24/7 in love

Chapter 3- the Confusion

by Exo_L123

Casts : Byun Baekhyun, Park Chanyeol and Other EXO member

Genre : Romance, Comedy, Fluff

Rate : T

Warning : it's genderswitch, so don't like don't read

Summary : Byun Baekhyun adalah seorang fans fanatik dari penyanyi bernama Park Chanyeol. Akhir tahun ini Chanyeol akan mengadakan konser dan membuat sebuah kontes dengan hadiah Nge-date sehari bareng sang idola remaja tersebut. Tentu saja Byun Baekhyun tidak akan melewatkan kesempatan ini.

Tulisan italic dan bpold adalah wawancara Baekhyun dengan orang yang nantinya bakal diceritakan

_oOo_

"Hey, kau siap?" Jongin menoleh pada Jongup dan mengangguk. Jongup kemudian memberikan sinyal kepada beberapa orang di sekitar tempat tersebut. Memberi tanda bahwa flash mob akan segera di mulai. Mereka sangat tau jika melakukan flash mob di tempat ini tidak di izinkan tapi yeah siapa yang peduli. Salah satu teman mereka yang memakai kostum sebagai seorang petugas kepolisian berjalan ke tengah kerumunan orang dan meletakan Tape box disana. Kemudian musik mulai nyaring terdengar ke segala penjuru mall -berterima kasihlah pada mahasiswa IT yang membantu mereka-

Dan Flash mob pun di mulai. Awalnya para anggota hanya akan berpura-pura jalan di sekitar tempat itu lalu setelah menempati posisi mereka, mereka akan mulai ikut menari. Sudah banyak orang yang mengerumuni mereka, menonton mereka dengan wajah penuh kekaguman. Banyak yang bertepuk tangan sementara yang lain tidak mau ketinggalan dengan merekam aksi mereka.

Jongin sangat bersemangat, bukan karena merasa tertantang kerena melakukan sesuatu yang bisa disebut 'ilegal' tapi karena senyuman dari para penontonnya setiap kali mereka menari untuk lagu-lagu yang berbeda. Menghibur mereka. Memberikan sedikit kebahagiaan hanya dari gerakan tari mereka. Jongin pikir membahagiakan orang lain itu memang tidak ada takaran atau ukurannya. Tidak ada aturan, tidak ada batasan.

Yeah, itu benar sampai beberapa petugas keamanan setempat datang dan harus membuat mereka membubarkan diri. Melepas kostum masing-masing sambil berlari dan langsung bersembunyi di kerumunan orang agar tidak tertangkap. Jongin berdecak sambil menyeringai saat melihat salah satu petugas melewatinya begitu saja. Tidak mengenalinya sama sekali

Ponsel di sakunya tiba-tiba bergetar. Masih dengan nafas yang sedikit ngos-ngosan, Jongin menjawab ponselnya tersebut setelah mengambilnya dari saku.

"yoboseo, Tao"

"u-uh Kai! Kau terdengar kelelahan"

Jongin menstabilkan nafasnya sebelum menjawab "hmmm.. kami baru saja selesai melakukan flash mob"

"Jinjja! Wahh ~ Bagaimana hasilnya"

"jinjja jjang! Para polisi itu juga tidak menangkap kami" Lapor Jongin dengan senyum yang terkembang lebar di bibir seksinya

"Ah ~ sayang kami tidak disana untuk melihat. Apa ada videonya?"

"Kurasa ada. By the way, ada apa kau menelpon?"

"eoh? Kami butuh tumpangan"

"Baiklah memangnya kalian ada dimana?"

"Di bandara"

"Hah?" Jongin yang sudah melangkahkan kakinya menuju parkiran pun berhenti. " Bandara? Apa yang kalian lakukan disana? Apa ada seseorang yang datang?"

"Tidak, hanya saja Baekhyun bilang mungkin saja orang dibandara memiliki jawaban pertanyaan yang lebih bagus yang bisa membawa keberuntungan untuknya. Dan yeah sekarang dia sedang mewawancarai salah satunya"

Jongin berdecak pelan "Baiklah aku mengerti. Aku akan sampai disana sekitar satu jam"

"Gomawo, Kai"

"Ne, Cheonma" Jongin mengakhiri panggilan Tao kemudian menulis pesan untuk seseorang

"Hyung, mian! Aku tidak bisa mememanimu hang out kali ini. Harus menjemput temanku di bandara. Mianhae, ne Hyung"

...

"Jadi, kemana Unnie akan pergi?" tanya Baekhyun. Suaranya terdengar di cameranya. Lensa kamera itu sendiri menampilkan sesosok yeoja cantik yang memiliki mata seperti mata rusa.

"Suatu tempat" jawab yeoja itu

"Okay, um,, jadi ini pertanyaanku. Apa yang akan Unnie lakukan sebelum tahun baru?"

