I Love You
-HunKai For You-
Cast: Kim Jongin, Oh Sehun, Baekhyun, Luhan, Others.
Disclaim: Yang pasti cast bukan milik saya, plot asli dari pemikiran saya.
Inspired by Yoon Mi Rae – I Love You
-DLDR-
And
-Happy Reading-
.
.
.
Preview
"Baiklah, hanya tinggal mengetuk pintu lalu katakan I love You," gumam Jongin mengingat saran Baekhyun tadi.
Tok tok tok.
Pintu belum terbuka, tapi Jongin dapat mendengar suara Bibi Oh, Luhan Hyung, dan Sehun tentang siapa yang harus membuka pintu. Jongin jadi dag dig dug.
"Sebentar," itu suara Sehun. Jongin jadi semakin dag dig dug.
Cklek.
"Ya? Jongin?"
Part 2
"A-ah? H-hai Sehun," sapa Jongin dengan tergagap. Sial, kenapa Sehun yang hanya memakai kolor dan kaos oblong pun tetap terlihat keren dan tampan. Jongin kan jadi tambah gugup.
"Ya? Ada apa? Ayo masuk," ajak Sehun.
"Tidak. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu," tolak Jongin.
Sehun mengernyit bingung, menatap Jongin yang kini semakin salah tingkah. "Baiklah, apa?"
"A...," Jongin menggigit bibir bawahnya, kembali tidak yakin untuk mengungkapkan perasaannya.
"A?" ulang Sehun, menuntut kelanjutan dari ucapan Jongin yang baru keluar satu huruf.
"A-a..."
"Hey, cepatlah. Aku meninggalkan permainanku di kamar," tuntut Sehun.
"HAH? Kau membawa mainan ke kamar?"
"Apa maksudmu membawa? Aku memang selalu memainkan PSPku di mana saja," jelas Sehun.
"O-ohh.." Jongin mengangguk pelan, dalam hatinya ia bersyukur yang dimaksud Sehun itu adalah PSP. Ia pikir Sehun membawa para mainan alias wanita-wanita dan pria-pria penggodanya.
"Jongin, cepatlah!" titah Sehun mulai tak sabar.
"A-a aaaku lupa ingin bilang apa, hehe... Yasudah, aku pulang saja ya. Selamat malam,Sehun."
"Ha?" Sehun melongo begitu saja melihat Jongin yang dengan cepat berbalik dan berlari ke rumahnya. "Anak itu semakin aneh."
.
"Huwaa~ ada apa denganmu, Jongin sayang? Hanya tinggal mengucapkan I Love You, kenapa malah begitu?" omel Jongin pada dirinya sendiri di depan cermin.
Ia menampar-nampar pipinya dengan kedua tangan, kemudian mengacak surainya seperti kesurupan. Ia menghela nafas dengan tidak santai lalu melompat ke atas kasur, bergelung dengan selimut hangatnya. Jongin mengambil handphonenya dan membuka folder khusus Oh Sehun yang terkubur dalam folder-folder yang sengaja ia buat, agar tidak ketahuan tentunya. Ia memandang satu persatu foto Sehun yang sengaja ia ambil tanpa ataupun sepengetahuan Sehun sendiri.
"Hahh,,, kau itu, kenapa selalu membuatku tidak tenang hah? Kau hidup denganku sudah sangat lama, tapi kau masih tidak bisa mengartikan apapun gerak-gerik yang kulakukan."
Jongin kembali mengingat pertemuan pertamanya dengan Sehun. Saat itu mereka masih berusia 4 tahun. Saat ia mendapati ada tetangga baru tepat di samping rumahnya. Ia dan Janggu –anjing pertamanya- sedang bermain di halaman depan rumah, ia tak sengaja melempar bola yang sedang ia mainkan bersama Janggu keluar melewati pagar. Janggu mengejarnya dan ia mengikuti Janggu karena takut Janggu berlari jauh dari rumah. Seperti drama, setelah mendapatkan bolanya, Jongin hendak kembali ke halaman tapi ia malah tersandung dan jatuh. Lututnya terluka tapi tidak sampai berdarah, hanya luka gores, dan ia tetap menangis. Tiba-tiba ada Kakak tampan yang menolong dan menghiburnya. Itu Luhan, saat itu mungkin umurnya 10 tahunan. Memang dasarnya Jongin tidak bisa akrab dengan orang baru, ia malah semakin menjerit hingga beberapa tetangganya keluar rumah untuk melihat apa yang terjadi. Untung Ayahnya segera datang dan menenangkannya. Keluarga Oh juga ikut menghampiri karena ada Luhan di sana, menanyakan apakah Luhan yang menjahilinya. Tentu saja ia menggeleng, karena memang bukan Luhan pelakunya. Keluarga Oh ternyata sangat baik, ia yang masih terisak diberi permen loli oleh Bibi Oh dan berhenti menangis. Tapi tatapannya tak sengaja jatuh pada bocah seumurannya yang menatap dengan mata tajamnya. Ia yang takut langsung saja melempar bola yang tadi ia mainkan ke wajah bocah itu dan kembali menjerit memeluk Ayahnya, dan sialnya bocah itu juga ikut menangis karena lemparannya.
