"Apa semuanya sudah selesai?" tanya pria berhelaian merah itu pada pelayannya.

"Sudah Tuan" ucap pelayan itu sopan sambil menundukkan kepalanya.

"Bagus" ucap pria merah itu dengan seulas senyum kemenangan terlukis di wajahnya.

"Kali ini kita lihat siapa yang akan memenangkan permainan ini"

"Aku harap orang-orang itu tidak lari ketakutan saat melihat ku"

"Terutama kau Cherry"

DISCLAMER

.

.

.

.

Naruto by Masashi Kishimoto

.

He is a Girl by Uchiha Lizzy

.

.

Warning!

OOC, typo bertebaran, ff gaje, dan semua kekurangan yg ada di dalam ff ini

.

Bagi yang tidak menyukai FF ini harap tekan tombol "BACK"

.

.

Happy Reading (\^0^/)

.

.

.

.

Another POV

.

"Di beritahukan kepada Uchiha Sasuke dan Haruno Haru untuk segera datang ke ruangan Kepala Sekolah sekarang juga" siang itu terdengar suara mikrofon Sekolah memenuhi seluruh penjuru Konoha Boys High School. Untuk memanggil dua murid KBHS yang namanya di sebutkan tadi.

Tepat beberapa menit setelah mikrofon itu berbunyi. Dua orang yang tadi di panggil itu pun memutuskan untuk segera pergi menuju ke ruang Kepala Sekolah bersama-sama.

Untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi sehingga tiba-tiba mereka berdua di panggil untuk menghadap ke ruangan Kepala Sekolah.

"Hei Sasuke kau tau kenapa kita berdua di panggil?" tanya Haru penasaran pada pria berhelaian Raven yang ada di sampingnya.

"Entahlah aku tidak tahu" ucap Sasuke acuh sambil terus berjalan.

'Ini aneh? Kenapa hari ini dia pendiam sekali?' batin Haru penasaran.

'Ah tidak-tidak untuk apa aku memikirkan hal itu! Lagi pula bukankah itu bagus kalau Uchiha sialan itu berhenti bertingkah konyol di hadapan ku!' batin Haru sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Sudah sampai" ucap Sasuke tiba-tiba saat mereka berdua sampai di depan pintu ruang Kepala Sekolah.

"Ah! Iya kau benar. Ayo kita masuk" ajak Haru sambil berusaha menetralkan rasa gugupnya.

CLEK

Dan saat mereka membuka pintu. Hal yang pertama kali mereka lihat adalah seorang wanita cantik berhelaian hitam panjang lah yang pertama kali menyambut mereka.

'Apakah dia—'

"Oka-sama" ucap Sasuke pelan saat wanita itu tersenyum ke arah mereka berdua.

"Yah Oka— apa?! Oka-sama? Sasuke apa dia ibumu?!" teriak Haru tanpa sadar karena terkejut akan keadaan ini.

"Araa ternyata kau masih mengingat ibumu ini ya Sasu-kun?~" tanya wanita itu dengan nada menggoda pada Sasuke.

"Tchi berhenti memanggil ku seperti itu di depan umum Oka-sama" ucap Sasuke sedikit jengkel pada kebiasaan Ibunya yang selalu memanggil nama kecilnya di depan umum seperti ini.

Kalian tahu itu sungguh memalukan! Apalagi di depan orang yang kau sukai ibumu memanggil mu dengan panggilan seperti itu.

Bisa di bayangkan betapa memalukan dan menjengkelkannya hal itu.

"Sas... Sasu-kun? Ha...ha... ha... Sasu-kun! ha...ha..." ucap Haru terbata-bata sambil berusaha menahan tawanya.

"Tchi berhenti tertawa!" ucap Sasuke jengkel.

"Ha...ha...ha... Sasu-kun! Manis sekali ha...ha..."

"Berhenti tertawa atu—"

"Atau apa Sasu-kun?~" tanya Haru mengejek.