Yeoja itu menggigit bibir bawahnya dan menunduk cukup lama, hingga kemudian mengangkat wajahnya langsung menghadap kamera "I'll try to fix everything"

"oh~ arraseo"

_oOo_

Luhan tiba di hotel tepat setelah hujan berhenti. Menyisakan jejak basah dan angin dingin yang berhembus menerpanya. Dia melangkah memasuki hotel tempatnya menginap tersebut sambil menarik kopernya. Hingga salah satu pegawai hotel mendatanginya dan membantunya membawakan koper miliknya tersebut

"Selamat datang kembali, Mrs Lu" sapa pegawai tersebut yang hanya di balas senyuman singkat oleh Luhan

Kamarnya masih sama seperti yang ditinggalkannya sebulan lalu, ketika saat itu dia pikir sudah bisa menyelesaikan masalahnya. Tapi sekarang coba lihat, dia kembali ke tempat ini dalam keadaan yang kembali 'patah'. On the same place and the same spot.

"apa ada yang lain yang anda butuhkan, Miss?"

Luhan berbalik menatap pegawai yang membantunya tadi dan menggeleng. Segera setelah pegawai itu undur diri, Luhan langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Menghela nafasnya pelan untuk menanangkan diri dari stress yang melandanya.

Ponselnya tiba-tiba bergetar. Ada panggilan masuk dari sahabatnya

"Yoboseo, Yixingi~! Hey, bukan harusnya kau menelponku kemarin saat aku mau berangkat"

"Mian, sesuatu terjadi kemarin. Oh ya! Bagaimana? kau sudah sampai Beijing?"

"yeah"

"Hey, ada apa, Lu?"

"Ani, hanya saja aku merasa konyol. Kau tau? Aku berada di tempat yang sama untuk alasan yang sama seperti bulan lalu"

"Semuanya akan baik-baik saja, Lu"

"Aku harap semuanya bisa segampang itu"

"Hey, ini bukanlah salahmu. Absolutely not! Tunangan mu saja memang yang memang kurang peka"

Luhan tertawa "Aku harus menutup telponya sekarang. Kau tau biaya telpon ke luar negeri itu mahal. Jadi aku akan mengirimi e-mail saja nanti. Okay?"

"Okay. Have fun, alright!"

"alright"

Luhan menjatuhkan lengannya disisi tubuhnya sementara matanya menatap langit-langit kamar. Memikirkan kembali langkah apa yang harus dia ambil selanjutnya. Dia tidak mungkin bisa mengambil langkah yang sama seperti sebelumnya. Tidak! Dia mungkin akan benar-benar hancur jika melakukannya.

Luhan kembali menghela nafas. Dia kemudian bangun dari acara berbaringnya dan berjalan ke arah kopernya. Mungkin berenang bisa menyegarkan pikirannya. Jadi yang dilakukan selanjutnya adalah mengambil baju renangnya dan turun ke bawah.

...

Joonmyeon sedang meracik kopi di konter pemesanan ketika salah satu temannya mendatanginya dengan terburu-buru dan hampir saja menjatuhkan cangkir di sampingnya

"Yakk! Hati-hati!" serunya pada temannya tersebut.

Tapi bukanya minta maaf, temannya itu justru menarik Joonmyeon ke arah jendela. "hey, Joonmyeon. Lihat perempuan di sebelah sana"

Joonmyeon tahu harusnya dia tidak menoleh ke arah yang ditunjuk temannya tersebut karena setelah dia melihat wajah bidadari yang sedang berdiri di pinggir kolam renang dengan pakaian renang yang minim yang menampilkan kulit putih mulusnya itu, Joonmyeon langsung terpesona.

"Dia maniskan?"

Joonmyeon mengangguk tanpa sadar

"Yakk! Joonmyeon! Kau mau kemana"

Mungkin Joonmyeon memang tidak seharusnya menoleh tadi karena sekarang dia mendapati dirinya berjalan ke tempat di mana bidadari tadi berdiri sebelum masuk ke kolam. Melihatnya berenang dengan lincah. Kulit putihnya yang basah seperti bersinar karena cahaya matahari. Mata Joonmyeon terus memperhatikan yeoja itu sambil berjalan mendekat. Dia benar-benar lupa akan sekitar sampai akhirnya tanpa sengaja kakinya tersandung sesuatu dan membuatnya jatuh dengan tidak elitnya.

Untung saja gerakan refleksnya sangat baik sehingga sebelum wajahnya mencium lantai tangannya dia gunakan untuk menahan badannya. Sial! Rutuknya dalam hati, sedikit meringis menahan sakit. Dia menoleh kesamping dan melihat yeoja tadi keluar dari air, hanya beberapa inchi dari wajahnya

"Oh!" Yeoja itu tersentak kaget mendapati wajah seseorang yang berada tepat di hadapannya saat dia keluar dari air

Masih dalam keadan terkelungkup di lantai, Joonmyeon nyengir "u-uuh, maafkan aku"

"Hei, kau baik-baik saja?" tanya yeoja itu.

