Tittle: The Pass Chapter 7
Cast: Cho Kyuhyun, Lee Donghae as Cho Donghae, Park Jungsoo and other
Genre: brotheship, family, sad (maybe)
.
.
Warning: OOC, typos, author masih baru, cerita pasaran, alur membingungkan, membosankan dan kekurangan lainnya.
.
Note: Mianhe sekali chingudeulllll, chap kemarin hancur banget, apalagi ada typo fatal di tahun yang harusnya 2015 malah 2004, jongmal mianhe...bow!
Mianhe jika kelanjutan ff ini makin membosankan dan membingungkan. Terimakasih sekali buat yang udah review. Saya akan berusaha memperbaikinya chingudeul. Semoga chap ini tidak mengecewakan...bow! Bow!
.
This story is mine
All cast milik tuhan dan diri mereka sendiri
.
.
Happy reading^_^
.
.
28 Agustus 2004
"Hey! Siapa namamu?" Tanya Heechul dengan nada sedikit sebal pada anak kecil di hadapannya. Anak kecil yang masih terbaring di kasur rumah sakit. Anak kecil yang baru saja sadarkan diri setelah seharian menutup mata.
Heechul mulai berteriak, ia bukanlah orang yang sabaran, dan anak kecil ini sama sekali tak mau membuka suara sejak tadi "Yak! Aku tanya siapa namamu kenapa hanya diam saja huh?!" Teriakan Heechul membuat makhkuk kecil itu sedikit berjengkit kaget.
Tak lama kemudian suara isakan pelan terdengar. Suara isakan yang berasal dari Kyuhyun. Isakan itu meluncur begitu saja.
"Hiks...hyungie...hiks..." Kyuhyun masih terisak dengan suara lemahnya. Sesekali mulutnya melafalkan seseorang yang teramat ia rindukan.
Heechul menggaruk kepalanya bingung. Ah bagaimana ini, ia tidak pernah berhadapan dengan anak kecil. Bayi saja akan langsung menangis melihat wajah sangarnya.
Perlahan Heechul mendekati Kyuhyun dan berujar pelan "Hey jangan menangis... Apa hyung menakutkan untukmu?"
Heechul memberanikan diri mengelus kepala Kyuhyun mencoba menenangkan. Namun itu tak membuat Kyuhyun menghentikan tangisnya.
"Hisk...Hae hyung...Hae...hiks...hyungie..." bocah itu tertunduk.
"Apa yang kau butuhkan hmm?" Mendengar nada bicara lembut itu membuat Kyuhyun memberanikan diri Mengangkat kepalanya, menatap seseorang yang sempat membuatnya takut.
"Hae hyung..." Kyuhyun berkata pelan.
Mendengar Kyuhyun menyebut-nyebut 'Hae hyung' membuat Heechul bingung. Siapa pemilik dari nama itu.
"Hae hyung itu siapa hmm?" Melihat Kyuhyun mulai mau berbicara membuat Heechul sebisa mungkin memanfaatkan keadaan ini untuk mengorek identitas Kyuhyun yang sebenarnya.
"Hiks...itu hyungnya..." Kyuhyun menunjuk dirinya sendiri.
"Oh begitu. Kalau boleh tahu, siapa namamu? Orang tuamu? Dan dimana kau tinggal?"
Kyuhyun menggeleng, ia masih ingat jelas pesan sang umma untuk tidak memberitahukan identitasnya kepada orang asing secara sembarangan. Dan saat ini Heechul masihlah orang asing untuknya.
"Arra kalau kau masih belum mau memberitahunya. Tapi jangan takut, hyung tidak akan menyakitimu. Kau bisa memanggilku Heechul hyung"
Dengan hati-hati Heechul meraih tubuh ringkih itu ke dalam pelukannya. Kyuhyun tak menolak, kelihatannya ia sudah mulai nyaman dengan keberadaan Heechul.
.
.
.
"Bodoh kau!"
"Mwo? Apa maksudmu?"
"Kau benar-benar bodoh sudah mengadopsinya!"
"Hey Kim Yura! Kau lupa siapa yang mengusulkan untuk mengadopsi anak itu huh?! Jangan main melimpahkan kesalahan padaku!"Tuan Kim sedikit membentak, ia tidak suka dengan apa yang dikatakan istrinya. Ini bukan sepenuhnya kesalahannya.