"Sehun sialan, kau menatapku tajam hanya karena iri aku diberi permen oleh Ibumu. Hisss... kau bahkan ikut menangis hanya karena lemparan bola kosong. Aku heran kenapa kita bisa jadi sahabat, ohh! Aku melupakan bagian itu, kenapa kita bisa jadi sahabat. Padahal wajahmu saat itu sangat datar seperti setan, kenapa aku mau dekat denganmu?" ia menunjuk-nunjuk wajah Sehun di handphonenya. mengingat-ingat wajah Sehun yang dulu selalu berekspresi datar yang katanya seperti setan padahal ia belum pernah melihat setan, dan setan di televisipun wajahnya tidak datar.
"Harusnya aku jatuh cinta pada Luhan Hyung saja. yang pertama aku lihat kan memang Luhan Hyung. Dia yang menghibur dan menolongku saat itu, bukannya memelototiku seperti yang kau lakukan, Oh setan."
"Luhan Hyung itu tampan, baik, pengertian, lembut, murah hati, murah senyum, dan tidak playboy. Aku akan bahagia mendapat kekasih seperti Luhan Hyung."
Tiba-tiba ia bergidig ngeri membayangkan wajah marah Baekhyun. Ia lupa jika Baekhyun naksir Luhan, bisa dicincang ia bila Baekhyun tahu ia berfikir untuk berbelok pada Luhan saja. kemudian ia teringat percakapan tadi.
"Sialan si Byun itu. Dia mengataiku uke yang bersikap seperti gadis perawan karena tidak berani mengungkapkan perasaanku pada Sehun, sedangkan dia sendiri juga seorang uke yang bahkan masih tidak berani bertatap muka dengan Luhan Hyung. Byun tidak tahu diri," rutuk Jongin.
Jongin mengambil sesuatu dari laci, sebutir pil. "Kali ini kau tidak bisa membuatku insomnia lagi, Oh. Haha, aku punya penangkalnya." Ia menatap pil di tangannya, lalu meminumnya dengan air yang selalu siap sedia di atas nakasnya. "Untung aku mencuri obat tidur Ayah, tak apalah hanya satu ini," gumamnya. Ia menutup matanya, menunggu dirinya jatuh tertidur. Dan kemudian ia benar-benar terlelap dengan memimpikan kembali wajah sang tercinta.
.
.
.
Jongin merasa sesuatu menusuk-nusuk pipinya, ia ingin membuka matanya tapi rasa kantuk dan belaian selimut yang hangat membuat ia semakin memeluk erat bantal gulingnya.
"Jongin?"
Jongin mendengar seseorang memanggilnya, tapi tidak terlalu jelas. Palingan Ayah, pikirnya. Ia sudah beberapa hari kekurangan tidur, sekarang ia ingin tidur terus rasanya.
"Jongin!" sekarang seseorang itu terdengar berbisik di dekat telinganya. Tapi ia masih terlalu malas untuk membuka matannya.
Tapi tiba-tiba kasur bagian kanannya terasa semakin memberat, tanda seseorang naik ke atasnya. Ia mengerang pelan karena merasa terganggu dengan seseorang itu. Siapa sih? Apa Taemin, sepupunya yang jahil itu sedang berkunjung? Dengan terpaksa ia membuka matanya, dan mendapati wajah pucat sangat dekat dengan pipi kanannya.
"HUWAA~ SETAAAN, APA YANG KAU LAKUKAN?" jerit Jongin saat sadar Sehunlah yang ada di hadapannya dengan wajah seperti akan membisikkan sesuatu ke telinganya. Oh yang berbisik memanggil-manggil namanya itu memang Sehun berarti.
