Standard Disclaimer Applies: I do not own RF Online. Because if i do, i'll make a movie out of it.


The War Room

Alrisaia sudah membaca dan membaca ulang setiap surat, serta catatan, bahkan setelah Iglasias dan Briella pergi. Mengurutkan nama-nama pengirim dari tiap surat, secara obsesif menjajarkan teratur di lantai tempat ia tengah duduk bersila, mengerutkan dahinya penuh kegelisahan. Briella telah meyakinkan Alrisaia, bahwa dia akan coba bernegosiasi dengan Gerg Vratoski agar temannya bisa segera 'dibebaskan'. Iglasias tidak berjanji apa-apa, tapi sekilas mengisyaratkan kalau dia akan membantu si Assassin meloloskan diri.

Sampai tiba waktu untuk melihat apakah usaha kedua temannya berhasil, dia hanya memiliki lembaran-lembaran surat sebagai teman pembunuh waktu luang. Keadaan diluar sudah malam sekarang, cahaya bulan yang terhalang pohon diluar jendela, mengakibatkan timbulnya bayangan panjang di permukaan tanah. Penerangan lampu ruang pemulihan, sudah lebih dari cukup untuk membaca.

Dia menatap satu-satu pada barisan rapih lembaran kertas. Sembilan. Awalnya, dia mengira cedera yang dialaminya tidak cukup fatal untuk menerima surat lebih banyak lagi, tapi bukan itu saja.

"Gerg, Distardain, Briella, Tanpa nama.."Dalam pikiran, Alrisaia menyebutkan nama sesuai yang dia urutkan, "… Kulvaki, Viahala, Faranell, Eztimosa, Redim."

Tidak ada satupun yang menyebutkan Lachlann.

"Mungkin cuma kebetulan."

Semua nama tersebut adalah prajurit-prajurit di jajaran Aliansi, baik yang terkemuka, atau biasa saja. Alrisaia sekedar mengenal mereka, kecuali si tanpa nama, yang entah siapa. Beberapa dari mereka ada yang memegang peranan penting pada perang ini.

Jika Kulvaki punya rencana, maka mereka sudah bisa dipastikan ada di 'lingkup informasi'. Jika Lachlann benar menghilang, salah satu diantara mereka sudah pasti akan menyusun rencana untuk menjauhkan Alrisaia dari 'lingkup informasi', membuatnya tidak tahu apa-apa. Tujuannya barangkali agar si Assassin tidak tertekan dan stress ketika sedang menjalani penyembuhan.

Ditambah lagi, tidak ada kabar terbaru mengenai kondisi Artaxad. Mereka pasti memerintah seseorang untuk menyita surat-surat yang membahas tentang hal tersebut, tindakan yang cukup jahat. Alrisaia harus keluar dari sini, Galatra adalah kawan terdekat baginya, dan saat ini, dia di luar sana. Bisa jadi merasa sendirian, dan tidak berdaya. Teamnya hilang. Dan... dia bahkan tidak tahu kabar Artaxad, selain dari tidak mati.

Suara langkah kaki di sepanjang lorong, mendekati ruangan Alrisaia. Sosok tunggal meminta izin pada petugas jaga ruang perawatan di muka lorong, 20 meter dari ruangan, seraya membawa sebuah bingkisan besar, dengan kertas pembungkus penuh warna di kedua tangan. Lengkap memakai pita pink berbentuk busur di atasnya. Sosok itu adalah Iglasias, masih mengenakan syal hijau di leher, dia menegaskan bila busur tetap berada di inventori.

Si Adventurer berambut perak, menundukkan kepala, dan berterima kasih pada petugas, buru-buru menyelonong ke ruangan Assassin berambut biru muda. "Heyy! Maaf atas keterlambatannya."

Mata Alrisaia terpaku pada bingkisan itu, "Apa isinya?"

Kotak itu tidak panjang, tapi lebar. Jenis kotak yang biasa dipakai untuk membungkus sebuah-

"Kue! Kue yang sangat istimewa." Iglasias tersenyum licik. Perlahan, ia menarik ujung pita di atas bingkisan. "Saat kamu melihatnya, kujamin, kakimu pasti gemetar."

