Standard Disclaimer Applies: I do not own RF Online. Because if i do, i'll make a movie out of it.

Another late update! Hehehe mohon maaf ya...semoga kalian bisa tetep menikmatinya!


A Matter of Plots

Marchrie berdiri di tepi tebing, menatap sungai yang mengukir jejak di daratan, di suatu tempat yang tidak terjangkau pengamatan pos luar Aliansi Suci, dimana aliran airnya mengikis batuan yang berada di dasar sungai, entah sejak kapan. Pos Aliansi Suci, dengan beberapa menara penjaga, siaga selalu menembak apapun yang bukan bangsa Corite. Mampu melepaskan tembakan panah beam dengan daya hancur luar biasa. Seolah Decem memberi restu pada panah tersebut, untuk menembus logam paling keras.

Si Berkserker merunduk, dan bergerak perlahan, lututnya menekuk, dan hanya terpisah beberapa inci dari permukaan tanah. Sepasang matanya, memperhatikan menara penjaga tersebut, pilar dengan warna gading, terdapat beberapa ukiran dalam bahasa Corite kuno, yang melayang beberapa meter di udara. Di balik ukiran itu menyala, akibat batuan murni, atau sihir, dia tidak tahu pasti.

Sekelebat bayangan yang bergerak cepat, menarik perhatiannya. Marchrie berbisik, "Itu dia."

Critoxis, merangkak beberapa meter di belakang, terlihat menggeram. Mereka berdua sudah terjebak di sini selama 6 hari. Misi mereka adalah melumpuhkan menara penjaga tersebut. Mereka mengira tidak akan mendapat perlawanan berarti, namun atasan mereka nampak tidak diberitahu tentang penembak jitu yang berjaga di sana.

Kemungkinan cuma ada satu. Namun meski begitu, ratusan anak panah langsung melayang, ketika mereka mencoba menyebrang sungai. Helm Marchrie mendapat goresan baru, akibat diserempet anak panah dan tubuh Critoxis nyaris berlubang di sebelah kanan.

"Dia hanya berdiri di sana," Critoxis mendesis, "Kita bisa menghabisinya, berdua!"

"Tidak, selama dia berdiri di belakang menara penjaga." Marchrie berkata, mengingatkan. "Dua tembakan, dua prajurit mati."

Si Adventurer kembali menggeram. Di balik suara percikan api, Marchrie mengira dia mendengar kata-kata; "Pengecut.." Dari mulut partnernya.

Si Bellatrean menghembuskan nafas, belum mengubah arah pandangan dari posisi penembak jitu yang berjaga. Cuaca malam, cukup menusuk tulang. Nafasnya mengeluarkan asap putih, di antara celah helm metal yang dikenakan. Dia mengeluarkan jubahnya, dan membalut erat untuk mengurangi hawa dingin, biarpun sisi kanan tubuhnya terasa hangat, karena panas yang memancar dari tubuh Critoxis.

Suara udara yang terbelah, tertangkap oleh telinga lancip si Berserker, menyapu dataran dan membuat rumput hijau bergoyang. Marchrie menatap ke belakang, dan melihat pancaran sinar aneh namun tidak asing, menghampiri tepian tebing. Warna hijau, halus bak sutra, disertai kabut tipis mengitari sosok tubuh, melayang di atas permadani rumput.

Figur wanita Corite, yang kini mendarat di hadapan Marchrie dan Critoxis. Penuh kebanggaan, tergambar jelas dari cara dia berdiri. Tegap, tapi tidak menghilangkan esensi anggun sedikitpun, di tengah kabut kehijauan tipis yang ia bawa. "Halhandar."

"Marchrie." Wanita itu menjawab. "Cuaca yang indah, malam ini."

"Hah.. ya, 'Indah'." Marchrie menyindir. Dari semua anggota Ordo, yang mendatanginya adalah penasihat pribadi, pendamping, wanita jangkung, dan bila rumor itu benar, si jelita Halhandar tidak hanya mengandalkan paras untuk menjadi orang kepercayaan Sutherex. Melainkan dari aksi taktis jenius, dan sumber intel yang terbilang tidak terbatas di lapangan. Sementara yang lain bersedia mengotori tangan dengan lumpur, dia sama sekali tidak sudi melakukannya.

Marchrie melenguh, dan mengganti posisi, tidak bangkit, tapi duduk dan menghadap pada Halhandar. Si Warlock menyeringai melihat kelakuan si Berserker, "Kita punya situasi yang harus dihadapi."

Critoxis ikut ganti posisi juga, hanya saja , dia menjaga jarak. Menatap penuh ketegangan pada Marchrie. Menyiagakan jemari pada tali busurnya, secara obsesif, karena Marchrie meletakkan satu tangan di belati yang terdapat di pinggangnya.

