Naruto – Masashi Kishimoto

Story – Buki Buki Nyan

Naruto Uzumaki and Hinata Hyuuga

Warning: AU, OOC, Ide Pasaran, Typo Everywhere, No Baku, No EYD.

Rate: M

...

Don't Like Don't Read

….

'Apa yang barusan aku katakan?'

"Naruto-kun—" Aku menelan ludahku berat, Hinata langsung melepas cepat pelukannya. "Apa kau mengatakan itu hanya untuk menyenangkanku lagi?" aku terdiam, mencoba mencernah apa yang terjadi di sini. Karena barusan baru saja melamarnya dan lagi-lagi tanpa persiapan.

Bukankah itu menyebalkan, ketika dulu aku menyatakan cinta di dalam kereta dan berdesak-desakan, dan sekarang aku lagi-lagi tak melakukan hal romantis. Melamarnya di dalam gelap, padam listrik, dan di luar sedang badai, dan jangan lupakan lagi, jika ini tengah malam. Tidak— ini sudah hampir pagi.

"Aku lagi-lagi membuat kesalahan, seharusnya aku tak melamarmu di tempat seperti ini."

"Apa yang kau katakan?"

Aku tersenyum dan membelai pucuk kepalanya lembut. Aku memang berencana akan melamarnya, tapi tidak sekarang. Aku ingin membuat kejutan untuknya. "Baru saja aku mengingat masalalu kita, sama seperti hari ini, begitu banyak kesalah pahaman yang terjadi pada kita."

"…"

"Dari pertama aku menyatakan di dalam kereta, dan sekarang aku melamarmu di tempat gelap dan di luar badai." Hinata tetap terdiam, mataku buram tanpa kacamata, apa lagi di tempat gelap seperti ini, jadi aku tidak bisa melihat langsung apa yang sebenarnya terjadi.

"Aku menolaknya."

Suara pelan dan mengisyaratkan penolakan, badanku tiba-tiba terasa kaku, dan tak bisa di gerakan. Apakah benar ini akhir dari hubungan ku dan dirinya? Begitu banyak yang terukir di otakku tentangnya, begitu banyak waktu yang aku habiskan bersama dengannya selama lima tahun ini. Begitu cepatkah penolakan yang ia berikan untuk ku? Apakah tak ada kesempatan lagi? Untuk apa aku membeli sebuah cincin, untuk melamarnya, aku harus kemanakan? Aku buang?

Begitu banyak pertanyaan yang terlintas di dalam otakku, dia yang ku sayang, dia yang paling mengerti aku, tak bisakah dia sekali lagi memberikan aku kesempatan dan menyesali semuanya. Aku begitu mencintainya, hingga aku berfikir, hidupku tak akan bisa baik tanpanya.

Dia gadis sederhana dan anggun, gadis yang begitu sempurna untuk ku yang hanya seorang pria gila kerja, aku tahu— jika dia terlalu sempurna untukku, aku tahu itu.

"Aku sudah cukup lelah, kenapa dengan kejadian seperti ini kau baru melamarku?"

"Hinata— kumohon dengarkan penjelasanku dulu, aku memang akan berniat melamarmu, walau tak ada kejadian seperti ini, tak ada kejadian dimana kau mengatakan putus dan bosan dengan hubungan ini."

"Aku sudah tak percaya lagi denganmu, cukup Naruto-kun"

"Sungguh Hinata, aku menyesal, aku tak bisa hidup tanpa mu, jangan tinggalkan aku, ku mohon—"

Aku benar-benar ingin melihat raut wajahnya, di sini terlalu gelap, aku benar-benar ingin mengerti semuanya. Apa dia menangis? Dia selalu menangis jika aku mengatakan cinta perkali-kali. Dia selalu menangis jika melihat sebuah drama yang kadang bisa menohok hatinya. Karena dia gadis cengeng, karena dia seorang gadis yang lemah lembut dan tak tegaan, dia gadis yang rendah hati. Aku melihatnya seperti itu, dan aku mencintainya.

