Tittle: The Pass chapter 1
Cast: Cho Kyuhyun, Lee Donghae as Cho Donghae, Park Jungsoo and other
Genre: brotheship, family, sad (maybe)
.
.
Warning: OOC, typos, author masih baru, cerita pasaran, alur membingungkan, membosankan dan kekurangan lainnya.
.
.
This story is mine
All cast milik tuhan dan diri mereka sendiri
.
.
Happy reading^_^
.
.
14 April 2004
"Hyungie..." pekik namja kecil berusia 6 tahun itu sambil berlari menghampiri namja lain yang lebih besar darinya. Namja yang terlihat baru saja memasuki pintu utama kediaman mewah itu.
Nampaknya namja itu baru pulang sekolah melihat seragam yang masih dikenakannya.
"Aigoo, Kyuhyunie! Jangan berlari sayang" seorang yeoja cantik ikut berlari mengejar putra kecilnya.
'Bruk' suara tubuh kecil Kyuhyun bertubrukan dengan tubuh sosok yang dipanggilnya 'hyungie' tadi, memeluknya erat.
"Kyuhyunie! sudah pulang eoh?" Seru riang sosok berusia 11 tahun itu. Ia membalas pelukan erat ke tubuh kurus dongsaengnya.
Yeoja cantik itu berdiri disamping 2 namja kecil yang sedang berpelukan "Kyuhyunie, jangan berlari seperti itu! Dan Donghae, lepaskan tubuh dongsaengmu, ia bisa sesak nafas" panik Cho Hanna, eomma dari kedua namja cilik itu.
Kyuhyun mengerucutkan bibirnya, ia masih dalam pelukan Donghae, sosok yang dipanggilnya 'hyungie'.
"Kyunie merindukan hyungie umma!" Raut kesal ketara diwajahnya yang masih pias.
"Umma tahu sayang. Tapi kau baru pulang dari rumah sakit. Umma tak mau kau sakit lagi!" Jelasnya. Donghae memang jarang mengunjungi Kyuhyun di rumah sakit karena aktivitas sekolahnya yang padat karena menjelang ujian akhir sekolah.
"Tenanglah umma, aku akan menjaga Kyunie. Kajja Kyunie, kita kekamar!" Ajak Donghae sambil menarik pelan tangan dongsaengnya menuju kamar mereka.
"Hae-ya jangan membuatnya lelah. Lagi pula kau belum makan, makanlah dulu!"
"Isshh umma, aku tidak akan lelah. Kenapa umma selalu melarang ini itu?" Kyuhyun cemberut.
"Kyunie sayang..."
"Aku hanya mengajaknya bermain PS umma. Itu tidak akan membuatnya terlalu lelah. Aku makan nanti saja, aku belum lapar" meski masih berusia 11 tahun, Donghae bisa bersikap layaknya orang dewasa jika dihadapan dongsaengnya.
.
.
.
"Hyungie..." panggil Kyuhyun pelan. Ia tengah duduk diatas pangkuan sang hyung dengan posisi menghadap Donghae yang duduk di ranjang mereka. Tangan mungilnya memeluk leher Donghae, menenggelamkan kepalanya pada ceruk leher hyungnya dan menumpukan tubuh kecilnya pada sang hyung.
"Hmm..." sebenarnya mereka tidak bermain PS seperti yang dikatakan Donghae pada ummanya. Melainkan Kyuhyun, bocah kecil ini akan selalu membutuhkannya sebagai tempat berkeluh kesah. Selalu begitu tiap ia pulang dari rumah sakit, mengingat tidak hanya satu dua kali Kyuhyun masuk rumah sakit. Cukup lucu memang jika bocah seusia Kyuhyun membutuhkan teman curhat, tapi itulah yang terjadi.
"Hiks...hiks..." isakan demi isakan kecil terdengar dari bibir Kyuhyun yang masih kehilangan warnanya. Air mata membasahi wajahnya yang tampak tirus.
"Ada apa hm..? Kenapa kau menangis?" Donghae mengusap pelan punggung dongsaengnya yang bergetar. Dapat ia rasakan pula lehernya basah karena tetesan air mata.
