Naruto – Masashi Kishimoto

Story – Buki Buki Nyan

Naruto Uzumaki and Hinata Hyuuga

Warning: AU, OOC, Ide Pasaran, Typo Everywhere, No Baku, No EYD.

Rate: T semi M (Lemon? Maybe)

...

Don't Like Don't Read

….

"U-uzumaki-san, ii-ini untukmu." Terdiam dengan menatap kesekeliling saat banyak pasang mata menatap Naruto Uzumaki dengan seorang gadis cantik bertubuh mungil.

Bisa di lihat sekarang, sang gadis bertubuh mungil itu membungkukan badannya dengan memberikan secarik kertas bewarna ungu muda. "Apa ini?" Naruto nampak canggung di sekelilingnya sudah mulai banyak suara desas desus antara dirinya dengan gadis yang masih membungkuk. "Be-berhentilah bertingkah seperti itu."

"Na-namaku Hinata Hyuuga."

"Ha?"

"Ii-ini untukmu." Hinata langsung dengan cepat memberikan sebuah surat berwarna ungu muda pada Naruto. Naruto mengedipkan matanya dan langsung melirik surat yang sekarang ada pada genggamannya.

"Wangi sekali—" Naruto masih memandangi punggung Hinata yang semakin berlari menjauh.

"Hei Naruto— itukan Hinata, ada apa?" Naruto menggeleng masih melihat Hinata yang sekarang sudah tak terlihat sama sekali.

"Ka-kau kenal dengannya Kiba?"

"Ya, gadis itu salah satu gadis jenius yang mengharumkan nama Universitas. Dia dari fakultas seni."

"Oh—" Naruto masih menatap surat Hinata, dengan tersenyum tipis.

"Surat apa itu?" Teriak Kiba yang mencoba merampas. "Berikan padaku, aku ingin lihat."

"Hus... hus... pergi—" Usir Naruto dengan mengkibas-kibaskan tangannya pelan. "Ini rahasia."

Naruto meninggalkan Kiba sendiri, berjalan dengan bersenandung, dan memberanikan diri untuk membuka surat yang semerbak wanginya hingga membuat dirinya terlena. "Sial, baunya memabukan." Pekik Naruto pelan.

Untuk Naruto Uzumaki.

Maaf jika aku menulis surat ini, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena sudah membagi ruangan untuk kegiatan kami…

Naruto berhenti dari jalannya dan mencoba berfikir. 'Berbagi?' Tanya Naruto dalam hati pada dirinya sendiri dan di lanjutkan kembali membaca surat dari gadis yang menyita perhatiannya, mungkin saja dirinya akan mendapatkan jawaban jika membaca hingga selesai isi suratnya.

Kegiatan Seni lukis kami berjalan lancar dan sukses, aku ingin mengucapkan terima kasih langsung, tapi aku takut, aku tidak pernah bicara dengan orang asing, jadi aku ingin berterima kasih dengan cara seperti ini. Maafkan aku—

"Ya ampun, lucu sekali—" Naruto terkikik geli dengan menggaruk belakang kepalanya pelan. Dirinya tak sadar jika kedua pipinya mengeluarkan semburat merah. "Padahal kita satu Universitas, kenapa dia bilang orang asing." Naruto tertawa lagi.

Uzumaki-san, maaf jika surat ini membuatmu risih, aku tak akan mengirimi surat lagi, ini yang pertama dan yang terakhir, terima kasih— semoga team basket mu menang. Kami seluru team seni lukis dari Fakultas Seni, sangat berterima kasih dan akan mendukung kalian.

"Ya, ya— bukankah ini terlalu formal, hanya membagi ruang olahraga yang cukup luas." Naruto menghembuskan nafasnya, dan mencium sekali lagi surat dengan wangi lavender itu. "Benar-benar wangi." Imbuhnya kembali memasukan surat yang tiba-tiba dirinya anggap sangat berharga.

….

….

"Ugghh—" Merenggangkan badannya yang lelah, seharian ini Naruto tampak di sibukan dengan beberapa tugas, apa lagi ia akan mengajukan sidang skripsi lebih cepat dari teman-temannya. Membuka jendela perpustakaan lebar-lebar. Ruangan ini sudah sepi, walau ini masih siang— mungkin karena memang waktu jam makan siang, jadi tempat ini sedikit tak terlalu ramai seperti tadi.

