Disclaimer : Love that Touches (Rima Sawinda 'Mimin QiuwenS')
Genre : Conflik, FriendShip, adventure, Love
Pair : Wenwen Han and Zhenwei Wang
QiuwenS Indonesia Hanwenwenfans
.
.
.
Setelah tertawa, seketika senyuman itu sirna dari wajah Zhenwei. Ia mengernyitkan dahinya hingga kedua alisnya bertautan. Matanya terfokus pada sebuah tulisan.
"Aku pergi duluan." Kata Zhenwei secara mendadak kepada Yi, sambil membalik haluan.
"Tidak menemui Shijia dulu? Sudah sampai kantin kan?" Kata Yi sambil menghentikan langkahnya dan menatap Zhenwei.
"Lain kali." Singkat Zhenwei sambil berjalan cepat meninggalkan Yi. Dengan segera Wenwen berlari menyusul Zhenwei, walaupun sebenarnya, roh perempuan ini masih ingin berada di kantin. Yi hanya terpaku menatap punggung temannya yang semakin menjauh.
"Hei.. Tunggu aku!" Seru Wenwen sambil terengah-engah. Zhenwei tetap berjalan dengan pasti tanpa membalas panggilan Wenwen.
"Heii.. Bukannya ini parkiran?" Tanya Wenwen sambil menatap sekelilingnya yang dipenuhi dengan kendaraan roda dua dan roda empat. Zhenwei membukakan pintu mobil untuk mempersilahkan Wenwen masuk. Tanpa berkata, Wenwen bergegas masuk sambil menatap Zhenwei dengan heran. Zhenwei menutup pintu mobilnya, dan masuk lewat pintu yang satunya. Ia menoleh kekiri dan kekanan sebelum bersuara.
"Aku ingin bicara. Kalau disana, mereka akan kebingungan melihatku bicara sendiri." Wenwen mengangguk begitu Zhenwei selesai bicara, seolah mengerti apa yang dikatakan oleh Zhenwei, padahal ia hanya mengangguk-angguk saja.
"Apa yang ingin kau katakan?" Tanya Wenwen penasaran.
"Lihat ini." Kata Zhenwei sambil membuka halaman kedua koran. Wenwen melihat koran yang ditunjukkan Zhenwei padanya. Mata hantu ini mulai menilik tulisan-pertulisan dalam koran.
"Nama-nama korban kecelakaan? Apa gunanya kau berikan ini padaku?" Keluh Wenwen sambil cemberut.
"Ck, baca sampai selesai. Kalau kau manusia, akan ku jambak rambutmu!" Ancam Zhenwei kesal hingga membuat Wenwen terperanga. Wenwen kembali melanjutkan membaca koran yang ditunjukkan Zhenwei tadi.
Matanya melirik ke kiri dan ke kanan, setelah beberapa detik, matanya terfokus pada satu nama. Saat membaca nama Zhenwei Wang (20th) Wenwen malah tertawa dengan keras.
"Kau minta aku baca ini, supaya bisa melihat namamu yang muncul di koran? Kau ini lucu sekali." Kata Wenwen sambil tertawa geli dan memegangi perutnya. Zhenwei mendecakkan lidahnya dengan ekspresi sedatar mungkin. Ia menatap Wenwen tanpa berkedip hingga perempuan ini menghentikan tertawaannya yang mengganggu.
"Baik.. Aku baca sampai selesai." Sambung Wenwen saat menyadari Zhenwei tidak sedang bermain-main. Wenwen kembali menilik setiap isi tulisan yang ada di koran.
Tak berapa lama, mata Wenwen membesar. Ia mengerjap-erjapkan matanya begitu membaca sebuah nama yang tak asing baginya. Apakah itu benar? Siapakah orang yang mempunyai nama itu di China Tiongkok?
"Wenwen Han (20th) ?" Kata Wenwen dengan nada suara yang lirih. Ia terdiam beberapa saat dengan mata yang berkaca, lalu kemudian membalas tatapan Zhenwei.
