Standard Disclaimer Applies: I do not own RF Online. Because if i do, i'll make a movie out of it.
Yeeaaayy! So sorry for the late update! Akhirnya. Fyuuuh~ Terima kasih buat semua respon positifnya, Jadi malu aaakkkh :3 Kredit untuk mie yang banyak bersabar menghadapi spam dariku hohoho :D still hate you though, remember that.
Silence Is The Game
Alrisaia mengendap rendah, sepatu rampingnya bergesek tanpa suara diatas tanah berabu, retak akibat tidak pernah terguyur hujan. Tanaman paku dan semak kering bersentuhan dengan sisi tubuh tingginya. Pohon berdaun minim terlihat di segala penjuru, bau hutan pekat yang kering menyapu hidung Assassin itu. Di sini, di Hutan Crawler, dimana pohon jarang menumbuhkan daun.
Dia menyelinap, menjadikan sunyi sebagai kawan. Sosok berambut biru muda tersembunyi oleh gelap hutan malam hari. Assassin tergopoh-gopoh, menekan luka tembak di kaki, menuju pohon berbatang tebal. Menyandarkan punggungnya sejenak, mata menelusuri keadaan sekitar. Waspada terhadap masalah.
Sunyi adalah hidupnya, tanpa suara adalah caranya berjalan, bagai hantu melintas di tengah hutan. Tak terlihat, setidaknya.. begitulah yang dia kira. "Sunyi. Aku adalah kesunyian, tanpa suara."
"Alri! Bisa tidak, kita cepat keluar dari sini?!"
Sebelum Galatra membuyarkan semua, melabrak sepanjang perjalanan melintas hutan bak Brutal Meat Clod. Rambut emasnya kusut dan beberapa helai daun tersangkut dikepala. Armor Spiritualist berwarna biru safir bercorak kelabu gelap dipenuhi pasir halus.
Galatra mendera tanaman paku di sebelahnya menggunakan tongkat Spiritualist, mengeluh. "Demi Decem! Jalan setapak sangat sayang bila tak dilalui, tahu?"
"Jalan setapak adalah tempat pertama yang akan mereka cari." Jawab Alrisaia, balik mengeluh seraya kawan setim mengikutinya dari belakang, begitu bising, memukul-mukul semak yang baru aja dilewati Alrisaia dengan tongkat. Bellato pasti mengirim pasukan pencari, itulah yang ada di benak mereka.
"Oh ayolah, kita sudah cukup jauh. Kuyakin mereka sudah menyerah sekarang." Atau hanya di benak Alrisaia, barangkali. Karena Galatra menekuk wajah.
Alrisaia tahu, Warlock itu mungkin benar. Galatra sudah bilang, saat Alrisaia disergap, dan dia pergi sendirian untuk membebaskan Assassin itu, tidak ada lagi penjagaan Bellato melebihi radius 3 kilometer.
Tangan kiri Alrisaia menyeka luka di pelipis. Mereka beristirahat sejenak di dekat sungai kecil dan Galatra menawarkan bantuan untuk membersihkan luka-luka yang diderita Alrisaia, mengeringkan darahnya agar tidak infeksi. Pendarahannya sudah berhenti tapi masih nyeri.
Darah kering menodai sisi kiri wajahnya, cukup tebal. Mata kiri Alrisaia masih terasa perih saat ia coba membuka mata.
Rasa menyengat masih terasa di paha dan betisnya. Membuat gerakan Alrisaia sedikit lebih lambat dari biasa. Galatra mengikuti dari belakang, sumpah serapah keluar dari mulut Warlock, ditujukan bagi tanaman-tanaman hutan yang mengganggunya.
Selagi mereka berjalan, untuk mengalihkan pikiran dari apa yang mungkin terjadi bila saja Galatra tidak datang menyelamatkannya, Alrisaia bertanya. "Jadi, apa Lachlann dan Artaxad mengatakan sesuatu ketika kamu berangkat?"
"Tidak juga, mereka masih berdebat tentang bagaimana melakukan 'penyelamatan heroik'." Galatra mendorong sekuat tenaga cabang pohon yang menghalangi jalannya, "Lachlann yakin kita cukup sekedar tabrak saja dari depan, membereskan semua pasukan Bellato yang menghadang- Aaww!" Cabang tersebut kemudian memantul balik dan menampar wajah si Warlock. Kesal, dia membekukan cabang itu seketika. "Sedangkan Artaxad lebih memilih untuk tetap mengawasi area sekitar dan tunggu saat yang tepat. Dia percaya, kamu bisa meloloskan diri."