"Hanya ingin membangunkanmu," jawab Sehun yang dengan santainya berbaring di samping Jongin. Jongin jadi blushing. Padahal bukan yang pertama kalinya ia dan Sehun berbaring bersama seperti ini. Tapi kan beda, dulu ia belum sadar bahwa ia mencintai Sehun, sekarang sudah.
"Jam berapa?" tanya Jongin mencoba menghiraukan keberadaan sehun yang sangat dekat dengannya.
"Setengah delapan," jawab Sehun.
"Kelas kita masih lama, biarkan aku tidur lagi."
"Tidurlah."
"Kau tetap di sini?"
"Aku juga akan tidur lagi," jawab Sehun dengan mata tertutup, berniat tidur kembali mendahului Jongin.
"Eeeh? D-di sini?"
"Tentu."
Jongin mencoba bersikap biasa saja dan mencoba kembali menutup matanya. Tapi rasa kantuk yang tadi menguasainya tiba-tiba menghilang entah kemana, ia jadi berdebar terus-terusan dan itu sangat tidak nyaman.
"Aku mandi saja," gumam Jongin, akhirnya menyerah dengan ketidaknyamanannya.
"Tidak jadi tidur?" tanya Sehun yang ternyata belum tidur.
Jongin menggeleng, tak peduli Sehun melihatnya atau tidak. Kemudian itu melesat dengan cepat ke kamar mandi, meninggalkan Sehun yang masih berbaring di ranjangnya.
"Hahh... Sehun itu benar-benar menyebalkan. kenapa harus datang saat aku masih menikmati waktu tidurku yang sangat berharga," desis Jongin. Ia tak mungkin bersuara keras-keras karena ia yakin Sehun pasti masih ada di kamarnya.
Dengan helaan nafas panjang, Jongin mulai membuka pakaiannya. Memulai ritual rutin pembersihan diri, dengan diiringi gumaman-gumaman yang lebih mirip rajukan.
.
.
.
"Yo! Jongin~" sapa Baekhyun dengan antusian saat Jongin dan Sehun masuk kelas. Ia menatap menggoda pada Jongin, pikirnya Jongin sudah berhasil menyatakan perasaannya pada lelaki pucat di sampingnya.
"Hai, Baek," balas Jongin. Dari intonasinya, Baekhyun dapat menebak kalau kondisi Jongin masih sama. Kondisi hatinya maksudnya, karena jika dilihat dari penampilannya maka Jongin sudah kembali menjadi Jongin yang rapi. Senyum antusias yang tadi sempat bertengker di wajahnya sirna sudah, terganti oleh dengusan keras.
"Hey, Oh! Aku pinjam Jongin sebentar," ucap Baekhyun yang langsung menarik Jongin menjauh dari lingkup anak-anak yang lain.
"Jangan sampai lecet."
"Yak! Kau kira aku barang yang bisa dipinjamkan lalu lecet," protes Jongin pada Baekhyun dan Sehun. Namun kedua orang itu hanya mengangkat bahu.
Baekhyun kembali menarik Jongin keluar dari kelas, dan duduk di pinggiran koridor.
"Apa? Jika kau ingin menanyakan tentang semalam, jawabannya adalah GAGAL. Aku gagal mengungkapkan perasaanku," jelas Jongin sebelum Baekhyun bertanya ini itu.
"Bagaimana bisa gagal? Hanya tinggal katakan I Love You, kau itu," Baekhyun menepuk-nepuk kepala Jongin dengan tidak pelan.
"Yak! Kau mengatakan segampang itu. Kau sendiri bagaimana? Untuk bertemu Luhan Hyung saja kau bahkan tidak berani."
"Apa yang kau bicarakan? Kita di sini sedang membicarakanmu dengan perasaanmu pada Sehun itu."
"Dan kau memberi saran yang terdengar sangat gampang sedangkan kau sendiri tak pernah bisa mengatakannya, bahkan lebih parah kau tak pernah berani untuk bertatap mata dengan orang yang kau suka."
Baekhyun merenggut, Jongin juga begitu.
"Hahh... Kita berdua memang sama-sama payah," gumam mereka berdua dengan kompak. Keduanya menghela nafas merana, begitu kompak.
.
.
.
Seperti biasa, pagi hari di hari aktif Sehun akan menjemput Jongin dengan mobilnya untuk berangkat ke kampus bersama. Kali ini, Jongin menghampiri Sehun dengan senyum di wajahnya, berbeda sekali dengan kemarin-kemarin yang selalu menampilkan wajah merana.
