Tittle: The Pass chapter 5

Cast: Cho Kyuhyun, Lee Donghae as Cho Donghae, Park Jungsoo and other

Genre: brotheship, family, sad (maybe)

.

.

Warning: OOC, typos, author masih baru, cerita pasaran, alur membingungkan, membosankan dan kekurangan lainnya.

.

.

This story is mine

All cast milik tuhan dan diri mereka sendiri

.

.

Happy reading^_^

.

.

19 Agustus 2004

"Bodoh!Bodoh! BODOH!" Tuan Park yang sedang duduk kursi kebesaranya itu nampak sangat murka dengan laporan yang baru saja didapatkan dari bawahanya.

"Sudah hampir 1 bulan lebih dan kalian belum menemukanya! KALIAN BENAR-BENAR TIDAK BECUS!" Kali ini tuan Park berdiri, menggebrak mejanya dengan keras. Ia melangkah cepat menghampiri bawahanya yang senantiasa menunuduk, tak berani menatap raut marah atasannya.

"Mau bermain-main denganku hah!" Suara tajam itu keluar dari bibir tuan Park yang nampak menghitam karena rokok. Ia menatap penuh intimidasi pada bawahan yang sudah bekerja hampir lima tahun bersamanya dan tak pernah gagal menjalankan apapun yang diperintahkanya. Sekarang apa, mencari putranya saja bawahanya ini tak becus

"Mianhe tuan, sebenarnya kami sudah tahu dimana tempat tuan muda Donghae untuk tinggal beberapa waktu, namun entah kenapa dia tidak lagi menempati flat itu. Kami sendiri tidak tahu tuan muda pergi kemana. Selain itu ada seseorang, dia adalah pemilik kedai tempat tuan muda Donghae bekerja. Kami mengintrogasinya tentang tuan muda Donghae, dan nampaknya ia menganggap kami orang jahat hingga ia bungkam namun kami akan terus berusaha untuk mencari informasi dari orang ini. Hanya itu yang bisa saya sampaikan tuan saat ini" jawab bawahan itu dengan kepala masih menunduk.

"Heh, kalian benar-bebar lambat. Aku tidak mau tahu! Aku beri waktu 2 hari, putraku harus ditemukan, jika tidak, kau dan semua bawahanmu benar-benar akan kupecat!"

"Baik tuan, akan kami laksanakan"

.

.

.

21 Agustus 2004

Sudah hampir 3 minggu Donghae dan Kyuhyun mendiami panti asuhan. 2 minggu setelah perawatan, kondisi Kyuhyun dinyatakan membaik dan diperbolehkan pulang, namun 1 minggu sekali bocah itu harus ke rumah sakit untuk check up juga menjalani kemoterapi dan harus meminum obatnya setiap hari.

Beberapa waktu mereka hidup baik di sini. Namun sepertinya tuhan masih ingin menguji kedua bersaudara ini.

Pada awalnya anak-anak di panti ini menyambut kedatangan mereka dengan baik, anak-anak panti itu sangat senang karena mendapatkan teman baru. Dan bahkan saat mereka mengetahui Kyuhyun sakit, anak-anak panti itu malah bersimpati dan sangat memperhatikan Kyuhyun.

Namun disaat mereka tahu jika penyakit Kyuhyun membutuhkan biaya yang tak sedikit. Sikap mereka berubah...

.

Terdengar suara cacian dan makian dari mulut-mulut kecil anak-anak polos itu. Anak-anak tanpa kasih sayang kedua orang tua, hanya ibu pengasuhlah yang melimpahkan kasih sayang kepada mereka.

"Aku tidak suka anak baru sepertimu, menyusahkan ibu saja, lebih baik kau mati!" Jonghyun, anak berusia 12 tahun berujar tajam kepada kedua sosok yang berada di sudut ruangan.

Ah ani, bukan kepada keduanya, melainkan kepada sosok paling kecil diantara kedua sosok tadi. Sosok yang tengah bergetar dalam tangisanya, berada didalam pelukan sosok yang lebih besar dibanding dirinya.

