Title : My Secretary (the series) / part 5

Author : Inchangel (kurniaaprinta)

Main Cast : Choi Siwon, Kim Kibum

Genre : Yaoi NC-21, romance, pemaksaan. (buat kali ini, ANGST! Siap-siap tisu! #lebay)

Rating : over all, M (tapi ada yang T juga, cuman lebih banyak M nya – keliatan banget author yadong. Hekekekeke)

"Dari segi kebersihan...,"

"Eumh... Mmmh... Sllrrppt.. Ahn... Mmmmh..."

"Joseonhamnida, yeorobeun. Sepertinya saya mendapat telepon. Saya permisi sebentar," pamit Siwon sedikit berlari kearah pintu keluar. Eh, dia sedikit berhenti dan membisikkan sesuatu pada Kibum.

"Itu desahanmu, baby. Bagus, kan?"

.oO | My Secretary the series | Oo.

Seluruh peserta rapat saat itu menjadi sedikit ricuh. Tak sedikit dari mereka yang wajahnya memerah. Mereka sibuk membisikkan apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan penerus dari Direktur Choi sebelumnya itu.

"Ih, cakep-cakep gitu kok pervert sih? Suara desahan? Ckckck," tanya seorang wanita yang memegang jabatan sebagai pemasok sayuran di restoran di hotel itu.

"Tapi kalau diperhatikan sih itu sepertinya bukan desahan kayak yang tersebar di internet. Itu seperti rekaman sendiri," jelas seorang bapak-bapak yang ternyata adalah salah satu investor.

"Bagaimana bapak bisa tahu? Bapak sering download yaa?" tebak ibu di sampingnya. Seorang penasihat keuangan rupanya.

"B-bukan. A-anak saya yang...," sebelum pembelaan dari bapak itu selesai, ibu-ibu lain sudah menyahut.

"Halah. Bapak anak sama aja. Kalau bukan dari bapaknya, gimana anaknya bisa tau, kan?" nalar seorang wanita muda yang sepertinya dari design interior.

"Hahaha. Oh iya. Itu kan suara cowok. Kalau suara desahan cewek, mungkin aja direkam sendiri. Siapa tahu itu yeojachingu dari Direktur Muda Choi. Kalau suara cowok... apa itu suara desahannya sendiri?" ibu-ibu lain mulai berspekulasi macam-macam.

Kibum yang mendengar semua celotehan itu hanya bisa diam, namun tertunduk. Bagaimanapun suara desahan itu adalah suaranya. Ia yakin sekali karena kemarin ia sempat melihat Iphone itu berbaring disamping bantalnya. Saat ia sedang membangkitkan tubuhnya, ia sadar bahwa benda itu tengah bertengger manis entah sejak kapan ia tak tahu. Yang ia tahu adalah keberadaan benda itu. Tujuannya pun tak tahu, sampai akhirnya hal memalukan seperti tadi terjadi.

Sudah hampir 5 menit Siwon tak kunjuk kembali. Kibum lumayan khawatir karena meskipun hanya menjawab telpon tak perlu selama ini kan? Sampai 5 menit? Mengobrol dengan siapa dia?

"Iiih, lama banget Direktur Muda Choi. Jangan-jangan dia menemui kekasihnya, lalu membuat rekaman baru? Tapi kali ini bukan format mp3, melainkan...," terka seorang pria muda yang menjabat sebagai pengelola taman.

"... dalam format 3gp! Hahaha!" teriak bahagia pria tadi bersama dengan investor muda di sampingnya. Mereka sangat kompak. Lihatlah, dunia seakan milik berdua. Tertawa terbahak-bahak hanya berdua.

Kibum sudah tak tahan mendengar semua spekulasi tentang siapa-pemilik-desahan-seksi itu. Seakan-akan semua terkaan itu ditujukan untuknya. Memang tidak ada yang tahu, namun Kibum tahu. Dia jadi seperti secara diam-diam ditusu dari belakang dengan kalimat-kalimat tajam nan menusuk hingga rasanya penat sekali. Akhirnya namja manis itu keluar setelah dibantu oleh Yoonji.