"Kenapa?" tanya Sehun, sedikit aneh dengan Jongin kali ini. Tidak aneh juga sebenarnya, karena memang begitulah Jongin sebelum masa-masa galaunya, 3S alias Suka Senyum-senyum Sendiri.
"Tidak, ayo berangkat," dan seperti biasa juga, Jongin akan masuk ke mobil Sehun seperti ialah pemiliknya.
Sehun ikut masuk ke dalam mobilnya, melirik Jongin yang masih tersenyum. Ia menggeleng pelan, tapi bersyukur juga karena anak itu sudah tidak menggalau lagi. Kemudian ia menjalankan mobilnya.
"Sehun?" panggil Jongin tiba-tiba.
"Ya?" balas Sehun, matanya masih terfokus pada jalanan.
"Kau kan sudah pernah berpacaran, apa kau pernah merasakan jatuh cinta pada salah satu pasanganmu?" tanya Jongin.
"Tidak. Kenapa?"
"Kenapa?"
"Aku yang pertama bertanya kenapa, Jong."
"Mantanmu kan banyak, cantik-cantik dan manis-manis. Kenapa kau bisa tidak mencintai salah satu saja dari mereka?" tanya Jongin, menghiraukan protesan Sehun tentang siapa yang pertama bertanya kenapa.
"Kenapa kau ingin tahu?"
"Jawab saja, kenapa susah sekali sih," Jongin mendengus, menatap Sehun sebal.
"Hahh... karena bukan aku yang menawarkan suatu hubungan pada mereka. Aku hanya menerima permintaan mereka, kan lumayan untuk koleksi."
PLAK
"Ssshh, kau ini apa-apaan, itu sakit," protes Sehun setelah diberi pukulan yang tidak pelan di tangan kanannya.
"Kau benar-benar player brengsek," umpat Jongin.
"Kau kenapa sih? Ada masalah dengan itu?"
Ingin sekali Jongin menjawab 'tentu saja, apa jadinya bila aku benar-benar menyatakan perasaanku padamu? Kau jadikan apa aku nanti? Koleksimu juga?', tapi akhirnya Jongin hanya menggeleng dengan cuek.
"Kau aneh."
"Aku kan memang aneh," ucap Jongin sedikit tidak suka, banyak sedihnya. Iya sedih, tidak terima di bilang aneh oleh orang yang dicinta. "Aku hanya takut orang yang kusuka akan memperlakukanku seperti kau menjadikan mantan-mantanmu sebagai koleksi."
"Siapa?"
"Apanya?"
"Orang yang kau suka? Siapa? Kasihan sekali dia disukai orang aneh sepertimu."
Jongin menunduk, bibirnya terpout lucu. Bahkan respond Sehun saat tahu ia suka pada seseorang sangat biasa-biasa saja, tak ada nada cemburu sama sekali. Mungkin memang Sehun tidak bisa menjadi miliknya, mungkin memang selamanya perasaan cintanya pada Sehun harus terpendam saja.
"Jong? Hey, kau sedih? Karena ucapanku?" Sehun melirik Jongin yang masih menundukkan kepalanya, enggan menatapnya. "Kau ini kenapa? Aneh sekali, biasanya ku sebut hitam-pesek sekalipun reaksimu masih biasa-biasa saja. Sekarang hanya dibilang aneh saja kau sudah begitu. Sensitif, seperti perempuan."
Jongin facepalm. Sialan Sehun, bukannya minta maaf malah mengatainya seperti perempuan.
"Tidak. Aku hanya mulai berkaca saja. Kasihan sekali orang yang kusuka bisa disukai orang sepertiku," ucap Jongin sarkas.
"Kau tersinggung? Maaf, aku hanya bercanda. Kau lucu juga, kok."
Jongin sedikit melayang saat Sehun menyebutnya lucu, tapi ia kembali berfikir mungkin itu hanya salah satu cara Sehun minta maaf. Biasanya Sehun lebih jujur di awal, kata aneh yang diucapkan Sehun lebih jujur daripada lucu. Ia memang aneh. TT
.
.
.