"yeah, aku baik" Joonmyeon terburu-buru duduk dan membersihkan kemejanya dari debu "So.. Uh.. Jika kau butuh sesuatu kau bisa panggil-"

"Joonmyeon" yeoja itu menyebutkan namanya setelah membaca name tag di kemeja namja tersebut

"Nde?"

"Nama mu Joonmyeon, kan?"

"Ah, benar,,, hehe"

"Aku Luhan" kata Luhan sambil tersenyum

"oh.. Hi.. Luhan"

Joonmyeon sekarang benar-benar yakin seharusnya dia tidak menoleh tadi

...

"Aishh, dasar si hitam itu. Kenapa mendadak membatalkan janji. Dasar!" gerutu Chanyeol setelah membaca pesan singkat dari 'dongsaengnya'. Dia sedang berada di salah satu Cafè di daerah Myeodeong. Di hadapanya juga ada 'dongsaengnya' yang lain sebenarnya. Ngomong-ngomong tentang 'dongsaengnya' yang ada dihadapannya ini, kenapa dari tadi diam saja ya?

"Ya, Sehun~ah" panggilnya pada Sang dongsaeng tapi tidak di respon. "Oh Sehun!" panggilnya lagi tapi tetap tidak direspon. "Ya! Albino!" kali ini lebih kencang dan cukup berhasil karena namja albino dihadapannya ini kini menatapnya. Meski datar -_-

"ada masalah Sehun~ah? Kau melamun dari tadi?" tanya Chanyeol. Mata bulatnya dapat menangkap raut sendu dari wajah datar orang yang ada dihadapannya ini

Sehun menggeleng dan tersenyum tipis "Tidak ada, Hyung"

Chanyeol mengernyit "Benarkah?"

Sehun kembali mengangguk

"Kau tau Sehun~ah. Meskipun aku belum terlalu lama mengenalmu tapi aku cukup tau kebiasaan mu. Dan kau bukan tipe orang yang suka melamunkan sesuatu jika itu memang bukan masalah penting." Chanyeol tersenyum. "Jadi mau berbagi denganku?"

Sehun terkekeh pelan "Kau benar, hyung. Aku memang sedang ada masalah"

Chanyeol diam mendengarkan

"Kau ingat aku pernah bilang padamu jika aku punya tunangankan? Aku sedang ada masalah dengannya. Dan yang membuatku bingung aku tidak tau dia marah kenapa. Tadi pagi dia tiba-tiba saja memutuskan pergi dan hanya meninggalkan note kecil di pintu kulkas"

"Apa kau bertengkar dengannya sebelumnya?"

"Tidak, hanya saja beberapa hari ini dia memang marah padaku karena ku larang bekerja"

"Kenapa kau melarangnya bekerja?"

"Aku hanya tidak ingin dia kelelahan jika dia bekerja. Lagipula gajiku sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan kami sehari-hari"

"Apa kau sudah mendengar alasan dia ingin bekerja"

Sehun diam. Belum. dia belum dengar. Hari itu dia terlalu lelah untuk mendengarkan alasan Luhan dan dia merasa tidak perlu mendengarnya. Toh dia juga akan tetap bilang tidak nantinya. Dia sangat tidak ingin Luhan sakit karena kelelahan seperti dulu saat mereka baru tinggal bersama.

Melihat Sehun yang hanya diam membuat Chanyeol tersenyum "Lain kali dengarkan lah dia dulu. Mungkin dia merasa jenuh jika harus dirumah terus menerus tanpa melakukan apapun. Makanya dia ingin bekerja. Lagipula sebentar lagi kalian akan menikah kan? Bukankah dalam pernikahan kompromi itu penting?"

Dalam hati Sehun membenarkan Chanyeol. Jadi apa selama ini dia begitu egois pada Luhan? Mungkin memang dia yang terlalu berlebihan. Namja albino itu menghela nafas.

"Tapi, kau tau kemana dia pergi bukan?" Chanyeol kembali bertanya

"Kurasa aku tau, Hyung"

"Biarkanlah ia menenangkan pikirannya dulu" Chanyeol menepuk-nepuk pundak dongsaeng albinonya itu

Sehun tersenyum lega "Gomawo, Hyung"

"Anytime, Saengi~" Chanyeol ikut tersenyum "Ya sudahlah jangan galau lagi. Hari ini kita akan Hang Out berdua saja. Si hitam tidak jadi ikut!"

Dan Sehun akhirnya tertawa untuk pertama kalinya hari itu.

...