"Akan ku cium bibir nakal mu itu sampai aku puas" ucap Sasuke mengancam dengan senyuman iblisnya.

"..."

Dan itu sukses menghentikan tawa lebar Haru yang sedari tadi mengejeknya.

'Sialan kau Uchiha!' batin Haru berteriak jengkel.

"Araa~ kau Agresif sekali Sasu-kun~" ucap Wanita berhelaian hitam itu kembali menggoda putra bungsunya itu.

"Oka-sama"

"Hai Hai Hai kau terlalu kaku sayang~ seharusnya kau bisa menghilangkan sedikit sifat menyebalkan mu itu" ucap wanita itu dengan nada jahilnya pada Sasuke.

'Sekarang aku tahu dari mana asal sifat menyebalkan dan sok manja si buntut ayam gila itu. Buah jatuh memang tak jauh dari pohonnya' batin Haru.

"Haru perkenalkan wanita ini Uchiha Mikoto ibu ku"

"Dan Oka-sama perkenalkan pria ini Haruno Haru. Kekasih ku" ucap Sasuke memperkenalkan kedua orang itu. Dan dengan seenak jidatnya ia mengaku sebagai Kekasih Haru.

"Apa?! Hei kau berhenti mengaku-ngaku—"

"Wah Sakura-chan aku senang kau—"

"Tunggu sebentar" ucap Sasuke memotong perkataan ibunya.

"Apa maksud Oka-sama? Pria ini bernama Haruno Haru bukan Sakura. Kenapa Ka-sama memanggilnya Sakura?" tanya Sasuke heran.

Mikoto pun tersenyum mendengar pertanyaan anak bungsunya itu.

"Dia memang Sakura. Benar kan sayang?" ucap Mikoto sambil melepas wig yang ada di kepala Haru.

Dan saat ia melepas wig itu, helaian rambut panjang Haru pun mulai jatuh satu persatu.

Memperlihatkan kilau indah rambut yang sewarna dengan bunga kebanggaan Jepang itu.

"Dia memang Sakura gadis kecil ku yang manis" ucap Mikoto sambil tersenyum lembut keaarah Haru.

"Apa?! Sebenarnya apa yang terjadi?! Dan siapa kau sebenarnya?!" tanya Sasuke dengan nada yang mulai meninggi karena bingung dengan keadaan yang tiba-tiba ia hadapi saat ini.

Siapa yang tidak bingung? saat mengetahui pria yang selama ini ia suakai adalah seorang perempuan! Mahluk yang paling ia benci di dunia ini.

"Tenang lah Sasuke. Bukankah tadi kau sendiri yang mengatakan bahwa Sakura adalah Kekasih mu kan?" tanya Mikoto berusaha menenangkan Sasuke.

"Tapi Oka-sama—"

"Dan kabar baiknya kalian berdua akan segera menikah—"

"Apa?!" teriak dua orang itu secara bersamaan memotong ucapan Mikoto.

"Tunggu dulu! Apa maksud semua ini Ka-sama?! Yang aku tahu orang yang ada di sebelah ku ini adalah seorang pria!"

"Bukan gadis bernama Sakura yang kau bilang. Sebenarnya apa yang kau rencanakan pada ku Oka-sama!" jelas Sasuke yang mulai muak dengan nada dinginnya yang menusuk.

"Bibi juga kenapa kau bilang aku akan menikah dengannya? Aku tidak mau!" ucap gadis bernama asli Haruno Sakura itu tidak terima.

"Kau pikir aku juga mau menikah dengan perempuan seperti mu eh" ucap Sasuke ikut-ikutan tak terima.

"Apa kau—"

"Bukannya tadi kau bilang Sakura adalah Kekasih mu, lalu sekarang kenapa kau menolak menikah dengannya?" tanya Mikoto heran.

"Tchi! Itu sebelum aku tahu siapa penipu ini sebenarnya" ucap Sasuke sinis.

"Jaga ucapan mu Sasuke" ucap Mikoto kali ini dengan nada tegasnya.

