Now Playing : Blue Blossom - Vixx

Chapter 2

.

.

.

.

Preview Last Part

.

.

.

Jongin membantu noonanya bersandar pada tempat tidurnya

"eoh? Siapa dia?" tanya Minseok tiba-tiba sambil menunjuk ke arah Jongdae

"Noona... kau... tidak ingat dia?" tanya Jongin kaget

Minseok menggeleng

.

.

.

.

.

.

Jongin dan Kyungsoo membelalak kaget

Jongdae menatap Minseok diam , ia terpaku.

Minseok tidak mengingatnya, Minseok melupakannya

"jongdae-ya... bagaimana kalau tiba-tiba aku tidak mengingatmu lagi?" tanya Minseok tiba-tiba

Kata-kata Minseok di taman hari itu terngiang di kepalanya

Ya

Sekarang Minseok tidak lagi mengingatnya, ketika ia justru sangat mencintai gadis itu, Minseok justru melupakannya

Jongdae terpaku beberapa saat ketika akhirnya Jongin berlari keluar dari ruangan Minseok

"Eonni... eonni kenal aku kan?" tanya Kyungsoo pelan

Minseok mengernyitkan dahinya

"kenapa kau bertanya begitu, tentu saja aku kenal, kau itu Kyungsoo, kekasihnya Jongin, bukan berarti aku tertabrak lalu hilang ingatan kan?" ucap Minseok santai

Kyungsoo menatap Jongdae iba

Tidak

Minseok bahkan tidak sadar ia sudah kehilangan ingatannya, ingatannya tentang Jongdae.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Cklek

"minseokie?" tanyanya ketika melihat Kyungsoo keluar dari kamar rawat Minseok

"Minseok eonni tertidur pulas, kurasa pengaruh obat... kau tidak apa?" tanya Kyungsoo balik

Jongdae tersenyum kecil lalu bersandar pada kursi di belakangnya

Kyungsoo memandang Jongdae sedih lalu duduk di sampingnya.

"aku tahu perasaanmu... maksudku, aku juga tidak bisa membayangkan bagaimana kalau tiba-tiba Jongin melupakanku, kurasa hidupku seakan sia-sia, ya... semacam itu..." ucap Kyungsoo pelan

Jongdae tersenyum

"aku tidak apa, kalau ia melupakanku, aku hanya perlu mengingatkannya kembali," ucap Jongdae santai, tapi tersirat kesedihan di wajahnya

Kyungsoo tersenyum kecil lalu mengangguk pelan

"Hm... ya kau benar..." jawab Kyungsoo

Tapi hatinya terus berkecamuk, ia tahu tidak akan semudah mengatakannya, Kyungsoo ikut menyandarkan punggungnya.

"minseokie... aku ingin terus menjaganya..." ucap Jongdae pelan

Kyungsoo diam, menggigit bibir bawahnya pelan

Menyedihkan

Dua orang yang saling mencintai tidak bisa bersama

Kenapa dunia begitu jahat pada mereka?

"Jongdae..."

Jongdae dan Kyungsoo langsung menegakkan tubuh mereka dan melihat Jongin sudah berdiri di hadapan mereka dengan wajah serius

"ada apa Jonginie?" tanya Kyungsoo lembut

Raut wajah Jongin mengeras, ia tetap memandang Jongdae, tanpa menjawab pertanyaan Kyungsoo

"jongdae, bisa bicara denganku sebentar?"

Jongdae mengernyit heran

.

.

.

.

.

.

Cklek

Namja itu melangkahkan kakinya masuk, mendekati kasur tempat gadis yang dicintainya berbaring

Ia memandangi wajah cantik itu

Wajahnya seperti malaikat

Manis sekali

Damai

Lembut

Malaikat yang dikirimkan oleh Tuhan, tapi ia tidak tahu

Apakah Tuhan benar mengirimkan malaikat ini untuknya atau tidak

Kim Minseok

Nama malaikat ini Kim Minseok

Jongdae mengecup kening Minseok lembut

"Saranghae..."

