Title : TheCherryOnTop
Pairing: SasuSaku
Disclaimer: I do not own Naruto, nor the story.
Warning: This is an Indonesian translation of ohwhatsherface's story with the same title. Done with permission.
Summary:
Sakura tidak pernah menjadi pusat perhatian, namun tiba- tiba semua orang memperhatikannya. Hal itu membuat Sakura melakukan sesuatu, Blog it! Tentu saja!
Chapter 9
.
.
"Kau sedang menghirup cinta, Haruno?"
Aku mendongakan kepala dari kanvas yang tengah memuat masterpiece-ku di kelas seni, Deidara-sensei yang berdiri di belakangku tengah mengelus dagunya sambil mengamati karyaku dengan senyum tipis. Dia guru yang sangat keren, jika dibandingkan dengan yang lainnya. Pertama kali aku melihatnya, Deidara-sensei terlihat sama seperti para seniman lain dengan pakaian bohemian mereka, rambut panjang (yang indah), dan sepasang mata pengkritik. Sampai di tingkat tujuh, jujur saja aku masih tidak yakin dengan jenis kelaminnya. Jangan salahkan aku sepenuhnya! Dia selalu memakai pakaian panjang dan kebesaran, rambutnya sangat panjang dan diikat seperti Ino, jadi aku bingung.
Akhirnya aku tahu bahwa dia adalah seorang pria saat dia melakukan kegiatan yang sering dilakukan oleh para pria (yang aku lihat para pria sering lakukan):
Menggaruk…
Kau tahu lah, maksudku dia menggaruk apa!
"Lukisan yang sangat indah! Kita harus memajangnya di koridor."
(Biasanya hanya lukisan Sai yang dipamerkan di koridor…)
Deidara-sensei adalah guru yang sangat baik. Dia percaya bahwa seni adalah hal yang sementara dan mengalir seiring berjalannya waktu, namun ia terbuka dengan pemikiran muridnya.
"Karyamu semakin baik," pujinya, mengelus kepalaku. "Jangan lupa tulis tanggal dan namamu di kanvas."
Pandangan kami tentang lukisanku sekarang sangat berbeda.
Dia pikir lukisanku lebih baik dari yang sebelum- sebelumnya.
Aku pikir lukisanku sama buruknya dengan yang biasanya.
Meletakan kuas di tanganku, aku menatap guru yang berdiri di sebelah kiriku dengan bibir merengut.
"Kenapa Sensei bilang tentang 'cinta'?"
"Heh, kau tahu…"
Deidara-sensei mengambil kuasku yang berlumur cat merah dan menunjuk beberapa bagian (lalu menulis 'Sakura Haruno' dan '4 Oktober' di sudut kanvas karena aku tidak juga menuruti perintahnya). Aku menampakan wajah yang jelas berkata tidak, aku tidak tahu (tapi aku rasa aku ingin tahu jadi aku harap dia memberitahu sebelum aku pingsan karena otakku berpikir terlalu keras…).
"Apa yang kau rasakan tergambar jelas dengan warna yang kau pilih untuk melukis. Memang, untuk mata yang buta dengan seni, mereka hanya akan melihat goresan warna bertumpuk- tumpuk. Namun jika melihatnya lebih dalam pada karyamu, mereka bisa memberitahu apa yang tengah kau pikirkan."
"Oh?" aku tersenyum pada Deidara-sensei. "lalu apa yang sedang aku pikirkan?"
"Baiklah," Deidara menarik kacamatanya dari sela rambut pirangnya dan memakainya dengan semestinya—di mata. "Kau dominan menggunakan warna merah. Merah adalah dasar dari karya yang kau kerjakan, dengan tingkatan yang berbeda dan beberapa warna lain. Merah melambangkan kehangatan, kebahagiaan, gairah, semangat, seksual, dan cinta. Jelas sekali ada perubahan besar yang terjadi dalam dirimu sehingga meluapkan gairah dan menjadikan karya yang lebih agresif dan berani."
Wow.
Itu dalam…
"Kemudian jumlah warna biru yang sedang menyimbolkan kepercayaan, rasa aman dan—" Deidara-sensei menampakan seringai mengejek, "maskulin." Dia menunjuk titik di mana warna biru dan merah bertemu. "warna ungu yang dihasilkan oleh keduanya menunjukan kepercayaanmu pada pemuda ini—" Okay, sekarang dia sudah tidak berbicara secara umum lagi! TIDAK KEREN! "—dan keberanian yang kau tunjukan dalam hubunganmu."
Dia tidak berhenti.
"Dan terakhir," lanjutnya, "ada juga banyak gradasi merah muda dengan warna putih yang banyak ditambahkan. Putih adalah lambang kebenaran dan kemurnian."
"Aku tidak melihat ada hubungan antara kemurnian dan si Jelek ini…" aku melirik arah kanan dan melihat Sai. Kedua lengannya menekuk di depan dada dan matanya memandang karyaku dengan mata mengkritik khas seniman. "Hm, kerja bagus, Jelek. Kali ini karyamu tidak mencerminkan dirimu."
Aku memutar mata dan menyikut perut Sai.
Deidara-sensei mengabaikan Sai saat dia melangkah pergi sambil memegang perutnya, kesakitan.
"Jadi, Haruno, apakah kau sedang mencintai seorang pemuda?" tanyanya, tersenyum tampan.
Mataku melebar mendengar pertanyaanya.
APA?
CINTA?
Aku menggeram (dalam hati). Maksudku, aku memang salah satu gadis yang pernah mengatakan 'Oh, aku cinta Sasuke-kun!', namun sekarang karena kami sudah bersama, kalimat itu tidak terasa benar- benar nyata, kecuali kalau aku memang mulai mencintainya. Aku tidak benar- benar mengenalnya selain saat kencan tengah malam kami.