Mendengar hal itu, entah kenapa ada kesenangan kecil di hati Alrisaia. Dia tersenyum kecil, terhadap fakta Artaxad percaya dirinya mampu lolos sendiri dari Benteng Anacade.
Galatra melanjutkan cerita, "Yah, seperti yang kubilang tadi. Aku capek mendengarkan perdebatan mereka. Seakan tidak ada habisnya, jadi- tanaman siaaal!" Lagi-lagi dia membekukan tanaman lain. "Mereka tak akan mendengarkanku, ya sudah, aku pergi sendiri untuk menolongmu. Firasatku bilang, kamu dalam bahaya."
Alrisaia memotong akar serabut yang tumbuh terlalu lebat menggantung dari cabang mati diantara dua pohon, melangkahkan kaki keluar, menapak tanah kering, pecahan kerikil dan bebatuan menghias permukaan. Dia berjalan menuju sisi seberang, Galatra masih saja menggerutu.
"Aku tak akan bilang kalau pergi tanpa mereka itu tindakan bodoh, karena bagaimanapun.. kamu telah menyelamatkanku." Menoleh ke belakang, Alrisaia memakai tangan satunya guna mendorong tanaman kering melintang. "Hebat juga kamu."
Galatra berseri-seri, sebelum Alrisaia melepas tanaman kering di tangannya, melayang tepat ke wajah si Warlcok. "Awww-"
"Untuk ukuran gadis kecil." Ledek Alrisaia, sambil cekikikan.
Kawannya memuntahkan beberapa helai daun tersangkut di mulut, dan mengeluarkan omelan bernada tinggi, "Apa!? Aku tuh cuma sedikit lebih muda darimu! Sumpah, aku akan membekukan mulutmu itu! Aku akan.. Aku-"
"Hussh, gadis kecil, tak seharusnya kamu marah-marah pada yang lebih tua." Alrisaia tahu, Galatra benci diingatkan betapa muda dirinya.
Si Warlock melipat tangan di depan dada, mulut ternganga seraya memberi senyum yang tak bisa digambar dengan kata-kata. "Daaaan, dia telah kembali. Kau tahu? Dalam waktu dekat, aku benar-benar akan membekukan mulutmu."
Assassin di depannya tersenyum, selagi melanjutkan berjalan, melangkah hati-hati diantara akar menyembul. Menunggu Galatra yang tersandung dan jatuh.
Mereka berjalan sebentar kemudian, sebelum Alrisaia membentang lengan dan menghentikan Galatra. Dia menengok ke bawah, "Kawat jebakan."
Sebuah serat fiber tipis yang dikeringkan dan ditenun membentang diantara dua batang pohon, tersembunyi dari pandangan mata berkat bayangan hutan dan latar samar-samar. Sulit sekali terlihat, bahkan mencari jarum diantara tumpukan jerami akan terasa lebih mudah. Alrisaia segera merasa lebih tenang seketika, hanya Artaxad yang membuat jebakan seperti ini. Itu artinya, mereka makin dekat dari titik temu.
"Ayo, hampir sampai." Dia memberi isyarat pada Galatra.
Benar saja, mereka sampai di satu sisi hutan, dimana pohon dan semak sudah dibersihkan dari area sekitar. Masih ada tanda-tanda bekas ditinggali orang. Bekas hangus di tanah, pertanda ada yang memasang api unggun sebelumnya. Tak ingin lengah lagi, Alrisaia ingin memastikan.
Assassin itu melirik lagi pada Galatra, memastikan si Warlock masih berada di sana, tanpa lelah mengobservasi tempat itu. Wanita muda bertanya antusias, "Boleh aku melakukannya?"
"Lain kali, mungkin." Balas Alrisaia dengan gerutuan imut.
Sosok Alrisaia bersatu dengan bayangan pohon untuk memastikan dia tak terlihat oleh mata, kemudian bersiul, satu siulan panjang dan beberapa kali decakan cepat. Dia menunggu dengan sabar, dan terdengarlah balasan. Siulan panjang berirama.
