Title : TheCherryOnTop

Pairing: SasuSaku

Disclaimer: I do not own Naruto, nor the story.

Warning: This is an Indonesian translation of ohwhatsherface's story with the same title. Done with permission.

Summary:

Sakura tidak pernah menjadi pusat perhatian, namun tiba- tiba semua orang memperhatikannya. Hal itu membuat Sakura melakukan sesuatu, Blog it! Tentu saja!


Chapter 8

.

.

TheCherryOnTop

Dibagikan pada Senin, 24 September 2.01 PM

Suasana Hati: Kecewa, sedikit. Tapi memikirkan kencanku membuat aku bahagia.

Musik: Terkadang kau hanya perlu menunjukan apa yang kau rasakan, sayang

Lokasi : Auditorium sekolah, sama seperti yang lainnya…

Subjek : Agar kalian tidak ketinggalan

Aku akan membuat postingan ini sesingkat mungkin, karena aku sedang mencoba memperhatikan pidato- pidatonya.

(Ya, benar!

Aku ingin mendengar siapa yang dipilih dan terpilih menjadi anggota Dewan Akademi di bagiannya masing- masing. Uh huh, Cherry sangat aktif dalam berpartisipasi! Kau juga harus begitu!)

-Taring dan Rubah sedikit bertengkar saat jam makan siang. Aku tidak begitu mengamati dari dekat, tapi aku harap itu ada hubungannya dengan Putri Malu!

-Sepertinya Sexy Boy tengah libur selama satu minggu, Pink Princess terlihat sedikit sedih, tapi tidak masalah, dia punya Pretty Boy.

-Anggur dan Pink Princess terlihat menjadi akrab. Tapi kita tidak bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi, kan?

Seperti yang aku katakan, entri ini pendek.

Aku sedang mencoba memperhatikan pidato- pidatonya.

KAU JUGA HARUS BEGITU!

Komentar

Komentar untuk 'Agar kalian tidak ketinggalan'

Dibagikan pada Senin, 24 September 4.33 PM

Subjek: (tidak ada subjek)

Blond'n'Beautiful : Baguslah, Cherry. Berpartisipasi dengan aktif di Dewan Akademi

Komentar untuk Blond'n'Beautiful

Dibagikan pada Senin, 24 September 4.38 PM

Subjek: Aku siswa yang baik, gituloh

TheCherryOnTop : Tidak masalah

Komentar untuk 'Agar kalian tidak ketinggalan'

Dibagikan pada Senin, 24 September 4.41 PM

Subjek: PERSETAN DENGAN DEWAN AKADEMI!

Sexy-In0 : Siapa yang peduli tentang pidato? Kau seharusnya konsentrasi saja dengan kencanmu, sayangku!

Komentar untuk Sexy-In0

Dibagikan pada Senin, 24 September 4.42 PM

Subjek: Kau juga salah satu anggota Dewan Akademi…(belum, tapi segera)

TheCherryOnTop: LOL, Aku sudah terlalu sering memikirkannya.

Komentar untuk TheCherryOnTop

Dibagikan pada Senin, 24 September 4.42 PM

Subjek: Iya sih. (Terimakasih sudah bilang begitu, kau manis sekali!)

Sexy-In0 : Tidak ada kata 'terlalu sering' dalam memikirkan kencan!

Komentar untuk Sexy-In0

Dibagikan pada Senin, 24 September 4.46 PM

Subjek: Oh, sama- sama!

TheCherryOnTop : Kau yakin?

Komentar untuk TheCherryOnTop

Dibagikan pada Senin, 24 September 4.42 PM

Subjek: Tentu saja aku yakin banget!

Sexy-In0 : Bersiap- siap saja. Tada kedengarannya seksi.

Komentar untuk Sexy-In0

Dibagikan pada Senin, 24 September 4.52 PM

Subjek: Dia MEMANG seksi!

TheCherryOnTop : Tada itu Dewa. DAN DIA MILIKKU (malam ini)!

TheCherryOnTop

Chapter Delapan

Pucuk akhirnya Bersemi!

"Jadi…"

Baiklah, ini tidak akan sampai ke mana- mana.

Yang Sasuke-kun katakan padaku sejak tadi hanya: "Ayo pergi."

Dan dia tidak mengatakannya dengan nada Uchihanya yang seksi. Dia mengatakannya dengan nada sebal seperti aku sangat mengganggunya dan dia sama sekali tidak mau pergi kencan yang sebenarnya adalah idenya sendiri!

"Kau mau kasih tahu atau tidak kemana kita akan pergi?!" aku mendesis, sebal (dan sangat sangat marah).

Sasuke-kun akhirnya berhenti berjalan dan aku menyadari kami telah sampai di tempat yang sangat familier ini. Oh. Mesin penjual otomatis! Apa- apaan sih?! Apa maksudnya dengan kencan itu adalah berciuman seperti biasa? Aku akan membunuh cowok ini—

Sasuke-kun mengambil sebuah kunci dari sakunya dan memasukannya ke slot pintu Kafetaria.

Tidak mungkin…

"Kenapa kau bisa punya kunci kafetaria?" aku memekik, saat Sasuke mendorongku memasuki ruang raksasa ini. Aku menatapnya, ia kembali menutup pintu kafetaria dan menguncinya dari dalam. "Sasuke-kun?!" Sasuke-kun terus mengabaikanku. Dia meraih lenganku dan menariknya ke arah dapur. Dia menutup kembali pintu dapur dan menyalakan lampu, "kau sudah mau bicara atau belum?"

Sasuke-kun tersenyum miring dan mengangguk.

"Maaf, aku tidak bisa memberitahu darimana aku dapat kuncinya," kata Sasuke-kun, melepas sweaternya (menunjukan tubuh berotot yang terbungkus kaos hitam tanpa lengan). Jujur saja aku ingin berteriak kegirangan kalau saja aku tidak takut dia akan menganggapku aneh. Sasuke-kun mengambil apron dan melemparkannya padaku. "Sudah pernah ada yang bilang belum, kalau kau itu cerewet sekali?"

Aku cemberut mendengar ejekan Sasuke, "iya."

Sasuke-kun kembali mengambil apron di tanganku (karena melihat aku tidak juga memakainya) dan berniat membantuku memasang apron, sambil menatap tepat ke dalam mataku (dengan mata Uchiha tajam dan seksinya, ia meraih belakang kepalaku untuk mengikat tali apron.).