"Apa ini aku? Ada berapa banyak orang yang punya nama yang sama? Jadi? Apakah ini aku?" Kata Wenwen dengan ekspresi yang melongo.
"Jadi.. Aku juga ada dalam tragedi itu?" Zhenwei tak membalas tatapan Wenwen padanya. Ia tidak pernah kenal dengan makhluk yang bernama perempuan sebelumnya. Jadi.. Diam adalah sikap yang tepat baginya.
"Jadi? Apakah aku benar-benar sudah mati?" Zhenwei tetap tak bergeming. Ia tetap diam dengan pandangan lurus ke depan.
"Apa aku sudah mati? Jawab aku?" Bentak Wenwen secara paksa hingga membuat telinga pemuda disebelahnya ini sakit. Zhenwei hanya meringis saat Wenwen berteriak di dekat telinganya.
"Mana aku tau! Disitu cuma tertera nama-nama korbannya! Bukan nama orang-orang yang mati! Lagipula, nama itu banyak sekali di China Tiongkok.." Wenwen menutup kedua telinganya. Tangannya bergetar hebat, dan setitik air mata mulai terlihat diujung sudut matanya. Zhenwei yang menyadari hal itu, mulai mengkhawatirkan Wenwen, walaupun sebenarnya ia tidak berniat untuk melakukan apapun.
"Kalau aku mati? Bagaimana?" Kata Wenwen seolah tak mendengar ucapan Zhenwei.
"Kenapa aku masih di dunia? Apa kesalahan yang telah ku perbuat?" Sambungnya hingga membuat kerutan tipis pada dahi Zhenwei.
"Apa yang kau takutkan? Kau sudah jadi hantu pun masih takut juga?" Kata Zhenwei seenaknya tanpa memikirkan perkataannya ini sangat menyakitkan hati.
"Kau tau apa?!" Bentak Wenwen hingga Zhenwei terdiam.
"Apa kau tau rasanya mati? Menjadi roh? Kau hanya melayang-layang seorang diri, kesepian, tak ada yang mendengarkanmu walaupun kau berteriak dan menangis sekalipun. Kau juga tidak bisa melihat sesama hantu, karena perbedaan gelombang roh yang terpancar. Kau cuma sendiri! Apa kau tau rasanya?!" Zhenwei terpaku begitu melihat perempuan yang berada disebelahnya ini meneteskan air mata. Jadi.. Apakah aku yang membuat perempuan ini menangis? Pikir Zhenwei dalam benaknya.
"Apa yang telah ku lakukan saat aku hidup? Apa yang salah padaku?" Sambung Wenwen lagi smbil menutup mulutnya dengan tangan hingga air matanya ikut mengalir pada tangannya tersebut. Zhenwei belum berniat untuk bicara, tapi kalau ia tidak melakukannya, perempuan ini tidak akan diam kan?
"Diamlah! Kau tidak sendiri lagi kan?" Wenwen berhenti merengek dan menatap Zhenwei begitu pemuda disebelahnya ini buka suara.
"Aku bisa melihatmu menangis dan tertawa. Aku bisa mendengarkanmu berteriak, merengek, membentak, membantah, dan marah. Aku bersamamu setiap waktu, kau juga selalu berada di sisiku. Kau tidak sendiri. Ada aku kan?" Bujuk Zhenwei pada Wenwen hingga mata perempuan ini terbelalak.
"Tapi.." Zhenwei terdiam sambil menatap Wenwen dengan heran. "Kau tidak bisa menyentuhku." Sambungnya lagi.
Zhenwei menatap Wenwen dengan sendu sambil bergerak seolah menghapus air mata Wenwen yang mengalir diwajahnya.
"Apa yang kau lakukan?" Zhenwei tersenyum, ia meletakkan jemarinya seolah benar-benar dapat menyentuh dan menghapus air mata Wenwen walaupun sebenarnya ia tidak menyentuh apapun.
"Aku, menghapus air matamu." Jelas Zhenwei terhadap apa yang ia lakukan. Wenwen hanya menatap Zhenwei dengan khawatir.