Hari ini libur. Jongin sedang tidak ada kerjaan, jadi ia hanya bergelung di atas tempat tidurnya. Sedikit heran, biasanya Sehun selalu berkunjung ke rumahnya saat hari libur. Setidaknya untuk 'membantu' menghabiskan camilan-camilannya. Jongin jadi ingat kejadian kemarin. Setelah percakapan yang cukup membuatnya 'berkaca' saat di mobil Sehun, selama di kampus tak sedikitpun Jongin membalas perkataan Sehun. Ia mendiamkan Sehun seharian, tak merespond apapun yang Sehun ucapkan padanya. Hahh... mungkin Sehun jadi merasa bersalah, jadi dia tak berani berkunjung hari ini. Tapi Jongin rindu. Aduh, bagaimana ini.
"Nanti siang saja aku ke rumahnya," gumam Jongin.
Ia mulai memainkan handphonenya, tapi lama kelamaan ia jenuh juga. Melihat jam sekilas, baru setengah sepuluh. Ia sudah tak punya rencana untuk membunuh waktunya.
"Ke rumah Sehun sekarang saja," ucap Jongin sedikit semangat. Ia mulai bangkit dari kasurnya, merapikan sedikit pakaiannya kemudian tersenyum kecil.
Jongin melangkah keluar dari kamarnya. Di ruang tengah ia dapat melihat Ibunya sedang menonton drama, kebiasaan rutin. Melangkah lagi hingga keluar dari rumah, ia dapat melihat suasana di luar juga sangat sepi. Apa-apaan ini, Ayahnya pergi kerja di hari libur, apa orang lain juga begitu. Tidak seru sekali, apa mereka tidak mengenal hari libur? Ayahnya juga. Oh bukan, itu salah bosnya yang mengganggu di hari libur.
"Sehun?" teriak Jongin dari depan pintu rumah Sehun yang juga terlihat sepi. "Sehuuunn?" teriaknya lagi.
CKLEK
"Ah, Jongin. Mencari Sehun?" tanya Luhan dengan senyum menawan yang sangat Baekhyun suka. Ahh, Jongin jadi membayangkan betapa lebaynya Baekhyun bila melihat senyum Luhan.
"Iya, Hyung. Apa dia ada?" Jongin membalas senyuman Luhan dengan senyumannya yang Ayahnya bilang sangat manis.
"Oh, sayang sekali. Sehun sedang pergi bersama Ibu ke rumah Nenek dan mungkin akan menginap di sana untuk tiga hari ke depan."
Mendengar penjelasan Luhan, senyum manisnya pun hilang berganti raut kecewa karena tidak bisa melihat Sehun. Biasanya jika ingin pergi kemana-kemana Sehun selalu bilang pada Jongin, tapi sekarang tidak.
"Yasudah, Jongin pulang saja ya, Hyung."
"Lho, tidak ingin main dulu?"
"Tidak, nanti saja. Eh! Hyung, besok kan tidak libur. Absen Sehun bagaimana?" tanya Jongin saat ingat ini bukan hari libur panjang.
"Oh, iya. Nanti Hyung antarkan suratnya padamu."
"Ohh... yasudah, Jongin pulang. Selamat pagi, Luhan Hyung."
"Pagi juga, Jongin. Semoga harimu menyenangkan."
"Hyung juga."
Jongin pun berbalik, kembali ke rumahnya dengan perasaan kecewa. Bagaimana harinya bisa menyenangkan bila tidak melihat wajah Sehun yang selalu didambanya, yang ada harinya mendung terus-menerus.
"Jongin?"
Jongin menoleh saat mendengar seseorang memanggil namanya, dan matanya melotot melihat siapa orang itu.
"Kau...?"
TBC
Maaf lama, saya agak kesulitan saat ingin melanjut dari chap 1 ke chap 2. Mohon dimaklum, saya masih baru di ffn. Semoga chapter ini tidak membosankan dan dapat kalian nikmati^^
Big Thanks to:
Hun94Kai88 , BellaSafir48 , youngimongi , Jun-yo , Guest , Rei14 , BabyWolf Jonginnie'Kim , Narundana , cute , Vioolyt , UkeKaiShipper , geash , magnae palsu , elshii , KaiNieris , sejin kimkai , ohkim9488 , winsliabego1 , diannurmayasari15 , ucinaze , virniania , kaerinkartika (2) , Wendyblu , FbrKm , htyoung , afranabilacantik , saniathbbbv , nabilapermatahati , novisaputri09 , winter park chanchan , Addelia Yoma823 , ulfah . cuittybeams .
Terima kasih juga untuk yang memfollow atau favorite.
Maaf bila ada yang terlewat, langsung komplein pada saya saja bila ingin. Sampai jumpa di chap depan.