Wow.

Ini sedikit panas.

"K-kau um…" aku menunduk (menatap dada indahnya) "aku bisa pakai sendiri!"

Sasuke-kun terlihat seperti mengerucutkan bibir namun aku tidak akan membuat harga dirinya terluka jadi aku bertingkah seperti tidak melihatnya.

"Sudah terlanjur aku ikatkan."

"Terus kenapa lenganmu masih melingkari tubuhku?" tanyaku terang- terangan.

Dan yap, kali ini aku yakin sekali bahwa pipinya memerah—

"Hn. Maaf." ucapnya, tidak terdengar menyesal sama sekali.

Sasuke-kun melangkah pergi dan berjalan menuju ruang pendingin. Dia masuk dan keluar beberapa menit kemudian, lengannya menahan beberapa bahan seperti adonan, keju, sekantong peperoni yang sudah siap dipotong, bacon, dan dua buah tomat. Setelah meletakannya di meja, ia mengambil beberapa kaleng entah berisi apa dari dalam kabinet. Terakhir, dia meraih pembuka kaleng dan spatula.

"Kita mau membuat pizza?" tanyaku setelah melihat semua bahan (dan tepung) yang memenuhi meja. "tapi aku tidak mau terlalu berharap. Aku tidak mau kecewa saat pada akhirnya mendengarmu bilang bahwa kita tidak akan membuat pizza. Kau terlalu sering membuat aku berharap tinggi tapi kemudian menjatuhkannya. Jadi sekarang aku tidak tahu harus berpikir seperti apa."

Aw sial.

"Apa aku baru saja mengatakannya keras- keras?"

Sasuke-kun yang tengah memutar- mutar pisau di tangannya mengangguk dengan senyum kecil di wajahnya.

"Ya, kita akan membuat pizza, dan ya, kau mengatakannya keras- keras." ia memotong adonan padat menjadi dua dan memberikan satu untukku. "Jadi, Sakura, cobalah bentuk adonannya menjadi lingkaran." Sasuke-kun mengajari, sambil melakukan hal yang dia instruksikan dengan adonan miliknya.

Dia selesai dengan cepat dalam membentuk adonannya.

Aku masih mencoba.

Aku mengintip dari balik adonanku yang masih berbentuk abstrak dan melihat Sasuke-kun yang tengah mengamatiku dengan seringai menyungging di bibirnya melihat kebodohanku.

(dia sudah selesai mengiris-iris tomat…)

YEAH BAIKLAH…

SILAHKAN TERTAWAKAN AKU, DASAR BRENGSEK!

"Aku baik- baik saja." kataku,sambil memegang adonan (walau dia sama sekali tidak mengatakan apapun). "Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan! Matamu sudah mengatakan segalanya saat bibirmu masih mengatup, seperti biasanya." Aku tahu, aku tahu, aku terlalu banyak bicara, "dan sekarang, matamu mengatakan 'Sakura, apa yang salah denganmu kau sama sekali tidak bisa memasak. Bagaimana kau bisa bertahan hidup?' Aku beritahu, ya, Sasuke. Aku bisa melakukan ini—"

Kalimatku terpotong saat irisan tomat memasuki sela bibirku.

Asam.

Aku mengunyah sayur itu (atau buah? Aku ingat pernah ada yang mengatakan bahwa tomat itu masuk ke dalam buah- buahan, terserah, bukan itu intinya) dan menatap Sasuke-kun tajam, saat ia mulai mengerjakan adonanku (wow, entah kenapa kalimat ini kedengaran sangat salah di telinga.). Bibirnya masih menyeringai.

Kami menikmati keheningan saat Sasuke masih menyiapkan makanan sedang aku hanya melihatnya.

(Apa gunanya aku memakai apron, sedangkan dia tidak, padahal yang mengerjakan semuanya adalah dia?!)

Sasuke-kun mendorong kaleng berisi saos pizza dan alat pembuka kaleng ke arahku, tanpa kata ia menyuruhku membukanya (dengan menatap mataku saja. Seperti kataku tadi, matanya bisa memberitahumu segalanya). Setelah aku berhasil membuka kaleng saus itu, ia menuangnya di atas pizza mini kami, kemudian menaburkan keju parut di atasnya. Di atas pizza miliknya, ia meletakan potongan tomat (wow, sederhana sekali…) dan di atas pizzaku, dia menambahkan bacon dan pepperoni. Saat ia meletakan keduanya ke dalam oven besar, aku baru sadar.

"Tunggu, bagaimana kau bisa tahu topping pizza yang aku suka?" tanyaku, bingung.

Ekspresinya sedikit menggelap, keheningan yang tadi terasa nyaman tiba- tiba saja menjadi dingin—

"Ya sudah, lupakan kalau aku pernah tanya," kataku cepat.

Aku mengatakannya sebelum dia bisa menjawabku dengan kalimat seperti 'itu bukan urusanmu' (yang sebenarnya adalah urusanku, aku tahu dia akan menjawabku begitu. Dengan hanya melihat matanya.) namun Sasuke-kun tetap mengatakannya (mengatakan itu bukan urusanku) dan mulai mengelap meja tempat dia membuat pizza (aku tidak akan bilang kami, karena aku sama sekali tidak melakukan apapun).

Waktu berlalu dengan canggung (setidaknya menurutku), beberapa menit kemudian Sasuke-kun menarik keluar pizza kami.

"Kau belajar masak darimana?" tanyaku, mencoba membuka obrolan sambil menggigit potongan lezat di tanganku.

Wajah lembut seperti penuh nostalgia tergambar di wajah Sasuke-kun, "dari ibuku." jawabnya. "Saat aku dan kakak masih kecil, beliau mengajarkan kami cara memasak." rona merah tipis membayang di pipinya namun segara ia tutupi sambil memelototi lantai. "Katanya pria yang bisa memasak akan lebih menarik untuk wanita."

Aku terkekeh (dan mencoba untuk tidak menunjukan kekagumanku, bahwa dia tidak hanya bisa memasak, tapi juga bisa berbicara!).

"Benar," kataku setuju, "ibumu baik sekali memberitahumu informasi seperti ini."

Kami makan dalam diam (yay, sekarang keheningan yang nyaman lagi!).

Tiba- tiba Sasuke mengangkat kepala dan menatapku, menyomot sedikit tepung dan melemparnya ke arahku.

