Warning : Garing, AU, sangat OOC. Misstypes.
Disclaimer : Standar Applied.
Chapter 2 : Signal.
.
.
.
"Sasuke itu, ganteeeng sekali, ya?!" puji si rambut merah dengan wajah berbinar cerah. "Matanya keren, hidungnya mancung dan kulitnya terawat, he is the real of mr. Charming!" Pembicaraan yang benar-benar tendensi, pembicaraan yang tidak pernah redupnya di antara perawat-perawat wanita. Tidak di bawah, di atas gedung, mereka semua (para wanita) senang sekali membicarakan hal itu.
Sakura tahu, Karin sangat bangga bisa dekat dengan pria emo itu. Baru sekali-dua kali kencan ke toko buku saja sudah heboh seperti ini, bagaimana jika benar menikah nanti? Siapa pun akan berani bertaruh—akan sangat membosankan menjadi istrinya. Selain ia hemat kata, Sasuke juga sulit sekali ditebak.
"Dia cocok sekali ya, sebagai perawat anak, wajah dinginnya ketika merawat para balita. Ya ampun, mana ada wanita yang menolak untuk melahirkan anak darinya."
Hampir semua orang dalam gedung ini tahu bahwa Karin tergila-gila pada Sasuke. "Sudah pasti anak kami terawat pula!"
"Heh, yakin sekali kalian akan punya anak?" Sakura hanya bisa geleng-geleng mendengar itu. "Tapi, kudengar selera makan Sasuke cukup pilih-pilih loh." Sakura merespon dengan nada setengah mengejek. "Apa kamu betah kalau punya suami makannya pilih-pilih seperti itu? Kita kan sibuk, mana sempat pesan makanan enak atau masak yang enak-enak."
Wajah Karin memerah karena sedikit kesal. Hanya masalah seperti itu saja tidak perlu banyak dipertimbangkan. "Huh, soal itu kan gampang, aku pasti rela bangun lebih awal buat makanan."
"Yakin sekali?" Perkataan Sakura seolah meragukan Karin. Dari ujung lorong, Sakura melihat sosok Sasuke yang tengah berjalan ke arahnya. Jarang sekali kan, perawat poli anak itu mampir ke gedung mereka. Sakura melambai-lambaikan tangannya, menyadari apa yang terjadi membuat Karin salah tingkah sendiri. "Kau mau mencari Naruto?" Mata Sakura melirik Karin.
"Yah, begitulah. Di mana dia sekarang?" Terlihat semburat wajah kesal dari raut Sasuke.
"Ya ampun, memangnya apa yang sudah si Naruto lakukan padamu, Sasuke-kun?" Karin yang pertama menyadari ekspresi tidak menyenangkan dari pria tampan itu.
"Tidak ada apa-apa."
Sakura langsung merasa penasaran dengan apa yang terjadi. "Eh, memangnya ada apa sih?"
"Jadi dia ada dimana?" Sasuke tidak menghiraukan pertanyaan Sakura. Lagipula untuk apa pula kedua wanita ini harus menghalangi langkahnya?
"Hm, pasti ada sesuatu yang terjadi," ujar Karin entah kepada siapa. "Sasuke, apakah Naruto baru saja menyebarkan poto liburan kita yang ada di pantai kemarin?"
"Apa?! Kalian bertiga liburan ke pantai? Kapan? Kok, aku nggak diajak sih?" Tampak kekesalan di raut wajah Sakura. Tanpa sadar ia sudah berpose berkacak pinggang.
"Maafkan saja dia, Sasuke. Dia suka poto itu makanya di-uplod di Instagram."
Setetes keringat tergambar di kepala Sasuke. Niat untuk segera marah-marah ke Naruto menjadi hilang. Lagipula si Dobe mendadak menghilang seharian ini dari jarak pandang matanya. Mungkin sengaja. Mungkin juga sudah merasa bersalah sendiri. "Aku akan kembali saja kalau begitu. Aku baru teringat ada sesuatu yang penting." Sasuke berbalik melangkah lebar-lebar, mengabaikan Karin yang berusaha menahannya dengan keadaan melankolis.
"Sasuke~"
Sakura memutar bola mata. Pemandangan di depannya seperti seorang istri yang ditinggal tugas militer oleh suaminya. "Eh, ngomong-ngomong memangnya kapan kalian liburan?" Sakura masih penasaran, kenapa sih ia tidak ditawari ikut kemarin?
