Standard Disclaimer Applies: I do not own RF Online. Because if i do, i'll make a movie out of it.
Semua nama tempat dan segala informasi mendetail tentang RF Online di cerita ini tidak akurat dan tidak bisa dipercaya, berhubung Author tidak main RF sampai level tinggi. Fanfic pertamaku, mohon dimaklumi :3
Turning Point
"Apa-apaan, itu tadi?"
Sesosok Corite mencengkram sebatang panah, dengan tangan kanan. Kepala panah sudah terlepas dan rusak, batangnya terbakar perlahan. Dia menggeleng, penuh kejengkelan, lalu membuang panah tersebut ke sisinya. Warna cokelat menyala terang dari mata Corite tersebut, hatinya terbakar api amarah, dan relung dada terisi tar hitam sebagai bahan bakar yang memperbesar kobaran api imajiner.
Dia menatap sosok dara di depan, figure gadis Bellatrean yang memegang sebuah tombak melebihi tinggi tubuh sendiri, selalu siaga. Marchrie, si Berserker, balik menatap si Corite, namun dengan tatapan acuh tak acuh.
"Itu disebut 'rencana yang gagal'." Ucapnya, berbahasa Corite begitu fasih.
Sebenarnya, itu adalah rencana sederhana. Critoxis, si Adventurer, sudah satu langkah di depan rencana pelarian tawanan itu ketika sedang melakukan scout terhadap posisi target. Jadi, mereka tahu pasti apa yang akan dilakukan target. Clatterhole, si Punisher bersenjatakan sabit emas, akan menuntun target keluar dari hutan, agar Critoxis bisa menembak tanpa halangan. Si Punisher akan memotong jalur pelarian mereka dari ruang terbuka, dan Marchrie seharusnya menanti di antara rimbun semak belukar untuk membasmi mereka yang coba bersembunyi.
Mereka berdiri di tepi Hutan Crawler, perbatasan antara tanah menuju Tebing Petir. Permukaan tanah dipenuhi anak panah dan darah, jejak kaki tertutup debu, dimana mereka berlari sebelumnya.
Marchrie memilih berdiri di bawah bayang pohon, sedangkan Critoxis membungkuk, guna memungut beberapa anak panah, dan memilah-milah yang masih bisa digunakan.
"Pengkhianat!" Satu sisi dari batin Critoxis berteriak. "Tusuk jantungnya sebagai persembahan Raja-Pendeta, satu panah sampai tembus!"
"Kita… Aku hanya mengabdi pada Blasphemer, aku hanya melaksanakan perintah dari Sutherex Sang Pendeta Agung."
"Dasar orang Bid'ah! Penoda udara yang kita hirup! Bunuh dia demi Pendeta Agung, kita sudah ternoda oleh makhluk menyimpang! Puja kematian!"
Si Adventurer berambut cokelat muda, telah mendengar suara-suara ini untuk waktu yang sangat lama, sampai ia sudah tidak peduli lagi terhadap suara tersebut, sudah tidak yakin lagi yang mana dirinya, yang mana yang bukan. Dia menganggap suara pertama sebagai 'Amarah', dan suara kedua sebagai 'Tenang'.
"Mungkin bila saja kamu menunggu dan mengikuti rencana, ketimbang menembak terlalu awal, ini tidak akan terjadi." Seraya mengingatkan, Marchrie menyudutkan tombak pada si Corite.
Si lawan bicara menggeram, "Keunggulan ada di tangan kita!"
"Kita kalah jumlah." Marchrie mengejek, bersandar pada batang pohon sambil pura-pura menajamkan sebuah belati dengan saling mengasah pada mata tombak.
"Mereka 4 kantong daging bekas yang kelelahan! Kita bertiga, kuat dan bertenaga penuh, kita seharusnya bisa membunuh mereka semua!"
Marchrie menyeringai, dan sekali lagi mengingatkan, "… Kuat, tapi tetap bertiga. Mereka punya Lachlann si Black Knight, dan entah kamu bodoh sekaligus buta-"
"Jahit mulut pelacur kecil ini! Kuliti dia! Bakar dia! Lakukan upacara persembahan!" Amarah menyela.
