Tittle: The Pass Chapter 3
Cast: Cho Kyuhyun, Lee Donghae as Cho Donghae, Park Jungsoo and other
Genre: brotheship, family, sad (maybe)
.
.
Warning: OOC, typos, author masih baru, cerita pasaran, alur membingungkan, membosankan dan kekurangan lainnya.
.
.
This story is mine
All cast milik tuhan dan diri mereka sendiri
.
.
Happy reading^_^
.
.
11 Juli 2004
"Mereka pergi hyungie hiks..." saat ini Donghae masih terus mendekap erat dongsaengnya yang tengah menangis hebat. Ini semua salah pak Jang, ah ani, ini salahnya yang tak segera memberi tahu dongsaengnya tentang kepergian orang tua mereka. Dan secara tak sengaja pak Jang memberitahu dongsaengnya bahwa orang tua mereka telah pergi.
Ingin Donghae juga ikut menangis, tapi ia harus kuat sekarang, ada seseorang yang membutuhkannya sebagai sandaran. Kyuhyunnya, satu-satunya keluarga yang ia miliki sekarang. Yang akan ia lindungi dengan segenap jiwa dan raganya.
Pernah Donghae berharap setidaknya ia dapat melihat jasad orang tuanya untuk yang terakhir kali, namun harapan ity pupus, pencarian selama 4 hari oleh pemerintah tak membuahkan hasil lalu dihentikan karena dari seluruh penumpang tak ada satupun jasad yang ditemukan. Ada berbagai spekulasi penyebab tak ditemukannya jasad para korban, salah satunya jasad-jasad itu telah dimakan predator lautan mengingat laut Cina selatan yang begitu luas dan dihuni berbagai predator lautan.
"Kyunie...saeng...mereka pergi ketempat yang menyenangkan seperti Changmin, Kyunie tidak boleh sedih...ne!" Donghae menciumi puncak kepala Kyuhyun yang basah oleh keringat, bocah itu kelelahan karena terlalu banyak menangis.
"Kenapa...hiks...kenapa tidak mengajak...hiks... hiks...dan hyungie...hiks...Kyunie ingin...hiks...ikut...hiks...ummaaa" sama seperti dulu, Kyuhyun menganggap orang tuanya pergi ketempat jauh yang tak akan bisa ia temui lagi.
"Dan Kyunie mau meninggalkan hyungie...?"
"Hyungie...hiks...ikut" Donghae tersenyum miris mendengar pernyataan polos dongsaengnya tentang kematian.
"Tenanglah saeng, hyung akan melindungimu"
"Apapun yang terjadi, hyung akan selalu melindungimu" air mata tak bisa Donghae tahan lagi. Tanpa sepengetahuan Kyuhyun, kini bulir-bulir air mata menuruni pipinya.
Kyunie...dongsaeng...jangan pernah kau pergi meninggalkan hyung...hyung hanya memilikimu. Kau harus kuat, kau dongsaengku yang begitu kuat, jangan kalah oleh sakitmu... Tetaplah bersama hyung...
.
.
.
14 Juli 2004
"Ahjusi, Kyuhyunie belum sehat benar, ia bahkan belum keluar dari ruang ICU, kenapa harus pulang sekarang?" Tanya Donghae dengan nada marah. Pasalnya pak Jang, sekertaris appanya memutuskan secara sepihak Kyuhyun harus keluar dari rumah sakit segera.
"Saya tahu tuan. Tapi maaf, tabungan tuan Cho untuk membiayai perawatan sudah habis tak bersisa, bahkan seharusnya tuan Kyuhyun harus keluar dari rumah sakit sehari yang lalu. Tapi pihak rumah sakit masih memberi toleransi karena melihat kondisi tuan Kyuhyun, tuan. Dan sekarang pihak rumah sakit memberi peringatan, jika tidak segera dilunasi, dengan terpaksa tuan Kyuhyun harus keluar dari sini. Maaf tuan, saya sendiri bukan orang berada. Maaf jika saya tidak bisa membantu" jelas pak Jang panjang lebar. Sebenarnya ia juga merasa sangat kasihan dengan putra dari atasannya ini. Namun ia tak bisa berbuat apapun. Meski gaji yang diperolehnya sebagai sekertaris tuan Cho cukup besar, namun ia adalah ayah dengan 5 anak, ia juga harus menghidupi istri dan kedua orang tuanya. Jadi tak pernah ada uang sisa untuk ditabung.