Halhandar ikut duduk, menyetarakan posisi dengan Marchrie, dan berujar, "Aku punya sebuah misi. Tugas yang berbahaya, dan mematikan, kesempatan untuk mendapat kehormatan dan prestis di hirarki."

Baik Critoxis, maupun Marchrie nampak tidak memperlihatkan ketertarikan. Bellatrean berambut hitam sendiri tidak begitu peduli dengan yang namanya 'kehormatan', dia sudah terbiasa tidak mendapat banyak kehormatan. Sedangkan Critoxis, adalah sebuah misteri bagi Marchrie. Yang dipedulikan oleh si Adventurer, lebih mengacu pada agenda pribadi.

Halhandar menganggap diam, sebagai tanda mereka ingin mendengar lebih jauh, "Ini adalah misi individu, dan salah satu diantara kalian yang terpilih, atau sukarela mengajukan diri-"

Marchrie terkikik.

"-Akan ditempatkan sebagai agen mata-mata di pasukan Aliansi Suci."

Mendengar lanjutan kalimat si Warlock, Marchrie langsung menegakkan badan, pasang muka serius, mengangkat sudut bibir. "Nah, ini baru menarik."

"Kelihatannya anda sudah menemukan relawan, Nona Halhandar." Critoxis tertawa mengejek, dan berkata sinis.

"Tutup mulutmu, jangkung!" Marchrie menggertak marah, "Tidak perlu berlaga seolah bisa membaca pikiranku!"

Si Adventurer menunjuk Marchrie, seraya menghadap Halhandar. "Kamu tidak bisa menyalahkan si kerdil, dia punya keinginan sendiri, dia budak dari kesesatan yang nyata!"

Marchrie bangkit untuk mengonfrontasi Critoxis, menarik belati dari sabuknya. "Beraninya kamu!"

"Diam!" Halhandar larut dalam kekesalan. "Aku sudah punya rencana setengah matang untuk menjebloskan kalian berdua ke palung terdalam, akibat kelalaian yang kalian lakukan! Bukunya hilang, Clatterhole, satu-satunya selain diriku yang bisa menyelesaikan tugas-tugas dengan baik, sedang berada ribuan kilometer di antah berantah, karena tidak ada koordinasi dari tim kalian, pecundang!"

Marchrie dan Critoxis, saling bertatapan untuk beberapa saat. Bellatrean wanita merasa angin dingin bagai berhenti berhembus sekian detik, gemericik air sungai terdengar sedikit menurunkan volume. Bahkan hati berapi-api milik Critoxis terasa padam sesaat, dan retak seketika. Setelah bertatapan, mereka kembali mengalihkan pandangan pada Halhandar.

Melihat Warlock tersebut terengah-engah, akibat meluapkan emosi. Kulit bening, nyaris seputih salju, wajah memamerkan ekspresi jengkel, rumput disekitar Halhandar melingkar dan mulai kusut. Udara menyebar kabut hijau tipis lebih luas.

Halhandar menarik nafas dalam-dalam, guna menenangkan perasaan. Menghembuskan perlahan melalui hidung.

"Kata-kata yang bagus, nenek sihir." Marchrie mengumpat sarkas dari pikiran.

"Inti dari objektif kali ini, misinya masih tetap berjalan. Kalian berdua, berbakat dalam hal mengendap, dan melakukan tipu muslihat. Terlebih lagi, dari apa yang kudengar-" Mata Warlock itu, lebih condong pada Marchrie, seraya mengucap kalimat berikut, "-Yah, pembohong yang kompeten. Aku butuh seseorang, untuk mengabdi sebagai informan, mataku dalam kegelapan. Telingaku dalam ketidak-pastian."

Marchrie segera bangkit, memberi respon dalam usaha mempertahankan diri dari tatapan mata penuh makna Halhandar, "Ayolah, lihat kami. Siapa yang lebih baik dalam menjadi 'tawanan'? Sesama Corite? Sudah jelas akulah pilihan satu-satunya."

"Memang. Tidak salah." Halhandar terlihat senang, mengamati gerak-gerik Marchrie yang seperti merenungkan sesuatu.

"Jadi?" Si Berserker mencoba kumpulkan ketenangan, menarik keluar tombak kebanggaan, dan menyampirkan jubah penghangat, kebelakang punggung guna memamerkan kepercayaan diri. "Apa yang harus kulakukan?"

"Pertama? Kamu harus tertangkap. Ini bisa berakhir dengan dua jalan.."

Marchrie mengangkat sebelah alis, "Lanjutkan."

"… Mereka bisa membunuhmu di tempat, atau bisa saja membawamu sebagai tawanan."

Dalam moment singkat, Marchrie menyadari bahwa begitu mudah untuk belajar menjadi korban penyiksaan.

