Tittle: The Pass chapter 4

Cast: Cho Kyuhyun, Lee Donghae as Cho Donghae, Park Jungsoo and other

Genre: brotheship, family, sad (maybe)

.

.

Warning: OOC, typos, author masih baru, cerita pasaran, alur membingungkan, membosankan dan kekurangan lainnya.

.

.

This story is mine

All cast milik tuhan dan diri mereka sendiri

.

.

Note: Ehehe nyempil, saya taruh diatas, takut kagak kebaca. Makasih banyak buat yang udah review, follow, favorit atau yang sekedar baca. Ada chingu yang bilang disini Kyu sakit mulu ya. Serius saya gak nyadar kalo seperti itu. Di chap inipun Kyu bakal sakit lagi huwweee (ditimpuk reader). Kalo nggak gitu alurnya bakal lambat banget, nggak sesuai ama apa yang sudah saya tentukan sebelumnya. Soalnya sakitnya Kyuhyun bakal menentukan kejadian yang terjadi selanjutnya(Author: Ngerti nggak? Reader: Nggak). Lagipula saya juga udah bosan ma Kyuhae kecil. Nih tangan udah gereget pingin nulis Kyuhae pas udah gede. Dengan begitu harap dimaklumi (apaan deh).

Nah, di chap ini akan terjawab Kyuhyun sakit apa. Itu lho penyakit yang biasa ada disinetron-sinetron indonesia yang bikin penontonya nangis bombay. Kalo ada salah-salah tentang penanganan medisnya harap dimaklumi ya. Saya bukan dokter, saya hanya anak SMA yang bercita-cita jadi bidan, nah loh.

Jangan bosan review ne? Kalo gak ingat 6 bulan! Becanda-becanda hehe.

.

.

Happy reading^_^

.

.

Kehidupan dua bersaudara itu masih seperti biasa. Donghae dengan kegiatan barunya, bekerja. Sedang Kyuhyun harus tetap dirumah untuk beristirahat. Meski Donghae sedikit khawatir dengan kondisi Kyuhyun yang naik turun. Namun sepertinya tuhan masih memberi kesehatan pada Kyuhyun. Hingga…

23 Juli 2004

Detik waktu masih menunjukan pukul 3 pagi. Dinginpun masih setia menyelimuti udara sekitar. Desiran angin malam membawa dingin, membuat sosok yang terbaring dan hanya terlindung selimut tipis itu menggigil kedinginan. Diantara kesendirianya, ditemani cahaya lampu temaram. Tak ada siapapun disana.

Sosok itu, Kyuhyun terlihat tak tenang dalam tidurnya. Bocah itu sesekali merintih dan melenguh sakit, suara-suara sarat akan nada sakit itu keluar dari celah bibir yang memucat itu. Matanya masih terpejam erat, ia merintih diantara tidurnya dengan suhu tubuh tak normal.

"Eunghh... " Mata itu akhirnya terbuka, rasa sakit yang bertubi-tubi itu membuatnya terjaga dari tidur lelapnya. Matanya mengerjap-ngerjap sekilas menyesuaikan dengan cahaya yang ada.

Dan rasa sakit yang teramat sangat segera menghujam perutnya saat kesadaran penuh ia dapatkan "Hah... hhh.. eungh.. Hyung..." tarikan nafas beratnya terdengar, ia merintih sembari mencari keberadaan hyungnya. Ia meraba-raba kasur disampingnya, kosong, tak ada siapapun disana.

Lagi, ia memanggil sang hyung "Hy...hyung...ugh...hh.." hening, tak ada yang berniat menjawab panggilan itu.

Kyuhyun mulai terisak, sangat menakutkan baginya merasakan sakit ini sendirian, ia menginginkan hyungnya "HYUNG!...hiks..." Jeritnya sekuat tenaga, berharap sang hyung segera datang dan memeluknya, memberikan kata-kata penenang seperti biasa.

