KaiSoo Fanfiction
.
Chapter 2
.
_HAPPY READING_
.
Pagi ini langit sedikit mendung. Kyungsoo terbangun dengan perasaan khawatir yang entah apa sebabnya. Menoleh, ia mendapati Jongin telah duduk manis di lantai sambil menatapnya lembut.
"Selamat pagi, Kyungsoo hyung."
Kyungsoo menghembuskan napas lega, melihat wajah Jongin membuat rasa khawatir yang melandanya tadi sedikit berkurang. Namun entah bagaimana gelisah itu masih ada dalam hatinya, semacam firasat. Dan Kyungsoo berharap firasatnya tidak buruk hari ini.
"Selamat pagi, Jongin." balasnya. Jongin berdiri kemudian membuka selimut yang menutupi tubuh Kyungsoo. "Waktunya kau mandi. Aku sudah membuat sarapan di meja makan, hanya roti saja sih. Aku tidak bisa memasak."
"Tidak apa-apa, Jongin. Tumben kau sudah bangun pagi dan bersiap-siap begini." ujar Kyungsoo kala ia melihat Jongin telah memakai seragam sekolahnya.
"Aku sudah terbiasa bangun pagi, hyung." Jongin melipat selimut Kyungsoo dan kembali menatapnya. "Nah, sekarang hyung bangun dan bergegas mandi sebelum kita terlambat sekolah."
"Walau ini baru jam 6, ya baiklah." Kyungsoo beranjak dan meraih handuk di pojok dekat lemari kemudian masuk ke kamar mandi.
Setelah pintu kamar mandi tertutup, Jongin menghirup kemudian menghembuskan napas perlahan. Menatap sendu pintu kamar mandi. "Kau tidak tahu, hyung. Apa yang ku alami hingga terbiasa bangun pagi seperti ini."
Merasa tempat tidur Kyungsoo sudah rapi, Jongin segera keluar menuju meja makan. Sambil menunggu Kyungsoo, Jongin mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan pesan pada kakaknya.
To : Jessica nunna
Nunna, bagaimana keadaan umma?
Send
Tak menunggu lama, balasan pesan pun datang.
From : Jessica nunna
Masih sama seperti kemarin, Jongin. Apa kau sudah menemukan apartement?
Jongin menghela napas sebelum membalas lagi.
To : Jessica nunna
Aku sekarang tinggal di apartement Kyungsoo hyung. Kemarin kami bertemu dan ia menawarkan untuk tinggal bersama.
Send
Sepuluh detik kemudian pesan kembali datang.
From : Jessica nunna
Oh, Tuhan. Syukurlah kalau begitu. Aku sempat khawatir kau tidak mendapatkan apartement. Aku akan mengucapkan terima kasih pada Kyungsoo nanti. Dia anak yang baik.
Jongin tersenyum simpul. 'Kyungsoo memang baik. Dan dia yang terbaik.'
To : Jessica nunna
Kau benar nunna, Kyungsoo hyung memang baik hati.
Send
Beberapa detik kemudian balasan datang.
From : Jessica nunna
Ya sudah kalau begitu. Jaga dirimu baik-baik, Jongin. Bila ada masalah langsung hubungi nunna, mengerti? Dan sampaikan salamku pada Kyungsoo.
Jongin memandangi lama ponselnya. Sungguh, ia amat bersyukur memiliki nunna yang baik dan perhatian seperti Jessica dan juga Krystal yang selalu mengingatkannya agar tak lupa minum obat kala sakit. Jongin rela melakukan apa pun agar keluarganya tetap utuh seperti ini. Masalah ibunya, Jongin akan berusaha keras untuk mencari jalan keluarnya. Semoga dengan segala bentuk perhatian dan pengorbanan yang dilakukannya dan kedua kakak perempuannya membuat ibu mereka cepat sadar dan sembuh hingga bisa kembali ceria seperti dulu.
"Jongin?"
Menoleh, Jongin mendapati Kyungsoo sudah rapi dengan seragam sekolahnya kemudian melangkah pelan menghampirinya. "Sedang apa?"
Jongin sadar ia sudah melamun dan belum membalas pesan kakaknya.
To : Jessica nunna
Arraseo, nunna. Nunna juga jaga diri baik-baik.
Send
"Mengirim pesan pada kakakku. Dia juga kirim salam padamu dan mengucapkan terima kasih."
Kyungsoo duduk di sampingnya. "Untuk?"
"Yah, kau tahu. Sudah membiarkanku tinggal disini."