"Oppa, gwaenchana?" tanya Yoonji peduli. Bukan apa-apa. Bukan karena cinta maupun suka. Namun perasaan sayang dongsaeng terhadap sunbae nya. Mereka sudah berada di pantry yang jaraknya sekitar 3 meter dari ruang rapat. Kibum meminum segelas air mineral untuk menenangkan pikirannya.

"Nde, gwaenchanayo. Kau kembalilah dan beri pengumuman bahwa rapat sudah selesai. Aku lihat presentasi selanjutnya tak begitu penting. Katakan juga kalau ada info penting akan kita kabarkan melalui sms," ujar Kibum pada Yoonji. Gadis itu mengangguk dan melepaskan pegangannya pada bahu Kibum, lalu sedikit berlari memasuki ruangan rapat. Setelah yakin bahwa gadis itu masuk dan meyakinkan seluruh peserta rapat, Kibum mulai bangkit dari tempat duduknya lalu mulai mencari Siwon yang entah mengapa tak bisa dihubungi.

Sebenarnya Kibum agak malas juga menelpon Siwon. Kalau tidak diangkat, desahannya yang akan keluar terus menerus. Kalau tidak ditelpon malah tidak bisa tahu dimana pria itu berada. Ah, sms saja! Tapi siapa yang tahu Siwon sudah mengganti nada notificationnya juga atau belum. Namun daripada tidak menemukan Siwon, Kibum lebih baik menantang rasiko. SMS!

To: Siwon Sajangnim

Siwonnie, odisseo? Kenapa tak kembali ke ruang rapat?

— SENT —

Sekarang Kibum tinggal mencari dengan tubuhnya. Dilongoknya tiap sudut ruangan yang mungkin dimasuki oleh bosnya itu. Begitu pula dengan atap gedung hotel. Atap gedung adalah tempat favorit mereka berdua setelah ruang kantor direktur dan kamar direktur. Mereka beberapa kali making out ringan disini.

Dengan perlahan, Kibum membuka pintu menuju atap. Biasan sinar mentari membahana merambat menyilaukan iris dan retinanya membuatnya memejamkan mata untuk beberapa saat. Pria manis itu menoleh-nolehkan kepalanya mencari sosok namja kekar yang dicarinya. Sepertinya nihil.

"Coba aku telpon deh. Resiko banget tapi... Ah, coba dulu deh," ujar Kibum pada diri sendiri.

Pik, pik, pik. Pik.

"..."

"Eumh... Mmmh... Sllrrppt.. Ahn... Mmmmh..."

Sweat drop. Kibum sweat drop sangat banyak ketika suara dering ringtone itu sangat kencang berasal dari balik tabung bear berwarna oranye yang berjarak 5 meter dari tempatnya berdiri saat itu. Dengan sedikit terburu-buru, namja manis itu mendekati asal suara. Terkejutlah ia mendapati seseorang sedang terisak.

Dia melihat bosnya yang sekaligus calon kekasihnya itu tengah meringkuk layaknya seorang anak kecil yang layangannya putus dan orang tuanya tak lagi mau membelikan lagi. Isakannya begitu memilukan seakan-akan ia adalah gadis belia yang sedang masa galau diputus oleh kekasihnya secara sepihak pada malam hari disaat ia sedang online di jejaring sosial (ni author malah curhat =='). Kedua tangannya memeluk lututnya. Wjaah tampannya ditenggelamkan diantara kedua lengan besarnya. Siapa yang sangka seseornag dengan kelakuan childish seperti ni adalah pemimpin sebuah hotel?