Namun sayang, untuk kesekian kalinya, hanya hening yang menyapanya "Hiks...sakit...sakit...hiks.. hyungie!" masih belum menyerah, Kyuhyun masih mencoba memanggil hyungnya dengan suaranya yang mulai melirih. Matanya mulai tak fokus, sedikit mengabur karena lemas, mungkin.

Tubuh itu berguling kesamping, menekuk tubuhnya, meringkuk diatas ranjang dengan satu tangan memegang perutnya sendiri, ingin ia menekanya berharap setidaknya rasa sakit itu berkurang, namun yang terjadi malah sakit itu semakin menjadi saat ia menekan perutnya.

Perutnya terasa kaku, sesuatu didalam sana membuat perutnya sedikit membuncit. Dadanya terasa sakit dan sesak karena tekanan dari perutnya.

"Umhh...hah...sakit..." tanganya yang satu lagi mencengkram seprai dengan kuat sebagai pelampiasan rasa sakitnya.

"Hyung...hyungie...hyungie..." Kyuhyun bergumam, meski tanpa suara Kyuhyun masih memanggil manggil hyungnya. Oh tuhan, sebenarnya dimana hyungnya itu.

Wajah itu sungguh pucat dihiasi peluh dimana-mana. Rautnya terlihat menahan sakit yang teramat sangat.

"Hae...hyung...hhh..." oh tuhan, ia tampak begitu kesakitan. Matanya terpejam erat kala rasa mual dan sakit bercampur menjadi satu saat sesuatu mencoba keluar dari perutnya.

"Huwek...uhuk...uhuk..." darah kehitaman itu sukses keluar dari mulut dan hidung Kyuhyun. Darah itu begitu banyak, terus menerus keluar seakan ingin menghabiskan persediaan darah dalam tubuh Kyuhyun. Tetesan darah itupun mulai mengotori seprai.

Tubuh lemah itu gemetar, ia ketakutan, sebenarnya apa yang terjadi dengan dirinya, apa yang salah dengan tubuhnya.

Tak pernah ia sampai muntah darah seperti ini. Biasanya hanya mimisanlah yang sering ia alami.

"Hiks...umhh...sak-it...uhuk.." tangan lemahnya semakin memeluk perutnya yang masih terasa mual juga sakit.

Kesadaran Kyuhyun sudah diambang batas. Masih dapat ia rasakan darah yang mengalir melalui kerongkongannya terus menerus naik, keluar melalui mulut dan hidungnya. Ia kesulitan bernafas, darah itu seolah menyumbat seluruh jalan nafasnya.

Apa aku akan pergi ke tempat Changminie, umma dan appa? Hyungie...

Perlahan namun pasti, mata itu tertutup, menyisakan gelap yang menemani di tengah kesendirianya.

.

.

.

'Deg' Donghae menghentikan langkahnya sejenak. Pandangan matanya kosong. Ia tak mengerti, tiba-tiba saja jantungnya berdetak kencang seakan ada sesuatu yang tak beres. Entahlah, yang pasti perasaanya tak enak.

"Hae-ya, kenapa kau berdiri disitu, cepat bekerja, ada banyak pelanggan yang menunggu!" Teriakan Shin ahjusi menyadarkan Donghae dari lamunanya. Tentu Shin ahjusi heran, pelanggan sedang ramai-ramainya, namun Donghae malah terbengong begitu.

"Ah, ne ahjusi. Mianhe" Donghae sedikit menggelengkan kepalanya. Mencoba mengusir pikiran buruk yang menghampiri. Tenanglah Donghae, semuanya akan baik-baik saja.

.

.

.

Pukul 5 lebih 30 menit pagi, jam kerjanya telah berakhir. Segera setelah menerima gaji hari pertamanya, Donghae bergegas pulang ke flat kecilnya.

Donghae sedikit mempercepat langkah kakinya, perasaan tak enak yang sedari tadi menggelayuti pikiranya terasa semakin menjadi-jadi hingga membuatnya cemas. Ia cemas, tapi tak tahu apa yang ia cemaskan.