"Oh, ayolah. Itu bukan apa-apa, Jongin."
Jongin tersenyum. " Baiklah. Ayo, kita sarapan."
Kyungsoo mengangguk.
.
~o0o~KAISOO*APHA~o0o~
.
Pagi telah berganti menjadi siang. Matahari bersinar terik. Istirahat siang pun telah tiba. Banyak anak-anak yang berlarian keluar kelas, menuju kantin untuk makan setelah lima jam berkutat dengan pelajaran.
Di salah satu gudang yang tak terpakai di sudut koridor sekolah yang tidak terpakai, terlihat Jongin terduduk dengan tubuh terikat dan basah kuyub. Wajahnya telah babak belur. Di depannya, ada empat senior yang menatapnya dengan angkuh.
"Heh, masih sadar kau rupanya." senior yang pertama kali menyeretnya ke gudang mulai berbicara. "Bagaimana? Apa kau masih belum menyerah, hah?"
Jongin terbatuk-batuk tatkala salah satu senior meninjunya di perut, membuat cairan amis mucrat dari mulutnya.
"Dia masih belum menyerah. Mau kita apakan?" tanya senior lainnya.
"Pukuli saja dia sampai pingsan. Kalau perlu sampai mati." timpal senior yang tadi memukulnya.
"Hei, kalau dia mati kita juga yang repot. Bodoh!" sahut senior yang sedari tadi diam di tempatnya.
"Apa kau bilang?!"
"Hei, sudah. Jangan bertengkar."
Jongin mendongak menatap senior-senior di hadapannya. Entah apa salahnya pada senior-senior yang bahkan tidak dia kenal ini. Sejak masuk highschool sampai sekarang, ia selalu di bully oleh mereka. Sampai saat ini pun ia tak tahu apa alasannya. Mereka akan menghajarnya yang terikat sampai puas lalu meninggalkannya seorang diri dengan berdarah-darah dan luka yang tidak bisa disebut ringan.
"Kau pasti heran, apa alasan kami selalu mem-bully-mu, kan?"
Senior yang menyeretnya tadi berjalan mengelilinginya dan berhenti tepat di belakangnya. Tangan sang senior meremas kedua bahu Jongin hingga desisan kecil keluar dari mulutnya.
Sang senior menyeringai. "Karena kau lemah."
"Tidak berguna."
"Sampah."
Jongin mengernyit, itu alasan terkonyol yang pernah di dengarnya.
"Sudahlah, jangan banyak bicara. Cepat kita habisi dia!"
"DIAM!" bentak sang senior. Temannya yang menyahut tadi langsung menggerutu.
"Ketua." Senior yang Jongin ketahui selalu terdiam di tempatnya menatap lawan bicaranya. "Mau kita apakan anak ini?"
Sang ketua menatap Jongin lekat-lekat, lalu membuka suara. "Kau kenal Do Kyungsoo?"
Jongin terkejut, tak kalah dengan teman-temannya. Mereka bingung, bukankah sang ketua menyuruh mereka mem-bully anak itu karena dia terlihat lemah. Juga sekaligus mengisi waktu luang dan bersenang-senang. Lalu kenapa sekarang begini? Apa yang diinginkan ketua mereka? Tidak ada seorang pun yang tahu.
'Apa yang diinginkannya dari Kyungsoo?' batin Jongin.
"Jawab!" bentak si ketua.
Dengan ragu, Jongin mengangguk.
"Sudah berapa lama kau mengenalnya?"
"Sejak MOS sekolah."
"Kau tahu dia tinggal dimana dan dengan siapa?"
Jongin menggeleng, "Aku tidak tahu."
"Jangan bohong kau!" amarah sang ketua langsung meledak. Dia menghampiri Jongin dan memukul pipinya telak, hingga rembesan darah kembali mengalir dari sudut bibirnya.
"Aku tahu kau bohong. Terlihat dari wajahmu!"
Jongin menatap sang ketua senior dengan tatapan sengit. "Sebenarnya apa yang kau inginkan darinya?"
Si ketua menjambak rambut Jongin hingga ringisan keluar dari mulutnya. "Dia. Berhutang. Padaku." sang ketua menekan kata perkata ucapannya.
"Berapa banyak? Aku akan membayarnya, asal kau tidak menganggunya." sahut Jongin.
Sang ketua tersenyum remeh. "Ini bukan hutang uang, bodoh!"
Melepas jambakannya, si ketua terkekeh sebentar. "Tidakkah kau merasa bahwa kau ini lucu?"