Halhandar sudah memerintahkan Critoxis untuk berjaga sementara si Warlock membantu 'mengajari' Bellatrean wanita. Dia berjalan ke belakang Marchrie, memungut jubah si Berserker dengan satu tangan, kemudian menginspeksi lebih jauh. Bellatrean tersebut tersenyum puas, "Satin berlapis ganda, sisi kusamnya diluar, supaya tidak menangkap cahaya."

"Terdengar mahal."

"Oh, memang-"

Belum selesai si Bellatrean berambut hitam bicara, Halhandar meraih kabut hijau tipis di sebelahnya, lalu kabut tersebut memadat dan membentuk pisau yang memiliki warna sama persis dengan kabut tersebut. Tanpa ragu, membelah jubah Marchrie jadi dua. Seraya si Warlock melanjutkan melubangi sisi lain jubahnya, Marchrie hanya bisa pasrah dalam kesunyian. "… Okelah kalau begitu."

Satu-satunya yang membuat Marchrie menerima perlakuan tersebut, adalah rasa senang yang meluap. Akhirnya, setelah sekian lama, dia bisa meninggalkan ordo. Sebuah misi solo, tidak akan ada lagi Corite dengan mulut tidak terkontrol yang sewaktu-waktu bisa saja memanah dirinya, tidak ada Accretia gila pertarungan untuk menghentikannya, tidak ada pendeta sesat yang akan membunuhnya jika dia berpikir untuk kabur. Marchrie bisa meninggalkan ordo, untuk menemui 'dia'.

Halhandar menarik tubuh Marchrie sedikit, dari posisinya berdiri. Menuju tepian tebing, dan jauh dari Critoxis yang sedang berjaga di sisi berlawanan. Si Warlock berbisik, "Ingat, kamu sudah dijebak oleh sekutumu sendiri, dan mencari pertolongan dari Aliansi. Ketika mereka membawamu ke area pendudukan, kemungkinan besar mereka akan menganggapmu sebagai tawanan perang. Melarikan diri seharusnya bukan masalah besar bagi prajurit dengan kemampuan di atas rata-rata. Ketika kamu berhasil, pergi ke Markas Besar mereka, bangunan besar di daerah tenggara. Di suatu tempat di bangunan itu, kamu harus mencari sebuah artifak. Buku Halaman Tidak Terbatas. Sebuah buku dengan kekuatan misterius, yang mereka curi dari Benteng Anacade."

Marchrie merasa dia melubangi jubahnya lagi, dan ujung pisaunya langsung menggores Armor Berserker setelah itu. Halhandar menggestur, meminta Marchrie melepas pelindung kepala. Maka dengan enggan, si Berserker berambut hitam tidak punya pilihan selain menurut. Dengan cekatan, pisau Halhandar menari di atas helm Marchrie.

Si Berserker bertanya, dengan nada agak sedih karena melihat helmnya sengaja kena lecet, "Bila boleh aku bertanya lagi, apa pentingnya 'buku' ini?"

"… Hampir sama seperti buku mantra pada umumnya, sekumpulan perkamen tentang detil bagaimana caranya membuka celah dari ke-7 Neraka dan memanggil makhluk yang berasal dari sana, untuk melakukan kehendakmu." Mata kelabu Marchrie melebar akibat terkejut.

"Apa?" Sebuah buku yang bisa memanggil makhluk neraka. Betapa bahaya senjata itu, betapa berguna peralatan itu.

Si Bellatrean mendongak pada Warlock berambut pirang, yang sedang memakaikan helm ke kepalanya. Dia bertanya, "Kenapa kamu membagi rahasia ini denganku?"

Halhandar melangkah mundur, pisau hijau dari kabut, kembali memudar dan menyatu dengan udara malam. Dia meletakkan kedua tangan, di bahu Berserker wanita dan menggumam, mewaspadai Critoxis yang jauh dari jangkauan suara, tapi kini tengah mengawasi mereka. "Karena aku bisa melihat masa lalu, rumor dan fitnah. Aku tahu kamu pantas untuk mendapat kepercayaanku. Lagipula, tidak sembarang orang bisa memanipulasi kekuatan penuh dari buku tersebut."

Mata Marchrie melihat Warlock berambut pirang, kembali menginspeksi Armor Berserker, sebelum Warlock itu lanjut berkata, "Tentu, kita tidak mungkin mencapai tujuan tersebut, bila sesama sekutu saling tidak mengetahui tujuan masing-masing, kan?"

Halhandar merangkul lengan Marchrie, dan menariknya semakin ke tepian tebing, menghadap menara penjaga Aliansi Suci. Jemari lentik Warlock menunjuk, "Saat sudah dekat dari menara penjaga, aku ingin kamu bersandiwara, keluarkan akting paling menyedihkan yang kamu punya. Buat mereka percaya, kalau kamu dalam keadaan butuh pertolongan."

"Itu bisa jadi sebuah masalah." Mendengar kalimat itu, Marchrie mengeluh, "Kamu bisa membuat seluruh jengkal armorku lecet dan rusak, tapi bersandiwara sama sekali bukan kemampuanku, sampai pada level 'berlawanan dengan prinsip'."