"Hey, jangan berkata begitu pada dongsaengku!" Bela sosok yang terlihat lebih besar itu, Donghae tak terima dongsaengnya dikata-katai seoerti itu. Mati? Apa kata mereka, menyumpahi Kyuhyun mati, disaat bocah kecil ini telah sekuat tenaga berjuang bangkit dari mati yang membayanginya beberapa waktu lalu. "Dia tak pernah menyusahkan ibu!" Ibu yang dimaksud adalah nyonya Go, ibu asuh disini, semua anak panti memanggilnya dengan sebutan ibu.

"Tidak menyusahkan apanya! Gara-gara dongsaengmu itu, kami semua harus makan tak layak selama beberapa bulan kedepan karena uang jatah makan dari para donatur digunakan untuk membiayai pengobatan dongsaengmu itu! Lagi pula untuk apa dongsaengmu itu diobati lagi, bagaimanapun pada akhirnya dia akan mati juga" Sahut seorang anak bertubuh gemuk, Shindong dengan berapi-api. Tentu saja bocah gemuk ini sebal, jatah makanya yang biasanya banyak, menjadi menyusut drastis karena uang yang tersisa tidak mencukupi untuk membeli bahan makanan yang banyak sehingga banyak diantara mereka yang jatah makanya dikurangi.

Ucapanya dianggguki oleh semua teman yang sedang mengerubuti kedua kakak beradik itu.

Mereka belum dapat mencari uang, sumbangan para donaturlah yang menjadi sokongan hidup mereka. Itu pun tidak pasti, karena hanya ada 1 donatur tetap yang rutin memberi sumbangan.

Ibu asuh mereka memakai uang sumbangan dari para donatur untuk biaya pengobatan Kyuhyun.

Inilah yang dialami kedua bersaudara ini. Hampir semua teman-teman di panti ini mengintimidasi Kyuhyun, menganggapnya sebagai orang yang harus bertanggung jawab akan apa yang terjadi.

Benar bukan, manusia akan menghalalkan berbagai cara untuk urusan perut, sekalipun melakukan hal yang salah, peduli apa, sekali lagi, manusia memang egois.

Donghae mengeram marah "Jaga ucapanmu!"

'Bough!'

Dan kepalan tangan Donghae melayang pada wajah Shindong. Entahlah, Donghae menjadi sangat emosional juga protektif terhadap Kyuhyun selepas dongsaengnya keluar dari rumah sakit.

.

.

.

"Lapor tuan, kami berhasil menemukan tuan muda Donghae bersama adiknya disebuah panti asuhan di pinggiran kota Seoul, panti asuhan yang juga menerima dana sokongan dari anda tuan"

"Bagus, akhirnya kalian becus melakukan perintahku. Dan benarkah jika itu panti asuhan yang sering kudanai. Ah, bagus sekali kalau begitu, kita bisa mengancam mereka jika pengurus panti itu tidak mau memberikan Donghae"

"Tentu saja kami tidak akan membuat tuan kecewa. Bagaimana tuan, haruskah kami membawa tuan muda Donghae sekarang?"

"Tidak, jangan. Aku akan menyuruh putra sulungku untuk menjemputnya, hanya dia yang dekat dengan Donghae dulu, aku yakin dengan mudah dia akan membawa Donghae pulang, kalian hanya perlu menemaninya"

"Baik tuan, tapi apa yang harus kami lakukan jika tuan muda Donghae menolak meninggalkan panti, terlebih meninggalkan adiknya sendiri?"

"Hmm...mudah saja, bilang saja kau akan melukai adiknya jika ia menolak, aku yakin Donghaeku masih baik seperti dulu"

.

.

.

"Kau sedang mengecek apa Heechul-ah?" Tanya Jungsoo pada Heechul yang terlihat serius mengamati kertas berisi hasil check up pasien dengan raut berubah-ubah. Saat ini sedang jam istirahat, merupakan hal biasa jika berkumpul bersama teman sendiri sambil berbagi masalah atau apapun itu.

"Aku tidak tahu Jungsoo. Kau lihat, ini adalah hasil ceck up pasien yang akan kutangani. Dia masih berusia 6 tahun dan menderita leukemia, kasian sekali masih sekecil itu harus menjalani kemoterapi seperti ini" terang Heechul dengan wajah sedih.