Joonmyeon melepas apron yang di kenakanya. Kemudian mengambil beberapa kantong biji kopi untuk di letakkan di gudang ketika tidak sengaja dia melihat Luhan sedang duduk di pinggir kolam renang sendirian. Dengan sweater kebesaran yang membalut tubuh mungilnya serta rambut coklatnya yang berterbangan di permainkan angin. Sungguh, benar-benar seperti malaikat yang tersasar ke bumi. Bukannya melajutkan pekerjaannya, Joonmyeon malah meminta salah satu temannnya menggantikan pekerjaannya tersebut dan berjanji akan membayarnya nanti. Sebenarnya sedikit sulit bagi Joonmyeon berkomunikasi dengan bahasa yang tidak biasa dia gunakan sehari-hari. Tapi teman-temannya di China sini sangat membantunya untuk beradaptasi.

Matahari sedang terbenam sore itu dan tubuh Luhan yang seperti tersamarkan menjadi bayangan terlihat sangat menakjubkan

"Hey" sapa Joonmyeon, langsung mendudukan dirinya di samping Luhan

Luhan menoleh ke arahnya dan tersenyum "Hey, Joonmyeon"

Ada perasaan bahagia yang menelusup ke hati Joonmyeon saat dia tahu Luhan mengingat namanya "apa yang kau lakukan disini? Sendirian?"

"Tidak ada. Hanya... Berpikir" Luhan mengangkat bahunya "Oh, iya. Kau ini orang Korea, kan?" tanya Luhan menggunakan bahasa Korea yang fasih

Joonmyeon mengangguk "yeah, Aku datang kesini untuk bekerja. Kau sendiri? Kau tidak terlihat seperti orang Korea tapi lancar berbahasa kami"

"Aku Chinese tapi aku tinggal di Korea"

Joonmyeon mengangguk. Menyimpan semua ekspresi Luhan. Dari yang tertawa geli kemudian senang, lalu sedih. Semua yang di ucapkan Luhan seperti memiliki arti tersendiri.

"Jadi apa yang kau lakukan di Beijing? Liburan atau-"

"Mungkin-" Luhan memotong pertanyaan Joonmyeon "-bisa dibilang, aku sedang melarikan diri?"

Joonmyeon berkedip bingung "maksudnya?"

Luhan hanya tertawa geli melihat wajah kebingungan Joonmyeon

"Say, Joonmyeon. Are free tomorrow?"

...

Baekhyun memanfaatkan waktu istirahatnya dengan berjalan di sekitar stadion yang sungguh sangat ramai dengan kamera di tangan. Mencari seseorang yang menurutnya menarik untuk di wawancarai. Tapi untuk apa dia berada di stadion? Mau nonton bola?

Bukan!

Dia berada di sana karena menjadi salah satu relawan di acara bakti sosial tahunan yang di adakan kampusnya. Tao dan beberapa temannya juga berada disana untuk membantu membagikan sembako kepada keluarga-keluarga kurang mampu. Ada beberapa wartawan yang meliput juga.

Baekhyun mengetatkan genggamannya pada kamera ditangannya saat melihat beberapa anak kecil berlarian disekitarnya. Sebisa mungkin dia menghindari mereka agar tidak menabraknya dan mengakibatkan jatuhnya sang kamera kemudian rusak. Tapi karena terlalu fokus menghindar, Baekhyun yang berjalan mundur tanpa sengaja menabrak seseorang di belakangnya. Dia berbalik dan langsung berhadapan dengan namja yang sedang memeluk Box berisi mie instan. Namja ini sangat tinggi sehingga Baekhyun harus sedikit mendongak untuk menatapnya, namun Baekhyun tidak dapat melihat jelas wajahnya karena tertutup masker dan topi.

"Jeosongabnida, stranger-ssi" ucap Baekhyun sambil membukukkan badannya. Namja itu mengangguk sekali dan ingin berjalan lagi namun Baekhyun menghentikannya. Baekhyun itu adalah orang yang sangat percaya pada yang namanya takdir dan keberuntungan. Dan alasan kenapa ia menghalangi namja dihadapannya ini agar tidak pergi adalah karena dia merasa ini adalah pertanda dari Tuhan bahwa orang dihadapnya ini akan membawa keberuntungan untuknya. "Chogi, stranger-ssi. Bisakah anda membantu saya?"

Namja itu terdiam. Namun tidak lama kemudian dia mengangguk. Baekhyun tersenyum cerah "Bolehkah saya menanyakan beberapa hal kepada anda?" namja itu kembali mengangguk "Kamsahamnida, Stranger-ssi. Just wait a minute, okay?" Baekhyun mencoba menghidupkan kameranya. Tapi entah kenapa tiba-tiba Blank. Haduh kenapa disaat penting begini kameranya jadi ngadat sih, tidak mungkin kan dia memanggil Joonmyeon alias kakak laki-lakinya alias tukang service gratisnya untuk membantunya membetulkan kameranya. Apalagi Joonmyeon ada di China sekarang, tambah tidak mungkin lagi. Terpaksa dia harus berusaha sendiri. "ini seperti wawancara, sebenarnya" Baekhyun masih berusaha menarik atensi si namja selagi dia mengotak atik benda menyebalkan ditangannya.