Senyum tersimpul dari bibirnya, Artaxad dan dia telah menyempurnakan rutinitas ini jauh sebelum mereka ditempatkan di tim yang sama. Tidak tepat rasanya, membiarkan Galatra yang melakukan hal itu.
Dan Galatra melangkah keluar dari bayang pohon, dari semak yang melindungi figur mereka. Menuju sisi bersih dari hutan Crawler. Warlock itu langsung merebahkan tubuhnya ke atas permukaan rumput, begitu lega terbebas dari "Hutan menyebalkan".
Seorang pria melangkah keluar dari sisi berlawanan. Penampilan yang paling mudah diingat darinya adalah warna rambut campuran antara merah-oranye, berpotongan pendek, namun tak cukup pendek untuk dibilang cepak. Dengan mata oranye yang memiliki tatapan tajam. Struktur wajah khas yang tegas dan nampak bersahaja.
Artaxad, si Templar. Menurunkan pedangnya, bersinar bak api, selagi mendekat.
Ia menggangguk pada mereka berdua, "Alrisaia, Galatra."
"Senang melihatmu juga." Alrisaia menggerutu, sambil menirukan nada pendek lelaki itu.
Dia terlihat tak menggubris, entah kenapa ketidak-senangan terhias di wajah pria itu. Hati-hati, ia meletakkan pedang di atas rumput lembut, berkata tenang, "Kamu terluka."
Alrisaia mengusap rambut yang menutupi luka, lalu tersadar bila terdapat darah mengering di helai rambut biru muda. Dia tersenyum seolah tak peduli dan berbohong, "Oh ayolah, cuma luka gores."
Lachlann keluar dari semak lainnya, sama seperti, bahkan lebih ceroboh daripada Galatra. Seorang pria besar berarmor biru, melindas tanaman, menghancurkan pohon kecil, dengan canggung berusaha menyempil diantara dua batang pohon, menyeret pedang dan perisainya di tanah, membentuk jejak garis besar.
Assassin itu sadar saat Galatra terburu-buru menenangkan diri, menarik beberapa daun dari rambut keemasannya dan mengencangkan sabuk armor Spiritualistnya. Alrisaia pun menyeringai.
Lachlann menggerutu, saat ujung sepatunya tersangkut pada sebuah akar yang mencuat keluar tanah. Dengan kesal dia mengumpat, menendang, akar, batang pohon, tanah kering, dan semuanya. "Semak belukar terkutuk!"
Pria itu pun menoleh ke depan, mata diantara pelindung kepala besi nampak berbinar. Logatnya yang agak berat meledak, "Ahh! Dan inilah mereka, dua ternak kita yang tersesat!"
Dia melintas menuju dua gadis yang duduk, cuma butuh beberapa langkah saja. Menjatuhkan persenjataan berat yang dia bawa, lalu menggapai mereka dengan kedua lengan besarnya.
Alrisaia mengangkat lengan sebagai tanda protes, "Ti-tidak, tak per.."
"-Lu." Lachlann memeluk dua gadis tersebut dengan rangkulan penghancur, mengangkat tubuh keduanya dari tanah, Alrisaia menggeliat canggung, sementara Galatra menjerit kesenangan dan Lachlann cekikian setulus hati.
Pria besar itu menurunkan mereka kembali dan beralih pada Artaxad, yang dengan tenang duduk diatas sebuah batu datar sembari mengasah pedang. Alrisaia melirik Galatra, yang sedang mengayunkan tongkatnya ke segala arah, penuh semangat menganimasikan pelarian hebat mereka pada Lachlann.
Assassin itu menghembus nafas lalu menyilangkan tangan di depan dada sembari beranjak menuju sebelah Artaxad. Dia duduk di sebelah Templar itu, "jadi, pada siapa aku harus berterima kasih atas aksi penyelamatanku yang ajaib?"
Artaxad menoleh pada lawan bicaranya, "Yah aku sih mau saja, mengambil semua pujian. Tapi Galatra sudah melakukannya duluan untukku."
Alrisaia mengikuti tatapan mata Artaxad yang kemudian tertuju pada dua rekan tim. Lachlann sedang duduk tenang di atas rumput ketika Galatra menerkamnya, mencoba untuk menggulingkan tubuh besar si Black Knight. Lachlann nyaris tak bergeming, tak mau mengalah, tertawa kecil dan membuat Galatra terhempas tanpa daya, dan menjerit gembira.