Oh tidak.

"Sasuke-kun, kau…" aku mendesis, mengelap wajahku yang kini bertepung.

Dia menyeringai lebar.

AWAS SAJA—

Perang tepung dengan Sasuke-kun harus terhenti dengan cepat saat kami mendengar suara pintu kafetaria yang terbuka. Mataku melebar takut sambil melirik Sasuke yang merengut dan mengumpat. Dengan cepat ia meraih piring berisi pizza kami dan kaleng minuman dan memasukannye ke tempat sampah. Dia meraih sweaternya (dan membereskan semua barang bukti dan jejak yang tertinggal di dapur kafetaria) sedang tangan satunya lagi menggandengku.

"Siapa itu?" gumamnya, lebih ke dirinya sendiri namun aku masih mendengarnya.

"Tsunade-sama," jawabku cepat, refleks.

Sasuke melemparkan pandangan ingin tahu (mungkin bertanya- tanya bagaimana aku bisa tahu, dan kenapa aku seperti sangat yakin dengan jawabanku) membuat aku panik.

"Um… memangnya siapa lagi?"

Oke, aku tahu itu jawaban yang sangat bodoh, penjaga sekolah juga memegang kunci semua ruangan (mungkin). Sasuke-kun tidak sempat menanyakan pertanyaan di kepalanya karena kami mendengar pintu dapur terbuka perlahan.

"Masuk ke ruang pendingin," bisiknya, mendorongku.

Sasuke-kun menutup pintu setelah kami berdua masuk. Kami bersembunyi di balik rak berisi bahan makanan harian, dengan jarak yang sangat dekat (YA TUHAN!). Walau suhu ruangan dingin dan beku, aku masih merasa panas dengan cara Sasuke yang menekanku ke dinding dengan tubuhnya. Aku tahu saat ini bukan saat yang tepat untuk berpikir tentang ciuman panas dengan Sasuke-kun karena Tsunade-sama akan masuk ke sini untuk mengambil botol alkohol, tapi tetap saja. Dengan tubuhku yang terjepit di antara lemari dan tubuhnya, dengan ia yang sangat menekan tubuhku agar kami tidak terlihat (sepertinya), membuat aku ingin berteriak girang.

Aku hampir berteriak.

Tapi aku menahannya.

Pintu ruang pendingin terbuka dan aku menahan nafas.

"Hm…" Tsunade- sama menggumam lelah, "aku sedang ingin yang dingin malam ini…" Setelah beberapa menit mencari apa yang diinginkannya, (aku tidak bisa melihatnya, tapi mungkin Sasuke-kun bisa), Tsunade-sama akhirnya memilih sesuatu dan keluar dari ruang pendingin.

Saat ia telah pergi, kami berdua menghela nafas lega.

Satu menit berlalu dan kami masih berada di posisi yang sama.

Aku mencoba melihat mata Sasuke-kun namun kepalanya menunduk dan poninya menutupi matanya.

"Sasuke-kun, bisa lepaskan aku-"

"Aku mau kau menjadi pacarku," katanya, memotong ucapanku (dan membuat aku terkejut sampai ke dasar).

"Tunggu, apa—"

Aku tidak bisa meneruskan kalimatku karena lidahnya sudah mengisi mulutku.

Aku harap dia tahu bahwa aku akan mengatakan ya.

PAPAN BERITA SISWA

Leaf Akademi untuk mereka yang berprestasi

Rabu, 24 September

DEWAN AKADEMI

Saya, Temari Sabaku, Presiden Dewan Akademi tahun ini, berterimakasih kepada staf Leaf Akademi yang telah memberikan izin kepada siswa pulang lebih awal untuk melaksanakan upacara ini. Terimakasih kepada KepSek Tsunade yang telah memberi izin sehingga semua ini dapat terjadi. Terimakasih kepada Anggota Dewan Akademi lainnya yang telah membantu mengatur berjalannya acara. Terimakasih kepada para calon yang sudah memberikan waktunya untuk kami, dan terakhir, terimakasih kepada para siswa yang telah aktif berpartisipasi dalam pemilihan.

Sebagai pengingat, berikut adalah daftar anggota Dewan Akademi tahun ini:

Presiden– Temari Sabaku

Wakil Presiden– Karin Himitsu

Sekertaris – Ami Watanabe

Bendahara – Suigetsu Momochi

Humas – Ino Yamanaka

Perwakilan Tingkat 6 – Inari Senshu, Hanabi Hyuuga

Perwakilan Tingkat 7 - Akane Geretsu, Kaede Yoshio

Perwakilan Tingkat 8 – konohamaru Sarutobi, Moegi Warai

Perwakilan Tingkat 9 – Daichi Hogosha, Futaba Komoku

Perwakilan Tingkat 10 – Matsuri Iwai, Sasae Fuuma

Perwakilan Tingkat 11 – Shikamaru Nara, Kin Tsuchi

Perwakilan Tingkat 12 – Rock Lee, Tenten Metaru

Koordinator Penyemangat – Sakura Haruno

Sekali lagi, saya ucapkan terimakasih kepada semua yang ada di Leaf Akademi.

Tambahan, untuk anggota baru DA, akan diadakan rapat DA pada:

Rabu, 3 Oktober 12: 30 PM di Ruang Konferensi 1

Temari Sabaku

BUTUH TUTOR?

Kelas yang tersedia:

-Kimia

-Algebra

-Geometri

Hari yang tersedia:

-Hari Sekolah

-3.30 PM sampai 5.00PM

-06.00 PM sampai 7.00

-Akhir Pekan

-9.00 AM sampai 10.30 AM

-1.00 PM sampai 2.30 PM

Tutor oleh :

-Ino Yamanaka

-Kamar 302, Leaf Akademi

-(416) 341 9980

AKU BUTUH TUTOOR!

Utk biologi dan Literatur

Klo km siap menrima tantangan, tlg tlp NARUTO UZUMAKI atou tmui aq!

KAMAR 105!

Rabu, 26 September

The Leaflet: Koran Leaf Akademi

Staf Penasehat

-Tsunade- sama

-Deidara- sensei

Editor

-Shino Aburame

Reporter

-Neji Hyuuga

-Sakura Haruno

-Idate Morino

-Yakumo Kurama

-Ukon Tsuin

-Zaku Abumi

-Tayuya Kanmon

Ilustrator:

-Sai Byouga

-Kankurou Sabaku

Fotografer :

-Matsuri Iwai

-Gaara Sabaku

-Kasumi Afuro

"Hai."

