Naruto – Masashi Kishimoto

Story – Buki Buki Nyan

Naruto Uzumaki and Hinata Hyuuga

Warning: AU, OOC, Ide Pasaran, Typo Everywhere, No Baku, No EYD.

Rate:T semi M

...

Don't Like Don't Read

….

Hinata melenguh dan terbangun ketika cahaya matahari masuk di cela gorden yang terbuka sedikit. Pandangannya mencari sosok pria yang telah resmi menjadi suaminya. Kosong, tak ada siapapun, seluruh badannya terasa sakit, matanya berat, dan tubuhnya lengket.

Kamar ini begitu sepi, tak ada kehidupan selain dirinya. Mencoba duduk dan meraih sebuah kemeja putih, yang tak lain ada kemeja milik Naruto Uzumaki, sang suami tercinta.

Dirinya masih tak percaya jika seluruh hidupnya sekarang ada di tangan seorang pria yang telah meluluhkan hatinya. Masih tak bisa di cernah olehnya, ketika dirinya benar-benar telah menikah dengan sang kekasih. Kadang di otakknya terlintas, kenapa Naruto bisa menikahinya— padahal selama ini, Naruto selalu menghindar saat membincangkan sebuah pernikahan.

CEKLEK—

"Hinata, kau sudah bangun?" Dari arah pintu, terlihat Naruto datang dengan membawa sebuah nampan berisi segelas teh panas. "Minum ini—" Naruto meletakan nampan itu pada nakas meja, Hinata datang dengan memeluk tubuh Naruto yang tak memakai sehelai benang pun, hanya ada celana panjang hitam yang menutup tubuh bawahnya. "Ada apa? Kenapa tiba-tiba mukamu jadi cemberut?"

"Aku masih tak percaya kita benar-benar menikah."

"Kenapa kau mengatakan seperti itu? Apa dari awal kau tak mempercayaiku?"

"Tidak—" Hinata masih asik memeluk tubuh Naruto. Pria itu kini menghembuskan nafasnya kesal, dan mengusap punggung istrinya pelan. "Aneh saja, kenapa kau tak dari dulu melamarku."

"Aku hanya menunggu saat yang tepat." Naruto tersenyum lagi, dan duduk di tepi ranjang. Setelah itu menarik Hinata untuk duduk kepangkuannya. "Aku mencintaimu Hinata, jangan ragukan aku hanya karena aku tak menikahimu lebih cepat."

"Aku tak akan meragukanmu lagi Naruto— tapi aku hanya ingin tahu, alasan yang sebenarnya, kenapa lima tahun kita harus menghabiskan hidup bersama sebagai kekasih."

"Sayang— aku hanya ingin tahu, seberapa kuatkah kau menghadapi diriku yang gila kerja ini. Aku selalu ingin menjadi seorang pria yang selalu ada untukmu, selalu ada di sisimu, aku tak ingin meninggalkanmu." Naruto memeluk tubuh mungil sang istri, dan mencium beberapa kali tangan mungil Hinata yang di tangkap oleh jari-jari kekar Naruto.

"Banyak masalah selama lima tahun ini, kenapa aku memilih untuk tak menikahimu dulu."

"Kenapa, ada masalah apa? Kenapa kau tak percah cerita padaku?"

"Kau tidak boleh tahu, ini masalahku, ini masalah perusahaanku, jika aku gagal, aku tidak ingin kau terlibat. Maka dari itu, aku menyelesaikan urusanku dulu, sampai aku bisa mengatasi masalahku sendiri."

"Naruto— kau tidak mau cerita?"

"Baiklah— kita mulai dari mana?" Naruto pasrah dan menceritakan semua kejadian yang ia alami selama ini, kenapa dia selalu tak membahas pernikahan, tak membahas kemajuan hubungannya. Bukan berarti Naruto tak mencintai Hinata, dia tentu mempunyai alasan tersendiri untuk melakukan hal itu.

….

….

Aku baru menyadarinya, aku baru mendengarnya, seharusnya aku percaya padanya, jika dia mencintaiku sepenuh hatinya. Aku memeluk tubuhnya, dia membalas pelukanku dan mencium pucuk kepalaku, dada bidang yang hangat, dan kehangatan ini, aku tak ingin kehilangan kehangatan tubuhnya.