"Baik-baik kita yang salah. Kau tidak perlu membentakku begitu!'
Nyonya Kim mengusap wajahnya kasar. Yeoja tambun itu berkacak pinggang sambil berjalan kesana kemari, sambil berpikir.
Yah, tuan dan nyonya Kim telah mengetahui jika Kyuhyun masuk rumah sakit. Tentu saja berita itu mereka dapatkan dari Heechul.
Mereka bergegas menuju rumah sakit tempat Kyuhyun dirawat dan yah, mereka mengetahui jika anak yang mereka adopsi dengan tujuan awal mereka yang licik itu tidak benar-benar sehat. Suatu penyakit mematikan bersarang di tubuh kecil itu. Leukemia.
"Aku menyesal mengadopsinya! Jika aku tahu sejak awal dia hanya bocah penyakitan, aku tidak akan sudi mengadopsinya! Menyusahkan!"
"Anak itu penyakitan. Hah...apanya yang leukemia?! Dia bisa menghabiskan semua uang kita hanya untuk mengobatinya!" Panik nyonya Kim, ia tahu benar pengobatan bagi pasien leukemia butuh biaya sangat besar. Dan ia sangat takut kehilangan uangnya untuk hal macam itu.
"Heh, jadi kau marah-marah hanya karena itu! Kita punya banyak uang untuk membiayai pengobatan anak itu. Kau tidak perlu takut kekurangan uang! Suamimu ini kaya Yura-ah!" Tuan Kim menepuk dadanya sendiri sombong.
"Bukan itu bodoh! Aku hanya tidak mau membuang banyak uang untuk anak yang bahkan tak ada hubungan darah dengan kita"
"Kalau begitu biarkan saja anak itu mati karena penyakitnya!" Celetukan spontan tuan Kim membuat nyonya Kim menoleh. Menatap sang suami.
"Benar juga, kalau anak itu mati kita tidak perlu mengeluarkan uang lebih untuk biaya hidupnya! Ah uangku selamat..."
'Brak' pintu utama kediaman Kim terbuka keras, mengalihkan perhatian kedua paruh baya yang sedang sedikit berdebat.
"Apa maksud kalian?" Tanya Heechul yang baru memasuki ruangan dengan wajah memerah marah. Dari luarpun sedikit banyak ia bisa mendengar pembicaraan antara kedua orang tuanya.
"He-Heechul-ah..."
"Apa maksud kalian itu?! Setelah menabraknya, mengadopsinya, menyiarkan itu pada media dan sekarang kalian mau membunuhnya perlahan-lahan setelah tahu penyakitnya huh?!" Heechul telah mengetahui semua saat tuan dan nyonya Kim berkunjung ke rumah sakit.
"Bukan seperti itu Heechul-ah, hanya saja...hanya saja..." nyonya Kim mencoba mencari-cari alasan yang tepat agar tak di cap sebagai penjahat oleh putranya sendiri.
"Hanya saja apa? Kau tidak bisa menjawabnyakan umma. Huh, aku bahkan sungguh malu punya orang tua tak bermoral dan gila harta seperti kalian!"
"JAGA UCAPANMU PADA ORANG TUAMU KIM HEECHUL!" Tuan Kim berteriak dengan keras tak terima dengan apa yang dikatakan anak semata wayangnya.
"Baik aku minta maaf atas ucapanku" Heechul mengatur nafasnya yang memburu karena emosi.
Bagaimanapun ia harus menghormati ke dua orang ini karena mereka adalah orang tuanya.
"Kalau kalian tidak berniat merawat Kyuhyun, biar dia ikut bersamaku! Aku pastikan aku sanggup merawat anak itu"
.
.
.
30 Agustus 2004
"Hyung kau harus membantuku mencarinya. Aku harus menemukan dongsaengku!" Sejak sembuh dari demamnya Donghae terus-menerus merengek pada sang hyung agar membantu mencari sang adik yang tak ia ketahui keberadaannya.
"Hae, hyung harus bekerja. Kemarin hyung tidak masuk kerja karena mencari-cari Kyuhyun. Hyung harus profesional Hae!" Sang hyung mencoba memberi pengertian.