"-Kamu harusnya tahu kita tidak punya kesempatan melawan dia."
"Dia menyampaikan alasan yang masuk akal." Tenang memperjelas.
Critoxis memperkuat genggaman di sekitar anak panah, sampai patah di tengah. "Clatterhole pasti bisa menyobek tenggorokan Black Knight itu! Tidak, mereka lolos karena kamu membiarkannya!"
Si Berserker terdiam dan perlahan menatap ke atas, mengunci lekat mata cokelat menyala sang Adventurer. Sepasang mata kelabu bak baja dingin dan dalam, menatap Critoxis penuh waspada. Critoxis sadar, tangan mungil namun kokoh milik Marchrie makin erat menggenggam pegangan tombak, posisi kaki Berserker itu bergeser, siap melompat ke arahnya kapan saja.
Tidak tinggal diam, tangan Critoxis yang bebas, perlahan menggapai inventori yang terletak di punggung dan siap mencabut keluar beberapa anak panah dari sana.
"Tembak saja!" Amarah mendesis.
"Dia itu sekutu." Tenang membantah.
Lalu, tensi gadis berambut hitam itu menurun, tertawa tinggi dan angkuh. Dia mengibaskan belati, kemudian mulai melemparnya ke udara, dan ditangkap tanpa kesulitan. "Kuharap tindakanmu tidak menyiratkan seolah aku seorang pengkhianat, karena itu sama saja dengan berbohong, dan aku benci pembohong."
Marchrie menekankan dua kata terakhir, dibumbui nada rendah nan mengancam. Si Adventurer tersentak, lalu ambil selangkah mundur. Dia tahu cuma punya peluang kecil mengimbangi Marchrie, dalam pertarungan langsung.
Critoxis cepat, tapi Marchrie sanggup menghalau semua tembakan, dan menghancurkannya dengan satu hantaman telak.
"Pembohong!? PEMBOHONG!? Dia berani menuduh kita!? Tangan kanan Sutherex!? Kafir terkutuk!"
"Dia bukan ancaman untuk saat ini."
Critoxis melihat ke arah Bellatrean, api memercik namun lebih panas dari biasanya, memanaskan dataran kering di bawah kaki si Adventurer. Bukti-bukti sudah tidak terbantahkan, pasukan pelarian Corite tepat menuju tempatnya menunggu, dan dia sama sekali tidak membunuh bahkan satu saja.
Ditambah lagi, si Punisher, Clatterhole, yang mengejar mereka dari belakang, dipenuhi nafsu membunuh, kini ikut menghilang. Amarah dan Tenang tetap berdebat hingga beberapa saat kemudian, tapi keduanya sepakat memberi label yang sama pada gadis Bellatrean itu.
"Pengkhianat."
Lagi-lagi si Adventurer mengambil selangkah mundur, menggerutu dalam bisik dan membungkuk untuk mencabut anak panah lain dari tanah. Yang ini juga rusak. Dia menapak menuju daratan yang telah menyerap darah, berubah pekat memerah. Setidaknya, dia membunuh satu. Tepat di kepala.
"Satu!? Satu!? Kamu hanya bunuh satu!? Satu dari 4 sama saja nihil!" Amarah menggertak.
"Sutherex tidak akan senang." Keluh Tenang.
…
Sutherex tidak senang.
Kabut tipis kehijauan, menyapu ringan sosok berambut hijau gelap, melebihi bahu, yang tinggi dan gagah layaknya Corite pada usia emas. Ruangan ini telah dibangun sedemikian rupa, guna mengantisipasi segala macam ukuran tubuh yang dimiliki Sutherex maupun bawahannya, dari yang lebih besar dan tinggi dari Sang Pendeta Agung, sampai yang lebih kecil dengan beragam sifat tidak terduga.