Jika dipikir memang benar jika pihak rumah sakit meminta untuk melunasi biaya. Mengingat biaya untuk ruang ICU permalam tidaklah murah. Tapi setidaknya mereka harus memiliki rasa kemanusiaan bukan, tega sekali membiarkan orang yang sakit parah tanpa perawatan.
"Uang memang berkuasa ahjusi..." kata Donghae lirih. Tuhan cobaan apa lagi ini, darimana ia bisa mencari uang untuk biaya perawatan dongsaengnya.
Donghae memang tidak terlalu terkejut mengenai tabungan appanya itu. Pak Jang sudah menceritakan bahwa appanya sedang mengalami kesulitan moneter untuk pembiayaan universitasnya. Jadi hampir seluruh tabungan bahkan rumah ia gadaikan untuk pembiayaan itu. Dan appa dan ummanya terbang ke Taiwan untuk membicarakan mengenai pembiayaan itu.
Donghae masih sangat bersyukur karena pak Jang masih mau membantunya.
"Heh..." Donghae tersenyum sinis, jadi sekarang ia dan dongsaengnya adalah yatim piatu yang tak punya rumah, tak punya apapun selain apa yang melekat pada tubuh mereka. Tentu saja, rumah mereka telah disita oleh bank, beserta isinya. Untung saja ia masih sempat mengambil uang tabungan di kamarnya kemarin. Tak punya siapapun untuk dimintai pertolongan. Mereka tidak punya kerabat dekat, appa dan umma mereka adalah anak tunggal sedang harabeoji dan halmeoni mereka telah meninggal semua.
Tuhan, mengapa kau memberiku cobaan seberat ini. Sanggupkah aku? Sanggupkah aku melewati ujian ini.
"Tidak apa ahjusi, ahjusi masih mau membantuku saja aku sudah sangat bersyukur. Dan ahjusi, jangan panggil aku dan Kyuhyun tuan lagi, kami bukan siapa-siapa"
"Tuan..."
"Ahjusi...panggil aku Hae. Tidak apa, aku akan membawa Kyunie keluar dari sini"
"Tuan...ah maksudku Hae, saya ingin sekali mengangkat kalian menjadi putraku, tapi maaf saya tidak yakin bisa membiayai kalian"
"Tidak apa ahjusi, aku dan Kyunie juga tidak ingin merepotkan ahjusi lebih dari ini"
"Bagaimana jika kalian ke panti asuhan?"
"Panti asuhan? Kedengaran tidak buruk, Kyunie akan punya banyak teman disana" meski berkata begitu, Donghae sama sekali tak ada niat ke tempat itu.
"Tuan...Hae...sungguh jika sewaktu-waktu kalian membutuhkan bantuan. Telfon saja, kalian jangan sungkan ne!"
Donghae tersenyum, sekertaris appanya ini begitu baik ternyata "Ne ahjusi"
.
.
.
"Hyungie...kita mau kemana...?" Pertanyaan pelan terucap dari bibir Kyuhyun yang memutih. Ia belum sehat benar dan sekarang hyungnya mengajaknya berjalan tak tentu arah.
"Kita mau pulang...?" Tanyanya lagi.
"Ani saeng, kita akan mencari rumah baru, rumah lama kita sudah tak bisa ditempati" inilah tekad Donghae, meski masih kecil ia tak mau bergantung kepada orang lain. Ia ingin berusaha sendiri menghidupi dirinya dan dongsaengnya.
Dan saat ini Donghae ingin mencari setidaknya flat kecil untuk mereka tinggal. Uang tabungannya sebenarnya cukup jika untuk membayar ongkos naik bus. Namun ia lebih memilih berjalan kaki, menghemat biaya. Ia hanya tak mau uangnya kurang, karena Donghae sendiri tau berapa harga sewa sebuah flat kecil, ini hanya untuk berjaga-jaga.
Donghae nekat kabur saat mengetahui pak Jang akan membawa mereka ke panti asuhan. Ia tak mau, bukan apa-apa, ia hanya tak suka dengan pandangan orang lain tentang anak-anak panti asuhan, kasihan, dianggap remeh dan pandangan negatif lain membuatnya enggan. Ia tak suka diksihani, ia tak suka dianggap remeh. Oleh karena itu Donghae lebih memilih ini.
"Kenapa hyung, bukankah rumah kita masih baik-baik saja?" Kyuhyun penasaran.
"Rumah kita rusak Kyunie, ada gempa kemarin" karang Donghae sedikit tak masuk akal. Otaknya buntu untuk mencari alasan lain lebih dari ini sedang ia tak mungkin memberitahu kebenarannya pada dongsaeng kecilnya ini bukan.