"Kau tidak mengerti perasaanku hyung! Kau bukan siapa-siapanya tentu saja tak merasa khawatir sepertiku! Aku hyungnya, dia adikku hiks.." perlahan Donghae menundukan kepalanya. Air mata mulai berlomba menuruni pipi putih niliknya.
Donghae benar-benar tak dapat menahan air mata, ia merasa bahwa Jungsoo sama sekali tak peduli pada Kyuhyun.
Bahkan saat Jungsoo ikut mencari Kyuhyun seharianpun, ia merasa itu hanya sekedar formalitas, menggugurkan kewajiban seorang kakak untuk mencari keberadaan adiknya yang hilang. Ia tak dapat melihat raut cemas sekalipun di wajah sang hyung.
"Hae jangan menangis" Jungsoo menarik tubuh sang adik kedalam pelukannya.
"Hiks...apa...apa kau tidak menyayangi Kyuhyun, hyung...hiks..?" Tanya Donghae pelan, sedikit teredam oleh pelukan erat sang hyung.
"Mwo?" Kaget Jungsoo segera melepas pelukannya. Menatap lamat-lamat bola mata basah milik Donghae.
"Hyung menyayangi kalian. Hyung menyayangi kedua dongsaeng hyung, tentu saja"
"Tapi aku hanya merasa hyung tak peduli pada Kyuhyun. Hiks...bahkan saat Kyuhyun hilang...hiks...hyung sama sekali tak terlihat khawatir. Hiks...hyung tidak sayang Kyuhyunie?"
Jungsoo tersenyum dan menggeleng pelan "Ani Hae-ya, hyung menyayangi kalian berdua. Meski hyung sama sekali tak mengenal Kyuhyun, tapi tetap saja dia dongsaeng hyung Hae. Hyung peduli padanya, sama seperti hyung peduli padamu. Hanya saja, sejujurnya rasa sayang hyung padamu lebih dari pada Kyuhyun. Yah, mungkin jika hyung sudah mengenalnya hyung akan menyayanginya sebesar hyung sayang padamu" jelas Jungsoo panjang. Jemarinya yang putih mengusap pelan sisa air mata yang masih terdapat di pipi sang adik.
Jungsoo memanglah orang yang berpikiran tenang. Ia bisa mengendalikan emosinya dengan baik. Jadi meskipun ia khawatir setengah mati, ia mencoba menahannya. Ia tak mau membuat Donghae menjadi tambah cemas karena melihat ia khawatir berlebihan. Ia seperti ini bukan berarti tak peduli.
"Jongmal?" Ah, Donghae belum yakin rupanya.
"Tentu saja, kau percaya pada hyung bukan?"
Donghae tak menjawab, hanya kepalanya saja yang ia anggukan sebagai jawaban iya.
"Hyung tidak bohong Hae. Hyung sayang kalian berdua"
.
.
.
At hospital
"Yak Jungsoo-ah kemarin kau keman tidak masuk?!" Hari pertama Jungsoo menginjakan kaki ke rumah sakit setelah kemarin ia meminta cuti. Dan sahabat tercantiknya langsung menyambutnya.
"Ah, aku mencari dongsaengku kemarin" jelas Jungsoo.
"Dongsaeng? Aku tidak tahu kau punya adik? Bukankah kau anak tunggal?" Setahu Heechul, Tuan Park hanya punya satu putra yaitu Jungsoo. Lalu siapa yang dimaksud Jungsoo.
"Ah ceritanya panjang Heechul-ah. Yang perlu kau ketahui aku bukan anak tunggal, aku punya dua adik. Dan salah satunya menghilang, seharian kemarin aku mencarinya dan belum menemukannya" Jungsoo berbicara dengan nada sedihnya. Jungsoo memang tak pernah membicarakan perihal masalah yang ada dalam keluarganya termasuk kedua dongsaengnya.
"Ah begitu aku ikut sedih mendengarnya" wajah Heechul nampak sedikit muram.
"Ahaha seperti bukan Kim Heechul yang kukenal saja jika kau berwajah begitu!" Jungsoo mengajak Heechul bercanda untuk menghilangkan suasana suram di sekitar mereka.
"Issh..kau ini suka sekali mengejeku!" Kesalnya.
Merekapun terlibat obrolan-obralan seru sambil berjalan menuju ruang praktek mereka yang tak jauh.