"Tak kusangka kau punya hati yang lembut Heechul-ah!" Goda Jungsoo.

"Yak! Hatiku tidak lembut, aku ini hanya simpati, berhati lembut artinya cengeng! Aku tidak suka kau sebut begitu!"

"Kau ini...cepat sekali marah, nanti wajah cantikmu bertambah tua" Sungguh, Jungsoo suka sekali menggoda Heechul dan melihatnga marah-marah. Menurutnya itu hiburan tersendiri untuknya.

"Hya, jangan sebut aku cantik, aku ini tampan. Sekali lagi kau sebut aku cantik, akan ku..."

"Ssst...dokter, tolong jangan berisik, ini di rumah sakit" ucapan itu terpotong oleh teguran seorang suster yang kebetulan lewat.

Jungsoo sedikit menundukan badannya "Mianhe, maafkan teman saya suster"

Suster itu hanya mengangguk kemudian beranjak pergi.

"Kenapa hanya aku? Kau yang menyebabkan aku ribut tahu!"

"Heechul-ah jangan bicara keras, kau ini seperti anak kecil saja" ah, Jungsoo jadi ingin kembali ke masa kecilnya, jika saja ia bertemu Heechul sejak dulu, pasti mereka akan menjadi sangat cocok, sahabat bagaikan kepompong.

"Berhenti mengata-ngataiku!" Heechul memalingkan wajahnya, namja cantik ini nampak marah.

"Heechul-ah, mianhe...kau tahu aku hanya bercanda, jangan marah ne" bujuk Jungsoo saat melihat teman sekaligus sahabatnya ini mulai naik darah.

"Aku tidak marah" meski berkata begitu, raut wajah Heechul masih belum sejalan dengan apa yang dikatakannya.

"Ya sudah kembali ke pembicaraan kita tadi. Memangnya siapa calon pasien yang akan kau tangani itu?" Tanya Jungsoo mencoba mengalihkan pikiran Heechul dari amarahnya.

"Dia..."

'Ddrttt...drrtt...' ponsel di dalam saku Jungsoo bergetar. Jungsoo mengambil ponselnya, melihat siapa nama yang tertera disana.

"Ah mianhe Heechul-ah, aku mengangkat panggilan dulu" Jungsoo menjauh sedikit dari keramaian untuk mengangkat panggilan itu.

.

.

.

"Ada apa appa memintaku kemari?" Jungsoo buru-buru pergi dari rumah sakit tempatnya bertugas saat panggilan sang appa diterimanya dan mengatakan ada hal penting yang akan disampaikan.

"Kau harus menemukannya, kau harus menemukan dongsaengmu" tuan Park berujar tenang dengan arah pandang entah kemana, yang pasti ia tak mau memandang putranya.

"Mwo? M-maksud appa?"

"Bawahanku telah menemukan Donghae berada dipanti asuhan saat ini. Dia..."

"Benarkah appa! Ya tuhan! Aku senang sekali!" Jungsoo tak dapat menyembunyikan rasa senangnya.

Tuhan, ia senang sekali. Pasalnya ia sendiri tak ada waktu sama sekali untuk mencari Donghae. Ia pikir akan mencari Donghae dan Kyuhyun saat selesai bertugas, namun tugas dokter baru ternyata tak semudah yang ia fikirkan, hingga waktunya tersita untuk berada di rumah sakit.

"Jangan memotong pembicaraan orang lain seenaknya!" Tuan Park kini memandang Jungsoo tajam.

"Mi-mianhe appa" Jawab Jungsoo gugup.

"Datangi panti asuhan itu kemudian bawa Donghae pulang bersamamu. Kau tentu tahu alasan kenapa aku menyuruhmu, dan lagi, saat ini, hanya Donghae yang bisa kuharapkan untuk menjadi pewaris bisnis ini. Kau benar-benar sudah tidak berguna sejak memutuskan berprofesi dokter sesuai keinginanmu"

Jungsoo mengangguk sembari menekan perasaan sakit yang menelusup di hatinya saat mendangar ucapan tajam sang appa "Aku mengerti appa, tapi...hanya Donghae appa, dimana Kyuhyun?"