"Kau tau, tanganmu tak menyentuhku sedikitpun." Zhenwei mengangguk dengan ekspresi datar. Apa perempuan ini tidak bisa menggunakan perasaannya?
"Walaupun aku tidak bisa menyentuhmu, bahkan menggenggam tanganmu, ataupun menghapus air matamu.. Tapi... aku bisa memeluk hatimu." Kata Zhenwei. Perkataan Zhenwei tadi membuat Wenwen kembali terbelalak dan diam untuk waktu yang lumayan lama. Wenwen tersenyum menatap Zhenwei sambil menghapus air matanya setelah ia rasa hatinya cukup terhibur.
"Aku tidak percaya, kalimat seindah itu keluar dari mulutmu." Kata Wenwen hingga membuat perubahan pada ekspresi Zhenwei yang tadinya lembut menjadi datar dan sedikit kesal.
.
.
.
Pagi-pagi sekali Zhenwei sudah mandi, sarapan, dan memanaskan mesin mobilnya. Wenwen yang terbangun karena aktivitas Zhenwei yang sengaja dibuat berisik oleh sang pemuda itu masih enggan bangun, dan hanya duduk di sofa sambil menatap Zhenwei yang berjalan kesana dan kemari.
"Hari ini aku kembali kerumah sakit untuk mengganti perban dikepalaku." Kata Zhenwei yang secara tidak langsung ingin mengajak hantu cerewet ini. Wenwen menatap perban yang membungkus kepala Zhenwei masih putih dan bersih.
"Aku rasa belum waktunya diganti." Sambung Wenwen hingga membuat Zhenwei menoleh sesaat kearahnya.
"Iya. Sebenarnya aku harus kembali dua hari lagi." Zhenwei menghentikan kalimatnya yang menggantung.
"Lalu kenapa?" Wenwen mengangkat satu alisnya.
"Aku.. Ingin bertemu dengan dokter yang merawatku. Saat aku bilang ingin pulang. Sepertinya ia sedih, matanya berkaca-kaca, dan terlihat kesepian. Aku jadi kasian." Wenwen malah tertawa seusai Zhenwei berbicara dan membuat Zhenwei menatapnya dengan heran karena mendapatkan ekspresi tidak terduga darinya.
"Kau jatuh cinta pada dokter yang merawatmu ya?" Tuding Wenwen hingga Zhenwei mendecakkan lidahnya.
"Dia laki-laki." Singkatnya.
"Oya.. Kau tidak punya pacar ya?" Zhenwei menggeleng.
"Kenapa tidak punya?" Zhenwei mengendikan bahunya.
"Pantas saja aku selalu melihat teman-teman yang mengkhawatirkanmu adalah laki-laki. Ternyata kau tidak punya pacar ya?" Zhenwei meringis.
"Kenapa kau cerewet sekali?"
"Aku kan cuma bertanya." Kata Wenwen sambil mengerucutkan bibirnya.
...
Dirumah sakit.
"Dokter yang merawatmu beberapa hari yang lalu ya? Dokter Han kan?" Tanya suster itu. Zhenwei menganggukkan kepalanya.
"Dia sedang merawat seorang pasien. Sepertinya tidak bisa mengganti perbanmu. Biar suster yang lain saja yang melakukannya. Lagi pula cuma ganti perban saja kan?" Zhenwei menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu, tidak usah." Kata Zhenwei dengan ekspresi yang kecewa.
"Zhenwei?" Kata seseorang dari belakang Zhenwei. Merasa kenal dengan si pemilik suara, Pemuda ini pun menoleh kebelakang.
"Ternyata kau." Kata Zhenwei sambil tersenyum sinis.
...
"Harusnya kau kembali dua hari lagi kan? Kenapa kembali hari ini?" Kata dokter itu sambil membuka perban di kepala Zhenwei.
"Kalau tidak suka, katakan saja!" Keluh Zhenwei. Dokter itu menepuk bagian memar di kepala Zhenwei hingga pemuda ini meringis.