"Hiks...Minnie... hyungie...dia.. kemarin...hiks.. dia pergi...hiks... Ummanya bilang...hiks, ia..ia pergi ke tempat yang...hiks...jauh.." cerita Kyuhyun diiringi isak tangis.
"Minnie siapa Kyunie?" Bingung Donghae, pasalnya yang Donghae tahu Kyuhyun tidak punya teman. Kecuali satu...Changmin. Mungkinkah dia yang dimaksud Kyuhyun. Donghae tidak bodoh untuk menyadari arti 'pergi jauh' yang dikatakan dongsaengnya.
"Minnie...hiks... Changminie... umma bilang...hiks.. aku tidak akan..hiks.. bisa bertemu dengannya lagi. Aku...hiks . akan kesepian...hiks.." isak tangis Kyuhyun makin keras.
Ternyata benar dugaan Donghae. Changmin adalah teman sekamar Kyuhyun di rumah sakit. Teman yang juga memiliki penyakit yang sama dengannya. Itu yang membuat Kyuhyun dan Changmin sangat dekat. Dan nampaknya tuhan sangat menyayanginya hingga memanggilnya lebih dulu, dari pada bocah ceria itu merasakan sakit terus menerus.
Meski begitu, ia sama sekali tak mengharapkan tuhan memanggil Kyuhyun lebih cepat. Bukannya ia suka melihat dongsaengnya sakit. Tapi sungguh, ia tak sanggup jika dongsaeng yang sangat ia sayangi ini pergi lebih dulu daripada dirinya.
"Ssst tenanglah Kyunie. Masih ada hyung disini, kau tidak akan kesepian" Donghae semakin erat memeluk tubuh dongsaengnya.
"Tapi...tapi...hiks... Changminie... aku takut berada...hiks.. diruang itu sendiri...hiks...Changmin..." yang Kyuhyun maksud ruangan itu adalah kamar rawatnya. Disana memang menyeramkan, akan sangat sepi jika Changmin tidak ada. Temannya yang satu itu memang selalu heboh dimanapun.
"Hei...Kyuhyunie..." Donghae mengangkat kepala dongsaengnya agar bertatapan dengannya.
"Changmin sudah berada ditempat yang sangat menyenangkan, aku yakin ia pasti tidak akan mau kau ajak pulang. Disana dia sudah bersenang-senang" Donghae sedikit mengarang untuk menenangkan Kyuhyun.
"Benarkah hyungie... Kalau begitu aku mau ikut Minnie saja. Dia itu, kenapa bersenang-senang tidak mengajakku!" Jawab Kyuhyun polos, tangisnya sudah reda rupanya.
Mata Donghae sedikit berembun ketika mendengar ucapan polos dongsaengnya
"Kalau Kyunie ikut Changminie, Kyunie tidak akan bisa bertemu hyung, bertemu appa dan umma. Apa Kyunie mau hmm...?"
Kyuhyun tertunduk dan menjawab pelan"Ani...Tapi hyungie, aku juga ingin bersenang-senang. Aku tidak pernah bisa bersenang-senang, appa dan umma selalu melarang ini itu. Tubuhku juga selalu sakit, aku tidak bisa bermain sesukaku. Minnie disana bisa bersenang-senang, berarti Changmin sudah tidak merasa sakit lagi" Kyuhyun memang cerdas untuk anak seusianya, ia sudah bisa mengambil kesimpulan dari informasi yang didapatnya.
"Kyunie tidak senang kalau Changmin tidak merasa sakit lagi?"
Dengan cepat Kyuhyun menggeleng "Ani...aku senang Minnie sudah tidak sakit lagi. Aku tahu rasanya, sakit sekali hyungie..." ucapnya polos.
Dan kini ucapan polos itu membuat Donghae hampir tak bisa menahan air mata "Karena itu Kyunie harus disini bersama hyung, ne?"
"Eum...Kyunie akan selalu bersama hyung. Selamanya!" Ucapnya semangat.
Tuhan, kenapa harus dongsaengnya yang mengidap penyakit itu. Kenapa harus dongsaeng kecilnya yang menanggung sakit sebesar itu, kenapa bukan dirinya saja.
.
.
.
"Hae, kau sudah mengerjakan tugas matematika?" Tanya seorang namja dengan gummy smilenya, Eunhyuk mengintrogasi Donghae yang baru saja datang ke sekolah.