"Jeongmal? Aku tak tahu kalau ada gempa" Kyuhyun memiringkan kepalanya.
"Kau kan sedang sakit, mungkin saja tak merasakannya" karangnya lagi.
"Apa hubungannya?" ingat Kyuhyun anak yang cerdas.
"Aish sudahlah!"
.
.
.
Tak tahu telah berapa lama mereka berjalan, yang jelas hari telah beranjak larut.
"Hyunghh...hh...hhh..." Kyuhyun menghentikan langkahnya, namja kecil itu memegangi dadanya yang mulai terasa sesak, ia kesulitan menghirup udara. Bajunya hampir basah oleh keringat yang sejak tadi sudah bercucuran meski di tengah udara dingin.
Donghae ikut menghentikan langkahnya. Ia menatap wajah Kyuhyun yang sudah pucat pasi penuh peluh. Nafasnya menderu tak beraturan. Astaga, ia lupa jika Kyuhyun tak boleh lelah. Pabbo Donghae!
"Astaga Kyuhyunie. Mianhe kau pasti sangat kelelahan..." Donghae segera berjongkok didepan Kyuhyun "Naiklah Kyunie"
"Hh...hyungie...hhh..."
"Sudahlah ayo naik. Hyung tak mau sesakmu bertambah parah karena kelelahan. Kajja!"
Kyuhyunpun menaikan tubuh kecilnya ke punggung hyungnya "Kyuhh.. lelah.." keluhnya pelan.
"Tidurlah Kyunie, tidurlah" pinta Donghae.
Kyuhyun kemudian merebahkan kepalanya, dadanya masih terasa sesak, mungkin tidur akan memperbaiki keadaannya.
.
.
.
15 Juli 2004
"Aish...aku harus mencari pekerjaan apa?" Donghae mengacak rambutnya frustrasi. Sejak tengah malam hingga menjelang pagi ia berkeliling sekitar komplek flat kecil yang baru saja ia sewa untuk mencari pekerjaan di kedai-kedai kecil yang buka hingga pagi. Ia harus punya pekerjaan, uang tabungannya habis untuk melunasi biaya sewa selama satu bulan kedepan.
Mulanya tentu saja sang pemilik tidak mengijinkannya yang saat itu tengah menggendong Kyuhyun untuk menyewa sebuah flat miliknya. Pemilik flat itu tentu heran melihat 2 bocah yang hendak menyewa flat tanpa didampingi orang tua. Namun setelah menceritakan keadaan bahwa mereka sudah tak memiliki orang tua dan tempat tinggal, akhirnya mereka diijinkan menempati flat kecil itu.
"Aku harus mendapat pekerjaan, jika tidak...Kyuhyunie akan makan apa..." katanya lirih, ia sudah menawarkan diri dimana-mana namun ia ditolak dengan satu alasan yakni ia masih terlalu kecil, tak ada yang mau mempekerjakan anak kecil sepertinya. Dongsaeng kecilnya itu tak boleh telat makan, karena telat sedikit saja lambung bocah itu bisa mengalami pendarahan. Sedang ia sekarang sama sekali tak memiliki uang sepeserpun.
Donghae terus nelanjutkan langkahnya dengan wajah lesu "Aku harus kemana lagi.. "
"Astaga, semoga ahjusi itu mau menerimaku" harapnya setelah melihat ada sebuah kedai kecil penjual jjangmyeon dipinggir jalan.
Dengan langkah sedikit ragu Donghae melangkahkan kakinya menuju kedai itu. Ia ragu jika ahjusi itu mau menerimanya.
"Pe-permisi..." sapa Donghae pada ahjusi si pemilik kedai.
"Ada apa!" Sahutnya sedikit ketus, ahjusi itu tampak sibuk membereskan daganganya.
"Eum..ahjusi butuh bantuan? Jika butuh bolehkah aku bekerja disini"
Ahjusi itu mendongakkan kepalanya menatap bocah yang baru saja meminta pekerjaan padanya "Mwo? Tidak, aku tidak mau, kau tahu kedaiku ini kecil, tak banyak keuntungan yang bisa aku dapat. Dan lagi aku tak mau dituntut karena mempekerjakan anak dibawah umur!"
Jawaban yang sama diterima Donghae, tempat-tempat yang ia datangi juga mengatakan hal demikian. Namun untuk kali ini Donghae tidak akan menyerah.
