Standard Disclaimer Applies: I do not own RF Online. Because if i do, i'll make a movie out of it.
Semua nama tempat dan segala informasi mendetail tentang RF Online di cerita ini tidak akurat dan tidak bisa dipercaya, berhubung Author tidak main RF sampai level tinggi. Fanfic pertamaku, mohon dimaklumi :3
Close Call
Matanya. Panah tersebut tepat kena di matanya.
Benturan dari panah membuat kepalanya menyentak ke belakang, tubuhnya mengendur seraya lemas dan jatuh terjengkang ke tanah.
Alrisaia melihatnya dengan tatapan tidak percaya, penuh kengerian. Pikiran si Assassin menjelaskan pada kesadaran diantara batas abu-abu. "Artaxad tertembak.. di mata..di kepala. Dia pendarahan sekarang. Temanku sekarat.."
Gestur Artaxad seolah tidak nyata bagi Alrisaia. Caranya menggapai kepala, seolah tidak yakin dimana ia telah tertembak. Kakinya, menendang dengan lemah. Ini bukan dia, Artaxad itu kuat, yakin pada diri sendiri, tahu siapa dirinya, dan selalu tahu apa yang harus dilakukan. Selalu.
Tangan si Assassin mengepal, kemudian menghampiri dan memegang dalam dekap, pandangan Alrisaia menjadi buram, dan mulai tergagap, "Ti-tidak, tidak, tidak… tidak, tidak-"
Templar itu menghadapkan wajah pada Alrisaia, lalu buang muka, lalu kembali lagi pada si Assassin. Bernafas keras, dipaksakan, sukar, penuh kesakitan. Dadanya kembang-kempis begitu cepat. Kepala berambut kemerahan terkulai, dan berkata lirih, sedikit terhenyak, "Aku tidak.. bisa..."
"Darah sudah menutupi mata satunya." Bagian waras dari Alrisaia berucap.
Dia meletakkan jemari pada bagian pangkal panah yang menancap di mata Artaxad, coba mencabut dengan amat perlahan, namun si Templar melenguh lirih menahan perih. Tangan Artaxad mendorong lemah tangan Alrisaia, berusaha mencegahnya melakukan hal tersebut, "Jangan.. Jangan.."
"A-apa?"
"Bodoh, kalau kucabut, nanti bisa terjadi pembukaan pembuluh darah, dan makin memperparah keadaannya. Dia akan mati."
Alrisaia sulit berpikir, mengusap wajah tampan bersimbah darah didekapannya. Darah dari luka akibat tembakan panah, mengalir di sekujur tangan, mewarnai kulit tangan putih tanpa cela dengan hias merah pekat. "Tolong, jangan mati... Kamu tidak boleh mati.."
"Kembali, kembali.." Ucap Artaxad lunglai, merespon rekan satu tim. Lebih tepat seperti bisik kelelahan, begitu lemah.
"Kembali."
Mereka harus kembali. Alrisaia mendongak, melihat langit. Dia menyobek kain di bagian lengan, dan menyeka air mata, menarik lengan Artaxad melewati bahunya, kemudian mulai memapah.
Satu panah menancap di tanah, tepat di sebelah pijakan Alrisaia. Matanya tertuju pada Lachlann, dan melihat Black Knight itu membebaskan diri dari Accretia yang membeku dalam keadaan setengah menerkam. Galatra mengikuti langkah Lachlann yang berlari ke arah Alrisaia dan Artaxad. Melihat si Templar terkulai, mereka tahu ada yang tidak beres.
"Alri!" Galatra berteriak.
Dia berdiri dan lari. Lari melalui hutan secepat yang dia bisa. Artaxad berat, kepalanya menggantung di bahu si Assassin, dengan sisi wajah bertemu leher Alrisaia. Darah dari wajah rekan seperjuangan mulai menetes, menodai Armor Assassin wanita tersebut.
"Sedikit lagi." Hutannya makin jauh, ia berharap bisa keluar dari jangkauan tembak Ranger misterius.