Gadis berambut biru muda tertawa dan melambai acuh pada mereka berdua, "Ahh, cinta monyet. Lucu ya."
"Tetap saja cinta." Artaxad mengangguk.
Tatapan Alrisaia kembali pada Artaxad, perempuan itu tersenyum, dan kembali pada Galatra yang berguling-guling mengitari Lachlann. Dia mengela nafas, "Tetap saja cinta."
...
Galatra menyalak, ranting-ranting tersangkut dan menyayat bagian serat halus Armor yang dikenakan. "Argh! Kalau begini terus, aku bisa telanjang bila nanti kita kembali!"
Lachlann tertawa sambil berjalan gagah, menjatuhkan sebanyak mungkin pohon yang menghalangi dengan pedangnya. Dia berjalan di belakang Galatra, lebih tinggi hampir 3 kepala dari gadis Warlock itu.
"Beberapa orang akan senang bila itu benar terjadi." Dia menoleh ke bawah.
Galatra merengut dan menggerutu, "Mesum."
Si Warlock mengangkat kakinya untuk melangkahi sebuah batu, namun tempat ia berpijak selanjutnya justru mengubur kaki jenjang Corite diantara akar dan cabang.
Lagi, dia mengeluh, "Aku benci hutan. Mungkin akan lebih mudah.." Dia menjulurkan leher dan berseru tegas pada orang paling depan. "Kalau saja seseorang bisa- entahlah, mungkin.. BUKA JALAN!"
Sementara Lachlann mengikuti di belakang Galatra, si Templar Artxad memimpin barisan melalui hutan, begitu cekatan menavigasi arah hutan yang tumbuh berlebihan, pedang masih berada di dalam inventori.
"Kau tahu, pedang besar sangat bagus untuk menebang pohon.. supaya teman setimmu mudah melangkah!"
"..."
"Kamu pasti senyam-senyum di belakangku, kan?" Katanya pada Lachlann.
"..."
"Kamu tahu, aku-"
"Ah, diamlah." Si Black Knight pura-pura mengomel, lalu membungkuk dan merangkul pinggang Galatra dan menggendong paksa di bahu. Seperti membawa karung. Warlock itu teriak dan meronta tapi tetap menggeliat-geliut mencari posisi nyaman untuk duduk di bahu Lachlann.
Alrisaia berjalan paling belakang, kondisi kakinya jauh membaik setelah menerima perawatan dari Galatra dan Artaxad. Tanpa kesulitan berarti, ia mengikuti jalan yang telah dibuka lebar oleh Lachlann. Sesekali menoleh ke belakang.
Saat Galatra mengoceh tentang ilustrasi pelarian luar biasa versi dirinya, Alrisaia menyipitkan mata menembus kegelapan di belakang mereka, melihat sebuah bayang hitam bergerak cepat diantara kelam. Coklat, bola mata mengedip cepat dari sana. Ada suatu makhluk yang mengikuti tim. Bukan monster, bukan. Sesuatu yang lain. Yang aneh.
Alrisaia menyiagakan pisau force, sebagai satu-satunya senjata yang tersisa pada diri Assassin itu, mendekatkan jarak dengan timnya.
"Ada Apa, Al? Terlalu terintimidasi oleh suaraku yang menakjubkan?" Lachlann menyahut.
"Decem, tidak."
Black Knight itu tertawa.
"Jadi, Galatra cerita ada, hmm, berapa? Seribu pasukan kurcaci antara kalian dan jalan keluar? Bahkan setelah kami mempertaruhkan nyawa, kami hanya menarik perhatian- ahem.. 'beberapa' dari mereka?" Artaxad bertanya santai.
Alrisaia menyeringai. "Seribu, ya?" Lalu menatap Warlock yang sedang dipanggul Lachlann, menatap balik Assassin itu ceria dan riang. "Dia terlalu merendah. Paling sedikit setidaknya dua ribu, mungkin lima ribu." Sindir Alrisaia.
Artaxad mengejek, "Ya, luar biasa." Lachlann dan Galatra cekikian pelan.
