Disclaimer : Love that Touches (Rima Sawinda 'Mimin QiuwenS')
Genre : Conflik, FriendShip, adventure, Love
Pair : Wenwen Han and Zhenwei Wang
QiuwenS Indonesia Hanwenwenfans
Spesial anniv QiuwenS ke 16 bulan
.
.
.
"Ke.. Kenapa aku bisa menyentuhnya?" Kata Zhenwei kebingungan sambil menatap kedua telapak tangannya seakan-akan tak mempercayainya.
Ia kembali menyentuh rambut Wenwen, untuk memastikan apakah ia memang benar-benar bisa menyentuh perempuan itu atau tidak. Dan ternyata... Ia memang bisa merasakan lembutnya helaian rambut perempuan itu di dalam genggaman jemarinya.
"Aku bisa menyentuhmu?" Bisik Zhenwei sambil menatap Wenwen dengan takjub bercampur heran dan bingung.
"Kenapa.. aku bisa menyentuh hantu?.."Bisiknya lagi sambil melepaskan helaian rambut yang berada ditangannya. Beberapa saat setelah ia menatap Wenwen, Zhenwei menarik selimutnya dan menyelimuti tubuh Wenwen sambil tersenyum. Ia beranjak dari tempat tidur dan membawa beberapa bantal untuk diletakkan disofanya. Zhenwei mengambil posisi senyaman mungkin dan berbaring diatas sofa.
.
.
.
Pagi harinya, Zhenwei bangun dan mendapati tubuhnya tertidur di tempat tidurnya seperti semula. Ia mengusap-usap matanya sambil merenggangkan tubuhnya setelah selesai menguap lebar. Ia menatap kesekeliling kamarnya dan mencari sosok hantu yang semalam bersamanya. Tapi tak ia dapatkan sesosokpun yang ada dikamarnya selain ia dan barang-barang miliknya.
"Ternyata hantu itu cuma mimpiku." Kata Zhenwei sambil menghela napas lega. Setelah selesai mengumpulkan nyawa, Ia beranjak dari tempat tidur dan mengambil handuk yang ia gantung di dekat pintu lemari, kemudian dikalungkan handuk tersebut kelehernya.
Saat berjalan menuju sofa, Zhenwei seperti melihat benda putih yang berada diatasnya. Zhenwei mendekatkan dirinya ke sofa tersebut. Ia mengernyitkan dahi begitu mendapati seseorang yang berbaring nyenyak disana. Ia menggaruk-garukkan kepalanya. Dan bertanya-tanya dalam hatinya. Kenapa Wenwen ada disana? Bukankah semalam yang pindah dan tidur kesofa adalah dirinya? Dan ternyata hantu itu benar-benar ada. Padahal Zhenwei sangat berharap itu adalah mimpi konyolnya.
Zhenwei mendekatkan wajahnya kehadapan Wenwen. Ia memperhatikan Wenwen dengan saksama dan seolah menilik setiap lekuk wajah sampai bulu hidung. Tangannya mulai beranjak dan berniat untuk menyentuh Wenwen. Dengan hati-hati, tangannya mulai mendekat pada wajah hantu itu. Saat kulit jemari tangannya akan menyentuh kulit wajah Wenwen, tiba-tiba...
Zuuuuung...
"Tembus!" Seru Zhenwei kaget ketika tangannya menembus wajah Wenwen. Wenwen yang sedang tertidur tersebut langsung membuka matanya karena kegaduhan yang dibuat oleh Zhenwei. Melihat Wenwen yang membuka matanya secara mendadak, membuat Zhenwei terkejut hingga tak dapat menopang tubuhnya sendiri dan jatuh terduduk di lantai. Wenwen langsung membangunkan tubuhnya dan melihat Zhenwei yang duduk lesehan di lantai.
"Apa yang kau lakukan disana?" Tanya Wenwen dengan polos.
"Tidak lihat aku jatuh? Kau bikin orang lain kaget." Wenwen hanya tersenyum pada Zhenwei. Zhenwei menggelengkan kepalanya dan segera membangunkan dirinya. Wenwen hanya menaik turunkan bola matanya ketika melihat Zhenwei berdiri dari atas lantai.