Oh iya, aku yakin kau penasaran tentang makan malamnya.
Well, aku punya berita hebat yang sangat keren:
AKU BISA MENGHINDARINYA!
Aku beruntung banget, kan?
Jadi, hari Selasa, hari di mana seharusnya aku pergi makan malam bersama dengan kedua mantan partner berciumanku (dan ya, Sasuke-kun adalah mantan partner berciumanku. Sekarang kan dia pacarku!) berjalan seperti ini:
"Kita teman, kan?" tanyaku.
Shikamaru menatapku dengan satu alis terangkat.
Saat itu kami sedang makan siang bersama. Ritual ini tidak pernah berubah. Tak peduli siapapun yang dikencani Shikamaru, dia selalu menghabiskan jam makan siang denganku. Sekarang, tidak peduli siapa yang aku kencani, aku tetap akan selalu makan siang dengannya. Sahabat tidak akan pernah membuang satu sama lain hanya untuk seseorang yang bisa saja hanya sementara hadir.
"Sahabat terbaik." aku mengoreksi, mendorong piring berisi kentang goreng ke arah Shikamaru sebagai penawaran.
Shikamaru terlihat tidak sabar.
"Kau mau apa?" tanyanya.
Aku mengedikan bahu sambil nyengir. "Kau bisa tidak, sakit atau jatuh atau apalah demi aku, tolong?" pintaku tanpa rasa bersalah, berusaha terlihat seperti anak anjing yang lucu. "aku tidak mau makan malam dengan Sasuke-kun dan Sexy-sensei."
"Iya, jelas."Shikamaru merengut mendengar kalimatku. "kau bahkan tidak bisa memanggil namanya dengan benar, bayangkan saja kalau kau memanggilnya—" dia bergidik, "—Sexy-sensei di depan Sasuke." Shikamaru mendengus menahan tawa membayangkannya, sedangkan dalam bayanganku, tidak selucu itu. "Dia mungkin berubah menjadi Neji dengan kelakuan yang posesif dan cemburuan." lanjutnya.
Aku setengah menjerit membayangkannya.
(Catatan untuk diri sendiri: Jangan sampai keceplosan memanggil Sexy-sensei.)
"Jadi kau bisa sakit, tidak?" pintaku.
Jadi, aku berpikir kalau Shikamaru sakit, mereka tidak akan memaksaku pergi makan malam. Sasuke-kun tahu bahwa Shikamaru adalah sahabat terbaikku di seluruh dunia. Aku rasa Sexy-sensei juga bisa menebaknya mengingat aku dan Shikamaru duduk bersama di kelas kimia dan selalu mengobrol.
Bibir Shikamaru semakin turun.
"Aku tidak mau sakit agar kau bisa keluar dari masalah yang kau buat sendiri, Sakura."
"Apa maksudmu?" tanyaku sedikit tersinggung.
"Sakura…" dia menggerutu sebal, "kau harusnya tahu kalau kau mulai melakukan sesuatu dengan asisten gurumu, akan ada konsekuensi yang harus kau hadapi." Shikamaru menatap langsung mataku, dan menyeringai (kejam!). "Anggap saja bahwa terjebak bersama dengan dia dan Sasuke di waktu yang sama sebagai konsekuensinya."
(Aku memelototi Shikamaru.)
"SAHABAT SEJATI TIDAK AKAN MEMBIARKAN SAHABATNYA PERGI MAKAN MALAM DENGAN PACAR SAHABAT DAN KAKAK PACAR SAHABATNYA!" aku berteriak keras, melempar kaleng Mountain Dew kosong ke arahnya. "Kalau kau memintaku untuk menyelamatkanmu dari pergi ke suatu tempat bersama dengan Ino dan Temari, aku akan menurutimu! Kau tahu kenapa? Karena aku adalah sahabat yang baik, tidak seperti seseorang!"
"Baiklah."
Huh?
Aku menatap Shikamaru bingung.
"Tunggu, apa?"
"Kita ada rapat Dewan Akademi besok jam makan siang," jelas Shikamaru. "Hal baik dari rapat itu adalah kita dapat makan dan minum gratis. Hal buruk bagiku adalah, tidak hanya ada pacarku, tapi ada Ino dan juga Kin."
AW, SIAL!
Aku memukulkan tanganku ke atas meja piknik yang tengah kami duduki (yang kemudian aku sesali karena sakit sekali!).
"Ada si bodoh Karin dan Ami juga di sana!" aku mendesis pelan dengan mata memicing berbahaya.
Shikamaru menganggu pelan. "Kalau kau bisa membuat aku tidak mengikuti rapat itu besok, aku akan pura- pura sakit malam ini."
Oh.
Dasar brengsek.
"Tapi kau tahu sendiri aku tidak bisa membuatmu tidak ikut rapat…"
Dia memotong kalimatku, "Kalau begitu sepertinya kau memang harus makan malam dengan Pretty Boy dan Sexy-sensei."
"Aku membencimu."
"Aku tetap hidup." Shikamaru menyeringai kejam, dan mendesah malas. Ia membaringkan tubuh di kursi dan menatap langit (aku tidak bisa melihatnya dengan jelas karena terhalang meja, tapi aku cukup tahu Shikamaru pasti sedang melihat awan). "Oh, aku harusnya bilang Tada, bukan Pretty Boy."
"Diam deh!" aku menggeram, wajahku merona.
(Tada adalah nama yang bagus, sial.)