"Tapi Bibi aku juga tidak mau menikah dengnya! Lagi pula dari mana Bibi tahu tentang identitas ku yang sebenarnya?" tanya Sakura heran.

"Aku tahu semua tentang mu sayang" ucap Mikoto sambil menatap Sakura lembut.

"Dan masalah pernikahan itu mau tak mau seminggu lagi kalian akan menikah jadi—"

BRAK!

Ucapan Mikoto terpotong saat tiba-tiba Sasuke menggebrak meja yang ada di ruangan itu dengan perasaan marah.

"Apa-apaan dengan sikap mu itu Sasuke?" tanya Mikoto dengan nada dinginnya melihat sikap kurang ajar Sasuke.

"Tchi! Apa-apaan dengan sikap ku eh?"

"Lalu bagaimana dengan mu?! Kenapa kau seenaknya menjebak ku dengan perempuan sialan ini!"

"Uchiha Sasuke!"

"Kau tahu? Sampai mati pun aku tidak akan pernah sudi menikah dengan makhluk menjijik kan bernama perempuan itu!—"

PLAK

"Jaga ucapan mu! Sasuke!" ucap atau lebih tepatnya perintah Mikoto setelah wanita itu menampar Sasuke.

"Kau pikir dari mana kau lahir kalau bukan dari makhluk menjijikkan bernama perempuan yang kau bicarakan itu hah!" ucap Mikoto yang suaranya sudah mulai naik satu oktaf akibat ucapan kurang ajar putra bungsunya.

"Kau tahu aku malu melahirkan anak bermulut iblis sepertimu" ucap Mikoto dingin.

"Tchi Kau pikir aku mau lahir di tengah-tengah keluarga terkutuk ini hah?!" teriak Sasuke marah dan segera pergi meninggalkan ruangan itu.

"Sasuke!" teriak Mikoto memanggil Sasuke yang sudah berlari keluar dari ruangan itu.

Sakura yang menyaksikan pertengkaran itu pun hanya bisa diam. Dan ia pun memutuskan untuk segera keluar dari ruangan itu.

Namun, saat langkahnya hampir dekat mencapai pintu keluar. Tiba-tiba langkahnya terhenti saat ia merasakan ada seseorang yang memeluk tubuhnya dari belakang.

"Jangan pergi" ucap Mikoto Sambil memeluk Sakura.

"Bibi hanya ingin kau hidup bahagia bersama putra bungsu ku. Apa itu salah?" tanya Mikoto dengan nada sedih.

"Kau tahu Sakura? Aku ingin anak itu kembali normal dan aku ingin kau lah satu-satunya gadis yang bisa membuat anak ku normal kembali"

"Tapi Bibi aku tetap tidak bisa" ucap Sakura menolak Mikoto dengan halus dan melepaskan pelukan Mikoto dari tubuhnya.

"Aku tidak mencintainya" ucap Sakura sambil menatap wajah Mikoto.

Mikoto pun hanya bisa tersenyum tipis mendengar penolakan Sakura.

Ia tahu gadis yang ada di hadapannya saat ini menyukai laki-laki lain. Dan sayangnya laki-laki itu bukan anaknya.

Ia tahu ini terdengar egois memaksakan kehendaknya untuk menjodohkan dua orang itu. Meskipun ia tahu mereka dua tidak saling mencintai.

Tapi

Ia melakukan semua ini bukan hanya untuk keinginan egoisnya semata. Melainkan juga menjadi keinginan Sahabatnya Tsunade.

Bibi dari gadis manis yang ada di hadapannya saat ini.

"Kau tahu Sakura Cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu"

"Tapi Bibi—"

"Dan ini juga merupakan permintaan terakhir dari mendiang Tsunade" ucap Mikoto dengan nada sendu.

"Maksud Bibi?" tanya Sakura tidak mengerti.