"Lagipula, kenapa kau melihat orang tidur? Mau berbuat yang aneh-aneh ya?" Tuding Wenwen padanya. Zhenwei hanya meneduhkan padangannya dan menatap Wenwen dengan datar.
"Tidak.. Semalam aku yang tidur disini. Kenapa posisinya berubah?" Wenwen menaikkan kedua alisnya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya seolah mengkhawatirkan Zhenwei.
"Kau bermimpi." Singkat Wenwen.
(Cerita sebenarnya).
"Aku tidur disini ya?" Pinta Wenwen sambil berbaring dikasur Zhenwei. Zhenwei mengangguk dan ikut duduk dikasur itu dengan santainya tanpa menghiraukan ekspresi kaget hantu disebelahnya. Wenwen menatap Zhenwei yang berada disampingnya dengan heran.
"Apa maksudmu menatapku seperti itu?" Keluh Zhenwei yang merasa aneh diperhatikan Wenwen seperti itu.
"Tidak.. Tidak.. Tolong letakkan bantal ditengah sini." Sahut Wenwen sambil menunjukkan tempat diantara dia dan Zhenwei.
"Tidak masalah." Kata Zhenwei sambil meletakkan guling diantara mereka. Lalu mengambil ponselnya dan bermain game yang ada didalamnya. Setelah beberapa lama, tak ia dapatkan lagi suara pemuda yang berada didekatnya. Wenwen menoleh Zhenwei yang berada dibelakangnya. Dan mendapati laki-laki itu tertidur pulas dengan ponsel yang masih menyala diatas dadanya. Wenwen langsung mengernyit.
"Haa? Dia tidur?" Keluh Wenwen.
"Bagaimana caranya aku mematikan lampu?" Keluhnya lagi sambil duduk disebelah Zhenwei. Ia menatap pemuda itu dengan kesal.
"Hei manusia! Bangun!" Bentaknya tanpa hasil.
"Hei!" Teriak Wenwen lagi tepat di telinga Zhenwei. Dan hanya direspon oleh Zhenwei dengan pejaman matanya dan suara 'hn' singkat.
"Dasar!" Keluh Wenwen sambil memukul bahu Zhenwei dengan kepalan tangan kecilnya. Tiba-tiba..
Plak!
Seketika Wenwen terkejut. Ia terkejut karena bisa memukul bahu Zhenwei, dan tidak menembusnya. Ia terkejut karena untuk pertama kalinya ia dapat menyentuh seseorang. Dan ia terkejut sejak pertama bertemu dengan pemuda ini. Kenapa dia begitu istimewa? Bisa melihat Wenwen dan mendengarkannya. Wenwen tertawa sambil mendekatkan dirinya pada Zhenwei.
"Lihaatt! Aku tersenyum!" Kata Wenwen sambil menarik kedua pipi Zhenwei hingga bibirnya membentuk sebuah senyuman. Zhenwei mengernyitkan dahinya karena merasa terganggu dengan ulah Wenwen. Ia langsung menggenggam tangan Wenwen hingga membuat perempuan ini terkejut.
"Kau sudah bangun?" Tanya Wenwen pada Zhenwei sambil memberikan ekspresi melongo-nya. Zhenwei hanya menampik tangan Wenwen dari wajahnya dengan mata yang masih terpejam.
"Ternyata masih tidur.." Kata Wenwen sambil menghela napas lega. Wenwen menatap Zhenwei dengan heran. Kenapa ia bisa menyentuh Zhenwei, saat laki-laki ini tertidur? Setelah menatap wajah Zhenwei cukup lama, Ia beranjak dari tempat tidurnya dan pindah kesofa.
(Selesai)
Zhenwei mengernyitkan dahinya. Jadi.. Dia cuma bermimpi saat bisa menyentuh Wenwen semalam. Wenwen hanya menatap respon Zhenwei yang tak sedikitpun mengeluarkan komentar itu.
"Lalu kenapa aku bisa menyentuhmu ya?" Kata Wenwen bermaksud untuk menghilangkan kesunyian yang ada. Zhenwei mendecakkan lidahnya dengan kesal.
"Mungkin saja karena orang yang tertidur itu tidak punya roh didalam tubuhnya. Jadi saat tubuh tidak punya roh, dan cuma jasad saja. Hantu jadi bisa menyentuhnya!" Wenwen terlihat kagum mendengar jawaban asal dari Zhenwei.