Sakit, lutut Alrisaia terasa dikonsumsi oleh rasa sakit dan panas. Sebuah panah, menembus betis. Ia meringis, menahan perih luka. Karena ia tahu, harus bertahan demi Artaxad. Nyawa Artaxad bergantung padanya, dan luka yang diderita Alrisaia, tidak seberapa sakit dibanding kawan Templarnya.
Suara Lachlann, tepat di belakang mereka, "Artaxad!? Apa yang terjadi?"
"Oh Decem.." Galatra menutup mulut dengan sebelah telapak tangan, suaranya tertahan, tidak kuasa melihat panah masih tertanam di wajah Artaxad.
"Kita… kita harus menjauh dari hutan, kita harus kembali ke markas sekarang juga..." Alrisaia tidak sanggup untuk sekedar mengangkat wajah, guna bertatapan dengan rekan setimnya saat mereka bicara. Dia tidak sanggup berdiri, hampir tidak sanggup berjalan, tidak sanggup melakukan apa-apa.
Sarung tangan metal yang lebar, merenggut tubuh Artaxad darinya. Alrisaia sempat mencoba melawan, sebelum sadar bahwa ternyata Lachlann yang melakukan hal tersebut. Si Black Knight perkasa menggotong Artaxad di bahunya bagai boneka dari potongan-potongan kain. Galatra menghampiri, memungut pedang yang dibuang Artaxad tadi, seraya memberi sokongan untuk Alrisaia.
Lachlann menyentak, ketika panah di punggungnya makin dalam, padahal dia tidak menyentak sebelumnya. Sosok kecil Galatra gemetar saat memapah teman wanitanya, bergerak dalam kecepatan lebih lambat sekarang. Tongkat sihirnya tersampir di punggung, dan pedang Artaxad di tangan satunya.
Namun mereka hampir menjauh, sedikit lagi, mereka makin menjauhi hutan.
Lachlann menerobos tanpa ragu, tidak lagi berdebat. Galatra terengah-engah, keringat langsung membeku begitu menyusuri kulit putih Warlock itu. Alrisaia menyelidik area sekitar, perasaan buruk dan gelisah mengisi dada si Assassin.
Matanya terus menyusuri tiap cabang, tiap lebat daun yang menambah paranoia. "Satu lagi, masih ada satu lagi... yang menunggu kita."
Galatra langsung menggenggam tongkat berwana biru safir dengan tangan yang bebas, menariknya dari punggung dengan penuh rasa takut, sedangkan Alrisaia masih bersandar lemah pada gadis itu.
Gemerisik suara ranting patah dan daun di belakang mereka. Galatra balik badan untuk melihat sosok penyerang ketiga. Sosok langsing kecil mengenakan Armor lengkap Warrior Bellato, setengah tersembunyi diantara bayang gelap. Rambut Ponytail hitam, tergerai dari helm yang dikenakan sosok tersebut.
"Marchrie." Alrisaia tidak yakin, apakah ia bergumam dalam hati, atau berbisik dari mulut, tapi sosok itu seolah mendengar ucapan tersebut. Sosok langsing tersebut melihat tajam pada mereka berdua. Tombak tergenggam erat di sebelahnya, siap menyerang, kakinya menekuk, ancang-ancang menerjang.
Mata abu-abu tajam namun halus, penuh ambisi dan sukar dibaca. Alih-alih menyerang, tanpa kata, Warrior itu menyapa mereka berdua, dengan anggukkan kepala, lalu berbalik dan menghilang menuju kegelapan.
Galatra bertanya, penuh kebingungan, "Hah? Apa?"
"Sudahlah, jalan saja." Jawab Alrisaia.
Sosok besar Lachlann terus bergerak, tidak berhenti sampai keluar dari jangkauan hutan. Tubuhnya sedikit membungkuk, sekaligus menahan beban Artaxad, bersusah payah untuk tetap mempertahankan posisi.
"Kelihatannya, kalian baru saja melewati neraka, ya?" Di depan Lachlann, hadir sesosok pria Corite berambut pirang, berambut pirang lebat, dan memiliki mata licik. Tatapan itu, tatapan yang tidak pernah disukai Lachlann. Biarpun ia berada di tim yang sama. "Apa kalian merindukanku?" Tanya pria itu dengan nada ejekan.