"Siapa yang kau maksud?! Anak ummamu dengan pria itu?! Heh! yang benar saja. Anak itu memang bersama Donghae, tugasmu hanya membujuk Donghae untuk ikut bersamamu, pisahkan dia dan tinggalkan anak itu disana. Anak buahku akan menemanimu"

"Tapi appa, Kyuhyun juga dongsaengku, bagaimana mungkin aku tega meninggalkanya di panti asuhan sedang Donghae ikut bersamaku?!"

"Kau memang selalu membangkang Jungsoo. Ikuti saja perintahku, kau tahu, aku penyumbang dana terbesar di panti asuhan itu. Kau mau aku menghentikan sokongan dana itu dan membuat anak-anak disana kelaparan huh! Kalau kau tega membuat anak-anak itu kelaparan, bawa saja anak itu bersamamu."

.

.

.

"Sekarang bisa jelaskan kepada ibu kenapa kalian bertengkar?" Nyonya Go berbicara lembut kepada kedua anak yang tengah terduduk, berlutut dilantai, sedang menjalani hukuman darinya tepat dihadapanya.

"Dia yang memulai ibu!" Jawab Shindong, salah satu anak itu sambil menunjuk Donghae yang berada disampingnya.

"Benarkah itu Donghae?"

Donghae mengangguk pelan "Ne ibu, tapi aku melakukan ini ada alasanya. Mereka, dia mengolok Kyuhyunie, aku tidak suka"

Nyonya Go tersenyum lembut, ia sebenarnya sudah mengetahui perihal anak-anak panti yang suka menganggu Kyuhyun. Tapi ia bisa apa selain menasehati dan menghukum seperti ini. Terlebih anak-anak ini melakukannya disaat ia sedang tak ada di lingkungan panti.

"Shindong-ah, sudah berapa kali ibu bilang kepadamu juga teman-temanmu untuk tidak melakukan ini lagi hmm... Kenapa masih melakukanya juga?"

"Go ahjuma, ada seseorang yang ingin bertemu dengan ahjuma" seorang gadis muda yang juga salah satu pengurus panti terburu-buru menghampiri nyonya Go. Sepertinya hal yang penting.

"Siapa Eunsoo-ah?"

"Tidak tahu ahjuma, dia bilang ada hal penting yang harus dibicarakan dengan ahjuma"

"Baiklah, aku akan menemuinya. Kau jaga mereka berdua ne. Dan kalian, Shindong dan Donghae, kalian harus tetap berada di posisi ini. Hukuman kalian belum selesai. Arra?"

"Baik ibu"

.

"Ah, ternyata begitu, aku tidak menyangka jika Donghae dan Kyuhyun masih punya keluarga. Jungsoo-shi, saya akan mengajak Donghae kemari menemui anda"

Agak sedikit terkejut nyonya Go. Pasalnya seseorang didepannya yang diketahui sebagai putra tuan Park Myungsoo, orang yang memberi sumbangan terbesar untuk panti asuhan ini mengatakan jika Donghae adalah keluarga mereka. Meski tidak mengatakan itu untuk Kyuhyun, namun jika Donghae adalah keluarga Jungsoo secara otomatis Kyuhyun adalah keluarga Jungsoo bukan, bagaimanapun ia dongsaeng Donghae.

"Ne, silakan nyonya Go" Jungsoo sedikit gugup sebenarnya, ia tidak tahu reaksi apa yang akan ditunjukan oleh dongsaengnya setelah sekian lama mereka tak bertemu. Tentu saja ia berharap bukan penolakanlah yang di perolehnya.

Sebenarnya ia tidak datang sendirian. Sesuai perintah sang appa, ia datang kemari bersama beberapa bawahan appanya. Namun para bawahan ini hanya bertugas mengawasinya dan membantunya jika saja ia tak dapat membawa Donghae pulang. Heh, appanya memang tidak pernah mau percaya padanya.
.

Beberapa menit kemudian muncul nyonya Go bersama seorang anak mengikut di belakangnya yang Jungsoo yakini itu adalah Donghae. Bawahan appanya telah menunjukan foto Donghae, dan ia yakin pernah melihat wajah itu sebelumnya namun entah dimana.

"Hae..." Jungsoo berdiri dari duduknya, melangkahkan kakinya menuju Donghae kemudian memeluk tubuh yang telah lama ia rindukan itu.