"Hai…" jawabku melayang pada Sasuke-kun.

Selamat datang pada anniversary satu minggu-ku menjadi pacar Sasuke-kun!

Sudah resmi!

Kami adalah sebuah ikon.

(Dan Karin semakin membenciku!)

Aku sangat menikmati pemikiran 'oh, aku punya seorang kekasih' ini. Mungkin aku menikmatinya karena pacarku adalah Sasuke Uchiha dan setiap malam, kami selalu pergi ke dapur kafetaria untuk makan- malam- larut sebagai pengganti kencan. Terserah. Intinya adalah, hidupku tiba- tiba saja menjadi sangat menakjubkan.

Jangan cemas.

Aku bukan orang yang akan membuang segalanya saat datang perubahan hebat dalam hidup.

Aku masih makan makanan yang tidak sehat, aku masih bergosip setiap saat, aku masih menumpahkan seluruh hal yang aku pikirkan kepada Shikamaru, dan aku masih menjadi buronan Tsunade-sama.

Hanya ada sedikit perubahan:

1) Aku sekarang adalah seorang Koordinator Penyemangat (yang sampai sekarang masih aku coba cari tahu apa artinya)

(Oh, kenapa aku tidak menceritakan bagaimana hal ini bisa terjadi? Jadi, ini hanya sebuah kesalahan bodoh! UGH!

Jadi, setelah keluar dari kantor Tsunade- sama dengan panik, aku hampir bertabrakan dengan Lee, saingan kampanyeku. Aku minta maaf dan kemudian:

Aku : "Oops, Maaf Lee, aku tidak sengaja menabrakmu!"

Lee: " Sakura-san, kau semakin cantik saja jika dibandingkan dengan terakhir kali aku melihatmu! Menyenangkan sekali!"

Aku: "Kau melihatku pagi ini. Kita satu kelas di Matematika."

Lee: "Ada berita yang harus aku sampaikan padamu, Sakura-san."

Aku: "Apa itu?"

Lee: "Aku mengundurkan diri sebagai calon Koordinator Penyemangat."

Aku: "Tunggu, APA?"

Lee: "Aku disuruh memilih menjadi perwakilan kelas atau Koordinator Penyemangat."

Aku: "Kalau begitu pilih menjadi Koordinator Penyemangat saja! Lee, tidak ada orang yang lebih bersemangat daripada kau—"

Lee: "Terimakasih pujianmu, Sakura-san, tapi aku merasa lebih baik mewakili tingkatanku."

Aku: "Tidak Lee! Kau punya semangat masa muda! Apa yang lebih baik dari Koordinator Penyemangat? Kau tidak boleh mundur!"

Lee: "Tapi Sakura-san, aku merasa itu adalah sebuah keharusan."

Aku: "TIDAAAAK!"

Lee: "Kau sekarang sudah otomatis menjadi Koordinator Penyemangat sekolah tahun ini. Selamat!"

Aku: "TUNGGU! AKU BAHKAN TIDAK TAHU APA ITU KOORDINATOR PENYEMANGAT!"

Dan begitulah.

Aku sudah berniat bunuh diri.

—tapi tidak jadi karena aku ada kencan dengan Sasuke-kun malam itu. Iya)

2) Aku menjadi anggota The Leaflet (menakjubkan banget kan?!)

3) Aku mendapatkan perhatian dari seluruh sekolah hanya dalam waktu satu bulan (aku masih belum yakin kalau ini adalah hal baik) dan

4) Aku adalah pacar dari sang Sasuke Uchiha

"Aku temani jalan ke kelas kimia." kata Sasuke-kun, meraih textbook raksasa dari lenganku.

(YA TUHAN… KSATRIA SEKALI!)

"M-Makasih," gumamku, senang karena beban berat yang aku bawa sudah berpindah tangan, "jadi.."

"Permisi!"

Aku mendongak dari Sasuke-kun dan melihat seorang gadis yang berdiri di depan kami, memegang edisi terbaru dari The Leaflet. Koran edisi pertama tahun ini sudah diterbitkan Jumat kemarin. Dia terlihat sedikit lebih muda dari aku, mungkin tingkat Sembilan atau sepuluh. Rambutnya coklat pendek (mungkin sama panjangnya dengan rambutku), matanya gelap. Dia terlihat sangat pemalu, namun sedikit familiar—oh iya, dia adalah gadis yang akrab dengan Gaara (atau Ai; cowok rambut merah yang sangat tampan; adik laki- laki Temari atau Kipas) pagi ini! Mereka sarapan bersama di Kafetaria. Dia menyuapi Gaara! Aku tidak membawa Blackberryku sekarang (sedang aku charging di kamar) namun berita ini akan segera ada di TheCherryOnTop.

Benar!

"Hai," ia menyapa dengan senyumnya. "Maaf mengganggu, Sakura-san. Mungkin kau tidak ingat aku, aku fotografer di The Leaflet, namaku M-"

"Matsuri," lanjutku, mengangguk, "iya, foto- fotomu keren."

Dia merona mendengar pujianku, "t-terimakasih, Sakura-san." Ia menunjukan Koran di tangannya, tepat di bagian di mana artikelku dimuat—artikel tentang 'Jalang'. "Aku hanya mau mengatakan kalau kau adalah seorang penulis yang hebat."

Sasuke-kun mengangkat sebelah alis mengejek, aku memelototi Sasuke-kun.

"Terimakasih, Matsuri, kau sungguh baik—"

"Aku serius," Matsuri meneruskan, "Artikelmu sangat menakjubkan. Aku sangat bahagia akhirnya ada yang menulis tentang ini. Kau sangat benar, kata ini sudah terlalu sering dilemparkan oleh remaja, khususnya cewek. Padahal dalam kenyataannya, tidak ada yang benar- benar tahu apa artinya!"

"Sungguh, terimakasih, tapi—"

Dia tidak mengerti situasiku (maksudku, situasi yang mengatakan bahwa 'hello, pacar seksiku ada di sini, dan aku akan telat masuk kelas! Kau gadis yang manis dan sebagainya, tapi bisakah kau memuji aku nanti saja?')

"Kau sangat berani menulis sesuatu yang seperti ini dan menulisnya dengan nama aslimu!" lanjutnya. "Aku yakin kau membuat marah banyak orang dengan apa yang kau tulis."