Di suatu bunker rahasia, gelap dan tersembunyi, sebuah meja besar mendominasi di tengah ruangan, Sang Pendeta Agung duduk di ujung. Kepalan tangan Sutherex melekat erat pada permukaan batu granit yang jadi bahan utama meja itu, kursi yang ia duduki adalah yang terbesar dan termewah diantara semua.
Di sebelah kirinya, duduk seorang wanita Corite luar biasa cantik, memamerkan ekspresi bosan. Rambut pirangnya bergelombang. Terikat rapi, seraya membersihkan kuku menggunakan pisau panjang.
"Ini konyol, aku mengirim seluruh tim untuk mengamankan satu buku besar berisi mantra, dan lihat apa yang terjadi..." Sutherex menggerutu, geram, gusar, dan kesal. Hanya ada satu orang yang mendengarkan ocehannya. "… 3 diantara mereka keluar jalur, berniat 'membunuh', dan kehilangan satu prajurit terbaik, tapi tidak mendapatkan apapun. Sempurna. SEMPURNA!"
Dia meneriakkan kata terakhir, sambil memukul keras meja di depannya. Tidak disangka, untuk ukuran seorang Pendeta, Sutherex memiliki kekuatan yang mampu menggetarkan meja batu granit yang punya berat entah berapa.
"Rahasia apa yang didengar telingamu?" Dia bertanya, menggestur pada wanita Corite di sebelahnya.
Halhandar, Si Warlock 'pakar' rahasia dalam kelompok kecil mereka, menjernihkan tenggorokan sebelum angkat bicara. "… Aku mendengar banyak rahasia belakangan ini. Yang paling segar di ingatanku adalah kembalinya tim sabotase dari 'misi rutin'. Ada beberapa yang bilang, tujuan mereka sebenarnya, yaitu untuk mendapatkan sebuah artifak yang kepentingannya belum diketahui."
Sutherex mengangguk. "Lalu, informan kita?"
"Beberapa telinga mendengar nama yang kita kenal, Critoxis, prajurit lapangan, berhasil menembak salah seorang dari mereka. Tepat di kepala. Pasti mati."
"Kita lihat saja nanti. Apa mereka akan mencoba menggunakan kekuatan buku itu?" Gerutu Sang Pendeta Agung.
"Entah. Tapi bila Faranell mempelajari buku itu, bisa dipastikan, dia akan menggunakannya."
Sutherex mengusap dagunya, dilengkapi pikiran tak menyenangkan, serta rasa cemas. Siapapun yang memiliki Buku Halaman Tidak Terbatas itu, bisa memutar-balikkan keadaan perang ini, bahkan bisa saja memutar-balikkan semesta. Siapa yang tahu?
Ekspresi Pendeta berambut hijau gelap itu sulit dibaca, seolah sedang berada di bawah bayang gelap yang menaungi bagian peta belum terjamah.
"Kurasa solusinya sederhana. Bawakan aku salah satu dari mereka, beri aku bebeapa jam, dan aku akan menguras semua informasi yang dibutuhkan." Halhandar kembali mengutarakan pendapat, menatap Sutherex yang memperkuat kepalan tangan. "Penyiksaan sama dengan jawaban." Lanjutnya, dengan nada menggoda, memperhatikan kuku-kukunya yang diwarnai merah darah.
"Kita sudah mencoba itu sebelumnya, dan tawanan itu hanya berakhir sebagai mainanmu." Tangan Sutherex memijat kening sendiri, terasa penat di kepala, memikirkan langkah baru yang harus diambil.
"… Kalau begitu, aku punya rencana lain." Warlock berambut pirang itu, menatap Sutherex, dengan tatapan sensual. "Solusiku yang lain, adalah memberi informasi pada pihak mereka, tentang kekuatan Buku Halaman Tidak Terbatas, sekarang di tangan mereka, melalui seorang prajurit kita yang 'kurang beruntung'. Buku itu hanya bisa bereaksi di tempat tertentu, bukan?"
Sang Pendeta Agung menanggapi, "Tentu. Hutan Suci, di sektor Numerus."