"Benarkah?" Halhandar bertanya, pura-pura terkejut. "Kalau begitu, kita harus mencari solusi dari permasalahan tersebut."

"A-Aku… Aku tidak yakin… Apa yang kamu sarankan?" Wanita yang lebih pendek, mulai kebingungan mencerna situasi.

"Sederhana. Secara logika, bila kamu tidak bisa bersandiwara, maka kita hanya harus menciptakan keadaan asli." Halhandar menatap mata Marchrie, begitu tajam dan intens.

"Masuk akal. Tapi- tunggu, tidak, apa maksudmu?"

Warlock berambut pirang bergelombang, memberi isyarat pada Critoxis, lalu memiringkan kepala pada Marchrie, "… Tembak dia."

Critoxis meraung bagai inferno di tengah pekat malam. Marchrie mencoba untuk menggapai tombaknya, tapi Adventurer itu lebih cepat.

Pertama, sebuah panah terbakar, bersarang di kakinya. Critoxis sengaja membidik kaki dulu, supaya dia tidak bisa lari. Ujung panah tersebut, tidak terlihat. Terbenam di dalam otot kaki Bellatrean, dihiasi kepulan asap, dan luka bakar. Bersinar oranye panas seraya menembus lapisan Armor si Berserker, dan merekatkan kaki mungil Marchrie ke permukaan tanah.

"Aakhh!" Marchrie melenguh kesakitan, terjatuh, sambil mendongak, melihat Critoxis mempersiapkan sebuah panah lagi.

Tangan kanan Bellatrean wanita, meraih sabuknya, dan menarik keluar sebuah belati. Sedangkan tangan kirinya, meremas betis kuat-kuat. Ketika dia menarik tangan kanan ke belakang untuk melempar belati, anak panah lain langsung menembus bahu. Asap dan abu panas, menyengat mata kelabu, dan memaksa tubuhnya terdorong mundur akibat momentum tembakan. Sampai jubah yang sudah koyak, menggantung di pinggir tebing.

Mata Marchrie mulai basah, diiringi rasa sakit tidak terduga. Ekspresi wajahpun, seperti tidak ingin kalah memamerkan kesakitan. Dia berusaha menyanggah tubuh sendiri dengan satu tangan, dan satu kaki.

"Dia akan hidup. Bila dia kuat." Critoxis berujar, pada Halhandar.

"Bagus." Balas si Warlock dingin.

"… AAAAHH!" Sebuah tangan berjemari lentik, mencabut anak panah di kakinya. Membuat Marchrie berteriak histeris saat merasakan kepala panah, bergerak di bawah kulit, amat perlahan. Jelas sekali bermaksud menyiksa si Berserker lebih lama.

Setelah mencabut panah, kini dua tangan berjemari lentik merenggut jubahnya di sekitar leher, dan mengangkat tubuh Bellatrean itu tanpa kesulitan berarti. Kaki Marchrie berada setengah meter di atas tanah.

Halhandar mengedip genit, menambah kesan kejam dan tidak berperasaan, setelah apa yang telah ia lakukan terhadap rekannya. Kemudian berkata dengan nada jenaka, "Sekarang, kamu sudah terlihat seperti korban penyiksaan~ Luka-luka itu akan bernanah, tanpa perawatan. Dan bila kamu mencoba untuk kembali ke ordo, aku akan memastikan riwayatmu justru dipercepat~"

Kepala Marchrie lunglai ke sisi kiri, dan menggertak lemah, "Aku akan membunuhmu untuk perlakuan ini. Aku akan membunuh kalian semua..."

Satu tangan Halhandar, meluncur di bawah helm, dan memegang erat dagu Marchrie dan memaksa tatapan mereka bertemu, sembari didekatkan. Dia berbisik, "Ketika kamu di sana, jangan lupa siapa yang menugaskanmu."

Seraya tangan berjemari lentik melepas tubuh mungil Marchrie, dan membiarkannya terguling-guling di sisi tebing, darah mengalir keluar, melukis garis tidak lurus aneh sepanjang permukaan kasar berpasir. Marchrie hanya bisa memikirkan satu hal, sebuah janji, terus diulang jutaan kali di balik tempurung kepala, pada Halhandar yang balik badan tanpa rasa bersalah sedikitpun.

"Aku tidak akan lupa. Tidak akan pernah lupa!"

Critoxis menyaksikan tubuh Marchrie menyusuri turunan curam, menebar debu, dan membuat dedaunan mati berhamburan, serta mematahkan ranting-ranting. Tubuh si Berserker wanita meluncur menuju bagian dangkal sungai, menimbulkan suara pecikan air yang terdengar jauh. Mata Critoxis menyipit, dan dia bisa melihat warna darah menyebar diantara jernih air di tengah bayang.

