24/7 in love

Chapter 5 - The Good Luck

by Exo_L123

Casts : Byun Baekhyun, Park Chanyeol and Other EXO member

Genre : Romance, Comedy, Fluff

Rate : T

Summary : Byun Baekhyun adalah seorang fans fanatik dari penyanyi bernama Park Chanyeol. Akhir tahun ini Chanyeol akan mengadakan konser dan membuat sebuah kontes dengan hadiah Nge-date sehari bareng sang idola remaja tersebut. Tentu saja Byun Baekhyun tidak akan melewatkan kesempatan ini.

tulisan italic dan bold adalah wawancara Baekhyun sama orang yang nantinya bakal diceritain

P.s: this is Chenmin

_oOo_

Baekhyun berdehem pelan "Jadi, Stanger Unnie apa yang akan kau lakukan sebelum tahun baru?" tanyanya. Yeoja yang diwawancarainya ini tidak terlalu tinggi tapi memiliki wajah yang imut seperti anak kecil. Meski usianya sepertinya sudah lebih tua dari Baekhyun

"Ummm... Aku—" yeoja itu terlihat ragu menjawab. Tanganya sibuk memilin ujung kaos yang dikenakannya. Baekhyun sendiri masih sabar menunggu jawaban sang yeoja

"I want…I want to lose…my…you know."

"Huh? What is it?"

"You know that thing you want to lose to someone."

"What thing?"

Yeoja itu menggaruk tengkuknya canggung "Ah, sudahlah, tidak usah dipikirkan. Ini memalukan."

"Ehh come on! Say it!"

"That…thing…"

"Nde?"

"Your V-card…."

"…oh."

"umurku sudah 25 tahun" Minseok menghela nafas panjang setelah menyeruput secangkir cappuccino dihadapannya

"Hmm-mm" gumam Hangkyung merespon Minseok tanpa menatap yeoja berpipi bakbao tersebut yang sudah menyenderkan kepalanya ke meja counter. Dirinya sibuk mengelap beberapa gelas sebelum membuka cafénya 10 menit lagi "dan di luar sana ada lebih dari 7 juta orang yang jauh jauh lebih muda darimu yang tidak akan berpikir dua kali hanya untuk kehilangan kepererawanan mereka"

"Yeah" Minseok bergumam malas "Aku hanya... Apa di jidatku ini ada tanda 'don't fuck me' yang begitu jelas ya?"

Hankyung menoleh kali ini dan dengan bodohnya memeriksa dahi Minseok untuk mencari tanda tersebut. Dia terkekeh pelan dan menggelengkan kepalanya. Menertawakan tidakanya sendiri.

Terdengar suara lonceng dipintu café berbunyi yang tandanya orang yang masuk ini memiliki kunci karena café baru dibuka sekitar 5 menit lagi. Sesosok yeoja memakai mantel tebal serta syal panjang yang mengalung di lehernya datang dan tersenyum ke arah mereka. Yeoja itu Kim Heechul, pacar Hankyung

"Hai" sapanya sambil melepas atribut musim dinginya satu persatu "Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanyanya, berdiri didepan cermin dan mengikat rambutnya

"Virginity" Jawab Hankyung dan Minseok mencebikkan bibirnya

Minseok merasa seseorang menepuk bahunya "Xiumin baby, tahun baru sebentar lagi datang. Dan bukankah aku sudah bilang padamu, kau tidak maukan melewati tahun ini masih dalam keadaan perawan?" kata Heechul dan dengan santainya duduk di kursi tinggi disampingnya

"Kau sudah mengatakannya bahkan sebelum bulan Desember datang Unnie" gerutu Minseok

"Suck to be you" Goda Heechul terkekeh pelan

"Thanks"

Hankyung yang sudah selesai dengan gelas-gelasnya mencondongkan tubuhnya melewati meja counter "Sebenarnya aku tidak terlalu mengerti dirimu Min, kau tau kau punya begitu banyak mantan kekasih tapi-"