.
"Kau cantik kalau sedang kesal!" Jungsoo tak henti menggoda Heechul dan membuat namja cantik itu kesal bukan main.
"Berhenti memanggilku cantik!"
Bahkan saat mereka sudah berada di ruang kerja Heechul. Jungsoo memang sengaja berkunjung ke ruang kerja Heechul sebelum menuju ruang kerjanya sendiri. Lagi pula belum ada pasien yang harus mereka tangani. Jadi menghabiskan waktu luang untuk mengobrol bersama teman tak masalah bukan?
"Ah iya, kulihat di tv tuan Kim mengadopsi anak, wah jadi kau bukan anak tunggal lagi yah!"
"Hah kau tahu?" Tanya Heechul konyol.
"Tentu saja tahu, hampir semua televisi menyiarkan berita ini. Kau pikir aku tak punya televisi hingga tak mengetahui berita itu!"
"Kau benar" Heechul terdiam sebentar.
"Kau tahu, saat ini anak itu tinggal bersamaku"
"Benarkah? Kenapa?" Tanya Jungsoo penasaran.
Heechul melirik kanan-kiri memastikan tidak ada orang lain di sekitar mereka.
"Kau bisa menjaga rahasiakan?"
Jungsoo mengangguk "Tentu saja"
Perlahan Heechul mendekatkan bibirnya ke telinga Jungsoo dan berbisik.
"Appaku tak sengaja menabrak anak itu.." Heechul memang tidak pernah sungkan menceritakan apapun pada seseorang yang sudah benar ia percayai.
"Dia menabraknya dan mengadopsi anak itu untuk menutupinya" lanjut Heechul.
"Apa? Jadi berita di televisi itu bohong?" Tanya Jungsoo tak kalah pelan dari suara Heechul.
"Yah begitulah. Aku tidak yakin appa dan ummaku merawatnya dengan benar. Jadi lebih baik aku yang merawatnya"
"Lalu bagaimana dengan keluarga anak itu?"
"Itulah masalahnya..." Heechul menghela napas berat.
"Ada apa?"
"Anak itu tidak mau berbicara apapun awalnya. Tapi sekarang ia sudah mulai menganggapku. Dia masih tak mau mengatakan identitasnya. Bahkan namanya saja aku belum tahu"
"Ehm..Heechul-ah, bolehkah aku bertemu dengannya?"
"Kenapa kau ingin bertemu dengannya?" Heechul sedikit bingung dengan permintaan Jungsoo.
"Entahlah, aku tak tahu kenapa aku ingin bertemu dengannya... Ah sudahlah abaikan saja aku, mungkin otaku sedikit bermasalah karena memikirkan dongsaengku yang hilang"
"Kau membuatku takut kau tidak gila bukan?"
"Yak kau..."
"Baik-baik, tak masalah jika kau ingin bertemu dengannya. Tapi jangan sekarang, aku rasa ia tak terlalu nyaman bertemu orang asing. Biarkan dia beradaptasi dulu denganku"
"Dan lagi Jungsoo...dia...penderita...
leukemia..."
"A-apa? Ya tuhan kasihan sekali!"
Heechul mengangguk sedih "Kemarin lusa aku mengambil sampel darahnya dan mengecek sampel itu. Dan kau tahu yang membuatku terkejut Jungsoo-ah?"
"A-apa? Apa hasilnya buruk?"
"Bukan itu. Hasilnya sama persis dengan laporan hasil check up seorang pasienku yang berumur 6 tahun. Pasien yang seharusnya kutangani tapi tidak pernah muncul, harusnya pasien itu kemari seminggu sekali untuk kemo juga check up rutin" Heechul mengingat laporan hasil check up yang pernah dibacanya.
"Apa mungkin mereka orang yang sama?" Terka Jungsoo "Tidak mungkin hasil check up medis bisa sama, sekalipun memiliki hubungan darah tidak akan mungkin benar-benar sama" Jungsoo menambahkan alasan yang masuk akal.
"Eum mungkin saja. Aku akan memastikannya nanti Jungsoo-ah"
.
.
.
"Tuan muda Donghae, tuan besar memanggil anda ke ruangannya!" Ujar salah seorang maid kepada Donghae yang senantiasa masih duduk termenung di taman belakang rumahnya.