"Waah.. Jawaban yang memuaskan sekali." Zhenwei memalingkan wajahnya saat melihat ekspresi riang dan bodoh dari hantu didepannya.
"Jadi.. Pasti ada penyebab kau bisa gentayangan seperti ini." Wenwen mengendikan bahunya, seolah tidak tertarik dengan perkataan penting dari Zhenwei.
"Apakah.. Diluar sana jasadmu menantikanmu? Atau justru, kau benar-benar sudah mati? Dan harus menyelesaikan suatu misi, agar rohmu bisa diterima? Terdengar seperti cerita dongeng klasik" Sambung Zhenwei. Wenwen yang sejak tadi menatap Zhenwei, kini menundukkan kepalanya.
"Mungkin maksudmu ini.. Aku Punya sesuatu. Sepertinya ini bukan milikku." Kata Wenwen sambil mengeluarkan sesuatu dari genggamannya. Zhenwei menilik, berusaha melihat apa yang akan dikeluarkan perempuan itu.
"Cincin?" Setelah mengetahuinya, Zhenwei mengernyit. Ia menatap cincin itu sesaat, lalu kembali menatap Wenwen. "Itu jelas milikmu. Milik siapa lagi!" Wenwen mendengus kesal. Ia kembali memakai cincin itu dijari jempolnya.
"Ini bukan milikku." Zhenwei mendekatkan dirinya pada Wenwen dan menatap cincin itu dengan saksama.
"Apa yang kau lihat?!" Bentak Wenwen sambil menyembunyikan cincin dibelakang tubuhnya.
"Benar. Kalau punyamu, pasti muat dijari manis." Wenwen terdiam sesaat, lalu kemudian mengangguk. "Berikan padaku?" Pinta Zhenwei sambil mengadahkan tangannya.
"Mana bisa, semua yang kupakai ini roh. Tak bisa kau sentuh." Zhenwei menggarukkan kepalanya mendengar kalimat dari hantu ini. Tanpa sengaja tangannya mengenai handuk yang berada dilehernya. Zhenwei menepuk kepalanya sambil berteriak.
"Aku bisa terlambat!" Katanya sambil berlari kekamar mandi. Wenwen hanya menatapnya dengan heran sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kalau kau kuliah, aku ikut yaa?"
"Tidak!" Balas Zhenwei dari balik kamar mandi.
Akhirnya..
"Kau jangan bertingkah yang aneh-aneh. Cuma aku yang bisa melihatmu, aku tidak mau terlihat aneh oleh teman-temanku." Wenwen mengangguk sambil mengikuti Zhenwei berjalan melewati kelas-kelas di universitasnya.
"Zhenwei.. Kau sudah sembuh?" Kata seseorang hingga membuat Wenwen dan Zhenwei menoleh kearahnya.
"Oh, Yi?" Singkat Zhenwei tanpa ingin menjelaskan apapun. Wenwen yang melihat Yi berusaha untuk mendekati Yi yang tidak bisa melihatnya. Entah apa yang ingin ia lakukan, tapi Zhenwei yakin itu pasti adalah hal yang aneh dan menyebalkan.
"Ku dengar kau mengalami kecelakaan tiga hari lalu. Berita kecelakaan itu sampai masuk TV dan koran." Zhenwei terlihat panik saat melihat Wenwen semakin mendekati Yi. Apapun yang akan dilakukan perempuan itu? Zhenwei yakin tentang firasat buruk. Bagaimana kalau Wenwen masuk ke tubuh Yi dan merasukinya? Atau hal yang lainnya?
"Jangan kesitu!" Bentak Zhenwei pada Wenwen, hingga perempuan itu menghentikan langkahnya dan mematung. Yi yang sedang bersama Zhenwei merasa heran dan menoleh kesisi kiri dan kanannya. Memastikan apakah ada orang lain selain dirinya. Setelah ia rasa mereka hanya berdua, Yi menatap Zhenwei sambil mengernyit.
"Kau bicara padaku?" Tanya Yi heran.
"Ah.. Bu.. Bukan.. Ada cicak. Tadi ada cicak." Kata Zhenwei pada Yi sambil tetap memperhatikan Wenwen dengan tajam dan tak berkedip.