"-selalu berakhir dengan di selingkuhi" Minseok melanjutkan ucapan Hankyung. Bibirnya tambah maju kedepan. Cemberut

Heechul ber-tks ria "Xiumin baby, kau ini gorgeous, hanya saja wajahmu itu yang menghalangimu melakukan 'itu' dengan pasanganmu. Mereka pasti membayangkan melakukan sex dengan anak dibawah umur karena wajahmu memang terlihat seperti anak kecil"

Minseok berjengit "hah! Benarkah?" Hankyung sibuk mengeluarkan laptop dari dalam tasnya dan Heechul juga sibuk mengamati pacarnya tersebut sehingga Minseok seperti berbicara dengan angin "Apakah itu buruk?"

"Oh, Honey, kasihan sekali sih dirimu" Heechul memasang muka sedih sambil menggelengkan kepalanya

"okay, jadi poinnya disini adalah kau membutuhkan seorang Pria" kata Hankyung tiba-tiba, membuat Minseok hampir tersedak

"Pria?!"

"Yup, seseorang yang kontradiktif dengan wajah anak-anak mu itu" jelas Hankyung sambil mengotak atik laptopnya. Matanya fokus menatap layar benda tersebut "Dan karena kami ini adalah sahabat baikmu, kami akan membantumu karena kurasa rencana Kyungsoo waktu itu juga tidak berjalan lancar bukan?"

Minseok menatap mereka bingung. Penasaran juga sih dengan apa sedang mereka lihat di internet "Membantuku bagaimana?"

Hankyung melambaikan tanyanya menyuruhnya untuk mendekat ke arah mereka. Minseok menurut dan seketika memalingkan mukanya, wajahnya memerah sampai ketelinga ketika melihat begitu banyak foto Pria telanjang di layar laptop "Yahhhh! Apa-apaan itu?"

"Stop being pussy and look!"

"Ta-tapi itu..."

"Inilah kenapa kau tidak bisa melakukan sex selama ini. Demi Tuhan, baby. umurmu itu 25 tahun, tapi melihat gambar pria telanjang saja kau malu," Heechul memutar bola matanya malas "Sekarang pilih"

"mereka itu... "

"Hosts, yes" jawab Hankyung cepat sambil menscroll kebawah. Menampilkan lebih banyak lagi foto-foto pria telanjang itu plus harga masing-masing

"Tapi aku tidak punya uang"

"Kami yang bayar tentu saja. Yang penting kau bisa melakukan sex dan dianggap berpengalaman nantinya jika punya pacar lagi. Jadi mereka tidak akan meninggalkanmu karena tampang bocahmu itu, karena kau sudah pernah melakukan hal yang lebih dewasa dari sekedar ciuman" pidato Hankyung panjang lebar "Jadi, kehilangan keperawanan atau bayar kita balik?"

"Fine" Minseok setengah dongkol menjawab

Hankyung dan Heechul tersenyum lebar "Assa! Bagaimana dengan yang ini?"

"Terlalu besar"

Hankyung dan Heechul saling pandang

"Ma-maksudku seluruh badanya yang besar bukan cuma yang dibawah sana"

"oh" kor Hankyung dan Heechul sambil menganggukan kepalanya kemudian melanjutkan "Bagaimana dengan yang ini, wihhh dia terlihat hot"

Minseok melirik foto yang ditunjuk pasangan double H tersebut dan setelahnya dia tidak mampu untuk mengalihkan pandangan dari foto. Disampingnya dia mendengar Hankyung dan Heechul tertawa puas sambil bertanya 'Bagaimana menurutmu?' dan dia mendapati dirinya menjawab 'Yes, yes he's perfect' sambil tersenyum lebar. Bahkan saking fokusnya menatap foto pria itu, dia sampai tidak melihat Hankyung dan Heechul yang ber high five di belakangnya.

...