Beberapa menit kemudian ia sampai didepan flatnya. Diambilnya kunci flat dari saku celananya. Ia kemudian membuka pintu dan menutupnya kembali.

Pandangnya tertuju pada satu-satunya ranjang yang terdapat disini. Ruangan ini begitu sempit hingga ia bisa melihat dongsaengnya yang masih tertidur dengan posisi menyamping, memunggunginya hingga ia tak dapat melihat wajahnya, disana, diatas seprei dengan noda berwarna merah. Tunggu...bukankah seprei mereka berwarna putih. Dan apa itu, warna merah itu seakan merembes hingga menetes kelantai. Apa itu...darah, pikirnya.

"Kyu...saengie..!" Panggilnya pelan. Memastikan dongsaengnya baik-baik saja dan berharap pikirannya salah.

"Kyu..." panggilnya lagi saat tak mendapat jawaban dari sang dongsaeng.

Kakinya mulai melemas, ada sesuatu yang tak beres, dengan rasa takut yang menjadi ia melangkah pelan menuju ranjang yang ditempati Kyuhyun.

Semakin dekat, dapat ia cium dengan jelas bau anyir khas darah yang semakin meyakinkan bahwa noda merah itu benar adalah darah.

Tubuhnya gemetar takut.

"Kyu..." panggilnya sambil membalik posisi Kyuhyun, hingga posisi dongsaeng kecilnya itu terbaring terlentang.

Matanya membulat kaget. Bibirnya kelu, tak bisa berkata-kata melihat pemandangan di hadapanya. Apa, apa yang terjadi sebenarnya. Kenapa sebagian wajah juga baju Kyuhyun terdapat banyak sekali noda darah.

Kakinya tak mampu menahan berat tubuhnya, ia terduduk diranjang, tak dipedulikanya tubuhnya yang kotor oleh darah yang masih basah menggenang di atas ranjang.

Matanya berkaca-kaca dan isakan mulai terdengar "Kyunie...hiks...bangun saeng...hiks...bangun...jangan menakuti hyung...hiks..." Donghae mengguncang-guncang tubuh Kyuhyun yang sama sekali tak bergerak. Nafas Kyuhyun begitu lemah. Ia memposisikan diri dengan kepala Kyuhyun bertumpu pada pangkuannya.

Donghae ketakutan, apa yang harus ia lakukan. Ia harus bagaimana.

"Hiks..saeng..bangunlah..." Donghae terus mencoba menyadarkan Kyuhyun. Menepuk pipi dongsaengnya berkali-kali bahkan hingga tampak memerah.

"Kyunie...saengie...hiks...bangun..."

Donghae pabbo, apa yang kau pikirkan, harusnya kau segera membawa Kyuhyun ke rumah sakit terdekat.

Dengan masih terisak Donghae mengangkat tubuh Kyuhyun, kemudian menggendongnya dibelakang. Ia segera berlari menuju rumah sakit, rumah sakit yang sama dimana Kyuhyun pernah dirawat disana. Tak dipedulikannya ia yang tak memakai alas kaki juga pintu flat yang masih terbuka. Ia tak peduli itu, yang ia pedulikan hanya Kyuhyun yang sekarang terkulai lemas digendonganya.

Mengabaikan berbagai pandangan orang, Donghae terus berlari menuju rumah sakit yang jaraknya cukup jauh dari flatnya.

Dan ketika ia telah sampai disana...

"Tolong...tolong tuan, dongsaengku...hiks..sakit, tolong dia!" Pintanya pada seorang petugas administrasi di sana. Donghae bingung apa yang harus ia lakukan. Jadi ia berinisiatif bertanya kepada siapa saja yang berseragam putih, ia pikir mereka pasti seorang petugas medis bukan.