Aku menendang Shikamaru keras, berharap membuat jatuh dari bangku (dan mungkin mematahkan tulangnya jadi aku bisa pura- pura ke rumah sakit dan menjadi teman yang baik). Aku memukul meja lagi, frustasi. Bagaimana Shikamaru tega melakukan ini kepadaku? Aku sering menyelamatkannya saat dia harus terjebak dengan Ino atau Temari atau siapa saja yang sedang dia kencani berkali- kali! Kenapa dia tidak mau membantuku?
"Shikamaru, sebagai teman kau itu gagal!" aku berteriak.
Aku masih tidak mengalihkan pembicaraan.
"Santai kenapa?" Shikamaru bergumam dari tempat berbaringnya yang nyaman. "berhenti mencemaskannya. Akan ada yang terjadi, aku tahu."
Aku menatap tajam. "Oh, sekarang kau tidak hanya teman yang buruk tapi juga peramal?!"
Aku yakin sekali Shikamaru tengah memutar bola matanya—
BEEP!
aku mengernyit mendengar suara menyebalkan dari speaker sekolah yang tengah meminta perhatian siswa.
"Perhatian, bagi staf dan siswa." mulai Shizune-sensei. "maaf sudah menginterupsi. Ada pengumuman yang lupa disampaikan KepSek Tsunade pagi ini, Kakashi-sensei dan Asuma-sensei ingin meminta maaf kepada seluruh siswi yang sudah mencoba mengikuti seleksi Kamis kemarin, kalian pasti sudah menunggu daftar nama yang diterima pada jam delapan kemarin—"
JELAS! AKU SANGAT MENUNGGUNYA! AKU INGIN MELIHAT NAMAKU DI ATAS NAMA KARIN!
(Aku tahu itu sesuai abjad, tapi terserah…)
"—tapi jangan cemas, Asuma-sensei sedang menempelkannya. Kedua, rapat Dewan Akademi diundur menjadi hari kamis sore jam lima tigapuluh menit. Tempatnya masih sama yaitu ruang konferensi nomer satu. Jika karena suatu hal tidak bisa hadir, tolong beritahu Presiden DA, Temari Sabaku—"
Aku mendengar Shikamaru mendesah malas.
"Aku bilang apa."
Ya kau sudah bilang!
(Wow! Shikamaru seorang peramal!)
"—dan terakhir, akan ada rapat staf hari ini jam lima di ruang konferensi nomer tiga. Seluruh staf harap hadir. Cukup untuk pengumuman hari ini, selamat menikmati sisa istirahat makan siang kalian!"
Begitulah makan siang berlangsung.
Dan kami tidak akan makan malam bersama untuk sisa minggu ini karena:
Senin: Senin sudah lewat, duh.
Selasa: Sexy-sensei ada rapat staf.
Rabu: Sesi tutor pertama dengan Naruto.
Kamis (Hari ini) : Rapat Dewan Akademi.
Jumat: Seleksi tim basket putri.
(Walau aku akan mendapatkan masalah saat memikirkan alasan menghindar di akhir pekan.)
Bukannya aku tidak ingin melihat mereka. Mereka baik, namun terperangkap bersama keduanya di waktu yang sama rasanya menakutkan. Sexy-sensei keren, namun tidak cocok dijadikan pacar, alasannya sudah pernah aku sebutkan.
Dan Sasuke-kun…
Ya tuhan, aku sangat sangat menyukainya. Namun seperti yang ditanyakan Deidara-sensei (tentang apakah aku mencintai pacarku)—
Er…
Aku memang sangat menyukainya, itu jelas, namun aku rasa itu bukan cinta. Belum.
(Berikan aku waktu seminggu atau lebih…)
Memikirkan tentang 'cinta', aku menatap lukisanku.
Deidara-sensei mengartikan diamku sebagai jawaban sebelum melangkah pergi.
…
…
…
TheCherryOnTop
Chapter Sembilan
Ini Sangat Tidak Keren
…
…
…
TheCherryOnTop
Dibagikan pada Kamis, 4 Oktober 1.11 PM
Suasana Hati: Bingung. Aku seratus persen, yakin, sedang bingung.
Musik: Aku ingin kilatan itu membakarku
Lokasi : Di meja KU! MEJAKU! MEJAKU! MEJAKU! MEJAKU! PUNYAKUUUUU!
Subjek : Aku ingin kekasih dengan bibir seperti morfin.
AKU TIDAK MENCINTAI DIA!
SIAPA YANG BISA MENCINTAI PACAR YANG BARU IA KENCANI SELAMA SATU MINGGU?
SIAL, AKU TIDAK MENCINTAI DIA!
MASA BODOH DENGAN SEMUANYA!
…
Komentar
…
Komentar untuk 'Aku ingin kekasih dengan bibir seperti morfin.'
Dibagikan pada Kamis, 4 Oktober 1.15 PM
Subjek: Aku tahu dari awal kau mengkonsumsi narkoba
KingOfRamen007: Lol. Menurutku kau mencintainya, cherry…
…
…
Komentar untuk 'Aku ingin kekasih dengan bibir seperti morfin.'
Dibagikan pada Kamis, 4 Oktober 1.22 PM
Subjek: Langkah pertama untuk mengaku.
AceOfSpades5 : Kau terdengaran seperti dalam penyangkalan
Komentar untuk AceOfSpades5
Dibagikan pada Kamis, 4 Oktober 1.23 PM
Subjek: Langkah kedua apa?
TheCherryOnTop: Aku tidak sedang menyangkal. Siapa yang bisa jatuh cinta dalam sepuluh hari? Itu bodoh, memang benar sebelum kami resmi jadian, aku naksir dia. Aku sering bilang aku mencintainya, tapi tidak benar- benar dari hati! Ugh. DASAR MAKHLUK PIRANG BODOH YANG MENUMBUHKAN IDE INI DI KEPALAKU!