Pada hari selanjutnya terasa lebih... Sulit untuk Minseok. Sulit karena hari ini -benar-benar hari dalam arti harfiah- adalah hari dimana dia memutuskan untuk bertemu dengan pria yang ada difoto (dimana Hankyung dan Heechul yang sepertinya berencana untuk mempermalukannya karena bisa-bisanya mereka membooking motel di siang hari, itu sangatlah bodoh). Tapi disinilah dia sekarang. Berdiri di depan sebuah motel dan dengan canggung membawa paper bag yang ditempelkannya ke dada saat seorang security mendatanginya.

"Miss? Apa anda sudah reservasi sebelumnya"

"Hah! Um.. Ya"

"Anda sendirian?"

Mata Minseok melebar saat menatap security di hadapanya ini "Kenapa? Apa kau melihat orang lain disebelahku?"

Security disampingnya ini berusaha menahan diri untuk tidak mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar saat mengantar Minseok yang ketakutan masuk kedalam motel. 'ck, virgin' gumamnya dalam hati

Jika kalian berpikir bahwa Minseok takut kalian salah! Karena dirinya bukanlah lagi takut tapi extremely marvelously tremendously SCARED OF HER LIFE. Ini pertama kalinya dia masuk ke motel, menunggu seorang pria, lebih tepatnya pria panggilan, sambil menatap lingerie yang di berikan Heechul -wait what? Minseok menatap horror benda yang sedang dipegangnya. Ya tuhan, apa-apaan Kim Heechul itu.

No way I'm going to wear that. Minseok melemparkan kembali lingerie itu kedalam paper bag dan memilih untuk memakai hot pant serta tank top saja kemudian berbaring di kasur sambil menatap bosan pada langit-langit kamar.

Oh God of the east, berkatilah aku dan jiwaku, yang semoga saja mampu menemukan kedamaian dalam namja yang bahkan tidak ku kenal ini

Berkatilah namja yang nantinya akan melakukan hal ini bersamaku, semoga saja dia tidak menderita penyakit AIDS ataupun penyakit sejenis lainya

Dan terakhir berkatilah kasur ini, yang akan menjadi tempat dan saksi bisu saat aku bangun nanti

Dan juga aku berdoa semoga namja ini cepat datang karena aku sudah sangat gugup menunggu disini...

Kemudian Minseok mendengar ketukan dua kali dipintu kamarnya

Yeoja pipi bakpao itu mengerutkan dahinya "Cepat sekali? Wow" kemudian menggelengkan kepalanya dan bangkit dari kasur. Dengan gugup menarik ujung tank topnya sambil berdiri disisi kasur. Menunggu pintu kamar itu terbuka kemudian menampilkan sesosok namja, Minseok merasa bahwa dewa Adonis telah bereinkarnasi "wah.." ucapnya kagum tanpa sadar

"Um.. Kim Minseok?"

Minseok mengangguk, matanya masih setia memandangi mata dewa Adonis yang seksi ini dan juga bibir kissable-nya dan what the hell

"Aku... Chen"

Minseok kembali mengangguk

"Kau tidak terlalu banyak bicara ya. Well, itu bagus karena kurasa kita tidak butuh banyak bicara"

OH MY GOD

I'M FREAKING LOVE MY LIFE NOW

Beberapa detik berlalu dan Minseok menemukan dirinya memandang lurus kearah tubuh Chen, lihat semua otot bicep itu, atau abs coklat yang sungguh sempurna. Ya tuhan, semua yang ada pada diri namja ini sungguh membuat gairahnya naik. Tidak pernah dalam hidupnya dia merasa bersemangat seperti ini dan lagi karena selama ini hidupnya kan hanya seputar kertas-kertas laporan dan meeting untuk proyek dan bla bla bla. Meskipun sebenarnya ini terasa salah. Menginginkan namja seperti Chen ini dan lebih muda darinya, tapi entah kenapa saat dia menatap mata namja ini, dia merasa bahwa ini benar. Semua ini tidaklah salah

Minseok kembali berbaring dikasur sekarang dengan tubuh tegap Chen diatasnya. Kedua lengan Chen berada disisi kepalanya, mengungkungnya dalam kekuasaan dewa Adonis tersebut. Dalam diam Minseok menatap mata, hidung serta bibir Chen yang begitu seduktive dan hal itu membuat otaknya berteriak take me now