Ku beranikan membelai pipi gembilnya yang berakhir aku menciumnya, aku merasakan rasa asin karena pipi itu basah. Dia menangis, dan aku sudah menduganya, rasa asin ini, air matanya— apa dia terharu? Atau aku lagi-lagi melukainya.

"Sampai kapanpun aku mencintaimu, aku akan menunggu jawabannya—"

"Kau benar-benar pria paling brengsek yang ku kenal." Aku tersenyum dan memeluk tubuh mungilnya yang rapuh. Dia sudah bisa menguasai dirinya sendiri untuk tak takut dengan kegelapan. Usahaku selama dua tahun untuk memaksanya ikut terapi berjalan sempurna.

Padahal dulu dia selalu pingsan dan tubuhnya bergetar hebat. Kali ini, aku menganggap dirinya menjadi sosok gadis yang lebih kuat dari sebelumnya.

….

….

Ini buruk, atau ini sebuah keberuntungan, aku tak tahu itu— pagi-pagi setelah badai, kamar Hinata di dobrak.

Ayahnya yang bertampang garang, hampir memukulku dengan sebuah pedang kayu yang ia bawa, entah dari mana. Jika ibu, adiknya, dan Hinata tak mencegah perbuatan ayahnya, bisa di pastikan akan ada kabar berita di koran, jika calon ayah mertua menyiksa calon menantunya.

"Kau akan menikahi putriku?" Aku mengangguk, aku sekarang berada di ruang dojo keluarga Hinata. Ayahnya orang penting, siapa yang tak tahu Hiashi Hyuuga— seorang pria parubaya yang terkenal dengan banyaknya mendapat mendali dan di berikan julukan sebagai Samurai di era modern. Tak ada yang mau berurusan dengannya, begitu pun denganku.

Tapi tentu ini berbeda, aku harus berani apapun yang terjadi, karena setelah ini, aku akan mengambil Hinata darinya. Aku akan menjadi suami Hinata. Meskipun aku di siksa atau pun di akan di kubur hidup-hidup, aku tetap akan berteriak dengan lantang, bahwa aku mencintai putrinya, dan aku akan mempersuntingnya sesegera mungkin.

"Kenapa kau berani melamar putriku? Ku pikir kau mempermainkannya selama lima tahun ini—" Jelasnya dengan ekspresi yang membuat hatiku menciut sakit, apakah aku benar-benar di lihat seperti itu? "Aku tidak bisa percaya dengamu—" Aku menelan ludahku berat.

"Saya mencintai putri anda— ayah!"

"Siapa yang mengizinkanmu memanggilku seperti itu, hah—"

BRAK—

Sungguh aku benar-benar kaget, ketika pedang kayu itu di pukulkan di atas lantai yang terbuat dari kayu ini. Suaranya benar-benar membuatku bergidik ngeri. "Ma-maafkan saya." Ucapku dengan bersujud kepadanya.

Aku tidak pernah melihatnya marah seperti ini, jika aku menjemput Hinata dan bermain ke rumahnya, pria parubaya di depanku ini selalu membaca koran, atau kadang lebih memilih duduk di pinggir kolam memberi makan ikan. Tak banyak yang ku tahu tentangnya, karena wajanya hampir mirip sekali dengan temanku yang bernama Gaara dan Sasuke, datar dan tanpa bisa di baca raut wajahnya.

"Apakah kau bisa bermain pedang?"

"Ya, saya bisa—"

"Ganti bajumu, aku menantangmu untuk berduel, jika kau menang, aku akan menyerahkan putriku, tapi jika kau kalah— pergilah dari hadapanku, aku tak akan menyerahkan Hinata padamu."

'Sial' umpatku dalam hati. Kenapa aku bisa mengumpat? Ya jelas saja, bagaimana bisa aku menang darinya, skill kita tentu berbeda jauh, dia seorang samurai, bagaimana denganku? Aku hanya seorang pria yang menjabat sebagai Presdir— bagaimana jika aku kalah? Hinata-ku akan pergi dan di jodohkan dengan pria lain yang lebih cocok dengan criteria ayahnya.