"Kau tau Park Chanyeol kan? Yeah, tentu saja kau tau, diakan penyanyi terkenal. Kau pasti juga tau kalau akhir tahun ini dia mengadakan konser. Yup, aku akan datang ke konsernya. Dan kau juga pasti tau tentang kontes yang dibuatnya kan?" celoteh Baekhyun. Masih fokus mengotak atik kameranya tanpa mengangkat wajahnya sekalipun. Bahkan saat namja tinggi dihadapannya itu membuka maskernya dan memutar arah topinya kebelakang karena merasa tertarik dengan yeoja mungil yang berceloteh dihadapannya ini "Siapapun yang menang bisa nge-date seharian penuh sama dia. Kau tau, aku sangat sangat sangaaaatt menyukainya. Cinta malah. Hehe. Kuharap kau tidak menganggapku aneh karena mencintai seseorang yang bertemu saja belum pernah. Tapi aku benar-benar menyukainya, aku suka musiknya, gayanya, ahhhh~~ dia benar-benar tampan! Aku bersumpah, aku akan memenangkan kontes ini dan bertemu denganya, kyaa!" Baekhyun malah fangirling, tapi bersamaan dengan itu secara ajaib kameranya menyala. Buru-buru dia mengangkat kamera itu dan bersiap mewawancarai namja tinggi tersebut. Namun dirinya tersentak kaget dan matanya yang sipit sontak membola saat melihat wajah siapa yang memenuhi lensa kameranya.

"KYAAAA, ITU CHANYEOL!" itu bukan Baekhyun yang berteriak. seruan itu datang dari beberapa yeoja-yeoja yang menyadari keberadaan Chanyeol dan dalam sekejap sudah mengerubungi mereka seperti lalat. Baekhyun sendiri masih belum menemukan suaranya. Apalagi saat ini badanya menempel pada dada bidang Chanyeol karena terdesak oleh yeoja-yeoja yang mengerubungi mereka.

"A-aku..aku.." Baekhyun tergagap. Menatap wajah Chanyeol dalam jarak sedekat ini membuat fungsi otaknya tidak bekerja. Apalagi teriakan-teriakan disekitarnya mulai membuatnya tuli.

"ya! Bukankah sudah kubilang jangan sampai penyamaranmu terbongkar!" manager Chanyeol berteriak dan segera menarik namja tinggi itu dari kerumunan sementara beberapa petugas keamanan menjauhkan para Fangirlnya.

Baekhyun kembali tersentak kaget ketika merasakan pergelangan tangannya di genggam seseorang. Dia menunduk menatap siapa yang memegang tanganya tersebut dan kembali dibuat jantungan saat sadar tangan itu tidak lain adalah tangan Chanyeol. Wajahnya seketika memerah sebagai reaksi dari kontak fisik itu juga karena kehangatan tangan Chanyeol yang menyentuh kulitnya

"Siapa namamu?" teriak Chanyeol di tengah kegaduhan yang terjadi disana

"N-na..namaku.." bisik Baekhyun. Sementara otaknya mencoba memproses apa yang sebenarnya terjadi. Perasaannya benar-benar tidak bisa digambarkan. Otaknya lumpuh karena idolanya, orang yang selama ini di sukainya, berada dihadapannya, memegang tangannya dan menanyakan namanya dan sekarang dia merasa ingin menonjok dirinya sendiri karena tidak bisa mengeluarkan suara sedikitpun untuk menjawab. Ya Tuhan! "Na..Na..."

"Dammit" Baekhyun mendengar umpatan pelan dari Chanyeol kemudian merasakan genggaman namja itu terlepas sebelum menghilang dari kerumunan fansnya. Setelah itu Baekhyun baru sadar dari keterdiamannya dan mulai menyusup di kerumunan itu untuk melihat Chanyeol.

"CHANYEOL ! PARK CHANYEOL !" Teriak Baekhyun sambil mendorong yeoja-yeoja di sekitarnya minggir dan baru berhenti saat dia sudah berada di depan. Tapi sayangnya, Chanyeol sudah jauh berjalan menuju Van-nya. "PARK CHANYEOL, I'M BAEKHYUN, MY NAME'S BAEKHYUN" Baekhyun berteriak sekuat tenaganya berharap Chanyeol akan mendengar suaranya ditengah teriakan-teriakan fansnya yang lain.

