_Note_ : plis baca permintaan hati gue di bawah nanti setelah selesai baca ff ini.
Setelah pengakuan Jongin tempo hari, Kyungsoo sedikit menjaga jarak dengannya. Bila sedang berduaan, sebisa mungkin Kyungsoo menyibukkan dirinya sendiri hingga ia tak perlu menatap pancaran sendu di mata Jongin. Jongin sendiri cenderung bersikap lebih dingin dari biasanya dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama kekasihnya, Luhan. Entah apa yang tengah dipikirkan pemuda jangkung itu sekarang. Ia hanya merasa harus keluar dari kecanggungan yang dibuatnya bersama Kyungsoo, kecanggungan yang terasa menyerakkan tenggorokan dan mengorek tulang rusuknya yang basah karena terlampau sulit menghirup udara.
Seperti hari ini, mereka terduduk berjarak di sofa apartemen. Tak satu pun mengeluarkan suara. Keduanya tengah sibuk dengan pikiran masing-masing. Jongin terlihat sibuk memindah-mindah channel televisi di depannya, tapi kita tahu angannya sedang mengawang di angkasa raya. Kyungsoo sendiri masih terpekur menatap kosong layar televisi. Tak ada niatan baginya untuk menggubris tontonan drama picisan yang kini terpampang di muka. Pikirannya jatuh pada perlakuan lembut Jongin kala itu. Pertama kalinya, ia merasa Jongin tak hanya melampiaskan hasrat semata. Cahaya mata itu menghipnotisnya. Caranya memandangnya penuh rasa cemas, harap, dan peduli. Itukah yang tersirat dalam hati yang tersurat?
"Soo." Jongin memanggilnya, namun ia masih terbelenggu dalam keterdiamannya.
"Kyungsoo." panggilnya lagi, namun itu tak cukup untuk melemparnya dari sudut maya.
"Kyungsoo!" panggilnya, kali ini dengan nada lebih tinggi dan guncangan di sebelah bahu pemuda mungil itu. Sukses membuat tubuhnya berjengit. Kyungsoo menatap ragu wajah Jongin yang memandangnya lugu. Terbersit dalam hati, inikah bajingan yang ku kenal selama ini?
"Kau tidak apa-apa, Kyungsoo?" Ia bergeser mendekat, memupus jarak yang tersekat. Tangan kokohnya menyampir manis di bahu, menyirat raut kecemasan. Kyungsoo meringis, mata itu lagi.
"Y-ya." lidahnya tercecap pahit kala kata mengalir. Sedemikian rupa ia mencoba tenang, tapi hatinya tak jua mengubang. Gusar adalah kata yang tepat untuk menggamblangkan perasaannya. Ada sesuatu, melilit di sela urat nadi dan sekitar bilik jantung yang bertalu menjadi-jadi. Duh, jangan tanya apa yang sedang terjadi. Bahkan si pemuda tak yakin apa gerangan menimpa diri.
"Benarkah?" Jongin menyejajarkan wajahnya dengan Kyungsoo, menatapnya dengan pancaran teduh. Tangannya mengelus sebelah pipi kanan lelaki mungil itu, tak pelak menghantarkan rasa hangat merebak di sekujur aliran darahnya hingga sampai ke sistem otaknya. Kemudian jatuh tepat ke hatinya, meluluh-lantakkan semua yang ada.
Kyungsoo tak kuat menahannya, hingga bola matanya tergelincir ke arah lain kemudian mengangguk canggung. Dirasanya Jongin melepas belaian lembut dipipinya, ia menengadah. Indera penglihatannya memerangkap seulas senyum tipis di garis bibir pemuda itu. "Syukurlah."
Kyungsoo tak mengerti mengapa dirinya kini serasa menjadi orang asing di muka bumi kala berdekatan dengan Jongin. Itu seperti jika pemuda itu adalah seorang dermawan yang memberi tanpa pamrih, dan itu membuat pikirannya risih. Kadang sungkan menjadi alasan untuk membelot perasaan dan perilaku membuat keadaan makin menggelegak tertelan. Dirasa tempat duduknya bergoyang, Kyungsoo mendongak menatap Jongin yang sudah menjulang dihadapannya. Wajahnya terlihat lebih rileks dari sebelumnya. "Mau minum teh?"