Kami-sama, aku berdoa di dalam hati, semoga tuhan mau mendengar doaku, semoga tuhan memberikan keajaiban, aku akan mengalahkannya apapun yang terjadi, aku harus mendapatkan Hinata.

"Apa yang kau tunggu?" Aku berdiri dan mengganti pakaianku memakai sebuah hakam putih yang biasa dipakai orang-orang untuk bermain kendo, tidak— lebih tepatnya ini seragam khusus kendo.

Aku menghembuskan nafasku, dan setelah itu mengambil pedang kayu yang tertata rapi di sebuah rak khusus pedang. Aku melirik sebuah pintu yang terbuka sedikit, aku tersenyum melihat Hinata menyemangatiku dengan tampang khawatirnya.

Aku mengepalkan tanganku dan menjulurkan padanya, tanda aku akan berhasil dan baik-baik saja. Aku tersenyum seperti biasa, seolah tak terjadi apa-apa, padahal badanku bergetar bukan main.

Mengambil posisi di depan calon mertuaku, dan mulai mengambil kuda-kuda. Aku tak pernah bermain kendo, tapi Sabaku Gaara, dia pernah mengajariku, karena dia juga pernah menjadi juara saat di SMA. Ilmuku masih sedikit, tapi jika aku melakukannya dengan sungguh-sungguh dengan tekatku yang membara, mungkin aku akan bisa mengalahkan calon ayah mertuaku.

"Aku tak akan memberikan putriku kepada orang lemah, jadi aku melakukan ini, karena aku ingin tahu, seberapa kuat dirimu untuk menjaganya hingga nanti."

"Saya akan membuktikan pada anda, jika saya akan benar-benar menjaganya hingga tua nanti, anda tak akan pernah menyesal memilih saya untuk menjadi menantu anda." Aku melihatnya, dia terseyum tipis—

"Boleh juga tekatmu, serang aku dulu—"

"Saya tidak bisa menyerang anda, serang saya— bukankah, tak pantas jika orang yang lebih muda menyerang."

"Baik, jika itu yang kau mau—"

TRAK—

'Sial' aku mengumpat lagi, ketika ayah Hinata datang tiba-tiba, aku kaget karena gerakannya cukup cepat, dia menakutkan. Mana ada orang yang berlari hingga tak bisa terlihat dengan muda seperti itu, dia manusia kan?

TRAK

TRAK

TRAK

Aku hanya mampu menangkis, aku tak mampu menyerang, dia terlalu kuat, nafasnya teratur, beda sekali dengan nafasku yang sudah tak beraturan.

BRAK—

"Akh—" Aku terjatuh ketika satu kebasan pedang kayu itu mengenai perut dan tangan kananku. Sungguh ini sakit, sulit— aku sudah mengira tak akan bisa mengalahkannya, tapi jika aku tak mengalahkannya, bagaimana dengan Hinata?

Aku berdiri, menutup mataku. Jika kelak nanti aku benar-benar akan menikah dengan Hinata dan kami memiliki buah hati, aku akan meyombongkan diri, aku akan bercerita, bagaimana sulitnya aku mendapatkan ibunya, aku dengan bangga akan mengatakan pada putra-putriku kelak, jika aku benar-benar berusaha untuk mendapatkan ibu mereka.

TRAK

BRUK

Terjatuh dan berdiri lagi, hanya itu yang bisa aku lakukan, 15 menit aku habiskan hanya untuk menangkis dan menghindar, sedangkan ayah Hinata, sudah berkali-kali memukulku dengan pedang kayu yang pria parubaya itu genggam. Tubuhku memar dan perih, sakit— sungguh ini sakit, hatiku dan juga fisikku, kenapa aku mencintai Hinata.

"Cukup— kau tak akan mampu mengalahkan ku, kau sudah tak mampu lagi melakukannya." Aku mengatur nafas dan bersujud meminta agar pria itu tak berhenti bertanding denganku, aku harus mendapatkan Hinata.

"Saya mohon— saya masih bisa melakukannya, saya mencintai putri anda." Aku bersujud dengan suara berat, aku benar-benar tak mau berakhir seperti ini. "Saya mohon—"

"Tidak bisa."