Rahang bawah si Assassin menganga, seiring sisi-sisi kotak tersebut mulai jatuh dan memamerkan isinya yang mematikan. Alrisaia memandang benda merah itu, lalu pada Iglasias, kemudian kembali lagi pada hadiahnya. Dia merasa kedua alisnya terangkat begitu tinggi, sampai bermigrasi keluar dari pelipis.

ketidak-percayaan Alrisaia serasa meledak saat itu juga, "BOM!?"

"SSSSSTT! Jangan teriak, nanti dia dengar!" Iglasias menunjuk pohon besar di luar jendela.

"Kamu tidak boleh menggunakan bom untuk meloloskanku!" Alrisaia mendesis, menurunkan volume suara, namun masih terdengar kesal.

"Apa yang kamu harapkan? Celah dimensi ajaib yang tiba-tiba muncul entah dari mana?" Pertanyaan Iglasias bernada ledekan.

"Lagipula, apa yang kamu rencanakan dengan itu? Meledakkan si pohon?"

"Yeeaaa… Semacam itu.. kira-kira. Redim sedang berbagi pasokan peledaknya tadi, tapi yang spesial ini kucuri darinya. Hehehe."

Alrisaia menepuk dahi sendiri, "Aku mengharapkan sesuatu seperti pengalihan untuk menyibukkan pohon itu! Atau bagaimana dengan tali, untuk turun!?"

Iglasias membuka mulutnya untuk membantah, tapi kemudian mengangkat jari telunjuk dengan penuh pemikiran matang. "Kamu tahu, bisa jadi tali adalah ide yang lebih baik."

"BISA JADI!?" Suara dedaunan di luar bergerak, dan bergesekan ketika seruan Alrisaia menggema, menenggelamkan simfoni serangga serta hewan malam lainnya dalam beberapa detik.

Si Adventurer membentak, dengan suara kecil, "Kamu ingin jalan keluar, Nona. Kamu punya satu di tanganku ini!"

"Aku ingin jalan keluar, bukan meledakkan separuh ruang perawatan!"

"Kamu berlebihan. Bom ini cuma meninggalkan bekas gosong di sepanjang dinding putih saja, dan… beberapa retakan." Balas Adventurer itu. Alrisaia mengangkat tangan kanan, hendak menampar keras Iglasias, namun berhenti sendiri sembari menggerutu kata-kata tidak jelas dan mengepal telapak tangan kanan. Si perempuan berambut perak, mundur selangkah, sambil memalingkan wajah. "Woaah, santai, aku tidak punya tangan yang bebas untuk balik menamparmu saat ini. Bukankah meditasi harusnya membuatmu lebih tenang?"

"Aku cuma... frustasi." Alrisaia berlutut di atas barisan surat , dan menghembuskan nafas lelah. Ketika jantungnya sudah berdetak lebih lambat, dan kembali mendapat ketenangan emosi, dia bertanya, "Jadi… apa rencanamu?"

Iglasias balas menatap, "Rencana awalku sebenarnya langsung pergi setelah bicara padamu beberapa menit, bilang kalau kamu tidak lapar, dan meninggalkan 'kue' ini sedekat mungkin dari pohon itu, siapa tahu kamu berubah pikiran.. lalu, tik, tik, tik, skaboom! Jalan keluar."

Alrisaia memperhatikan si Adventurer yang terlampau riang gembira saat menjelaskan, rasa putus asanya malah terasa makin dalam ketika ia memohon, "Decem ampuni aku…"

Si Assassin mengusap wajah dengan kedua telapak tangan, berpikir bagaimana cara agar keadaan ini bisa menghasilkan suatu solusi. Untuk menenangkan dirinya sendiri, dia bertanya, "Dan bagaimana dengan Ella? Apa rencananya?"

"Yeeaaa…" Iglasias membuat ekspresi wajah yang aneh, "Dia bilang sesuatu tentang meyakinkan beberapa orang yang berhutang padanya."

"Dan siapa beberapa orang yang dimaksud?" Mata Alrisaia tertuju penuh curiga pada si Adventurer, yang memainkan bibir secara menyebalkan, seolah berusaha menyembunyikan pemikiran-pemikirannya.

"Uhh, mungkin, hanya mungkin, bila tidak salah, dia menyebut Viahala." Viahala adalah seorang Spiritualist yang cukup berpengalaman, dikenal memiliki kemampuan hampir serupa dengan Gerg di bidang penggunaan Force tumbuhan, dan merupakan salah satu petugas medis di ruang perawatan.

