a/n: basically cuma kumpulan drabble gaje untuk AU yang sama. garing dan najong _(:"D /menggelinjang/ tapi yodala
1. hom pim pah! #1
.
"Hom pim pah! Yang item kalah!"
Ketujuh anggota Laskar Pelangi menunjukkan tangan mereka masing-masing.
"Daiki, kamu kalah."
"Kok gitu? Kan tanganku menghadap ke atas!"
"Mau dibolak-balik seperti apa pun, tetap saja tanganmu yang paling hitam, Daiki."
"…"
2. hom pim pah! #2
.
(Setelah dua puluh kali main dan Aomine protes keras karena selalu kalah…)
"Hom pim pah! Yang putih jadi!"
Tujuh tangan kecil kembali terulur.
"Tetsuya, kamu kalah."
"Kan tangan Techuya hadap bawah?"
"Tangan kamu dibolak-balik tetap saja yang paling putih, Tetsuya."
3. akashi-sama yang selalu menang
.
"Jan ken pon!"
Akashi mengeluarkan gunting. Aomine menunjukkan tangan yang dikepalkan.
"Aku menang!"
Akashi tersenyum mengerikan.
"Karena kamu sudah menang, hadiahnya culek ya, Daiki."
.
"AAAAAAAAAAHHH!"
.
Aomine harus dituntun Kise dan Momoi pulang.
Kuroko mengikuti sambil mengemut gulali.
.
Besoknya, Aomine tidak ke sekolah.
Untung saja pengelihatannya kembali normal pada hari sesudahnya.
Dan sejak itu, Akashi selalu menang suit, walaupun ia selalu mengeluarkan gunting.
.
.
.
PESAN MORAL LAYANAN MASYARAKAT:
Bahwasanya:
1. Akashi Seijuro selalu absolut.
2. Jika Akashi Seijuro salah, kembali ke Nomor 1.
4. hidup memang tidak adil.
.
"Satsuki. Kita sama-sama nangkap lobster di kali, kan."
"Iya."
"Kita sama-sama nangkap serangga."
"He'eh."
"Main di luar juga selalu sama-sama."
"Ya terus?"
"Kok cuma aku yang item?"
"Hidup itu memang nggak adil, Dai-chan."
.
(Beberapa tahun kemudian…)
"Dai-chan, kita sama-sama rajin minum susu dari kecil, kan?"
"Ho'oh."
"Terus kenapa cuma kamu yang tinggi?"
"Hidup itu memang nggak adil, Satsuki."
.
.
.
PESAN MORAL LAYANAN MASYARAKAT:
Bahwasanya paradoks terbesar kehidupan ialah: hidup itu tidak adil, tapi hidup tidak adil kepada semua orang—dan hal ini membuat hidup menjadi maha adil.
5. ketika aomine kecil membaca iklan rokok, aka pria punya selera
"Pri-a… pu–punya… se-le… selera. Pria punya selera.Ayah, itu bacanya 'Pria punya selera' ya?"
"Iya."
"…Ayah?"
"Apa?"
"Aku punya selera nggak?"
6. pria punya selera: an omake
.
"Kise, kamu pasti nggak punya selera. Kamu kan cengeng, kayak cewek."
"Selera apa-ssu?" Kise bingung.
"Mine-chin, kalau selera makan sih aku punya. Banyaaak." Murasakibara nimbrung.
Aomine bengong sesaat, sinapsis otaknya yang bertenaga siput mencoba memproses informasi yang baru saja ia terima.
Lalu, dengan air muka yang bagai menerima pencerahan dari dewata:
"Murasakibara, berarti kamu pria sejati."
7. ketika hyuga akhirnya wisuda
.
"Hyuga, selamat sudah wisuda dan rujuk dengan pacar," Kakek Kiyoshi menyelamati Hyuga yang tengah berbahagia.
"Makasih, Kek." Yang diselamati tersenyum jumawa. Setelah lulus, mendapat kerja, dan rujuk dengan mantan, Hyuga mendadak jadi kalem dan dermawan dalam menebar senyum.
"Jadi, kapan nikah? Kakek pengen cepet-cepet gendong cucu, hahaha!"
Kurva yang dikulum mulut Hyuga langsung salto 180 derajat.
"EMANG LU BOKAP GUA?!"
Lulus dari fase ditanya 'Kapan lulus?', Hyuga memasuki fase baru: fase ditanya 'Kapan nikah? Kapan punya anak?'
.
.
.
PESAN MORAL LAYANAN MASYARAKAT:
Bahwasanya masyarakat takkan pernah surut menuntut ekspektasi setinggi langit terhadap segenap warganya.
Sabar ya, semuanya.
8. jangan ganggu banci!
.
"Mbak Reo! Mbak Reo!"
Dirongrong begitu oleh Hayama, Jeng Reo jadi betaria sonata alias bete. "Kenaposeeeh. Gengges deh."
"Aku ada pertanyaan penting!"
"Aposehhh?! Cus tanya. Akika mawar capcus belenjong, booo."
"Umur Mbak Reo berapa?"
.
"WAAAAAHHH!"