'Kenapa Bibi bilang ini permintaan terakhir mendiang Bibi Tsunade? Jangan bilang kalau—'

"Tsunade sudah meninggal Sakura. Dua hari yang lalu ia meninggal akibat penyakit leukimia-nya yang sudah mencapai stadium akhir"

"Hingga saat ia di bawa ke rumah sakit nyawanya sudah tidak tertolong lagi" jelas Mikoto dengan mata yang memanas menahan air mata.

Sakura pun hanya bisa diam termenung mendengar ucapan Mikoto.

"Tidak tidak ini tidak mungkin! Bibi pasti bohong!" teriak sakura tak terima sambil menutup kedua telinganya.

"Tidak Sakura aku tidak berbohong. Ini lah kenyataannya Tsunade sudah—"

"Tidak! Kau pasti bohong! Kau sengaja mengatakan semua ini agar aku menikah dengan Sasuke kan!" teriak Sakura mulai kehilangan kendali.

"Sakura—"

"Kau pasti bohong! Bahkan Bibi Tsunade tidak memiliki riwayat penyakit leukimia! Tega sekali kau mengatakan kebohongan ini padaku" teriak Sakura dengan air matanya yang semakin deras keluar.

"Kau—"

Bugh

Tiba-tiba ucapan Sakura terpotong saat Mikoto memeluk tubuhnya.

Memeluk tubuh yang rapuh itu dengan kelembutan sosoknya yang keibuan.

"Aku pun tidak tahu kalau Tsunade memiliki penyakit itu"

"Kau tahu Saki, wanita merepotkan yang gila judi itu bahkan berlagak sok kuat di hadapan kita semua dengan cara menyembunyi kan penyakit leukimianya itu" ucap Mikoto menenangkan Sakura.

"karena dia tahu penyakitnya tidak akan mungkin bisa sembuh"

"Tapi... hiks kenapa hiks dia tidak mengatakan apa pun padaku? Hiks padahal aku keluarganya satu-satunya hiks..." ucap Sakura sambil menangis sesenggukan.

"Itu karena dia tidak ingin membuat keponakan kesayangannya yang manis ini sedih dengan kabar itu. Dia wanita yang Baik Sakura" ucap Mikoto sambil mengelus rambut panjang Sakura lembut.

Beberapa menit kemudian tangis Sakura pun perlahan-lahan mulai berhenti.

"Sebelum Tsunade meninggal ia telah menjodohkan mu dengan Sasuke"

"Ia melakukan itu semua untuk melindungi mu Sakura. Bahkan Tsunade pun tahu kalau Sasuke tidak sempurna "

"Tapi walaupun begitu dia tetap ingin menjadikan Sasuke sebagai pendamping hidup mu dan orang yang akan selalu menjaga mu" ucap Mikoto sambil mengelus wajah Sakura yang sembab karena terlalu banyak menangis.

"Sebelum dia pergi, dia meninggalkan surat ini untuk mu Sakura" ucap Mikoto sambil menyerahkan surat itu pada Sakura.

Mata Sakura pun kembali meneteskan air mata melihat kondisi surat itu. Di beberapa bagian surat itu terdapat bercak darah yang sudah mulai menghitam dan noda air mata yang membulat dan sudah mengering.

Jelas sekali wanita itu menulis surat itu untuk Sakura menjelang detik-detik terakhirnya di dunia ini.

Sakura pun hanya bisa diam membatu melihat surat itu tanpa bisa berbicara sepatah kata pun.

'Bibi Tsunade' batin Sakura lirih.

"Sebaiknya kau membacanya. Bibi akan keluar sebentar untuk mencari Sasuke" ucap Mikoto seraya berjalan keluar dari ruangan itu.

"Ah! Dan satu lagi, aku harap kau tidak membenci Tsunade karena hal ini. Karena ia melakukan semua ini demi kebaikan mu Saki" ucap Mikoto sebelum ia benar-benar keluar dari ruangan itu.

BLAMB

Pintu ruangan itu pun tertutup. Meninggalkan Sakura seorang diri di ruangan yang tenang itu.