"Tepat." Halhandar melanjutkan, "Jadi, kita susupkan prajurit kita, guna memberi kesaksian tentang kekuatan buku itu, bila perlu, beri tahu kalau kita tidak tahu apapun. Dan, saat mereka antusias untuk memenangkan perang ini, mereka pergi ke Hutan Suci, hanya untuk disergap pasukan kita."
Sutherex mengangguk, seusai dengar penjelasan. "Rencana ini bisa berhasil, mengingat kamu punya banyak informan di dalam jaringan Corite. Biarpun begitu, tetap punya resiko tinggi karena berada di wilayah Numerus. Dan juga, kita butuh seorang prajurit berdedikasi, seorang yang mampu meyakinkan mereka tentang kekuatan buku itu, seseorang yang bisa mengatakan kebohongan layaknya memuntahkan kebenaran pada wajah interrogator Aliansi Suci."
Halhandar membungkuk, dalam sikap tunduk melakukan sikap pelayan, "Izinkan aku yang mengorkestrakan rencana brilian ini, Pendetaku."
Dengan tangan kanan, Pria itu meraih dagu Halhandar, dan mengangkat wajah Warlock yang luar biasa menggoda itu dengan lembut. Tanpa peringatan, mengarahkan bibir wanita itu menuju bibirnya. Kedua insan tersebut saling pagut satu sama lain. Satu ciuman dalam dan lama, hampir diiringi nafsu, namun pergerakannya melantun indah seolah ada sinkronisasi dengan melodi sunyi. Beberapa kali, lidah Halhandar meladeni permainan lidah yang dilakukan sang lawan, bertukar saliva, tanpa terburu-buru melepas hasrat tertahan.
Selepas kegiatan panas, lelaki berambut hijau gelap menyeringai, "Kamu yang memimpin misi. Lagipula, ini memang idemu."
Kemudian, langsung merebahkan tubuh wanita dihadapannya, ke lantai. Sambil mencumbu mesra, penuh peraaan leher putih nan jenjang si Warlock, hingga membuatnya mendesah manja, "Ohhh, Sutherex~"
…
Masa lalu Alrisaia terbilang rumit. Kehilangan keluarga akibat kecelakaan transportasi di usianya yang ke-8, lebih dari cukup membuatnya kehilangan arah, kehilangan tujuan untuk melangkah maju.
Sampai ketika, lelaki itu muncul di hadapannya. Lelaki bertudung hitam, dengan beberapa helai rambut tergerai dan tidak terlindung dari hujan. Lelaki itu, yang kemudian dipanggil 'Master Zarr' oleh Alrisaia.
Master Zarr memberi naungan, tempat berlindung, makanan, pakaian, kehangatan untuk menyapu dingin yang kerap menggelitik Alrisaia sejak tragedy itu. Bertindak layaknya pengganti figure seorang Ayah, bagi anak yang belum puas akan kasih sayang orang tua.
Tapi, tentu tidak ada yang gratis di dunia ini. Itu hanya satu sisi. Sebagai gantinya, Alrisaia kecil harus bersedia jatuh lebih dalam, berjalan lebih jauh menuju kegelapan.
Lelaki itu.. adalah seorang pembunuh terlatih dari suatu organisasi gelap. Dia mengajari Alrisaia kecil, dengan cara keras, kadang melewati batas akal sehat Corite. Dia mengajari apa yang ia tahu, pada seorang gadis kecil yang baru saja mengenal dunia. Metodenya, penyusunan rencananya, langkah-langkah yang harus dilakukan.
Takut, tentu Alrisaia kecil sering merasa ketakutan. Bergetar hatinya, pedih, sakit, meringis tanpa membuka mulut. Menyimpan rapat rasa sakit itu, karena bila sampai ketahuan, habislah. Kengerian saat ia menghentikan nafas seseorang, sungguh terus menghantui tanpa henti.