.

.

.

.

Flashback

"apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Jongdae

Jongin menghela napas pelan lalu memandang mata Jongdae sendu

"ini soal keadaan Minseok noona," jawabnya

"ada apa dengan Minseok?!" tanya Jongdae panik

"dokter bilang... ia kehilangan sebagian memorinya ketika kecelakaan itu terjadi, dan hal ini bisa berakibat permanen, maksudku... kalau sekarang ia tidak bisa mengingatmu, tapi bisa mengingat aku dan Kyungsoo... ada kemungkinan besar, ia tidak pernah bisa mengingatmu lagi..." jelas Kai lagi

Jongdae menatap Kai kosong

Minseok tidak bisa mengingatnya

Minseok tidak akan bisa mengingat tentang kenangan bersamanya

"jongdae..." panggil Kai

Jongdae mendengarnya

Tapi ia diam, ia tidak tahu harus bagaimana. Otaknya mati rasa, ia tidak bisa berpikir. Entahlah, seseorang yang kau cintai, tidak bisa mengingatmu, apa kau rasa ia akan baik-baik saja? Tidak kurasa tidak.

Flashback off

.

.

.

Minseok menggeliat pelan dalam tidurnya, tapi ia tidak terbangun, ia tidur sangat lelap. Seakan tidak ada yang boleh mengganggu tidurnya.

Tidak, tidak boleh ada yang mengganggu Minseok dan Jongdae tidak akan membiarkannya.

Jongdae memandang Minseok dalam diam, ia mengangkat tangannya lalu menyentuh puncak kepala Minseok, dan mengelusnya lembut.

"Tidur yang nyenyak Minseokie," ucapnya lembut

Minseok menggeliat pelan lalu mengerjapkan matanya.

"eoh? Kau?" kaget Minseok lalu mengusap matanya pelan

Jongdae menurunkan tangannya lalu tersenyum ke arah Minseok lembut.

sMinseok suka senyuman Jongdae, ia merasa senyumannya sangat lembut, dan senyuman itu dapat membuatnya merasa aman.

"kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Jongdae lembut

"ne?! Aniyo..." malu Minseok karena ketahuan memperhatikan Jongdae

Jongdae hanya tertawa kecil lalu menegakkan tubuhnya. Ia berdeham pelan lalu tersenyum ke arah Minseok.

"annyeong Minseokie, aku Kim Jongdae, maukah kau menjadi temanku?" ucap Jongdae

"ne?" bingung Minseok

Ia merasa deja vu, tapi ia tidak tahu kapan. Ia yakin tidak pernah mengenal Jongdae sebelumnya.

Jongdae. Namanya Jongdae. Namanya terasa familiar bagi Minseok

Minseok memandang dalam ke arah mata Jongdae. Lalu Jongdae mengulurkan tangannya ke arah Minseok.

Minseok memandang tangan dan mata Jongdae bergantian.

Tatapannya jatuh ke mata Jongdae.

Mata itu jernih, lembut dan tegas. Tapi secercah kesedihan timbul di sana. Entah apa, tapi Minseok ingin sekali menghapus kesedihan itu.

Tapi untuk apa? Minseok bukanlah siapa-siapa baginya.

Tidak Minseok, kau hanya belum tahu, atau mungkin lebih baik disebut lupa. Betapa kalian saling mencintai satu sama lain.

Ya

Jongdae ingin sekali menangis sekarang.

Airmatanya ia tahan mati-matian.

Minseok tidak mengingatnya. Maka ia memutuskan mengulang kenangan mereka dari awal. Masihkah ia diberikan kesempatan untuk mengulang kenangan mereka.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dokter sudah memperbolehkan Minseok untuk keluar ruang rawatnya. Minseok senang sekali, ia sudah sangat-sangat jenuh berada di kamar. Selama dua hari hanya melihat wajah Jongin, Kyungsoo, dan Jongdae yang baru ia kenal, menurutnya.