'Apa yang harus ku lakukan sekarang' batin Sakura lirih sambil meneteskan air mata.

.

.

.

Di lain tempat di KBHS itu terlihat pria berhelaian Raven sedang duduk di bangku taman yang ada di belakang sekolah.

"Tchi menyebalkan" dengus Sasuke kesal.

Ia bingung memikirkan tentang masalah menyebalkan yang terjadi padanya hari ini.

Bagaimana tidak? Tiba-tiba ibunya datang menemuinya pagi ini. Dan ia mengatakan bahwa Sakura adalah seorang perempuan! Dan yang lebih menyebalkan lagi perempuan itu adalah calon istrinya!

Cukup sudah! Kenyataan apa yang lebih buruk dari ini?!

Kalian mungkin berpikir bukankah Uchiha Sasuke mencintai Haruno Haru alias Sakura?

Yah itu memang benar Sasuke menyukai bahkan mungkin mencintai Haru.

Tapi itu adalah Haru. Laki-laki manis teman sekamarnya selama ini. Bukan dengan Haruno Sakura yang kenyataannya adalah seorang perempuan!

Entah lah dia pun merasa bingung dengan perasaannya sendiri. Walaupun ia tahu Haru dan Sakura adalah dua orang yang sama.

Tapi

Setelah mengetahui bahwa sebenarnya Haru atau Sakura itu adalah perempuan. Entah mengapa perasaannya selama ini pada orang itu menghilang dengan sendirinya.

Hilang di terbangkan angin yang begitu kencang bernama kenyataan.

Kenyataan menyebalkan yang selalu menghancurkan semua impian mu eh Sasuke?

Bahkan mungkin semua yang kau inginkan selalu menjauh dari kenyataan.

"Akhirnya aku menemukan mu" ucap Mikoto sambil menyentuh bahu Sasuke.

Membuat pria itu tersadar dari lamunan singkatnya.

Sasuke pun hanya memandang Mikoto dengan tatapan tak peduli. Dia pun kembali sibuk melamuni kesialannya hari ini.

"Ne Sasu-kun hari ini kau sukses menyakiti hati Oka-sama mu yang cantik ini" ucap Mikoto mendramatisir keadaan.

Sasuke pun hanya bisa memutar bola matanya bosan melihat sifat kekanak-kanakan ibunnya yang suka berlebihan itu.

"Kau tahu Sasu-kun? Oka-sama begitu sedih mendengar ucapan kasar mu tadi hiks" ucap Mikoto sambil menangis berurai air mata (?)

Sasuke pun hanya melihat akting (?) picisan ibunya dengan tatapan bosan.

"Apakah kau juga membenci Oka-sama Sasu-kun? hiks~"

"Padahal Sasu-kun adalah anak bungsu Ka-sama yang manis hiks"

"Tapi... tapi kenapa kau tega berkata kejam seperti itu pada Oka-sama Sasu-kun hiks" ucap Mikoto dengan mata yang semakin bercucuran air mata (?)

"Oka-sama hanya ingin menimang cucu dari mu Sasu-kun hiks~"

"Aku bukan satu-satunya anak mu Ka-sama. Itachi-nii bisa memberikan cucu kepadamu sebanyak yang kau mau" ucap Sasuke cuek.

'Tchi dasar anak keras kepala ini!" batin Mikoto berteriak kesal.

"Huwaa Oka-sama hanya ingin menimang cucu dari mu saat ini Sasu-kun hiks" ucap Mikoto sambil berteriak berurai air mata (?) di tempat itu.

Membuat orang-orang yang berlalu- lalang di tempat itu menatap kedua orang itu dengan tatapan aneh.

"Tchi sekarang kita ada di tempat umum Oka-sama" ucap Sasuke dingin dengan penekanan di setiap katanya.

"Huwaa aku tidak peduli! Hiks biar semua orang tahu kalau kau anak nakal yang—"

"Baik baik aku akan mendengarkan apa yang Ka-sama katakan. Asalkan Ka-sama berhenti menangis" ucap Sasuke tak rela.