Donghae tersenyum jahil, ia hafal benar dengan sifat sahabat karibnya ini "Tentu saja..." belum selesai Donghae bicara, Eunhyung langsung menengadahkan tangannya. "Tapi aku tidak akan mencontekannya padamu!" Tambah Donghae.
"Mwo? Hae...kaukan teman sejatiku, tega sekali kau tidak mencontekan tugasmu padaku. Aku tidak mau dihukum pak guru kejam itu, jebal..." ujar Eunhyuk dengan nada sedih yang dibuat-buat.
Donghae tergelak melihat wajah memelas yang ditunjukan Eunhyuk "Tenanglah, aku hanya bercanda!" Donghae mengeluarkan buku catatan dari dalam tasnya kemudian menyerahkannya pada Eunhyuk.
"Ishh kau ini membuatku panik saja!" Dengan cepat Eunhyuk merebut buku itu kemudian menyalinnya pada bukunya sendiri.
"Ngomong-ngomong, ada apa denganmu? Pagi ini kau sangat ceria. Apa karena Kyuhyun?" tanya Eunhyuk dengan mata yang masih terfokus pada bukunya. Memang benar pagi ini Donghae lebih ceria daripada hari-hari sebelumnya. Di hari sebelumnya Donghae selalu tampak murung karena memikirkan dongsaengnya yang masih dirawat di rumah sakit.
"Kau benar Hyuk. Kyunie sudah pulang dari rumah sakit" Donghae tersenyum lebar.
"Wah bagus sekali, bagaimana kondisinya? Bolehkah pulang sekolah ini aku ke rumahmu? Rasanya aku juga merindukan bocah nakal itu" Eunhyuk memang bersahabat dengan Donghae sejak lama, hingga ia mengetahui tentang Kyuhyun dan sakitnya.
Raut wajah Donghae berubah sedikit murung saat Eunhyuk menanyakan kondisi Kyuhyun. Namun dengan cepat ia sembunyikan raut itu.
"Kyunie baik-baik saja, dan harus baik-baik saja"
Eunhyuk sedikit mengernyit heran saat mendengar kalimat terakhir Donghae 'harus baik-baik saja', apakah berarti saat ini Kyuhyun tidak baik-baik saja. Namun Eunhyuk tak mau bertanya lebih lanjut. Ia hanya ingin menjaga perasaan sahabatnya.
"Ah...selesai. Terimakasih Hae-ya!" Eunhyuk mengembalikan buku catatan Donghae saat ia sudah selesai menyalin semua tugas.
.
.
.
"Apa kata dokter?" Tanya Cho Younghwan, appa dari Kyuhyun dan Donghae. Ia baru saja pulang dari Taiwan setelah 2 minggu berada disana, ia adalah seorang rektor sebuah universitas ternama disana, jadi wajar jika ia harus tinggal lama disana untuk mengurus sekaligus mengajar di universitas itu.
Dan betapa paniknya dia ketika baru saja pulang dan istrinya mengatakan putra bungsunya tengah mengalami demam tinggi.
"Keadaannya baik-baik saja untuk saat ini. Dokter bilang kelelahan, mungkin karena kemarin terlalu lama bermain dengan Donghae sedang tubuhnya belum sehat betul" yeoja itu mengelus pelan rambut putranya yang basah oleh keringat. Diperhatikannya Kyuhyun yang tertidur diranjangnya dengan wajah pucat dan nafas tersengal.
Sebenarnya Kyuhyun demam bukan karena terlalu lelah bermain bersama hyungnya,
melainkan kemarin ia terlalu banyak menangis hingga tubuhnya menjadi drop.
"Dimana Donghae sekarang?"
"Ia sedang sekolah, kau lupa ini jam berapa huh?"
"Ah, kau benar"
Tuan Cho kemudiam mendudukkan diri disamping ranjang Kyuhyun, tangannya ikut mengelus surai ikal milik putranya.
"Bagaimana dengan terapinya?" Meski seorang yang sibuk, tuan Cho adalah tipikal kepala keluarga yang sangat perhatian pada keluarganya.
"Keadaanya membaik. Tapi itu hanya untuk saat ini, masih ada kemungkinan keadaannya memburuk lagi"
.