"Kau siap?" tanya Chen ditelinganya dengan suara berat yang sungguh seksi

"Y-ya"

Chen mendekatkan wajahnya dan Minseok merasa ini adalah saat yang tepat untuk berdoa "Oh, dear God, please bless me oh God this is really happening"

"Hey, relax"

"okay"

Chen menunduk lagi dan lagi-lagi Minseok menghentikan pergerakannya "it's happening oh gooooddddd" Chen menghela nafas "Mian, gwenchana"

Chen kembali menunduk dan Minseok menutup rapat kedua matanya dengan pipi yang merah padam. Namun tiba-tiba Chen menegakkan tubuhnya dan berkata "Aku tidak bisa melakukan ini"

"Apa?! Tidak! Aku siap! Aku benar-benar siap! Come!"

"Tidak... Bukan itu" gumam Chen sambil melepas kaki Minseok yang melingkar dipinggangnya "Aku tidak jujur padamu. Sebenarnya aku bukanlah pria panggilan"

"Maksudnya?"

"Aku..." Chen mempause perkataannya sambil berjalan dan menundudukan bokongnya pada sofa yang tidak jauh dari kasur "Aku hanya menginginkan uangnya. Maafkan aku"

"Oh, jadi ini penipuan?! Aha I knew it! Kau ini penipu kan?"

"Tidak! Bukan begitu,, Orang tua ku sedang dirawat dirumah sakit sekarang" Chen berusaha membela dirinya karena tidak ingin dikatakan penipu oleh Minseok. "Maafkan aku, aku tidak tau lagi apa yang harus kulakukan untuk membayar biaya rumah sakit" tambahnya, mengusap wajahnya kasar karena frustasi

Minseok tidak mengatakan apapun. Dia hanya terduduk dikasur dengan tangan saling melipat dipangkuannya sambil memperhatikan namja yang hampir melakukan sesuatu yang iya-iya padanya tadi itu menunduk lesu. Selama 25 tahun hidupnya. Dirinya sudah banyak sekali mengalami yang namanya ditipu. 15 kali oleh mantan pacarnya. 10 kali oleh agen travel. Dan 50 kali oleh kupon undian. Intinya, Kim Minseok adalah seorang yang sangat gampang menaruh rasa percayanya kepada orang lain sehingga sangat gampang pula dirinya kena tipu.

Tapi, namja Chen ini sepertinya jujur

"Mianhae, Minseok-ssi"

Minseok menghela nafasnya "yeah, begitulah hidup. Kadang apa yang kita inginkan belum tentu kita dapatkan" kata-kata itu untuk Chen dan juga untuk dirinya sendiri

Mendengar itu, Chen mengangkat wajahnya dan menatap Minseok bingung

"Maksudku" Minseok melanjutkan "Disitulah letak keindahannya. Terkadang kita tidak menginginkan sesuatu tapi kita malah mendapatkanya. Dan justru sesuatu yang sangat kita inginkan malah tidak tercipta untuk kita miliki. Kita ini adalah individu unik yang hidup dengan cara unik kita masing-masing. Kehidupan mu tidak akan sama dengan kehidupan orang lain. Jadi kita tidak bisa mengatakan bahwa hidup kitalah yang terburuk atau hidup mereka yang terburuk. Karena pada akhirnya kita mendapat porsi yang sama. Maka dari itu kita bebas mengatakan 'inilah hidupku' karena memang kita yang menjalani" dia tersenyum pada Chen "Jadi, jangan patah semangat. Aku yakin bukan hanya kau manusia yang mempunyai masalah di dunia ini"

Chen terkesima. Matanya menatap lurus ke mata Minseok dan tersesat disana. Gadis ini begitu menakjubkan. Begitulah pikirnya. Lama dia tenggelam menatap mata itu. Hingga akhirnya karena keadaan mulai terasa canggung dia melihat Minseok bergerak turun dari kasur.