Tanpa menunggu jawaban, Jongin langsung berjalan ke arah dapur. Meninggalkan Kyungsoo membisu kembali. Bayangan Jongin berputar-putar di otaknya. Wajahnya, senyumnya, sikapnya, perilakunya, semuanya, membuat kepala mungil Kyungsoo mendadak memberat layaknya tertimpa reruntuhan gedung-gedung pencakar langit. Ia bertanya pada dirinya sendiri, bagaimana ini bisa terjadi? Apa yang kini harus kuakui?
Aroma sedap melipir di ujung hidungnya ketika Jongin kembali dengan dua cangkir teh gingseng hangat di tangannya. Ia memberi satu yang lekas di ambil oleh Kyungsoo kemudian duduk di sampingnya. Keduanya terdiam, mengeratkan tangan di cangkir yang mereka genggam. Dingin kali ini tak terlalu menusuk tulang, hingga mereka hanya membiarkan sunyi melenggang. Sesekali terdengar suara seruputan teh dari salah satunya. Detak-detik jarum jam menggema di sekeliling. Sang waktu seakan ingin membungkus keduanya dalam suasana damai yang tercipta. Tak harus ada pedebatan melayangkan tatapan nyalang. Tak perlu ada emosi dalam caci maki. Tak ingin ada nafsu birahi dibarengi aura mengitimidasi. Cukup hanya ada anak-anak kata yang tersendat di tenggorokan dan terucap dalam hati saja. Apapun itu, cukup hening bersahaja.
"Kau suka?" Kyungsoo reflek memutar kepalanya menghadap Jongin yang memandang datar ke arah depan. "Maksudmu?" terbersit nada gusar dalam tanya Kyungsoo, pun wajahnya menegang. Jongin balik menatapnya, "Tehnya, tentu saja. Memang apa lagi?"
Raut tegangnya kini melunak, "Oh. Ya, tentu. Aku suka." Jongin tersenyum tulus, cukup membuatnya tak kuasa untuk menundukan kepala. Merah merambat di pipi dan matanya dan air tak pelak memenuhi pelupuknya. Rasa bersalah itu kini datang, menjelma menjadi cambuk yang siap menggores menantang. Tak ayal itu bagaikan buah khuldi sang adam. Menginginkan kenikmatan kemudian mendapat ganjaran.
Drrrtt Drrrtt
Keduanya tersentak kala mendengar getaran keras di sekitarnya. Jongin melihat layar ponselnya menyala di atas meja. Buru-buru ia mengambilnya. Satu panggilan terpampang disana.
PIP
"Halo?"
"..."
"Hm, ya. Aku mengerti. Lima belas menit lagi aku sampai."
"..."
"Ya, terima kasih sudah mengingatkan, Chanyeol."
"..."
"Yap, sampai bertemu di kampus."
PIP
"Temanmu?" Kyungsoo bersuara setelah Jongin menyelesaikan percakapannya dengan seseorang. "Yeah, satu fakultas. Dia bilang ada kuliah setengah jam lagi."
Kyungsoo mengangguk, "Kalau begitu cepatlah bersiap, Jongin." pengecapnya terasa terbakar ketika mengucap nama Jongin. Oh, man. Sudah berapa lama ia tak menyebut nama itu? Sehari? Tiga hari? Seminggu? Entah lah, rasanya sudah lama sekali.
Jongin mengangguk dan masuk ke kamar untuk mengganti baju. Selang beberapa menit, Jongin berteriak menanyakan keberadaan flashdisk-nya yang dijawab Kyungsoo berada di laci meja kedua dekat kasur. Tak lama kemudian, muncul Jongin dengan kaus biru dongker, celana jeans biru muda, sepatu kets hitam serta tas selempang puma hita melekat di tubuhnya. Terlihat flashdisk hijau tosca itu menyembul di saku kanan celananya. Ia berjalan mendekati Kyungsoo yang berdiri mematung di samping sofa.