Diam, itu yang dilakukan Donghae, tak ada penolakan berarti yang ia lakukan. Ia hanya terdiam menikmati pelukan yang entah kenapa terasa sangat nyaman untuknya.

Keluarganya? Pertanyaan itu terus berputar di kepala Donghae. Ia bahkan sangat terheran-heran ketika ibu asuhnya ini mengatakan ada keluarganya yang mencarinya, keluarga apa, yang mana, mungkinkah...

"A-anda siapa?" Tanya Donghae lirih, suaranya teredam oleh pelukan Jungsoo yang begitu erat.

Jungsoo melepas pelukanya, ia menatap lamat-lamat wajah dongsaengnya. Perlahan air mata mulai merebak menghiasi wajahnya "Kau tidak ingat hyung Hae?"

"H-hyung..." tangan Donghae perlahan terangkat, menelusuri wajah orang dihadapanya, wajah milik seseorang yang begitu ia sayangi, seseorang yang telah berpisah sangat lama dengannya. Dengan ragu Donghae berujar "Ju-jungsoo hyung?"

Jungsoo mengangguk-anggukan kepalanya berulang kali, dibawanya kembali tubuh Donghae ke dalam pelukannya "Ne, ini Jungsoo hyung saengie" tidak ada rasa canggung sama sekali diantara mereka. Yang ada hanya rasa rindu yang besar di hati masing-masing.

"Hyungie...hiks.." Jungsoo tersenyum saat merasa kali ini Donghae membalas pelukanya.

Beberapa menit kemudian...

"Bagaimana hyung bisa menemukanku?" Tanya Donghae, ia sama sekali tak mau melepaskan tubuh hyungnya. Ia menempel erat seperti lintah.

"Bawahan appa yang menyelidiki dimana kau berada?"

"Appa hyungie? Appa masih mengingatku?"

"Tentu saja Hae-ya"

"Hem...aku senang!"

Sejenak mereka terdiam hingga...

"Hae..." panggil Jungsoo pelan dan hanya dijawab gumaman oleh Donghae.

"Ayo ikut hyung pulang..."

"Kemana?"

"Ke rumah kita, rumah hyung juga appa. Kau mau terus menerus disini?"

"Ani aku tidak suka disini. Baiklah asal bersama Kyuhyunie aku mau hyung"

"Tidak dengan Kyunie, hanya kau. Kajja, kita pergi sekarang"

"Tidak dengan Kyunie? Tidak, aku tidak mau!" Donghae menggelengkan kepalanya keras-keras, jika ia pergi bagaimana dengan dongsaengnya.

"Hiks...jangan paksa aku...hiks...hyung..." Donghae mulai terisak saat Jungsoo menarik tangannya kuat menuju mobil yang terparkir halaman depan panti itu.

Menghiraukan beberapa anak juga nyonya Go yang menyaksikan kejadian ini. Sungguh, nyonya Go sendiri merasa heran, kenapa hanya Donghae, bagaimana dengan Kyuhyun, bukankah Kyuhyun juga keluarga mereka. Tapi bagaimanapun itu mereka merasa tak punya hak untuk ikut campur.

"Andwe! Jangan pisahkan aku dengannya, hiks..."

"Hyung! Lepaskan...hiks...Kyunie!" Donghae berontak memanggil-manggil nama Kyuhyun.

.

Dilain tempat, tepatnya di sebuah kamar tampak Kyuhyun yang tersentak kaget dari tidurnya. Ia terbangun karena ada suara ribut-ribut dari arah depan. Ia tertidur karena lelah menangis usai kejadian tadi.

"Hyung! Lepaskan...hiks...Kyunie!"

Dan sekarang Kyuhyun mendengar suara Donghae hyungnya menyerukan namanya begitu keras. Seakan tahu ada yang tak beres, bocah kecil ini turun dari ranjang kemudian berlari menuju sumber suara.

'Deg' dan pemandangan yang pertama kali dilihatnya membuatnya membeku. Semua orang sedang berkumpul di bagian depan panti ini, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri Donghae hyungnya di paksa masuk ke dalam mobil hitam oleh seseorang yang tak Kyuhyun ketahui. Mobil itu mulai melaju.