Raut wajah Alrisaia berubah tidak menyenangkan, "Kamu tahu perihal itu dan tetap datang kemari, membawa bom?"

"Oh ayolah! Rencanaku jauh lebih efisien- Oke, oke! Rencanaku jauh lebih menyenangkan! Tidak akan ada yang terluka, hanya beberapa pohon tumbang, dan beberapa dinding runtuh di sana-sini. Briella akan makan waktu berminggu-minggu mengurus dokumen serta berkas laporan untuk mengeluarkanmu lebih cepat, dan-"

Alrisaia mengangkat kedua tangan guna menunjukkan perasaannya yang makin jengkel, namun berusaha ditahan kuat-kuat. Mendadak, Iglasias menyodorkan bom yang kembali ditutup oleh bingkisan kotak, dan mendorongnya menuju tubuh Alrisaia, ketika terdengar suara diantara perbincangan mereka. Suara menyeret, dan gemerisik dari jendela. Kedua wanita Corite bagai membeku, dan menghentikan perdebatan.

Layaknya robot kaku, mereka menolehkan kepala untuk melihat ke arah jendela, dimana pohon besar yang jadi penghalang, sedikit bergeser ke samping. Membiarkan sinar bulan masuk ke kamar perawatan.

Assassin berambut biru muda, kembali memandang kawan Adventurernya, mengangkat sebelah alis, "Jadi, 'berminggu-minggu', hah?"

"Ah, diamlah."

Saat si Assassin melompat menuju dahan pohon besar, dan meluncur turun dari cabang-cabangnya yang lumayan kekar, sudah tidak ada lagi sulur-sulur yang menyeretnya kembali ke ruangan. Iglasias mengikuti, sambil berusaha membetulkan bingkisan dan menyembunyikannya diantara dekap lengan. Alrisaia langsung bisa merasakan dunia luar di sekeliling, rumput, lebih kasar di sini daripada di sana, menggelitik telapak tanpa alas kaki, angin malam dingin yang bersih di sekitar leher, dan masuk ke saluran pernafasan.

Tidak jauh dari situ, Briella berdiri bersama seorang wanita Corite lainnya, berpakaian ala Spiritualist, dengan kerah nyaris mencapai hidung. Rambutnya lurus pendek dan berwarna indigo, dengan mata Lavender.

"Terima kasih atas bantuannya, Viahala." Ucap Alrisaia.

"Kurasa ucapan terima kasihmu salah sasaran, Gagak muda." Balas si Spiritualist, "Setidaknya, ini yang bisa kulakukan untuk membalas budi kawanmu." Lalu dia tersenyum, sambil melirik Briella.

"Ah, tentu. Terima kasih juga untukmu."

"Bukan masalah. Tapi... Ada apa dengannya?" Tanya Briella, sembari menggestur pada Iglasias yang terlihat kesulitan menuruni pohon akibat bawa bingkisan besar. "Apa yang dia bawa?"

"Uhh, kamu tidak akan mau tahu." Respon malas Alrisaia, menunjukkan rasa penolakan untuk cerita kelakuan tidak masuk akal kawan wanitanya yang satu itu.

Bangunan Utama, terletak tidak jauh dari ruang perawatan. Sesuai dengan namanya, 'Utama', maka sudah jelas berukuran paling besar diantara yang lain. Lantai pertama sudah cukup aman, dan paling sering digunakan untuk keperluan Aliansi. Seluruh kegiatan militer, menyangkut briefing, pengaturan strategi, serta pusat operasi secara de facto. Lantai kedua sengaja disegel atas alasan yang benar-benar dirahasiakan.

Dulu sekali, bangunan ini pernah dibuat sangat mewah, tidak seperti pos penjaga ataupun bangunan lain. Hampir berukuran 70 meter dari ujung kaki ke puncak, dan terlihat lebih besar di bagian dalam, butiran batu permata bertabur menghias dinding, sepanjang jalan indah yang begitu menawan. Sebagian dari lantai dua pernah dihantam badai, dan harus direnovasi karena runtuh ke lantai di bawahnya. Di lantai, terdapat karpet kelabu, menggantikan karpet yang dulu berwarna biru.