Komentar untuk TheCherryOnTop
Dibagikan pada Kamis, 4 Oktober 1.26 PM
Subjek: Aku pirang
AceOfSpades5 : Ada yang orang sebut 'cinta pada pandangan pertama'. Mungkin kau sudah mencintainya sejak pertama melihatnya di tingkat enam dan saat menatap mata hitamnya. (hmm, puitis sekali aku). Namun mungkin kau sudah mencintainya sejak awal, namun tidak menyadarinya.
Komentar untuk AceOfSpades5
Dibagikan pada Kamis, 4 Oktober 1.28 PM
Subjek: Aku berambut merah
TheCherryOnTop: Itu benar… kalau memang aku cinta padanya. Tapi aku tidak. Aku rasa. Blah.
…
…
Komentar untuk 'Aku ingin kekasih dengan bibir seperti morfin.'
Dibagikan pada Kamis, 4 Oktober 1.25 PM
Subjek: Apa kau membunuh Hannah?
10-10 : AWWWWWWWWWWWWWWWWWW! MANISNYA! KAU SEDANG DALAM PENYANGKALAN!
Komentar untuk 10-10
Dibagikan pada Kamis, 4 Oktober 1.27 PM
Subjek: Tidak, kau?
TheCherryOnTop: MATI SAJA! AKU TIDAK!
…
…
Komentar untuk 'Aku ingin kekasih dengan bibir seperti morfin.'
Dibagikan pada Kamis, 4 Oktober 1.29 PM
Subjek: ZOMG! WOW! YA!
Sexy-In0 : Kau terlihat. Sedang jatuh cinta.
…
…
Komentar untuk 'Aku ingin kekasih dengan bibir seperti morfin.'
Dibagikan pada Kamis, 4 Oktober 1.32 PM
Subjek: Kau sudah dewasa!
Blond'n'Beautiful : Maaf Cherry, aku tidak suka mengecewakanmu tapi… KAU MENCINTAINYA!
…
…
Komentar untuk 'Aku ingin kekasih dengan bibir seperti morfin.'
Dibagikan pada Kamis, 4 Oktober 1.35 PM
Subjek: n
Lazy1: Wow.
Komentar untuk Lazy1
Dibagikan pada Kamis, 4 Oktober 1.37 PM
Subjek: Benar
TheCherryOnTop : Kau mau bilang apa!
Komentar untuk TheCherryOnTop
Dibagikan pada Kamis, 4 Oktober 1.38 PM
Subjek: Semuanya sangat memaksa...
Lazy1: Aku sungguh berharap kau tidak mencintainya.
Komentar untuk Lazy1
Dibagikan pada Kamis, 4 Oktober 1.39 PM
Subjek: AW tidak usah terlalu dramastis!
TheCherryOnTop : Memangnya kenapa?
Komentar untuk TheCherryOnTop
Dibagikan pada Kamis, 4 Oktober 1.41 PM
Subjek: Tapi kau kan paling suka drama, Cherry SAYANG
Lazy1: Sesuatu seperti mengatakan padaku bahwa ini tidak akan berakhir baik.
…
"Jadi, apa benar kalau kau pacaran dengan Sasuke-kun?"
"Hm?"
Aku melirik ke arah Ino dan menjeda permainan Brick-ku, yang sebentar lagi aku akan kalah (serius, aku sama sekali tidak pintar memainkannya. Bola itu terlalu cepat untukku!).
"Apa?"
Kami sedang duduk di ruang konferensi satu saat ini. Ada meja rektanguler panjang dengan Temari duduk menghadap di ujung, Ami di sebelah kanannya (sisi kecil itu cukup untuk tiga orang), dan dari sana semua orang duduk mengitari meja. Shikamaru, karena dia baik, dia duduk dekat di ujung meja, dekat dengan Temari. Kalau aku baik, aku akan duduk di sebelahnya namun aku tidak mau duduk di sebelah pacarnya. Jadi, sekarang aku duduk di antara Ino dan Suigetsu, yang disebutkan lebih dulu sedang mendempul wajahnya sambil mengomentari kisah cinta terbaruku, yang disebutkan belakangan sedang jatuh tertidur.
"Kau dan Sasuke-kun terlihat sering jalan berdua," kata Ino, menyandar di kursinya. "dia bahkan membawakan bukumu!"
Aku mengangkat bahu canggung, tidak suka ke mana percakapan ini berlangsung. Bukannya aku tidak bangga bahwa aku adalah kekasih Sasuke Uchiha (JELAS AKU SANGAT BANGGA!), hanya saja mereka sedang mendiskusikan entah apa dan Ino jelas- jelas menunjukan bahwa dia dan aku tidak memberikan perhatian.
Temari tidak menyadarinya, tapi tetap saja. "dan—"
"Dan aku dengar Kakashi-sensei mengomeli kalian bahwa bermesraan di vending machine di jam makan siang itu salah," ejek Ino. (Baiklah, apa yang dilakukan Kakashi-sensei sangat tidak keren! Dia mungkin sengaja membuat aku malu karena aku sudah menuliskan tentangnya di TheCherryOnTop baru- baru ini). "jadi apa kalian berdua—"
"Ino!"
Kami berdua melompat kaget dan melirik ke bagian ujung meja di mana presiden kami duduk, dia hanya menatap tajam Ino.
"Apa ada yang mau kau katakan pada kami?" desis Temari.
Ino balik memelototinya sebelum mengalihkan pandangan pada kuku-kukunya.
"Ya, kau membosankan aku sampai mau mati."