Naruto mengedipkan mata, ketika melihat seorang gadis bersurai menjuntai berjalan sendiri ke arah taman universitas, Naruto menopangkan dagunya pada jendela dan sempat menarik kursi untuk ia duduki. Mata sapphire-nya menatap seorang gadis yang beberapa hari ini membuat hatinya bergemuru tak jelas, ketika menatap lagi surat berwarna ungu muda yang masih ia anggap sebagai jimat keberuntungan untuknya. Wanginya benar-benar ia ingat, dan selalu membuat dirinya tersenyum tak jelas.

SREEEKK—

Berdiri dengan cepat, mengambil sebuah benda berwarna hitam, yang tak lain adalah camera DSLR-nya. "Ingat— aku bukan stalker, aku hanya ingin mengabadikan moment yang langkah." Ucapnya meyakinkan dirinya sendiri yang mencoba mengambil foto seorang gadis yang sedang menikmati bekal di taman.

CEKREK

CEKREK

CEKREK

Beberapa bidikan di abadikan olehnya, tanpa mempedulikan, bahwa dia sudah mengambil gambar gadis yang sedang berada di sana, sudah tak bisa di hitung dengan jari. "Yosh—" Teriaknya, yang langsung di sambut dengan…

"Ssstt— kau tahu kan ini perpustakaan kan?"

"Ah, maaf…" Naruto membungkukan badanya sedikit ketika mendapati beberapa orang di perpustakaan universitas-nya mulai ramai lagi.

Membereskan barang-barangnya dan dengan cepat keluar dari tempat yang membuatnya mati kebosanan karena beberapa hari ini mencari materi untuk ujian. Seharusnya dia tak melewatkan jam makan siang, atau melupakan jadwal untuk makan ramen…

Tapi rasa laparnya hilang entah kemana, ketika mendapati gadis pujaanya coret tiba-tiba menjadi gadis pujaannya tertangkap pengelihatannya, dan sekarang yang ia lakukan adalah, harus menemui gadis yang sendari tadi ia tatap dari arah jendela perpustakaan sebelum gadis itu hilang entah kemana.

Berlari keluar perpustakaan tanpa melihat kedepan karena sibuk membenahi tasnya.

BRUUKK—

"Naruto—"

"Sakit!" Pekiknya pelan, karena membenturkan tubuhnya ke tembok agar ia terhindar menabrak seseorang. "Aduuhh…" rintih Naruto lagi.

"Hei, jangan berlari di koridor, kau tahu kan pertaruannya."

"Ma-maaf Sakura— aku buru-buru."

"Apa kau akan pergi ke ruang olahraga?"

"Tidak." Menjawab cepat sambil membereskan buku-buku Sakura yang terjatuh karena insiden tabrakan di koridor.

"Jadi kau akan pergi kemana? Kau akan membolos latihan basket? Kau harus ingat kal—" Ucapan Sakura terpotong karena keburu Naruto pergi berlari dengan cepat. "Ini pertandingan terakhirmu sebelum lulus, Naruto berhenti kau—" Teriakan Sakura menggema, tetap tak membuat Naruto berhenti dari larinya.

"Gomen Sakura-chan, aku akan datang terlambat." Balas Naruto yang juga mengeluarkan teriakan juga.

….

….

Hinata menutup kembali bekal makannya dan meneguk sebuah jus yang ia beli dari mesin vending. Lega— dan perutnya juga kenyang, mungkin setelah ini ia harus melanjutkan latihan membuat keramik, untung magang di sebuah sekolah dasar atau lebih memilih mengajar anak TK, karena sejujurnya— Hinata sangat menyukai anak-anak.

"Dor—" Sebuah suara baritone dari arah belakang mengagetkannya, dan membuat Hinata menoleh ke asal suara. "Hay, Hinata Hyuuga?" Hinata mengangguk, dan melihat dari tangan pemuda itu terlihat sebuah benda yang ia kenali, dan tentu saja itu adalah surat yang ia buat sendiri beberapa hari yang lalu.

"U-Uzumaki-san…" Pekik Hinata yang langsung berdiri dan menjatuhkan tempat makannya. "A-ada apa?" Tanyanya pada Naruto yang memungiti tempat makan gadis cantik itu.

"Ah— aku hanya berjalan-jalan sebentar, sebelum latihan, dan kebetulan aku tadi melihatmu." Jelas Naruto yang tentu saja itu bohong. "Kau baru selesai makan siang?" Hinata mengangguk, enak sekali bisa membawa bekal makanan ya.

"Apa Uzumaki-san belum makan siang?" Naruto menggeleng.

"Jika aku belum makan siang, apa kau akan membagi bekalmu?"