"Ayah—" Hinata masuk dengan menggeser pintu geser itu dengan keras. Ayahnya menatap garang Hinata, begitu pula dengan Hinata, yang mengeluarkan air matanya menatap ayahnya tak kalah garang.

"Terserah kalian—" ayahnya menghembuskan nafasnya setelah itu berlalu pergi. Jadi sebenarnya apa yang terjadi? Aku di terima, atau bagaimana?

"Jadi?"

"Naruto-kun." Hinata berlari memanggil namaku, setelah itu menyeka wajahku dengan handuk dingin. "Ayah hanya menggodamu, apa kau tak apa? Pasti sakit." Dia terisak dengan terus menyeka wajahku.

"Memang sakit, tapi rasa sakit itu hilang jika ayahmu menerimaku menjadi menantunya." Hinata langsung memeluku, tubuhnya hangat— mampu mengobati rasa sakit di sekujur tubuh, wangi yang paling aku suka, hingga kadang bisa membuatku mabuk.

….

….

Aku tak pernah tau bagaimana dulu aku mendapat kasih sayang kedua orang tuaku. Aku tinggal dengan kakek dan nenekku, karena kedua orang tuaku meninggalkan aku sejak aku berumur 5 tahun.

Tak banyak kenangan yang terukir di ingatanku tentang mereka. Tapi aku tahu jika mungkin di sana kedua orang tuaku sangat bahagia melihatku yang telah mengucapkan janji suci. Yang ku ingat hanyala senyuman mereka, aku tak bisa begitu ingat suara mereka, tapi aku menyayangi mereka.

"1"

"2"

"3"

Teriakan para gadis menggema, ketika Hinata akan melempar sebuah buket bunga dari atas altar. Mereka semua antusias untuk mendapatkan itu. Aku hanya tersenyum ketika yang mendapatkan itu tak lain adalah Sakura, wanita yang menjadi manager team basket di universitas-ku dulu. Dia sudah menikah, kenapa harus dia yang mendapatkannya.

Para gadis kecewa— Hinata tertawa dan aku menariknya, mencium sekali lagi bibir mungilnya. Suara sorakan itu berpindah padaku, yang tiba-tiba mencium Hinata tanpa mau melepaskannya. Aku benar-benar bahagia hari ini, ayah— apakah kau dulu juga bahagia sepertiku yang bisa mendapatkan ibu?

"Naruto, lepaskan—" Hinata melepas paksa, dan melihat sekeliling dengan wajah merah merona alami, aku terkekeh. Dia lucu, gaya malu-malunya dan senyumannya yang kadang membuatku menjadi lebih baik, dan kuat untuk menjalani hari-hariku.

"Hei Naruto— jangan pamer kemesraan, ini belum malam, jangan mesum di depan atas altar."

Suara cemrpreng Kiba benar-benar membuatku kesal, ingin sekali ku lempar kursi dank u sumpal mulutnya dengan bunga.

"Berisik kau Kiba— kau irikan?" Tanyaku dengan sedikit menggodanya, di umur yang sudah tua, dia tak pernah punya pikiran untuk mencari kekasih atau menikah. Lebih tepatnya dia lebih mementingkan karir, atau sejujurnya apa dia tak laku?

….

….

Aku memilih malam pertama di apartemenku, karena Hinata yang memilihnya, apartemen sederhana ini begitu banyak kenangan, tempat inilah kisah cinta kita di mulai.

Wangi lavender menguar dari penjuru ruangan, aku memilih wangi lavender, karena entah kenapa wangi ini selalu bisa membuatku tenang. Ruangan yang ku dekorasi sebelum hari, mampu membuat Hinata tertawa dan mondar-mandir.

Memang sih, perabotan di tempat ini sedikit aku ganti, tak seperti lima tahun yang lalu. Hinata tak mau tinggal di tempat yang besar, jadi— kami memutuskan untuk tinggal di tempat ini hingga kami memiliki buah hati, baru kami akan pindah ke rumah utama.