"Tidak hanya mendengarkan kau juga harus melakukan apa yang Ka-sama katakan" ucap Mikoto tenang sambil menghapus sedikit air mata bombainya.

Sasuke pun hanya bisa tercengang melihat sifat licik ibunya itu.

Sungguh ibumu lebih cocok menjadi artis profesional dari pada menjadi istri pengusaha kaya raya.

"Baik lah aku akan mendengarkan dan melakukan apa yang Oka-sama katakan" ucap Sasuke tidak rela.

"Kyaaa kau memang Sasu-kecil ku yang manis" teriak Mikoto senang sambil memeluk Sasuke.

Walaupun kau membenci seluruh perempuan di dunia ini. Tapi hanya dia lah yang tidak bisa kau benci benar kan Sasuke?

'Bagus rencana pertama berhasil' batin Mikoto senang.

"Aku hanya ingin kau menikah dengan Sakura-chan Sasuke"

"Ka-sama—"

"Kau tahu? Tsunade Bibi Sakura dua hari yang lalu sudah meninggal. Dan dia menitipkan keponakan satu-satunya itu pada mu"

"pada kita semua keluarga Uchiha. Dia ingin menikahkan mu dengan Sakura agar kau bisa melindunginya" ucap Mikoto menjelaskan.

"Tapi Ka-sama kau tahu kan kalau aku—"

"Yah aku tahu, Tsunade pun tahu tentang keadaan mu"

"Tapi ia tetap ingin kau menikah dengan keponakannya. Karena ia percaya pada mu"

"..."

"Kau hanya perlu mencobanya Sasuke" ucap Mikoto.

"Dan setelah Tsunade meninggal Sakura sudah tidak punya siapa-pun di dunia ini"

"..."

"Kau mengerti kan Sasuke?"

"Sekarang apa kau bersedia melakukan permintaan ku?" tanya Mikoto penuh harap pada Sasuke.

Sasuke pun hanya bisa diam untuk beberapa saat mendengar apa yang di ucapkan ibunnya.

"Sasuke—"

"Baiklah"

"Baiklah aku akan mencobanya semampu ku Ka-sama" ucap Sasuke.

Mikoto pun tersenyum senang mendengar ucapan Sasuke.

"Terima kasih Sasuke" ucap Mikoto sambil memeluk Sasuke.

Walaupun hubungan ini di maulai atas dasar keterpaksaan. Tapi pasti semua akan indah pada akhirnya.

.

.

.

Setelah merasa mulai tenang Sakura pun berusaha menguatkan dirinya untuk membaca surat itu.

"Tenang Sakura kau pasti bisa. Kau pasti bisa melewati ini semua" ucap Sakura berusaha menyemangati dirinya sendiri.

Namun seberapa keras pun ia mencoba untuk tetap tegar melewati ini semua. Air mata itu tetap tidak bisa berhenti mengalir dari mata yang indah itu saat dia membaca satu persatu kalimat yang ada di surat itu.

Dan untuk ke sekian kalinya Sakura kembali menangis.

Menangisi kenyataan hidup yang begitu kejam padanya.

Bahkan tidak cukup tuhan mengambil Ayah dan Ibunya. Sekarang tuhan pun juga ikut mengambil Bibi Tsunade darinya.

Satu-satunya keluarganya yang tersisa.

Sekarang Sakura sudah resmi menjadi sebatang kara di dunia ini.

"Kenapa... hiks kenapa Bibi tidak pernah menceritakan semua ini pada ku? Hiks" tangis Sakura.

.

Untuk Sakura ku yang manis

Bibi tahu kau sekarang pasti marah dengan sikap Bibi yang seenaknya menjodohkan mu dengan Sasuke. Tapi Bibi melakukan semua itu demi kebaikan mu Saki. Bibi ingin selalu melindungi mu, tapi kau tahu kan tidak ada manusia yang bisa hidup abadi di dunia ini.