Minseok tersenyum lebar, sesekali menggoyang-goyangkan kakinya senang. Tak lupa Jongdae yang mendorong kursi rodanya dengan hati-hati.

"gomawo sudah mau menemaniku Jongdae-ssi," ucap Minseok senang

Jongdae tersenyum lembut lalu mengangguk mengiyakan.

Minseok memandang Jongdae dalam diam. Jongdae tampan dan baik, ia sangat perhatian padanya. Ia memang merasa mengenal Jongdae, tapi ia tidak pernah bisa ingat sedikitpun tentang Jongdae.

Sungguh, kalau bisa ia ingin sekali mengingat segala tentang namja yang ada di dekatnya ini.

Mereka masuk ke lift. Di dalam lift itu hanya ada mereka berdua, dan mereka hanya diam. Ya, Minseok sendiri tidak tahu bagaimana harus memulai pembicaraan dengan Jongdae, dan Minseok sendiri adalah tipe orang yang pendiam.

Sesaat kemudian pintu lift terbuka di lantai paling atas rumah sakit itu.

Di lantai 12 rumah sakit itu ada sebuah taman khusus untuk para pasien yang mereka sebut Taman Eden.

Dengan hati-hati Jongdae mendorong kursi roda Minseok memasuki taman itu. Taman itu memang benar-benar indah, berbagai tumbuhan hijau ditanam di sana.

Jongdae mendorong kursi roda Minseok sampai ke bawah pohon yang cukup rindang, udara di sana sangat sejuk.

Sesaat mereka lupa kalau mereka ada di rumah sakit.

Jongdae hanya berdiri dalam diam di samping Minseok. Minseok bahkan sampai salah tingkah karena keheningan di antara mereka.

"jong..."

"KIM JONGDAE!"

Minseok dan Jongdae menoleh kaget ke belakang

Kangin berjalan geram ke arah mereka diikuti Jongin dan Kyungsoo yang berlari panik di belakangnya.

Jongdae langsung membungkuk hormat ke arahnya

Tetapi kebalikannya Kangin langsung dengan geram mencengkeram kerah kemeja Jongdae kasar.

"Appa!" kaget Minseok

"Tuan Kim..." panggil Jongdae pelan

"Sudah kubilang jangan pernah dekati putriku! Dasar anak sial!"

Bugh

"APPA! Ini rumah sakit!"

"Lepas Jongin-ah! Appa harus beri anak ini pelajaran!"

Jongdae hanya terus menunduk

Jongin langsung menarik appanya dari Jongdae. Sementara Kyungsoo langsung menarik Minseok menjauh dari sana.

Minseok hanya bisa memandangi sosok Jongdae yang tersungkur dari jauh. Semakin jauh sampai sosok itu menghilang dari pandangannya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Cklek

Kyungsoo mendorong kursi roda Minseok hati-hati, lalu membantunya kembali berbaring di tempat tidurnya.

Dengan telaten Kyungsoo menyelimuti Minseok, tapi Minseok hanya memandangi Kyungsoo penasaran.

"Eonni istirahat saja ya, eonni ingin makan apa? Biar kubawakan," tawar Kyungsoo lembut

Minseok hanya menarik tangan Kyungsoo pelan lalu mengisyaratkannya untuk duduk di sampingnya.

"Kyungsoo... kenapa appa begitu membenci Jongdae?" tanya Minseok to the point

"ne?" sahut Kyungsoo bingung

"ehm... itu..."