Petugas administrasi itu hanya menoleh dan berkata dan tersenyum remeh "Maaf adik, kau harus melunasi administrasi terlebih dahulu sebelum dongsaengmu mendapat perawatan. Apa kau punya uang eum?"

"Aku..." Donghae mengeluarkan uang hasil kerjanya selama satu hari di kedai Shin ahjusi dan memperlihatkanya pada petugas itu.

Petugas itu tersenyum sinis "Lihat, uang ini bahkan tidak cukup untuk membeli es krim"

"Hiks...tuan aku mohon...hiks...Tolong dongsaengku...kumohon.."

"Maaf adik, itu sudah peraturan rumah sakit, kau harus memebayar dulu sebelum kami memberikan perawatan"

"APA UANG BEGITU PENTING DARI NYAWA MANUSIA? Dia sakit...hiks...kumohon" Donghae begitu emosi hingga tanpa sadar membentak petugas itu. Bentakan yang membuat mereka menjadi pusat perhatian disini sejenak. Beberapa orang memandang kasihan, tak suka, juga biasa saja. Yang pasti tak ada satupun yang berniat membantu. Mereka masih pada kepentinganya masing-masing. Manusia memang egois.

"Yah begitulah adanya" petugas itu tampak melenggang pergi.

Ia pun mencari bantuan kebeberapa orang berseragam putih lainya, namun sayang, jawaban yang diterimanya tetaplah sama.

Donghae menangis keras, ia duduk dilantai rumah sakit sambil memeluk tubuh Kyuhyun.

Bodoh,ia hanya berpikir untuk menghidupi ia dan Kyuhyun sendiri. Sungguh tidak terpikir apa yang akan ia lakukan jika Kyuhyun kembali sakit seperti sekarang.

Apa lagi keadaan Kyuhyun yang memang belum sehat benar.

Donghae menyesal, harusnya ia menurut saja untuk ikut ke panti asuhan. Bukan malah melarikan diri seperti ini. Ia benar-benar berharap waktu bisa diulang. Meskipun ia tak suka panti asuhan, tapi paling tidak ada orang dewasa yang akan bisa ia mintai tolong jika Kyuhyun sakit seperti ini.

Tuhan, berilah pertolongan pada kami...

Dan tuhan maha mendengar setiap doa dari hamba-hambanya.

Donghae melihat seorang yeoja paruh baya berjalan pelan menghampirinya. Ternyata masih ada segelintir orang yang mau peduli diantara beribu orang yang tak mempedulikanya.

"Ah-ahjuma...hiks...tolong, tolong ahjuma, tolong saengku...hiks...kumohon..." Donghae memohon meminta pertolongan kepada sosok yang tak dikenalnya ini.

Yeoja itu ikut berlutut dihadapan Donghae, mencoba memeriksa keadaan Kyuhyun "Astaga nak...apa yang terjadi padanya? Kenapa kau sendirian? Dimana orang tua kalian?" Tanyanya dengan tutur kata lembut.

Donghae sedikit tersinggung dengan pertanyaan tentang orang tua itu, oh ayolah Donghae, ini bukan waktunya tersinggung "Orang tua..hikss..kami baru saja meninggal ahjuma, dongsaengku...hiks...sakit, aku...uangku...hiks...tidak cukup"

"Ya tuhan malang sekali kalian."

"Ahjuma tolong dia...kumohon..."

"Baik, kita bawa dia ke dalam ne. Kau tenang saja, ahjuma akan mengurus semuanya..."

"Terimakasih...hiks.. ahjuma, terimakasih..."

.

.

.

Seorang namja tampak melajukan mobilnya dengan ugal-ugalan di tengah lalu lintas kota Seoul yang padat. Namja itu bahkan tidak mempedulikan keselamatanya, terlihat ia sedang berganti pakaian dengan satu tangan memegang kendali stir.