.
.
"Appa!" Seru Donghae saat melihat sang appa yang selama 2 minggu dirindukannya tengah berada diruang keluarga. Dengan segera Donghae berlari kearah appanya dan memeluknya erat-erat, meninggalkan Eunhyuk yang menggerutu panjang pendek karena merasa ditinggalkan.
"Hei, jagoan appa sudah pulang eum!" Tuan Cho balas memeluk erat Donghae.
"Appa...kenapa lama sekali tidak pulang. Aku sangat rindu pada appa..." rengek Donghae manja. Ia memang sangat dekat dengan appanya.
"Kau manja sekali eoh?" Tuan Cho sedikit mengejek putranya.
"Appa!"
"Anyeong ahjussi!" Suara Hyukjae menginterupsi kebersamaan appa dan anak ini.
"Ah, Hyuk-ah! Kemari, masuklah!" Seru tuan Cho saat melihat Eunhyuk yang masih berdiri di ambang pintu.
"Terimakasih ahjussi" Eunhyuk melangkah masuk sambil melayangkan tatapan sebal pada Donghae.
"Hehe...mianhe, aku lupa kau ikut aku tadi" Donghae tetawa pelan.
"Kau ini Hae-ya..." tuan Cho menjitak pelan kepala Donghae.
"Aww, sakit appa. Appa, Kyunie dimana, Hyuk ingin bertemu. Dia merindukan Kyunie katanya"
"Ah benarkah. Kyuhyunie ada dikamar, dia sedikit demam, kalian kesanalah, dia pasti senang sekali"
"Mwo? Kyuhyunie sakit lagi ahjussi, bukannya dia baru keluar dari rumah sakit?"
"Kali ini hanya demam Hyuk-ah, Kyunie sudah biasa seperti itu" ujar tuan Cho menenangkan. Kyuhyun memang sudah biasa mengalami demam, lelah sedikit saja bisa membuat suhu tubuhnya naik. Meski begitu tak pelak rasa khawatir tetap menggelayuti hati tuan Cho.
"Ne, Kajja Hyukie!" Donghae mengajak Eunhyuk menuju kamar Kyuhyun.
.
.
.
'Cklek' "Eomma..." ujar Donghae saat melihat ummanya sedang terduduk diranjang dimana dongsaengnya terbaring, menyibak rambut Kyuhyun yang menutupi dahinya.
"Hyungie..." panggil Kyuhyun lirih dengan suara paraunya. Matanya mengerjap sayu menatap sang hyung.
"Hey, sudah lebih baik?" Donghae mendekat kearah ranjang. Mendudukan diri disamping Kyuhyun yang sedang terbaring dengan hati-hati agar tidak menyenggol selang infus yang terhubung ke tangan dongsaengnya.
Kyuhyun mengangguk pelan. "Tanganku sakit..." adunya sambil menunjukkan tangannya yang tersambung selang infus.
"Dia sudah baik-baik saja Hae" Jelas nyonya Cho pada putranya. "Eoh, ada Eunhyuk juga!" Serunya saat melihat sosok dibelakang Donghae.
Kyuhyun mengalihkan pandangnya "Hyuk hyuk..." ia tersenyum senang melihat sahabat hyungnya yang sudah dikenalnya dengan baik datang mengunjunginya.
"Anyeong ahjumma, anyeong Kyunie" Eunhyuk memasang senyum manisnya.
"Ah ne, Kyunie panggil dia hyung, jangan seperti itu, tidak sopan! Kemarilah Hyuk-ah. Hae, eomma akan mengambil camilan untuk kalian. Kalian temanilah Kyunie" Nyonya Cho kemudian meninggalkan mereka bertiga.
.
.
"Hyuk..." panggilan bernada pelan itu membuat Eunhyuk kesal. Saat ini Kyuhyun tengah bersandar pada tubuh hyungnya setelah memaksa duduk tadi.
"Yak, Kyunie! Aku ini seumuran dengan hyungmu tahu! Kenapa kau selalu tidak sopan padaku! Bukankah ahjuma sudah menyuruhmu memanggilku hyung huh!" Protes Eunhyuk dengan nada sedikit membentak padahal ia sama sekali tak bermaksud begitu. Kyuhyun memang terbiasa memanggilnya seperti itu. Meski terkesan tak sopan tapi itulah yang membuat Eunhyuk terkadang merindukan bocah kecil itu.