"Ta-tapi, bekal ku sudah habis—" Naruto membenarkan tasnya yang hampir melorot setelah itu menunduk dengan menggaruk tengkuknya. Diam— entah kenapa suasana tiba-tiba menjadi canggung seperti ini.

"Se-setelah ini kau akan kemana Hi- eh, maksud ku— Hyuuga!"

"Aku akan kembali ke gedung olahraga, maaf."

"Kenapa kau meminta maaf?"

"Karena ruanganmu pasti menjadi sempit karena berbagi ruangan karena tempat kami di renovasi."

"Tidak, lagian kan itu bukan milik pribadi, Sensei juga sudah menyetujui, jika sementara kita berbagi ruangan, itu tak masalah dan— bisakah kau tak meminta maaf lagi, entah kenapa malah aku yang jadi tak enak padamu." Hinata mengangguk dan tersenyum manis. "Dan satu lagi—"

"Ya?"

"Dalam surat ini, kenapa kau mengatakan jika kita orang asing? Padahal kita satu universitas." Pipi Hinata bersemu merah dan menunduk.

"A-aku jarang berbicara dengan seorang lelaki, apa lagi orang sepertimu."

"Memangnya aku kenapa?"

"Kau pemuda terkenal." Hinata tertawa kikuk. "Mereka mengenalmu, kau hebat, kau selalu di kelilingi banyak teman."

"Jadi, apa kau mau menjadi temanku juga?" Tawar Naruto yang membuat Hinata mendongak cepat dan mengangguk. "Ya baiklah, kita sekarang teman—"

KRUYUUKK—

Hinata menoleh ke kanan dan ke kiri, setelah itu menatap Naruto lagi, ketika mendengar suara bunyi aneh, dan itu langsung membuat Naruto tertawa lebar, karena jelas saja, suara itu berasal dari perut Naruto yang sendari pagi belum berisi, cacing-cacing dalam perut pemuda itu mulai berisik.

"Itu suara perutku Hinata, aku lapar sekarang, ah— apa aku boleh memanggilmu Hinata?"

"Tentu saja." Naruto mengangguk dan tersenyum. "Apa kau benar-benar lapar?"

"Ya, aku belum makan dari pagi, aku tinggal sendiri di apartemen yang tak jauh dari universitas, karena rumahku jauh, dan aku malas untuk pulang pergi dari sana ke sini."

"Besok aku akan membawa bekal makan untukmu, jika kau mau Uzumaki-san—"

"Benarkah? Tak masalah jika itu tak menyulitkan mu, tapi bisakah kau tak memanggil marga ku? Panggil aku Naruto." Hinata mengangguk dan mengambil tasnya.

"Baiklah, dan aku pergi dulu, karena ada temanku yang memintaku untuk mengajarinya membuat kramik." Naruto mengangguk dan melambaikan tangannya pelan ketika Hinata sudah mulai jauh meninggalkannya. Andai perutnya tak lapar, mungkin dia akan pergi bersama dengan gadis itu.

….

….

TRANNGG—

Satu lemparan bola masuk ke ring dengan cepat tanpa cela. Naruto memang paling bisa melakukan itu, kapten sekaligus team inti dari club basket di universitas-nya.

"Yosh— ini latihan terakhir, dan lusa, kita tak boleh mengecewakan lawan kita." Para anggota yang terdiri, dari Sasuke Uchiha, Kiba Inuzuka, Sabaku Gaara dan beberapa dari fakultas lain bersorak, tidak-tidak— hanya Sasuke Uchiha si stoic yang tak bersorak, suaranya terlalu mahal, walau begitu, fansnya tetap banyak hingga di luar universitas.

"Hei Teme— kenapa muka mu cemberut, apa karena tidak ada Sakura di sini?" Naruto tertawa dan langsung menghampiri Sasuke yang duduk pada kursi cadangan.

"Mungkin juga, tapi lebih tepatnya karena kita tidak ada manager cadangan— siapa yang akan mempersiapkan semuanya?" Naruto baru sadar, jika Sakura ada urusan dadakan dan selama seminggu harus ikut study tambahan dari fakultas.

"Apakah benar kita tak ada cadangan? Seharusnya kita cari saja dari mahasiswa lain yang mau membantu kita untuk mempersiapkan— ah tunggu." Naruto mengacungkan jari telunjuknya tanda jika dirinya mendapatkan ide cemerlang.

"Apa?"

"Aku punya kenalan dari Fakultas seni, yang menempati separuh ruangan kita, mungkin saja mereka mau membantu kita menjadi manager team basket cadangan, lagi pula mereka sepertinya tak sibuk akhir-akhir ini."