"Hyung!" Kyuhyun hendak mengejar mobil itu, namun sebuah tangan merangkulnya dari belakang, menahan langkahnya. "Ibu...hiks.. lepas, Hae hyung!" Ternyata nyonya Go lah yang menahannya.

"Kyunie disini saja bersama ibu ne, Hae hyung akan kembali lagi kemari" nyonya Go mencoba menenangkan Kyuhyun. Ia menatap Kyuhyun dengan tak tega, sungguh tega sekali orang itu memisahkan kedua beesaudara yang saling menyayangi ini.

"Hyungie...jangan pergi...hiks... Jangan tinggalkan aku" tubuh kecil itu meluruh. Masih, ia masih terisak, matanya masih memandang mobil hitam yang mulai menjauh. Meski tak terlihat, ia yakin jika hyungnya sedang memberontak didalam sana, tak mungkin hyungnya itu menunggalkannya bukan.

.

.

.

Sementara itu di dalam mobil Jungsoo...

"Hyung hentikan mobilnya!" Donghae terusnya saja berontak, menggedor-gedor pintu mobil yang terkunci otonatis itu. Donghae duduk di belakang bersama Jungsoo. Ada seorang sopir yang mengemudikan mobil ini.

"Hae dengarkan hyung..."

"Hyung bagaimana dengan Kyuhyunie. Aku harus kembali hyungie!"

"Saeng dengarkan.."

"Hyung kenapa tega sekali, Kyuhyunie!"

"HAE!" Bentakan itu meluncur begitu saja dari bibir Jungsoo membuat Donghae terdiam takut.

"Hah" Jungsoo menghusap kasar wajahnya, merasa bersalah melihat raut takut Donghae, ia lepas kendali tadi. Hatinya sendiri berkecamuk memikirkan Kyuhyun, antara perasaannya sebagai seorang hyung juga seorang anak yang harus menuruti perintah appanya. Dan mendengar Donghae mengoceh tiada henti membuat emosinya tiba-tiba naik.

Ia sendiri mengerti perasaan Donghae

Perasaan seorang hyung yang tak mau dipisahkan dari dongsaengnya, ia sangat tahu rasanya. Sama seperti perasaan dirinya saat dipisahkan dari Donghae dulu.

"Hae...dengarkan hyung" nada suaranya mulai melembut. Ia terulur hendak menyentuh pundak Donghae. Namun Donghae dengan cepat malah beringsut menjauhinya. Mungkin Donghae masih takut dengan bentakan hyungnya tadi. Ia diam, tak mau menatap hyungnya yang sedang berbicara mengenai alasan mengapa ia melakukan ini. Dan juga hyungnya berjanji akan menjemput Kyuhyun nantinya.

.

.

.

"Kau! Hanya bocah menyusahkan. Kau tahu, kau bisa membuat ibu bangkrut karena penyakitmu itu!"

"Lebih baik kau pergi! Cari hyungmu sana!"

"Benar, kau sudah tidak punya siapapun untuk melindungimu!"

.

.

.

Ditengah hiruk pikuk kota Seoul yang terkenal. Terlihat namja kecil yang berjalan tak tahu arah. Ia berjalan kesana kemari hanya menurut dimana langkah kaki mungilnya menapak. Terik matahari menyilaukan membuat udara panas siang itu. Bulir-bulir keringat mulai menuruni wajah pucat namja kecil itu.

"Hyung...Hae hyung..." sesekali bibir yang tampak pucat itu memanggil-manggil nama hyungnya.

Kyuhyun tak tahu harus kemana. Anak-anak di panti asuhan menyuruhnya pergi untuk mencari hyungnya. Kyuhyunpun hanya menurut saja, ia pergi tanpa sepengetahuan nyonya Go dikarenakan ibu asuhnya itu tengah berbelanja beberapa bahan makanan yang habis. Kyuhyun tak menyadari jika dirinya diusir secara halus oleh anak-anak panti.

"Hyungie..." bibirnya terus saja memanggil. Tak menghiraukan beberapa orang yang menanyainya, mengira ia anak yang tersesat.