Cklek

Belum sempat Kyungsoo menjawab, seorang namja berkulit tan muncul dari balik pintu kamar rawat Minseok

"Jongin-ah!" panggil Minseok

"Noona... kau tidak apa?" tanya Kai khawatir

Minseok menggeleng pelan

"Noona baik-baik saja, Jongdae?" tanya Minseok

Jongin memandang Minseok diam

Cklek

"Appa!" panggil Minseok kali ini

"Minseok-ah! Kau tidak apa?" tanya Kangin khawatir

Minseok tersenyum lalu menggeleng

Kangin memeluk Minseok erat

"Appa, aku tidak apa..." ucap Minseok lembut

"Maaf, appa tidak bisa melindungimu Minseok-ah, andai saja kau mendengarkan kata appa untuk tidak dekat-dekat dengan Jongdae, kau pasti tidak akan celaka sayang," omel Kangin khawatir

Dahi Minseok mengerut bingung

"Jongdae? Memang aku dan Jongdae kenapa?" tanya Minseok balik

Kangin melepaskan pelukannya lalu memandangi Minseok dan Jongin bingung seakan menyadari adanya kejanggalan.

"Kau tidak mengenali Jongdae?" tanya Kangin lagi

Minseok menggeleng

"Bukannya Jongdae itu temannya Kyungsoo? Aku baru mengenalnya kemarin," jelas Minseok

Kangin menoleh ke arah Jongin

"Tunggu sebentar Minseok-ah. Jongin! Kau harus bicara dengan appa," ucap Kangin lalu bangkit keluar dari kamar rawat Minseok

Jongin menghela napasnya pelan lalu mengikuti Kangin keluar, dengan Minseok yang memandangi mereka bingung.

.

.

.

.

.

.

.

Minseok memandang keluar jendela, hari itu cerah sekali dan ia merasa suasana hatinya pun ikut cerah.

Cklek

Minseok menoleh lalu tersenyum

"Appa..." panggilnya

Kangin masuk diikuti Jongin dan Kyungsoo di belakangnya

"Minseok-ah, maafkan appa tidak bisa menemanimu, appa harus segera berangkat ke Cina untuk menemuni klien, kau tidak apa disini ditemani Jongin dan Kyungsoo kan?" tanya Kangin lembut

Minseok tersenyum manis

"tentu saja appa! Tenanglah, aku bukan anak kecil lagi, lagipula ada Kyungsoo disini, aku pasti baik-baik saja," ucap Minseok lembut

"Kalau begitu appa pergi dulu ya," ucap Kangin lembut lalu mengecup dahi Minseok lembut

"Noona, aku mengantar appa dulu ya," tambah Jongin

Minseok mengangguk pelan sambil tersenyum

"Kyungsoo, ajussi titip Minseok padamu ya," ucap Kangin

"tenang saja ajussi, aku pasti akan menjaganya," jawab Kyungsoo lembut

Akhirnya tinggallah Minseok dan Kyungsoo berdua di kamar itu

"Eonni, ingin makan sesuatu?" tanya Kyungsoo
"Hm... Cappucino?" jawab Minseok semangat

"Eonni! Itu minuman bukan makanan, lagipula dokter belum mengijinkan kau minum kopi," kesal Kyungsoo

Minseok mempoutkan bibirnya lucu, Kyungsoo tertawa kecil melihat kelakuan orang yang lebih tua darinya tapi tidak terlihat seperti itu.

Cklek

Minseok dan Kyungsoo sama-sama menoleh ke arah pintu yang terbuka.

"Jongdae-ssi..." panggil Minseok

Jongdae tersenyum lalu berjalan mendekati Minseok dan Kyungsoo

"Annyeong Minseokie... kau mau jalan-jalan pagi? Hari ini cuacanya sangat cerah dan kurasa hal yang tepat untuk berjalan-jalan di pagi hari," ucap Jongdae

Minseok mengangguk semangat lalu menoleh ke arah Kyungsoo meminta persetujuan. Kyungsoo tersenyum lalu mengangguk mengiyakan.

Minseok tersenyum senang lalu menarik-narik lengan baju Jongdae. Jongdae terkekeh pelan lalu mengambil kursi roda yang ada di sudut ruangan, dan membantu Minseok untuk duduk di kursi rodanya.

Jongdae mendorong Minseok perlahan keluar kamar menuju ke taman.

Jongdae mencari sebuah pohon teduh lalu mendorong kursi roda Minseok sampai ke bawah pohon tersebut.