"Terserah kau saja, dan aku pergi dulu—" Sasuke berdiri menenteng bola basketnya dan ranselnya, keluar dari gedung olahraga.

"Memangnya siapa yang mau jadi manager team kita? Kerjaannya cukup berat, harus mencuci baju kita, menyiapkan bekal saat akan berangkat bertanding, itu berat— sepertinya hanya Sakura yang benar-benar bisa melakukan itu, dia kan monster." Naruto sweatdrop. "Benar tidak?" Kiba mencari teman, dan akhirnya yang lain mengangguk meng"iyakan" pernyataan Kiba, karena tentu saja di sini tak ada Sasuke, kalau ada pun, mereka mungkin akan mendapatkan lemparan bola basket.

"Ya— itu terserah kalian, aku akan langsung menemui manager baru kita, dan semoga dia mau membantu kita." Jelas Naruto yang langsung keluar untuk menuju ruangan di sebelah. Sejujurnya benar kata Kiba, mana ada yang mau mengurusi klub basket jika bukan Sakura, dengan setia mencuci semua pakaian basket atau menyiapkan bekal makanan, walau kadang masakan Sakura bisa membuat stamina mereka down, dan untuk yang itu abaikan saja.

Naruto celingukan di luar ruang kecil di pojok gedung olahraga dan berdoa pada kami-sama untuk di lancarkan urusannya, dan semoga orang yang akan di mintai tolong mau membantu mereka, apa lagi jika menawari pekerjaan yang tak di bayar sama sekali, mungkin jasanya saja yang akan di kenang.

Pemuda bersurai blonde bermata biru bagai langit biru di musim panas tanpa awan itu, kini menggeser pintu geser dan kembali mengedarkan pandangannya di dalam. Terlihat seorang gadis cantik dengan menggulung surai panjangnya sedang melipat kertas, yang di kenali sebagai origami.

"Hinata—" Panggil Naruto pelan, dan membuat yang di panggil pun menoleh ke asal suara. "Kau sedang sibuk?"

"Naruto-kun—" Naruto tersenyum penuh arti dan menutup kembali pintu yang sempat ia geser. "Ada apa?"

"Sebenarnya aku ingin meminta tolong padamu—"

"Meminta tolong apa?"

"Begini— manager team basket sedang ada study dan aku baru sadar, kami tak ada manager, apa kau mau membantu kami?" Hinata terdiam sesaat. "Jika kau tak bisa tak apa, aku akan mencari yang lain."

"Ti-tidak, aku mau, tentu aku mau— anggap saja ini balasan karena kau mau membagi ruangan."

"Itu lagi, sudah ku bilang jangan di bahas lagi." Hinata terkekeh. "Tapi kami tak membayarmu, yang artinya kau relawan menggantikan Sakura."

"Tak masalah—"

"Serius?" Hinata mengangguk dengan memasang senyuman manisnya, yang semakin membuat Naruto merasakan panas pada sekujur tubuhnya. "Te-terima kasih."

….

….

"Itadakimasu—" Teriakan menggema dari klub basket dan berakhir mereka beringas makan sebuah bento dengan 4 susun kotak bekal jumbo buatan manager baru mereka. "Sial— ini enak sekali." Hinata tertawa dan menuju ruang belakang dengan banyaknya pakaian kotor menumpuk dan beberapa handuk kotor pula.

"Hinata—" panggil Naruto yang menenteng sebuah kotak bakal kecil, yang di berikan Hinata untuknya, dan ini berati khusus untuk Naruto. "Terima kasih bekalnya, aku merepotkanmu, kami akan mengganti uangmu untuk bekal." Hinata menggeleng dan kembali memasukan pakaian kotor pada mesin cuci.

"Tidak perlu, anggap saja ini—" Hinata memotong ucapannya, karena dirinya berkali-kali sudah di ingatkan oleh Naruto untuk tak membahas pembagian ruangan. "Tidak apa-apa, di rumah banyak bahan makanan, aku juga selalu sendiri, dan orang tuaku jarang ada di rumah, mereka selalu perjalanan bisnis, hanya ada adik ku, dan aku tak mungkin juga bisa menghabiskan semua dengannya kan." Hinata tersenyum manis, membuat Naruto lagi-lagi bersemu merah.

"Oh jadi begitu— nanti kita pulang bareng ya, kau mau kan?"

"Tentu, jika itu tak merepotkanmu Naruto-kun."

"Tentu tidak—" Naruto menggeleng dan pergi menenteng kembali bekal makanan yang benar-benar sayang untuk di makan.