Kalimat terakhirnya menghantamku, karena dia benar.

Aku rasa aku sudah terlalu mendapatkan banyak perhatian sekarang—

"Hey, Matsuri!" panggil temannya, berjalan menghampiri kami. Ia menatap Sasuke-kun selama beberapa lama (yang kemudian aku pelototi) sebelum menatapku. "Kau si gadis Sakura Haruno itu, kan?" pertanyaan retorik, tentu saja. "Kau penulis yang hebat, tapi gayamu itu agak… kau seperti meniru Cherry."

Senyumku memudar seketika.

Aku meniru Cherry?

(SIALAN, AKU MEMANG CHERRY!)

Sasuke-kun akhirnya berbicara, "Iya, Sakura, aku juga baca artikelmu. Sedikit mirip dengan blog gosip itu…"

"Jangan salah paham," teman Matsuri yang entah siapa namanya melanjutkan, "aku berpikir kau keren karena mau membela orang yang dipanggil jalang, tapi…hmm.." dia merengut seperti sedang berpikir. "Kau tahu sendiri kan, setiap penulis punya gayanya sendiri?" Retorik lagi, yeah, aku tahu apa yang ia maksud. "Aku pikir mungkin kau punya gayamu sendiri, tapi itu terlihat sangat mirip dengan TheCherryOnTop." dia tersenyum padaku (mati saja kau). "Kau pasti penggemarnya ya, sampai bisa menulis hal dengan mirip begitu."

Aku merengut.

(Mau bagaimana lagi.)

"Iya…"

Sasuke-kun (terimakasih) membersihkan tenggorokannya.

"Kau akan telat masuk kelas…"

Aku (memalsukan) sebuah senyuman untuk mereka.

(tidak untuk mereka berdua, hanya untuk teman Matsuri. Aku tidak suka dia, tapi aku suka Matsuri. Dia sangat manis.)

"Iya, kau benar," sahutku. Aku melambai "kami pergi dulu, ya. Sampai jumpa nanti!"

Dengan itu, aku menarik Sasuke-kun menjauh menuju kelas kimiaku.

TheCherryOnTop

Dibagikan pada Senin, 1 Oktober 2.39 PM

Suasana Hati: Sedikit tergoncang, hanya sedikit loh

Musik: Aku bisa menjadi hal paling nakal yang bisa seorang lelaki bayangkan

Lokasi : Menunggu kelas dimulai, memakai Blackberry teman yang bisa dipercaya.

Subjek : Mereka semua jatuh

Aku membaca Koran sekolah hari ini.

Ada seorang kolomis yang menulis sebuah artikel yang terlihat seperti itu ditulis olehku…

(Che, dasar pecundang, beraninya meniru gayaku?!)

(Oke, bercanda!)

Hm, baiklah, itu artikel yang bagus, kalau menurutku. Aku setuju dengan pendapatnya. Kata 'jalang' memang sudah terlalu banyak dipakai tidak pada tempatnya.

Terserahlah—

Aku hanya mau membersihkan udara.

Dan aku punya banyak gosip! Tapi aku tidak bisa menulisnya sekarang karena kelas akan segera dimulai.

Malam ini, ya!

Cherry, pergi.

Komentar

Komentar untuk 'Mereka semua jatuh'

Dibagikan pada Senin, 1 Oktober 2.44 PM

Subjek: Aku setuju denganmu

AceOfSpades5: Cherry Sayang, aku yang menemukan bakat itu dan menerbitkannya.

Komentar untuk AceOfSpades5

Dibagikan pada Senin, 1 Oktober 2.46 PM

Subjek: Tentu saja

TheCherryOnTop: Karena sudah menemukan 'Sakura Haruno' dan memberikan dia kesempatan, kau memang wanita yang bijaksana, KepSek.

Komentar untuk TheCherryOnTop

Dibagikan pada Senin, 1 Oktober 2.49 PM

Subjek: Walau ada sesuatu

AceOfSpades5: Namun aneh, karena cara dia menulis mirip denganmu...

Komentar untuk AceOfSpades5

Dibagikan pada Senin, 1 Oktober 2.55 PM

Subjek: Karena aku sekeren itu

TheCherryOnTop: Aku senang ada orang yang mengapresiasi tulisanku dan mengikutinya. (walau tidak akan mungkin bisa sekeren aku…)

Komentar untuk TheCherryOnTop

Dibagikan pada Senin, 1 Oktober 2.57 PM

Subjek: Jelas

AceOfSpades5: Mungkin.

Saat lonceng berdering, aku mengembalikan blackberry Shikamaru. Aku mulai mengemas barang dan menunggu semua siswa meninggalkan ruangan.

(SASUKE-KUN BILANG DIA AKAN MENJEMPUTKU SETELAH KELAS SELESAI! AKU PIKIR HAL SEMACAM INI HANYA TERJADI DI FILM SAJA!)

"Haruno."

Aku menatap ke arah depan kelas, di mana Sexy-sensei berada. Dia sudah pergi selama satu minggu dan ya ampun, dia semakin seksi saja. Aku sudah tidak sabar menunggu sesi ciuman—

Oh. Sial.

"Itachi-sensei…" responku canggung. Sial, aku harus bagaimana sekarang?! Aku tidak bisa berciuman dengannya. Aku adalah kekasih Sasuke-kun sekarang! Sexy-sensei—bukan, Itachi- sensei adalah kakak dari Sasuke-kun, Sexy-sensei (SIAL! ITACHI-SENSEI!) dan aku tidak bisa lagi berhubungan (selain yang berhubungan dengan sekolah.) "Um.." dia mulai berjalan mendekat dan semakin mendekat sampai berdiri tepat di hadapanku (kenapa Kurenai-sensei selalu meninggalkan ruangan sebelum semua orang pergi, tepat setelah lonceng berbunyi? Oh ya, karena dia harus pergi untuk 'melihat' Asuma-sensesi. Catatan untuk diri sendiri : masukan itu ke dalam blog malam ini.)

"Er.."

"Sakura."

Tunggu—

Sexy-sensei—maksudku, Itachi-sensei (Aku bersumpah, setelah ini aku pasti akan benar) memanggilku 'Sakura-chan'…

Bertarung dengan keinginan untuk terus menatap dada Sexy-sensei (baiklah, aku menyerah untuk memanggil nama aslinya), aku memutar kepala ke arah pintu di mana Sasuke-kun berdiri, terlihat sedikit curiga (APA-APAAN? AKU BELUM MENCIUM SEXY-SENSEI! KENAPA KAU MENATAP KAMI SEPERTI ITU?!) dan tidak sabar.