Minseok memandangi Jongdae yang berdiri di sampingnya, Jongdae tidak menatap ke arahnya, tapi memandangi langit yang terlihat sangat teduh pagi itu.

"jongdae-ssi, " panggil Minseok

Jongdae menoleh lalu menunduk menyamakan tinggi mereka

"ada apa Minseokie?" tanya Jongdae

"Kenapa appa membencimu?" tanya Minseok

Jongdae menatapnya bingung, ia tidak tahu harus menjawab apa, meskipun ia tahu jelas apa alasannya.

"Hm... karena kita berbeda, hanya itu yang bisa kukatakan, karena kalau kujelaskan, aku tidak yakin kau akan mengerti maksudku," jawab Jongdae

Minseok terdiam lalu menatap Jongdae.

Ia mengulurkan tangannya menyentuh pipi Jongdae pelan.

"Jongdae-ssi... bolehkah aku bertanya?" tanya gadis itu

Jongdae tersenyum

"Tentu saja," jawab Jongdae

"Kenapa kau baik sekali padaku? Padahal aku tidak bisa mengingatmu," ucap Minseok lembut

Jongdae hanya tersenyum lalu berjongkok menghadap Minseok yang duduk di kursi roda

"Ingatlah hal ini Minseokie, aku mencintaimu, bahkan ketika kau tidak lagi mengingatku, bahkan jika sepuluh tahun lagi kau melupakanku, aku akan tetap datang untuk mengingatkanmu tentangku, karena aku mencintaimu,"

Minseok terdiam di tempatnya, ia menatap mata Jongdae yang sedang menatapnya dalam.

Benarkah... benarkah kami pernah saling mencintai?

.

.

.

.

.

.

.

.

Sudah seminggu sejak ia keluar dari rumah sakit. Tapi appanya tidak mengijinkan ia keluar dari rumah selangkah pun.

Ia juga tidak mendengar kabar apapun dari Jongdae. Bahkan Kyungsoo dan Baekhyun pun tidak menjawab apapun ketika ditanya tentang Jongdae.

Minseok menghela napas pelan lalu mengambil salah satu buku yang belum sempat ia baca dan duduk di sofa yang ada di kamarnya, berusaha berkonsentrasi membaca bukunya. Tidak sampai lima menit ia sudah meletakkan kembali buku itu di pangkuannya.

Entah mengapa ia tidak bisa berkonsentrasi sedikitpun, di kepalanya hanya ada wajah Jongdae, dan ia merasa moodnya memburuk karena tidak tahu tentang kabar namja itu sampai sekarang.

Minseok menutup matanya lalu bersandar di sandaran sofanya berusaha menenangkan pikirannya.

"...karena aku mencintaimu..."

Kata-kata Jongdae kembali terngiang di pikirannya.

"Minseok-ah! Ayo makan malam!"

Minseok tersentak dari sofanya lalu segera berjalan keluar kamarnya.

Di ruang makan appa dan Jongin sudah menunggunya, sehingga ia langsung duduk di tempatnya, di depan Jongin.

Makan malam terasa sangat canggung, ditambah ekspresi wajah Jongin dan appanya yang sama-sama keras, seakan menentang satu sama lain.

"Appa akan menjodohkanmu Minseok-ah,"

Minseok mendongak kaget begitupun Jongin

"Appa! Kenapa tiba-tiba menjodohkan noona?" tanya Jongin kaget

"Kau tahu alasan appa," jawab Kangin

"Tapi appa..."

"Jangan membantah Jongin-ah!"

Minseok hanya diam, dia bahkan tidak mengerti maksud pembicaraan Jongin

"Tapi... noona baru saja sembuh, noona..."

"kubilang jangan membantah!" sentak Kangin sambil menatap Jongin geram.

Jongin baru saja akan bicara lagi, tetapi Minseok memegang tangannya, menahannya.

"Aku akan pergi, appa," ucapnya

"Noona!"

