilangit-, baju yang penuh dengan bercak-bercak darah, dan dia sangat kecapaian.

"Hei, sudahlah Rangiku. Kau jangan menangisi apa yang sudah terjadi. Lebih baik sekarang kita bawa gadis ini ketempat yang aman dan kita segera pulang." Ichigo beranjak berdiri sambil mengangkut Rukia di lengannya. Samar-samar, terasa bau violet keluar dari tubuh Rukia walaupun agak tertutupi karena aroma darah.

'Wangi… violet…' pikir Ichigo. Dia merasa bau darah yang menempel disekitarnya telah terbayarkan dengan bau violet itu. "Hei Rangiku, tas sekolahnya ada dimana?"

"Hiks… a-ada denganku…" Gadis berambut pirang itu mencoba untuk menghentikan air mata yang terus berjatuhan dari matanya yang sudah merah karena terlalu lama menangis.

"Hhh… Baiklah. Setidaknya kita tak perlu lagi repot-repot mengambilnya dari dalam kelas. Ayo pergi."

Dengan enteng Ichigo membawa Rukia yang masih belum sadarkan diri menjauh dari gudang itu diikuti dengan Rangiku yang masih sibuk menghilangkan air matanya. Mereka membiarkan saja gudang itu seperti yang telah mereka perbuat tadi. Penuh bercak darah, lampu minyak yang tergeletak begitu saja dilantai gudang dengan penerangan yang sudah habis, kecuali pintu gudang yang telah mereka tutup kembali. Mereka sudah terlalu capai untuk membereskan itu semua.

Tapi, sebelum pergi dari sana, Rangiku mengambil kembali pecahan HP-nya yang sudah berserakan di lantai gudang akibat accident terjatuhnya HP-nya karena ulahnya sendiri.

"Hhh… padahal HP ini kudapat dari mama. Huh, tak apa, akan kuperbaiki saja nanti, tak usah membeli yang baru." Desahnya pelan sambil berjalan cepat mengejar langkah Ichigo yang sudah meninggalkan jauh Rangiku didepannya hingga ke depan gerbang sekolah. Dia sudah tak menangis lagi.

Untung saja sekolah itu ada lampu otomatis yang selalu hidup dengan sendirinya –namanya aja lampu otomatis- setiap dimulai jam 6 sore disetiap liku-liku sekolah yang sering dilewati warga sekolah, jadi mereka tidak terlalu repot dengan masalah penerangan menuju gerbang depan.

Di dekat gerbang itu, terlihat satpam sekolah yang masih tertidur pulas.

"Wah, bagaimana ini? Kalau gerbangnya dikuncinya bagaimana?" panik Rangiku.

"Hoi… kau tak usah panik. Lihat, kunci gerbangnya jelas-jelas tergantung kok." Ichigo memanggil Rangiku dengan ekspresi datar. "Ayo kita pulang."

"Un." Rangiku mengangguk kecil tanda ia setuju dengan usul Ichigo barusan. Rangiku bersyukur karena yang menjaga sekolah hari ini adalah satpam –yang menurutnya- bodoh itu, daripada Pak Aizen itu? Pikirnya.

Ichigo segera membuka gerbang itu dengan pelan agar si satpam tidak mengetahui apa yang sedang terjadi yang jika ketahuan bisa-bisa membuat masalah baru dan diikuti dengan Rangiku dibelakangnya, sambil masih tetap membawa tas sekolahnya dan tas sekolah Rukia di dalam tas sekolahnya, karena tas sekolah Rangiku lebih besar daripada punya Rukia, jadi tas Rukia muat didalam tas Rangiku.

Entah kenapa saat mereka telah berhasil keluar dan menutup kembali pintu gerbang itu, tiba-tiba Rukia menggeliat, meringis, dan menggumam kecil.