Aku melirik ke arah Shikamaru dan melihatnya menghela nafas lelah. Di matanya, aku bisa melihat dia memohon pada tuhan atau apa saja agar mengambil alih situasi sebelum Ino dan Temari memulai perkelahian baru walau bukan dimulai karena dirinya (sebenarnya karena dia, walau tidak secara langsung) demi orang lain dalam ruangan.
"Er, Temari!" aku memanggil, sebelum dia sempat melemparkan teriakan pada Ino, "aku butuh bantuanmu."
Ami memutar bolamata dan mendesah dramatik, "memangnya kau tidak bisa sendiri?" dia mengejek.
(Masa bodoh denganmu, jalang!)
"Um," aku membersihkan tenggorokan canggung, "Temari, Koordinator Penyemangat itu apa? Aku benar- benar tidak tahu…"
"Sakura…"
Temari menggigit bibir bawahnya untuk menahan omelan frustasi yang ingin ia lemparkan padaku (heh, dia tahu untuk tidak mengumpat sahabat kekasihnya yang pendapatnya sangat penting mengenai hubungan mereka) dan mendesah.
"Karin," panggilnya, "jelaskan."
Karin mencibir padaku. Dia jelas tidak mau berinteraksi denganku sama sekali, walau kami hanya berjarak meja dan kami hanya mengobrol tentang arti 'Koordinator Penyemangat'.
"Mengatur even yang membantu meningkatkan semangat sekolah." Jelasnya professional (menggeser kacamata di atas hidungnya, sedikit lebih tinggi). "kau akan bekerja bersama dengan Seksi Humas, yang tugasnya hampir sama denganmu dan dengan Bendahara, yang akan memberi tahu berapa uang yang kita punya dan memfasilitasi kegiatan yang berasal dari idemu…"
"Tapi sebelum idemu bisa dilaksanakan," Ami memotong, "Temari harus menyetujuinya lebih dulu."
Temari mengangguk, "terimakasih Karin, Ami." dia memaksakan sebuah senyuman (sekali lagi, karena aku si sahabat) "apa ada pertanyaan lain, Sakura?"
Aku mengangguk.
"Jadi aku bekerja sama dengan Ino dan Suigetsu?"
"Iya," Temari menjawab singkat.
Apa- apaan.
Mereka bodoh, ya?
Mereka mau aku bekerja sama dengan dua orang bodoh?
Oh yeah kami tim impian!
"Oh…"
"Iya, dan ngomong-ngomong…"
Shikamaru terbatuk keras, mengalihkan perhatian semua orang di dalam ruangan dariku (dan kelemotanku) padanya (dan kemalasannya), membuat aku tidak terlihat seperti orang aneh (terimakasih Shikamaru!)."Semua cewek junior terus merengek padaku meminta lebih banyak hari berpakaian bebas…" dia melepaskan desahan dengan gumaman "merepotkan…"
"Aku bisa mengatasinya…" kataku keras.
Aku memikirkan warna sekolah kami. Merah dan putih, ya! Aku mengingat ini bukan karena aku memakai jersey warna merah dan putih saat main basket dan voli, tapi juga karena Sasuke-kun terlihat superseksi dengan seragam basketnya, yang warnanya juga merah putih.
"Bagaimana?" tanya Temari, mengangkat sebelah alis.
Dia terlihat tidak sabar karena dia sudah tahu bahwa semua orang menginginkan satu hari di mana mereka tidak harus memakai seragam. Temari selalu menjadi anggota Dewan Akademi dan setiap mereka—DA—meminta KepSek (saat itu masih Sarutobi-sama, sekarang Tsunade-sama) mereka selalu mendapatkan jawaban tidak yang mutlak. (Aku tidak mengerti kenapa, tapi hal ini tidak begitu menggangguku karena toh kita hanya perlu memakai seragam di jam sekolah saja…).
"Benar." Karin menyeringai ke arahku, "aku yakin Sakura bisa mendapatkan solusi dari masalah yang sudah kita hadapi setiap tahun."
Suigetsu (yang sudah bangun sekarang) mencolek tulang rusukku, "bukan bermaksud meremehkan, Sakura, tapi mereka benar. Sarutobi-sama tidak pernah menyetujui usulan hari bebas seragam tahun yang sudah- sudah. Aku sangat meragukan bahwa Tsuade-sama akan lebih baik dalam menghadapi ini."
Raut wajah Karin yang mengatakan bahwa aku kalah sangat membuat aku marah.
Aku tidak akan kalah.
AKU PUNYA SEMANGAT.
DAN AKU MASIH MUDA.
Untuk Lee yang tidak bisa datang ke sini hari ini (tidak juga, dia ada di sini. Dia duduk di samping Tenten yang duduk di sebelah Ino) dan yang memberikan aku posisi untuk duduk di sini, aku akan memberikan semangat kepada semua pecundang kurang-semangat yang ada di Leaf Akademi!
"Well…"
Aku menunggu beberapa menit untuk meneruskan, menggumam saat semua orang menatapku penuh penasaran.
"Bagaimana kalau mereka boleh berpakaian bebas, dengan syarat mereka harus memakai setidaknya sesuatu yang berwarna merah dan putih?" saranku.
Suigetsu mengedikan bahu dan memukul meja (membangunkan siapa saja yang sedang tertidur.).
"Yeah! Aku setuju dengan Sakura!"
Aku mengangkat tangan untuk high five dengan Suigetsu dan ia menerimanya.
"Yeah."
"Yeah."
Aku benar- benar melakukannya!
TheCherryOnTop
Dibagikan pada Sabtu, 6 Oktober 8.21 PM
Suasana Hati: Baik. Sangat baik, jujur saja. Pikiranku terbuka dan bebas
Musik: Aku adalah hal terbaik yang bisa terlihat matamu
Lokasi : Surga. Bukan sih, semacamnya… tidak juga.