Jongin kembali menyernyit bingung. Kenapa si ketua senior ini suka sekali mengulur-ulur waktu? Membuatnya bingung dengan kata-katanya. Sikapnya yang tidak bisa ditebak, dari marah-marah sampai tertawa. Mereka semua memang aneh.
"Kau berkoar akan membayar hutang Do Kyungsoo dimana kau tidak tahu temanmu itu berhutang apa dan dengan keadaanmu seperti ini? Kau mau menjadi pahlawan kesiangan, hah?"
Jongin sudah muak dengan ucapan main-main seniornya ini. " Katakan saja Kyungsoo berhutang apa! Jangan main-main seperti ini, brengsek!" geramnya.
"Beraninya kau mengatai ketua brengsek. Mau mati kau?!" teman si ketua sudah akan meninju Jongin namun dicegat oleh sang ketua.
"Kau diam saja." setelahnya sang ketua berdiri di depan Jongin dengan wajah angkuh. "Dia berhutang nyawa padaku."
Jongin terbelalak dengan ucapan sang ketua. Menggeleng tak percaya. "Itu tidak mungkin! Kau bohong!"
DUAGH
"ARGH!"
Sang ketua menendang dada Jongin hingga kursi yang didudukinya terjengkang ke belakang dan tangannya terjepit kursi, membuat Jongin cepat-cepat berbaring menyamping agar jari tangannya tidak patah. Jongin terbatuk-batuk karena tendangan tadi cukup keras mengenai dadanya hingga ia merasa sesak napas.
"Kau pikir temanmu itu malaikat? Sehingga kau tidak mempercayai kenyataan yang ada?" si ketua mendesis. "Dia sudah membunuh adikku!"
Jongin berteriak kesakitan ketika sang senior tanpa ampun menginjak-injaknya. "Kau pikir temanmu itu anak baik? Kau bahkan tidak tahu apa yang telah dilakukannya!"
"Dia sudah membunuh Jungkook! Dan aku bersumpah! Aku pasti akan membunuhnya!"
BRAK
BRAK
BRAK
DUAGH
Napas sang ketua tersengal-sengal setelah ia kembali menendang Jongin untuk kedua kalinya. Sedangkan Jongin telah terbaring lemah dengan darah yang terus mengucur keluar. Kursi yang didudukinya sudah hancur dan terlempar ke sisi ruangan.
"Aku akan mencari tahu sendiri jika kau tidak mau memberi tahuku dimana bocah sial itu tinggal."
"Ayo pergi." ajaknya pada kawanannya. Mereka pergi meninggalkan Jongin yang tergeletak di lantai.
Jongin memejamkan kedua matanya. Ucapan seniornya tadi terngiang-ngiang di kepalanya. Tentang Kyungsoo, hutang nyawa, pembunuhan..
Jongin yakin Kyungsoo tidak mungkin membunuh pemuda bernama Jungkook itu. Dia tau seperti apa sifat Kyungsoo, mana mungkin pemuda baik hati sepertinya membunuh orang lain? Bahkan Jongin yakin membunuh semut pun Kyungsoo tidak tega.
Jongin bertekad akan mencari tahu semua ini. Tidak akan ia membiarkan senior itu mencelakai Kyungsoo, ataupun membunuhnya. Sekuat tenaga ia akan melindungi Kyungsoo hyung-nya. Orang yang disukainya, orang yang disayangi dan dicintainya.
Mendesis saat mencoba menggerakkan tubuhnya, Jongin hanya bisa berbaring pasrah di lantai. Dia tak mau Kyungsoo menemuinya dengan keadaan seperti ini dan membuatnya khawatir. Sepertinya ia harus membolos pelajaran hari ini dan tidak pulang ke apartement Kyungsoo. Jongin tidak punya pilihan lain selain pulang ke rumah. Semoga kedua kakaknya tidak memarahinya saat mendapatinya babak belur lagi.
.
~o0o~KAISOO*APHA~o0o~
.
"Aku tidak akan heran jika kau pulang dalam keadaan babak belur lagi, Jongin." Krystal membawa baskom berisi air hangat dan meletakannya di samping Jessica. Jessica berterima kasih dan memerat kain handuk yang ada di dalam baskom, mulai membersihkan luka juga darah yang telah mengering di wajah Jongin.
"Apa mereka masih saja mem-bully-mu? Sudah tahu alasan mereka?"