Mula-mula aku memeluk perut rampingnya dari belakang, membuat Hinata kaget, karena tiba-tiba aku memeluknya. Bukankah ini hidangan pembuka, sampai menuju ke hidangan utama. Aku tentu tak bisa langsung menghajarnya di atas ranjang. Hei lihatlah— aku sudah terlewat mesum, tidak, aku tidak mesum, ini adalah kewajiban seorang pengantin bukan.

"Naruto—" Suara indah bagai alunan music itu bisa membuatku hingga terbang ke atas awan. Aku terlalu berlebihan, tapi pada kenyataanya suara Hinata memang begitu sangat membuatku gila. "Aku mencintaimu—"

"Ya, aku juga sangat mencintaimu, sangat sangat dan sangat—" Aku mencium pucuk kepalanya yang wangi. "Hari ini kau sangat cantik, kau wanita tercantik selain ibuku yang sangat aku kagumi."

"Tapi ibumu lebih cantik dari padaku, aku ingin berterima kasih karena dia telah melahirkanmu." Aku memaksa membalikan tubuhnya menghadapku, dia tersenyum dengan wajah tanpa dosanya dengan kedua pipi merona. Aku mencium sekilas bibir ranumnya yang mungil dan menggoda, setelah itu memeluknya.

"Aku tidak bisa menahan lagi Hinata." Ucapku dengan mencium lehernya yang wangi. Aku merasakan sebuah gerakan jika dirinya memberikan perintah untuk segera memulainya, walau pada kenyataannya dia tak mengatakan langsung.

"Kyaaa—" Aku tertawa, saat Hinata berteriak, karena aku menggendongnya di pundak bagai karung beras. "Ja-jangan seperti ini Naruto-kun." Aku terus saja tertawa, karena dia memukul punggungku dengan tangan mungilnya.

Hinata memang tak memakai gaun pengantinya lagi, dia hanya memakai sebuah gaun pendek dengan tali yang hanya di ikat di leher, aku bisa melihat tubuh mulus, putih bak porselen miliknya.

Menarik tali yang dengan sekali tarik, ternyata dia memakai bra. "Ku pikir kau tak menggunakan bra—" Ucapku yang langsung di berikan olehnya pukulan di dada. "Maaf, maaf— kau cantik."

"Dasar, kau mengatakan itu karena menginginkan sesuatu."

"Tidak, kau memang cantik—" mengangkat tubuhnya dan menciumnya dengan lumatan-lumatan panas, tak terkecuali dengan gigitan lembut. Bibirnya sangat menggoda, membuatku benar-benar merasa menjadi seorang pria paling beruntung mendapatkannya malam ini. "Aku tak akan pernah menahannya lagi, Hinata." Nafasnya memburu, aku menurunkan badannya, setelah itu melepas kemeja putihku yang sendari tadi menyelimuti tubuh kekarku.

"Baiklah, jangan kau tahan—"

"Kau memberikanku cela? Aku akan membuatmu tak bisa berjalan, Honey—"

Aku menggerayangi tubuhnya langsung, tanpa mau menunggu lagi, melepas celananya, pertahanan terakhirnya dan mendorongnya di atas ranjang. Aku sengaja tak mengganti ranjang ini, ranjang ini adalah tempat di mana dulu kita untuk pertama kalinya semalaman bersama, walau itu semua karena kejadian Hinata yang takut dengan gelap dan pingsan. Tapi itu adalah kenangan yang mampu membuatku selalu mengingat, betapa diriku menginginkannya sejak hari itu.

"Na-Naruto, pelan—" Aku menggigit lehernya, menjilatinya, bahkan mengulumnya tanpa henti. Aku tak bisa pelan, padahal dia sendiri yang sudah memberikan cela untuk aku tak menahan semuanya. "Hnggh—"

"Apakah panas?" Aku duduk dengan menekuk kakiku, membuka pahanya lebar-lebar. Menyusuri lekuk tubuhnya, dada, perutnya yang ramping, semuanya membuatku gila. "Aku akan benar-benar menghajarmu, Hinata."

Dia tertawa geli, ketika jari-jariku bermain di atas perutnya. "Hentikan Naruto—" mencium perut rampingnya, di sini nanti, akan ada keluarga baru untukku, di sini nanti, akan ku tanam benihku, hanya untuknya, selamanya.