Sasuke-kun berjalan masuk ke dalam kelas dan berdiri di sebelahku.

Aku tersenyum canggung padanya dan kemudian kembali melirik Sexy-sensei, yang masih berdiri di depanku. "H-Hai, Sasuke-kun!" sapaku, namun ia tidak menanggapi.

Aku sekarang sedang berada di antara kontes saling menatap tajam dua pemuda yang sangat seksi.

(Mereka terlihat seperti akan berciuman.)

Wow.

(Aku jadi sedikit bergairah.)

"Er…"

Sasuke-kun memutuskan pandangan terlebih dulu lalu menatapku (OH SIAL). "Sakura—"

"Apa yang kau lakukan di sini, adik?" Sexy-sensei (Iya, benar, Sexy-sensei. Aku kan sudah bilang aku menyerah memanggilnya Itachi-sensei, ingat?!) bertanya, menyandarkan punggung (tegap, indah, seksi)nya di meja yang tepat berada di depan mejaku.

"Aku menjemput pacarku," jawab Sasuke-kun lembut, seperti mencoba menyombongkan diri (bukan menyombongkan diri bahwa aku pacarnya seperti caraku yang menyombongkan diri bahwa dia pacarku, karena, hey, memang apa bagusnya punya pacar yang tidak pernah diperhatikan oleh orang lain. Bukan, dia menyombongkan diri karena dia sudah punya pacar, menurutku, sih.)

Sexy-sensei menaikan sebelah alisnya, melemparkan pandangan padaku—

"Kau mengencani Haruno?" tanya Sexy-sensei, terdengar terkejut. "Sejak kapan?"

"Baru- baru ini," jawab pacar tercintaku. "sejak hari Senin."

(Kakak-beradik ini sama sekali tidak memberikan aku kesempatan untuk berbicara, sial!)

"Begitu ya," Sexy-sensei melakukan gerakan seperti menggosok dagunya (itu loh, gerakan yang sering dilakukan saat orang sedang mencoba mencerna suatu informasi). Bibirnya membentuk sebuah senyuman rahasia (rahasia untuk Sasuke-kun, setidaknya). "Menakjubkan sekali, apa yang bisa terjadi saat aku pergi selama satu minggu."

Aku mengangguk- angguk setuju.

"Iya, Itachi-sensei!" aku berteriak, "Aku adalah seorang Koordinator Penyemangat dan Reporter di The Leaflet!"

(Berharap ini bisa mengubah subjek dari 'Sakura dan Sasuke berkencan'…)

"Benarkah?" kata Sexy-sensei.

"Benar!" kataku dan Sasuke-kun bersamaan, terdengar—

Sama.

(dan saat aku bilang sama, maksudku adalah bahwa Sasuke-kun juga terdengar sekonyol aku. Ya tuhan aku bingung sekali.)

"Hm…" Sexy-sensei tersenyum penuh rahasia dan aku tahu apa yang sedang ada dalam kepalanya. Aku menatapnya memohon, saat Sasuke-kun tidak memperhatikanku, lewat mataku, aku memohon agar dia tidak mengatakan apapun tentang kegiatan terlarangku dengannya sepulang sekolah (iya, aku juga bisa berbicara menggunakan mataku juga, tahu!) "Well, adik punya pacar. Ini harus dirayakan."

Tubuh Sasuke-kun menegang sedikit, tapi aku tidak menyadarinya karena aku terlalu sibuk mengangga mendengar kalimat Sexy-sensei.

"Dirayakan…?" ulangku aneh.

Sexy-sensei menyeringai dan menganggukan kepala tampannya.

"Iya, aku harus membawa kalian berdua keluar untuk makan malam besok sore." kata Sexy-sensei.

Sasuke-kun menatapnya tajam.

"Itu tidak perlu…"

"Ini harus!" kata Sexy-sensei, "tidak setiap hari adikku membuktikan bahwa dia bukan seorang aseksual." Ia menatapku dengan pandangan yang lebih professional. "Haruno, besok jangan pergi dulu setelah pelajaran selesai. Kita akan membicarakan tentang tes kimiamu. Aku tidak mau kau terus mendapat nilai enampuluh. Setelah itu, kau, pacarmu dan aku akan pergi ke kota untuk makan malam. Aku yang traktir."

Dengan memikirkan makan malam gratis, aku tergoda untuk menyetujuinya.

Namun memikirkan pergi ke suatu tempat dengan dia yang sekarang aku kencani dan dia yang pernah menjalin hubungan—ciuman— denganku itu sedikit…

Itu membuat aku merasa sangat tidak nyaman—

"Baiklah."

Mataku melebar, aku menatap Sasuke-kun tidak percaya. Pemuda itu memasang wajah datar seperti biasa setelah menjawab.

Dalam hati, aku mendesah. Sexy-sensei jelas- jelas ingin mengerjai adiknya, dan Sasuke-kun kenapa mengiyakan begitu saja?! Kenapa Sasuke-kun menyetujui agar kami pergi dengan kakaknya besok sore?!

Seringai Sexy-sensei melebar—

(oh boy.)

—dan dia memandangiku seperti itu.

Bukan memandangku seperti 'aku menginginkanmu', bukan juga pandangan 'apa yang salah denganmu'. Pandangannya itu seperti kombinasi dari 'Oh, habislah kau' dan 'Ha, aku tahu rahasiamu' yang membuatku semakin gugup.

Sexy-sensei mengangguk.

"Bagus."

TheCherryOnTop

Dibagikan pada Senin, 1 Oktober 6.21 PM

Suasana Hati: Gugup. gusar- gundah- gugup

Musik: Aku butuh waktu untuk memperbaiki masalah ini

Lokasi : Sendiri, di mana tidak ada dirimu

Subjek : Dan suratmu di sini

Halo, pembaca tersayangku!

Bagaimana kabarmu hari ini?

Cherry baik.

Sepertinya.

Bisa dibilang begitu.

Terimakasih sudah bertanya.

Ayo mulai bergosip:

-Ai bermesraan dengan pacarnya (sepertinya), saling menyuapi pagi ini. MANIS BANGET KAN?!

