Naruto – Masashi Kishimoto
Story – Buki Buki Nyan
Naruto Uzumaki and Hinata Hyuuga
Warning: AU, OOC, Ide Pasaran, Typo Everywhere, No Baku, No EYD.
Rate: T semi M (Lemon? Maybe)
...
Don't Like Don't Read
….
"Ti-tidak, Naruto-kun—" Suara pelan nan lembut itu keluar dari bibir seorang gadis yang duduk mematung di sebuah ranjang ukuran king size dengan seorang pemuda bersurai blonde, yang masih asik terlelap dengan memeluk sebuah guling. "Na-Naruto-kun—" panggilnya lagi sampai beberapa kali, tapi yang di panggil hanya melenguh dan sekarang gadis itu terkekeh ketika mendengar suara dengkuran halus.
Gadis yang bernama Hinata itu kini, mengecak pakaian yang masih tertempel rapi pada tubuhnya, memakai sebuah kaos bewarna ungu dengan celana jean's panjang bewarna hitam keabu-abuan. Jadi bisa di pastikan, jika Hinata dan pemuda yang masih mendengkur itu tak melakukan apapun.
Hanya jaket gadis itu saja yang tergeletak pada sebuah sofa pada ruangan yang terlihat kotor, dan ini benar-benar sangat kotor, tidak bisa di anggap remeh. Hinata melepas kaos kakinya yang masih membungkus kakinya rapi, dia sendiri lupa dengan kejadian,tentang bagaimana dirinya bisa tidur satu ranjang dengan seorang pemuda, dan dia sadar jika ini bukan kamarnya, Hinata tak ingat— sekali lagi di tegaskan jika gadis itu benar-benar tak ingat.
Mula-mula mencari kamar mandi, karena yang bisa di lihat jika kamar ini tak ada menyatu dengan kamar mandi, ruangan yang sederhana, dengan sedikitnya prabotan, tapi langkahnya berhenti ketika sudah sampai di sebuah ruangan, yang di ketahui ini memang sebuah kamar mandi. Hinata meyakinkan dirinya lagi, jika dia sekarang berada di kamar mandi, tapi ini sungguh berantakan, lebih cocok jika di anggap gudang.
Putung rokok, celana boxer dengan gambar kodok berwarna hijau terang menggantung, bungkus ramen, tu-tunggu— "Kenapa ada bungkus ramen?" Hinata memiringkan kepalanya sedikit, dan setelah itu mencoba meraih beberapa boxer lainnya yang terjatuh di wastafel tapi saat akan meraihnya, ada tangan kekar berkulit tan yang lebih dulu merampas dan mengambilnya.
"Ja-jangan—" Teriak suara cempreng dengan wajah bersemu merah, bak kepiting rebus.
"Naruto, kau mengagetkanku saja—" Pekik Hinata pelan.
"Kau mau ke kamar mandi? Ma-maaf, karena rumahku kotor, aku belum sempat membersihkannya." Hinata tersenyum dan mengangguk. "Silahkan—" Naruto mempersilahkan Hinata untuk menggunakan kamar mandinya lagi.
….
….
Hinata sekarang sudah ingat, jika dirinya tadi malam pingsan karena rasa takut yang amat terdalam dengan gelap. Hinata mempunyai phobia pada kegelapan, karena dulu, saat sekolah dasar, pernah tersasar di sebuah hutan pada kegiatan sekolah, belari seharian ke hutan, yang bahkan dirinya sendiri tak tahu dimana jalan keluarnya.
Mulai sejak saat itu Hinata benci sekali gelap, bukan hanya benci, tapi gadis itu benar-benar bisa pingsan jika terlalu lama berada di tempat super gelap.
Naruto yang mendengar penjelasan Hinata hanya mengangguk dengan wajah yang susah di artikan. Senyuman dari bibir pemuda berkulit tan itu, benar-benar memasang wajah penuh arti. "Ya— aku juga minta maaf karena aku langsung membawamu ke rumahku, kau tenang saja, aku tak melakukan apapun, aku menjagamu semalaman, tapi tiba-tiba aku tertidur." Jelas Naruto dengan tertawa kikuk.