Kibum berjongkok didepan calon kekasihnya itu. Kenapa masih calon padahal pada saat awal mereka berhubungan Kibum sudah mau dipanggil kekasihnya? Karena Kibum merasa bahwa ia belum pantas untuk menjadi kekasih seorang Choi Siwon. Hatinya masih bebas dan belum berlabuh di manapun. Untuk itulah ia meminta Siwon mengerti akan posisi dirinya agar tak melukai perasaan Siwon juga. Takutnya, saat mereka sudah menjadi kekasih, tapi Kibum belum juga mencintai Siwon malah Siwon sendiri yang akan terluka. Maka dari itu, Kibum meminta Siwon untuk menunggu hingga Kibum sepenuhnya jatuh kedalam pesona seorang Choi Siwon.

"Wonnie... Wonnie ya...," panggil Kibum manis sambil mecolek-colek jarinya di lengan kekar Siwon. Mengerti ada kehadiran orang lain, Siwon langsung mengangkat wajahnya.

Betapa terkejutnya Kibum. Wajah itu tetaplah tampan, namun penuh dengan air mata dan juga ingus. Matanya merah dan seluruh wajahnya juga berkeringat. Lengan pakaian yang digulungnya sudah tak beraturan lagi. Wajahnya masih menampilkan kesan 'merana' bagi Kibum. Tak lama kemudian, Siwon langsung menarik Kibum kedalam pelukannya.

"Hiks.. Hiks... Appa... Hiks...," Siwon menangis pelan. Terisak lemah namun terlihat sekali menyiksanya. Entah apa yang membuatnya tak sebegitu mengeluarkan emosinya yang sebenarnya sudah ia pendam.

"Ada apa, Wonnie? Appa kenapa? Dia tidak apa-apa kan?" Kibum merasakan sesuatu yang aneh. Ada yang tidak beres dengan telpon tadi hingga membuat Siwon menangis tersedu-sedu sangat menyedihkan seperti ini. Mau tak mau tiap isakan Siwon seperti pisau yang terus meniris hatinya tipis-tipis. Sangat perih melihatnya terisak sendu kala ini.

"Appa... Hiks... Appa.. Hiks...," rancau Siwon. Ia masih belum juga menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Namun yang Kibum tahu, Appa Siwon atau Direktur Besar Choi sedang dalam masa kritis. Atau yang lebih parah dari itu, mungkin saja...

##########################

Siwon sudah terlelap sambil masih sedikit terisak diatas pangkuan Kibum. Kakinya terasa ngilu, tapi melihat wajah Siwon yang tersiksa rasanya sakit di kakinya itu bisa dikesampingkan. Ia tak tahu betapa sakitnya perasaan Siwon saat ini.

Kibum masih belum bisa mengorek dengan jelas apa yang terjadi dengan Diretkur Besar Choi. Namun ini pasti memang ada hubungannya dengan penyakit yang dideritanya sekitar satu minggu yang lalu. Kuingat-ingat lagi waktu itu memang ada banyak selang dan tabung oksigen yang disiapkan disana. Namun wajah Direktur esar Choi masih saja menunggingkan senyum kebahagiaan saat melihat anak semata wayangnya itu bercanda dengannya. Apalagi saat meminta restu menikah waktu itu. Terlihat sekali sangat senang hingga detak jantung yang terlihat di kardiograf meningkat lumayan drastis.

"Wonnie, sebenarnya ada apa dengan Tuan Besar Choi?" tanya Kibum pada Siwon yang tengah tertidur terisak. Tangannya menggenggam erat tangan Siwon yang gemetaran. Dingin. Dingin sekali.

"Ah, kami harus masuk. Tak mungkin ada diluar seperti ini," ujar Kibum masih pada diri sendiri.

Tapi dengan Siwon yang masih dalam pangkuannya membuat ia sedikit susah bergerak. Namun kalau hanya untuk mengambil hp mungkin masih bisa. Dan akhirnya ia meminta bantuan dari salah satu pegawai di hotel itu yang lumayan dekat dengannya.

"Wookie ah! Bisakah kau dan Yesung mu ke atap? Disini ada aku dan Ssajangnim. Aku harap tak ada selain kalian berdua yang tau kalau ada sajangnim di atap sini," ucapku pada nya via telpon.