Ruang perang adalah ruang paling familiar bagi Alrisaia. Karena ruangan itu sudah sering digunakan untuk banyak briefing, duduk dan berkumpul, mendengarkan Prajurit-Prajurit senior menerangkan objektif mereka seraya didengarkan oleh timnya; Artaxad, Galatra, Lachlann, dirinya, dan… dia. Anggota kelima yang paling malas disebut namanya oleh keempat anggota lain. Dia tidak pernah sekalipun bertindak dalam bentuk memberi bantuan pada tim dan selalu menghilang melakukan muslihatnya sendiri.

Alrisaia melangkah cepat menuju tangga besar dan lebar untuk masuk Bangunan utama. Dia melihat sesosok Prajurit pria menuruni tangga. Raut wajah pria tersebut terlihat gondok, dan mengutuk keras, "Keparat! Kurcaci sialan!"

Si Assassin bahkan tidak menoleh sedikitpun padanya, saat mereka berdua saling melewati. Dia sama sekali tidak ambil pusing. Justru, yang ia pedulikan adalah suara langkah kaki ringan Iglasias dari belakang, ketika Alrisaia menaiki tangga.

Pintu masuk dari bangunan utama, berbeda dari pintu masuk Markas Besar yang dijaga Guard Tower dan beberapa prajurit. Bukan gerbang mewah dari baja dengan pengamanan ekstra ketat, melainkan hanya sebatas tirai krem yang halus dan indah.

Alrisaia baru saja ingin menyampirkan tirai tersebut, ketika wajah yang tidak asing baginya, mendadak keluar dan menghambur tirai dengan kasar. Reflek, si Assassin menghindar ke samping kanan. Galatra, pipinya merah padam, dengan ekspresi penuh determinasi. Dia berlalu tanpa menyadari keberadaan kawan di sebelahnya.

Alrisaia menyadari bahwa tubuh Galatra terlihat mengeluarkan sinar biru lembut, seraya gumpalan asap putih melingkar-lingkar, lalu menguap dari bahu. Mata biru muda Alrisaia menatap ke bawah, dimana terdapat jejak kaki beku yang ditinggalkan Warlock wanita itu.

Ketika tangan Alrisaia mencoba menggapai bahu si Warlock berambut emas, dia segera membatalkan niat tersebut. Tidak jadi menyentuh Armornya, yang terasa dingin sekali. Sangking dinginnya, sampai timbul rasa menyengat urat syaraf di tangan Assassin.

Galatra turun tangga, sambil menggenggam erat tongkat biru safir. Seolah bersiap melaksanakan suatu misi, sampai tidak sadar akan keberadaan Alrisaia. Si Assassin mencemaskannya. Iglasias mendongak, dan mengangguk, "Biar kuurus dia. Sampai nanti, ya."

Alrisaia membalas anggukan Iglasias, balik badan, lalu menyampirkan tirai tersebut. Membiarkan rambutnya dihujani hawa dingin dari Kristal peninggalan Warlock es.

"Oke, kemana dulu?" Dia bisa lihat jejak kaki putih berasal dari Ruang Perang di sayap selatan. Pertanda dari sanalah Galatra pergi. Tapi, pikiran Alrisaia malah tertarik untuk menuju Sayap Utara, unit gawat darurat berada di sana, tempat dimana mereka merawat prajurit terluka parah dengan perawatan intensif yang perlu waktu lama untuk disembuhkan di ruang perawatan. Artaxad pasti berada di sana.

Tapi tidak, Kulvaki telah membohonginya dan membuatnya tidak tahu apa-apa. Itu hal yang tidak dia suka. Dan kali ini, dia memilih bicara langsung padanya. "Ruang perang."

Ruang perang adalah satu dari beberapa ruangan yang besar , didominasi oleh meja oval panjang yang tidak sampai ukuran dari sisi dinding satu ke sisi lainnya. Beberapa kursi ditempatkan di sini dan beberapa di pojokan. Sebuah peta membentang di meja, di dindingnya terdapat diagram, atau taktik yang digambarkan berupa grafik, dan semacam symbol dari anak panah. Pojok ruangan dipenuhi perkamen kuno, yang lebih banyak debu ketimbang tulisan yang bisa dibaca.

Sebuah suara, kasar dan rendah. Tidak salah lagi, pasti Kulvaki. Sedikit teredam oleh dinding batu tapi Alrisaia mendengarnya seperti sebuah bisikan. "Merepotkan. Berarti Aku harus menarik mundur pasukan."