Tapi hal itu seolah sudah lumrah, seiring berjalannya waktu. Tanpa punya banyak pilihan, pada usia ke-11, ia bergabung dengan organisasi gelap itu, mengeliminasi banyak individu. Organisasi itu berdalih, mereka membersihkan dunia dari pikiran kotor, dari dosa-dosa yang tidak kunjung dihakimi Decem, dengan membawa penghakiman langsung kepada para pendosa.
Tidak butuh waktu lama baginya, untuk menjadi Agen berpengaruh di organisasi itu. Dalam kurun waktu 3 tahun, dia dinobatkan sebagai Agen dengan pencapaian terbaik kedua, tepat di bawah gurunya sendiri, Master Zarr.
Kadang, Alrisaia memang berpikir, mereka pantas untuk mati. Mereka pantas untuk menerimanya. Namun.. sisi kecil di sudut hati, kerap berbisik, "Bukan begini caranya."
Sekotor apapun mereka, sekeji apapun perbuatan mereka, seberat apapun dosa yang ditanggung, organisasi tidak berhak menentukan siapa yang pantas mati. Ini bicara tentang nyawa, kehidupan, dengan kedua tangan si Assassin, memancar pisau Force berwarna violet cerah, sudah tidak terhitung berapa korban meregang nyawa.
"Bukankah, ini sama saja?" Bisikan kesadaran itu terus saja menghantui dengan berbagai pertanyaan mengganggu. "Apa yang jadi pembeda antara dosaku dengan mereka?"
Meski terusik oleh nilai-nilai moral yang diyakini selama ini, tidak membuat performanya menurun. Hampir setiap hari. Hampir setiap hari dia mendapat tugas baru dari organisasi. Yang artinya, hampir setiap hari, paling tidak ada satu individu mati di tangannya.
Dia adalah mesin pembunuh efektif. Jalan hidup ini, membuatnya makin tertelan kegelapan. Hal ini terus berlanjut, hingga hari ulang tahunnya yang ke-18.
Itu adalah sebuah misi biasa lainnya. Mengeliminasi pelaku perdagangan budak Corite ke orbit luar. Tidak bisa dimaafkan. "Yang seperti ini, tidak punya tempat di dunia." Pikir Alrisaia.
Tapi, semua di luar dugaan. Persiapan yang ia lakukan sia-sia, tersentak, begitu ia tiba di lokasi, bersiap meyayat tenggorokan target, di sekelilingnya sudah berkumpul militer dengan persenjataan lengkap.
"Okey, biar kujelaskan ada apa ini." Ucap seorang perwira berjubah kebesaran Aliansi Suci. "Aku ingin kamu, Alrisaia, untuk bergabung dengan angkatan bersenjata, dan berangkat ke Novus secepatnya."
Alrisaia tidak menjawab, masih berusaha menelaah kejadian ini. Wajahnya berusaha tidak menunjukan emosi, biarpun dia sedang dipenuhi kebingungan. "Lari, aku harus lari!"
Tapi kemana? Dia tidak menemukan celah barang sedikit. Alrisaia sama sekali tidak tertarik akan tawaran untuk menjelajah galaksi.
"Tidak perlu mencari jalan untuk kabur, kamu tidak akan bisa." Ejek sang perwira enteng. Mata biru muda Alrisaia mengunci lekat tatap penuh kemenangan pria itu. Tak lama, ajudannya membawa seseorang dengan tangan terikat, mendorong seseorang itu hingga jatuh. "Kalau kamu menolak, akan kutembak kepalanya."
Seseorang itu.. sangat dikenal Alrisaia. Master Zarr. "Mereka bahkan bisa menangkap Master Zarr!? Cih. Bagus sekali."
"Jadi, jawabannya?"
Bila ada satu hal yang diajari oleh Master Zarr, di saat seperti ini, adalah pura-pura tidak kenal. "Tembaklah. Kamu pikir, aku peduli?"