-Pink Princess sedang dalam kesulitan. Dia akan terjebak di antara Pretty Boy dan Sexy Boy dalam waktu yang sama. OW, menegangkan.

-Kecemburuan dan keposesifan Kopi Susu kembali muncul, Gadis Cepol tidak senang. Mereka sedang 'off' lagi sekarang. Sedih…

-Merah Tua meninggalkan kelas lebih awal hari ini untuk bermesraan dengan Nikotin. Mereka mungkin ada di atap, atau di bawah kursi penonton di lapangan.

-Bajak Laut telat hampir setengah hari yang penting, mungkin dia terlalu sibuk melakukan 'sesuatu' dengan Pecinta Ular. YESSH!

-Merepotkan pergi berkencan dengan kekasihnya (yang sekarang) Kipas, namun momen itu dirusak oleh Harpa.

-Kacamata mencoba melupakan Pretty Boy dengan sering bertemu dengan Akua, namun mungkin dia sedang merencanakan sesuatu untuk Pink Princess.

—cukup segitu dulu, ya.

Sekarang saatnya untukku!

Tada dan Cherry resmi berpacaran.

Tada dan Cherry resmi berpacaran.

Tada dan Cherry resmi berpacaran.

TADA DAN CHERRY RESMI BERPACARAN!

-er, namun kami sekarang sedang menghadapi maslah kecil yang berhubungan dengan mantan (bisa dibilang begitu)ku.

Namun tidak masalah!

Aku tidak akan membiarkan hubunganku dengan Tada hancur.

Komentar untuk 'Dan suratmu di sini'

Dibagikan pada Senin, 1 Oktober 6.25 PM

Subjek: Beruntung sekali kau

10-10: LOL. Cherry, kau harus berhenti pamer, kau membuat kami merasa tidak beruntung.

Komentar untuk 10-10

Dibagikan pada Senin, 1 Oktober 6.27 PM

Subjek: Jelas

TheCherryOnTop: Aw, maaf. Apa yang membuatmu merasa lebih baik?

Komentar untuk TheCherryOnTop

Dibagikan pada Senin, 1 Oktober 6.28 PM

Subjek: LOL. Oke, SERIUSAN, berhenti pamer!

10-10: Bagaimana kalau kau meluruskan pacarku dan membuatnya tidak cemburu setiap saat? Dia tidak mengizinkan aku berbicara kepada anak cowok. Sama sekali. Padahal aku tomboy dan kebanyakan temanku laki- laki! Aku tidak tahu kenapa dia posesif banget! Menjengkelkan.

Komentar untuk 10-10

Dibagikan pada Senin, 1 Oktober 6.30 PM

Subjek: Baiklah, baiklah. Tidak perlu cemburu!

TheCherryOnTop : Meluruskannya kedengarannya sangat menggoda (untuk kebaikan semua wanita), namun sepertinya aku tidak bisa melakukannya, sayang. Yang bisa aku lakukan adalah memberimu nasehat (yang bisa kau terima kalau kau mau, terserah kau). Mungkin kau harus mengatakan padanya bagaimana perasaanmu. Apa kalian pernah mengobrol hati- ke hati tentang masalah kecemburuannya ini?

Komentar untuk TheCherryOnTop

Dibagikan pada Senin, 1 Oktober 6.31 PM

Subjek: B*tch puh-leaze!

10-10: Mmm. Belum…

Komentar untuk 10-10

Dibagikan pada Senin, 1 Oktober 6.30 PM

Subjek: (tidak ada subjek)

TheCherryOnTop : Kalau begitu cobalah.

Komentar untuk TheCherryOnTop

Dibagikan pada Senin, 1 Oktober 6.35 PM

Subjek: Oh, baiklah

10-10: Oke, Cherry. Aku akan melakukan apa yang kau bilang. Akan aku beri tahu hasilnya nanti.

Komentar untuk 10-10

Dibagikan pada Senin, 1 Oktober 6.38 PM

Subjek: (tidak ada subjek)

TheCherryOnTop : Tidak perlu, aku bisa mencaritahu hasilnya sendiri. Sungguh, mengatakan perasaanmu kepada orang lain selalu membuat hasil yang berbeda.

Komentar untuk TheCherryOnTop

Dibagikan pada Senin, 1 Oktober 6.35 PM

Subjek: (tidak ada subjek)

10-10: Bedanya sangat besar.

Komentar untuk 'Dan suratmu di sini'

Dibagikan pada Senin, 1 Oktober 7.22 PM

Subjek: Maju terus LEAF Akademi!

Lazy1: tidak ada yang memperlihatkan semangat melebihi kau, Cherry.

Komentar untuk Lazy1

Dibagikan pada Senin, 1 Oktober 7.23 PM

Subjek: Hey, ini musim gugur. Daun akan berguguran.

TheCherryOnTop: Ke neraka saja sana!

Komentar untuk TheCherryOnTop

Dibagikan pada Senin, 1 Oktober 7.26 PM

Subjek: Setelah itu kita bisa melompat ke atasnya. Lalu tidur…

Lazy1: Tidak sungguh, kau adalah mascot sekolah kita.

Komentar untuk Lazy1

Dibagikan pada Senin, 1 Oktober 7.28 PM

Subjek: Tidur itu ide yang spektakuler

TheCherryOnTop: Apa seharusnya aku merasa terhina karenanya?

Komentar untuk TheCherryOnTop

Dibagikan pada Senin, 1 Oktober 7.30 PM

Subjek: Memang apa yang lebih baik dari tidur?

Lazy1: Aku tidak bercanda, kau mewakili Leaf Akademi

Komentar untuk Lazy1

Dibagikan pada Senin, 1 Oktober 7.32 PM

Subjek: Hm…Pizza…?

TheCherryOnTop: Jadi apa, besok kalau ada festival olahraga, harus ada orang yang memakai kostum cherry?

Komentar untuk TheCherryOnTop

Dibagikan pada Senin, 1 Oktober 7.35 PM

Subjek: Tidak, tidur mengalahkan semua makanan

Lazy1: Itu benar.

Komentar untuk Lazy1

Dibagikan pada Senin, 1 Oktober 7.37 PM

Subjek: Mungkin. Mungkin tidak.

TheCherryOnTop : Aku membencimu! Kau tidak lucu!

Hampir jam delapan malam dan aku masih berada di kantor The Leaflet.