"Tidak perlu mundur, cukup menahan pergerakan pasukanmu sedikit lebih lama."

Jadi rupanya Kulvaki sedang bersama orang lain. Jujur, Alrisaia tidak peduli.

Saat Alrisaia menerobos masuk, dia sudah menduga Kulvaki akan berada di dalam, menghabiskan banyak waktu di sini sebagai petinggi dari satuan tugas. Apa yang tidak dia duga adalah identitas dari sosok lain di ruangan ini. Dan si Assassin tidak siap mengantisipasi kehadirannya. Sosok tertentu yang membuat wajah Alrisaia merengut.

Kulvaki berdiri di satu sisi meja, jari menunjuk satu bagian di peta, menyusuri peta area tebing petir. Lawan bicaranya, sosok berambut pirang dengan tatapan mata licik. Pria tersebut berbalik, saat mendengar ada orang menerobos masuk, begitu tahu siapa yang masuk, dia menyeringai. "Gagak."

"Kalau kamu tidak keberatan, Lawlet, aku ingin bicara empat mata dengan Elrond Kulvaki." Alrisaia menggeram pada lelaki pirang itu.

Lelaki yang kerap meninggalkan tim, sedetik setelah mereka beranjak dari Markas. Bayangan yang selalu absen. Dan sudah sejak lama Alrisaia mendoktrin dirinya dengan fakta bahwa timnya tidak akan dapat bantuan dalam bentuk apapun, dari apa yang dilakukan Stealer berambut pirang. Sejujurnya, si Assassin lebih suka seperti itu. Sebab, itu artinya, dia tidak perlu sering-sering melihat wajahnya, yang sering dihias senyum kesombongan.

Ada suatu hal di senyum Lawlet, yang membuat Alrisaia ingin sekali meninju wajahnya… menggunakan pisau Force.

Lawlet menggestur pada gaun perawatan tipis yang dikenakan Alrisaia. Dia belum sempat ganti sejak melarikan diri. "Selera berpakaian yang menarik. Kuharap kamu menikmati jalan-jalan di bawah sinar rembulan."

Dahi Alrisaia berkerut, ekspresinya penuh kejengkelan, dan dia membalas, "Kuharap kamu menikmati 'pergantian rute' saat kita jalan-jalan sebagai tim."

"Oh jelas. Daerah kekuasaan Bellato tidak buruk juga. Banyak pemandangan yang tidak kalah bagus. Aku sudah dengar tentang Artaxad. Coba kalau kalian bisa bekerja sama, seperti yang seharusnya kalian lakukan. Tapi, yah.. sudahlah. Belasungkawa dariku, tentunya."

Nafas Alrisaia memberat, bulu kuduknya terasa berdiri akibat amarah yang tidak biasa. Punya nyali juga dia, memancing kemarahan si Assassin dengan perkataan melecehkan perjuangan rekan setim yang nyaris mati. Kedua tangan Alrisaia mengepal, udara di sekitar telapak menjadi semakin panas seraya Force violet mulai membentuk pisau.

Kulvaki buka suara, menyarankan dengan keras, "Lawlet, istirahatlah selagi masih malam! Kita akan bahas masalah ini lain waktu."

Dari nada bicara, jelas itu bukan saran. Lebih tepat bila disebut perintah. Lawlet melompat dari kursinya, dan langsung berdiri. "Bila itu yang anda inginkan, lain waktu."

Dia berjalan santai menuju pintu keluar, bagai meledek siapapun yang melihatnya. Sebelum membuka pintu, dia menoleh sekali lagi pada Alrisaia, dan menyeringai untuk terakhir kali, sambil melangkah keluar. Tatapan mematikan Alrisaia belum pudar, terpaku pada mata Lawlet, dan bertahan sejenak hingga suara langkahnya benar-benar menjauh. Barulah dengan berlalunya si Stealer, pisau Force berwarna violet ikut memudar.

"Pirang sialan." Umpatnya kesal.

"Jangan pedulikan dia." Kulvaki berkata. Suaranya lebih sering terdengar tenang, namun hari ini, sedikit lebih kasar. Alrisaia menyadari hidung besarnya sangat mengganggu. "Jadi, gagak kecil, apa yang ingin kamu bicarakan?"