"Aish, harusnya aku tidak terlambat dihari pertamaku bekerja di rumah sakit. Park Jungsoo, harusnya kau tidak begadang mencari info tentang tuan Cho itu" gerutu namja bernama Park Jungsoo itu. Semalaman Jungsoo memang mencari info tentang keluarga tuan Cho, cukup sulit memang. Meskipun tuan Cho seorang berpengaruh yang dikenal masyarakat namun untuk urusan pribadi tuan Cho memang sangat tertutup. Hal ini hampir membuat Jungsoo frustrasi hingga ia nekat membobol data kewarganegaraan Korea dengan otak cerdasnya. Dan dari sana ia ketahui bahwa tuan Cho juga merupakan anak tunggal dan tak punya kerabat dekat. Dan juga ia baru mengetahui bahwa ia punya seorang dongsaeng lagi, dongsaeng berbeda ayah, Cho Kyuhyun.

Jungsoo tersenyum bahagia mengingat ia akan punya 1 orang dongsaeng lagi. Meski Kyuhyun terlahir dari ayah yang berbeda, namun tetap saja ada darah sang ibu yang mengalir didalam tubuhnya menjadi penghubung antar mereka. Namun senyum itu luntur seketika saat mengingat ia tak tahu sama sekali dimana kedua dongsaengnya berada.

"Hahh.." Jungsoo menghela nafas "Oh baiklah, setelah bertugas aku akan mencari keberadaan mereka" Jungsoo yakin, dengan otak cerdasnya ia pasti dapat menemukan kedua dongsaengnya.

.

30 menit kemudian.

"Astaga!" Jungsoo berlari terbirit-birit menuju aula rumah sakit, Seoul Hospital.

Ia melihat pintu aula hampir ditutup, pertanda acara akan dimulai. Ia langsung mempercepat langkahnya dan masuk ke aula.

"Mian...hh...aku terlambat" ujarnya sambil membungkukan badan.

Terlihat beberapa dokter senior serta petinggi rumah sakit disana, juga semua peserta pengangkatan dokter baru sudah hadir kesemuanya, melihat hanya ada satu bangku kosong dan Jungsoo yakin itu adalah bangkunya.

Seorang dokter senior mengangguk mengerti "Silakan duduk!"

"Kamsahamnida" Jungsoo menuju tempat duduknya kemudian mendudukan diri disana. Sedikit mengatur nafasnya yang tersengal.

Dan acarapun dimulai. Jungsoo memperhatikannya dengan hikmat sebelum seseorang disampingnya mengalihkan perhatianya.

"Membosankan ya!" Ujarnya berbisik.

"Ah, ne. Aku juga merasa bosan sebenarnya" jawabnya sambil berbisik pula. Jungsoo memperhatikan orang yang duduk disampingnya. Seorang namja dengan pakaian casual yang tampak keren meski sedikit tertutupi oleh jas kedokteran yang dikenakanya, rambutnya sedikit panjang. Namja itu berwajah sangat cantik untuk ukuran namja dengan kulit putihnya 'Jika kau bukan namja, aku pacari kau' pikir Jungsoo konyol.

Namja itu tersenyum khas, dan mengulurkan tanganya "Kim Heechul imnida" orang ini mengajak berkenalan rupanya.

"Park Jungsoo imnida, senang bisa berkenalan denganmu"

"Semoga kita bisa menjadi teman baik"

.

.

.

"Apa! Tak kusangka kau putra Park Myungsoo, si konglomerat itu. Kenapa kau memilih menjadi dokter, kalau kau bisa mewarisi kerajaan bisnis appamu?" Heechul bertanya dengan antusias kepada Jungsoo. Mereka tengah berjalan bersama di koridor rumah sakit hendak menuju ruang praktek mereka yang yang kebetulan tak berjauhan. Saat acara pengangkatan tadi, mereka semua telah diberitahukan dimana ruang praktek serta jadwal mereka. Heechul adalah dokter spesialis organ dalam sedang Jungsoo adalah ahli bedah. Mereka bisa menjadi partner yang tepat dalam bekerja.