Subjek : Adegan Cinderella-ku
Serius deh, cinta?
Itu adalah kata yang sangat besar dan buruk.
SUNGGUH!
TERSERAH! AKU AKAN BERHENTI MEMBAHAS TENTANG BETAPA AKU YAKIN BAHWA AKU TIDAK MENCINTAINYA KARENA HEH, INI BAHKAN BARU DUA MINGGU.
Gosip:
-Aku menangis. Ini sangat tidak ciamik, ciamik itu kalau Rubah dan Taring beradu jotos untuk memperebutkan Putri Malu, tapi Taring bertingkah seperti seorang kakak untuknya! Ini membosankan!
-Hm, Pink Princess terbebas dari keadaan yang akan membuatnya terjebak di antara Pretty Boy dan Sexy Boy. Walau hanya menunggu waktu sebelum hal ini kembali menggigit bokongnya.
-Kipas dan Harpa hampir memulai pertengkaran yang lain (walau kali ini tidak diprofokasi oleh Merepotkan) karena hal sepele, namun cahaya dari surga menghentikannya.
Dan terakhir:
CHERRY TIDAK MENCINTAI TADA.
CINTA ADALAH UNTUK ORANG BODOH.
TERSERAH!
…
Komentar
…
Komentar untuk 'Adegan Cinderella-ku'
Dibagikan pada Sabtu, 6 Oktober 8.23 PM
Subjek: Aku punya satu pertanyaan!
10-10: Hey, Cherry! Apa sungai terpanjang di dunia?
Komentar untuk 10-10
Dibagikan pada Sabtu, 6 Oktober 8.25 PM
Subjek: Dan aku punya satu jawaban.
TheCherryOnTop: Nil. Kenapa tanya gitu?*
Komentar untuk TheCherryOnTop
Dibagikan pada Sabtu, 6 Oktober 8.26 PM
Subjek: KENA!
10-10: Karena kau lagi di situ! HAA* (Aku memang sangat lucu…)
Komentar untuk 10-10
Dibagikan pada Sabtu, 6 Oktober 8.28 PM
Subjek: Kau parah banget!
TheCherryOnTop : Oh ke laut saja.
…
…
Komentar untuk 'Adegan Cinderella-ku'
Dibagikan pada Sabtu, 6 Oktober 8.26 PM
Subjek: Aku suka Putri Salju
Sexy-In0 : Kalau Pretty Boy da Sexy Boy sesuai dengan nama mereka, aku tidak keberatan menjadi Pink Princess.
…
…
DIHAPUS
Komentar untuk 'Adegan Cinderella-ku'
Dibagikan pada Sabtu, 6 Oktober 9.11 PM
Subjek: Tidak ada pangeran untukmu
Lazy1: Hal itu akan menggigit bokongmu. Dengan keras.
Komentar untuk Lazy1
Dibagikan pada Sabtu, 6 Oktober 9.13 PM
Subjek: Bit*h Please
TheCherryOnTop: Kau ingat betapa pintarnya kau membuat prediksi?
Komentar untuk TheCherryOnTop
Dibagikan pada Sabtu, 6 Oktober 9.16 PM
Subjek: (tidak ada subjek)
Lazy1: Sakura, bukannya aku sedang beruntung atau bisa meramal, atau entah bagaimana kau menyebutku. Aku bisa melihat hal ini dengan lebih baik karena aku tidak membiarkan mataku menjadi buta (seperti kau) saat ada hal baik sedang terjadi. Aku hanya menghindari kesalahan yang kau buat.
Komentar untuk Lazy1
Dibagikan pada Sabtu, 6 Oktober 9.18 PM
Subjek: UGH! Jangan mulai lagi,deh!
TheCherryOnTop: Apa maksudnya itu?
…
…
AGENDA SISWA
…
…
Senin, 8 Oktober
…
…
PR
…
1. PR LITERATUR!
- Madame Bovary – bagian 2 – chapter 1 sampai 5
-Buat catatan di adegan kunci
-Bersiaplah untuk diskusi kelas
…
2. Matematika
-Buku cetak halaman 145, 1-9
-Tambahan: latihan A,B, D
…
…
3. COBA HAFALKAN DIALOG ALICE'S ADVENTURE IN WONDERLAND.
…
…
4. Biologi tingkat 11 : Pertanyaan tentang ekologi
a) Setiap musim gugur, kupu- kupu Monarch bermigrasi dari Kanada ke Meksiko. Keturunan dari kupu- kupu itu lalu melakukan perjalanan ke selatan kembali ke Kanada pada musim semi, dan keturunan mereka kembali terbang ke selatan di musim gugur. Ini berarti kupu- kupu Monarch tidak pernah melakukan dua kali perjalanan. Sebagai pembeda, angsa Kanada kemungkinan adalah yang mengajari mereka rute untuk diikuti saat bermigrasi. Tulislah sebuah paragraph untuk menjelaskan bagaimana dua spesies yang berbeda ini dapat saling mempengaruhi migrasi dan pertahanan hidup mereka.( nilai 4)
b) Jack dan Jill sedang berdiskusi apakah tumbuhan atau hewan yang lebih mudah terkena ancaman kepunahan. Jill mengatakan bahwa Tumbuhan lebih mudah terpengaruh oleh kondisi berbahaya daripada hewan, sedang pendapat Jack, adalah sebaliknya. Buat daftar yang mencangkup 3 poin yang bisa digunakan untuk mendukung tiap pendapat dari kedua belah pihak. (nilai 6)
…
…
Sakura
YATUHAN KAU BARU SAJA MENULIS DI AGENDAKU! APA YANG SALAH DENGANMU? AKU MEMAKAI BENDA INI UNTUK MENGATUR KEPERLUAN SEKOLAHKU AGAR TERATUR!