Alrisaia jadi ikut tertawa juga, bertanya, "Lalu bagaimana dengan 'cerita kepahlawanan' dari sisi kalian? Kuyakin Artaxad si Templar dan Lachlann si Black Knight punya cerita yang tidak ka-"
Sebelum bunyi ranting patah membuat Assassin perempuan itu sigap kembali menoleh ke belakang. Seekor anak Crawler, masih setinggi dirinya, melintas di depan mata. Dia menarik nafas lega. "Cuma seekor Crawler, cuma monster."
Meskipun dia masih belum begitu yakin. Ada sesuatu yang tdak beres, dia bisa... merasakannya. Sepasang mata yang bisa dia lihat di kegelapan bukanlah masalah, melainkan sepasang mata yang tidak bisa dilihat di kegelapanlah, yang menjadikan Alrisaia tidak tenang.
"Sebaiknya kita mempercepat langkah dan kembali ke markas."
Artaxad menatap Alrisaia, "Ada apa?"
"... Mungkin bukan apa-apa, tapi... ayo, cepatlah."
Galatra tidak terlihat takut sama sekali, malah tertawa dan mengejek, "Ada yang ketakutan nih. Melihat hantu di kegelapan hutan?"
"Mungkin..."
Artaxad mengangkat sebelah tangan untuk membuat mereka berhenti, lalu meletakkan telunjuk di depan bibirnya. Mereka pasti sudah tiba di ujung hutan. Alrisaia berjalan ke depan, ke tempat si Templar mendekam, melihat menembus belukar. Assassin itu menarik gantang dengan jari dan melihat jalanan berdebu. Di sebelah kiri, pepohonan sekarat dan kering jauh dari kata hijau nan subur.
Berlawanan sekali dengan apa yang ada di sebelah kanan, sekitar 30 meter di depan, jalanan itu terdapat sebuah belokan dan pos jaga Bellato. Pasti setidaknya ada 3 lusin pasukan berada di sana.
Lachlann berbisik, "Aku masih berpendapat lebih baik kita lari sekuat tenaga melalui tebing petir, menjauhi bahaya."
Tapi perjalanan memutar balik, akan makan waktu lebih lama. Sedangkan misi mereka terlalu penting, dan waktu lama adalah hal terakhir yang mereka butuhkan. Galatra mengangguk setuju, namun Artaxad menggeleng. "Terlalu boyak, kita harus cepat dan menemukan jalan terbaik."
pos penjagaan penuh dengan segudang pasukan Bellato berkondisi prima, beramunisi penuh di depan, menghadapi mereka yang keadaannya tidak karuan, tentu mereka tak akan berhasil.
"Tetap saja, rencana bodoh! Keberhasilan kita bergantung pada kelengahan mereka, yang tidak melihat kita. Tentu akan lebih mudah bila memutar dan menuju Utara lewat hutan dan kembali ke markas." Lachlaan Menggerutu.
"Lebih aman, tentu." Artaxad membalas, tanpa melihat kawannya. "Tapi juga makan waktu lebih lama. Misi haruslah diutamakan, dan bila kita memutar, kita akan terlambat dari jadwal."
"Hah! Misi.." Lagi, Lachlann kesal terhadap jawaban Artaxad. "... Tidak akan penting lagi, KALAU KITA MATI!"
Alrisaia menyikut pelan Galatra yang sedang menghela nafas, tatapan Assassin itu terlihat mengejek saat mata mereka bertemu, seolah bertanya dalam hati; "Lagi?"
"Lagi." Warlock itu seperti menjawab pertanyaan Alrisaia dengan matanya dan berdiri untuk mencoba meredakan situasi.
Alrisaia menghadap belakang, melihat lagi jalan yang telah mereka lalui, pepohonan dan tanaman hancur, batang pohon lecet akibat Armor dan pedang Lachlann menghantam sepanjang jalan. Tidak ada apapun, dia mengira sedang mendengar sesuatu menembus belukar. lalu, dia menyadari sesuatu, hutannya terlalu sunyi, bahkan serangga pun berhenti berderik.
"Sial! Kenapa aku tak menyadarinya?" Dia mengumpat dalam hati.
Alrisaia mundur sampai punggungnya bertemu dengan punggung Artaxad, Templar itu menengok, sedikit terkejut. Kali ini giliran Alrisaia yang meletakkan jari di depan bibirnya, "Shhh, ada sesuatu yang lain di sini."