"..."

"Aku tak peduli, Wookie ah. Berikan pada Yesung hyung, atau kau sendiri yang bilang padanya?" ancamnya pada seseorang dibalik telepon itu.

"..."

"Gomapta, Wookie ah. Maafkan aku membentakmu tadi. Saat ini aku sednag sangat panik. Kalau kau lihat sendiri keadaannya pasti kau akan tahu kenapanya. Ne, kalau bisa cepat. Sudah semakin dingin dan sepertinya akan hujan." Akhirnya Kibum menutup terlebihdahulu sambungan via teleponnya itu.

Dalam kesendirian kesadarannya mulai memikirkan apa yang sebenarnya sedang berlaku saat itu. Tak satupun petunjuk dari diri bosnya yang tengah terlelap pulas setengah terisak itu yang menjelaskan mengapa gentleman seperti Siwon bisa terisak bahkan sampai seperti ini.

Genggaman pada tangannya makin erat.

"Maukah kau membagi bebanmu padaku? Aku tak sanggup melihatmu terluka seperti ini. Tiap isakanmu bagai pisau yang mengiris tipis hatiku. Tiap air mata yang jatuh seperti berasal dari perasan hatiku karena kesakitan. Kumohon berbagilah denganku, Siwonnie," ujar Kibum tertunduk memandangi wajah tampan bosnya itu tanpa melepas genggamannya.

"Mungkin aku ornag yang paling tak tahu balas budi. Tuhan berhak menghukumku. Namun membiarkanmu kesakitan sendirian seperti ini...," Kibum tak menyelesaikan kata-katanya. Air matanya keburu jatuh melihat Siwon yang mengerang kesakitan dalam tidurnya.

Tak lama kemudian, sebuah suara pintu didobrak dengan sangat kuat terdengar. Kibum yang tadinya berkutat dalam pikirannya mulai mendongakkan kepalanya dan menoleh kearah suara.

"Kibumie? Ayo Yesungie. Itu benar-benar ssajangnim!" terisak orang itu pada seseorang didalam gedung.

"Wookie, Yesung hyung, tolong bantu aku mengangkat Siwonnie," pinta Kibum sedikit memelas karena baru saja menangis.

Kedua namja itu mengangguk saja. Ada banyak pertanyaan yang berputar dalam kepala mereka. Kenapa Kibum menangis? Kenapa ssajangnim mereka ada di atap? Mengapa sampai tertidur? Dan... Siwonie?

##########################

"Terima kasih kalian mau membantuku." Kibum membungkukkan sedikit badannya.

"Tentu, Kibummie," jawab Ryeowook, namja yang dipanggil Wookie tadi.

"Ne, Kibum ah. Tentu saja. Tapi kau berhutang penjelasan pada kami," ucap Yesung dengan sangat datar. Matanya masih menunjukkan ekspresi yang begitu-gitu saja. Ryeowook menyikut pelan kekasihnya itu.

Kibum tersenyum. Ia mengajak keduanya duduk di ruang tamu milik Siwon. Setelah membuatkan keduanya teh sebagai ucapan terima kasih, ia juga ikut duduk di dekat mereka.

"Aku, hampir menjadi kekasih ssajangnim," ucap Kibum akhirnya. Keduanya hampir tersedak kue jahe yang disediakan Kibum bersama teh hangat tadi.

"Saat rapat tadi, Siwonnie... Ah, Siwon ssi dapat telpon," Kibum tertawa kecil mengingat yang terjadi saat di ruangan tadi.

"Setelahnya, ia tak kembali ke ruang rapat. Aku yang khawatir, akhirnya mencarinya dan membubarkan rapat. Tak kusangka ia sedang menangis terisak di atap. Sendirian. Entah mengapa ia tak mau berbagi padaku mengapa ia menangis seperti itu. Memang aku hanya sekretarisnya, aku juga bukan kekasihnya, kami juga belum terlalu lama kenal. Tapi ia mencintaiku. Setidaknya itu yang selalu ia katakan tiap kali kami ber...," Kibum tak melanjutkan kata-katanya. Wajahnya memerah saat akan mengatakan ..