"Oh ... itu liburan keluarga kami. Tapi, Naruto malah mengajak Sasuke. Aku sih setuju saja!"
Mungkin hanya di pandangan Sakura saja, mata karin berbentuk huruf X sementara mulutnya membentuk D.
"Jahat sekali tidak mengajakku. Aku kan mau juga."
Karin meletakkan jari lentikknya di dagu. "Oh, itu liburannya hanya sehari kok. Benar-benar sebentar. Itu juga tanpa rencana."
"Lalu, poto apa yang diambil Naruto tentang Sasuke?"
Karin tertawa sebentar mengingatnya. "Walaupun Sasuke merasa malu dengan potonya, tapi menurutku ia tetap tampan di situ." Bukan itu jawaban yang diinginkan Sakura. Harusnya Karin mendeskripsikan keadaan dalam poto tersebut. Ah, sudahlah lupakan.
"Naruto itu lucu ya, suka sekali menjahili orang."
"Apanya yang lucu. Kami kesal dengan tingkah lakunya di villa kemarin."
"Heh, memangnya ada apa?" Semakin lama rasa-rasanya Sakura semakin kepo saja.
"Saat lampu di dalam villa mati. Dia malah masuk ke dalam kamarku."
Sakura tertawa mendengar itu. Sudut matanya mengeluarkan air mata dan ia langsung menyekanya. "Ha ha ha, pasti lucu sekali. Kalau ada acara seperti itu, pasti akan sangat sepi kalau tidak ada dia."
"Huh!" Karin mencibir lagi. "Aku malah ingin dia tidak ikut saja."
"Lalu, apakah ada poto memalukan tentang Naruto?"
Karin mulai bosan dengan pembicaraan ini. Biasanya Sakura paling tidak suka mendengar cerita liburan orang. Ia lebih suka membahas tentang film yang sudah keluar di semua bioskop. "Aku lupa."
"Dulu sewaktu kuliah Naruto ikut pramuka. Apa dia pandai membuat api unggun? Ah, kalian pasti duduk mengililingi api unggun sambil melihat bintang. Huah, seru sekali. Aku iri!"
Karin menyeret kakinya berjalan menjauh dari tempat Sakura. Mengabaikan wanita itu berceloteh sendiri sampai ia puas dan lelah sekali pun. "Naruto pasti selalu bawa-bawa ramen instan, ya? Dia tidak bosan-bosannya makan itu. Hei karin! Jangan tinggalkan aku dooong!"
Yang terakhir kali Karin dengar sebelum ia berbelok arah, Sakura sempat menghentakkan kakinya ke lantai.
#Ciri-ciri keempat : Sangat Antusias Jika Membicarakan Nama Seseorang Yang Disukainya.
Petugas keamanan yang berada jauh dari gedung ini saja tahu tentang perubahan Sakura yang mendadak; lebih tampil cantik, agak bawel, suka membawa ramen instan dan terkadang sedikit kepo.
"Sekarang giliranmu, Kiba." Dahi Naruto terlihat mengkerut. Kedua pipinya ada bekas corengan dari arang bekas pembakaran kayu bakar si petugas keamanan. Paling-paling sang petugas hanya membakar beberapa kertas, plastik dan juga sampah lainnya. Sangat sepadan untuk hukuman kalah bermain kartu.
Beberapa kali mengulang permainan remi di tempat ini, tidak membawa hatinya dalam situasi yang baik. Kalah itu menyebalkan. Tapi, ia tetap harus mencoba walau muka adalah taruhannya.
"Jadi, kau masih tidak percaya kalau Sakura menaruh hati padamu?" Kiba menaruh kartu berlambang heart dengan angka 6.
"Semakin lama kau semakin mirip dengan bibi pemilik biro jodoh saja." Naruto menyeringai. Di tangannya ada kartu heart berangka 9. Dengan santai ia menaruh kartu tersebut sembari bersiul. Kira-kira di tangan Kiba kartu apakah yang tidak ada?
Kiba melirik Akamaru yang berada di antara mereka. Gawat, ia tidak punya kartu lain untuk melawan kartu heart itu. Apakah ini menunjukkan kalau memang tidak ada seorang pun yang akan menaruh hati padanya? "Ck, jangan buang waktu, cepat tembak dia. Seharusnya dari awal kau sudah bisa mendeteksi sinyalnya. Oh ya, Apakah dia sering mengubungimu?"
