Nichijou, Terinspirasi dari Assassination Classroom live action. Standard warning applied, all characters belongs to Matsui Yusei.
Summary: (extra chapter) Semua laki-laki Kelas E mendapatkan Coklat Valentine. Kecuali, Karma dan Okajima. /KaruRi chapter 159 manga based/.
a/n ini extra chapter, jadi tidaks based on la-nya. Khusus yang ini chap. 159 manga okay;) yang ndak baca manga plus gamau kena spoiler langsung back yaapps. Dan kalo ada typo/segala macam mohon dimaafkan karena ini ngetik ngebut.
SINI MAICCHI KALO MAU BEGAL NYANEE –REQUEST MU SETENGAH JALAN. INI MALAH BIKIN EXTRA CHAPTER.
.
Kayano mengulurkan kedua tangannya, untuk memberikan sebuah coklat valentine pada Nagisa. "Terima kasih… karena sudah menemaniku selama ini,"
Nagisa sedikit protes dengan ucapan terima kasih Kayano, namun gadis itu tidak memperdulikannya dan mengucapkan selamat tinggal. Di tambah dengan kalimat penyemangat untuk ujiannya. Tangannya dilambai kecil dan kakinya melangkah keluar kelas.
Di luar, iris toskanya melihat Karma dan Rio sedang berjongkok di dekat jendela kelas. Kayano melempar senyuman miring dan pergi pulang. Sepasang gold orbs Karma memperhatikan punggung terlapis mantel musim dingin Kayano yang makin menjauh.
"Gadis yang tangguh. Ia mengorbankan perasaannya sendiri demi orang lain. Seperti Yukimura-sensei."
Rio menyenderkan punggungnya di dinding kelas E. "Ah, iya memang. Karena itu aku tidak bisa merebutnya."
Karma menoleh ke Rio. "Apa?"
"Tidak." Ucapnya. "Ngomong-ngomong, hampir semua anak laki-laki kelas E mendapatkan coklat ya.." Rio mencari topik pembicaraan. "Bahkan guru kita juga mendapatkannya."
Pemuda itu mengangguk. "Maehara kejar-kejaran dengan Okano untuk mendapatkan coklat, Sugino dari Kanzaki, Chiba dari Hayami, Isogai dari Kataoka, Hazama memberi kepada Terasaka, Yoshida, Muramatsu dan Itona…"
Rio terkekeh. "Yang tidak mendapat coklat sepertinya Okajima ya?"
"Aku tidak menyangka si dungu Terasaka mendapat coklat." Canda Karma. "Bagaimana dengan Sugaya?"
"Oh, aku memberikannya." Jawab Rio santai. "Ada apa?"
Karma terdiam sejenak. Menggeleng kecil. "Oh. Jadi dua orang yang tidak mendapatkan coklat."
"Dua?" Rio menegapkan punggungnya. "Okajima kau hitung dua?"
"Lah, 'kan aku tidak dapat coklat." Pemuda itu menjawab datar.
"Hah?" sepasang iris senada langit musim panas terbelak. "Lah, tadi, sewaktu kita menemani Kayano melihat valentine yang lain –kau menunjukan sebuah coklat berbentuk hati –dan kau bilang itu dari Okuda?"
"Hah?" Karma berbalik mengatakan 'hah'. "Makanya simak dengan baik saat orang berbicara! Coklat itu dicampur dengan racun! Aku memintanya membuat itu untuk ku berikan ke Terasaka!"
"Oh." Rio memberi jarak lebih dari Karma. "Kau sekarang penyuka laki-laki." Sambungnya (sok) inosen.
"Bukan itu maksudnya!"
Gadis pemilik surai pirang itu tergelak. "Aku bercanda Karma! Jangan menanggapinya terlalu serius! Atau jangan-jangan kau benar-benar sudah 'belok' yaa?" Rio kembali tergelak.
Ingin rasanya Karma menyumpal mulut Rio dengan sesuatu –jaket yang ia pakai lalu digulung misalnya. Namun ia hanya membawa satu jaket –dan cuaca sedang dingin.
Rio yang selesai tertawa langsung merangkak mendekati Karma. Ia memberi sedikit jarak, lalu duduk dengan kedua kaki di tekuk. Tangannya menyelusup masuk ke dalam jaket rajut kuningnnya –mengeluarkan sebuah kotak berukuran mini yang sewarna dengan warna rambut Karma. Dengan tambahan motif tartan di bagian tutupnya, dan pita kuning sebagai pemanis.
Gadis itu menimang-nimang kotak kecil yang ia pegang.
"Aaah. Aku punya coklat buatan sendiri… tadinya sih mau kumakan, tapi.." Rio dengan jenaka melirik ke arah Karma. Pemuda itu juga melirik ke arahnya.
"–ada pemuda kesepian yang tidak mendapatkan coklat. Eh wajar karena dia 'belok' sih." Gadis itu menyambung kalimatnya dengan kata-kata yang sedikit menjijikan bagi Karma di bagian akhirnya.
"–karena Nakamura Rio adalah gadis yang baik hati, ia bersedia memberikan coklat yang rasanya setara dengan coklat di opera. Atau coklat Swiss." Rio menjulurkan tangannya ke Karma.
"Aku baru tahu kalau kau. Gadis. Yang. Kelewat. Narsis." Komentar Karma. "Ittadakimasu."
Pemuda itu membuka kotak kecil berisikan coklat dari Rio. Sebelumnya, ia mengamati empat butir coklat dengan irisan almond on the top. Rio risih melihat coklat buatannya terlihat diremehkan.
"Kalau kau tidak mau, aku dengan sukarela akan menghabiskannya."
"Oh, tidak perlu repot." Ucap Karma. "Aku hanya takut ada sianida di sini. Itu saja."
"Hei hei." Rio menggeleng. "Kalau aku tahu bagaimana cara membuatnya, tentu saja sudah kucampurkan." Candanya. Ia menyomot satu coklat Karma.
"Hei! Ini kan sudah menjadi milikku!"
Rio menjilati bibirnya. "Sebagai bukti kalau coklatku tidak beracun. Ngomong-ngomong aku baru sadar kalau coklatku enak! Aaah –Karma bagi satu lagi!"
"Haah?" Karma kembali ber'hah' ria. "Apa itu artinya kau sama sekali belum mencicipi coklat ini?" Rio berusaha keras menyomot sebutir coklat –sia-sia karena Karma selalu menepisnya. "Jangan! Nanti tinggal tiga!"
Gadis itu mengangguk. "Hanya kucicipi sedikiiiit sekali. Itu tidak dihitung sebagai mencicipi." Ujarnya. "Lagipula, kau sampai sebegitunya demi coklatku ya? Hahaha! Besok akan kubawakan lagi deh. Janji."
Pemuda itu terdiam sejenak, lalu menggeleng kecil. "Tidak perlu, terima kasih." Ia mengunyak sebutir coklatnya.
"Aku tahu pasti kau meminta kue di Opera untuk white day, kan."
"Eeeeeh? Ketahuan?"