Baekhyun berusaha menstabilkan nafasnya. Juga berusaha keras agar tidak pingsan atau paling buruk langsung mati ditempat. Kemudian mulai merutuki kebodohannya karena setelh akhirnya bisa bertemu dengan Park Chanyeol tapi dia malah menjadi manusia paling tolol sedunia dan menyianyiakan kesempatan.

Arrrgghh... Ya Tuhan! Tenggelamkan saja dia di samudra Pacific sekarang juga

...

"Kami sudah bersama selama 5 tahun" kata Luhan. Wajahnya menengadah melihat atap bangunan bersejarah yang sedang mereka kunjungi

Joonmyeon menangguk. Mendengarkan semua cerita Luhan sambil mencoba menganalisi menurut pendapatnya sendiri. Dan dia menyimpulkan jika Luhan sekarang ini sedang melalui fase dimana dia merasa kehilangan kepercayaan untuk tetap memperjuangkan hubungannya dengan sang tunangan namun cinta dan rasa kasih sayangnya masih tetap ada.

"Usianya memang lebih muda dariku tapi dia sangat cerdas dan tampan"

"Sounds like a catch," komentar Joonmyeon sambil tertawa pelan

Luhan hanya tersenyum kemudian berjalan ke dalam bangunan sejarah yang sedang di kunjunginya itu dengan Joonmyeon yang setia mengikuti di belakangnya. "Aku tidak tau kapan awal mulanya. Ini... Terjadi begitu saja. Kadang sebagian dari diriku merasa aku yang salah karena bisa bisanya aku cemburu saat melihat dia bekerja. Maksudku, aku juga ingin bekerja. Bukan hanya duduk dirumah dan menunggunya pulang"

"Aku pikir dalam sebuah hubungan, bukankah seharusnya kedua belah pihak memiliki hak yang sama"

"yeah, kau benar" Luhan menghela nafasnya " Dan terkadang ini membuatku merasa bahwa dengan inilah caranya membalas budi padaku"

"Balas budi?"

"Dia masih seoarang mahasiswa ketika kami memutuskan untuk tinggal bersama dulu. Dan karena aku yang sudah bekerja, menjadikan gaji dariku lah satu-satunya sumber pendapatan kami. Tapi kadang dia juga sering menyisihkan uang sakunya untukku meski tidak seberapa. Dia selalu bilang dia akan belajar lebih giat agar saat lulus nanti mendapat predikat terbaik dan bisa mendapatkan pekerjaan yang layak sehingga aku tidak perlu merasa khawatir masalah uang lagi"

Joonmyeon tersenyum, akhirnya paham akan situasi yang sedang terjadi antara Luhan dan tunanganya "Kalau menurut pendapatku, ini hanyalah kesalahpahaman kecil. Mungkin dia melakukan ini, tidak mengizinkanmu bekerja karena dia tidak ingin kau kembali seperti dulu, harus kelehanan karena bekerja. Dia merasa bertanggung jawab atas dirimu sekarang. Lagipula kalian masih muda. Masih banyak rintangan yang harus kalian hadapi. Tapi yang paling penting adalah fakta bahwa kalian ini saling mencintai. Jangan lupakan itu! Selama perasaan itu masih ada, tidak ada salahnya untuk di perbaiki atau kau akan menyesal nantinya karena tidak mau mencoba" kata Joonmyeon memberi masukan, meskipun yeah~ agak sakit juga mengatakan ini pada Luhan dimana saat ini dia merasa tertarik pada Yeoja mata rusa tersebut

Luhan terdiam. Merenungkan kembali hal-hal apa saja yang sudah dilaluinya bersama tunangannya. Mereka selalu sependapat akan berbagai hal seperti warna apa untuk karpet apartment, dimana penempatan sofa agar terlihat bagus, berapa jumlah kursi di meja makan, siapa yang akan membayar sewa bulan ini, di restaurant mana mereka akan merayakan anniversary mereka, musik apa yang akan mereka putar selama perjalanan saat mereka akan berlibur untuk melepas stress dan masih banyak lagi. Hal itu membuatnya sadar, bahwa mereka memang melengkapi satu sama lain. Ini hanyalah salah satu rintangan dalam hubungan mereka. Dan harusnya dia memperbaikinya bukannya menambah lubang yang lebih besar.

Joonmyeon benar!

Luhan menarik nafasnya dalam dan menghembuskanya kemudian menarik tangan Joonmyeon

"yakk, kita akan kemana?"

"Ada bar yang ingin ku kunjungi di bawah jalan"

"Mwo? Yakkk.. Tunggu!"

...

Joonmyeon menghela nafas untuk kesekian kalinya. Kepalanya ia letakan di meja bar disamping beberapa botol bir yang sudah kosong dan gelas yang isinya tinggal separuh. Dia mengerang pelan, merasa jengkel pada dirinya, kenapa juga dia mau menemani Luhan kesini kalau ujung-ujungnya dia harus jadi babysitter yeoja bermata rusa tersebut.