….

….

"Ya tuhan— kau pasti lelah." Naruto melihat tumpukan pakaian yang telah rapi di lipat dan di masukan kembali pada lemari khusus untuk menyimpan barang-barang para anggota klub basket. "Hinata, kau pasti lelah." Jelas Naruto yang tentu saja mendapat gelengan kepala dari Hinata, gadis itu terlalu baik, dia tak akan mengatakan pegal atau sakit mengerjakan ini semua.

"Sudah, lebih baik kau istirhat dulu, kau bisa melanjutkan besok, aku tak memaksamu untuk menyelesaikan semua ini, hari ini juga." Jelas Naruto lagi.

"Ini sudah selesai." Hinata terdiam ketika Naruto menyodorkan sebuah kaleng kopi. "Untuk ku?"

"Tidak— itu untuk tukang kebun universitas kita." Hinata terkekeh. "Kenapa kau malah bertanya, tentu saja itu untukmu, apa kau tak suka kopi?"

"Aku suka."

"Ya sudah, cepat ambil ini." Hinata mengambil kaleng kopi dan membukanya, setelah itu meneguk. "Bagaimana? Enak kan?"

"Ya— aku jarang minum kopi dingin, apa kau tadi memasukan di dalam kulkas?"

"Aku memesankan khusus untukmu." Naruto tertawa dan tentu dengan Hinata. "Ayo kita pulang." Ajak Naruto yang menyambar ranjang pakaian, dan memasukannya paksa di dalam lemari. "Letakan semua itu di sana, jangan memaksakan diri, ini sudah hampir jam 7 malam."

"Baiklah—" Naruto menggandeng tangan Hinata. untuk sampai ke depan gerbang, mereka harus melewati beberapa gedung fakultas, karena letak gedung olahraga terletak di belakang gedung universitas paling belakang.

JLEB—

Naruto dan Hinata langsung berhenti dari jalannya. "Ya ampun, kenapa bisa mati lampu sih." Rintih Naruto yang merogoh ponselnya.

GREP—

Merasakan jika punggungnya ada yang memeluk, Naruto terdiam sesaat ketika merasakan benda kenyal yang ada di punggung bergerak beberapa kali. "Hi-Hinata, apa yang kau lakukan?" Hinata tetap diam, dan memeluk Naruto dengan erat.

"A-aku mohon, jangan ti-tinggalkan aku—" Naruto yang salah paham langsung memasang wajah bersemu merah. "Ja-jangan pergi Naruto, aku mohon—" Hinata mulai terisak dan semakin memeluk erat tubuh Naruto.

"Hi-Hinata, kau kenapa?"

"Aku takut—" Ucap Hinata pelan dan semakin terisak dan bergetar.

"Ja-jangan-jangan kau pengidap Achluophobia?" Naruto merasakan jika punggungnya ada sebuah pergerakan, dan itu adalah anggukan pelan dari Hinata. "Tenang saja, aku tak akan meninggalkanmu, kita akan keluar dari sini dengan selamat." Jelas Naruto lagi meyakinkan Hinata, tapi gadis itu tetap saja tak mau bergerak maju meskipun Naruto memeluk pundak Hinata.

Pemuda itu mau tak mau harus membopong Hinata ke pundaknya untuk cepat keluar dari tempat ini. "Kemarilah— aku akan menggendongmu." Menarik tangan Hinata kasar, karena tubuh gadis itu kaku dan bergetar hebat, sekujur tubuhnya sudah mengeluarkan keringat dingin. Memaksa Hinata untuk naik ke pundaknya.

Naruto dengan pelan berjalan menyusur beberapa gedung fakultas, Hinata tetap diam memeluk leher pemuda itu. Tubuh Hinata sangat ringan, jadi itu tak menyulitkan Naruto untuk membopong gadis ini sampai ke tempat tujuan.

Tapi— sesampainya di parkiran yang dekat dengan pintu gerbang universitas, Naruto mencoba memanggil Hinata dan ternyata juga listrik yang tadi padam, kini kembali menyala. "Hinata—" Menggoyang-goyang pundaknya pelan, dan tetap Hinata tak mendengar. Terpaksa meninggalkan sepedanya dan berjalan keluar gerbang dengan tetap menggendong Hinata. Langkahnya berhenti ketika dirinya sendiri saja tak tahu rumah Hinata ada dimana, kembali berbelok menuju apartemennya yang tentu saja dekat dengan universitas, mungkin menunggu Hinata bangun dan bertanya alamat, setelah itu Naruto akan mengantarnya pulang.

….

….

TBC