'Kenapa?' mungkin ada yang bertanya.

Well, itu karena aku punya meja kerja sendiri!

Sekarang aku sendirian, Shino (aku tidak pernah mengira dia tipikal penulis) sudah pergi dan melemparkan kuncinya padaku. Dia mengatakan bahwa aku harus mengunci ruangan kalau aku mau pergi. Sebenarnya tidak ada yang spesial dengan 'mejaku', tentu saja. Hanya meja dari kayu cherry (apakah ada pesan tersembuyi dibalik ini?) dengan dua laci di sisi, satu kap tempat aku meletakan berbagai macam bulpoin dan dan pensil, dan tempat menyimpan kertas. Ada laptopku juga (yang akan aku bawa pergi, nanti).

Meja milikku.

(SEMUANYA MILIKKU!)

"Sakura?"

Aku berhenti memutar kursi untuk melihat siapa yang memanggilku.

Oh.

Itu sang musuh.

"Hai.." aku tersenyum dan melambaikan tangan. "Selamat malam, Tsunade-sama. Apa yang anda lakukan selarut ini di sini?"

"Aku juga akan bertanya hal yang sama padamu," timpal Tsunade-sama, dengan alis terangkat menatapku. Dia merengut, walau aku tahu dia tidak sedang marah. Tsunade-sama melangkah ke arahku dan menyandar di meja, setengah duduk. "Apa kau sedang mengerjakan artikelmu yang selanjutnya?"

Aku mengangguk.

"Kau punya banyak waktu, tahu kan." katanya. "Kami menerbitkan edisi selanjutnya minggu depan,tapi kalau kau mengerjakannya sekarang aku yakin akan bagus." Tsunade-sama mengambil Koran yang ada di mejaku dan membolak-baliknya sambil melirik layar laptopku. "Kau tahu, kadang aku tidak mengerti…"

"Huh?" tanyaku.

Apa dia sedang berbicara padaku, atau sedang berbicara sendiri?

Tsunade-sama menunjuk segi empat yang ada di bawah halaman.

Berwarna merah muda dengan sepasang ceri, lambang website TheCherryOnTop yang ditulis dengan huruf semi-kaligrafi.

"Aku tidak mengerti kenapa aku mengizinkan website ini untuk terus diiklankan di sini."

Benar.

Aku juga tidak mengerti.

Tsunade-sama melarang adanya TheCherryOnTop namun mengizinkan banner kecil yang mengiklankannya di Koran.

Kenapa?

"Mungkin," mulaiku pelan, berusaha hati- hati dengan apa yang akan aku ucapkan. "anda membiarkannya karena sebelum melarang blog itu, anda ingin menemukan siapa bloggernya terlebih dulu. Anda tahu pasti jika anda tidak mengizinkan para siswa untuk membacanya, maka Cherry akan menghentikan apa yang dia lakukan. Dengan itu maka anda tidak bisa mendapatkan petunjuk lagi, dan tidak bisa tahu identitasnya sampai akhir." Aku menurunkan layar laptopku dan bertemu dengan sepasang mata Tsunade-sama, tersenyum miring. "Terkadang, Tsunade-sama, kita membiarkan rasa ingin tahu mengalahkan segalanya."

Dia tersenyum balik, dan meletakan Koran kembali di mejaku.

(AKU PUNYA MEJA! AKU PUNYA MEJA! AKU PUNYA MEJAKU SENDIRI!)

"Spekulasi yang bagus," jawab tsunade-sama, menatap reaksiku dengan intens.

Namun aku lebih baik.

Aku bertingkah normal.

"Mungkin itu yang dilakukan Cherry." Ia meneruskan, terlihat berpikir. Aku menyandar di kursiku dan menatap Tsunade-sama dengan pandangan bertanya. "Empat tahun lalu saat dia mulai menulis di blognya, mungkin Cherry membiarkan rasa ingin tahunya mengalahkan segalanya."

"Memang dia ingin tahu apa?" tanyaku, sekali lagi dengan hati- hati.

"Ingin tahu reaksi orang- orang," jawab Tsunade-sama, "mungkin dia ingin tahu pendapat orang tentang blog yang isinya gosip. Mungkin dia ingin tahu bagaimana rasanya memiliki penggemar, walau sebenarnya mereka bukan pengemar yang sebenarnya, karena tulisan itu adalah sebuah manifestasi dari sebuah alter ego. Mungkin dia ingin tahu bagaimana rasanya jika kalimatnya bisa mempengaruhi orang- orang."

Aku merengut menatap Tsunade-sama karena aku sangat bingung.

Apakah dulu aku hanya ingin tahu tentang reaksi orang- orang saat aku memulai blog?

Tsunade-sama tersenyum.

"Atau mungkin dia hanya ingin diperhatikan."

Aku mengangguk.

Mungkin.


ThanksTo: ai. uchiharunochan, sakura sweetpea, Rhein98, Y0ktf, Cherrynia Uchiha, caesarpuspita, AadeUchira, Salada98, ToruPerri , Aumu aida, Rachel-Chan Uchiharuno Hime, Uchiha Jidat, misakiken, Ryouta Kouyuki, kura cakun, Nurulita as Lita-san, Liana Zhafirna , SaSaSarada-chan , AoRizuki , Tsuragi De Lelouch, Bluedark

AN : Aku nggak percaya aku butuh waktu lamaa banget untuk chapter ini. Seriusan, Eve niat update dalam satu atau dua hari setelah chapter lalu, tapi apa daya deadline lain lagi too much to handle untuk sekedar upload ini. Gomenasaai.

Buat yang sebel sama kelakuan Sakura yang not-so-genius, dan terkesan nggak mikir panjang saat nerima tawaran Tsunade, sepertinya harus tahan untuk sementara. Give her a break, will ya? Sakura itu remaja cewek, masih SMA, umur enambelas, jelas dia ada sisi clumsy-nya walaupun dikit (yang biasa dia tutupi pake topeng invisible—dan sekarang topeng itu sedikit tersibak demi cerita biar nggak jalan ditempat.). Gimana first-datenya SasuSaku? Kalian pernah dimasakin juga pas lagi kencan? Eve sering dong, soalnya dia masak lebih lezat daripada aku :')

P.S: something sweeter is on its way loh…

Anyway, Terimakasih sudah membaca.

Kritik, saran dan pendapat silahkan sampaikan lewat review.

-with cherry on top-

.the autumn evening.