"Sekali lagi terima kasih—"
"Kau harus tahu, jika aku sebelumnya juga tampak resah, aku tak bisa membedakan antara kau pingsan atau tertidur, jadi aku langsung saja membawamu ke apartemen ku yang tak jauh dari universitas kita." Setelah menjelaskan itu semua, Naruto berdiri kembali. "Aku akan mengantarmu pulang, ayo—" Hinata mengedipkan matanya. "Ada apa?"
"A-apartemen mu kotor sekali, apa kau tak mau aku membantu membereskannya?" Naruto menggaruk pipinya yang tiba-tiba terasa gatal. Dia tampak bingung, memang benar biasanya dia akan menyewa pelayan di luar untuk membereskan apartemen sederhananya, tapi entah kenapa sekarang dia tak ingin berpisah dengan Hinata, lebih tepatnya ingin lebih lama lagi dengan gadis yang tiba-tiba datang ke kehidupannya.
"Bo-boleh, jika kau tak keberatan." Hinata tersenyum dan megangguk, dia berjalan ke dapur lebih dulu. "Apa kau akan membersihkan dapur?" Tanya Naruto yang melihat Hinata memakai apron berwarna jingga lucu dengan lagi-lagi ada sebuah logo kodok.
"Aku akan masak, apa kau menyimpan bahan makanan?"
"Aku tidak pernah masak, dan aku juga tidak bisa masak—" Jelas Naruto malu-malu.
"Ya sudah! Aku akan berangkat belanja."
"Ti-tidak perlu, biar aku saja yang belanja—" Paksa Naruto yang mengambil jaket dan langsung pergi keluar. Tentu saja dirinya tak akan mau melihat Hinata kesusahan dengan berbelanja keluar, apa lagi jika nanti gadis itu harus memasak makanan untuk mereka berdua.
Sampai di tengah jalan, dia berfikir lagi, kenapa dia tak tanya dulu harus membeli apa, tanpa pikir panjang dirinya langsung keluar dari apartemen. "Aku tidak ada beras, aku tidak ada daging, ikan, dan sayuran." Naruto bergumam dengan kembali berjalan, setelah itu berhenti lagi. "Tapi aku tidak suka sayaran—" Sambil menjulurkan lidah tanda dia tak mau menelan makanan itu.
"Tapi telur gulung berisi brokoli buatan Hinata enak, mungkin aku akan membeli brokoli dan telur, agar Hinata mau masak itu lagi." Cengiran khasnya membuat beberapa gadis di samping menoleh ke asal Naruto. Tapi pemuda itu lebih memilih terus berjalan dan berlari kecil, tanpa menghiraukan sekitar.
….
….
CEKLEK—
"Hinata, aku pulaangg—" Teriak Naruto menggema, dan langkahnya berhenti, ketika melihat ruangannya benar-benar bersih. "Be-bersih sekali, apa kau yang membersihkannya?" Berjalan kembali menuju dapur yang terhubung dengan ruang tamu.
"Aku baru membereskan dapur dan ruang tamu, aku belum sempat membersihkan kamar mandimu dan kamarmu."
"Ti-tidak perlu lagi, aku akan membersihkan yang lainnya, aku tadi membeli roti, kau makan roti dulu saja untuk mengganjal perut, aku takut nanti kau sakit." Hinata tertawa geli, melihat wajah Naruto yang memasang wajah penuh khawatir. "Jangan tertawa, kau harus tahu, aku sangat khawatir padamu."
"Aku tidak apa-apa, mungkin karena aku tidak bisa berada di tempat yang kotor, jadi aku ingin membantumu membereskan ini semua."