Jongin mengangguk, sesekali meringis saat air hangat mengenai lukanya. "Mereka bilang aku lemah, tidak berguna dan sampah."
"Apa!? Berani sekali bocah-bocah tengik itu mengatai adikku yang hebat ini seperti itu? Benar-benar minta dihajar mereka!" ujar Krystal geram.
"Sudahlah, nunna. Aku tidak apa-apa, kok." ucap Jongin menenangkan.
"Tapi, tetap saja mereka sudah bertindak diluar batas. Seharusnya kau melaporkan perbuatan mereka pada dewan guru, Jongin. Atau kalau perlu ke kepala sekolah." ujar Krystal menasehati.
Jongin menggeleng. "Aniya, nunna. Aku tidak mau memperpanjang masalah. Lagipula.."
"Lagipula apa, Jongin?" Jessica menghentikan kegiatannya membersihkan wajah Jongin. Ia merasa bahwa kalimat Jongin selanjutnya tidak baik.
"Ketua mereka bilang Kyungsoo hyung membunuh adiknya."
"APA?!" teriak dua saudari itu secara bersamaan.
Jongin mengangguk lesu.
"Maksudmu, Kyungsoo temanmu?" tanya Krystal tak percaya.
"Kau tidak salah kan, Jongin? Tidak mungkin Kyungsoo melakukan hal keji seperti itu." ujar Jessica.
"Aku juga sama sekali tidak percaya, nunna. Aku khawatir, dia bilang akan membalas perbuatan Kyungsoo, bahkan kalau perlu membunuhnya."
"Oh, tidak." Krystal menutup mulutnya, merasa syok dengan hal ini.
"Kau harus melaporkannya pada polisi, Jongin." desak Jessica namun Jongin menggeleng lemah. "Tidak bisa, nunna."
"Kenapa?!" tanya Krystal geram. "Ini membahayakan nyawa Kyungsoo!"
"Aku tahu tapi ini tidak bisa dilaporkan ke polisi begitu saja, nunna. Senior Jin bisa saja melaporkan pembunuhan itu. Walau aku yakin Kyungsoo hyung tidak mungkin melakukan hal itu, namun tetap saja aku tidak punya bukti untuk bisa melindunginya." jelas Jongin panjang lebar. Dia mengusap lelah wajahnya yang terlihat frustasi. Membuat kedua saudari itu terdiam membisu.
Setelah keheningan yang panjang, Jessica membuka suara. "Kita harus mencari tahu hal ini."
Jongin terkejut, "Tidak, tidak. Kalian tidak boleh terlibat. Biar aku saja yang menyelidiki hal ini."
"Tapi, kau bisa saja dalam bahaya, Jongin." sahut Krystal.
"Gwenchana, nunna. Aku pasti akan baik-baik saja, jadi jangan khawatir." ujar Jongin sambil tersenyum menenangkan.
"Maaf.." ujar Jessica. Krystal dan Jongin yang melihat kakak mereka telah menangis langsung mendekat, Krystal memeluknya dari samping dan Jongin menggenggam kedua tangannya. "Ini semua salahku. Sebagai anak sulung, aku tidak bisa melindungi kalian berdua, juga umma. Aku juga tidak bisa membantu masalahmu, Jongin. Aku memang kakak yang tidak berguna. Ini salahku. Hiks.."
"Unnie bicara apa? Ini bukan salah unnie, kok." Krystal merangkul erat kakaknya. Matanya sudah berlinang airmata.
"Krystal nunna benar. Ini bukan salahmu, nunna. Ini memang sudah menjadi tanggung jawabku melindungi kalian dan umma, keluargaku satu-satunya. Aku akan melakukan apapun agar kalian bahagia. Aku juga akan berusaha mencari uang yang banyak agar bisa mengobati umma. Aku akan melakukan apapun yang kubisa untuk kita semua."
"Mungkin untuk saat ini, kita tidak bisa mendekati umma seperti dulu. Tapi aku yakin umma akan menyadari betapa kita sebagai anak-anaknya sangat menyayangi dan mencintainya. Selalu ada didekatnya kapanpun ia membutuhkannya. Dan suatu saat nanti, pasti umma akan kembali lagi seperti dulu dan kita akan hidup bahagia selamanya. Percayalah, nunna." ucap Jongin sambil mengeratkan genggamannya.
Jessica mengangguk dengan airmata yang masih mengalir. "Terima kasih, Jongin. Kau memang adik kami yang terbaik. Aku bersyukur kau menjadi adik kami, walau kita berbeda ayah. Aku merasa kita seperti saudara kandung."