Berat hati ia berkata seperti itu pada gurunya. Karena, meski metode pengajaran Master Zarr kejam, sering menggunakan kekerasan, tidak memperhatikan murid sendiri, namun dia tetaplah orang yang memberi tujuan baru bagi Alrisaia untuk terus hidup.. walau tidak ada cahaya yang menyinari jalan hidupnya saat ini. Setidaknya Master Zarr adalah sosok yang paling mendekati untuk disebut 'orang tersayang' bagi Alrisaia.
"Oke kalau begitu." Suara letusan senjata api dari moncong senjata di tangan Sang Perwira, terdengar nyaring memekakkan telinga. Mata Alrisaia terbelalak tidak percaya, melihat tubuh Master Zarr yang selama ini gagah, kini lunglai tiada bernyawa.
Gurunya tewas seketika, tanpa mengucap sepatah kata terakhir pada Alrisaia. Kini, ia ditinggalkan sendiri untuk menghadapi apapun yang akan terjadi.
Pria ini… bisa-bisanya menembak kepala orang begitu saja. Sedih, perih, terasa di hati. Lagi-lagi, Alrsaia harus kehilangan orang yang dekat dengannya. Semburat emosi berusaha ditahan sekuat mungkin, tetap menunjukkan wajah tanpa ekspresi. Ingin rasanya ia menjerit, menangis, untungnya, Alrisaia sudah terlatih memendam perasaan. "Apa ini… kutukan…? Hidup yang indah."
Didorong rasa tegang, dan takut, keinginan untuk bertahan hidup masih menendang keras dari alam bawah sadar Alrisaia, sehingga membuat gadis itu mengambil keputusan, "Baik, aku akan melakukannya."
Sama seperti yang sudah-sudah, dia tidak berhak memilih jalan yang akan ditempuh. Ini bukan negosiasi.
…
Kemampuan Alrisaia cepat menjadi sorotan. Menerima pelatihan untuk jadi mesin pembunuh sejak belia, membuatnya mudah beradaptasi dengan segala macam latihan keprajuritan Aliansi Suci. Nama Alrisaia langsung meroket, menjadikannya sejajar dengan kalangan prajurit elit Aliansi Suci. Namun, ia tetap menjalani pendidikan 4 tahun layaknya kadet lain, sampai benar-benar siap diterjunkan dalam misi sebenarnya.
Tapi dia bahkan tidak tahu kenapa ada di sini. Harus memulai lagi dari awal, tanpa tujuan yang jelas.
Di sini, Alrisaia berpikir, dia bisa mulai hidup baru, dengan cara lama. Dia kembali mengisolasi dirinya dari dunia luar. Berada dalam gelembung sendiri sepanjang waktu, menjauhkan orang-orang yang coba mendekat. Dia tidak ingin kehilangan, saat sudah menjalin sesuatu. Ia yakin, kematian selalu berada didekatnya, selalu mengincar orang-orang yang ia sayangi, tanpa menyentuh dirinya sama sekali.
Apa yang lebih buruk dari kematian itu sendiri? Yakni kehilangan setiap orang yang terlanjur dia sayang, satu persatu. Alrisaia yakin, ini kutukannya, atas dosa yang telah ia lakukan.
Kepala bermahkota biru muda, wajah tanpa senyum, dingin, menunjukkan kesinisan pada segala hal di sekitar. Alrisaia tidak mau berada di sini, dia tidak memilih untuk berada di sini. Alrisaia ingat betul bagaimana pertemuan dengan Artaxad untuk pertama kali.
Kala itu, Alrisaia sedang berjalan di taman, menikmati waktu luang yang begitu sedikit, ditemani belaian angin sepoi yang menyisir rambut biru muda. Di atas sebuah batu besar, lelaki itu duduk, mengasah pedang yang diletakkan melintang di atas kedua paha, sambil memperhatikan Alrisaia dari jarak agak jauh.
Mata mereka bertemu, dan saling melekat untuk beberapa waktu. Mata lelaki itu oranye menyala, begitu cerah seperti matahari. Ia tersenyum, sampai Alrisaia memutuskan untuk berhenti menatapnya dan terus berjalan. "Kenapa lelaki itu?"