"Apa yang kau lakukan?" Protes Zhenwei dan hanya dibalas tertawaan oleh sang dokter. Wenwen hanya diam sambil menatap dokter dan Zhenwei yang kelihatan sudah sangat dekat.
"Kau berisik dan keras kepala. Jadi bagian memarnya ingin ku perlebar, agar kepalamu tidak sekeras batu." Zhenwei langsung menampik tangan dokter Han.
"Kau seorang penyembuh atau seorang pembunuh?"
"Diamlah. Akan ku obati lukamu ini agar cepat sembuh." Kata dokter Han sambil mengusapkan luka Zhenwei dengan obat.
"Mm.. Dokter, ku dengar kau merawat seorang pasien. Siapa dia?" Tanya Zhenwei.
Beberapa saat setelah bertanya, Zhenwei mengadahkan kepalanya begitu menyadari tak ada usapan-usapan dikepalanya lagi. Dokter itu terlihat kembali bersedih.
"Kau menangis?" Tanya Zhenwei lagi. Dokter itu menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku.. Merawat putriku sendiri." Singkat dokter dengan suara yang pelan. Zhenwei langsung mengernyit.
"Ma.. Maaf. Aku tidak bermaksud begitu." Kata Zhenwei yang merasa tidak enak telah mengganggu privasi dari orang lain.
"Dia anak yang ceria.." Kata Dokter memulai kisahnya. Wenwen terlihat duduk manis di dekat sang dokter seolah-olah ingin mendengarkan cerita dongeng dari seorang ayah.
"Dia sangat baik. Dan, dia seusia denganmu." Wenwen mengernyitkan dahi.
"Berarti masih muda ya dok?" Tanya Wenwen, walaupun ia tau, dokter itu tidak akan meresponnya karena tidak bisa mendengarkan suaranya.
"Dia suka merengek. Tidak bisa diam. Selalu mengganggu konsentrasiku." Zhenwei langsung menoleh kearah Wenwen.
"Apa maksudmu menatapku?" Keluh Wenwen.
"Terkadang dia bisa tersenyum sambil menangis, dan menangis sambil tersenyum dalam waktu yang bersamaan. Dia sangat mudah dibujuk saat menangis. Setelah menangis, ia akan tersenyum dan melupakan kesedihannya." Wenwen menatap dokter itu dengan sendu.
"Aku selalu sibuk. Jadi, dia sangat suka mencari perhatian dengan cara yang lucu. Aku selalu melarangnya berpacaran, karena aku tidak bisa menerima dan melihat ia bersama pria lain selain ayahnya ini." Wenwen terdiam. Ia menatap orang ini sambil mengernyitkan dahi. Seolah memaksa agar mengeluarkan air mata.
"Tapi.. Aku benar-benar ayah yang egois. Aku tidak punya waktu untuk bersamanya. Selalu sibuk bekerja dan melupakannya. Ia selalu menungguku pulang hingga tertidur diatas sofa. Hingga akhirnya, aku kehilangan senyumannya, tangisannya, dan semuanya. Aku jadi menyadari kalau hidupku hampa tanpanya." Zhenwei merasakan ada tetesan air yang jatuh diatas rambutnya. Apakah.. Sang dokter menangis?
"Apakah kali ini.. Kau benar-benar sedang menangis?" Tanya Zhenwei dengan hati-hati. Sang dokter tak menjawab sedikitpun.
"Lalu, apa yang terjadi dengan putri yang kau rawat itu?" Sang dokter berhenti mengusapkan obat. Ia membungkus kepala Zhenwei dengan perban yang baru.
"Dia.. Terbaring tak sadarkan diri." Mata Zhenwei terbelalak. Ia dan dokter Han terdiam untuk waktu yang lumayan lama. Hingga membuat ruangan itu sunyi dan hanya memperdengarkan suara jarum jam yang berdetik.
"Bolehkah.. Aku menjenguknya bersamamu?" Tanya Zhenwei berusaha melepas kesunyian. Walaupun sebenarnya Zhenwei tidak berniat untuk melakukan hal itu, tapi ia hanya tidak ingin dokter itu sedih dan kesepian.