"Aku sama sekali tak tertarik dengan bisnis, aku lebih suka mengobati orang dari pada berkencan dengan kertas" Jungsoo mulai nyaman dengan teman barunya. Heechul tipe orang yang sedikit galak dan mudah tersinggung, namun sebenarnya ia baik.

"Ahaha kau benar! Hei kudengar kau masih berumur 18 tahun, benarkah?"

"Hm...begitulah"

"Kalau begitu kita seumuran. Haha kukira hanya aku yang pintar disini hingga menjadi dokter muda!" Oh ya, jangan lupakan sifat narsis Heechul yang sudah akut.

"Kau ini..." Jungsoo menepuk punggung Heechul sedikit keras.

"Yak! Itu sakit!"

"Permisi..." pembicaraan mereka terputus karena seorang suster berteriak menyuruh mereka minggir sambil mendorong cepat ranjang rumah sakit dengan seseorang namja kecil terbaring diatasnya, bersama beberapa dokter juga suster lain yang mengikut dibelakangnya.

"Aish mengagetkan saja!" Heechul mengelus pelan dadanya sendiri. Heechul menoleh kearah Jungsoo "Benarkan?"

"Hei, Kau tidak apa-apa, Jungsoo?" tanya Heechul melihat Jungsoo terpaku begitu saja.

Jungsoo tak menjawab, tentu saja. Pandangnya masih terfokus kepada objek yang baru saja lewat tadi. Bukan, bukan seseorang yang sedang terbaring diatas ranjang itu, melainkan seseorang namja kecil lainnya yang tampak begitu khawatir dengan tangan terus bertautan dengan tangan sosok yang terbaring tadi. Entah mengapa Jungsoo merasa familiar dengan wajah itu.

"Jungsoo! JUNGSOO!" Heechul berteriak tepat di telinga Jungsoo.

"Yak, kenapa teriak-teriak!"

"Kau yang kenapa?! Melamun apa kau, sampai kupanggil berulang kali tak menjawab!"

Jungsoo menengok kearah koridor lain dimana ranjang yang didorong itu sudah tak terlihat "Ani, tidak ada apa-apa"

"Heechul-ah, aku sudah bercerita banyak tentang diriku, sekarang giliranmu menceritakan semua hal tentang dirimu!"

.

.

.

Dua orang paruh baya sedang duduk berhadapan, dari raut wajah mereka dapat diketahui jika mereka membicarakan hal yang serius.

"Nyonya..."

"Go Hyesun"

"Ah, ne, nyonya Go, apa putra anda memiliki penyakit yang memang sudah lama dideritanya" tanya dokter paruh baya bername tag Jang Minguk. Oh rupanya dokter itu mengira seseorang yang baru saja ditolongnya adalah putranya. Benar, seseorang yang ditolongnya adalah Kyuhyun, mereka sudah sempat mengetahui nama masing-masing tadi, dan setelah Kyuhyun ditangani, ia menyuruh Donghae menemani Kyuhyun sedang ia menemui dokter untuk membicarakan kondisi Kyuhyun.

"Saya tidak tahu dokter. Dia bukan putra saya, dia...eum.. putra saudara saya" nyonya Go sedikit berbohong, tak mungkin ia mengatakan bahwa tak memiliki hubungan apapun dengan pasien "Jadi...apa yang terjadi denganya?"