Tanpa diduga, lelaki itu sudah berada di belakang Alrisaia dalam sekejap. "Hai, namaku Artaxad, siapa namamu?"
Sedikit tersentak, Alrisaia menoleh kebelakang. Pria berambut merah itu benar-benar mempersempit jarak diantara mereka begitu cepat. Gadis itu menjawab singkat, "Alrisaia."
Kemudian berbalik, berniat pergi dari sana. "Tidak boleh melakukan kontak, tidak boleh memecahkan gelembung. Mereka berbeda dariku, mereka tidak pantas menerima monster sepertiku."
Artaxad yang hanya melihat punggung Alrisaia, menatap bingung, bergumam sendiri, "Uhh- Okey.. Salam kenal, mungkin..?"
…
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan berlalu. Sejak pertemuan pertama, tiada hari tanpa Artaxad yang selalu menghampiri Alrisaia di tiap kesempatan. Hal itu jelas membingungkan Alrisaia. Kian dihindari, kian keras juga usaha Artaxad untuk sekedar berbincang dengannya.
Padahal, Alrisaia mengira, telah sukses membangun tembok besar yang memisahkan dia dan lingkungan sekitar. Alrisaia hanya bicara seperlunya, selalu memasang ekspresi datar, dan tidak pernah tertarik oleh sesuatu, tapi selalu jadi yang terbaik, membuat kadet lain merasa 'beda level' dan enggan untuk sekedar menyapa.
"Tapi kenapa… dia bersikeras…? Dia berusaha memecahkan gelembungku. Meruntuhkan tembokku…"
Suatu ketika, jengkel dibuntuti terus, Alrisaia berbalik, kemudian menatap tajam pria berambut merah. "Kenapa kamu terus melakukan ini?"
"Melakukan apa?" Balas Artaxad.
Tatapan Alrisaia mulai meluap kekesalan. "Terus menerus menghampiriku, bahkan ketika aku berusaha menghindar, kamu terus saja datang lagi, dan lagi."
"Lho, sudah jelas, kan? Aku tertarik padamu." Jawab si rambut merah dengan begitu enteng, membuat Alrisaia terkejut. "Dan lagi, aku tahu, kamu kadet terbaik, tapi sungguh aneh melihatmu sendirian sepanjang waktu."
"Heyy, heyy, siapa yang suka duduk sendirian diatas batu, mengasah pedang?" Batinnya menggerutu, tidak terima pernyataan tidak sadar diri dari pria di hadapannya. "Itu bukan urusanmu."
"… Tentu jadi urusanku sekarang, karena aku sudah tertarik padamu." Alrisaia benar-benar tidak mengerti pemikiran Artaxad, hal semacam ini tidak pernah ada dalam pelatihan dimanapun. Bisa dibilang, gadis itu amatir dalam urusan interaksi lawan jenis.
Satu-satunya yang terpikir di kepala gadis itu, adalah cari celah untuk lolos dari situasi ini. "Celah… celah… celah!"
…
Kegigihan Artaxad, sedikit-sedikit mengikis dinding di sekitar Alrisaia. Saat gelembungnya sedikit lagi hampir pecah diterobos si Warrior muda, akal sehatnya tersadar. "Pergi, kamu harus pergi.."
Artaxad terhenyak mendengar respon Alrisaia, namun menolak melakukannya.
"Pergi.. aku mohon padamu. Menjauhlah."
"Kamu tahu aku tak akan melakukannya. Aku orang yang cukup keras kepala."
"… Kamu tidak kenal diriku! Kamu tidak akan mau menerimaku, kalau tahu diriku yang sesungguhnya! Aku berbeda dengan kalian! Aku- Aku… kotor."
Artaxad terdiam, mencerna kata demi kata, yang terlontar dari bibir aduhai merah muda milik Alrisaia. Gadis itu makin berusaha menutup diri darinya, menyilangkan tangan di depan dada, berusaha menolak sentuhan dari luar. Mekanisme pertahanan diri telah aktif, menunjukkan rasa tidak aman. Wajahnya tertunduk, coba mengalihkan pandangan Artaxad dari mata berkaca-kaca.