"Dia tidak bergerak." Tenang berkata, begitu meyakinkan. "Misinya sudah disepakati, dia tidak perlu dilukai separah itu."

"Sandiwara memukau, butuh kostum yang bagus!" Amarah mendesis, "Dia akan bertahan, sampai tiba di Aliansi!"

"Kostum yang bagus…" Critoxis menengahi permasalahan antara dua kesadaran, yang dirinya sendiri tidak tahu, bila dia memelihara mereka di dalam kepala. "… Kita hanya melaksanakan perintah."

Tapi usai beberapa saat, tubuh Marchrie bergetar, riak air tercipta, bergelombang kecil seraya si Berserker bangkit dan mulai bergerak lunglai. Merangkak awalnya, dengan kedua tangan dan kedua kaki yang masih gemetar. Kakinya yang tertembus panah, ditarik tanpa guna di belakang, kemudian bangkit dan berjalan sempoyongan menuju menara penjaga Aliansi.

Critoxis memasukkan kembali satu anak panah ke inventori, yang tadinya siaga di busur, masih mengamati figure yang menyusut akibat jarak makin lebar. Jubah terkoyaknya, kuyup karena diseret sepanjang permukaan air.

Jejak merah tertinggal di belakang figure tesebut, mengambang bercampur air. Si Adventurer menatap balik pada Warlock berambut pirang, mendekat, dan menggeram, "Dia akan mengkhianati kita. Katakan perintah, dan aku akan menembak untuk menghabisi hidupnya dari sini!"

Dengan tenang, Warlock dengan segudang intrik tersebut mengangkat sebelah tangan, untuk mendiamkan Critoxis. "Aku tahu. Itulah kenapa, aku lebih memilihnya ketimbang kamu."

"Kamu meminta seorang sukarelawan tadi." Mata Critoxis mulai curiga.

"Kesalahanmu adalah, percaya bahwa aku memberi kalian berdua pilihan. Dia akan mengkhianati kita, dan saat itu terjadi, semua potongan puzzle akan jatuh pada tempatnya secara otomatis."

Alrisaia duduk tertatai di atas ranjang dengan sprei putih, setelah satu jam berjalan bolak-balik di ruang tempat dia dirawat. Menutup mata, dan berkonsentrasi. Diluar jendela, terlihat batang pohon besar dengan sulur melingkar, dan dedaunan hijau. Bangunan granit memiliki arsitektur indah, bisa terlihat dari sini.

Sudah dua kali, dia mencoba kabur dari kamar ini. Percobaan pertama, melalui jendela. Tanpa diduga, sulur-sulur melingkar pada batang pohon besar tersebut, bukanlah hiasan semata. Melainkan hidup, dan langsung mengangkat tubuhnya kembali ke kamar, ketika baru sebentar berada di luar. Percobaan kedua, dari satu-satunya pintu di ruangan ini.

Tapi gagal juga, karena sulur-sulur tadi begitu sigap. Begitu jarak Alrisaia hampir melangkah keluar dari pintu, kakinya tersandung akibat kesigapan sulur tersebut, menariknya pelan-pelan ke dalam kamar. Membuat Alrisaia menghembus nafas, "Kamu pasti bercanda…" Gerutunya dalam hati.

Dia memikirkan satu nama, mengira-ngira, siapa yang sanggup berbuat demikian. Si Assassin cukup yakin, bila ini ulah Dark Priest bernama Gerg. Negosiasi pun bukan pilihan. Ya, Alrisaia berbicara dengan pohon. Tapi, pohon tersebut tidak membalas sepatah kata, melainkan cuma suara gesekan antar daun yang bergoyang sendiri. Sekarang, bosanlah dia, terperangkap di sini, tanpa bisa melakukan suatu hal.

Kesal, bila dipikir dia diperlakukan seperti penjahat dalam penjara. Tidak diizinkan untuk keluar dari sel. Padahal, sebagai pasien, dia memiliki hak untuk keluar saat keadaan sudah lebih baik.

Alrisaia menatap keluar, dimana dedaunan masih saja bergoyang, seakan mencoba mengatakan sesuatu. Hal yang tidak dimengerti oleh si Assassin berambut biru muda. "Sekarang, aku benci dedaunan."

Adalah Kulvaki, petinggi yang paling dihormati, sekaligus suara yang memiliki paling banyak pengikut. Individu yang juga mengambil peran besar atas keberadaan Alrisaia di Planet Novus, telah 'meyakinkan' si Assassin untuk memperpanjang masa pemulihan, dan cuti dari medan pertempuran.

Cuti yang tidak jelas sampai kapan, sebut saja dua minggu, atau tujuh bulan. Tujuh bulan, terisolasi dari dunia luar, tidak diizinkan melakukan kontak dengan timnya. Bahkan, Alrisaia tidak tahu, apakah Artaxad masih hidup, atau bagaimana keadaan Galatra, atau Lachlann.