"Kumohon ahjusi..." Donghae meraih tangan ahjusi itu "Aku benar-benar sangat membutuhkan pekerjaan.."
"Hey asal kau tahu ya! Semua orang juga membutuhkan pekerjaan. Pergi sana! Menganggu saja!" Ahjusi itu menyentak tangan Donghae hingga terlepas.
Donghae berlutut "Ahjusi...kumohon...kumohon dengan sangat. Aku sudah tak punya uang sama sekali, dongsaengku butuh makan...aku sangat membutuhkan pekerjaan ahjusi"
"Heh! Peduli apa aku, mau kau dan dongsaengmu matipun apa urusanku, sudah pergi sana!" Ahjusi itu mendorong tubuh Donghae hingga ia jatuh tersungkur.
"Kumohon ahjusi...hiks..." akhirnya Donghae tak dapat menahan tangisnya. Seumur hidupnya ia tidak pernah diperlakukan rendah apalagi sampai memohon-mohon seperti ini.
"PERGI!" Bentak ahjusi itu keras sambil menendang Donghae yang masih jatuh tersungkur.
"Hiks...hiks..." Donghae mencoba bangkit.
"Ahjusi...hiks...kumohon, tak apa...hiks...jika kau tak mau menerimaku bekerja. Tapi...bisakah kau memberiku sedikit makanan... nae saengie harus makan...hiks..." Donghae merasa dirinya benar-benar bodoh, meminta belas kasihan dari orang yang jelas tak punya belas kasihan. Tapi mau bagaimana lagi, jika tak begini, Kyuhyun tak akan bisa makan.
"Tidak! Pengemis sepertimu tidak patut dikasihani! PERGI KAU!"
Donghae menunduk, ia sedikit berjengkit kaget mendengar bentakan yang lebih keras dari sebelumnya. Matanya yang sembab menatap sepotong roti yang terjatuh disamping meja tempat menaruh dagangan lainya. Selain menjual jjangmyeon, kedai ini juga menjual camilan.
Bisikan setan mempengaruhi otaknya. Haruskah ia mencuri, haruskah ia memberi makan dongsaengnya dengan barang hasil curian. Tapi roti itu sudah terjatuh dan berada diatas tanah, bukankah itu artinya roti itu sudah dibuang.
Dengan perlahan Donghae hendak mengambil sepotong roti itu, namun...
"Yak! Kau mau mencuri eoh!" ahjusi tak berperasaan tadi mencekal tangan Donghae yang hendak menggapai sepotong roti yang terjatuh itu.
"Hiks...ahjusi, rotinya sudah jatuh, biarkan aku mengambilnya...hiks..."
"Itu tidak jatuh, ah kau pasti sengaja menjatuhkannya eoh!" Donghae menggelengkan kepalanya mendengar tuduhan itu. Jelas-jelas roti itu telah berada dibawah sejak tadi "Kau sengaja menjatuhkannya supaya kau bisa mengambilnya! PENCURI!" ahjusi itu berteriak keras, menjadikan beberapa orang namja dari kedai disekitar mereka yang kelihatannya sedikit mabuk mengampiri mereka.
"Ani ahjusi...hiks..." Donghae mencoba melepaskan cengkeraman kuat ahjusi itu dari tangannya, tapi apa daya, tenaganya sama sekali tak sebanding dengan ahjusi itu.
"Eoh, kau! Kecil-kecil sudah jadi pencuri eoh!" ujar seorang namja bertubuh gemuk yang datang bersama beberapa namja tadi.
"Ani...hiks...aku bukan pencuri..."
"Mana ada maling yang mengaku sudah...hajar saja dia!" ahjusi itu malah memprovokasi namja-namja yang nampak setengah mabuk.
"Baik, ayo kita hajar!" seorang namja lain yang tampak melakukan peregangan, bersiap untuk menghajar.
"Ayo!"
'Bough'
'Bough'
"Hiks...ampun...ampun..." Donghae menelungkup, mencoba melindungi diri.
'Plak'
"Jangan meminta ampun, kau pencuri, kau tak pantas diampuni!"
'Bough'
"Akhh..." pukulan terakhir mengenai perut Donghae, sukses membuatnya merasa mual dan hampir mengeluakan isi perutnya, ah ani, asam lambungnya, ia belum makan apapun sejak kemarin.
"Ugh...am-pun..." Donghae terbaring ditanah dengan kedua tangan memeluk perutnya yang terasa sakit juga mual. Bahkan saat keadaannya demikianpun, gerombolan namja itu tetap menendanginya.