"Ada apa bi?" Tanya Donghae pada maid wanita paruh baya itu.
"Saya tidak tahu tuan. Saya hanya diperintah tuan besar, agar anda segera menuju ruang kerjanya"
Donghae mengangguk "Baiklah, bibi bisa pergi sekarang"
.
Donghae terdiam tepat di depan ruang kerja sang appa yang tertutup rapat. Otaknya berpikir, haruskah ia meminta bantuan sang appa untuk menemukan Kyuhyun. Haruskah itu?
"Masuklah Hae! Appa tahu kau disana!" Suara tuan Park dari dalam sana menginterupsi lamunan Donghae.
'Cklek'
Donghae memasuki ruangan itu.
"Appa... sebelumnya bolehkah aku meminta bantuanmu?" Tanya Donghae datar. Ia merasa harus meminta bantuan sang appa untuk mencari Kyuhyun. Meski 100% yakin sang appa tak akan membantu, namun tak ada salahnya mencoba.
Mata tuan Park melirik Donghae dari balik kaca mata yang dikenakannya. Tangannya masih sibuk membolak-balik dokumen juga beberapa kali menggoreskan pena yang di pegangnya untuk menandatangani salah satu dokumen.
Dari sudut matanya tuan Park dapat melihat Donghae yang nampak lelah dengan mata sembab juga kantung mata samar terlihat di bawah kelopak mata sang putra. Donghae nampak berantakan.
Sedetik kemudian tuan Park menegakkan tubuhnya menghadap Donghae "Kau tahu appa memanggilmu kemari untuk membicarakan sesuatu denganmu, bukan untuk mendengar permintaanmu"
Seolah tak mendengar perkataan tuan Park, Donghae terus melanjutkan perkataannya "Aku ingin appa membantu menemukan Kyuhyun untukku. Aku juga tidak akan berdiam diri, aku akan mencarinya juga"
Tuan Park tersenyum kecil "Kau berani meminta hal yang tak mungkin appa turuti?"
Donghae menunduk, mengepalkan tangannya tanda ia marah "Dia adikku appa, dia adiku berarti dia juga putramu! Aku akan tetap mencarinya appa!"
"Tidak! Kau tidak boleh mencarinya lagi, dia bukan putraku, untuk apa aku mencarinya!"
"Kau dengar Hae... Adikmu itu tidak ada hubungan darah sama sekali dengan appa, kutegaskan lagi, dia bukan putraku. Dan itu berarti dia juga bukan adikmu"
"Tapi appa..." air mata mulai terkumpul di sudut mata Donghae.
"Dan kau Hae! Appa akan mengirimmu ke Jepang. Kau akan bersekolah disana. Appa tak mau kau disini dan terus menerus memikirkan adikmu itu!"
"A-apa? Appa! Kau tidak berhak mengatur hidupku!" Nada bicara Donghae sedikit meninggi.
"Tentu saja aku berhak. Aku appamu Park Donghae!" Tuan Park berucap tajam meski sama sekali tak menaikan nada bicaranya.
"Tapi appa...hiks... Aku harus mencari Kyuhyun...kenapa...appa tega sekali padaku...hikss..." pertama kalinya Donghae menangis terang-terangan dihadapan sang appa. Tubuhnya meluruh ke lantai dan terisak sedemikian rupa.
"Kau tahu keputusan appa tak bisa diganggu gugat Hae-ya"
"AKU BENCI APPA!" Donghae bangkit dan berteriak, sesaat kemudian ia berlari menuju kamarnya, menutup pintu kuat-kuat hingga meninbulkan suara yang memekakan telinga.
Sesaat setelah Donghae keluar ruangan tuan Park menghela napas panjang. Ia sandarkan tubuh lelahnya ke sandaran kursi dibelakangnya.
Tangannya terulur memijat pelipisnya yang terasa pusing. Ia tak tahu apa yang ia lakukan kali ini benar atau tidak. Dan apakah Donghae akan semakin membencinya karena perbuatannya.
Sejujurnya ia tidak peduli. Ia hanya seorang ayah yang merasa sakit saat melihat sang anak bersedih. Melihat Donghae yang selalu berwajah murung dan bahkan terkadang termenung sendirian membuatnya ingin menjauhkan Donghae dari sini, jauh dari tempat yang sudah membuat sang putra bersedih dengan segala permasalahannya.