Pertanyaan itu, bagai hinaan di telinga si Black Knight. Sekejap, ia menggertak gigi, dan berkata geram, "Keparat, Lawlet! Dari mana saja?! Akibat kamu menghilang seenaknya, kami jadi tidak bisa kembali ke markas!"
"Ah ya, aku lupa, akulah yang membawa teleport tim kita." Stealer yang bernama Lawlet, seolah tidak memperhatikan situasi dan menganggap remeh konsekuensi. "Jawaban untuk pertanyaanmu tadi, aku pergi menyelesaikan satu-dua masalah. Dan kalian tidak perlu tahu detilnya."
"Diamlah! Beri kami teleport! Kita pergi dari sini, SEKARANG!" Teriak Lachlann tidak sabar.
"Hmm, ada uang, ada barang." Ucapnya sinis.
"A-Apa…?" Lachlann benar-benar tidak percaya apa yang didengar kedua telinganya. Di saat timnya dalam keadaan terdesak, di saat temannya berada di garis tipis yang memisahkan hidup dan mati, bagaimana bisa pria di depannya malah memanfaatkan situasi ini? "JANGAN BERCANDA, BAJINGAN! Apa kamu tidak lihat, siapa yang sedang kugotong!? Ini bukan situasi yang tepat untuk hal itu!"
Amarah seketika menyeruak, teriakan Lachlann keras, menggetarkan udara. Tapi sayang, Lawlet seakan tidak terpengaruh akan hal itu. Masih dalam keadaan tenang, ia melipat tangan di depan dada, seraya tersenyum kejam dan berkata, "Lachlann, Lachlann, justru inilah situasi paling pas. Kalian sangat butuh teleport, kan?"
"Dasar lintah!" Sebesar apapun kebencian si Black Knight pada Lawlet, ia tetap tidak punya pilihan lain. Ia tidak mampu membantah lebih jauh. Mau memberi pelajaran atas kelakuan tidak menyenangkan si Stealer pun, percuma. Keadaan Lachlann jauh lebih buruk.
Sambil melempar Disena sejumlah 300.000, si Black Knight berujar, "Beri aku empat teleport! Cepat!"
"3 teleport untuk 300.000, kalau tidak ada uang, maka menyingkirlah.."
Lachlann mengangkat pedangnya, dengan sangat mengancam. "4 teleport, untuk 4 orang. Sebagai hadiah, atau barang buruan, kamu yang tentukan."
"Kamu tidak cerdas, ya?" Tanpa menunjukkan rasa takut, Lawlet menyeringai, "Bunuh aku, dan lihat apa yang akan terjadi."
Kesal setengah mati, Galatra mengeluarkan 100.000 Disena, dan melempar uang itu tepat ke wajah Lawlet. Stealer itu mengambilnya, mengumbar ekspresi serakah, dan menggigit satu koin. Meledek rekan setimnya, "Okey, 4 teleport, untuk 400.000."
Lachlann menurunkan kawan Templarnya, lalu menggenggamkan teleport dan mengendalikan tangan Artaxad sesaat, membuatnya membuang teleport itu ke tanah. Teleport itu langsung hancur menjadi abu, dan dari abu itu, muncul sekolom cahaya, menyelimuti Artaxad, kemudian hanya bayangan tersisa di tengah pilar cahaya.
Lachlann melempar dua teleport berikutnya pada Galatra, yang langsung memberi satu pada Alrisaia. Si Black Knight jadi paling terakhir menggunakannya.
Alriasia melempar teleport ke tanah, seperti tadi, otomatis langsung hancur menjadi abu dan ia merasa dikelilingi sensasi hangat, aman, dan tentram. Merasa sedang menuju ke tempat yang aman.
Bayangan Artaxad menghilang, begitupun dengan pilar cahayanya tadi. Galatra giliran berikut. Senyum lega terbentuk dari bibir si Assassin, mereka sudah keluar dari sini.