Sedetik kemudian Kyuhyun berinisiatif untuk menyebrang jalan yang ramai. Ia memperhatikan lampu penyebrangan yang masih berwarna merah. Hey, meski ia masih kecil tapi ia tahu bagaimana tata cara untuk menyebrang jalan. Ia menunggu sejenak hingga lampu berubah menjadi hijau.

Kaki mungilnya mulai melangkah untuk menyebrang jalan. Orang-orang yang hendak menyebrang tidak seramai biasanya. Mungkin karena banyak orang yang malas keluar di cuaca sepanas ini.

Satu langkah, dua langkah, sampai saat ini masih baik-baik saja. Kyuhyun masih meneruskan langkahnya bersama beberapa orang lain dengan tenang hingga ia tak menyadari ada mobil yang melaju cepat tepat ke arahnya. Mobil itu tampak tak terkendali dan menghiraukan rambu lalu lintas yang masih berwarna merah.

'Ckiittt' 'Brakk!' Suara decitan rem kemudian dentuman pelan antara mobil dengan sebuah tubuh mungil terdengar setelahnya. Beberapa orang yang kebetulan berada di lokasi kejadian berteriak histeris melihat peristiwa yang baru saja mereka saksikan.

"Kalian tenanglah, dia putraku, akan ku bawa dia ke rumah sakit" ujar seseorang yang baru saja menabrak tubuh kecil Kyuhyun. Namja paruh baya ini segera mengangkat tubuh Kyuhyun yang nampaknya terluka tak terlalu parah, untung saja ia sempat mengerem mendadak hingga luka yang diderita anak ini tak terlalu parah. Namja paruh baya itu membawa Kyuhyun ke dalam mobilnya, kemudian pergi memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.

Meninggalkan orang-orang disana yang masih tertegun kebingungan. Bagaimana mungkin orang yang menabrak seseorang lain mengaku yang ditabraknya adalah putranya, kebetulan yang sedikit janggal, pikir mereka.

.

.

.

26 Agustus 2004

"Hyung kau bilang akan menjemput Kyunie, kapan hyung? Kapan? Ini sudah hampir seminggu hyung Dan juga ada apa dengan appa, kenapa sifat appa berubah, dia tidak sehangat dulu? Ada apa sebenarnya dengan kalian?!" Donghae mengomel panjang pendek pada hyungnya yang tengah berada di hadapannya. Tanpa peduli jika sang hyung menatapnya lelah, mulut itu terus saja berbicara.

"Hae...kau tahu sendiri jika appa tidak menginginkan Kyuhyun, kita bujuk appa pelan-pelan, hyung hanya sedang menunggu waktu yang tepat" Jungsoo lelah dengan semua ini. Ia merasa seperti pihak yang di perebutkan untuk berdiri di sisi siapa, sang appa? Atau sang dongsaeng?

"Waktu yang tepat apa hyung, Kyunieku tak bisa menunggu, dia tak bisa kutinggal lama-lama. Aku tidak peduli, aku akan ke panti asuhan sekarang juga!" Sifat keras kepala Donghae muncul ke permukaan.

"Mwo? Apa yang kau pikirkan Hae?! Kau lupa jika appa sudah menugaskan bodyguard untuk mengawasimu! Kau yang paling berharga untuk appa sekarang Hae, kau akan menjadi pewaris perusahaan, maka dari itu appa sangat protektif terhadapmu. Bahkan untuk keluar dari rumah ini pun, aku tak yakin Hae-ya..." nada bicara Jungsoo melirih, dia benar-benar berharapa nada suaranya yang memelas ini dapat meluluhkan hati Donghae agar tidak keras kepala lagi.

"Aku tidak peduli hyung! Dia dongsaengku, apapun akan kulakukan untuknya. Aku pergi!" Donghae berjalan cepat menuju pintu utama rumah mewah ini.

"Hae! Donghae!"

.

.

.

Donghae berjalan tertunduk sepanjang perjalanannya. Baru saja berkunjung ke panti asuhan, berharap dapat menemui Kyuhyun. Namun apa yang dikatakan oleh ibu asuhnya membuat seluruh sendinya melemas.

"Mianhe, Kyuhyun sudah tidak disini..." suara sarat dengan nada sesal itu membuat jantungnya berhenti sejenak.