Ia melihat sendiri bagaimana terpuruknya sang putra bungsu karena masalah ini. Lagi-lagi Kyuhyun dan Kyuhyun yang menjadi sumber kesedihan seorang Park Donghae.
Kyuhyun ataukah keegoisanmu yang membuat anakmu bersedih tuan Park?
Ia merasa mengirim Donghae ke Jepang untuk melanjutkan sekolahnya yang sedikit terlambat disana adalah yang terbaik.
Dan ia berharap dengan mendapatkan kehidupan barunya di Jepang, Donghae dapat setidaknya melupakan sedikit masalahnya disini.
Meski ia sedikit khawatir mengingat usia Donghae yang masih kecil. Namun ia sudah memasukan Donghae ke sebuah Junior High School ternama disana dan menempatkan Donghae di asrama. Jadi dia bisa tenang.
.
.
.
"Kim kecil! Heechul hyung datang!" Heechul berteriak riang memasuki apartement mewah miliknya.
Matanya menjelajahi apartement luas miliknya untuk mencari-cari dimana sosok kecil itu betada. Sosok kecil yang belum ia ketahui namanya namun entah kenapa membuat hidupnya lebih berwarna dengan melihat tingkah polos dan lucu sosok kecil yang mulai akrab dengannya.
Heechul melangkah ke ruangan-ruangan yang ada di apartementnya sambil meneriakan nama yang ia beri secara spontan kepada sang sosok kecil.
"Kim kecil! Yak kau dimana sebenarnya?! Kim kecil!" Heechul mulai berteriak tak jelas karena tak juga mendapat jawaban dari Kim kecilnya.
'Bug' sebuah bantal melayang tepat mengenai wajah cantiknya.
Heechul menoleh kearah lemparan itu berasal. Nampak disana Kyuhyun sedang mengerucukan bibir mungilnya memandang tajam ke arahnya. Televisi dengan layar besar di hadapannya nampak menyala menampilkan acara kartun favorite anak-anak, Naruto Shippuden (Kesukaan saya tuhh! # plakk )
Heechul tersenyum miring kemudian mendekat ke arah Kyuhyun dan mendudukan diri disamping namja kecil itu.
"Kim kecil! Kenapa tidak menjawab saat aku memanggilmu?" Heechul melempar pelan bantal yang mendarat di wajahnya tadi kearah Kyuhyun.
'Hap' Kyuhyun menangkapnya dan segera memeluk bantal itu erat "Itu bukan namaku..."
"Hah...kalau begitu kau harus memberitahu siapa namamu? Kalau kau tidak memberitahunya, selamanya hyung akan memanggilmu seperti ini 'Kim kecil' " Heechul menggoda Kyuhyun.
"Hyuuung...jangan begitu. Aku hanya ingat, kata umma aku tidak boleh memberitahu identitasku pada orang asing " sebal Kyuhyun.
"Ahh...anak umma rupanya. Apa yang dikatakan ummamu benar Kim, tapi apa saat ini aku orang asing untukmu? Bahkan kau sudah berani menjahiliku, apa aku masih orang asing?" Heechul menatap mata bulat milik Kyuhyun.
"Eum hyung benar. Baiklah...eum aku harus mulai dari mana?" Mata Kyuhyun mengerjap polos membuat Heechul gemas dan mencubit pipi tirus itu dan menimbulkan pekikan dari Kyuhyun.
"Mulai dari namamu!"
"Aku Cho Kyuhyun. Punya hyung namanya Cho Donghae. Appa dan umma..." Kyuhyun sedikit bingung menceritakan bagian yang satu ini "Euh...hyungie bilang kalau appa dan umma pergi ke tempat jauh..."
Heechul terdiam, ia mengerti jika itu artinya Kyuhyun sudah tak punya orang tua "Kau tinggal dimana?"
"Panti asuhan, aku sedang mencari hyungie" Mata Kyuhyun mulai berkaca-kaca "Hiks...hyungie...dibawa orang asing pergi...hiks...aku mencarinya..." Kyuhyun menangis sedih mengingat hyungnya.