Krystal mengangguk setuju. "Unnie benar, kau adalah adik kami yang paling berharga. Kami sangat menyayangimu, Jonginie."
Jongin tersenyum lebar, namun meringis kala merasakan ngilu di tulang pipinya.
"Sudah nunna bilang jangan banyak bergerak, dasar!" Jessica kembali membersihkan luka-luka di wajah Jongin. Ia merasa ingin menangis lagi, karena tidak bisa melindungi adik kecilnya. Jonginnya yang ia sayangi, yang ia harapkan tumbuh dengan baik. Lihatlah, ia begitu kurus, selalu babak belur, begitu rapuh. Jessica benar-benar merasa bersalah.
Jongin yang melihat nunna-nya menetaskan airmata lagi segera menyekanya. "Jangan menangis, nunna. Nunna harus kuat dan tegar untukku, Krystal nunna dan juga umma."
Jongin beringsut mendekat dan memeluk Jessica. "Kita pasti kuat. Percayalah, kita sanggup melewati semua rintangan ini. Aku tidak akan meninggalkan kalian sendirian, nunna."
Tangis Jessica pecah, ia langsung memeluk Jongin erat diikuti Krystal yang memeluknya dan juga Jongin. Mereka berdua sadar, bukan harta dan juga tahta. Yang mereka butuhkan hanyalah Jongin. Sosok pria yang telah lama menghilang dari kehidupan mereka, yang seharusnya melindungi dan menjaga mereka. Sosok yang menjadi panutan. Dan mereka bersyukur bahwa Jonginlah yang menjadi sosok tersebut. Mereka tidak butuh siapapun selain Jongin. Hanya Jongin.
Tanpa mereka sadari, di balik dinding ruang makan sosok Taeyeon menatap mereka dengan pandangan kosong. Memandang anak-anaknya yang saling berpelukan, tanpa ia sadari membuatnya menitikkan airmata. Walau ia tidak tahu apa yang membuatnya menangis dan semakin lama airmatanya mengalir semakin deras, hingga ia harus menggigit kepalan tangannya agar isakan tak keluar.
Ia berbalik, bersandar pada dinding. Rasa sakit itu kembali datang, membuat tubuhnya gemetar. Namun kali ini sakit itu tak tertahankan hingga ia menjerit keras dan berlari ke dapur, meraih pisau yang tergeletak di wastafel.
Jessica, Krystal dan Jongin sontak kaget bukan kepalang. Terlebih melihat ibu mereka menggenggam pisau. Dengan sigap, Jongin menghalanginya dengan memeluknya dari belakang.
"LEPAS! LEPASKAN!"
"UMMA, TENANG! TENANGLAH!"
"TIDAK! LEPASKAN AKU! LEPAS!"
Jongin mulai kepayahan, ia sudah tak sanggup menahan ibunya yang memberontak. Di sisi lain Krystal mencoba menjatuhkan pisau yang disabet-sabet ke udara. Sedangkan Jessica kembali ke kamar untuk mengambil suntikkan penenang ibunya.
"LEPAS! LEPASKAN AKU!"
"UMMA! KUMOHON BERHENTI!"
Krystal memegangi tangan ibunya yang hendak menusuk lengan Jongin.
"LEPAAAAAS!"
"UMMA!"
JLEB
Jongin terhenyak, pisau yang digenggam ibunya menusuk Krystal di bagian antara bahu dan tulang belikatnya. Ibunya berhenti memberontak dan melepaskan tangannya dari pisau. Tangannya gemetaran, tubuhnya merosot ke bawah bersama Jongin. Jessica yang baru kembali dari kamar begitu terkejut mendapati adik perempuannya tertancap pisau.
Jongin yang melihat kakaknya berdiri mematung langsung berseru. "Nunna, tolong suntikkan obat penenang pada umma! Aku akan mengurus Krystal nunna!"
Jessica tersadar dan segera menghampiri ibunya kemudian menyuntikkan obat penenang. Sedangkan Jongin menghampiri Krystal yang terduduk di lantai menahan kesakitan. "Nunna, ini akan sakit tapi tahanlah. Aku akan mencoba mencabutnya pelan-pelan."
"Arghh.." Krystal menjerit kala Jongin mencoba mencabutnya. "Appo! Jongin! Appo! Hiks.."
"Tidak bisa, pelan-pelan membuatmu tersiksa!" teriak Jongin frustasi. "Nunna, aku akan mencabutnya sekuat tenaga. Genggam dan gigit tanganku untuk menahan sakitnya."