"Kenapa? Lagi pula dia tidak bisa melihatku kan?" Zhenwei mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Wenwen.
"Bukan itu yang aku maksud. Menyingkir dari sana!" Bentak Zhenwei pada Wenwen. Mendengar teriakkan Zhenwei, Wenwen hanya menutup kedua telinganya. Yi kembali menatap sekeliling dan terhenti pada pemuda dihadapannya ini. Yi yang benar-benar tidak bisa melihat Wenwen kebingungan dengan sikap Zhenwei. Terlihat dari gerak-gerik anehnya yang sejak tadi menggarukkan kepalanya berulang-ulang.
"Apa?" Zhenwei tersentak, ia kembali terdiam saat menyadari mendapatkan tatapan heran dari temannya, Yi.
"Baiklah, cerewet sekali." Keluh Wenwen sambil kembali dan berdiri di sebelah Zhenwei. Ia sama sekali tidak merasa bersalah setelah membuat Zhenwei terlihat aneh di depan temannya.
"Jangan bicara apapun, jadi aku tidak terlihat aneh!" Bisik Zhenwei sambil mencuri pandang ke arah Yi. Wenwen meletakkan tangan kebibirnya seolah mengunci mulutnya sendiri. Yi kembali mengernyit, begitu melihat Zhenwei seperti berbisik, padahal tidak ada seorang pun disebelahnya.
"Kau baik-baik saja? Sebaiknya kembali kerumah sakit. Kau masih belum pulih? Apa kepalamu terbentur dengan keras? Perbannya juga masih belum dilepas." Kata Yi seolah mengkhawatirkan teman kuliah sekaligus teman Wushunya ini.
"Ah? Ini?" Kata Zhenwei sambil memegangi perbannya. "Tenang, aku baik. Oh ya, kau bicara soal kecelakaan yang masuk koran dan TV kan?" Sambung Zhenwei berusaha mengendalikan kondisi normalnya. Yi menganggukkan kepalanya.
"Dua hari ini aku selalu melihat berita yang sama di TV. Tentang kecelakaan itu, tentang korban-korban yang mati. Yaah, seperti itulah." Jelas Yi secara ringkas namun tidak begitu jelas.
"Aku ingin lihat. Dimana koran yang kau baca itu?" Yi menunjuk ke arah perpustakaan.
"Di perpus. Untuk apa kau baca berita kecelakaan yang kau alami. Itu tidak baik secara psikologis kan?" Zhenwei mengernyit, lalu memukul bahu Yi karena merasa temannya ini bersikap berlebihan padanya.
"Kau kira aku perempuan? Trauma dengan hal seperti itu?" Yi mengusap bahunya sambil menatap Zhenwei dengan heran. "Aku ingin tau apa penyebab kecelakaan itu? Kalau orangnya kutemukan, akan kuhabisi!" Kata Zhenwei sambil memukul telapak tangannya sendiri. Setelah mendengar perkataan Zhenwei, akhirnya Yi tersenyum lega melihat temannya ini.
"Nah! Itu baru Zhenwei! Sesaat ku kira kau lupa ingatan." Sambung Yi sambil membalas pukulan tepat di bahu Zhenwei. Wenwen hanya mengernyit melihat dua pemuda yang saling pukul ini.
"Apanya yang bagus? Punya teman aneh, temannya malah senang." Gumam Wenwen hingga membuat Zhenwei menatapnya tak berkedip. Setelah itu, Zhenwei kembali memfokuskan pandangannya pada Yi.
"Aku ada kelas sebentar lagi." Kata Zhenwei pada Yi. Yi langsung melihat jam yang ada ditangannya.
"Aku juga. Nanti kubawakan korannya untukmu." Kata Yi sambil bergegas meninggalkan Zhenwei dan menuju ruang kelasnya. Wenwen melambaikan tangannya pada Yi, dan mendapat tatapan sinis dari pemuda berbadan atletis disebelahnya.
"Dia tidak bisa lihat!" Singkat Zhenwei sambil meninggalkan Wenwen, dan masuk ke ruang kelasnya.
"Memangnya kenapa?" Keluh Wenwen sambil mengikutinya masuk ke dalam kelas.
...