"Eh...eh...jangan menangis, sesakmu bisa kambuh Kim kecil!" Heechul ingat benar jika Kyuhyun memiliki penyakit pernapasan. Itu terdeteksi saat ia melakukan check up pada Kyuhyun.
"Hiks...hiks..." Kyuhyun masih terus terisak.
"Sssttt... tenanglah...berhenti menangis..." Heechul menepuk-nepuk punggung kecil itu. Perlahan-lahan tangis Kyuhyun mereda.
"Kyu mau cari hyungie..." wajah Kyuhyun bersimbah air mata.
"Hyung akan membantumu kalau bisa ne" Heechul sedikit melirik ke arah jam dinding "Cha sudah waktunya minum obat!"
"Mwo?" dengan kasar Kyuhyun mengapus sisa air matanya dan segera turun dari sofa yang didudukinya dan mulai berlari tak tentu arah.
"Yak Kim kecil! Jangan lari! Kau harus meminum obatmu!" Heechul pun ikut berlari-lari mengejar Kyuhyun yang gesit kesana-kemari.
"Ani aku tidak mau! Obatnya banyak dan pahit! Hyung pasti akan menjejaliku lagi!" Jawab Kyuhyun sambil terus menghindari Heechul yang mencoba menangkapnya.
Kyuhyun tertawa riang karena Heechul tak juga dapat menangkapnya. Namun tawa itu hilang seketika saat rasa sesak mulai menghinggapi dadanya.
'Brug'
"Hah..hh...hah..." Kyuhyun terduduk lemas di lantai dengan napas menderu tak beraturan.
Tangan mungil yang terlihat rungkih itu memegangi dadanya sendiri yang terasa sesak.
"Hh..hhyung...enghh..."
"Kim kecil!" Heechul segera meraih tubuh Kyuhyun dan menghendongnya menuju kamarnya. Yah karena apartement Heechul hanya memiliki satu kamar, jadi Kyuhyun pun tidur bersama Heechul.
"Engh...sesakhh..." tubuh Kyuhyun yang telah dibaringkan di atas ranjang bergerak gelisah.
.
Heechul memandangi sosok mungil Kyuhyun yang terlelap itu. Setelah setengah jam lebih ia berusaha keras meredakan sesak Kyuhyun dan memasukkan obat yang memang seharusnya di konsumsi Kyuhyun, ia bisa tenang karena anak itu sudah terlelap.
Diusnya lembut rambut yang sedikit basah itu. "Heh, rasanya aku benar-benar sayang pada anak ini"
Hah Heechul sama sekali tak menyangka Kyuhyun yang menangis karena melihatnya saat itu bisa seakrab ini dengannya dalam beberapa hari, benar-benar ajaib. Mungkin juga karena Kyuhyun yang ternyata sangat jahil ini cocok dengan dirinya yang juga sama-sama jahil. Evil couple. Terdengar bagus juga.
.
.
.
7 September 2004
Donghae menatap lurus pemandangan kota Kyoto dari balkon lantai tiga asrama yang ditempatinya. Pemandangan indah kerlip lampu juga kendaraan berlalu lalang membuat kota ini kian berwarna. Benar, saat ini ia tengah berada di Jepang.
2 hari lalu sang appa dengan paksa menyuruh orang untuk mengemasi barangnya, memasukkannya ke dalam koper dan memberinya tiket pesawat menuju Jepang. Awalnya tentu saja ia menolak habis-habisan. Ia menangis dan berlutut pada sang appa agar membatalkan keberangkatannya.
Bahkan sang hyung yang saat itu baru saja pulang dari rumah sakit terkaget-kaget melihat sang dongsaeng dengan wajah bersimbah air mata berdiri disamping beberapa koper berwarna hitam.
Dan setelah mengetahui duduk permasalahannya, Jungsoo dan tuan Park sampai terjadi sedikit cek-cok. Dan tentu saja, tuan Park selalu menang.
Donghae harus berbesar hati menerima dirinya yang akan tinggal di Jepang, kemungkinan hingga ia lulus SMA nanti atau mungkin hingga ia melanjutkan kuliah, hanya sang appa yang memutusnya. Apapun itu, Donghae yakin sekali ia tidak akan menghabiskan waktu yang sebentar disini.