Luhan benar-benar berubah menjadi orang lain saat mabuk. Kau mungkin tidak akan percaya. jika biasanya yang kau lihat adalah Luhan yang kalem, tenang dan pendiam. Sekarang Joonmyeon bisa mengatakan yang sebaliknya. Lihat saja, semenjak tadi Luhan masih asyik menggerakan badanya di lantai dansa tanpa lelah. Atau mungkin ini caranya mengurangi rasa stress yang dialaminya beberapa hari ini. Entahlah, yang jelas Joonmyeon tidak suka melihat Luhan yang seperti ini. Matahari sudah tenggelam sedari tadi dan itu berarti sudah lebih dari 5 jam mereka disana.

Saking lamanya Joonmyeon sudah hampir memasuki dunia mimpi (well, duduk sendiri di pojokan seperti hiasan bunga yang ada di dekatnya itu sangat membosankan) jika saja dia tidak merasakan tepukan di bahunya. Joonmyeon mendongak dan langsung bertatapan dengan deer eyes Luhan.

"Hey~ Why aren't you dancing?" seru Luhan karena suara disekitarnya sangat berisik

Joonmyeon menggeleng dan melihat jam tangannya. Kemudian sedikit memajukan wajahnya agar suaranya terdengar diantara kerasnya musik saat dia bicara "Apa kau tidak lelah?"

"lelah"

"Kalau begitu ayo pulang"

"Tapi, Joonmyeon ~"

"Pulang, Lu!" ucap Joonmyeon tegas

Mereka sampai di hotel satu jam kemudian malam itu. Dan karena Luhan terlalu mabuk, yeoja itu sampai tidak sanggup berjalan sendiri. Alhasil Joonmyeon lah yang harus menggendongnya.

Sampai di kamar Joonmyeon menjatuhkan tubuh Luhan di atas kasur cukup keras. Well, menggendong Luhan dari lobby sampai ke lantai 10 itu cukup menguras tenaga. Luhan sendiri hanya mengerang saat tubuhnya dihempaskan ke kasur. "MEANNIIEE" teriaknya kemudian bergumam tidak jelas

Joonmyeon berdiri disamping kasur sambil berkacak pinggang. Memperhatikan yeoja yang kemarin saat di temuinya begitu terlihat tenang dan pendiam kini terkapar dengan rambut awut-awutan dan penampilan yang berantakan. Huh! Dia jadi merasa lelah sendiri. Di benarkannya posisi Luhan agar lebih nyaman. Kemudian melepas flat shoes yang dikenakan yeoja itu dan terakhir menarik selimut sampai ke dagu Luhan.

Joonmyeon sudah akan pergi saat pergelangan tangannya ditarik oleh Luhan. Dia berbalik dan menemukan Luhan sedang menatapnya "Ada apa? Apa kau perlu sesuatu?"

"Gomawo," bisik Luhan "Kau namja yang baik Joonmyeon. Mungkin jika aku lebih dulu bertemu denganmu sebelum dengannya... Aku tidak akan merasa sesakit ini... Aku tidak harus melakukan semua ini hanya untuk mencoba melupakan"

Kalau begitu tinggalkan dia. Joonmyeon ingin sekali egois dan mengatakan itu. Tapi itu bukanlah sesuatu yang patut untuk di ucapkan sekarang.

"kenapa harus dilupakan? Bukankan kesakitan akan membuat kita lebih kuat"

"Aku tau"

Joonmyeon menangkap sinar lain dalam mata Luhan. Kesedihan dan kesepian. Luhan benar-benar kesepian.

Dia tersentak kaget ketika Luhan tiba-tiba mendudukan dirinya dengan panik. Tangan yang tadinya di gunakan untuk menarik pergelangan Joonmyeon dia lepas kemudian meraba pergelangan tangannya sendiri "Gelangku?"

"apa?"

"Gelangku hilang! Tadinya disini. Aku memakainya!" teriak Luhan panik. Dia membuka selimutnya dan meraba bawah bantal mencari gelangnya

"Mungkin jatuh saat kita datang tadi..." gumam Joonmyeon sambil berkeliling membantu Luhan mencari gelangnya. Dia bahkan tidak tau kalau Luhan memakai gelang sampai saat yeoja itu berteriak tadi. Joonmyeon mencari di bawah selimut, di bawah bantal bahkan sampai ke laci meja. Tapi gelang itu tetap tidak ada. Joonmyeon tau Luhan sudah akan menangis walaupun dia tidak menatapnya. Dia kemudian berjalan ke arah pintu masuk, siapa tahu jatuh disana. Namun langkahnya terhenti saat dia merasa menginjak sesuatu. Joonmyeon membungkuk dan mengambil benda bersinar yang terinjak olehnya tersebut "Yang ini?"