Kyungsoo terkesiap kala merasakan elusan lembut di helaian surai hitamnya. Dan, ia menyadari kini Jongin sudah ada di depan mata dengan kuluman senyum. "Aku berangkat dulu. Kau baik-baiklah disini." Jongin menangkup wajah Kyungsoo menghadapnya, menatapnya penuh kasih. "Aku akan cepat pulang dan menemanimu lagi, Soo."
Entah mengapa semburat merah muda menghiasi pipinya, ia juga tak mengerti. Kyungsoo hanya mengalihkan pandangannya dan mengangguk kecil. Jongin mengecup lembut keningnya, turun ke hidung mancungnya, tergelincir ke kedua pipi merahnya, terakhir Jongin mencium bibir lembut Kyungsoo. Mengenyam kulit bibir atas dan bawahnya teratur, kemudian melepasnya perlahan. Kening keduanya menempel, membiarkan dua pasang mata itu terpaut dalam jarak satu helaan nafas. Bersentuhan, tiap permukaannya sedikit demi sedikit bergelombang, terus bergerak dua arah, hingga menembus dan membaur menjadi satu. Ada, disana masih ada tempat, untuk merebahkan diri merapat. Dan ruangnya akan memeluk erat.
"Aku pergi." Jongin melepas tangkupannya dan berbalik melangkah ke pintu apartemen. Kyungsoo masih setia menatap punggung lebar Jongin, hingga pemuda itu kini berada di balik pintu hendak menutup, Jongin menatap Kyungsoo penuh makna. Dan ketika pintu itu tertutup, tangannya terangkat di udara, menghilirkan hembusan kekecewaan yang tak tersampaikan. Kyungsoo tak sempat menggapai apapun.
o0o KAIHANSOO o0o
Hari-hari kian berlalu, hubungan gelap Jongin dan Kyungsoo semakin membaik, bahkan bisa dibilang mesra. Kini tak ada lagi kata-kata kasar yang terucap dari bibir Kyungsoo. Perilaku Jongin pun kini semakin membaik dan lembut. Hal ini juga berimbas pada Hubungan Jongin dengan Luhan. Tiap hari mereka makin serasi, gelora asmara menggelenyar di antara keduanya. Namun hal ini tak berlaku bagi hubungan Kyungsoo dan Luhan. Tiap kali pemuda cantik itu mendekatinya, ia pasti menghindar. Kyungsoo sendiri tidak tahu kenapa ia harus menghindar dari Luhan, padahal sudah pasti pemuda itu yang bertahta di hatinya. Semua pikirannya menjeritkan ia harus bersama Luhan, tapi di sisi lain, di lubuk sanubari terdalamnya, ia tak ingin menyakiti hati Jongin. Tak pelak hal itu membuatnya pusing sendiri, dan kebimbangannya kini kian membesar. Siapa yang harus dia pilih? Luhan atau Jongin? Ia tak ingin melukai perasaan tulus yang kini menyapa singgasana hatinya, saling bersaing memperebutkan cintanya. Jika ia tidak memilih keduanya? Bagaimana bisa? Kyungsoo sudah terlanjur jatuh dalam pesona mereka, tak mungkin ia keluar dan mendustai diri dengan ia tak memilih. Andaikan dua orang itu ada dalam satu tubuh yang sama, maka semuanya tak kan serumit ini.
"Sedang memikirkan apa, sayang?" Kyungsoo mendapati dirinya direngkuh dari belakang oleh Luhan. Ia kembali berada di apartemen Luhan setelah pemuda itu memohon-mohon agar ia mau mampir barang sebentar, yang nyatanya saja sudah satu jam ia disini dan ia tak menyadarinya.
Satu jam lalu, ketika ia sampai di kamar Luhan, pemuda cantik itu langsung mencium bibir ranumnya dengan lembut dan hati-hati, tak ingin menyakitinya. Kyungsoo pun terbuai karena perlakuan Luhan yang memabukkan, tangannya menjumput sebagian rambut belakang Luhan, meremasnya kecil hingga Luhan memasukan lidahnya ke dalam mulut Kyungsoo dan mencumbunya dengan gairah yang memikat jiwa.