"Aku sudah selesai mengganti perbanmu." Kata dokter itu seolah mengalihkan pembicaraan dan tidak menjawab permintaan Zhenwei. Zhenwei jadi merasa aneh, seolah terlalu ingin ikut campur masalah orang lain.
"Maaf kalau aku terlalu ikut campur." Dokter yang telah membereskan peralatannya berjalan kedepan pintu.
"Apa? Bukannya kau ingin ikut denganku menjenguk putriku?" Zhenwei tersenyum. Rupanya dokter ini mengizinkan dirinya untuk masuk ke dalam kehidupannya.
"Tunggu." Kata Zhenwei sambil berjalan mengikuti sang dokter.
Saat berjalan menuju ruang kamar, Wenwen menghampiri Zhenwei dan berjalan disebelahnya. Tanpa sengaja, Zhenwei melihat tangan Wenwen bergetar, namun perempuan ini berusaha menenangkan dirinya. Menyadari hal itu, Zhenwei berbisik kepada Wenwen.
"Kenapa? Gelisah sekali?" Bisik Zhenwei tanpa mendapat tatapan balasan dari Wenwen.
"Aku merasa.. Dirumah sakit ini, ada suatu tekanan yang sangat besar. Jadi membuat tubuhku bergetar hebat." Kata Wenwen sambil melipat kedua tangan di dadanya.
"Aku tau itu tekanan apa?" Wenwen mendekat seolah mendesak Zhenwei.
"Apa itu?!" Seru Wenwen bersemangat.
"Kau merasakan tekanan hantu lain. Dirumah sakit kan ada yang namanya kamar mayat." Wenwen berhenti seketika. Dan membiarkan Zhenwei tetap berjalan bersama dokter itu dihadapannya.
"Dia benar juga." Gumam Wenwen. "Heei Zhenwei! Tunggu aku!" Sambungnya lagi sambil berteriak dan berlari menyusul Zhenwei.
"Dok, kalau aku boleh bertanya.. Apa yang terjadi pada putrimu? Sampai bisa seperti itu?" Tanya Zhenwei. Wenwen berhasil berlari menyusul Zhenwei dan kembali berjalan disebelahnya.
"Dia, adalah korban kecelakaan yang juga menimpamu beberapa waktu yang lalu. Sayangnya nasibnya tidak seberuntungmu." Zhenwei kembali terdiam. Dia hanya bisa melihat punggung dokter yang berjalan dihadapannya tanpa mengetahui, ekspresi apa yang sedang diperlihatkan sang dokter pada saat itu.
"Hei Zhenwei.. Aku merasa semakin tertekan. Mataku juga sakit, silau sekali." Keluh Wenwen sambil mengusap-usap matanya. Zhenwei hanya menatapnya tak berkedip.
Krieeet..
Pintu ruangan terbuka. Menampakkan ruangan yang sangat biasa dan normal. Banyak bunga-bunga yang diletakkan di atas meja. Peralatan medisnya begitu lengkap dan akurat. Zhenwei masih berdiri di luar ruangan tanpa berniat untuk menginjakkan kakinya memasuki ruangan itu.
Sementara Wenwen, ia melakukan hal yang hampir sama dengan Zhenwei. Bedanya, kalau Zhenwei menilik setiap isi sudut ruangan, Wenwen hanya memejamkan matanya dan menutupnya dengan kedua telapak tangan.
"Masuklah.. Dia putriku.." Kata dokter yang telah berada di sebelah seorang perempuan yang berbaring diatas ranjang.
Zhenwei mulai melangkahkan kakinya dengan perlahan, memasuki ruang dan menghampiri sang dokter. Setelah berada di dekat sang perempuan, Zhenwei menatap wajahnya dengan seksama. Ia mengerjapkan matanya sambil mengernyitkan dahi. Apakah yang ia lihat ini? Apakah itu benar? Seketika wajah Zhenwei berubah drastis, begitu melihat orang yang berbaring diatas kasur tersebut adalah...
"Wenwen Han?"
To be continue..