Krystal menggeleng dengan wajah berurai airmata. "Tidak mau, Jongin. Aku takut. Sakit."
"Tidak apa-apa, nunna. Cepat gigit tanganku! Aku tidak bisa membiarkan lukamu terlalu lama, bisa infeksi." Jongin menyodorkan lengan kirinya ke mulut Krystal. Sedangkan Jessica menatap takut sambil memeluk ibunya yang telah jatuh tertidur.
"Ayo cepat!"
Krystal memegang lengan Jongin dan menggigitnya. Tanpa menunggu lama, Jongin mencabut pisau tersebut.
"NNGGGHHHHHH!"
"ARGH!"
Pisau berhasil dicabut. Napas keduanya tersengal-sengal. Krystal jatuh pingsan menubruk Jongin. Melempar pisau di tangannya, Jongin memeriksa tubuh Krystal. "Nunna?!"
Tanpa mempedulikan lengannya yang ngilu dan berdarah akibat gigitan Krystal, Jongin menggendong Krystal ala bridal style kemudian menoleh ke Jessica. "Nunna, jaga umma. Aku akan ke rumah sakit. Jangan Khawatir!"
Jessica menatap pintu yang tertutup dengan perasaan yang campur aduk. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain memeluk erat ibunya yang masih terbaring di lantai. Ia hanya bisa berdoa semoga tidak terjadi hal yang buruk dan kedua adiknya selamat sampai ke rumah sakit.
.
~o0o~KAISOO*APHA~o0o~
.
Di rumah sakit.
Jongin yang baru saja tiba di depan rumah sakit langsung menerobos masuk sambil menggendong Krystal.
"Tolong! Ada yang terluka disini!"
Para perawat yang melihatnya langsung sigap mendorong brankar ke arahnya. Jongin membaringkan Krystal dan ikut berlari ke arah UGD. Saat sampai disana, Jongin diminta menunggu di luar ruangan. Tak bisa berbuat banyak, Jongin langsung terduduk lemas di kursi tunggu. Ia tidak ingin terjadi hal yang buruk pada kakaknya. Jongin terdiam, menangis..
.
Setelah berjam-jam lamanya bagi Jongin, akhirnya sang dokter keluar dari ruangan. Jongin langsung menyerbu dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan kakak saya, dok? Dia baik-baik saja, kan?"
Melihat wajah kusut pemuda di depannya, sang dokter hanya bisa tersenyum tipis. "Ya, untungnya kakak anda segera dibawa kemari. Dia hanya pingsan karena syok yang dialaminya dan kekurangan darah, tapi kami sudah melakukan transfusi darah. Lukanya juga sudah kami jahit, kini dia baik-baik saja."
Jongin menghela napas lega. Entah kenapa kepala dan matanya terasa berat. Pandangannya memburam.
"Syukurlah, dok..ter"
Tubuh Jongin limbung ke arah sang dokter yang dengan sigap menangkapnya. Dokter bername tag Kris itu menatap si pemuda dengan teliti. Ia membelalak.
"Perawat Min! Cepat bawa brankar kemari, anak ini sekarat!"
.
.
.
.
.
_TO BE CONTINUED_
Status : Chapter 2 END
.
A/N : Hai, saya datang lagi. Lama gak berjumpa ya readers. Maaf ini update-nya ngaret parah. Tapi, aku berusaha untuk tidak membuat ff ini discontinued. Semoga kalian enjoy dengan chap ini.
Disini Kyungsoonya dapet peran sedikit coz sekarang ceritain gimana keluarga Jongin dulu. Tapi di chapter depan Kyungsoo pasti banyak peran lagi kok, secara orang yang disukain Jongin. Hihihi
Jadi, apakah dengan chapter ini rasa penasaran kalian bertambah? Angstnya kerasa gak? Atau malah kurang? Yah, semua ada di tangan readers sekalian.
Dan maaf ya saya gak bisa bales review satu-satu, tapi saya selalu baca review kalian dan itu membuat semangat saya melanjutkan ff ini kembali. TERIMA KASIH! KALIAN LUAR BIASA! :D /alaariel/
Big thanks to :
KaiSoo Fujoshi SNH | sehunpou | .16 | dyofanz | rossadilla17 | opikyung0113 | SooSweet | saniaannanda
Dan siders juga tentunya. Terima kasih semua~ :D
.
.
.
Last,
Review juseyo~ ^_^