Seharusnya, pemikiran-pemikiran tersebut lebih mengganggu, namun Alrisaia nampak tidak terganggu. Justru, malah tampak bermeditasi. Dia sudah tidak ingat, kapan terakhir kali melakukan hal ini. Aneh, beberapa hari awal terisolasi, dia sangat ingin keluar dari sini. Tapi sekarang…

Alrisaia masih terduduk. Armor serta perlengkapan perang sudah tidak ada lagi yang melekat di tubuhnya, sarung tangan, sepatu, entah dimana. Berganti menjadi sebuah balutan gaun rumah sakit yang tidak begitu bagus untuk dilihat. Pemikiran tentang Gerg yang mengganti bajunya, sangat mengganggu. Jadi, dia memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan siapa sebenarnya, yang melakukan hal itu.

Langkah kaki diluar, terdengar mendekat. Memantul di sepanjang dinding, dan ke kamar perawatan. Alrisaia membuka mata, dan melihat dua orang melangkah masuk, pengunjung sebenarnya.

Dua wanita, yang satu mengenakan set Armor Ranger Corite yang telah dimodifikasi, karena lebih banyak bagian terbuka, ketimbang terlindungi. Terutama di bagian perut, sehingga memperlihatkan tindikan di pusar. Berambut perak dan mengenakan syal hijau di leher. Wajahnya begitu ceria, dan bersinar.

Wanita kedua, juga mengenakan set Armor Ranger, bedanya, yang ini lebih waras. Setidaknya, itulah yang dipikirkan sang pemilik. Seorang wanita yang terlihat agak pemalu, dan sedikit lebih pemurung daripada wanita yang pertama. Dengan rambut perak kusam, potongan pendek, dan force tipis yang mengelilingi punggungnya.

Wanita pertama, Iglasias yang jenaka. Wanita kedua, Briella si mudah malu dan benci jadi pusat perhatian.

Alrisaia menyapa duluan, "Cuma masalah waktu, kalian datang menjengukku."

Iglasias tertawa, dan berkata, "Kelihatannya, ada yang sedang bahagia."

"… Sebuah perubahan." Briella tersenyum kecil, kemudian duduk disamping Alrisaia dengan hati-hati, sedangkan Iglasias, seenaknya melompat di hadapan si Assassin. "Kamu tidak mengeluarkan komentar mengesalkan." Lanjut Briella.

"Dan aku suka itu." Iglasias menyela.

Alrisaia mengalihkan pandangan, seraya melipat kedua tangan di atas paha, "Entahlah. Ini hal paling aneh, rasanya seperti.. semua ini tidak lebih dari masalah sepele."

"Maaf, kami tidak bisa membantu sebelumnya." Briella berujar, "Kami baru saja kembali dari perjalanan berkeliling Elan."

"Oh, harusnya kamu ada di sana, Alri. Keadaan menggila! Makhluk-makhluk primitive Novus, yang coba kami tangkap hidup-hidup, namun terus berontak dan tiada henti mencoba mengirim kami kembali ke pangkuan Decem!" Mendadak, Iglasias jadi antusias menceritakan kisah mereka.

Alrisaia sekedar balik tersenyum, mendengar racau kawan sesama Ranger, kemudian menyadari sesuatu tampak beda dari wajah Iglasias. "Wow, tindikan?"

Wajah Iglasias merona, dan bertanya dengan angkuh sambil menoleh ke sisi kiri, memperlihatkan tindikan di hidung bagian kanan. "Oh, ini? Hmm, cuma hal baru yang sedang ingin kucoba."

"Sedang ada trend baru, dia bilang." Kata Briella, sambil memutar bola mata.

Melihat mereka berdua, membawa sedikit perasaan lega di dalam dada Alrisaia. Sekaligus sebagai pengusir kebosanan juga. Dia tidak pernah menyangka, bisa berinteraksi, memiliki teman layaknya Corite normal, tanpa harus dihakimi tentang masa lalu. Alrisaia bukan lagi prajurit yang membangun dinding tinggi, untuk menjauhkan dunia dari dirinya.

Berkat Artaxad, dia belajar. Belajar untuk mulai membiarkan orang lain masuk menembus dinding yang dibangun sang pikiran. Biarpun baru memiliki 3 kawan wanita, namun Alrisaia merasa bahwa, genk kecil ini benar-benar saling melengkapi. Iglasias menjadi pribadi penggoda dan genit, Briella yang lebih misterius dan kalem, Galatra yang masih naif dan kekanakan, serta Alrisaia yang sarkastik dan mengesalkan. Setidaknya, dia sadar kalau sifatnya mengesalkan.