Tiba-tiba, pepohonan lebat terbelah, dan Alrisaia melihat sosok Logam besar. Kulit besi, bersinar dibalik rangka logam, menggenggam sabit sebagai senjata, menerjang sekuat tenaga. Alrisaia merasa ditarik menjauh dari lokasi pertempuran, kulit halusnya ditarik oleh angin kuat, pengelihatannya menyempit, dan rambutnya berkibar tidak beraturan. Dia melihat Lachlann, dihujani cahaya, mengangkat kedua lengan dalam kuda-kuda bertahan, saat si Accretia menghujam sabit.
Alrisaia membuka mulut untuk meneriakkan nama si Black Knight, bahkan wanita itu tidak paham untuk apa dia melakukan hal tersebut. Lachlann pasti akan pulang bersama mereka, teleport itu pasti bekerja, PASTI!
Lalu aliran angin semakin membesar, sampai membuat dia menutup kedua mata, membawa jiwa serta raga pergi dari sana.
…
Dan ketika dia membuka kembali matanya, kedua kaki Alrisaia telah menginjak tanah lembut, yang ditumbuhi rumput subur lebat, yang menggerayangi kaki. Jejak darah segar mengalir dari luka di betis, membuat warna hijau ternoda merah. Belum lagi, luka yang terdapat di bagian tubuh lainnya. Mengalir di atas permukaan kulit. Bangunan megah yang sangat dikenal, penanda Markas besar Aliansi Suci, kokoh. Barak prajurit, desiran angin, hawa sejuk yang begitu dia rindu.
Kadet akademi, banyak dari mereka melakukan aktivitas masing-masing. Latihan, dan belajar berburu. Memperhatikan para senior, tentang bagaimana menjatuhkan makhluk-makhluk buas di Novus.
Alrisaia memperhatikan sekitar, kepada Kadet-kadet akademi, berlari diatas padang rumput, beberapa membawa senjata, lainnya membawa peralatan, semua belum ada yang menyadari kehadiran si Assassin yang terluka parah. Sakit yang dirasa, terlalu berlebihan. Lemah, goyah diatas kedua kaki, ketika mencoba berjalan.
"Ini normal, aku teleport saat terluka. Ini… Ini semua… normal." Dia berpikir tidak akan merasa mabuk teleport lagi, setelah semua luka yang telah ia dapat. Nampaknya, itu tidaklah benar.
Kaki kanannya terangkat susah payah, menodai rumput dengan tetesan cairan merah yang jatuh dari sepatu, dan kembali menapak, beberapa senti di depan. "Satu langkah."
Dia menyeret kaki lainnya ke depan, saat ia menaruh berat badan pada kaki kiri, lututnya langsung menekuk bagai alang-alang tertiup angin. Dia terjatuh, dan giginya menggertak menahan sakit, meringis, menahan air mata kepedihan. Melihat ke betis, masih menancap panah itu sampai tembus, panasnya seolah meledek, diantara basah darah.
Seorang kadet akademi menyadari Alrisaia, dan balik badan. Mata jingga melebar selebar-lebarnya, ia berlari ke sisi Alrisaia, lalu segera memapah si Assassin sambil berseru, "Prajurit terluka, ada prajurit terluka!"
Lebih banyak pasang mata beralih pada mereka, dan segera berlari ke Alrisaia, menarik pergelangan kaki dengan hati-hati, hingga tubuhnya terangkat. Sekitar 3 orang menggotong tubuh tidak berdaya si Assassin, sampai masuk Markas Besar. Salah satu dari mereka kembali berteriak, "Medis! Dimana tim medis!?"
Mereka menggotong tubuh Alrisaia, beberapa meter lagi, sebelum beberapa kadet lain membantu dengan membuatkan tandu darurat. Cuma terbuat dari salah satu bendera putih berlambang Aliansi Suci, dibentangkan pada dua buah tombak yang dicabut mata tajamnya. Dia menjatuhkan tubuh diatas tandu, memperhatikan dengan pasrah, darah meresap ke kain putih.