"Ya aku tahu—" Jelas Naruto lagi yang menggiring Hinata menuju dapur, dan memaksa gadis itu untuk duduk pada meja dan kursi di sana. "Kau minum susu ini dan setelah itu makan roti ini."
"Ayolah— jangan tertawa, ini benar-benar tidak lucu." Pekik Naruto kesal, karena sendari tadi Hinata selalu menertawainya.
"Lihatlah, kau terlalu khawatir, padahal aku tak apa—"
"Aku tak pernah membawa seorang gadis di apartemenku, dan juga— aku tak pernah membiarkan teman-temanku untuk membereskan semua ini karena aku membayar seorang pelayan yang datang seminggu sekali." Jelas Naruto panjang lebar dengan pemuda itu membereskan beberapa pakaian yang ada di kamar mandinya.
"Jadi— kenapa kau membiarkanku membereskan apartemen mu?" Pertanyaan Hinata yang membuat Naruto langsung bungkam, dan sekarang pemuda itu terdiam dengan suara yang sudah hilang entah kemana. Ia bingung harus menjawab seperti apa, tak mungkin kan dia akan mengatakan jika dirinya tak ingin di tinggal gadis itu, Naruto ingin berlama-lama.
"A-aku juga tidak tahu, kenapa aku dengan cepat memutuskan bahwa kita akan membereskan ini bersama." Menatap Hinata dengan menggaruk tengkuknya, setelah itu duduk bersama di kursi meja makan. "Setelah ini aku akan mengantarmu pulang, tidak enak juga jika ada orang lain yang melihat kau keluar dari apartemen ku, takut-takut jika kekasihmu akan menuduhmu berselingkuh—" Jelasnya yang sejujurnya ingin bertanya "Apa kau sudah punya pacar atau tidak" di ganti dengan pertanyaan lain. Dasar licik—
"Kekasih?"
"Ya—"
"Aku tidak punya kekasih."
"Yes—" pelan tapi tentu di dengar Hinata.
"Yes? Kau tadi mengatakan 'Yes'?" Naruto terdiam, begitupun juga dengan Hinata yang berhenti dari mengunyah rotinya.
"Eh— itu, maksud ku, itu—" Sudah sudah— pemuda gila itu sudah tak bisa melanjutkan apa yang akan di katakannya, dia lebih memilih berdiri dan meninggalkan Hinata dengan tampang penasaran, kenapa Naruto bisa berteriak pelan dengan kata 'Yes'.
….
….
Hari dimana pertandingan basket nasional telah berakhir, dan lagi-lagi universitas tempat Naruto dan Hinata belajar, mendapat juara lagi. Berakhir mereka akan mengadakan pesta di sebuah tempat karaoke di tengah kota Tokyo. Tapi Hinata lebih memilih untuk pulang ke rumah dari pada harus ikut berhura-hura ria.
"Jadi kau benar akan pulang?"
"Ya, maaf jika aku tak bisa ikut— aku akan naik bus atau kereta jadwal selanjutnya." Mencoba tersenyum, tapi dalam hati dirinya benar-benar takut pulang sendiri. Tapi dirinya akan lebih takut jika harus ikut ke pesta perayaan kemenangan yang tak ada gadis pun yang hadir selain dirinya. Hinata tak seberapa suka jika terlalu banyak pemuda yang mengelilinginya.
"Aku akan mengantarkanmu lebih dulu." Mereka pun terdiam dengan saling berpandangan, setelah itu tersenyum penuh arti, ketika Naruto mengatakan jika pemuda itu akan lebih dulu mengantar Hinata.
"Baiklah— terserah kau saja Naruto." Jelas Kiba yang langsung menarik Naruto menuju teman-teman lainnya. "Hei— jangan berbelok di tempat lain." Bisik Kiba yang langsung membuat yang lainnya tertawa.
"Aa-apa-apaan sih kalian, tidak ada acara seperti itu." Naruto mendorong Kiba dan setelah itu kembali ke hadapan Hinata. "Ayo Hinata—"
"Naruto, kau harus ingat— kembalikan dia dengan selamat." Teriak Kiba yang mendapat kekehan geli dari yang lainnya.