"Rasakan kau pencuri! Kau mau roti ini?" ahjusi itu mengambil roti yang terjatuh tadi, kemudian menginjak-nginjaknya dan melemparkannya pada Donghae "Makan itu!" ahjusi yang menjadi biang masalah itu pergi setelah selesai menutup kedainya.
"Rasakan kau! Makanya, kecil-kecil jangan jadi maling!" 'Cuih' namja itu meludahi Donghae kemudian pergi bersama gerombolannya.
Donghae memejamkan matanya, air ludah itu tepat mengenai wajahnya. Oh tuhan, ia merasa hari ini harga dirinya benar-benar diinjak-injak.
Dengan tertatih Donghae bangkit, seluruh tubuhnya terasa sakit karena pukulan tadi. Tak adakah yang ingin menolongnya...
Tuhan...kirimkanlah malaikat penolongmu...
"Nak...kau tidak apa-apa?" seseorang menepuk bahu Donghae.
Donghae menatap seseorang itu dengan mata sembabnya "Ah, ne ahjusi, saya baik" sahutnya pada ahjusi berwajah ramah dihadapannya.
Ahjusi itu mengelus pelan pipi Donghae yang sedikit memar "Kau terluka, kajja ke kedai ahjusi, ahjusi akan mengobatimu, ah dan panggil saja aku Shin ahjusi. Kajja!"
Donghae tersenyum, masih ada orang baik ternyata, terimakasih tuhan..
"Terimakasih banyak ahjusi"
.
"Sebenarnya apa yang membuatmu dipukuli oleh mereka, kenapa kau berurusan dengan orang itu, kau tahu pemilik kedai itu sangat suka menindas anak-anak" tanya Shin ahjusi pada Donghae setelah selesai menobati Donghae di kedainya. Shin ahjusi pemilik kedai ini, ia menjual sushi disini.
"Aku mencari pekerjaan ahjusi, sudah kemana-mana tapi tak ada yang mau menerimaku"
"Dimana orang tuamu? Kenapa kau sampai seperti ini?"
"Mereka sudah meninggal ahjusi..." entah sejak kapan Donghae mulai tak menyukai pertanyaan tentang orang tuanya.
"Ya tuhan, kasihan sekali. Ah bagaimana jika kau bekerja dikedaiku, kebetulan aku mengurus kedaiku sendirian. Haha istri dan anak-anaku lebih memilih membuja restoran baru dari pada meneruska kedai peninggalan ayahku. Bagaimana, apa kau mau? tapi aku hanya bisa membayarmu sedikit"
"Jongmal ahjusi? Gwenchana, yang penting aku sudah punya pekerjaan. Terima kasih banyak ahjusi"
"Ne, sama-sama. Baiklah besok kemarilah tengah malam, kedaiku mulai buka tengah malam. Sekarang pulanglah, kau sedang tidak baik"
Donghae membungkuk berkali-kali "Ah...terimakasih, terimakasih ahjusi" selepas itu Donghae masih belum beranjak dari sana "Eh itu..." Donghae menunjuk sisa jualan yang masih ada diatas meja.
"Ada apa?"
"Eum...ahjusi bolehkah aku meminta sisa sushi jualanmu. Dongsaengku harus makan, sedang aku mulai besok bekerja ditempatmu...bolehkah ahjusi..."
"Ah...itu, tentu saja, sayang jika dibuang, aku biasanya membuangnya" Shin ahjusi memasukkan beberapa sisa sushi jualannya kesebuah kantong plastik lalu menyerahkannya pada Donghae.
"Terimakasih...terimaksih banyak ahjusi" Donghae membungkukkan tubuhnya berulang kali.
"Ne, ne sudah pulanglah!"
"Ne ahjusi, sekali lagi terimakasih banyak"
.
.
.
"Ugh...hyungie..." Kyuhyun membuka matanya perlahan, sedikit mengerjap-ngerjap untuk menyesuaikan dengan cahaya temaram lampu kecil diatasnya.
"Eoh...dimana ini? Hyungie!" Kyuhyun mengedarkan pandangnya. Didapatinya dirinya tengah terbaring di satu-satunya kasur yang ada diruangan, kasur ini begitu keras dan tak nyaman jika dibandingkan kasur lamanya. Ruangan berukuran sekitar 4 kali 4 meter ini terlihat tidak begitu bersih. Debu dan sarang laba-laba dimana-mana. Juga begitu sempit, Kyuhyun melihat dapur, ruang TV, kamar mandi berada dalam satu ruangan kecil ini.