"Bicara soal 'baru'…" Iglasias mengenggam inventorinya dari balik pinggang, membuka mulut inventori tersebut, lalu membalik sambil diguncangkan. Beberapa lembar surat, dan kartu ucapan, serta catatan meluncur keluar. "… Mari lihat apa yang- uhh, ehem, dikirim oleh kawan-kawan prajurit, untukmu."

Alis Alrisaia terangkat sebelah, keheranan melihat masih ada saja yang memakai media surat dan kartu ucapan di jaman perang nuklir seperti sekarang. Biarpun, sebenarnya dia mengakui dalam hati, itu cukup berkesan. Ditambah lagi, tidak habis pikir, bisa-bisanya ada yang repot mengirim hal semacam ini untuk dirinya.

Iglasias membersihkan tenggorokan, sebelum mulai membaca surat dari tumpukan teratas. "Hmm, dari Greg Vratoski. 'Salah satu do'aku terpanjat pada Decem, demi kesembuhan tercepat bagimu, gagak kecil. Semoga kehadiranmu dilihat, dan suaramu didengar kala pertemuan kita selanjutnya. Kamu dan teman-temanmu akan sangat dirindukan sampai kalian kembali pada kami.'."

Alrisaia bertanya malu-malu, "Jadi Artaxad masih- uhm… sekarat?"

"Bukan sekarat, Nona, tapi masih menjalani perawatan intensif." Iglasias memperjelas.

"Memang, ada bedanya?" Kadang, Alrisaia tidak kuat menahan pikiran untuk sekali saja memukul wajah Iglasias. "Yah dia sudah pasti banyak yang menjenguk, bila dibandingkan denganku." Secara keseluruhan, keberadaan Artaxad ternyata lebih penting daripada Alrisaia.

Briella mengambil catatan berikutnya, kertas kekuningan dengan gaya penulisan yang cukup apik. Seperti huruf yang biasa ditemui di perkamen mantra sihir. Dia membaca, "Dari Distardain. 'Raga itu lemah, tapi jiwamu kuat, dan berkeinginan untuk hidup. Semoga bisa lekas kembali beraksi, begitu juga dengan Artaxad dan Galatra'."

Mendengar aksen 'unik' yang dimiliki kawannya, Iglasias berlaga seperti ingin muntah.

Dahi Briella berkedut, agak geram melihat kelakuan Iglasias, namun memilih untuk tidak peduli. "Lanjutannya, 'Kudengar kamu bertemu dengan Marchrie ketika menjalani misi. Aku ingin tahu, apa boleh menanyakan satu-dua hal tentangnya, padamu? Untuk keperluan pengintaian. Bila kamu sudah pulih, tentunya'."

Ketiga wanita, saling menukar tatapan penuh makna. Marchrie adalah anggota tidak resmi dari genk kecil mereka, saat dia menyelinap keluar dari sisi medan pertempuran Federasi, atau.. organisasi apapun yang mengikatnya sekarang. Dia Bellatrean perempuan yang menyenangkan, kecuali bagi Galatra yang belum tahu akan kenyataan ini, dan rumor selalu beredar tentang Marchrie dan Distardian yang menjalin hubungan rahasia.

"Yang satu ini, dari Briella, tertanggal kemarin.." Iglasias mengambil surat berikutnya, yang berada paling dekat. Kertas hitam dengan tulisan tinta timbul berwarna perak yang terlihat amat berseni. "… Ooooh, puisi!"

Briella langsung menerjang, untuk merebut kertas tersebut, tapi kalah gesit dari Iglasias yang telah menjauhkan tangan sebisa mungkin, di luar jangkauan. "Tidak.. kumohon, jangan.. biar aku yang-"

Si penggoda, menyeringai jahat, lalu sengaja meniru aksen dan cara bicara Briella;

"Ehem, 'Harapan tidak akan sirna,

Sanggup terbang menembus jiwa,

Dan menyanyikan nada tanpa kata,

Dan tidak pernah berhenti begitu saja,

Sampai melodi angin paling indah menggema,

Dan saat badai pesisir kembali tenang,

Kehidupan kembali bernyanyi,

Menghangatkan banyak orang'."

Briella menutupi wajah dengan kedua telapak tangan, rona merah menahan malu sekuat tenaga, dan membuang muka, sementara Iglasias melanjutkan, " 'Salam sayang dari sahabatmu, Briella.' Oh, lihat! Ada gambar burung kecil di sini, lucu juga."

Senyum Alrisaia merekah, dan memiringkan badan, membenturkan bahu pada Briella, "Manis sekali."

"Tolong bunuh aku sekarang juga…"

"Mana bisa aku membunuh seseorang yang menulis puisi indah untukku?" Godaan itu berlanjut, sembari Alrisaia menyikut-nyikut pelan pada kawannya yang salah tingkah.

Iglasias melanjutkan kegiatan membaca surat, kertas ungu dengan kaligrafi bunga di pinggiran kertas. "Ohh, yang satu ini hiasannya lucu."