Tubuhnya terbaring di ranjang Luhan dengan pemuda itu mengangkang di atasnya, mengukung tubuhnya dalam pelukan posesif. Wajahnya menyuruk di leher Kyungsoo, menghirup aroma kesukaannya yang menguar. Bibirnya berlayar di permukaan leher putih Kyungsoo, menciptakan bercak-bercak merah muda–tidak merah pekat seperti biasanya–di sepanjang garis tulang rawan dan selangkanya. Meninggalkan rasa yang menggelenyar ke seluruh tubuhnya, meresap melalui aliran darahnya, menelusur di sistem syarafnya, dan mengurai di kedalaman palung hatinya.
Tak butuh waktu lama hingga mereka kini sama-sama telanjang. Segala perlakuan Luhan membuat Kyungsoo mabuk kepayang. Sementara pemuda itu mempersiapkan diri untuk memasuki tubuhnya, Kyungsoo menata atensi padanya. Ketika kelamin Luhan memasuki keintimannya, kepala Kyungsoo berputar. Ia melupakan hidupnya, aktivitas kuliahnya, dan jua ia melupakan Jongin. Kyungsoo meringis, rasanya bagaikan imaji surgawi yang menjadi nyata dan terasa. Saat Luhan bergerak, Kyungsoo mulai terlena. Desahannya meluncur mulus dari bibirnya yang menganga. Lenguhannya terasa menggebu kala Luhan mempercepat gerak kelaminnya, memberi dan mencari kenikmatan. Tanpa sadar, Kyungsoo ikut menggerakkan pinggulnya berlawanan arah. Membuat kesejatian pemuda cantik itu semakin masuk ke dalam tubuhnya. Mereka terus bergerak seirama detak-detik jarum jam yang ikut meramaikan suasana.
Ketika Luhan mengubah posisi menghujam kelaminnya, saat itu juga cengkraman Kyungsoo di lengannya semakin menguat, pun punggungnya melengkung hebat. Luhan tahu ia telah menyentuh titik kenikmatan Kyungsoo. Ia terus menghentak kesejatiannya ke titik itu tanpa henti, membuat desahan dan erang kenikmatan Kyungsoo tak terkendali. Luhan terus berusaha membuat jalurnya karena kini keintiman Kyungsoo semakin merapat dan menjepit kelaminnya. Ia bergerak berirama namun kuat, membuat nafas Kyungsoo memberat dan tak tahan untuk mencapai puncak hasrat. Dan saat Kyungsoo menarik wajah Luhan untuk kembali bercumbu, saat itu pula ia memuntahkan lahar kenikmatannya tepat mengenai perutnya dan Luhan, serta dadanya sendiri. Sementara Luhan, berusaha untuk tidak bergerak cepat selagi Kyungsoo menikmati klimaks-nya. Ia ingin mendahulukan kepentingan lelaki mungil pujaannya ini baru dirinya sendiri, walau ia harus meringis menahan betapa ketatnya keintiman Kyungsoo menjepitnya. Setelah ia rasa Kyungsoo sudah bisa bernafas lega, ia mulai menggerakan lagi kelaminnya dan keluar beberapa saat setelahnya. Nafasnya memburu kala ia menancapkan dalam-dalam kelaminnya dan membiarkan air maninya mengalir dalam keintiman Kyungsoo. Seiring berjalannya detik waktu, Kyungsoo menatap Luhan di atasnya tengah tersenyum bahagia menatap balik padanya. Mau tak mau membuatnya juga ikut mengeluarkan senyum berbentuk hatinya yang indah.
"Kau yang terbaik, Kyungie." Luhan merengkuh tubuh Kyungsoo di bawahnya dan melesakkan wajahnya ke leher Kyungsoo, menikmati aroma yang tak bosan ia hirup. Kyungsoo balik memeluknya. "Kau juga yang terbaik, Luhan." setelahnya mengelus lembut punggung lengket Luhan yang berkeringat. Tak apa, Kyungsoo bisa menjadi handuk yang menyeka semua keringat dan airmata Luhan. Ia merasa terhormat mendapatkannya.
Setelah hening yang begitu lama membungkus mereka, Kyungsoo berbalik dan menatap Luhan dengan sinar keraguan. "Bukan apa-apa, Luhan."