…ini cuma sebuah agenda
CUMA SEBUAH AGENDA? BENDA INI MEMBUAT SEMUANYA TERATUR!
Terser
Jangan men-terserah-kan aku!
Aku bahkan belum selesai menulis kata itu.
Terserah… apa yang perlu kau katakan begitu serius, Sasuke sampai kau harus menulisnya di agendaku?
Kakakku bilang dia akan mengajak kita keluar makan malam malam ini.
Makan malam?
Iya, kita harusnya pergi hari Selasa kemarin, ingat?
Iya, iya aku ingat… memangnya aku beneran harus pergi?
Jelas. Kau kekasihku sekarang.
Terus? Ini baru dua minggu.
Terus?
Terus aku tidak seharusnya sudah bertemu dengan keluargamu!
…
Selasa, 9 Oktober
…
Kau sudah bertemu kakakku.
YATUHAN KAU MENULIS DI HARI SELASA! INI BAHKAN BELUM HARI SELASA! AKU BUTUH HALAMAN INI UNTUK BESOK!
Kau kebanyakan bicara…
Aw, tapi kau masih menyukaiku :)
Benar.
Terus…
Aku jemput di kamarmu untuk malam ini jam 5.00 sore nanti.
Tapi aku tidak tahu mau pakai apa!
Memangnya kenapa? Kau bahkan tidak mau bertemu kakakku? Kenapa kau peduli tentang kesannya kepadamu?
AKU CEWEK!
Terserah.
Ok. Tapi serius ya, kau tidak bisa mengajakku makan malam seenaknya! Bagaimana kalau aku ada jadwal tutor dengan Naruto malam ini? Atau, bagaimana kalau aku ada rapat DA? BAGAIMANA KAU TAHU KALAU AKU TIDAK ADA ACARA?
Aku sudah tanya Naruto. Rapat Dewan Akademi diumumkan lewat speaker. Shikamaru bilang kalian tidak ada rencana apapun.
Aku juga melakukan hal bersama dengan orang lain selain Shikamaru.
Tentu. Denganku.
DIAM!
Secara tekhnis, aku bahkan tidak berbicara.
HENTIKAN DEH. Intinya adalah kau dan kakak sialanmu tidak punya hak untuk membuat aku pergi makan malam dengan kalian!
Kau gugup atau apa?
Tidak.
Ya.
Masabodoh denganmu.
Kenapa kau harus gugup? Dia cuma kakakku. Kau bertingkah seperti dia mantanmu atau apa.
Bukan seperti itu! JANGAN PERNAH MENULIS HAL SEPERTI ITU!
Terserah. Bersiaplah jam lima.
…
Aku mengetukan jemariku di atas meja bertaplak putih dan mulai mengetukan kakiku juga.
Kegiatan itu (mengetukan kaki) mendapatkan perhatian dari kedua pria (yang aku tidak sadari) terimakasih pada heels spektakuler dari sepatu bootsku.
Sebelum datang ke makan malam bodoh ini (yang mana aku sama sekali tidak ingin pergi!), aku sama sekali tidak punya ide harus pakai apa. Apakah mewah, atau kasual? Aku harus pakai apa? Aku menuruti pendapat Shikamaru tentang apa yang seharusnya aku pakai (aku memang mempercayai perkiraan Shikamaru lebih dari aku mempercayai diriku sendiri). Dia memilih sundress berwarna merah dengan bunga- bunga merah muda kecil, dan pita putih. Aku memakai cardigan putih setelahnya.
(Serius, terkadang aku tidak tahu bagaimana aku bisa punya pakaian- pakaian ini.)
Meja yang kami duduki berbentuk kotak, dan kami duduk menghadap tiap sisi. Sasuke-kun di antara aku dan Sexy-sensei, sedang Sexy sensei berseberangan denganku.
-tepat di wilayah tatapan mata.
"Sakura," panggil Sasuke. Aku menatapnya balik dengan sebuah senyum kecil (jujur, ini seperti sudah refleks. Setiap aku melihatnya,aku tersenyum, kecuali kalau ada cewek lain yang menempel di lengannya. Saat itu aku akan memelototinya). "bisa berhenti mengetuk-ketuk?"
Aku mengedip, menunduk menatap tanganku. Pipiku merona sebelum aku tersenyum canggung.
"Oh, maaf!" pintaku.
Sexy-sensei tersenyum lebar menatapku, "tidak ada yang perlu dimintai maaf, Haruno."
"Benar."
Aku mencoba meminum air untuk membuat diriku merasa lebih baik (karena aku tidak bisa lagi mengetukan kakiku!).
"Jadi…" gumamku, mencoba mencairkan ketegangan.
Percayalah padaku saat aku bilang di sini memang penuh ketegangan. Aku merasakannya. Aku yakin Sasuke-kun dan Sexy-sensei bisa merasakannya juga, mereka hanya terlalu pandai bersikap sampai merasa tidak perlu menunjukannya. Intinya adalah, makan malam kecil ini terasa semakin canggung—
"Jadi bagaimana kalian berdua bertemu?" tanya Sexy-sensei, melihat menu makanan penutup.
"Tingkat enam," jawab Sasuke-kun singkat, "dan kami tinggal berseberangan."
Sexy-sensei mengangkat sebelah alisnya, "oh, sungguh?"
"Hmph," Sasuke-kun merengut mendengar nada yang digunakan saat mengatakan 'sungguh' "ke neraka sana."
"Sudah pernah di sana," gumam Sexy-sensei, "kita tumbuh bersama, ingat?"
Wow.
Mereka sangat…
Tidak dewasa!