"Sudahlah..." bisiknya

"baguslah, besok siang kita akan pergi ke sana, Jongin, kau juga harus ikut dengan kami,"

Jongin hanya diam lalu berdiri dari kursinya dan masuk ke kamarnya.

"Kim Jongin!"

Jongin tidak menoleh hanya masuk ke dalam kamarnya dan tidak melanjutkan makan malamnya.

"sudah dewasa, tingkahnya masih seperti anak kecil!" gerutu Kangin

Minseok hanya diam tanpa berkata apapun, ia tidak mengerti apa yang terjadi, dan ia benar-benar tidak tahu apa yang membuat appa dan dongsaeng bertengkar seperti ini.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Mereka sampai di depan sebuah rumah besar dan luas lalu Kangin menghentikan mobilnya tepat di depan pintu depan rumah tersebut.

Kangin turun dari mobilnya saat melihat seorang pria paruh baya keluar dari rumah tersebut dengan wajah sumringah.

Minseok menarik tangan Jongin untuk mengajaknya turun. Jongin menghela napaspelan lalu turun dari mobil dengan malas.

"Perkenalkan Tuan Xi, ini putri sulungku, Kim Minseok," ucap Kangin begitu Minseok berdiri di sampingnya

Minseok tersenyum manis lalu membungkuk memberi salam.

"Annyeonghaseyo, Kim Minseok imnida," ucapnya

"Dia cantik sekali, manis dan sopan," ujar seorang wanita cantik di samping pria tersebut, sedangkan Minseok hanya membalas pujiannya dengan senyuman lagi

"lalu ini, putra bungsuku, Kim Jongin," ucap Kangin lagi

Jongin tersenyum tipis lalu membungkuk sama seperti yang dilakukan oleh Minseok

"putra putri mu tampan dan cantik sekali, oiya makan siang sudah siap, ayo masuk!" ajak wanita itu yang seperti nyonya di rumah itu.

Jongin dan Minseok mengangguk sambil tersenyum lalu membiarkan appanya masuk terlebih dahulu bersama Tuan Xi.

Minseok baru saja akan melangkah masuk, tapi langkahnya terhenti karena Jongin menahan lengannya.

"wae?"

"noona..."

"Sudahlah... aku akan baik-baik saja, ayo masuk," ucapnya berusaha menenangkan Jongin lalu menggandeng tangan adiknya itu masuk ke dalam.

.

.

.

.

.

.

.

"ah, aku senang sekali melihat putrimu Tuan Kim, dia sangatlah manis," puji nyonya Xi

Kangin tertawa keras lalu mengelus rambut Minseok dan merangkul pundak putrinya itu

"tentu saja, putri siapa dulu," balasnya

Sementara Minseok hanya membalasnya dengan senyuman

"Dimana dia? Masih belum pulang juga?" tanya Tuan Kim

"ah, sebentar lagi juga pulang, dia sedang pergi dengan sahabatnya seperti biasa," jawab nyonya Xi

"Memangnya kau tidak bilang kita ada tamu penting hari ini?" tanyanya lagi

"sudah kubilang kok!"

"Selamat datang tuan muda!" suara pelayan yang terdengar dari pintu depan menghentikan pembicaraan mereka

"oh! Itu pasti dia datang!"

Tak berapa lama setelahnya,

Seorang namja berkulit putih yang tidak terlalu tinggi masuk ke ruangan itu bersama seorang namja putih bertubuh tinggi di belakangnya.

"Perkenalkan... ini putraku, Xi Luhan..."

Minseok mendongak

Jantungnya berdegup kencang

Tampan

Sangat tampan

Benarkah ia manusia?

Xi Luhan

.

.

.

.

.

.

.

.

To Be continue

Note :

Terimakasih untuk readers tercinta yang sudah bersedia menunggu.

Lama banget

Iyah tahu kok, lama banget. Maaf yaaaaa

Ceritanya terhambat di ide sama waktu...

Well... enough with the nagging

Enjoy reading and dont forget to review!

Please support my oneshot story!

Thank You for your support!