Reaksi Artaxad sedikit di luar perkiraan, dia tegang sebentar namun dengan cepat menjadi tenang kembali. Templar itu melihat ke Lachlann, yang ikut diam, lalu ke Galatra, diam juga, bahu Warlock itu terlihat menegang. Sepasang matanya menyelidik.
Lachlann berkata, "Kita tidak seharusnya ke sini."
Mereka terlalu dekat ke pos penjagaan Bellato, terlalu jauh dari pos mereka sendiri. Mata Alrisaia menelusuri jauh ke dalam bayang, putus asa mencari tanda-tanda penguntit mereka, tapi tetap saja terbelit ketidak-pastian. Pemburu itu bisa dimana saja.
"Bayangan, cabang pohon, kegelapan." Kemudian, dia melihatnya. Mata di kegelapan. Bulatan kuning, besar, bertemu dengan matanya. Dan di baliknya, dia melihat secercah kejahatan berakal. Tau siapa mereka, dan mata itu berniat membunuh mereka semua.
Alrisaia menggertakan gigi, mengepal tangan seraya pisau force terbentuk. Artaxad mendesis, "Mundur."
Pemburu mereka melompat keluar dari belakang dinding tanaman merambat dan ranting, sebuah makhluk besi, begitu besar, 2 kali lebih tinggi dari Corite. Kepulan asap keluar dari sela rangka besi, bak mendidih di balik armor mengkilap itu. Optik mata menyala kuning-kemerahan seperti lidah api.
"Accretian.." Wanita berambut biru muda itu menelan ludah, melihat tubuh logam memanggul senjata berupa sabit emas raksasa. Semerta-merta, Accretia itu mengayunkan senjatanya kedepan, berniat membelah dua badan Alrisaia. Ayunan lengkung yang membentuk sudut sempurna, sedikit meleset dari sasarannya karena Alrisaia merebahkan tubuh.
Assassin itu merasakan dirinya terjatuh ke belakang dan mengayun satu tangan, membalas serangan Accretia itu, mengirimkan satu pisau force yang meluncur sangat cepat sembari berguling akibat momentum. Dia menatap pada Accretia itu dan melihat ada goresan terbakar yang disebabkan serangannya. Tapi logam itu tak bergeming, menggeram, dan menatap Alrisaia.
Ada apa di balik tatapan itu? Entahlah, Alrisaia tak berani menebak-nebak, karena itu hanya sekedar lampu baginya, tak lebih. Bukanlah sepasang mata makhluk hidup yang bisa dibaca emosinya. Artaxad menyelusur ke depan dan menarik kaki Alrisaia, kemudian berdiri dan memasang kuda-kuda dengan pedangnya. Galatra berdiri di sebelahnya dan Lachlann menerobos mereka semua, berdiri layaknya dinding kokoh antara mereka bertiga dan Accretia.
Alrisaia meneliti sekitar, dan melihat Accretia itu kini mondar-mandir depan-belakang, tetap jaga jarak agar tak terkena mantra Galatra maupun jangkauan pedang Lachlann, menggertak dan memainkan sabitnya di ruang kosong antara mereka. Dia tahu Accretia ini, dia bahkan pernah melihatnya. Namun, lupa dimana.
Makhluk berzirah baja itu tidak menyerang, tetap berdiri dimana ia berada, mengawasi mereka, sensor optik mengunci mereka, maju selangkah dua langkah tanpa disadari. Lachlann mundur saat makhluk itu maju perlahan, memaksa mereka yang berada di belakangnya mundur juga.
Si Black Knight mengayunkan pedang, membelah udara di sekitar tapi Accretia itu sudah keburu lompat menjauh. Lachlann mencoba untuk menyerang lagi, namun Accretia itu justru menerjang dan sabit emasnya menggores luka di dada Lachlann, dan memaksa mereka terus mundur lebih jauh.
"Permainan apa yang dilakukan Accretia ini?" Alrisaia menyipitkan mata terhadap cara Accretia itu mendekat, caranya mencari mangsa, cara kakinya menghindar ketika langkahnya terhalang daun dan ranting berjatuhan. Makhluk ini mempermainkan mereka.