"Ja… jangan lakukan itu… Aku takut… Kakak…" gumamnya kecil. Tapi tetap kedengaran oleh Ichigo dan Rangiku yang masih dalam keheningan. Tangan mungil Rukia meremas baju Ichigo yang sontak membuat Ichigo terkejut dan menambah kerutan didahinya karena bajunya diremas dan Rangiku yang kaget dengan ucapan Rukia.

"Ru… Rukia… kau…-" Rangiku mendesah pelan.

Seakan ingin tahu apa yang Rangiku pikirkan, cowok berambut orange itu segera bertanya kepada Rangiku.

"Dia kenapa, Rangiku?"

"E-eh? A-ah… Tak apa-apa. Hahaha…" Rangiku tertawa garing, membuat alis Ichigo menaik sebelah.

"Huh, yasudah kalau kau tak mau cerita. Tapi ngomong-ngomong kita mau membawanya kemana?"

"Ah, benar juga! Aku juga tak tahu, yang pasti kita tak bisa membawanya ke apartement-nya sekarang." Rangiku tampak seperti sedang berpikir.

"Kenapa?" Tanya Ichigo masih dengan tampang datar dan kerutan didahinya.

"Yah, sebenarnya karena kunci kamar itu harus diambil sendiri langsung oleh pemiliknya. Sedangkan Rukia sekarang sedang pingsan. Walaupun tadi dia meringis, tetap saja dia tetap tidak sadarkan diri, 'kan?" Kini gilaran Rangiku yang bertanya balik ke Ichigo.

"Hn. Terserah kau sajalah." Jawab Ichigo datar sambil mengangkat bahu. "Jadi, dia mau dibawa kemana? Ke rumahmu?" Tanya Ichigo lagi, sambil melihat kearah muka putih mulus dengan bercak-bercak darah hitam disekitarnya itu.

"Apartement-ku juga sama dengannya, tapi sayangnya kamar-ku sangat sempit…" Rangiku menghela nafas datar. "… dan isinya berantakan. Tak mungkin kubiarkan Rukia yang sakit begini berada dikamarku yang kotor itu. Kalau begitu… hanya ada satu pilihan lagi." Rangiku melihat kedalam mata coklat musim gugur Ichigo.

"Maafkan aku jika permintaanku lantang, tapi…" Rangiku terdiam sejenak, sambil tetap menelusuri semakin dalam mata coklat itu. "… kumohon, tolong bawa dia kerumahmu."

Ichigo melebarkan matanya saat mendengar kata-kata permohonan Rangiku barusan. Dia semakin mempererat pelukan lengannya dengan gadis berambut hitam legam yang sedang dalam pelukan hangatnya.

"Eh…?"

===================0====================

-TBC-

===================0====================

Waah makin abal saja nih fic ya =w=" yuki malah makin pusing sendiri deh sama jalan ceritanya. Uhuuhuhh… uh ichi-nii… nyadar dong kamu ah, dingin banget bilang "ada paku" gitu! *PLAK*digampar ichigo FC* iya iya maaf… huhu.

Nah bagaimana? Masih belum adakah romance nya? ToT huuh… baiklah, chapter 6 kalau gitu harus dibanyakin! Sip sip sip! And the least, REVIEW PLEASE! Semangat yuki dalam membuat fic ini tergantung dari review minna juga loh… plis ^^ nee nee, boleh komen, saran, masukan, pujian, dsb ^^

Oia soal vote, Cuma dua orang yang nge vote. Yuki cukup sedih juga… T-T karena Cuma 2 dan 2-2 nya bilang supaya balas di PM, maka yuki membuat keputusan kalau yuki akan membalas review TETAP di chap selanjutnya dan di PM juga. Jadi adil kan? ^^

Oke deh, langsung aja ke vote selanjutnya.

Q: menurut minna inoue cocoknya pairing dengan siapa di fic yuki ini?

(choose one)

A: a. Ichigo (noooo ToT)

b. Ishida

c. Grimmjow

d. Ulquiorra

e. yang lain (boleh ngasih usul)

sekian untuk chap 5 ini, dan terimakasih.

REVIEW PLEASE ^^v