Zhenwei keluar dari kelas sambil memegangi kepalanya. Ia terlihat stres sehari bersama Wenwen. Bagaimana tidak, Wenwen membuat Zhenwei membentak dosennya. Melemparkan temannya dengan pena. Bicara sendiri saat orang-orang sedang sibuk mencerna materi. Untung saja ia tidak dikeluarkan dari kelas. Mereka sangat memaklumi dan mengkhawatirkan kecelakaan yang dialami Zhenwei. Karena selama ini Zhenwei tidak pernah bersikap abnormal seperti ini.
"Kau ini tidak bisa diam? Teman-temanku pasti menyangka aku gila karena kepalaku terlalu keras terbentur!" Keluh Zhenwei sambil berulang-ulang menghela napas dan menggelengkan kepalanya. Wenwen menyatukan kedua tangannya seperti orang yang sedang menyembah.
"Maaf.. Aku bukan tidak bisa diam, tapi aku tidak biasa diam." Kata Wenwen sambil membungkuk berkali-kali. Zhenwei mendengus kesal. Tapi mau bagaimana lagi? Rasanya ingin sekali ia melemparkan roh Wenwen ke akherat. Sejak kemunculan Wenwen, ia jadi merasa terganggu.
"Besok kalau kau mau ikut denganku, jangan melakukan hal-hal yang aneh." Wenwen langsung tersenyum sambil berkata.
"Iya! Aku janji!"
.
.
.
Dan besokknya...
Zhenwei kembali keluar dari dalam kelasnya sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. Dan di lihat dari hasil acak-acak rambutnya kali ini menandakan bahwa hari ini lebih buruk daripada kemarin. Wenwen hanya mengikutinya berjalan dari belakang sambil memasang ekspresi polosnya.
"Kau marah ya?" Tanya Wenwen pelan. Zhenwei berhenti mengacak rambutnya dan menatap Wenwen datar.
"Tidak!" Seru Zhenwei setengah berteriak dan berjalan meninggalkan Wenwen. Dengan sigap Wenwen berlari menyusul Zhenwei. Walaupun di bentak, dimarahi, diteriak-teriakan, mau bagaimana lagi? Cuma pemuda ini yang bisa melihat dan mendengarkannya. Jadi, tetap ikuti saja. Itu prinsip si hantu.
"Zhenwei!" Kata seseorang hingga Zhenwei dan Wenwen menoleh sambil menghentikan langkahnya.
"Kau bawa korannya?" Tanya Zhenwei begitu melihat orang yang memanggilnya itu adalah Yi.
"Eh, kau lagi?" Kata Wenwen sambil tersenyum dan sok akrab.
"Bawa. Ini." Kata Yi sambil memberikan koran itu pada Zhenwei. "Kita baca dikantin saja. Shijia sudah menunggu disana." Sambung Yi lagi. Zhenwei mengambil koran itu sambil berjalan mengikuti Yi.
Sambil berjalan menuju kantin, Zhenwei membaca sekilas koran yang ia bawa. Berita utamanya adalah kecelakaan yang ia alami tiga hari yang lalu. Ia melihat gambar-gambar tentang mobil-mobil yang terbalik, hancur, orang-orang yang terluka dan penuh darah.
Hingga mata Zhenwei terfokus pada halaman kedua koran. Beritanya berisi tentang nama-nama korban yang berhasil terangkum. Zhenwei tertawa begitu melihat namanya juga ada disana. Apa mereka juga melihat foto KTP Zhenwei? Untung saja pemuda itu sudah terlahir dengan karismatik dan kegantengannya, jadi tidak akan malu-malu jika menunjukkan foto KTP-nya pada orang lain.
"Apa yang kau tertawakan?" Tanya Wenwen sambil berusaha mengintip koran yang dibaca Zhenwei. Namun Zhenwei menyingkirkan dan menjauhkan koran itu dari Wenwen dengan cara mengangkatnya tinggi-tinggi, agar si hantu tidak bisa mencapainya.
Setelah tertawa, seketika senyuman itu sirna dari wajah Zhenwei ketika melihat sesuatu yang tertulis di dalam koran hingga membuat matanya terbelalak. Ia mengernyitkan dahinya hingga kedua alisnya bertautan. Matanya terfokus pada sebuah tulisan, yaitu..
To be continue..