"Begini nyonya, dari gejala yang ada saya menyimpulkan pasien terkena Leukemia Limfositik Akut, jenis leukemia ini sekitar 80 % banyak menyerang anak-anak. Saya bisa melihat pasien mengalami sesak, mungkin ini bukan sepenuhnya gejala leukemia mengingat pasien juga memiliki gangguan pada pernafasanya dan dilihat dari tingkat keganasan selnya, bisa dibilang pasien sudah berada di stadium lanjut. Pada tahap ini pasien amat sangat rentan terhadap infeksi dan pendarahan baik dalam maupun luar. Dan untuk kasus pasien saya menemukan terjadi infeksi di dinding usus, infeksi ini berubah menjadi luka hingga menyebabkan pendarahan fatal di saat kondisi tubuhnya drop dimana kadar trombosit dalam darah menurun drastis. Pasien bahkan hampir kehilangan setengah volume darah dalam tubuhnya hingga kami memerlukan setidaknya 7 kantong darah. Untuk saat ini pasien tidak diizinkan makan ataupun minum selama beberapa waktu, karena ini akan mengakibatkan pendarahan yang lebih serius. Jadi dengan terpaksa pasien hanya akan mendapatkan asupan dari selang infus. Ah ya, saya juga menemukan jika pasien mengkonsumsi daging ikan mentah, apa itu benar?"

Nyonya Go menggeleng "Saya tidak tahu dok" Sebenarnya yang dikatakan dokter itu benar adanya. Selama beberapa hari ini Donghae selalu membawakan sushi sisa jualan di kedai tempatnya bekerja.

"Bagitu, makanan pasien leukemia harusnya dijaga ketat. Pasien hanya boleh mengkonsumsi beberapa makanan tertentu, karena makanan selain itu akan mempercepat pertumbuhan sel kankernya. Seperti danging ikan mentah, makanan ini dapat menjadi media yang sangat baik untuk sel kanker berkembang biak. Selain itu saya juga mengindikasi adanya organomegali dimana organ dalam tubuh pasien mengalami pembesaran tak wajar. Ini terjadi pada organ hati pasien, juga kelenjar limfa, ini yang menyebabkan daerah perut pasien mengalami kaku" jelas dokter itu panjang.

Nyonya Go terperangah, ia tak menyangka kondisi Kyuhyun, anak yang baru ia ketahui namanya separah itu "Jadi apa yang harus saya lakukan dok?"

"Kami harus melakukan pemeriksaan secara lebih lanjut, pemeriksaan darah tepi, juga bone marrow puncture untuk menghitung jumlah sel blast dari sel berinti dalam sumsum tulang!"

Nyonya Go mulai khawatir, jika penyakitnya separah ini, bukankan biayanya juga mahal, bagaimana ini, ia sendiri bukan orang berada "Apa...apa biayanya mahal dok?"

Dokter itu tersenyum menenangkan, ia sudah biasa menghadapi keluarga pasien yang kesulitan mengenai biaya "Untuk melakukan pemeriksaan sama sekali tidak mahal nyonya. Namun untuk penangan lebih lanjut saya kira itu membutuhkan biaya yang tak sedikit nyonya. Penangan lebih lanjut pasien leukemia bisa berupa kemoterapi, radiasi dan transplantasi stem cell. Namun jika melihat usia pasien, untuk saat ini saya menyarankan dilakukan kemoterapi"

"Berapa kali dia harus melakukan kemoterapi?"

"Itu tergantung ganasnya sel juga reaksi tubuhnya sendiri. Jika sel itu tidak ganas namun tubuh pasien mengalami penolakan terhadap obat kemo yang diberikan, maka hal ini akan sia-sia saja. Dan lagi, obat-obatan dalam kemoterapi tidak dapat membedakan yang mana sel sehat maupun sel kanker, sehingga sel sehatpun ikut mati dan menyebabkan penurunan kondisi tubuh pasien"

.

.

.

"Ahjuma terimakasih sudah mau membantuku" Donghae menundukan diri dalam-dalam. Sangat berterimakasih pada sosok dihadapanya.

"Jangan begitu, ahjuma ikhlas membantumu" nyonya Go mendudukan diri diranjang disebelah Kyuhyun yang terbaring tak sadarkan diri diruang HCU, ruangan setingkat dibawah ICU, yang menangani pasien dengan keadaan masih perlu penanganan juga pengawasan dari para medis namun tidak seketat di ICU.