Luhan mengelus pelan pipinya, ia berjengit. Ini sama seperti Jongin memperlakukannya kala itu. Hal ini membuatnya sakit. Kenapa ini membuat semua hal terasa semakin sulit? Mengapa mereka memiliki sifat yang sama? Batinnya terus bertanya-tanya, mungkinkah Jongin dan Luhan itu saudara? Bahkan tingkah laku mereka begitu mirip. "Sungguh?"
Luhan menatap dalam matanya, disana, ada keraguan besar yang menggulung bagai ombak di tepi pantai. Menggerus karam yang terhimpit antara malam temaram. Oh, adakah beban berat yang kini dipikul lelaki yang dicintainya ini? "Cerita padaku, Soo. Ceritakan semuanya."
"Aku hanya takut." Kyungsoo bersuara setelah bergeming dalam diam. Luhan menatap perhatian padanya, mendengarkan dengan baik. Kyungsoo menggigit bibir bawahnya, kemudian berkata. "Aku takut kita ketahuan Jongin."
"Ssstt." Luhan menempelkan jari telunjuknya di bibir Kyungsoo, ia menggeleng. "Tidak. Jangan pikirkan tentang Jongin lagi. Pikirkan saja aku." Kyungsoo menunduk, menatap selimut putih yang membalut tubuh telanjangnya dan Luhan, saksi bisu dari percintaan mereka tadi. "Aku hanya takut, Luhan. Kau kekasihnya Jongin, dan kita bermain di belakangnya."
"Kyungsoo, kita tidak bermain di belakangnya. Kita saling mencintai, ingat?"
"Tapi tetap saja kau masih memiliki status dengannya!"
"Jadi kau ingin aku putus dengannya?"
Kyungsoo tertegun.
Luhan menghela nafasnya, "Tadinya aku ingin mencari waktu yang tepat untuk memutuskan Jongin. Tapi jika kau ingin aku putus secepatnya, maka aku akan melakukannya besok."
"Tidak." Kyungsoo mencengkram lengan Luhan, menoleh padanya. "Kau tidak boleh memutuskannya, Luhan." Luhan mengernyit, "Apa maksudmu? Kau bilang ingin aku putus–"
"Aku hanya bilang kau masih memiliki status dengannya. Aku tidak memintamu putus dengannya." Kyungsoo memotong cepat ucapan Luhan. Nafasnya kembali memburu kala mengingat ucapan dan semua sikap perubahan Jongin padanya beberapa minggu ini. Alis Luhan bertaut, "Kau tidak ingin aku putus dengannya?"
Kyungsoo terkesiap, kemudian berucap. "Maksudku tidak sekarang. Setidaknya tunggu waktu yang tepat. Bukankah kau ingin putus dengan Jongin secara baik-baik?"
Sekian menit Luhan menatap ragu, ia menghela nafas. "Baiklah jika itu memang maumu, Soo. Akan kuturuti."
Kyungsoo menghela nafas lega, setidaknya itu bisa mengurangi beban yang menghimpit dadanya, walau tak ayal hal itu makin memperkeruh keadaan. Yah, setidaknya sampai ia bisa memilih siapa yang akan menjadi pemilik hatinya.
Luhan bergerak mendekati wajah Kyungsoo. Kyungsoo mengerti dan menutup matanya. Kedua belah bibir itu bertemu dalam satu kecupan lembut. Terasa ringan namun juga memabukkan. Kemudian lumatan-lumatan di bibir, dan kepala yang bergerak berlawanan arah membuat cumbuan itu makin lama makin memabukkan dan juga makin panas. Jilatan-jilatan dan hisapan-hisapan membuat oksigen makin menipis dan air liur meruah dari sudut bibir lelaki yang lebih mungil. Dirasanya oksigen dalam paru-parunya akan habis, Kyungsoo menarik diri dari ciuman itu, membuat helaan nafas mereka menyatu seiring debar jantung yang berangsur tenang. Keduanya sama-sama bertatapan. Menyelami kedalaman yang masing-masing terpancar dari kedua mata mereka. Kyungsoo mendapati kesungguhan dalam mata Luhan. Namun Luhan kini tersesat dalam sorot kelam Kyungsoo. Di satu sisi, ia melihat keyakinan Kyungsoo juga mencintainya. Tapi di sisi lain, Luhan mendapati gumpalan awan hitam membelenggu kenangan dan airmata disana. Luhan ingin sekali menghilangkan gumpalan yang merisaukan itu. Ia tak ingin beban yang disembunyikan Kyungsoo makin memberatkan pikirannya. Jadi, sambil mengeluskan ibu jarinya di pipi Kyungsoo, ia berkata. "Benar, kau tidak ingin cerita padaku, Soo?"