"Kurasa aku harus mengganti bajuku sekarang"

"Hey" panggil Chen, membuat Minseok yang akan berjalan ke kamar mandi berhenti "aku mungkin tidak bisa memberikan service yang kau minta sekarang, tapi.."

Minseok blushing

"aku bisa menemanimu untuk menghabiskan waktu hari ini" Chen tersenyum miring "bagaimana kalau kita menyebutnya kencan?"

Minseok hampir tersedak udara yang dihirupnya "Kencan? Kau dan aku? Aku dan kau? Kita?"

Chen mengangguk sambil terkekeh, merasa lucu melihat respon yang diberikan Minseok

Minseok menarik nafas dalam (menghirup wangi cologne yang dipakai Chen dalam prosesnya) kemudian mengangguk "okay"

Well, mereka mengalami peningkatan yang cukup cepat

...

"Joonmyeon!"

Joonmyeon berbalik saat mendengar manager café tempatnya bekerja memanggilnya. Dia mendapati wajah managernya itu terlihat kusut seperti sedang badmood. Kemana perginya senyum yang biasa menghiasi wajahnya itu?

Joonmyeon berjalan pelan menghampiri sang manager "Yes, Sir"

"Pergi kemana kau seharian kemarin? Pelanggan di café kemarin itu banyak, dan pelayan disini tidak cukup. Aku membayarmu untuk pekerjaanmu bukan untuk ketidakhadiranmu"

Luhan yang sedang berjalan di Lobby hotel tidak jauh dari mereka berdua bicara tanpa sengaja mendengar teriakan si manager. Saat dia menoleh, mata rusanya menangkap sosok Joonmyeon yang sedang menunduk karena ditegur oleh managernya. Kemudian dia meminta kepada bellboy yang membantu membawakan kopernya untuk berjalan duluan dan menghampiri mereka

"Pokoknya ini terakhir kalinya aku menegurmu, mengerti? Kau tidak ingin pulang tanpa membawa sepeserpun uang kan?"

"Umm.. Permisi?" dua kepala itu langsung menoleh ke arah Luhan

Wajah sang manager langsung berubah lembut saat melihat Luhan "Oh, Good morning, Miss"

Luhan tersenyum "Maaf jika menginterupsi anda. Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih pada salah satu pegawai anda, Joonmyeon, karena sudah membantu saya kemarin. Dia benar-benar pekerja yang baik. Dan sangat sabar. Saya sungguh terkesan"

Manager itu nampak terkejut oleh penjelasan Luhan. Terlihat dari muka bingungnya saat menatap Joonmyeon kemudian kembali ke Luhan "Umm.. Well, kami sangat senang bisa melayani anda"

Luhan kembali menampilkan senyumannya dan mengangguk singkat kemudian pergi. Joonmyeon sendiri masih bingung, apa dia harus mengejar Luhan atau tidak saat managernya kembali bicara "Kalau begitu kembalilah bekerja Joonmyeon"

Segera setelah managernya pergi, Joonmyeon langsung berlari mengejar Luhan setelah mengingat hari apa ini

"Luhan!"

Luhan yang sudah akan membuka pintu taksi berbalik

"Kau sudah akan pergi?"

"Penerbanganku pukul 11 siang ini"

"Kenapa?"

Luhan terdiam sejenak "Aku memikirkan apa yang kau katakan padaku. Dan kurasa kau benar. Aku selalu berharap dia berubah makanya aku tidak bisa pergi darinya. Aku mencintainya. Aku sangat mencintainya bahkan hanya memikirkan untuk meninggalkanya saja rasanya sakit" Luhan tersenyum "Dia selalu ada untukku. Ketika kami bertengkar dia akan selalu menjadi orang yang mengalah dan mencariku. Aku mungkin hanya merasa jenuh dengan sikapnya yang kadang otoriter dan tidak mau mengalah tapi dia juga sudah banyak berkorban untukku. Untuk kami. Aku sekarang sadar jika meninggalkanya bukanlah jalan ku inginkan"