"Darah…" Dia ingin tahu, apa yang sedang dilakukan Lachlann, dengan punggung tertembus begitu banyak anak panah. Mungkin Galatra sedang membantu mencabut panah-panah tersebut, saat Dark Priest, atau Grazier, atau siapapun, sibuk meracik obat-obatan.
Dan Artaxad-
"Artaxad!" Alrisaia langsung bangkit, dalam posisi duduk. Dan merenggut kerah kadet akademi di sebelahnya. Tangannya kuat mencengkram, meskipun terbalut luka, ia membentak. "Dimana Artaxad!?"
"E-Eh!? A-aku tidak-"
Dia berbalik pada kadet lain, yang ini juga terkejut akibat melihat mata Alrisaia begitu liar. Lagi, dia merenggut kerah si kadet dan menarik dekat ke wajahnya, menggeram dengan nada rendah, "Dimana timku?! Aku ingin bertemu timku!"
"Uhm, Uhm… Te-tenang, Nona.. Anda-" Kadet itu sampai tergagap.
Suara langkah kaki mantap, terdengar menapak lantai Markas. Alrisaia mencoba melihat dibalik bahu si kadet, namun, sepertinya luka di betis mengalami infeksi, menggerogoti daging dan memanaskan seluruh tubuhnya, bagai sebuah taring panjang, bersuhu tinggi, bergejolak dari dalam.
Dia menghempas tubuh kembali ke tandu, dikepung tubuh tinggi, dan kekar kadet akademi. Secercah sinar mempermainkan ketidak-berdayaan Alrisaia, di kala menunggu apa lagi yang bisa terjadi.
"Alrisaia, anakku." Sebuah suara, lembut dan bijaksana, seorang wanita berambut ungu panjang, Armor Spiritualist warna merah marun dengan aksen pink gelap, melindungi elok tubuh si Grazier yang dijuluki Semawarwen, yang terkuat diantara prajurit terkuat Decem. Tangan nan lentik, membelai masing-masing kepala kadet yang menggotong tandu, senyuman di wajah anggun itu, berganti jadi gerut dahi, raut wajah berduka langsung tergambar jelas.
Mata Alrisaia bersimbah air mata, seraya menggigit bibir bawah kala tatap mereka bertemu, sekuat tenaga menahan teriak penyesalan, agar tidak meluap ke permukaan. Lewat gigi yang bergetar, Alrisaia berucap, menolak untuk menangis sejadi-jadinya. "Ch-Chamtalion.. Faranell. A-Ar.. Artax.. ad.."
"Dia berada di ruang perawatan. Tenanglah, anakku. Kamu akan segera dibawa kepadanya, sesegera mungkin."
"Aku… Timku…" Faranell tidak memiliki jawaban untuk yang satu ini, ia menutup matanya, terlihat begitu sedih. Alrisaia merasakan emosi tidak menentu, menembus batinnya begitu cepat. Dia menatap Grazier tersebut, dengan putus asa. "Apa…? Apa yang terjadi…?"
Faranell mengangkat tongkat keemasan yang ia bawa, menunjuk ke arah ruang perawatan jauh di depan. Lalu tersenyum, berusaha menenangkan gejolak emosi Alrisaia. "Semua akan baik-baik saja, anakku."
…
Mereka membawa Alrisaia, menaiki tangga yang cukup tinggi. Mereka membawanya begitu lama, hingga membuat si Assassin membuang harapan untuk meninggalkan rasa sakit, Seolah makin lama, tubuhnya dililit tanpa ampun oleh ular besar, mulai dari engkel sampai leher. Taring ular imajinasi itu menghujam deras dadanya, menembus paru-paru.
Pikiran Alrisaia terlalu gelap untuk berpikir secara logis, sisi kecil dari kesadaran lainnya yang masih berpikir waras, membantunya menela'ah bangunan yang kini terlihat bangkit dari bahu kadet yang menghalangi pandangan. "Makin padat, ruang perawatan."