"Bercinta?" tebak Ryeowook. Kibum meremas celana panjangnya. Sakit rasanya mengatakan kata itu. Sejauh yang ia tahu, yang mereka lakukan bukanlah bercinta secara literatur, melinkan berhubungan intim atau istilah bekennya sex. Karena Kibum tak merasakan perasaan cinta seperti yang Siwon rasakan terhadapnya.

Namun perasaan nyaman selalu merembah ruah saat Siwon dengan lembut merasuki dirinya. Tak ada perasaan terpaksa, malah terkadang Kibum juga menggoda Siwon. Sebenarnya bagaimana perasaan Kibum terhadap Siwon?

"Aku tak tahu apakah itu dinamakan bercinta. Aku tak tahu mencintainy atau tidak. Yang aku tahu hanyalah perasaan tenang dan nyaman tiap kali kami melakukannya," Ryeowook mengangguk.

"Berarti kau mencintainya, Kibummie," ucap Kibum sukses membulatkan mata Kibum. Wajahnya memerah. Malu.

"B-benarkah begitu?" tanya Kibum entah pada siapa. Ia merasakan sebuah perasaan lega. Sebuah perasaan bebas. Rasanya ringan sekali saat Ryeowook dengan gamblang mengatakan bahwa ia mencintai Siwon.

"Kau hanya perlu meyakinkan diri sendiri tentang perasaanmu. Tapi yang terpenting sekarang adalah buat ssajangnim bahagia lagi. Kembalikan senyumnya yang ramah. Tidak ada satupun selain kita bertida yang melihat wajah menderitanya. Dan jangan sampai ada yang lain tahu," terang Yesung dengan penuh bijaksana. Ryeowook terlihat bangga. Ia tersenyum tulus memandang wajah kekasih yang lebih tinggi darinya itu sambil mengelus lengannya.

Kibum tersenyum melihatnya. Kedua orang didepannya itu sangat jujur terhadap perasaan masing-masing.

"Terima kasih Wookie ah, Yesung hyung, atas nasihat kalian. Kurasa aku harus kembali bekerja. Aku tinggal tak masalah?"

"Ah, tak perlu. Kami juga akan pamit kembali ke pekerjaan kami. Dongho ya tak bisa bekerja sendiri, bisa-bisa dapur bawah dibakarnya. Haha," tawanya.

Ryeowook adalah kepala koki di restoran yang terletak didalam hotel itu. Dan Dongho adalah asisten pribadi Ryeowook. Sedangkan Yesung adalah pelayan bagian restoran itu. Maka dari itu mereka sering bertemu, lalu dimulailah kisah cinta mereka berdua. Romantis? Mungkin.

##########################

Siwon perlahan mulai membuka matanya. Kepalanya sangat sakit. Tenggorokannya kering. Wajahnya terasa lengket karena air mata. Matanya juga berat speerti ornag mengantuk padahal baru saja tidur berjam-jam. Tapi hatinya lebih sakit lagi.

Ia sedikit bingung kenapa bisa berada di kamarnya. Kamarnya masih berbau peluh karena kejadian nakal dirinya dengan Kibum tadi siang. Bukannya tersenyum, Siwon malah seperti akan menangis lagi. Tapi ia teringat satu hal.

"Dimana Kibum?"

Saat dirinya akan mengangkat tubuhnya dari kasur besar itu, sesuatu melingkar nyaman dipinggangnya. Seperti tak mau lepas, sesuatu yang melingkar itu malah menyamankan posisinya hingga Siwon sadar ia tak sendirian berada diatas kasur itu. Ia membenahi posisinya hingga menjadi duduk.