Joonmyeon tersenyum, tahu jika Luhan pada akhirnya akan mengatakan ini

"Joonmyeon-ah, jeongmal Gomawoyo"

"Ne, Cheonma. Dan aku turut senang untukmu" Joonmyeon mengangguk, masih dengan senyum angelic yang sama "Goodluck, Luhan. Meski begitu aku tetap berharap kau akan datang lagi kesini"

Luhan tertawa "Jangan khawatir. Jika aku kesini lagi aku akan mengajaknya bersamaku"

...

Minseok dan dewa Adonis -ralat Chen menghabiskan sisa hari itu dengan berjalan-jalan di mall. Hanya berkeliling sebenarnya karena mereka tidak punya uang. Mencoba berbagai macam baju tanpa niatan untuk di beli. Haha... Ini adalah satu hari yang menyenangkan. Setidaknya mereka bisa merelakskan pikiran dari beban yang selama ini menggantung di pundak mereka. Dan Minseok pikir, dia memang butuh yang seperti ini. Menghabiskan waktu dengan orang yang tidak akan menjugde kita karena memiliki masalah yang bisa dikatakan sama

"Minseokie~"

Minseok menoleh dan merasakan sebuah jari menusuk pipinya. Kemudian terdengar tawa riang Chen yang menertawakannya karena berhasil menjahilinya

Dan, Ya. Minseok memang butuh yang seperti ini

"Hey, Minseok. Coba lihat toko itu" Chen menarik Minseok memasuki sebuah toko aksesoris. Minseok hanya menurut kemudian berdiri tidak jauh dari Chen saat namja itu melihat-lihat berbagai macam aksesoris yang terpajang di display. Raut mukanya berubah-ubah, kadang tersenyum dan terkekeh saat melihat sesuatu yang menurutnya lucu atau kadang mengerutkan hidungnya saat bingung atau tersenyum lebar ketika menemukan sesuatu yang disukainya. Minseok sendiri tertawa kecil melihat Chen. Sungguh namja itu benar-benar menghiburnya bahkan saat tidak disengaja sekalipun.

Minseok tersentak kaget saat Chen tiba-tiba memakaikan bando di kepalanya "Wah,, itu cocok denganmu"

Yeoja pipi bakpao itu berbalik menghadap kaca dan melihat di kepalanya terpasang bando berbentuk telinga kucing. Dia mempoutkan bibirnya dan kembali berbalik menatap Chen "Apa maksudmu ini cocok denganku?"

"Karena kau mirip kucing. Imutnya~"

Minseok memalingkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah. Astaga, ini terasa membingungkan. Bagaimana mungkin dia bisa merasa nyaman seperti ini terhadap orang yang tidak terlalu dikenalnya. Bagaimana mungkin orang yang tidak terlalu dikenalnya ini mampu membuatnya merasakan perasaan aneh ini. Apalagi di usianya sekarang. Dia memang belum terlalu tua, tapi umumnya orang seusianya harusnya sudah pernah merasakan yang seperti ini kan? Tapi dia malah baru merasakanya. But nonetheless, it's the best feeling

"Hey, Minseokie~"

Minseok menatap sekitar, mencari dari arah mana Chen memanggilnya dan dia menemukan Chen sedang berdiri dibawah pohon natal yang sangat tinggi sambil melambaikan tanganya. Menyuruh Minseok untuk mendekat. Dengan terburu-buru yeoja itu berjalan kearah Chen dan kembali tersentak saat Chen lagi-lagi menarik tanganya. Kali ini memasuki sebuah toko coklat.

Mata Minseok berbinar seketika saat melihat berbagai macam coklat berbeda bentuk dan ukuran terpampang dihadapannya. Dia bahkan mulai berkhayal bagaimana rasanya jika dia bekerja disini dan bisa mencicipi tiap coklat yang ada disini setiap hari sampai khayalannya berpindah pada bagaimana menyenangkannya jika bisa menjilati coklat-coklat ini yang di oleskan di Abs Chen. Oh God, Kim Minseok! Stop it! Minseok menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran kotor yang menghinggapinya barusan.