Hinata hanya menurut saja ketika pergelangan tangannya di genggam Naruto. Berjalan cepat, setelah itu melambat menuju sebuah stasiun kereta api. "Bi-biar aku saja yang membelikan tiketnya." Membeli sebuah tiket dari mesin vending di stasiun kereta api, dan setelah itu kembali melanjutkan untuk menuju tempat pemberhentian kereta.
Hianta tetap terdiam dengan melihat gelagat Naruto yang menunduk, mendongak, kadang memasukan kedua tangannya pada saku jaket, kadang juga mengeluarkannya lagi, setelah itu melirik Hinata dari ekor matanya.
"Kau kenapa? Sikapmu aneh." Jelas Hinata yang membuat Naruto menggeleng setelah itu mencoba tersenyum, walau pada kenyataanya senyumannya menjadi aneh. "Apa kau sakit? Atau kau tak kuat dengan udara dingin?"
"Tidak—"
CKIIEETTT—
Teng
Teng
Terlihat kereta yang mereka tunggu telah datang, masuk dengan cepat sebelum kereta itu penuh, jika tak mendapatkan tempat, terpaksa mereka berdua harus menunggu lagi setengah jam lamanya. "Ayo Hinata—" Naruto menarik Hinata lagi, memaksa masuk lebih dulu ke dalam, sudah di duganya, di malam minggu seperti ini, kereta pasti penuh, walau malam sekalipun.
Mereka berdua harus desak-desakan, dan Naruto lebih memilih memojokan Hinata di pojokan, agar tak terjadi pelecehan yang biasa di alami gadis-gadis di Jepang, ketika mendapati kereta penuh. "Ma-maaf Hinata—"
"Tidak apa-apa, Naruto-kun." Hinata semakin mundur ke belakang, ketika lagi-lagi Naruto memojokan tubuh mungil Hinata, membuat Hinata merasakan rasa tak nyaman. "Ugh—" Naruto memeluk Hinata agar gadis itu tidak merasa tersiksa. Sekarang ia semakin bisa mencium bau wangi dari tubuh gadis yang di peluknya. Tubuh mungil yang masuk dalam rangkulannya, bau wangi lavender yang selalu bisa membuatnya mabuk.
"Hinata, kau baik-baik sajakan?" Hinata mengangguk dalam pelukan Naruto, mau tak mau, gadis itu harus memeluk tubuhnya sendiri, agar tubuhnya dan tubuh pemuda di depannya tak semakin menempel. "Hinata, kenapa?" Hinata menggeleng dan mendongak, pandangan mereka saling bertemu, tapi Naruto lebih memilih untuk mengalihkan pandangannya ke samping. "Ma-maaf—"
"Ehm—" Hinata hanya berdehem pelan, menandakan, jika gadis itu tak apa-apa.
10 Menit Kemudian
Hinata mulai terbiasa dengan ini semua, Naruto semakin memeluknya erat, kini Hinata sudah tak lagi membatasi tubuhnya, gadis itu malah membalas memeluk Naruto, di rasakannya leher dengan nafas teratur dari seorang pemuda, tapi tiba-tiba pikirannya terlintas, jika posisi seperti ini benar-benar tak menguntungkannya. Naruto seakan mencoba menjilati leher jenjangnya.
"Ma-maafkan aku—" Bisik Naruto di telinga Hinata, sang gadis Hyuuga itu hanya tersenyum membalas ucapan Naruto. Mereka terdiam lagi, Naruto mencium bau wangi dari leher Hinata, semakin membuat pemuda itu hampir kehilangan kesadarannya. "Hinata—" Suara berat dengan nafas bagai pemburu itu memanggil nama gadis yang ia rangkul.
