Nichijou, Terinspirasi dari Assassination Classroom live action. Standard warning applied, all characters belongs to Matsui Yusei.
Summary: Mulai dari Kayano yang keceplosan, hingga Kirara Hazama dengan kemampuannya mengatakan (yang sepertinya, benar) apa yang ia lihat dari mata Rio tentang Karma.
.
Rio berjalan jinjit dan mendekati Kayano perlahan yang sedang termenung di kusen jendela. Ada bantal empuk di tangannya. Ketika sudah dekat, tanpa ragu ia melemparkan bantal ke arah punggung Kayano.
"Ittai!"
Kayano mengambil bantal yang terjatuh di dekat kakinya, dan melemparnya asal. Sepertinya mengenai Kurahanshi. Entahlah.
Mereka semua berkumpul di satu titik, dan bermalas-malsan disana. Padahal tadi sudah ada yang mengajak mandi, tapi tak digubris.
"Hei, kalau pelatihan ini berlangsung, mungkin kita benar-benar bisa membunuhnya!" seru Rio dengan niatan membakar semangat temannya.
"Dan kita akan mendapatkan 10 miliyar!" tambah Meg.
Rio berteriak girang dan merebahkan diri ke kasur lipat. Kepalanya di posisikan di paha Kayano. "Kita hanya akan bermain sepanjang hidup kitaa!" cewek-cewek kelas E pun berteriak kegirangan.
Bitch-sensei yang dari tadi sibuk mengeringkan rambut dengan hair dryer di depan cermin-portabel dengan pinggiran lampu berceletuk.
"Pembunuhan tidak sesederhana seperti yang kalian pikirkan, gadis-gadis." Seketika para gadis menutup mulutnya diam. "Pembunuh professional melatih dirinya sendiri."
"Wow, Bitch-sensei bisa mengatakan sesuatu yang berguna." Ucap Kayano yang langsung diekori tawa kompak para gadis dan amukan Bitch-sensei.
"Hoi! Jangan begitu! Untuk kali ini aku tidak main-main tau!"
"Sudah, sudah," Megu berusaha melerai sebelum Bitch-sensei kembali mengamuk dengan lebih dahsyat. Rio sepertinya mendapatkan topik pembicaraan, dan langsung duduk. "Kita ubah topik ini. Cari yang lain, seperti tentang –cowok misalnya? Diantara semua cowok yang ada di kelas E, siapa yang kau suka?"
Para gadis saling melirik satu sama lain dengan jenaka. Bahkan beberapa dari mereka ada yang pura-pura batuk dan saling melempar cie-cie-an.
"Wah wah, ada apa ini? jadi kalaian semua sudah memiliki tambatan hati masing-masing?" Bitch-sensei turun dari kursi tingginya dan ikut duduk lesehan –ditemani bantal gadis kelas E. "Aku ingin mendengar cerita kalian! Eh, tapi, sebutkan dulu siapa laki-laki yang kalian sukai!" Profesor Bitch memberi titah. Para gadis menjerit tertahan.
"Hei! Sst! Jangan berisik! Kalau kalian tidak mau memberi tahunya, akan aku tunjuk paksa. Kalau kalian tidak mau menjawabnya, kupastikan di pertemuan bahasa inggris kita bibirmu takkan selamat." Kalimat terakhir guru itu sukses membuat seluruh ruangan itu sunyi. "Bagus. Kalau begitu, yang pertama aku mau…" ekor matanya dikerlingkan kanan-kiri. "Kayano!"
"Kyaaa! Ciee Kayano-chan!" Rio berteriak sendiri kegirangan. "Ayo beritahu kepada sensei yang sebenarnya!"
Yada mengerucutkan bibirnya. "Nakamura-san kau terlalu bersemangat. Padahal 'kan kita sudah tau kalau Kayano-san menyukai Nagisa-kun. Itu sudah jelas 'kan?"
Seketika wajah gadis berhelai toska itu memerah. "Mou! Apa-apaan sih! Aku kan tidak pernah mengatakan padamu kalau aku menyukai Nagisa! Aku hanya memberitahukan hal itu pada Hinano-chan! Jangan fitnah!"
Ups
"…"
"…"
–keceplosan.
"WAAAH! ITU BUKAN SEKEDAR GOSIP! KITA MENDAPATKAN PENGAKUANNYA DARI ORANGNYA LANGSUNG!" teriak gadis kelas E serempak. Kayano baru sadar kalau sebenarnya teman-teman sekelas berusaha menyudutkannya, dan mengorek informasi sedalam-dalamnya tentang orang yang disukai.
Ruang kelas yang berisikan gadis kelas E, yang tadinya adem ayem, berubah menjadi berisik. Penuh dengan teriakan tertahan. Bahkan Bitch-sensei butuh 5 menit untuk menenangkan mereka.
"Sudah! Jangan berisik! Langsung saja aku lanjutkan. Hmm, jadi, aku ingin…" guru bahasa inggris kelas E memasang seringaian di wajahnya, dan seisi kelas berpura-pura tidak melihatnya. Mereka semua sudah tahu maksud dari seringaian itu.
Bitch-sensei mengacungkan jempolnya. "Kau! Rio! Siapa yang kau suka!"
Ya kembali lagi. Kelas penuh dengan jeritan tertahan –namun kali ini ditambah dengan gelak tawa Kayano mengejek Rio.
Rio, objek yang ditanya hanya berpikir dalam diam. Ia terlihat seriuuus sekali.
"Wah, Rio kau memikirkannya terlalu serius~" ucap Kayano manja. "Jadi memang benar-benar ada ya? Yang kau suka?"
Gadis surai pirang itu menggeleng. "Justru karena tidak ada, aku bingung mau jawab apa." Jawabnya.
"Eeeh? Tidak mungkin!" ujar Kayano cepat. "Kupikir kau menyukai Karma-kun, loh, Rio!"
"Haahh?" sekarang malah Rio yang berteriak. "Atas dasar apa kau mengatakan itu!"
"Habisnya! Waktu itu kau asik sekali bermain air hujan dengan Karma!"
"Oh ya? Yang mana?" Rio berusaha mengingat kejadian yang lalu. "Yang mana sih –oh yang itu. Yaampun itu hanya bermain biasa!"
Kelas E kembali berkoor 'eh' panjang.
"Tapi-tapi-tapi," Hazama kirara tiba-tiba sudah duduk di sebelah Rio. Gadis itu langsung terbelak dan mengelus dadanya.
"Sepasang matamu tak bisa berbohong. Matamu mengisyaratkan kenyamanan jika bersama dengannya."
"Eh?" Rio bingung. "Nyaman? Well kalau itu sih... mungkin, ya?"
Dukun kelas E tersenyum. "Ah. Sepertinya, perasaan nyaman itu akan terus bertambah jika kau selalu dekat dengannya." Ujar Hazama. "Kami menantikannya loh,"
Rio terdiam, sementara Kayano membalas mengusilinya –dengan menusuk-nusuk pipi denga jari plus cie-ciean.
.
.
Ch. 2 end
Hiyaaa chapter kali ini ngga ada KaruRi-nya yhaa. Dan mohon maaf request Maicchi-chan belum kupenuhi ;3; aku buat ini biar nyambung sama request-an mu, wahai *coret*keripik*coret* Maicchi-chan! #sayalaper
Anyway, chapter 3 udah setengah jalan kok ;3 doakan cepat selesai~