Kyungsoo menatap Luhan. Ia menggeleng dan tersenyum padanya. "Aku akan cerita jika waktunya tiba, Luhan." Kyungsoo mengelus sayang pipi kiri Luhan, menghantarkan rasa hangat yang menyeruak ke dalam dada dan menyiratkan bahwa ia baik-baik saja. "Untuk saat ini, kita nikmati saja apa yang ada." setelahnya mengecup singkat bibir Luhan.
"Aku mencintaimu Luhan."
Luhan yang tadinya terdiam, kini tersenyum hangat. "Aku juga mencintaimu, Kyungsoo."
Setelahnya Luhan merengkuh tubuh Kyungsoo dan membawanya lebih masuk ke dalam selimut hangat miliknya. Kyungsoo mengerti, ini akan menjadi semakin sulit baginya. Tapi tak apa, jika Luhan ada di sampingnya dan memeluknya seperti ini, Kyungsoo merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dan ia akan menunggu takdir, kepada siapa ia akan memberikan seluruh jiwa raganya dan hanya Tuhan lah yang tahu apa yang terbaik baginya. Setidaknya hal itu tidak lagi membuatnya resah berkepanjangan.
_TO BE CONTINUED_
Nagi's bacotan :
Hei, gue balik lagi. Pasti banyak yang ngarep gue nggak usah balik kesini lagi, kan? Oke, gue tau kok. Gue ngerti emang itu keinginan kalian setelah bacotan gaje gue sebelumnya. Pertama-tama gue mau minta maaf, maaf bangeeet setulus hati atas perkataan kasar gue tentang Kyungsoo yang gue sebut muka dua. Gue bener-bener minta maaf banget kalo hal itu bener-bener nyinggung perasaan kalian. Iya, gue tau kok kalo gue ngomong tuh nggak pernah mikir dua kali, nggak disaring congornya, gue tau gue frontalnya terlalu kasar. Tapi itu cuman spontanitas dari otak pendek gue, gue nggak ada maksud buat ngejelekin Kyungsoo karena gimanapun juga dia salah satu dari sekian bias yang gue suka. Gue juga nggak ada maksud buat ngajak readers sekalian buat fanwar, gak pernah sekalipun. Dan, jika karena masalah ini kalian musuhin gue, ngerasa ilfill sama gue, silahkan. Gue nggak ada hak buat ngelarang kalian.
Gue tau gue emang pantes dapetin itu dari kalian. Kalian pengen gue berhenti nerusin ff gue bakal berhenti, kalian minta gue keluar dari ffn gue bakal keluar. Lagian sampah kayak gue ini juga gak ada guna buat kalian, kan? So, gue bakal nurutin apapun keinginan readers sekalian. Atau jika kalian mau, gue bakal hapusin semua ff gue dan gue gak akan ngeidolain Kyungsoo lagi, gue bakal ngelepas dia dari dunia imaji gue sebagai k-pop lover. Gue tau kok gue emang salah dalam hal ini.
Dan, ada yang nanya gue exostan atau bukan. Gue bukan exostan kok. Iya, gue bukan exostan dan udah berani ngehina Kyungsoo, yep dimata lo gue emang tolol banget, kan? Gue terima kok lo atau readers ngomong gitu. Siapa gue? Hanya seseorang yang menurut kalian menjijikan, yang mandang orang lain sebelah mata dan si tolol ini pun nggak lebih baik dari kalian. Gue bukan author kenamaan yang karyanya memikat insan. Menulis atau mengarang pun nggak sehebat kalian.
Dari review, gue banyak dikritik. Gue terima kok, gue pantes dapetin itu. Tapi itu juga yang bikin gue tetep kuat sampe sekarang–walau beberapa kali airmata gue sempet jatuh tiap ngingetin hal itu. Tapi gue nggak ampe nangis. Yang udah dewasa pasti ngerti apa bedanya airmata yang jatuh sama nangis, atau yang punya pengalaman hidup pahit pasti ngerti setipis apa rasanya.