Reo men-smack down Hayama sebagai jawaban.
.
.
.
PESAN MORAL LAYANAN MASYARAKAT:
Bahwasanya menanyakan umur wanita itu tidak sopan—tetapi menanyakan umur waria kekar setinggi 188 cm itu cari mati.
9. dai-chan, satsuki, dan malapropisme
.
"Ih, Kise cengeng! Dasar bemper!"
"Dai-chan, yang benar baper."
.
"Malam ini—" jreng jreng! "—ku sendiri—" jreng jreng jreng! "tak ada yang… menemaniii…" jrengjrengjrengjreng!
Mendengar suara Aa' Moriyama yang mendayu-dayu terbawa bayu, Kise bertanya, separuh kepada Laskar Pelangi dan separuh kepada rumput yang bergoyang di mansion Akashi, "Kenapa ya Aa' Moriyama suka keliling kampung sambil genjreng gitar dan berpuisi? Aa' kan, bukan pengamen."
"Pasti karena Aa' Moriyama itu kapster, Kise," kata Aomine sok tahu.
Kise bengong tidak mengerti.
"Dai-chan, yang benar hipster."
Kise masih bengong tidak mengerti.
Aomine bersikukuh mengacuhkan ralat Momoi, "Atau mungkin karena dia jongos kesepian."
Momoi bersikukuh merevisi teman masa kecilnya, "Dai-chan, yang benar jones."
Kise bersikukuh dengan kebengongannya.
Rumput bersikukuh digoyangkan angin.
.
"Satsuki, kenapa sih kamu selalu ngebenerin kalimatku? Bawel ah! Sok jadi kreditor! Yang bisa membenarkan kalimatku cuma aku sendiri, karena yang lebih pintar dari aku cuma aku!"
"Dai-chan, yang benar editor."
10. truth or dare, episode dare: gombalin bang kagami!
.
"Kak Agam, ada kebakalan. Tapi api yang ini gak bica dipadamin."
"Api apaan?"
Dengan wajah datar, Kuroko berkata, "Api cinta di hati Techuya yang belkobal buat Kak Agam."
.
"Taiga, wajahmu gosong. Kamu kenapa?"
"Tatsuya, aku–aku habis digombalin anak TK."
11. omake: dua bocah salah paham yang patah hati
.
"Momocchi, kayaknya Kak Kagamicchi senang ya. Mukanya sampai merah kayak rambutnya-ssu."
"Jadi, Ki-chan… Kak Kagamin sama Tetsu-kun bakal jadian ya?"
"…"
"…"
"…Momocchi? Dengar suara krek krek dari hati aku nggak?"
"…Yang aku dengar malah suara hati aku sendiri yang patah, Ki-chan…"
"Momocchi…" Kise menatap Momoi.
"Ki-chan…" Momoi menatap Kise.
"…"
"…"
Selama beberapa detik selanjutnya, mereka saling menatap dengan pandangan menghiba penuh simpati layaknya sepasang sahabat yang sama-sama jatuh dan patah hati dengan orang yang sama, lalu…
"UWAAAAAHHH!"
Mereka menangis berjamaah.
"Dasar cewek," gerutu Aomine, merasa pemandangan tersebut menghina ke-macho-annya.
"Sudah, sudah, jangan menangis. Masih banyak orang lain di dunia ini." Akashi mengelap air mata dan ingus dua bocah yang berpelukan layaknya teletabis itu dengan sapu tangannya sendiri. Memang Akashi punya talenta laten untuk menjadi seorang gentleman, atau paling tidak seorang ibu muda yang cekatan mengurus anak-anak yang rewel.
"Iya Sa-chin, Kise-chin, jangan menangis. Kalian nangis. Ini Pocky. Daripada nangis, mending makan Pocky. Snack enak." Murasakibara menirukan gaya iklan permen sambil memberikan masing-masing sekotak Pocky sebagai hadiah hiburan. Ternyata Murasakibara adalah seorang raksasa berhati luar biasa mulia, mengingat biasanya ia sangat serakah kalau sudah menyangkut makanannya.
"Kalian konyol! Gituloh." Midorima membenarkan letak kacamatanya.
Sayang sekali dua anak TK polos di depannya baru saja merasakan pahitnya patah hati pada usia yang terlalu muda dan jadi mudah tersinggung. Senggol bacok, Mang!
"MAAF DEH! TAHU KOK KALAU MIDORIMACCHI UDAH BAHAGIA SAMA KAK TAKAO!"
"IYA! MIDORIN DIAM AJA DEH!"
"ENAK AJA!"
12. akashi vs. mang wakamatsu
.
"Mang, kanan."
"Kanan, mang."
"Kanan."
"Kanan!"
"Bang gimana sih kan udah saya bilang kanan!" Akashi protes sambil men-cekris-cekris-kan guntingnya. Sang supir tidak terima harga dirinya ditantang balita.
"KALAU KE KANAN TERUS GIMANA BERHENTINYA, DODOL?!"
Maklum, Akashi yang ke mana-mana naik kendaraan sekelas BMW dan Ferrari tak kenal rasanya naik angkot.