"Ya—"
"I love you—" Pelan, tapi itu membuat tubuh Hinata menegang, bukankah itu pernyataan cinta atau hanya sebuah kata asing yang tak bermakna. Mencoba mendongak, menatap mata bewarna biru bagai langit di musim panas itu.
Pandangan mereka bertemu, Hinata melihat semburat merah pada wajah sang pemuda yang tak lain adalah Naruto Uzumaki, begitu juga Naruto, bisa melihat wajah merah Hinata yang terlihat tersipu malu dengan pernyataan cintanya yang tiba-tiba terucap begitu saja. Padahal Naruto mencoba mencari moment yang tepat untuk mengatakan itu semua, tapi— kenapa harus menyatakan cinta di dalam kereta? Bedesak-desakan pula, bukankah ini benar-benar tak romantis?
….
….
Mereka berjalan pelan dengan Hinata berjalan di depan, Naruto ada di belakangnya. Sejak insiden dimana Naruto menyatakan cinta, mereka jadi terdiam membisu dan tak ada yang mau mengeluarkan suara lebih dulu.
Naruto beberapa kali meruntuki dirinya sendiri, kenapa dengan mudahnya mengatakan itu semua. Karena sejujurnya, dirinya takut jika Hinata akan menjauhinya, menganggap dirinya aneh, karena tiba-tiba menyatakan cinta.
Tiba-tiba Hinata terdiam dan membuka sebuah gerbang, Naruto tetap diam dan tak mencoba berbasa-basi. "Apa kau mau mampir?" Tawar Hinata yang hanya di balas Naruto dengan tertawa kikuk dan gelengan kepala. "Naruto-kun …"
"Y-ya?"
"A-apa yang tadi itu benar?"
"Yang mana?"
"Ta-tadi itu, yang kau mengatakan I love you—"
"I love you to, Hinata!" Potong Naruto cepat dengan terkekeh, membuat Hinata mengerucutkan bibirnya tanda dirinya kesal, seolah di permainkan oleh sang cassanova. "Jangan pasang wajah seperti itu, membuatku ingin tertawa." Naruto berdehem pelan, dan langkahnya maju. "Aku serius— aku berniat akan mengatakan itu, tapi tentu tidak di dalam kereta tadi, tapi tiba-tiba aku tidak bisa menahannya, aku ingin segera mengatakan itu, jika kau terganggu, tak usah di pikirkan, a-anggap saja tadi itu, eh— ah sudahlah." Naruto gugup, seorang Naruto mengalami nervous dadakan. "Kau masuk saja, ini kan sudah malam, se-selamat tidur—" Naruto berbalik, dan setelah itu berlari pergi meninggalkan Hinata yang masih mematung di depan rumah.
Hinata sungguh kesal, ketika dirinya sendiri tak bisa menyelat kata-kata Naruto. Pemuda itu mengeluarkan suaranya tanpa henti dan tanpa mau mendengar kata-kata yang akan Hinata keluarkan, sekarang pemuda itu malah pergi begitu saja, setelah membuat gadis Hyuuga itu sempat berbunga-bunga, mungkin dirinya harus melupakan pemuda yang mencoba mempermainkannya.
Setidaknya seperti itu lah— karena yang Hinata tangkap, Naruto sama sekali hanya menggodanya saja, tidak serius. Jadi jika Hinata nanti menjauhi Naruto, jangan salahkan gadis itu, yang lebih dulu merasakan sakit karena seolah di permainkan, yang pada dasarnya, Naruto-nya saja yang tak romantis, atau tak bisa mengungkapkan semuanya dengan baik.
Tidak, tidak— Naruto juga merasakan hal yang sama, takut-takut jika dirinya akan mendengar penolakan dari gadis mungil itu, bisa di pastikan ini karena pengaruh pemikiran mereka yang masih dangkal seperti seorang bocah SMA yang sedang kasmaran.
Maklumi saja, Naruto tak pernah merasakan gejolak aneh ini, atau juga Hinata yang sama sekali tak pernah punya rasa suka pada lelaki manapun.