"Arrgg— Na-Naruto…" Suara desahannya indah, keluar saat aku mencicipi dadanya yang sudah siap untuk ku lumat. Saat tangan-tangan nakalnya mencoba menghentikanku, aku menarik kedua tangannya ke atas, aku sangat menikmati ini, aku tak ingin dia mengganggunya. Aku benar-benar akan menyiksanya. "Ge-geli, Na-Naru, aarrggg—"

"Apa kau sudah tersiksa hanya karena ini? Kau harus ingat, kau bilang aku tak boleh menahannya." Aku tersenyum penuh arti, dan hanya di balas lagi-lagi dengan kedua pipinya memerah. "Come on, Baby—"

"Gaya apa yang kau suka?" aku bertanya seolah kami sering melakukan ini. Aku tahu jika ini pertama untuknya dan untukku, tapi bukankah dia sangat dengan Sakura? Aku mereka pasti akan membahas sesuatu, begitu pula dengan diriku dan Sasuke, sering membahas di atas ranjang, walau pada kenyataan si stoic itu hanya berbicara seadanya, aku tahu jika dia dengan Sakura pasti lebih panas dari kami.

"Na-Naruto, aku tak tahu, kenapa kau bertanya padaku." Wajah merahnya ia tutup dengan kedua tangannya, tanda ia benar-benar malu.

"Aku tak akan main kasar untuk di awal— buka kakimu lebar-lebar." Walau dia tak mau, tapi aku memaksanya, aku ingin tahu, seberapa dia mejaga area yang hanya boleh di jamah oleh diriku. Warna yang menggoda, hingga aku mampu menelan ludah berkali-kali, ini sempit, bagaimana bisa milikku yang lumayan besar akan masuk ke tempat ini.

"Naruto hentikan." Saat aku asik hanya menatapnya saja, dia mencoba duduk yang langsung ku cegah dengan mencengkram pahanya kasar. "Kyaaa—"

"Sayang, kenapa kau malu." Aku menjulurkan lidahku, menggodanya yang langsung membuatku mengambil celana dalamnya. "Bolehkah aku meminjam ini?"

"U-untuk apa?"

"Untuk mengikat tanganmu yang nakal."

"Ti-tidak, Naruto."

"Jangan takut sayang, aku tak akan melukaimu." Aku megingat satu tangannya di atas ranjang, dan satu tangannya lagi, ku biarkan bebas. "Jangan pernah melepaskannya, atau kau ingin aku mengikat keduanya?" Tawarku yang di berikan olehnya sebuah bibir maju seperti bebek.

Lidahku langsung menyusuri area sensitifnya, bau wangi yang begitu menggiurkan lagi, entah kenapa di setiap lekuk tubuhnya mampu membuatku mabuk. Dia merawatnya dengan baik, hingga aku tak bisa membedakan ini mimpi atau nyata.

"Hnggh, ah—"

Desahannya yang tak dirinya tahan, semakin membuatku semangat untuk mencicipi miliknya yang sudah basah, dan tentu dengan milikku yang sejak tadi sudah menegang. "Na-Naruto…" Panggilnya dengan suara berat. Aku lebih menikmati milikknya dari pada mendengar desahannya. Ini sungguh nikmat, seperti apa yang aku bayangkan.

"Pe-pergi dari sana, Naruto. A-aku— aarrggg…" Sebuah cairan menyembur wajahku, cairan hangat putih bening, dan manis. "Ma-maaf." Aku mendongak dan mengambil tissue, dan menyeka wajahku yang penuh dengan cairan cintanya.

"Kau nakal sekali, aku baru memulainya." Aku tersenyum jahil, dan mendaratkan lagi lidahku pada lubang kenikmatan yang sebentar lagi akan ku nikmati. Menyusuri lubang yang benar-benar basah.

"Ah— hngg…"

Hinata melengkungkan badannya dengan merancau bagai orang gila. "Apa kau tersiksa?" Dia mengangguk lemah, mungkin tidak baik juga untuk pertama kalinya kami melakukan ini, aku sudah menyiksanya, sebenarnya memang hal utama dalam melakukan hubungan ini yang terpenting adalah Foreplay, agar tak lebih menyiksanya lagi karena rasa sakit yang akan ia dapatkan setelah ini.