Wajahnya tersenyum tulus saat mengetahui Kibumnya lah yang sedang tertidur. Dilihatnya air mata tengah mengering dipipi penuh milik Kibum. Sama seperti miliknya. Ia jadi teringat saat diatap tadi dia ditemukan oleh Kibum, dan menangis semakin menjadi-jadi. Entah mengapa bila ada Kibum seluruh perasaannya bisa terkuak begitu saja tanpa ada beban meskipun itu beban sekalipun.

"Eugh...," lenguh Kibum saat Siwon dengan lembutnya mengelus lehernya. Mata sipitnya mulai membuka dan terlihat raut kebahagiaan saat menatap mata Siwon.

"Wonnie, kau sudah bangun," ucap Kibum lega. Ia langsung melingkarkan tangannya paada leher Siwon dan membenamkan wajahnya di leher Siwon. Namja yang dipeluk tersenyum lemah dan membalas pelukan calon kekasihnya.

"Ne. Terima kasih telah membawaku kesini," ucap Siwon tulus. Kibum mengangguk didalam lekukan leher Siwon. Lama Kibum memeluk calon kekasihnya itu. Karena Kibum adalah makhluk hidup, ia juga bernafas. Alhasil nafasnya menggelitik leher Siwon yang dasarnya pervert.

"K-kibummie. Hentikan. Lepaskan pelukan...,"

"Berbagilah..,"

Siwon bingung dengan maksud perkataan Kibum. Ia memilih untuk tak meronta dan mendengarkan keluhan Kibum.

"... Berbagilah denganku, Wonnie. Berbagilah tangis denganku...," ucap namja manis itu. Siwon sadar lehernya mulai basah dan lengannya merasakan getaran kecil di pundak Kibum. Ia menangis!

"Aku tak apa, Kibummie. Bukan masalah pelik," bohong Siwon.

"ANDWAE! Sampai kapan kau mau memendam masalahmu sendirian?" Kibum mengangkat kepalanya dan terpampanglah wajah Kibum yang penuh dengan air mata. Sepertinya ini tangisan lanjutannya.

Siwon menghela nafas.

"Aku tahu aku bukan siapa-siapamu. Hanya sekretarismu. Tapi aku tak bisa melihatmu memendam permasalahanmu sendiri seperti tadi dan seperti sebelum-sebelumnya?" bentak Kibum. Siwon masih bungkam.

"Katamu kau mencintaiku? MANA? MANA BUKTINYA? Kau tak mempercayaiku, apa itu yang kau sebut mencintaiku?" tanya Kibum dengan penuh emosi. Kedua tangannya memukul-pukul pelan dada Siwon. Siwon hanya memandang penuh kasih sayang pada namja didepannya itu. Berharap ia sadar betapa besar cinta Siwon padanya dari pandangannya.

Kibum menundukkan wajahnya. Tangannya masih di dada Siwon dan pergelangannya digenggam hangat oleh Siwon.

"Aku juga mencintaimu. Jangan buat semua ini semakin rumit...," ucap Kibum lirih sambil masih sesenggukan menangis. Siwon tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.

"K-Kibummie? Kau... men-mencin...," ucapan Siwon tak digubrisnya, malah Kibum langsung menerjang bibir Siwon.

Ciuman itu berlangsung begitu saja. Keduanya tak kehabisan nafas karena memang tak banyak yang mereka lakukan. Awalnya Kibum hanya menutup mulut terbuka milik Siwon. Mereka berdua terdiam dalam posisi itu untuk beberapa saat. Merasa mulai nyaman, Kibum menggerakkan bibirnya untuk menyesap bibir bawah dan atas Siwon secara bergantian. Merasakan lembutnya kecupan Kibum, Siwon mulai mengambil alih posisi dan dengan sedikit lebih beringas ia melumat balik bibir Kibum. Merasa dibalas, Kibum malah menghentikan lumatannya. Posisinya sebagai uke dimulai.