Dia tahu, membunuh mereka berempat bukanlah masalah besar, bila dia mau, tinggal menancapkan sabit besar itu pada salah satu dari mereka dan mengirim jiwa mereka kembali ke pangkuan Decem, jadi kenapa dia tidak melakukannya? Jika dia terlalu dekat dan membiarkan dirinya dibekukan Galatra, maka mereka bisa membunuhnya dalam sekedip mata, kenapa Accretia itu tetap di sini? Kenapa dia mengambil langkah beresiko?
Accretia itu menerkam lagi.
BRAAANGG!
Mengadu sabit dan perisai dan menangkap tangan Lachlann yang memegang pedang dan memberi tekanan. Begitu berat, sampai lutut Lachlann menekuk menahan tenaga Accretia di depannya.
Galatra berteriak,"LACHLANN!"
Artaxad melompat guna menyerang sekuat tenaga dan Alrisaia mengambil ancang-ancang dengan menarik tangan. Lagi-lagi, dia melepas tekanan pada Lachlann dan menghindar segera, tumit besinya menghujam tanah dan menyelusur berhenti. Sebuah pisau force violet menembus udara, sedangkan mantra tombak es Galatra melayang diantara ruang.
Menciptakan diorama es di tumbuhan sekitar dan menurunkan suhu lingkungan. Sebuah suara mirip seperti geraman terdengar dan Alrisaia sadar, robot itu telah memaksa mereka mundur beberapa meter.
"Apa yang dilakukannya?" Dia memperhatikan musuh mereka dengan saksama, Accretia memaksa mereka makin mundur, kemana? "Belukar." Dan ada apa di balik sana? "Ruang terbuka."
Dia mencoba menggiring mereka ke ruang terbuka. Sasaran empuk, tidak ada tempat berlindung, tidak ada yang menghalangi, tamatlah mereka.
Mata Alrisaia melebar dan menelusuri pemandangan sekitar, penuh ketegangan. "Sergapan lainnya!"
Alrisaia menarik lengan Artaxad, berseru, "Ini jebakan, dia mau kita lari!"
"Kalau begitu, kita bertahan dan melawan!" Lachlann meraung keras.
"Tak ada pilihan lain." Artaxad menyetujui.
Accretia itu jelas mendengar mereka, tidak senang pastinya. Dia tahu rencananya di ambang kegagalan, tapi dia tidak lari. Dia tahu tidak bisa mengalahkan mereka di pertarungan frontal. "Dia tidak sendiri.."
Alrisaia mengamati bayangan semak, ranting, kanopi. Setitik cahaya terlihat, tersembunyi diantara cabang. Dia mengamati lebih jauh, jejak bara api tertinggal diantara dedaunan gugur, dimana langkah kaki makhluk lain melangkah.
Percikan listrik, desingan anak panah, ledakan kecil meninggalkan abu ketika ranting dan dedaunan gugur tercabik-cabik, terbelah, terpotong oleh panah-panah beam melesat cepat di depan mata keempat Corite, menghujam tanah diantara kaki Galatra. Gadis itu menjerit dan tidak kuasa bergerak, kepala anak panah beam mengeluarkan percikan api dan listrik, menjilat kaki Warlock tersebut.
Lebih banyak lagi panah memanaskan mereka bagai tungku pembakaran raksasa, jatuh dari langit seperti bintang-bintang membenci keempat Corite itu. Artaxad mengerang, sisi perutnya terkena satu panah, dan begitu dia membungkuk menahan sakit, satu lagi mengenai punggungnya. Lachlann langsung tidak mempedulikan Accretia itu, berlari menuju Galatra dan membungkus gadis itu dengan tubuhnya sendiri, melindunginya dari hujan panah beam.
Sebagai ganti, beberapa panah menembus punggung Black Knight itu sekaligus, panas seperti lusinan lilin yang terbakar, meleleh. Sebuah panah menusuk lengan kiri Alrisaia, rasanya seperti ada yang menggores daging lengannya, memaksa tulang-tulangnya terpisah. Ohh.. dan terbakar. Dia menatap penuh kengerian ketika pisau forcenya memudar dan menghilang dari telapak tangan kiri. Alrisaia bersender ke sebuah batang pohon, berlindung dari panah lain yang melewatinya dan membakar armor di bagian lengan.