"Hyungie!" Teriak Kyuhyun lagi, ia sangat ketakutan berada di tempat yang sama sekali tak diketahuinya. Ia hampir saja menangis jika...
"Kyuhyunie...kau sudah bangun"
"Hyungie..." Kyuhyun merentangkan tangannya, meminta dipeluk.
Donghae berjalan kearah Kyuhyun kemudian memeluk saengnya itu.
"Hyungie kemana? Ini dimana?" Kyuhyun melepas pelukannya, kemudian menatap wajah sang hyung "Hyungie..." tangan mungil Kyuhyun meraba pipi Donghae yang dihiasi lebam, ah bekasnya tentu saja belum hilang "Hyungie kenapa...? Kenapa terluka...?"
"Kyuhyunie...Hyung tidak apa-apa, hyung hanya terjatuh tadi" Donghae menurunkan tangan Kyuhyun yang masih berada dipipinya.
"Hyungie tidak bohong..?"
Donghae tersenyum "Ani hyungie tidak bohong. Dan, ah ini rumah baru kita Kyuhyunie"
Mata Kyuhyun membulat lucu "Mwo? Jelek sekali hyungie, Kyunie tidak mau!"
"Kyuhyunie...uang hyung tidak cukup untuk menyewa rumah yang lebih bagus, jadi untuk sementara kita tinggal disini ne?" Donghae mencoba memberi pengertian.
"Tapi..."
"Kita tidak punya pilihan lain Kyunie, gwenchana ne?"
Dengan berat hati Kyuhyun mengangguk.
"Jja, Kyunie pergilah mencuci muka lalu kita makan, kau sudah lapar bukan?" Donghae membuka kantong plastik berisi sushi pemberian ahjusi tadi.
"Whoaa hyungie, ini apa?" Mata Kyuhyun berbinar saat melihat makanan yang tak pernah dilihatnya. Selama ini ummanya selalu mengatur makanannya dengan sayuran itu-itu saja yang membuat Kyuhyun bosan.
"Ini namanya sushi Kyunie, jja pergi ke kamar mandi, setelah ini kita makan"
"Ne!" Kyuhyun langsung beranjak menuju kamar mandi.
Donghae merebahkan tubuh lelahnya pada kasur keras itu. Ia lelah sekali, semalaman ia tak tidur karena mencari tempat sewa flat juga pekerjaan. Donghae sengaja mencari pekerjaan dengan waktu kerja dari petang hingga pagi hari karena Kyuhyun tak akan bisa ditinggal, dongsaengnya ini begitu
lengket kepadanya. Jadi ia memilih bekerja pada saat Kyuhyun masih tertidur. Dan ah, ngomong-ngomong, bagaimana sekolahnya, seharusnya ia meneruskan sekolahnya, bagaimana ia akan melanjutkan ke tingkat junior high school dengan keadaan macam ini. Isshh Donghae, jangan pikirkan itu, itu tidak penting, yang terpenting sekarang bagaimana caranya kau dan dongsaengmu bisa bertahan hidup.
.
.
.
"Tuan, kediaman tuan Cho lima hari yang lalu telah disita oleh pihak bank, tuan Cho menggadaikan seluruh asetnya termasuk rumahnya untuk mengatasi krisis finansial universitas yang dipimpinnya" lapor seotang namja muda kepada seorang namja paruh baya yang merupakan atasannya itu.
Namja paruh baya itu tampak duduk dengan angkuhnya dikursi kebesarannya. Raut wajahnya tegas dan dingin, membuat siapa saja tak berani menatapnya lama-lama
"APA?" namja paruh baya itu menggebrak mejanya keras "Lalu dimana putraku, dimana dia sekarang? Dasar tidak becus, kenapa kalian baru mengetahuinya sekarang huh?" Bentak namja paruh baya itu pada bawahannya itu.
"Maaf, maafkan kami tuan"
"Cari putraku hingga ia ditemukan, jika tidak, kau dan bawahanmu akan kupecat semuanya. Mengerti!"
"Baik tuan" sang namja muda itu kemudian melangkah keluar ruangan.
Namja paruh baya itu mencoba mengatur nafasnya yang memburu karena emosi, sebagai seorang ayah, tentu saja ia sangat cemas, mengingat bagaimana kelanjutan hidup putra bungsunya yang sekarang ia tak tahu dimana.