"Siapapun pengirimnya, orang ini punya tulisan tangan yang luar biasa." Alrisaia berkomentar, mencuri pandang pada kertas tersebut.

" 'Jika saja aku bisa mengutarakan rasa duka dalam hatiku tentang luka yang kamu alami dengan kata-kata, tapi sial, kemampuan menguntai kata selalu mengecewakanku di saat paling krusial!' " Ranger berambut perak, berpura-pura pingsan, sembari tertawa, " 'Demi kesempatan untuk berada disisimu, saat-saat sulit seperti ini.' Indah sekali. 'Dari…' Hah? Tanpa nama?" Dia membolak-balik kertas itu, mencari petunjuk tentang identitas pengirim, namun tidak ada hasil. "Sepertinya, kamu punya penggemar rahasia sekarang."

Alrisaia mencoba menahan tawa, dan berhasil. Bahkan Briella tidak kuasa menahan cekikian, seraya Iglasias memekik kegirangan, dan membuat Alrisaia tertawa lepas. Ranger berambut perak menuntaskan, " 'N. B, semoga kamu suka warnanya, dan jangan kira aku lupa tentang teman-temanmu. Semoga Artaxad, dan Galatra cepat sembuh.' "

Raut wajah si Assassin berubah, sadar akan suatu hal. "Tunggu, tunggu dulu."

Dia menarik satu surat berikutnya secara acak, satu dari seorang senior kenalannya. Mata Alrisaia langsung beranjak ke bagian penutup surat yang bertuliskan, 'Sehat selalu untuk Alrisaia yang sukar dikekang, si cantik Galatra, dan serta ketabahan bagi Artaxad.'

"Mana nama Lachlann?" Sejauh ini, dia sama sekali belum mendengar satu harapan, dan do'a yang ditujukan untuk Lachlann di semua surat ini.

Briella menyadari raut panik yang mulai timbul di wajah Alrisaia, dan berkata, "Alri, kurasa kita harus rehat sejenak."

"Mana surat dari Galatra?" Alrisaia mengemis, mengacak sisa tumpukan kertas bagai mengaduk sampah. Beberapa jatuh ke lantai.

"Pertanyaan yang bagus." Briella merenung, sambil menyaring satu-persatu surat yang tersisa di dekatnya. "Sepertinya, dia tidak menulis untukmu."

Galatra tidak mengirim surat sama sekali, tapi Alrisaia tahu, dia seharusnya meluangkan waktu sebentar untuk memberi kabar. Kalaupun dia terluka... Tapi satu-satunya yang mengalami cedera paling minim adalah dia, karena Lachlann selalu melindunginya.

Dan lagi, kenapa Lachlann tidak disebut sama sekali di surat, atau catatan manapun?

"Sudah disunting, mungkin." Sekali lagi, Alrisaia menyelidik kertas-kertas yang berserakan, tidak ada satupun diantara kertas tersebut yang menyebutkan bagaimana kondisi Artaxad, atau kejadian apa saja yang terjadi di luar markas. Seseorang telah 'menyabotase' terlebih dulu. "Seseorang telah menyingkirkan surat Galatra sepenuhnya, dan kenapa Lachlann seolah terlupakan?"

Alrisaia menatap kedua kawannya, dipenuhi rasa penasaran. Kedua tangannya meremas bahu Briella, "Apa yang terjadi pada Lachlann dan Galatra?! ceritakan padaku!"

Force violet dengan bentuk tidak beraturan mulai keluar di kedua telapak tangan Alrisaia. Untungnya, Briella mengenakan Armor set, bila tidak, kulitnya sudah pasti terluka.

"Tenangkan dirimu." Briella menggenggam pergelangan tangan Alrisaia yang mulai bersinar, "Kamu tahu kan, kelakuan perwira-perwira tinggi? Tidak suka menimbulkan kepanikan, dan menyimpan beberapa hal untuk tetap menjadi rahasia. Mereka menyarankan kami untuk tidak memberitahukannya padamu."

Iglasias mulai mengunyah helai rambutnya sendiri, yang mencapai bibir. "Bah, itu semua cuma omong kosong. Kami memergoki Galatra pergi ke suatu tempat sambil mengomel, entah apa tujuannya, yang jelas keluar gerbang. Dan kami belum melihat Lachlann."

Setelah melempar kertas-kertas di tangan ke kasur, Alrisaia bangkit. Mengusap kening sendiri. Jadi Lachlann belum terlihat, dan Galatra sangat terganggu akan suatu hal. Kenapa?

"Lachlann hilang."

Tapi dia sempat melakukan teleport. Alrisaia melihatnya langsung.

"Apa yang kulihat sebelum meninggalkan tempat itu?"

Accretian, menjegal Lachlann dengan sabit emas, saat si Black Knight dikelilingin pilar cahaya teleport. Lachlann hilang.

-bersambung-