Siwon tak hanya menyesap bibir Kibum, namun juga seluruh wajah Kibum. Entah sejak kapan tubuh Kibum sekarang sudah terbaring diatas kasur. Siwon melepas sebentar wajah Kibum dari bibirnya dan mengangkat tubuhnya sedikit untuk melihat tubuh kekasihnya.

Ya. Sekarang Kibum sudah menjadi kekasihnya.

"Bolehkah aku menaikkan hubungan kita menjadi sepasang kekasih?" ijin Siwon. Kibum tersenyum manis.

"Miliki aku selamanya, Choi Siwon," ucap Kibum semakin mengeratkan pelukannya di leher Siwon.

Dan petang itu disaat orang-orang tengah mempersiapkan diri untuk kembali ke kediaman masing-masing, kedua sejoli ini malah semakin mengeratkan hubungan dan tubuh mereka . Siwon merasuki Kibum dengan sangat pelan dan lembut membuat friksi kenikmatan berbeda dialirkan dari tiap deutron dan neutron keduanya. Otak mereka memerintahkan untuk tak berhenti karena kenyamanan yang keduanya dapatkan. Baik keduanya belum pernah merasakan sebuah persetubuhan intim yang begitu menyenangkan dan membahagiakan seperti yang saat ini mereka lakukan.

"Kibummie, youngwonhi saranghae," ucap Siwon sambil mengelus tubuh dagu Kibum yang seluruh tubuhnya sudah telanjang.

"Na do. Na do saranghaey," balas Kibum sambil mulai menurunkan tubuhnya. Sebuah penis besar milik Siwon semakin dalam memasuki tubuhnya. Ia merintih kesakitan namun Siwon dengan sigap menggenggam kedua tangan Kibum. Namja itu naik turun diatas pinggang Siwon dengan tumpuan tulang kering dan juga kedua tangannya yang menggenggam erat tangan Siwon/

Persetubuhan petang itu terasa begitu romantis. Lebih melekat dalam ingatan mereka dibanding seks sebelum-sebelumnya. Baik Kibum maupun Siwon tak bergerak terlalu terburu-buru. Mereka ingin mengingat tiap-tipa detil kejadian yang sangat sakral dalam hidup mereka.

Saat mereka sudah resmi sebagai sepasang kekasih.

##########################

"Jadi, ada masalah apa?" tanya Kibum membuka pembicaraan. Jarinya menyentuh dada Siwon yang juga menjadi tempat sandarannya. Ia sangat suka mendengar degup jantung kekasihnya itu tiap kali setelah klimaks seperti tadi.

"Berjanjilah kau tetap akan bersamaku," ucap Siwon memberi peringatan. Kibum mengangguk.

"Selama alasanmu menangis dan tersedu seperti tadi bukanlah karena akan meninggalkanku. Kau tahu aku mungkin bisa seperti mayat hidup saat ditinggalkan olehmu," ucap Kibum. Siwon menghela nafas.

Ia terlihat mempersiapkan mental untuk mengatakan sebuah kabar yang membuatnya terisak cukup hebat. Cukup lama Siwon berdiam dalam pikirannya sendiri. Kibum pun tak memaksa Siwon untuk cepat-cepat mengatakan alasannya. Toh pasti itu berita yang sangat tidak mengenakkan untuk Siwon, apalagi bila harus diingat-ingat dan harus diceritakan ulang. Tapi Kibum sudah berjanji akan menerima apapun itu.

Kibum masih menunggu Siwon yang tengah berkutat dengan pikirannya. Wajahnya terlihat gelisah. Inisiatif, ia mengambil tangan kiri Siwon dan menciumi seluruh permukaan tangan Siwon. Pemilik tangan itu hanya tersenyum dan tertawa pelan merasakan geli di tangannya. Siwon mulai sadar, Kibum tak sabar mendengar alasannya. Tak ada alasan untuk menyembunyikannya lagi. Siwon menarik wajah Kibum dan mengecup bibir itu pelan namun agak lama. Dan saat ia melepaskan bibir itu...

"Appa telah meninggal"

DEG!

*TBC