"Ya," jawab Sasuke-kun, "kau punya kebiasaan mengambil apapun yang menjadi milikku."
Sexy-sensei menyeringai menatapnya, bibir Sasuke-kun semakin merengut dalam karena dia tidak tahu apa yang Sexy-sensei tahu.
Tapi aku tahu.
Oh, boy.
"Baiklah," Uchiha yang lebih tua mendesah penuh nostalgia, "walau sebenarnya, adik, semua yang kau punya pernah menjadi milikku. Tentu saja kau punya mainanmu sendiri, tapi kebanyakan mainanmu pernah menjadi milikku." Sexy-sensei melirik ke arahku singkat kemudian balik menatap Sasuke-kun. "kau mau mendapatkan sisaku."
APA KATANYA?
Baiklah itu sudah cukup.
"Yeah-"
Aku memotong kalimat Sasuke-kun batuk kerasku (yang jelas sekali bohongan). Aku berakhir mendapatkan perhatian setengah isi restoran. Aku rasa mereka mengerti arti batukku karena mereka menghentikan persaingan kakak-adik yang mulai psycho.
Jadi sekarang kita duduk dalam keheningan yang canggung sekali lagi.
Mungkin aku tidak seharusnya menginterupsi pertengkaran mereka tadi.
Setidaknya itu menghibur—
"Permisi."
Aku melirik Sasuke-kun yang…
Bangkit berdiri.
Dari kursinya.
(SIAL! SIAL! SIAL!)
"K-Kau mau ke mana?" tanyaku cepat, mataku melebar. "makanan akan segera datang, Sasuke! Kau tidak boleh pergi begitu saja!"
Dia menatapku aneh, kemudian berjalan meninggalkanku dan Sexy-sensei.
(SENDIRI!)
Aku memelototi Sexy-sensei (dan ya, walaupun dia sangat pantas untuk dipelototi, dia masih akan dipanggil sexy, ini sudah insting!).
Melotot.
Melotot.
MELOTOT!
(aku sekalian praktek untuk Karin…)
"Sakura, aku akan senang kalau kau berhenti memelototi aku seperti itu," mulai Sexy-sensel, "lagipula, kenapa kau memelototiku?"
Mataku menyipit.
"Karena kau adalah musuh!"
"Aku bukan musuh," katanya, senyum kecil terbentuk di bibirnya. Sexy-sensei meraih gelas dan menyesap air sejuknya saat aku terus memelototinya. (serius, kalau aku menggerakan mataku lagi aku mungkin berakhir tidak bisa melihat.)
"Tentu saja kau musuhnya!" aku seketika berteriak (Sasuke-kun tidak sedang ada di dekatku dan tidak bisa mendengarku, jadi biar saja). "kau bisa menjadi ancaman. Itu menjadikanmu musuh."
"Aku tidak akan memberitahu Sasuke tentang pertemuan—" Sexy-sensei menyeringai jahat, "—kecil kita."
Terimakasih.
Aku berhenti memelototinya namun masih cemberut.
"…kau masih tetap musuh!"
"Aku bukan musuh, Sakura." ulangnya.
Aku menepuk meja (tidak terlalu keras, tentu saja).
"Kau musuh—"
Seorang pelayan datang, membawa makan malam (gratis) kami (untuk aku dan Sasuke-kun gratis, setidaknya). (Aku mencoba untuk memilih makanan yang paling mahal tapi itu adalah steak dan lobser dan aku tidak menyukai keduanya, kemudian sisa menunya terlalu rumit disebutkan, jadi aku memilih makanan anak- anak, chicken strip!) Saat pelayan pergi, seluruh makanan sudah ada di atas meja namun kami belum menyentuhnya (aku, karena menurutku lebih baik menunggu Sasuke-kun dulu, dan Sexy-sensei karena… um, aku tidak tahu kenapa, tapi intinya adalah kami berdua sama-sama tidak makan dan meneruskan saling menatap.)
Ekspresi Sexy-sensei terlihat suram dan dia menatapku tepat di mata. Satu- satunya saat di mana kami saling tatap adalah saat kami di dalam kelas dan dia mencoba mengajari aku. Tidak pernah ada suatu ikatan yang sebenarnya di antara kami, jadi kenapa pandangan suram di matanya menggangguku?
"Sakura…"
Dia mendesah lelah,lalu bibirnya membentuk sebuah seringai.
"Kau akan terkejut kalau tahu siapa musuh yang sebenarnya."
Sasuke-kun kembali dan duduk di tempatnya.
…
ThanksTo: Rhein98, AadeUchira, sakura sweetpea, Y0ktf, ai. uchiharunochan, misakiken, Aumu aida, Rachel-Chan Uchiharuno Hime, Redblack Tsherface, pangglsajakumawr, pinktomato, Guest, Guest, AoRizuki , keenan66, Liana Zhafirna.
AN :
Lelucon Tenten di komentar grup: Cherry what's the longest river in the world (apa sungai terpanjang di dunia.)
Cherry: The Nil. Why do you ask (The nil—which is kalo diucapin mirip denial : penyangkalan, kenapa tanya gitu.)
Tenten: HA! Because you're in it! (Karena kau lagi di sana –maksudnya karena kau lagi dalam penyangkalan.)
GOT IT? Of course you are.
Semakin banyak klu yang bertebaran yah, tentu, kan kita sudah melewati tiga per lima dari cerita (which is menyisakan 6 chapter lagi. Masa iya alur nggak maju- maju.)
P.S : Merah tua dan Nikotin adalah Kerenai dan Asuma.
Anyway, Terimakasih sudah membaca.
Kritik, saran dan pendapat silahkan sampaikan lewat review.
-with cherry on top-
.the autumn evening.