Tapi, melihat wajah kelelahannya benar-benar membuatku merasa iba, aku tak tega.

"Kau lelah?"

"Se-sedikit—"

Aku menjauhi miliknya dan duduk di tepi ranjang dengan melepas pertahanan terakhirku, tentu saja adalah celana dan boxerku. "Aku akan mulai, kau boleh melakukan apapun padaku jika merasakan sakit, mencakarku, atau menggigitku."

"Kau yakin?" Tanyanya dengan nafas terengah-engah. "Aku akan menggigitnya—"

"Tutup matamu—" Aku membuka lebar-lebar kakinya dan mulai memposisikan milikku pada miliknya, kupeluk tubuhnya yang sudah basah dengan keringat, kucium pipi, kedua matanya, hidung mancungnya, dan yang terakhiku, aku mencium lehernya berkali-kali, membuat kepalanya bergeser ke kanan dan ke kiri karena rasa geli. "Aku mencintaimu, terima kasih."

Aku menarik nafasku dalam-dalam dan setelah itu menghentakan pelan. "Hngg, sakiiit—" rintihnya dan menarik sprei. Aku melepaskan ikatan tanganya, aku memaksanya untuk memeluk ku, agar dia sedikit lebih tenang. "Sa-sakit Naruto."

"Tahan sayang— ini tak akan lama."

Sungguh sulit, ini terlalu sempit, ini akan benar-benar semakin membuatnya kesakitan jika aku melakukannya dengan pelan. "Hinata, kau tahan sedikit ya—" Hinata mengangguk arti tanda dia paham dengan apa yang akan selanjutkan ku lakukan.

"Arrggg— Sakiiittt…" Hinata berteriak dengan mencengkram pundak kekarku, saat aku menghentaknya dalam sekali hentakan, kurasakan sebuah cairan keluar dari miliknya, dia wanita? Dia sudah menjadi wanitaku, untuk selamanya.

"Apa kau tak apa?" Hinata menangis sesegukan, dan aku mencoba menenangkan dengan menyeka keringat di sekujur dahinya, aku mencium bibirnya dan pipi gembilnya berkali-kali. "Ini akan baik-baik saja."

"Ini sakit."

"Aku tahu, maafkan aku—" Aku tersenyum dan tetap tak bergerak, aku tak ingin melakukan jika dirinya masih merasakan sakit. "Jika sudah siap, kau bilang ya."

"Lakukan saja, aku tak apa—"

"Benarkah?" Anggukan pelan itu, menandakan jika permainan akan segera berakhir. Aku mulai out in out dan memulai permainan. "Panggil namaku." Yang lagi-lagi hanya di balas dengan anggukan.

"Hngg, Naruto, hngg, ah—" Aku mengangkat tinggi-tinggi kakinya agar aku semakin bisa masuk lebih dalam. "Le-lebih cepat."

"Tunggu, kau harus sabar—" Aku tertawa, dia memukul lenganku berkali-kali. "Sungguh, aku tak bermaksud menggodamu, tapi kau harus sabar, baby."

"Aku mau keluar—"

"Bisakah kau mau me-menunggu ku?" Tanyaku dengan suara yang mulai berat. Aku juga bahkan sudah akan mencapai puncaknya. Aku ingin keluar bersama-sama, setidaknya itu yang aku inginkan.

"Arrgg, tidak—" Suara teriakan Hinata mengalun indah, ternyata dia lebih dulu keluar, dan di lanjutkan diriku yang keluar, menyemburkan benih yang hanya boleh di terima olehnya.

Aku mencoba mengatur nafas, menjatuhkan tubuhku di samping gadis yang sudah menjadi wanita ini. Aku melihat Hinata sudah menutup matanya, dia tampak kelelahan dengan bermandi keringat.

"Terima kasih—" aku tersenyum, menarik selimut dan mendekapnya lembut. "Selamat tidur."

….

….

TBC