"Apa kau mau?" tanya Chen

Minseok refleks mengangguk. Namun tiba-tiba sadar "Eh, tidak.. Maksudku, tidak usah. Kau tidak perlu membelikanya untukku"

"Tidak apa-apa. Aku punya cukup uang kalau hanya untuk membeli ini"

"Chen, kau lebih membutuhkan uang itu daripada aku. Dan bukanlah sesuatu yang bijaksana jika kau mengeluarkan uangmu hanya hal seperti ini"

Chen menghela nafasnya pasrah "hah, Mianhae. Aku ingin memberimu sebuah kencan yang berkesan tapi aku malah tidak punya uang"

"Hey, kita tidak membutuhkan banyak uang hanya untuk kencan karena menurutku ini saja sudah membuat ku sangat terkesan. Gomawo Chen-ah" Minseok tersenyum tulus. Membuat Chen nyaris buta saat melihat sinar cerah yang menguar dari senyuman yeoja tersebut

"PARK CHANYEOL'S CONCERT! TOMORROW, DECEMBER 31, LET'S SPREAD OUR LOVE EVERYONE!"

Chen menatap iklan yang baru saja berlangsung dan sebuah ide baru saja tercipta di otaknya

"Aku sudah harus pergi sekarang"

"already?"

"Bagaimana kalau kita bertemu lagi besok?"

"Huh—"

"Aku akan menjemputmu pukul 5 sore besok"

"Dimana—"

"Pakai saja pakaian kasual yang nyaman" Kemudian Chen berbalik dan langsung berlari meninggalkan Minseok

"Tunggu..." gumam Minseok saat melihat tubuh Chen yang sudah menghilang kerumunan. "Bukankah besok malam sudah tahun baru?"

...

Baekhyun menghempaskan tubuh mungilnya pada kasur dengan malas. Merasa energinya seperti sudah terserap habis saat merasakan lembutnya sprey kasurnya tersebut. Berjalan keberbagai tempat untuk mewawancarai orang ternyata begitu melelahkan. Ditambah fakta bahwa dia tidak bisa datang ke konser Chanyeol benar-benar menyurutkan semangatnya. Huftt

Terdengar seseorang mengetuk pintu kamarnya, tapi karena terlalu lelah untuk membukakan, dia hanya berteriak 'come in'

Pintu terbuka dan Tao berjalan masuk sambil tersenyum cerah "Tebak apa yang aku punya di balik punggungku?"

"Apa?" Tanya Baekhyun sambil duduk

"TA-DAAAA" Tao menunjukan padanya tiket konser Chanyeol yang dibelinya beberapa hari lalu "Aku tidak sengaja lewat sebenarnya. Dan karena aku ingat betapa sibuknya kau beberapa hari ini, jadi aku membelikanya untukmu"

Baekhyun hanya menatap sendu tiket itu

"Unnie? Kenapa? Kau tidak senang?" Tanya Tao saat melihat reaksi Baekhyun yang out of character. Biasanya kan dia akan berteriak-teriak girang

Baekhyun menghela nafanya berat "Harusnya memang senang, tapi aku tidak bisa datang. Umma kan akan datang besok, dan menyuruh kita berdua untuk menjempunya di bandara serta menghabiskan waktu seharian untuk memdengarkan ceritanya"

"Ah, iya benar. Apa Unnie tidak bilang pada Umma? Kenapa Unnie tidak bilang saja kalau Unnie sibuk?"

"Sudah, dan Umma bilang tidak bisa. Kami sudah jarang bertemu. Jadi jika aku menolak untuk menghabiskan waktu bersamanya. Pasti umma marah dan akan menghukumku"

Tao tertawa "well, umma kan sudah tua. Dan biasanya orang tua itu lebih emosional." dia menghela nafas kali ini "yeah, too bad. Guess you'll just to watch the concert on YouTube "

"As usual" Baekhyun kembali menghempaskan tubuhnya dikasur dan bertahan dalam posisi itu cukup lama. Bahkan sampai Tao keluar dari kamarnya, mencoba memikirkan apa yang akan dilakukannya besok.