Seperti yang lo bilang, nggak ada manusia yang sempurna, begitu juga gue. Gue yang nggak sempurna nilai Kyungsoo keburukan dan kekurangannya, pasti kalian mikir, gue nggak pernah ngaca. Gue emang jarang berkaca dari perilaku-perilaku sebelumnya, tapi gue udah berusaha dan selalu berusaha jadi yang terbaik. Gue nggak mau masuk ke lubang yang sama dan semua itu juga butuh proses yang sangat panjang. Umur gue masih 20 tahun, masih masa penjajakan mendewasakan diri. Dan, jika menurut kalian yang gue lakuin ini konyol dan kekanak-kanakan emang bener kok, karena gue pribadi ngerasa masih belum cukup dewasa dalam menyikapi sesuatu dan menilai sesuatu hanya dari yang terlihat doang. Nggak kayak kalian yang hebat dalam segala hal ini.
Oke, ini kepanjangan dan pasti bacotan gue nggak penting banget bagi kalian. Intinya, gue cuman mau lurusin satu hal. Gue nggak ada maksud menghina keburukan Kyungsoo atau member EXO yang lain. Udah, itu aja. Because nobody's perfect, especially me. I don't wanna hurt all of you anymore with my harsh-word. Sori, inggris gue nggak sebagus kalian readers dan author yang punya segudang pengalaman. Nggak kayak gue yang soksok-an jadi penulis pake otak standar atau mungkin–menurut kalian–dibawah rata-rata. Kesannya gue ngerendahin diri sendiri, ya? Karena gue udah terbiasa dipandang rendah sama orang. Tapi gue nggak mau disamain rendahan, karena gue masih punya harga diri dan juga malu.
Sip, segini aja gue ngebacot kali ini dan mungkin ini terakhir kalinya gue publish ff. Nanti gue bakal berhenti dan keluar atau kagak, nunggu respon readers aja. Sebagai persembahan terakhir, gue punya puisi yang gue bikin sendiri. Semoga readers sekalian bisa membaca maknanya. Ini dia :
Kerdil
Aku memang biji yang terlahir lebih kecil dari umumnya.
Tapi itu tak seberapa jika harus dibandingkan deritanya.
Menantang arus tenang, menentang takdir.
Membuat aliran gamang memanjang terukir.
Siapa lah diriku ini? Hanya sorang kerdil.
Yang membentang mimpi pun harus memasang kail.
Meminta belasan dengan ujung jari mengharap kasih.
Tak terkira mendapat balasan sebegini perih.
Lalu, masih kah ada cahaya suci itu di balik tulang rusukmu?
Yap, itu dia sajak sederhana yang keluar dari otak pendek gue. Semoga kalian memahami makna dibaliknya. Maaf ya, kalo kesannya gue curcol, mana melow pula. This Is My Feeling, You Know? Itulah yang gue rasain sekarang, ga to the law = GALAW, TO THE MAX.
Yep, sampai sini aja gue bacot. Yang gak peduli sama omongan gue gapapa. #akurapopo Yang peduli dan menyimak baik semua ucapan gue dan berniat maafin gue, gue makasih banget guys lo udah care ama gue. Mungkin awalnya kita gak saling kenal, tapi kita punya satu kesamaan, yaitu sama-sama cinta Kyungsoo. Dan, kesamaan itulah yang bikin kita deket satu sama lain walau terhalang jarak dan waktu. Siapapun lo, yang udah care sama gue, semangatin gue, THANKS TO THE A LOT GUYS! GUE SAYANG BANGET SAMA LO SEMUA~ I L. O. V. E. YOU 3
P.s. : Maaf kalo bacotan gue di atas atau yang selama ini ada di ff-ff gue bikin kalian tersingung, terluka, berduka nestapa merana~ #plak Gue nggak ada maksud nyindir karena gue sadar diri gue nggak lebih baik dari kalian semua. Apalah artinya berbuat baik jika niat tak mengiring langkah menapak naik. :) Ciao!
-kkeut-