Wajah Kyuhyun mulai mendung, matanya mulai berembun "Hyuk hyuk tidak suka denganku ya..." ujarnya masih dengan suara pelan.
"M-mwo, yak Kyunie..."
"Hyuk, jangan membentaknya!" kata Donghae menegur, ia menarik Kyuhyun kedalam pelukannya. Matanya beralih pada Kyuhyun yang hendak menangis "Kyunie, Eunhyuk hanya ingin kau lebih sopan padanya, panggil dia hyung ne?" Donghae mencoba menasehati.
"Jeo-jeongmal? tapi...tapi Hyuk hyuk membentakku..." mata sayu Kyuhyun yang sedikit sembab menatap Eunhyuk meminta kepastian.
"Hah...ne, aku sama sekali tidak bermaksud begitu. Aishh terserah kaulah mau memanggilku apa, terserah!" seru Eunhyuk sedikit frustasi.
Kyuhyun melebarkan senyumnya "Yeayy... Hyuk hyuk menyukaiku" Kyuhyun berseru girang khas anak, wajah suramnya tadi hilang entah kemana. Tubuhnya sedikit melonjak dalam pelukan Donghae.
"Kyunie senang eoh?" tanya Donghae.
"Ne! Sangat senang, hehe Hyuk hyuk tidak boleh marah padaku lagi arra! Jika tidak, aku akan menangis seharian!" ancamnya dengan ekspresi imut.
Eunhyuk ikut tersenyum melihat tingkah Kyuhyun. Dalam hati Eunhyuk juga ikut sedih melihat kondisi dongsaeng sahabatnya ini. Wajah Kyuhyun terlihat pucat bahkan kini ada jarum infus yang menusuk tangan mungilnya. Bocah seusia Kyuhyun harusnya menggemaskan dengan pipi chubby dan tubuhnya yang gembul. Tapi lihatlah Kyuhyun, apa ia masih terlihat menggemaskan dengan pipi tirus dan tubuh sekurus itu. Mengingat apa yang harus dialami Kyuhyun diusia sekecil ini membuatnya yang memang cengeng ingin menangis saja.
12 Januari 2015
Suara detik jarum jam terdengar seperti suara detik kematian. Mengurangi harapan hidup setiap orang disetiap detiknya. Mengikis harapan seperti batu yang terkikis air disungai. Perlahan namun pasti detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam dan seterusnya tanpa disadari telah mengikis sisa usia.
Seorang namja dengan wajah pucat pasi terbaring lemah, tubuhnya penuh dengan alat-alat medis yang menunjang hidupnya. Alat-alat yang membantu mencoba mempertahankan satu nyawa di sebuah ruangan ICU. Ruangan dimana sebagian orang meyakini bahwa malaikat kematian sedang ingin bermain-main dengan jiwa-jiwa yanh ada disana. Sebuah ruangan yang menjadi penentu antara hidup dan matinya raga-raga yang tak lagi berdaya.
"Kumohon...bangunlah saeng..." bisik seseorang dari luar, menatap lurus objek yang terbaring pada salah satu ranjang di ruangan putih itu.
.
.
.
TBC
Note: membosankan? Mianhe ne. hayo... bisa tebak siapa yang ngomong "Kumohon...bangunlah saeng..." . Makasih banyak chingu yang udah review, follow, favorite dan baca ni ff yak. Mianhe kalo pendek, kemampuan otak saya untuk ngarang cuma segitu chingu. Ff ini flashback dan masa sekarang. Tapi saya lebih fokus yang flashback. Judulnya aja masa lalu(nyanyi lagu masa lalu), masa yang diceritain masa sekarang mulu, kan gk lucu. Iya gk chingu? (Ngomong iya!)
Hoho saya lihat tingkat siders masih tinggi nih. Ayo dong siders-sii, review! Gk akan ngurangi pulsa, mungkin cuma kuota doang berkurang dikit hehe. Kalau para siders udah menampakkan diri chap kedua saya update secepatnya ya. See you, bye bye!