Hari ini aku baru menyadarinya, betapa hatiku sesak dan ingin menangis ketika mendengar ceritanya. Selama lima tahun ini, ku pikir hanya aku yang menderita. Dia— Naruto lebih menderita dari padaku, dia benar-benar menderita.

Lima tahun yang lalu, perusahaannya di ambang kebangkrutan, aku pernah mendengar itu dulu. Tapi ku pikir itu hanya sebuah gosip yang biasa kalangan atas dapatkan.

Ada salah satu kepercayaan kakek Naruto yang mencoba mengkhinatinya, tidak— Naruto sudah di khianati, uang sudah di bawa kabur, hingga hampir mengakibatkan perusahaan yang di kembangkan kakek dan ayahnya mengalami bangkrut.

Naruto memutuskan untuk lulus dengan cepat, agar bisa membantu kakeknya. Dia menutupi semuanya dariku, seolah ini akan baik-baik saja, padahal aku tahu, jika selama lima tahun ini dia mengalami sakit yang luar biasa, aku benar-benar seorang wanita yang kejam dan tak berperasaan.

Aku selalu memberikan masalah berturut-turut padanya.

"Naruto-kun, kau dimana? Ini hari ulang tahun ku, kau tak datang, kau tak merayakan bersamaku?"

"Aku sedang ada urusan, selamat ulang tahun, sayang aku akan segera pulang ke Jepang."

"Aku sedang sibuk."

"Aku sedang sibuk."

"Aku sedang sibuk."

Berkali-kali dirinya mengatakan sibuk, hingga membuatku marah, hingga membuatku naik darah. Aku merasa dia menjauhiku pada saat itu.

Tapi pada kenyataanya, dia tak ingin membuatku cemas, tak ingin membuatku khawatir. Dia hanya ingin selalu melihat senyumanku, maka dari itu dia lebih memilih untuk menutup semuanya dariku. Betapa kejamnya diriku, pada saat dimana hari jadi kita yang ke 4. Aku mengucapkan kata putus, yang langsung membuatnya naik darah dan hampir menamparku.

Saat itu, aku benar-benar takut padanya, saat itu pula aku benar-benar merasa jika dia berubah dan lebih menakutkan. Aku menangis, ia mengurungku di dalam kamar apartemen ini, dia berkata jika aku harus mempercayainya, karena memang aku yang bebal dan keras kepala. Aku tak mau menerima itu semua, aku memilih untuk pergi.

Kami putus, selama seminggu. Aku mencari pekerjaan, aku merasa bebas, karena aku bisa melakukan apapun, tapi selama seminggu kita putus, aku merindukannya, aku menangis setiap malam. Tentu aku tak bisa membohongi hatiku sendiri, aku masih mencintainya, aku menyayanginya.

Dia datang, dia menghubungiku, mengatakan dengan sangat pelan, dia mencintaiku, dan sampai kapan pun mencintaiku. aku ingin menangis, tapi aku menahannya.

"Aku akan pergi ke inggris besok, aku ingin mengatakan sesuatu, ahapa kau sudah mendapatkan pekerjaan, seperti apa yang kau katakan pada saat lalu?"

"Ya, aku akan melamar menjadi guru TK, dan kau mau mengatakan apa?"

"Aku hanya ingin mengatakan jika aku mencintaimu, setelah urusanku selesai, aku akan datang padamu lagi, aku akan mengatakan, betapa aku sangat sakit kehilanganmu, aku sangat mencintaimu, kau harus tahu, Hinata—"

Pada saat itu aku terdiam, aku terisak, dan aku menahannya, agar dia tak mendengar itu, agar dia tak besar kepala. Saat tahu jika aku masih mencintainya juga. Terlalu banyak kenangan yang harus di lupakan, lika-liku hubungan kita begitu manis, hingga selalu membuatku menyesal kembali, jika ingat saat itu aku berteriak ingin mengakhiri hubungan ini.