Lachlann menggotong Galatra di lengannya, punggung Black Knight itu penuh tertembus anak panah beam. Begitu menyakitkan untuk dilihat. Perisainya, membeku di tempat. Putus asa, dia melemparkan perisai besar itu tanpa tahu keberadaan target. Berharap bisa mengenai pemanah misterius. Dari balik semak, terdengar perisai tersebut mengenai sesuatu, terdengar bunyi seperti tulang retak namun masih tak terlihat wujudnya.
Alrisaia tahu, mereka tidak mungkin tetap berada di sini selagi ada pemanah tak dikenal menghujani mereka. Tidak mungkin.
Tanah tempat mereka berpijak berubah dari kering dan berpasir jadi sedikit lembab dan basah. Pos penjagaan Bellato terlihat sekarang, diantara hutan crawler dan tebing petir. Hanya berjarak 10 meter.
Alrisaia merayap dan mencabut panah di lengannya, menahan sakit. Lachlann, dengan Galatra di lengan kiri dan pedang di lengan kanan, terus berusaha menerobos melewati area yang terlihat oleh pos penjagaan.
Artaxad, menghadap hutan diantara mereka, berteriak. "LACHLANN! LACHLANN!"
Accretia dengan sabit raksasa memotong jalur mereka, Lachlann menaikkan pedangnya begitu Accretia itu terus menerjang, kali ini siap membunuh. Dia melayangkan pedangnya sebelah tangan dan Accretia itu melompat begitu tinggi, sampai sanggup melewati tebasan horizontal Black Knight itu.
BRUUUAAGH!
Menabrakkan tubuh bajanya pada Lachlann, membuat Galatra dan pedang di tangan terhempas dari lengan si Black Knight. Alrisaia berlari ke arah mereka, ketika melihat Lachlann masih berjibaku menghadapi Accretia itu. Menggulatnya sekuat tenaga, berusaha semaksimal mungkin agar tidak pingsan di bawah tekanan makhluk besi jauh lebih besar, berat, dan tinggi darinya.
Mata Artaxad beralih ke si Assassin, dan syaraf-syarafnya menegang seketika. Dia berteriak dengan satu emosi yang tidak pernah ditunjukan pada Alrisaia sebelumnya. "TIARAP!"
Alrisaia mengalihkan pandangan padanya, pikirannya masih terpaku untuk menolong Lachlann dan Galatra. Templar itu mempersempit jarak antara Alrisaia dengannya hanya dengan beberapa langkah, meneriakkan sesuatu yang terdengar terlalu cepat memudar.
"Sesuatu akan terjadi, sesuatu yang buruk akan terjadi."
Alrisaia melihat dunia seakan bergerak lambat, setiap detil terpapar di depan mata si Assassin. Suara-suara seakan menghilang total dari telinga si Assassin. Artaxad berlari sekuat tenaga menuju dirinya, pedangnya, yang sangat berharga bagi Templar tersebut, dilempar jauh entah kemana. Lengan Lachlann menekuk ketika si Accretia menekan. Berusaha meraih pelindung kepala Black Knight.
Galatra memungut tongkatnya dan mengarahkan mantra pada Accretia. Alrisaia merasa dijegal oleh Artaxad, kedua lengan kekar Templar melingkari pinggang wanita itu dan memaksa mereka berdua jatuh di atas debu. Satu anak panah, menyala terang, meluncur cepat tepat di atas kepala mereka. Tepat dimana kepala Assassin berada sebelumnya. Panah itu bisa saja menembus tengkuk Alrisaia.
Panah itu terus terbang dan dia menyadari bila Artaxad tidak menekan tubuhnya, panah itu bisa terbenam di dada templar itu, beberapa inci dari jantung.
Kemudian keadaan kembali normal bagi Alrisaia, suara yang sebelumnya hilang dari pendengaran, kembali terdengar lagi. Retakan es, membekukan Accretia sangat solid. Gemericik api. Artaxad tepat berada di atas tubuh Alrisaia. Darah dari lengan kiri Alrisaia menodai lengan Artaxad, menetes. Kedua pasang mata Corite itu bertemu, sayu tatapan yang diberi Assassin itu, namun tetap tersenyum simpul. Sedangkan Artaxad menghela nafas lega, setelah tahu Alrisaia baik-baik saja.
"Terima kasih."
Sebuah anak panah melesat, yang ini bahkan lebih cepat, nyata berwujud seraya menghujam wajah Artaxad, langsung menancap kuat.. di matanya.
...
-Bersambung-