Dalam hitungan detik benda yang ternyata gelang itu sudah lenyap dari tangan Joonmyeon dan berpindah ke tangan Luhan. "Oh, Thanks God"

Joonmyeon mengerutkan dahinya ketika melihat Luhan memeluk gelang itu erat, sudah seperti seorang ibu yang memeluk bayinya. "Sepertinya, gelang itu sangat berarti untukmu ya?"

Luhan tersenyum malu "Hmmm,, Tunanganku yang memberinya"

Tentu saja. Pikir Joonmyeon

"Well, I should go then"

"Tunggu"

"Nde?"

"Bi-bisakah kau menemaniku sampai aku tertidur. Aku tidak biasa sendirian sebelum tidur. Biasanya tunanganku yang menemaniku."

"Tapi aku harus pergi"

"Kumohon~ aku janji aku akan cepat tidur"

"Lu"

"Ah, A-aku juga akan membayarmu nanti atau kau mau aku mengajakmu sarapan besok pagi? Aku—"

"Luhan!"

Yeoja mata rusa itu terdiam mendengar nada tegas dari Joonmyeon

"Aku bukan tunanganmu, okay!" katanya kemudian. Joonmyeon berbalik dan berjalan keluar dari kamar Luhan. Meninggalkan Yeoja bermata rusa itu yang masih terdiam bodoh

Butuh banyak tenaga untuk Joonmyeon mengatakan hal tadi pada Luhan. Tapi dia memang harus mengatakannya. Karena dia dulu pernah ada di posisi Luhan saat ini, bukan tepat di posisi Luhan juga sih, mungkin sang tunangan. Jadi dia cukup tau apa yang harus dia lakukan. Mencoba menyadarkan Luhan agar nasib hubungan yeoja itu dan tunangannya tidak sama seperti dirinya. Huft, menguras tenaga juga ya ternyata. Harus menjadi cupid untuk orang yang sebenarnya menarik perhatianmu

Joonmyeon sedang menuruni tangga menuju halaman hotel ketika dia merasakan ponselnya bergetar di sakunya. Segera dia mengeluarkan ponsel tersebut dan menggeser layarnya

"Yoboseo, Umma... Ne Umma? Maaf Umma, sepertinya aku belum bisa pulang tahun baru ini. Uangku belum cukup.. Jangan khawatir, aku pasti pulang di hari ulang tahun mereka.. Ne Umma.. Ne, Umma sudah minum obat.. Baguslah.. Iya Umma, aku janji, aku akan pulang di hari ulang tahun mereka. Sudah dulu ya Umma... Hmm, bye Umma, love you, I miss you too" Joonmyeon mengakhiri panggilan international tersebut dan mendesah panjang. Dia memang sudah tidak terlalu merasa Homesick, tapi tetap saja, tanpa keluarganya didekatnya dia merasa sepi. Yeah meski di Seoul dia juga tinggal sendiri tapi disini rasanya berbeda.

Joonmyeon kembali melangkah namun terhenti karena mendengar seseorang memanggilnya. Dia berbalik dan melihat Luhan sedang berjalan setengah berlari kearahnya

"Joonmyeon,, aku ingin bilang,, aku minta maaf"

"Untuk?"

"Untuk semuanya. Untuk melibatkanmu dalam masalahku. Aku ingin melarikan diri. Aku benar-benar mencoba untuk pergi. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan" Luhan menundukan kepalanya "Aku mencintainya. Tapi aku tidak mau ini. Aku tidak mau jika akhirnya aku akan kembali kesini setelah satu bulan atau mungkin lebih, menangis dan mencoba kabur lagi untuk alasan yang sama. Aku ingin ini semua berakhir tapi di saat bersamaan aku juga tidak mau"

Melihat tubuh yeoja dihadapannya ini bergetar, Joonmyeon maju selangkah menarik Luhan kedalam dekapannya. Tangannya menepuk-nepuk pelan punggung Luhan mencoba menenangkan.

"Aku mengerti" Gumam Joonmyeon "kau mengharapkan dia berubah. Kau mengharapkan semuanya akan berubah makanya kau tidak bisa melepaskannya. Kau tau jika hari itu akan datang tapi kau terlalu lelah untuk terus menunggu. Jadi jika kau tidak bisa melepaskan maka jangan! Mengerti?"

Luhan mengangguk meski terisak-isak di pelukan namja berwajah malaikat itu "Mianhae, Joonmyeon~ah"

Joonmyeon-ah, gomawo

TBC

Boring? maaf... aku kehilangan feel nulis saat bikin chapter ini.. apalagi ditambah tugas yang menumpuk.. Nop-Des-Jan adalah bulan sibuk jadi maaf kalo udah update-nya ngaret dan gak bagus pula.. tapi semoga gak terlalu mengecawakan deh ya.. hehe

so

Review jusseo~