Dan kini penyakit ini telah menggerogoti waktu ku sedikit-demi sedikit. Membuat waktu ku untuk melindungi mu semakin berkurang. Karena itu lah aku ingin kau dan Sasuke menikah, aku atau mungkin sekarang kau pun tahu bahwa pria itu tidak sesempurna seperti yang terlihat.

Tapi aku percaya hanya dia lah yang pantas untuk mu.

Untuk itu jangan pernah membenci ku karena hal ini Saki. Kau adalah gadis kecil ku yang manis, aku ingin memberikan yang terbaik untuk mu.

Dan kalaupun bisa aku juga ingin melindungi mu selamanya.

Tapi kau tahu kan itu semua tidak akan mungkin bisa terjadi.

Dan masalah penyakit ini, alasan kenapa aku tidak memberitahukannya pada orang lain termasuk dirimu adalah karena aku tidak ingin kau bersedih.

Saat aku mengetahui aku menderita penyakit ini semuanya sudah terlambat. Makanya itu akan bercuma kan?

Kau tahu kadang awal yang buruk itu memiliki akhir yang bahagia.

Jangan pernah membenci ku karena hal ini ya Saki. Karena aku sangat menyayangi mu. Gadis kecil ku yang manis.

.

"Kau memang wanita tua yang seenaknya hiks"

"Wanita menyebalkan yang sok berlagak kuat di hadapan ku hiks" tangis Sakura sesenggukan.

'Kenapa kau tidak pernah berkata jujur padaku?! Apa arti aku bagi mu selama ini Bibi?!' batin Sakura berteriak.

"Kenap seperti ini hiks"

.

.

.

Setelah puas menangis di ruang kepala sekolah. Sakura pun memutuskan untuk pulang ke asramanya.

Dan mungkin pulang kembali ke Mansion Senju. Karena menurutnya sudah tidak ada artinya lagi ia di sekolah ini.

Identitasnya yang sebenarnya sudah ketahuan oleh Sasuke. Dan lagi Tsunade yang menyuruhnya untuk bersekolah di sini pun sudah meninggal.

Lalu untuk apa lagi ia berada di sekolah ini?

Dan mengenai masalah pernikahan itu. Ia merasa tidak bisa melakukan permintaan terakhir Tsunade.

Karena ia sama sekali tidak mempunyai perasaan apa pun pada Sasuke. Dan lagi sudah jelas Sasuke itu penyuka sesama jenis.

Ia rasa pernikahan ini nantinya tidak akan berjalan baik, dan mungkin malah berakhir dengan perceraian. Karena memikirkan kemungkinan terburuk itulah ia memilih untuk tidak melaksanakan pernikahan itu.

Ia berpikir daripada menghadapi kegagalan lebih baik menyerah di awal.

'Maafkan aku Bibi Tsunade. Aku tidak bisa menikah dengan orang itu' batin Sakura sedih.

Karna sedari tadi sibuk melamun Sakura tidak menyadari penampilannya saat ini, ia lupa memasang kembali wignya.

Bisa kalian bayangkan sendiri penampilan Sakura saat ini. Rambut panjangnya yang acak-acakan dan juga seragam sekolah KBHS yang masih ia kenakan.

Orang-orang yang berpapasan dengannya pun hanya menatapnya dengan tatapan aneh dan mungkin termasuk tatapan kagum dan terpesona dari para murid laki-laki.

Yah walaupun acak-acakan Haruno Sakura tetap memesona di mata kaum Adam.

Hingga

BUGH

Karena terlalu asyik melamun ia sampai menabrak seseorang dan terjatuh terduduk di lantai. Mungkin orang yang di tabraknya itu adalah seorang laki-laki karena hanya Sakura lah yang terjatuh.

"Ah! Gomen aku tidak sengaja" ucap Sakura sambil menundukkan kepalanya.

Orang yang di tabraknya itu hanya diam mendengarkan permintaan maaf Sakura.