Warrior muda itu berharap, Alrisaia mengerti apa yang akan ia sampaikan. Artaxad membuka mulutnya, suara mulai terdengar ringan di permulaan, bersamaan dengan hembusan angin menyapu keberadaan mereka berdua. "Dahulu, ada seorang anak lelaki..."
"... Yang tidak tahu bahwa dirinya monster. Karena tidak pernah melihat cermin; dia tidak tahu seperti apa refleksinya sendiri. Anak lelaki itu mengira, dia bisa berbaur, hidup berdampingan bersama anak-anak lain, bermain, makan bersama dengan bahagia, mengesampingkan kenyataan mengerikan dibalik keceriaan. Sampai suatu ketika, seseorang memberi tahu anak tersebut, betapa mengerikan dirinya. Betapa dia berbeda dari anak-anak lain." Artaxad berhenti, untuk melihat reaksi Alrisaia, atau pergerakan apapun. Sayang, gadis itu tetap tidak berubah posisi.
"... Monster itu tidak pernah tahu, bagaimana rupanya di mata penduduk desa, jadi dia pergi mencari cermin dan berkaca untuk melihatnya sendiri. Dan di dunia cermin itu, menatap balik pada si anak lelaki, sesosok monster buruk rupa. Segera, setelah itu apapun yang disentuhnya, tiba-tiba membusuk akibat kesedihan dan stress berlebih. Monster itu tidak lagi bisa bahagia. Dia merasa dikhianati kebahagiaan, ditinggalkan rasa tentram. Sehingga, membuatnya lari ke tengah hutan belantara, begitu jauh, sampai tidak ada seorang pun yang bisa menemukannya. Monster itu membangun dinding terkokoh, untuk melindungi orang lain dari dirinya. Tidak ada lagi yang bisa melihat monster itu akibat dinding terlampau tinggi. Tapi, jauh di dalam hati, dia ingin bahagia, ingin mengizinkan seseorang masuk melalui dinding itu. Tiap malam, ia memanjat do'a; 'Tolong selamatkan monster, tolong selamatkan monster. Aku bukan monster di dalam hati, aku hanya seorang anak laki-laki dengan rupa seekor monster'." Suara Artaxad perlahan memudar, pertanda cerita telah usai.
Alrisaia terdiam, selagi tertunduk lesu. Matanya sedikit melebar, kata-kata Artaxad bergema di pikirannya. Cerita yang dikemas supaya terdengar bagai sebuah dongeng sebelum tidur, tapi dia tahu, ada arti yang lebih gelap dibalik perkataan Warrior itu.
Setelah satu hela nafas panjang, Artaxad melanjutkan. "Monster itu.. adalah aku."
Terhenyak, Alrisaia mengangkat wajah, menatap Artaxad yang tersenyum tulus, tanpa tahu harus berkata apa.
Andai saja Alrisaia tahu kebenaran lebih awal, tentang monster kecil bernama Artaxad. Mungkin akan lebih dulu memahami seperti apa rasa sakit dan takut yang dialami jiwa anak-anak Artaxad. Seorang anak lelaki yang belum mampu melepas masa lalu kelam. Dia juga membangun dinding kokoh untuk menghalangi dirinya dari dunia luar.
"Memang benar, aku tidak mengenalmu. Makanya…" Tangan kanan Artaxad terangkat, gesture mengajak jabat tangan. Alrisaia menatap tangan itu, penuh tanda tanya. "… Kita harus saling mengenal lebih jauh. Hai, namaku Artaxad. Siapa namamu?"
"…" Sempat tercengang lama, namun akhirnya, gadis berambut biru muda menyeka setitik air di sudut kelopak mata, barulah menyambut uluran tangan Artaxad, dihiasi senyum paling manis pertama yang pernah dia beri untuk orang lain, sejak tragedy itu, "Alrisaia, salam kenal."
…
-Bersambung-