"Aku bukan lagi gagak kecil." Bantah Alrisaia. Sebutan itu agaknya membuat risih. Dia tidak pernah keberatan disebut gagak, namun embel-embel 'kecil', seolah mengesankan bila dia masih hijau. "Aku ingin tanya, saat aku dikurung-"

"-Dirawat." Kulvaki segera mengoreksi perkataanya, tanpa bertatapan.

"-Ditahan, di ruang perawatan, surat yang kuterima-"

"-Apa suratku ada diantaranya?" Lagi-lagi, dia memotong kalimat Alrisaia.

Alrisaia memberi anggukan kecil untuk merespon, kemudian bertanya, "Kamu memilahnya, 'kan?" Tuduhan si Assassin langsung ke inti masalah, sambil menyipitkan mata dan mencondongkan tubuh ke depan. "Kamu menyuruh seseorang untuk menyembunyikan informasi dariku."

Perasaan tegang berkumpul di perut Alrisaia, merayap layaknya seekor ular. Kulvaki memberi jeda, menghela nafas, lalu menatap ke atas pada si Assassin, "Ya, benar sekali."

Ular di perutnya, menghilang dalam sekejap. Alrisaia mengangkat sebelah alis, "Kamu bahkan tidak akan menyangkal?"

"Walaupun kusangkal, semua sudah jelas. Tindakan sia-sia." Sang Elrond menjelaskan, kembali pada peta di meja. "Lagipula, harusnya kamu bersyukur, gagak kecil. Itu semua untuk perlindunganmu."

"Perlindungan apa yang kudapat, bila kalian merahasiakan informasi dariku?!" Alrisaia berseru, melampiaskan amarah. "Kamu tidak bisa mengharapkanku menunggu, sambil pura-pura tidak peduli!"

Kulvaki menunjuk pada Alrisaia dengan satu jari telunjuk kanan. Mata hitam yang berada di bawah alis tebal, benar-benar fokus pada lawan bicara untuk pertama kali sejak Alrisaia mulai meracau tadi. "Inilah sebabnya. Kamu mencoba untuk terlihat tenang dan terkendali. Tapi sebaliknya, kamu adalah anak kurang ajar, sinis, merendahkan, angkuh dan impulsif. Bila kamu tahu kabar tentang timmu, kamu sudah pasti akan kabur dari ruang perawatan begitu tersadar, dan pergi sendiri. Atau mungkin bersama Galatra, untuk mencoba dan menyelamatkan Lachlann. Dengan kondisi yang sedang lemah, kamu bisa membuat dirimu terbunuh."

Alrisaia berhenti mendengarkan kata-katanya setelah 'impulsif'. Perempuan itu berdiri dan membenamkan jemari di atas meja yang terdapat peta besar. "Impulsif? Bagaimana mungkin aku- Aku bukan seorang yang impulsive, kurang ajar, merendahkan, atau angkuh! Kapan aku pernah-"

Tanpa berkata apa-apa, Kulvaki mengarahkan telunjuknya ke bawah, tepat ke titik dimana Alrisaia meletakkan jemarinya. Si Assassin menunduk dan melihat asap muncul dari peta besar tersebut. Alrisaia mengangkat jemari, dan melihat sepuluh lubang bekas terbakar berbentuk ujung jari di peta Kulvaki, dan sekalian menciptakan tanda gosong di meja di bawah peta itu.

Si Elrond mengangguk, dan mengkritik tajam. "Kamu adalah makhluk penuh emosi, Gagak kecil. Hanya saja, kamu terlampau baik menyamarkannya di balik ketenangan, dan tujuan."

Pilu menyesakkan dada Alrisaia, dan serasa dipaksa untuk kembali duduk lesu oleh kata-kata atasannya. "Dia… benar."

Memang tidak pernah enak untuk mengetahui kekurangan diri dari kritik terbuka dan jujur, yang terdengar pedas. Apalagi, tujuan awal Alrisaia untuk memojokkan Kulvaki, memaksanya mengaku bahwa dia telah menyimpan rahasia darinya, malah jadi senjata makan tuan.

"Kalau begitu." Ujar Kulvaki, "Karena kamu sudah di sini, menurutku tidak ada gunanya lagi merahasiakan sesuatu lebih jauh. Jadi kusarankan pasang telinga baik-baik, Gagak, aku tidak akan mengulang."