"Mwo? Lalu kemana dia?Kemana dongsaengku?" Itu reaksinya, ia tak tahu harus bereaksi apa lagi.

"Saengie...kau dimana.. ?" Suara lirih Donghae sama sekali tak dapat menandingi suara guntur menggelegar di langit yang menghitam di kala senja.

Kepalanya mendongak menatap langit yang begitu luas ciptaan tuhan yang tiada duanya itu. Perlahan air matanya mengalir menuruni pipinya, beruntung, tuhan berbaik hati menghapus air mata itu dengan air suci dari langit yang saat ini pun membasahi tubuhnya, menyamarkan tangisnya hingga tak ada seorangpun yang mebyadarinya.

Hujan adalah salah satu bentuk kasih sayang tuhan terhadap makhluknya. Donghae beruntung dapat menikmatinya meski dengan suasana hati yang buruk.

.

.

.

20 Januari 2015

"Kondisimu menurun lagi Kyu... Kau mau masuk ruan ICU huh?!" Namja cantik bernama lengkap Kim Heechul ini sedang memarahi pasiennya yang tengah terbaring lemah di ranjang rumah sakitnya, pasien yang hanya menatap lemah kearahnya.

"Mianhe hyungie..." sang pasien, Kyuhyun hanya berguman lirih menjawab omelan Heechul "Jangan khawatirkan aku... Aku baik hyungie..."

"Baik apa huh, aku menemukanmu pingsan di samping ranjang Donghae dengan darah tak henti mengalir dari hidungmu! Leukemiamu bertambah parah Kyunie...apa lagi kau menolak pengobatan apapun untuk kankermu. Sebebarnya maumu apa huh?!" Benar yang di katakan Heechul, saat di ke ruangan ICU yang ditempati Donghae untuk sekedar mengingatkan Kyuhyun yang memang selalu berada di sana untuk istirahat. Namun apa yang dilihatnya? Pemandangan sesosok tubuh ringkih terbaring di lantai yang dingin dengan darah terus menerus mengucur dari hidungnya.

"Aku juga ingin merasakan sakit yang dirasakan Donghae hyung... Dia begini karena aku hyung..." jawab Kyuhyun dengan mata yang menerawang jauh ke depan. Ingatannya memutar berbagai kejadian yang mengakibatkan hyungnya seperti ini.

"Ini bukan salahmu, harus berapa kali kukatakan jika Donghae sangat menyayangimu?! Sudahlah kau istirahatlah, aku masih harus memeriksa pasien lain"

.

Sesaat setelah Heechul pergi seseorang berseragam perawat masuk ke dalam ruangan Kyuhyun. Kyuhyun yabg masih belum tertidur sedikit terkaget dengan kedatangan perawat dengan gelagat mencurigakan itu.

"Siapa...?" Tanya Kyuhyun, lagi-lagi dengan suara lirihnya.

Seseorang berseragam perawat itu membuka masker yang dikenakanya. Menampakan wajah yang sangat di kenali oleh Kyuhyun.

"Kau...!"

.

.

TBC...

Note: Mianheeee jika terlalu lama, waktu saya buat ngetik sempit bangettt. Ini semua gara-gara peraturan sekolah saya dari ehmm...ehm...KANJENG NYAI NDORO 'M' sang kepala sekolah baru yang terhormat yang mengubah semua peraturan lama mulai dari jam pulang sekolah jam setengah 4 sore nyampek rumah, hafalan surat al qur'an yang panjang-panjang(menurut saya), dll. Juga gurau saya yang gak tanggung-tanggung ngasih pr matematika 1 bab penuh selama 5 hari di tambah tugas lainnya. Dan saya akan ada tugas bikin makanan ringan buat nilai prakarya. Huwaaa malah curhat...T-T

Terimakasih ke semua yang sudah review, follow, favorite dan baca. Mianhe jika ff ini semakin membosankan huwee...

Ini alurnya sudah berusaha saya cepatkan biar reader nggak bosan. Tapi jika masih membosankan, ya udahlah hehehe. Jangan lupa reviewnya chingudeul, biar saya semangat ngetik lanjutannya ditengah kesibukan sekolah yang seabrek. Ok see you bye bye!