'Ddrrrtt' tak lama kemudian ponsel namja paruh baya itu bergetar. Ia meihat nama yang tertera pada ponsel itu, ah putra sulungnya ternyata. Dengan segera ia menggeser tombol hijau pada ponsel touchsreenya.
"Yeobboseoyo appa" suara dari seberang sana.
"Hmm...ada apa?" Jawab namja paruh baya itu tenang.
"Appa aku sudah berada di bandara..."
"Arra, akan appa suruh bawahan appa untuk menjemputmu"
"Eum...appa..." pihak diseberang terdiam agak lama "saranghae..." 'Tut' telefon itu diputus sepihak oleh orang diseberang.
"Anak itu." Gumamnya dengan nada tak suka.
.
.
.
Seorang namja muda berumur 18 tahun dengan wajah tampan nampak berdiri disalah satu sudut bandara dengan sebuah koper tergeletak disampingnya. Namja itu baru saja melakukan perjalanan selama 11 jam dari negeri paman sam, tempatnya menuntut ilmu selama 3 tahun. Dan sekarang ia pulang untuk bekerja di Korea. Namja tampan itu cerdas, ia bahkan sudah menamatkan kuliahnya diusia 18 tahun.
Matanya senantiasa memandang ponselnya yang baru saja memutus sebuah panggilan. Panggilan dari orang yang paling ia hormati sekaligus ia segani, appanya.
Namja muda nan tampan itu menghela nafas berat "Sarangheyo appa..." gumamnya pelan.
Hubungannya dengan sang appa memang tak terlalu baik saat ini. Hal ini bermula saat keputusan yang ia ambil secara sepihak tak disetujui sang appa. Dan ia dengan nekat melawan kehendak sang appa demi meraih cita-citanya. Menjadi dokter, itulah cita-citanya, namun sang appa tak mendukungnya karena ia ingin putranya ini menjadi penerus bisnis keluarga. Hal yang wajar memang, tapi setiap orang berhak menentukan jalan hidupnya masing-masing bukan?
Senang juga sedih menelusup dihatinya. Senang karena setidaknya ia bisa mendengar suara sang appa meski hanya melalui telepon. Dan sedih karena tak tahu, sampai kapan appanya memperlakukannya dingin seperti ini.
Tak lama kemudian sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti dihadapannya. Keluarlah seseorang berpakaian jas rapi membukakan pintu untuknya.
"Silakan, tuan Jungsoo" namja berpakaian rapi itu segera mengambil alih koper yang ada disebelah namja muda itu.
Namja muda itu, Park Jungsoo tanpa banyak bicara langsung memasuki mobil mewahnya.
"Kita ke kantor appa!" Perintahnya.
"Tapi tuan..."
"Antar saja aku kesana!"
.
.
.
16 Juli 2004
Hari baru saja berganti. Namun Donghae sudah terjaga dari tidurnya. Ia masih berada diatas kasur dengan Kyuhyun tertidur lelap disampingnya.
Detik berikutnya Donghae menatap Kyuhyun, membelai rambutnya sayang kemudian mengecup kening dongsaengnya "Hyung pergi dulu saeng..." katanya pelan, tentu saja ia tak mau membangunkan sang dongsaeng.
.
.
.
Donghae berjalan cepat menuju kedai tempatnya bekerja. Ia tak mau telat dihari pertamanya. Ia tak ingin mengecewakan ahjusi yang sudah berbaik hati mau mempekerjakannya.
"Anyeong ahjusi!" Donghae menyapa ahjusi pemilik kedai yang nampak sibuk mempersiapkan dagangannya.
"Ah kau ternyata" ahjusi itu melirik Donghae dan jam tangannya "Bagus kau datang tepat waktu. Ambil apron itu lalu pakailah!" Dia menunjuk sebuah apron yang tersampir di salah satu kursi disana.
"Ne ahjusi" Donghae hendak beranjak mengambil apron itu sebelum ahjusi itu berujar.
"Tunggu dulu, Siapa namamu? Aku belum tahu namamu"
Ah, itu, ia lupa kalau belum memperkenalkan diri sedari kemarin "Donghae imnida ahjusi..."
"Ah, ne Donghae, kau bertugas menjadi pelayan disini, arra?!"
Donghae mengangguk.
.
.
.