Alrisaia duduk secara tegak, tepat saat Kulvaki mulai menjelaskan, "Kamu telah ditahan di ruang perawatan selama tiga minggu. Hari pertama, sudah terbukti ada yang tidak beres dengan teleport rekan setimmu, Lachlann, karena sampai hari ini belum kembali. Artaxad segera dibawa ke ruang perawatan, lalu langsung dipindahkan ke unit gawat darurat. Sebuah lubang di wajah bisa membawamu ke sana. Kamu dibawa ke ruang perawatan beberapa saat setelah itu. Tidak ada kabar mengenai keberadaan Lachlann hingga dua hari lalu, seorang pengintai kembali dari wilayah Dataran Tinggi Bellato, area Anacade."

Dataran Tinggi Bellato, nampaknya Lachlann memutar jauh dari rute pelariannya. Tapi, seingat Alrisaia, tidak ada apapun di sana. Kenapa dia mengambil jalan itu? Atau jangan-jangan…

"Lachlann terlihat di sana, berlari diantara belantara hutan dari kejaran Accretia bersenjatakan sabit emas. Kelompok pencari dari pasukan Bellato pun mulai bergerak, tidak jauh di belakang. Semenjak itu, tidak ada kabar lagi. Aku menolak untuk mengirim regu penyelamat, karena area itu sudah terlalu jauh dari jangkauan kita. "

Jari telunjuk dan jempol Alrisaia menyentuh dagu. Itulah kenapa Galatra terlihat sangat kesal. Lachlann bisa saja sedang berada di genggaman Pasukan Bellato, atau mungkin susah payah, menderita, cuma demi bertahan hidup dari Accretia itu.

"Menolak untuk mengirim regu penyelamat."

Kenapa? Area itu bukanlah area strategis yang patut diwaspadai. Penjagaan pasukan Bellato pun tidak akan diperketat di sana. Tapi akhir-akhir ini…

"Terlalu jauh dari jangkauan kita."

Tidak, biarpun begitu, Lachlann adalah asset berharga bagi Aliansi, salah satu Black Knight hebat. Pengorbanan memang kadang diperlukan, tapi tentu, kompromi pun bukan hal mustahil.

Alrisaia mendongak, dan menangkap mata Kulvaki yang sedang menatapnya, sambil menggulung peta besar di atas meja, dan memperhatikan perempuan itu secara teliti. Matanya hampa, tapi jelas. Alrisaia tahu, dia sedang dicurigai, dan Pria itu sedang memikirkan langkah antisipasi atas segala kemungkinan yang akan dilakukan si Assassin.

Aneh, hal itu justru membuat Alrisaia nyaman.

Kulvaki menyenggak, "Aku tahu apa yang ingin kamu minta, dan aku akan menolaknya. Aku mengizinkanmu untuk meninggalkan ruang perawatan dan kembali ke Markas, tapi kamu akan tetap berada di area Markas sampai pemberitahuan selanjutnya. Apa kita saling paham satu sama lain?"

"Tentu!" Si Assassin berambut biru muda, menyungging senyum tulus dan berkata menggunakan nada penuh kesopanan, "Anda bisa percaya padaku, Elrond. Lagipula, bukankah aku ini kurang ajar, angkuh, dan impulsif?"

Alrisaia bangkit dari kursi untuk meninggalkan ruang perang, jalan cepat menuju pintu. Kulvaki menegaskan, "Aku berbagi informasi ini atas dasar kepercayaan, Gagak kecil. Percaya bahwa kamu tidak akan mengecewakanku, dan tidak akan melakukan hal yang kutakutkan tadi."

"Dan kepercayaan itu tidak akan disalahgunakan." Si Assassin balik badan, untuk menunjukkan senyumannya, dan lanjut berujar, "Plus, aku bahkan tidak punya tim, ingat?"

-Bersambung-


Author's Note: Buat yang kurang familiar dengan istilah impulsif…aku kasih penjelasan dikit ya. Impulsif; Perilaku seseorang yang tiba-tiba berubah, tiba-tiba di luar rencana, atau sebuah sikap yang ga didukung alasan kuat. Umumnya, sikapnya tergolong irrasional.

Big shout out buat kk Ahlinujum yang sempet kena musibah…Ayahandanya sempet dirawat dirumah sakit selama sebulan. Alhamdulillah kabar terbaru sih beliau udah dibolehin pulang! Yeaaayy! yukk kita do'akan semoga kedepannya, kondisi beliau makin membaik! We will always here, waiting for you to update your story!