Dia menggeliat di atas tandu, menggulingkan kepala dari sisi ke sisi, meringis kesakitan, seraya melihat dirinya dibawa melewati belokan. Hangat senja berganti dingin kabut tipis, perlahan membelai indera peraba Alrisaia. Ia dibawa ke satu ruangan, dimana tidak ada seorang pun menunggu kedatangan mereka. Selang beberapa detik, masuklah pria tua, dengan figure agak bungkuk, di punggungnya hampir memiliki punuk. Giginya sudah tidak lurus, beberapa ada yang hilang. Kedua tangan berkeriput, terlipat ke belakang.
Para kadet yang membawa Alrisaia, langsung meninggalkan ruangan dengan tenang, menyerahkan sisanya pada yang lebih ahli. Gerg Vratoski, Sang Dark Priest. Salah satu peracik obat paling terampil di seluruh Aliansi Suci, Master penyembuhan.
"Salah satu teman Artaxad!" Ia berseru keluar, dibumbui aksen aneh, kemudian berbalik. Satu tangannya mendorong pelan pintu ruangan, menutupnya. Dan berjalan ke sisi Alrisaia
Mata si Assassin menatap figure tua itu, memaksa kalimat keluar dari bibirnya yang kering, "Aku… Aku…"
"Sssshht, gagak kecil." Gerg menenangkan Alrisaia, dan menarik keluar botol berisi sesuatu berwarna hijau dari balik jubah. Agak terhambat saat membuka tutupnya, ia berkata, hampir menggeram akibat kesulitan, "Ini akan mengurangi rasa sakitnya."
Dark Priest itu menahan botol tepat di atas betis Alrisaia, dengan tangan kanan. Cairan hijau terang mengalir dari mulut botol, jatuh membasahi luka. Cairan merah gelap, bercampur hijau. Gerg menggerakan tangan kirinya, dengan suatu gerakan aneh yang tidak dimengerti Alrisaia, menggosokkan tangan kiri itu ke udara dan dedaunan yang terbang mengitar si Dark Priest. Bahkan, Alrisaia tidak sadar kapan dedaunan itu ada di ruangan ini.
Satu persatu dedaunan itu jatuh di luka-luka yang basah akibat cairan hijau, lalu mengeluarkan sinar dari urat daun, dan memudar perlahan. Alrisaia menyaksikan dengan mata kepalanya, dedaunan tadi memudar, seolah meresap melalui celah-celah luka, bersamaan dengan cairan hijau racikan Sang Dark Priest. Dia tahu ini akan sakit, dia merasakan kedua bibirnya bergerak mengucap do'a tiada berbunyi, seraya menanti sakit menghilang.
Kepalanya kembali jatuh ke bantal, dan kedua mata perlahan terpaksa menutup, bukan karena keinginan sendiri. Dan dia merasa kesadarannya dipaksa tertelan oleh kegelapan.
...
-Bersambung-
Author's Note:
Ahhoy, Kapten! Aduuuh, udah lama banget aku membuat cerita ini tertidur. Untuk itu aku minta maaf sebesar-besarnya. Bukan berarti aku sengaja, atau ga mau lanjut. Tapi karena sempet kemalingan laptop, otomatis draft penulisan untuk beberapa chapter kedepan pun ikut ra'ib (Pelajaran buat yang lain, selalu backup file penting di lebih dari satu media penyimpanan data :p). Alhasil, aku harus bikin dari 0. Ditambah kesibukan pekerjaan, dan blablabla...blablabla, aarrgghhh...baru sempet diupdate hari ini. Mulai sekarang aku akan cicil cerita ini biar jalan terus. Salut buat temen-temen author lain yang meski sibuk, tapi tetep sempet update ceritanya! Kalian greget!
Iya, ada Faranell Trinyth dari fic sebelah. Dan bukan, Alrisaia bukan anaknya. Sebutan "anakku" dari Faranell, itu ibarat Shirohige dari serial One Piece, yang menganggap semua kru adalah anaknya (Oh, i love that guy~). Nah, Faranell pun begitu. Dia menaungi semua Corite yang lebih muda, menganggap mereka semua anaknya. Melindungi dengan kasih sayang, jadi peneduh asa diantara duka...something like that :p :p Daripada nganggur di fic asalnya, mending kuambil aja...MUAHAHAHAHA!