Namja tampan dengan setelan jas rapi berjalan gontai tak tentu arah. Ia bahkan meninggalkan mobil mewahnya di pinggir jalan. Ia hanya ingin berjalan, menenangkan pikirannya yang sedang kalut. Ia, Jungsoo masih sedikit linglung akan hal yang baru saja disampaikan appanya. Umma kandungnya, Kim Hanna, atau Park Hanna waktu masih berstatus sebagai istri appanya, telah meninggal, karena kecelakaan pesawat bersama suami barunya.
Oh ya tuhan...Kutuklah dia sebagai anak durhaka karena tidak tahu ummanya sendiri meninggal.
Tak lama ia sampai disebuah taman, taman yang tak ia kenali. Jungsoo berjongkok disalah satu sudut taman. Ia tarik lututnya menghimpit dadanya sendiri kemudian menenggelamkan kepalanya pada lututnya.
Bahunya mulai berguncang, ia menangis dalam diam. Sejak dikantor appanya ia sudah menahan tangisnya. Dan sekarang ia hanya ingin meluapkan segalanya. Tak usah pikirkan pandangan orang lain tentangnya. Ini sudah sangat larut, hingga tak ada seorangpun ditaman ini.
Sejauh apapun ia dengan sang umma, tetap saja hubungan antara ibu dan anak begitu kuat, bagaimanapun masih ada rasa rindu, sayang dan berharap dapat kembali bertemu dengan ummanya.
Selain itu appanya juga berkata akan mencari dongsaengnya. Kenapa? Bukankah dia masih ada dirumahnya?
Tunggu dulu... "Jika umma dan suami barunya meninggal, siapa yang merawat dongsaengku? Siapa yang merawat Donghae?" Tanya Jungsoo pada dirinya sendiri.
Ia teringat dongsaengnya yang telah lama tak ia temui. 7 tahun lalu, appa dan ummanya bercerai. Berdasarkan keputusan pengadilan, ia ikut appanya sedang sang dongsaeng, Donghae ikut ummanya. Ia yang saat itu masih berusia 11 tahun tak kuasa menolak keputusan itu hingga ia harus berpisah dengan dongsaeng yang sangat ia sayangi.
Dan...astaga! appanya juga berkata jika kediaman tuan Cho, yang merupakan suami baru ummanya disita oleh pihak bank "Astaga Hae-ya...dimana kau sekarang...?" Matanya mulai berembun.
Tak bisa ia bayangkan dimana dongsaengnya kini berada, tinggal dimana dia, bagaimana ia makan. Eoh, apa mungkin dia berada di rumah saudara ummanya atau tuan Cho?
Seingatnya ummanya tidak mempunyai saudara, jadi satu-satunya kemungkinan Donghae berada di rumah saudara tuan Cho.
"Haruskah aku mencari tahu, ya, aku harus ikut mencari keberadaan Donghae!"
.
.
.
13 Januari 2015
Namja cantik itu, Heechul dengan telaten membersihkan tubuh ringkih seseorang yang terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakitnya.
Matanya tertutup rapat, terlihat beberapa bagian tubuhnya membiru.
"Kau! Kenapa kau tidak bangun juga! Kau mau Jungsoo salah paham padamu terus-menerus, bangunlah... Aku tahu kau tak bersalah, Donghae hanya terlalu menyayangimu hingga melakukan apapun untukmu...kyu"
.
.
TBC...
Note: Mianhe kalo lamaaaa... Terimaksih banyak yang sudah bersedia memberikan riview, follow, favorite. Mianhe gk bisa bales review satu-satu, saya gk tau harus jawab apa, nah loh. Oh ya, makasih banyak buat Awaelfkyu13 yang udah bilang summarynya gk terlalu menarik. Jadi saya ganti deh hehe malu, sebenarnya saya udah nyadar kalo ntu sumarry kagak menarik, otak males diajak mikir sih jadi saya biarin itu aja. Banyak yang nanya penyakit Kyu apa, penyakitnya udah pasaran kok chingu, saya gk mau nyari info tentang penyakit yang aneh-aneh hehe.
Jujur aja saya kecewa sekali chingu, bayangkan yang view ff ini ada 500 orang lebih dan yang review baru beberapa. Sungguh kalau yang view cuma sekitar 100 orang, review yang sudah masuk itu lebih dari cukup. Saya minta buat semua reader plis hargai saya sebagai penulis disini, review satu kata pun nggak apa kok chingu. Next chap udah siap nih! Bakal update cepat jika siders udah bersedia memberikan review ok kalau enggak, saya bakal update 6 bulan sekali(Hahaha ngancem, bercanda chingu). Tapi serius kalo next chap udah ready, tinggal lihat respon para reader. Ok, See you bye bye!