Sedikit ragu nyonya Go berujar "Nak, bagaimana jika kalian ikut ibu, ibu adalah salah satu pengurus panti asuhan. Kalian bisa hidup dengan baik disana, bagaimana?" Nyonya Go memang seorang pengurus panti asuhan, ia ke rumah sakit untuk membeli beberapa obat karena salah satu anak panti sedang sakit.

"Panti asuhan ahjuma.. " Donghae menimbang-nimbang. Kejadian seperti ini, ia tak mau mengalaminya lagi. Mungkin ini kesempatan tuhan atas doanya yang meminta waktu diputar.

"Ne, ahjuma, aku dan Kyuhyunie mau ke panti asuhan. Tapi sebelum itu, izinkan aku untuk mengambil beberapa barang di flat juga berpamitan kepada ahjusi tempatku bekerja"

.

.

.

"Lapor tuan, berdasarkan penyelidikan bawahan saya, ada seseorang yang terakhir kali berinteraksi dengan tuan muda Donghae. Dia adalah Jang Seukgoon, sekertaris dari tuan Cho. Dia juga yang membantu tuan muda Donghae saat di rumah sakit..." lapor seorang namja muda kepada tuan Park yang nampak sedang bersantai di mini bar kediamannya.

"Siapa yang sakit? Donghae?" Tuan Park sedikit panik saat sang bawahan mengatakan bahwa Donghae ada di rumah sakit.

"Ani tuan, eum...Cho Kyuhyun, putra tuan Cho juga nyonya Hanna yang sakit. Dia berkata bahwa terakhir melihat tuan muda Donghae saat ia akan mengantar tuan muda Donghae bersama adiknya ke panti asuhan" namja muda itu sedikit ragu menyebut nama Cho Kyuhyun dihadapan tuannya.

"Begitu, selidiki semua cctv disekitar lokasi dan lanjutkan pencarian hingga putraku ditemukan! Kau tentu masih ingat ancamanku bukan" Tuan Park berujar sambil mengambil botol wine lalu menuangkanya pada gelas dihadapannya.

"Ne tuan, sebelumnya...maaf..., jika tuan muda Donghae ditemukan bersama adiknya, apa yang harus kami lakukan dengan adiknya?"

Tuan Park terdiam sebentar, memutar-mutar gelas wine yang ada di genggamanya dengan gerakan perlahan "Tinggalkan saja dia. Aku tidak peduli dengannya, dia bukan putraku"

.

.

.

18 Januari 2015

Namja bertubuh ringkih itu senantiasa duduk disamping ranjang rumah sakit, menemani sang hyung yang masih betah dengan tidur panjangnya di ruang ICU.

Namja yang juga baru terbangun dari tidurnya 2 hari lalu itu seakan tak mempedulikan kondisi tubuhnya sendiri yang masih lemah dan terkadang menurun drastis karena ia kurang istirahat. Sebenarnya ia masih dilarang keluar dari ruang perawatanya, HCU. Ruang perawatan setingkat dibawah ICU. Namun ia memaksa dengan mengancam tak mau menerima perawatan apapun jika tak diijinkan menemani hyungnya.

Yang diinginkanya hanya berada disamping sang hyung. Tangan dingin Cho Kyuhyun terus menggenggam erat tangan Donghae hyungnya yang tak kalah dingin.

Sedetik kemudian suara pelan mengalun menandingi suara EKG yang terus terdengar sejak tadi.

"Hyungie...kau harus bangun, kalau tidak, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri hyung. Bangunlah... kumohon..."

Dan tanpa Kyuhyun ketahui, seseorang yang hendak masuk ke ruangan itu untuk menjenguk Donghae mengurungkan niatnya, ia memandang benci ke arah Kyuhyun dan berdesis tajam "Akan kubuat kau menyesal Cho! Kalau Donghae sampai mati...kau juga harus mati Kyuhyunie"

TBC...

Jangan lupa review chingudeul. Ok, see you bye bye!