Dia sudah sangat dekat. Setelah sekian lama akhirnya dia bisa melihat Park Chanyeol secara langsung. Tapi kenapa disaat segala sesuatunya sudah hampir terlaksana harus ada sesuatu yang terjadi, menempatkan batas antara keberhasilan dan kegagalan

Maksudku, kenapa susah sekali melihatnya secara langsung sih, bahkan hanya sekali

Lagipula, Ini juga tidak seperti dia akan langsung menikah dengan Park Chanyeol setelah konser (meskipun itu terdengar bagus). Park Chanyeol hanyalah orang yang disukainya ( okay maybe a little bit of love sprinkled somewhere) dan disini -nunjuk dada- tidak akan terasa sesak jika dia dibiarkan untuk melihat Chanyeol dari dekat sambil menyanyi (dan berkeringat, that would be hella hot) hanya sekali saja. Hanya sekali, atau mungkin dua kali atau tiga kali juga kedengarannya bagus.

Penelitian menunjukan bahwa semakin sering fans menonton idola mereka maka akan menciptakan fans yang lebih dewasa dalam bersikap dan berperilaku lebih baik. Intinya menjadi fans yang beredukasi (apa iya? Ngarang lu, thor)

Merasa terlalu depresi, Baekhyun memutuskan untuk menyalakan laptopnya dan berselancar di internet. Namun saat layar desktop-nya menyala, dia langsung mendapat panggilan Skype dari kakaknya. Buru-buru dia menjawab video call tersebut dan tidak ada satu menit, angelic face kakak laki-lakinya itu memenuhi layar. Dia baru sadar jika dia sangat merindukan kakak lelakinya ini saat melihat wajahnya sekarang

"Joon, oppa!"

"Hey,, kemana saja kau seharian ini? Aku menunggumu tau!"

"Mian, oppa. Hehe.. Sibuk"

"Aku juga sibuk. Jadi, apa yang ingin kau tanyakan padaku sampai harus menggunakan Skype?"

"Ini untuk project video yang sedang aku buat"

"Oh, itu masuk akal. Jadi apa yang harus aku lakukan? Ini tentang tahun baru, Kan?"

Baekhyun mengangguk "Jadi apa yang akan oppa lakukan saat Tahun baru?"

Joonmyeon bergumam pelan dan memasang tampang berpikir "well" dia memulai " Dibanding menghabiskan tahun baru dengan pacar, yang mana aku tidak punya. Aku pikir menghabiskannya dengan keluarga justru lebih baik. Kebanyakan orang dari generasi kita berpikir Tahun Baru haruslah dirayakan dengan pacar, you know, those kissing at midnight stuff. Tapi menurutku, ini justru waktu yang tepat untuk dihabiskan bersama keluarga. Merayakanya dengan orang-orang yang kau cintai berdiri disampingmu, yang selalu mendukungmu, selalu mencintai mu apapun yang terjadi, bahkan setelah tahun-tahun berlalu. It's a great time to spend the day with my family. So, what I would do? I'd go home."

Yahh.. Mungkin menghabiskan waktu bersama keluarga besok tidaklah buruk.

TBC

Yoyoyo... Gimana? Gimana? Gimana? Moga aja pada suka chapter ini,,hehe. Sedikit curhat nih ya, part jawaban Joonmyeon itu saya sekali (nasib jomblo)... Dan untuk chapter depan, bakalan nyeritain tentang semua couple yang di wawancarai sama Baek, Dan tentu saja konsernya Chanyeol.. Jadi tunggu aja ya.. haha. oh iya dan juga makasih banget sama semua yang udah memfollow, memfavorite, dan mereview cerita ini.. i love you soooo much guys.. haha

So

Review jusseoooo ~