"Aku mencintaimu, kita mulai dari awal…"

Pada saat itu dia benar-benar datang dan mengajakku untuk kembali membina hubungan dari awal lagi.

"Suatu saat kau akan tahu, kenapa aku seperti ini."

Ya, dan sekarang aku tahu, jika dia melakukan ini karena demi diriku tak terlibat dengan urusannya. Tapi bukankah kita sudah berjanji untuk saling terbuka, tapi sekarang dia melakukannya sendiri, menahan rasa sakit dan kekejaman orang-orang yang membenci keluarganya, dan mencoba menghancurkannya.

Seharusnya saat itu dia mengatakan semuanya, aku tak akan meninggalkannya, aku tak akan pernah punya pikiran seperti anak kecil, aku akan selalu menyemangatinya.

"Hinata—"

"Ya!"

"Sekarang kau sudah tak meragukanku lagi kan?"

Aku tersenyum dan memeluk tubuh Naruto, dia sekarang segalanya bagiku, dia suamiku, aku akan selalu berada di sampingnya hingga tua nanti. Aku akan menjalani hari-hariku bersamanya, suka maupun duka, aku sudah mengucap janji itu di atas altar besamanya.

"Aku mencintaimu Hinata, aku hanya tak ingin melibatkanmu, karena ini urusanku."

"Aku tahu, Na-ru-to-kun—" aku menatap kedua matanya yang berkilat penuh dengan kebahagiaan. "Tapi tunggu dulu—"

"Ada apa lagi?"

"Kenapa kau suka sekali memberikan ku hal aneh-aneh?"

"Aneh? Apa?"

"Seperti barang-barang tak berguna, tas, baju, atau kadang kau mengirimkan aku uang, kenapa kau melakukan itu? Kau melarangku kerja—"

"Sebenarnya aku tak melarangmu, hanya aku takut kau kelelahan, aku ingin kau menjadi ibu dari anak-anak ku saja, hanya itu— dan untuk barang-barang itu, aku hanya ingin memberikanmu saja, aku tak bermaksud apa pun, percayalah padaku."

"Baiklah— tapi, aku ingin menjadi guru TK—" Ya, aku suka anak kecil, aku ingin menjadi guru TK, hanya itu— cita-cita ku dari dulu. "Naruto—"

"Tunggu sebentar, kalau untuk itu, aku akan memperkenalkanmu dengan seseorang."

"Siapa?"

"Namanya Kabuto Yakushi, dia pemilik salah satu panti asuhan tempat kedua orang tuaku dulu selalu mengirimi mereka hadiah di hari natal, kau mau membantu mengajar mereka di sana?"

Aku mengangguk dan tersenyum, dia selalu bisa mengerti aku, ya— aku tahu dia lah yang paling mengerti aku selama ini. Sejujurnya, aku lah yang tak memahaminya, betapa pria ini begitu mencintaiku dan begitu memanjakanku, dia seolah bagai malaikatku. Aku beruntung, dan aku akan selalu mencintainya.

….

….

END

Halo— ENDING yang maksa, sampai di sini dulu ya, maaf jika ceritanya gak terlalu ada konflik dan kesannya ceritanya telalu tergesa-gesa.

Saya bukan pemilik akun ini, ada pesan dari Asyah Hatsune, bahwa MUNO di berhentikan sejenak, hingga urusan Asyah Hatsune selesai di dunia real. Bagi yang kecewa sama MUNO, nanti ada kejutan di Chapter selanjutnya. Kalau NHL kecewa, ya maaf saja karena Author tidak bisa mengerti mau kalian, karena ini adalah otak liar Author, karena otak liar seseorang itu berbeda-beda.

Sebenarnya saya udah pasang badan untuk bantu, tapi dia gak mau, karena sesuatu yang di kerjakan dengan usaha kita sendiri tanpa bantuan orang lain itu adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Jadi tolong, dan harap maklumi tentang keterlambatan Up MUNO (bagi yang menunggunya.)

Jaa— FF selanjutnya masih bingung, mau di publish di akun si Asyah atau di akun saya sendiri.

Salam, Buki Buki Nyan dan Asyah Hatsune.