Mengehela napas pelan, Donghae "Kyuhyunie...bagaimana keadaanmu saengie... Kau pasti baik-baik saja bukan..." Donghae menatap bintang diatas sana seolah sedang menatap wajah sang adik. Ia sangat merindukan adik tersayangnya itu. Jemarinya mengerat memegang pagar besi pembatas ia mengeram menahan emosinya.
"Hiks..hyung kesepian disini saengie..hiks..Kyu.. hyung sayang padamu saengie... Kau harus baik-baik saja arra? Hiks..hyung pasti akan menemukanmu..hiks.. pasti " Donghae menenggelamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya. Bahunya bergetar, menandakan jika ia tengah terisak sekarang. Ia tidak perlu malu pada teman sekamarnya atau apa, karena entah beruntung atau tidak Donghae tak mendapat teman sekamar. Ini kamar satu-satunya yang tersisa.
'Tok..tok..tok..' suara ketukan pintu terdengar setelahnya. Membuat Donghae cepat-cepat menghapus jejak air mata dari wajahnya.
'Cklek'
Donghae membukakan pintu untuk si tamu. Dan saat ia membuka pintu itu.
"HAE! Ternyata ini benar kau!" Sebuah pelukan erat langsung ia dapatkan dari seorang namja yang nampak sebaya dengannya. Membuat Donghae sedikit bingung, siapa yang mengenalinya, ia belum punya teman sama sekali disini.
Namja sebaya dengannya itu melepaskan pelukannya dan menatap Donghae yang masih nampak kebingungan.
"Kau tidak ingat aku Hae!" Orang itu menunjuk wajahnya sendiri.
"Astaga aku rasa baru beberapa bulan kita tak bertemu. Kau benar-benar melupakan sahabat baikmu ini huh?! Apa aku bertambah tampan hingga kau tak mengenaliku?"
"En-Eunhyuk-ah!"
.
.
.
20 Januari 2015
"Kau lihat Heechul-ah, ini cctv yang ada di ruang kerjaku, aku tetap berada disana. Jadi mana mungkin aku yang meracuninya!" Jungsoo menunjukan rekaman cctv di ruang kerjanya pada sang sahabat agar sahabatnya ini tak lagi menunduhnya macam-macam. Sesekali tangannya memegangi sudut bibir juga rahangnya yang terasa nyeri akibat tonjokan Heechul tadi.
Heechul terduduk lemas di kursi "Kau benar Jungsoo-ah. Maaf...maafkan aku memukulmu sembarangan. Aku...aku hanya sangat marah melihat kondisi Kyuhyun seperti itu. Aku..." Heechul nampak kalut. Ia sangat takut dengan apa yang terjadi dengan Kyuhyun, adiknya, meski tak ada hubungan darah seperti namja di hadapannya, Jungsoo.
"Aku tahu kau sangat menyayanginya Heechul-ah. Bagaimanapun kau hidup dengannya lebih lama dibandingkan aku yang...hah" Jungsoo tak mau melanjutkan perkataannya.
"Asal kau tahu Heechul-ah, sebenci apapun aku pada seseorang, aku tak mungkin melakukan hal tak bermoral seperti ini sekalipun kepada musuh terberatku"
"Heechul-ah, apa dia memiliki musuh?" Tanya Jungsoo pada Heechul yang masih nampak terkulai lemas di sandaran kursi.
"Heh kau bercanda Jungsoo, selama ia tinggal bersamaku, Kim kecil itu bahkan tidak memiliki teman satu orangpun. Bagaimana mungkin dia punya musuh"
.
.
.
"Kita lihat Kyuhyunie apa kau masih bisa bangkit dari kematian setelah ini..." namja itu menyeringai kejam. Matanya menatap kosong udara di hadapannya.
"Maafkan aku, aku benar-benar merasa tersiksa melihat Donghaeku dalam keadaan seperti itu. Kau harus merasakan apa yang Donghae rasakan Kyunie sayang" namja itu menyayat sebuah foto dimana Kyuhyun tersenyum riang disana.
"Aku menyayangi Donghaeku Kyunie... Jangan salahkan aku melakukan ini padamu KARENA KAU YANG MEMBUAT DONGHAEKU SEPERTI INI! Aku membencimu...!"
.
.
TBC...
.
Top of Form
Bottom of Form