….
….
Beberapa hari berlalu, aku sendiri tak menghitung, sudah dua hari atau tiga hari sejak aku menyatakan cintaku pada Hinata. Gadis itu semakin menjauh atau menghindar. Aku memang sudah menduganya, jika Hinata akan membenciku, yang tiba-tiba baru kenal saja sudah menyatakan cinta.
Menembakan bola-bola basket ini ke ring, jika aku sedang gunda dan resah, aku selalu melakukan ini. "Dasar menyebalkan—" Aku berteriak dengan melempar satu bola basket ke dalam tempatnya. Tentu aku mengatai diirku sendiri, jika aku tak menyatakan itu semua di dalam kereta, mungkin Hinata tak akan menjauhiku, beberapa bulan lagi di hitung dari sekarang, aku akan lulus, aku tak akan bisa bertemu dengan Hinata. Aku, aku, aku— sudahlah, aku pasrah dengan semua ini.
….
….
"Hinata, aku benar-benar mencintaimu." Berteriak seperti itu dengan lagi-lagi melempar bola basket pada ring.
TRANG—
BRUK—
"Eh!" Naruto menoleh ke samping, mencari asal suara benda jatuh, yang di yakini-nya bukan bola basketnya yang ia lempar ke dalam ring. Tapi suara seperti sebuah buku tebal yang jatuh di lantai. "Hi-Hinata?"
Terlihat pada pintu gedung olahraga ada seorang gadis berdiri mematung dengan menjatuhkan beberapa buku tebal dan sebuah kanvas berukuran kecil. Pandangan mereka bertemu, Naruto berlari menghampiri Hinata yang memunguti buku-bukunya, Naruto menghampiri bukan mau menolong Hinata atau kabur, dia ingin menutup rapat-rapat pintu gedung olahraga, agar Hinata tak kabur atau berlari menjauhinya.
"Na-Naruto, apa yang kau lakukan."
"Kau tidak boleh keluar dari sini." Wajah Naruto tegas dan seolah tak meminta jawaban penolakan. "Jangan menghindariku Hinata."
"A-aku tidak menghindarimu, Naruto, ehm— Naruto-kun."
"Dari awal aku yang memang salah, karena menyatakan cinta padamu, seharusnya aku tak melakukan itu, maafkan aku— aku hanya ingin kau tahu, aku sungguh-sungguh, Hinata."
"Benarkah?"
"Apa aku terlihat menggodamu? Tentu aku serius, jika aku mencintaimu, aku benar-benar menyalahkan diriku sendiri ketika kau pergi begitu saja dariku— kau menghindar, begitu sakit rasanya di tolak oleh orang yang aku sukai, sebegitu bencinya kah dirimu?"
"Naruto-kun, itu tidak benar— aku tidak membencimu."
"Lalu—"
"Beberapa hari ini aku memang mengira, jika kau hanya mempermainkanku, setelah menyatakan itu, kau begitu saja pergi, tanpa mau mendengarkan ku, aku juga tidak tahu, dan mencari-cari alasan sendiri, kenapa kau bisa menyatakan cinta kepadaku—"
"Aku tidak tahu, aku begitu saja mengatakan itu, tentu saja dengan dasar yang kuat, karena aku selalu nyaman berada di dekatmu. Aku mencintaimu, hanya Hinata Hyuuga." Tegas Naruto dengan tampang yang penuh dengan keyakinan. "Jadilah kekasihku."
Hinata tertawa dengan tampang malu-malu dan kedua pipinya merona. "Apa jawabannya?"
"Ya, Naruto-kun."
Naruto menarik tangan Hinata, dan membuat buku-buku Hinata terjatuh di lantai lagi. Memeluk gadis itu dengan bebas, Naruto selalu menyukai tubuh hangat dan mungil Hinata, tidak lupa dengan wangi yang menguar dari tubuh sang gadis Hyuuga.
….
….
TBC