Setelah itu orang atau lebih tepatnya pria itu mengulurkan tangannya pada Sakura dan membantu gadis itu berdiri.

"Terima kasih" ucap Sakura sambil menerima uluran tangan dari pria itu.

Saat Sakura mengangkat wajahnya ia melihat wajah pria yang menabraknya. Pria itu berhelaian merah semerah darah dan memiliki dua bola mata Emerald yang sewarna dengan matanya.

Namun warna mata pria itu terlihat pudar dan tak secerah mata Sakura. Di bawah mata pria itu terdapat lingkaran hitam di matanya menandakan pria itu kurang tidur.

"Hn tidak ap-apa" ucap pria itu singkat lalu memamerkan senyumannya pada Sakura.

Karena Sakura saat ini dalam keadaan mood yang kurang baik, ia hanya diam melihat senyuman pria itu tanpa berminat membalasnya.

"Kalau begitu aku permisi" ucap Sakura sambil berjalan melewati pria itu.

Namun sebelum ia benar-benar pergi pria itu menahan tangan Sakura. Dan membuat gadis itu berhenti lalu menoleh pada pria itu.

"Ada apa?" tanya Sakura heran.

"Rei Gaara. Senang bertemu dengan mu lagi Cherry"

Seketika itu pula waktu seakan-akan berhenti di antara mereka berdua. Mempertemukan kembali dua orang yang dulu sempat terpisah.

Apakah kali ini takdir akan menyatukan mereka atau...

Perpisahan itu akan datang untuk kedua kalinya.

Namun kali ini untuk selamanya.

.

.

.

.

T*B*C

Akhirnya selesai jugak ni chp 6 (^0^) walaupun autor nulis ni ff pas jam pelajaran wkwkwk yah begitulah anak zaman sekarang #plak.

Soalnya kalau autor nulis di rumah takutnya ngak sempat... (=_=;) soalnya di rumah itu banyak setan2 laknat yang menggoda iman

Kayak wifi yg hidup 24 autor orangnya kan baik hati dan ngak mubazir (—3—) #Plak *modus loe tor. makanya tiap pulang sekolah ampe malam autor internetan mulu makanya molor deh ni ff.

Trus tugas yg menumpuk and anime dan film yg setiap saat selalu menggoda iman autor (~_~)

Oke lah kita khiri bacotan autor yg ngak penting ini! Buat kalian yg nunggu kelanjutan ni ff gaje harap banyakin REVIEW nya ya...(^3^)

Semakin banyak yg REVIEW makin cepat ff ini update.

Balasan Review chp 5 (^0^)

.

.

Yahh mungkin bisa jadi.

Makasih ya udah review

.

Rainie Cherry25

Iya ini udah lanjut kok

.

Happy Orange

Makasih yaa. Ini udah lanjut kok ;)

.

lavendeR-chan

Iyaa ini udah lanjut kok ;)

.

Uchiha Lady Haruno

Makasih ya ini udah update kok ;)

.

Zerachan

Udah lanjut

.

hanazono yuri

Udah lanjutt

.

Dianarndraha

Pertanyaan kamu udah terjawab di chp ini kok.

Makasih ya udah review

.

Luca Marvell

Entahlah menurut kamu Saso itu jahat atau baik? #evilsmirk.

Tapi masalah Itachi bakalan suka ama Saku kayaknya engak deh, soalnya di ff ini aku pengen Itachi itu ngangap Saku udah kayak adik kandunnya sendiri he..he..he...

Makasih ya udah review

.

Hyemi761

Makasih ya. Semua pertanyaan kamu udah terjawab di chp ini.

Makasih ya udah review

.

Yoshimura Arai

Iya ini udah update

Makasih ya udah review

.

Oke sesi balas reviewnya udah selesai...

Tapi kok yg review dikit bgt (=_=;) #autor pundung.

Tapi yah ngak papa lah dari pada kagak ada... makasi ya buat para raiders yg masih setia nunggu N baca ff gaje ini #nagis darah

R

E

V

I

E

W

Please (_)