Sebelah alis Naruto terangkat, melupakan semua kartu heart yang ia punya.
"Maksudku sering mendapatkan pesan darinya atau chatting?"
Naruto tampak berpikir. "Hm, aku bahkan hampir tiap hari chatting dengan Ino-san, tapi aku rasa dia tidak menyukaiku."
Mata Kiba menyipit, "Oh, yang suka kirim broadcast dan nawarin produk itu, ya?"
Naruto hanya mengangkat bahunya. "Tetapi, Sakura-chan, sering sekali mengomentari apa yang aku tulis di media sosial. Atau terkadang mengirimkanku—"
"—Nah, itu yang kumaksud!" Kiba memotong perkataan Naruto duluan.
"Hei, aku belum selesai bicara."
"Aduh, dari banyak pria di rumah sakit ini, kenapa harus kau yang disukainya."
Mata Naruto menyipit. Perkataan Kiba barusan sangatlah mengejeknya. Apa maksudnya telah berkata demikian?
Mendadak suara ponsel Naruto berbunyi. Ia mengecek nama penelpon sebelum mengangkatnya. "Hallo, Sakura-chan, ada apa?" Mata shappire-nya melirik Kiba. Pasti telinga pemuda itu mendadak menajam seperti tajamnya penciuman Akamaru.
"Kau ada dimana sekarang?"
Naruto membelakangi Kiba dengan muka horornya yang ingin curi dengar obrolan mereka. "Ada di post penjaga. Ada apa?"
"Ya ampun, kenapa smsku tidak dibalas?"
"Kau sms, ya?"
Sementara Naruto sedang sibuk, Kiba tidak akan membiarkan kesempatan bagus ini hilang. Pria itu membongkar susunan kartu yang berada di hadapannya untuk mencari kartu heart atau sekalian yang as juga boleh.
"Iya, aku juga bbm, line dan whatapps. Kenapa tidak dibalas?"
Naruto segera melihat layar ponselnya mengecek semua notifikasi yang masuk. "Maaf, aku tidak tahu. Aku sedang bermain kartu."
"Apa? Pantas saja. Sasuke sedang mencarimu tuh. Wajahnya kecut sekali, seperti baru saja cuci muka dengan obat kumur."
"Apa, Sasuke? Obat kumur?"
"Baiklah, aku ke sana ya sekarang?"
Naruto melirik rupa wajahnya dengan corengan arang di kaca yang berada di salah satu dinding ruangan ini. Bisa gawat kalau Sakura melihatnya dengan wajah mengerikan seperti itu. Bisa-bisa sinyal kuat yang Sakura miliki untuknya (seperti apa yang Kiba telah katakan) akan hilang seperti terserang badai. "Tidak perlu, aku akan segera ke atas sekarang. Kau tunggu di sana saja, ok?"
"Kok begitu? Aku ingin main kartu juga."
"Permainan kami sudah selesai, kita akan main kartu di atas saja ya, Sakura-chan?"
"Baiklah, aku tunggu ya dalam waktu lima menit."
"Lima menit? Baiklah."
Setelah sambungan telepon terputus, Naruto kembali menghadap Kiba. "Aku harus segera ke atas."
Tadinya Naruto akan berdiri tetapi tangan Kiba menghalanginya. "Enak saja, kabur dari hukuman." satu garis (lagi) corengan pada dahi Naruto terpatri dari serbuk arang itu.
"Apa-apaan ini?" Naruto langsung mengeluarkan ekspresi frustasi dengan kedua tangannya mencengkram rambut jabriknya.
Dengan satu seringai kemenangan, Kiba hanya menunjuk ke arah kartu yang mengalahkan 9 heart-nya milik Naruto. Waw, ternyata dia punya kartu as. Ok.
#Ciri-ciri ke lima : Wanita Akan Selalu Mengganggu dan Menghubungi Pria yang Disukainya.
Naruto sudah menghabiskan waktu hampir tiga puluh menit ketika sampai ke lantai empat ini. Wajahnya sudah bersih dari bekas corengan arang yang menjijikkan itu. Siapa yang tahu jika Akamaru sempat membuang hajat di antara bekas abu sampah. Oh, membayangkannya saja Naruto mendadak merinding. Sialan si Kiba, sudah sok tahu dengan kisah asmaranya, sok-sok menyuruhnya menembak isi hati Sakura, lalu kenapa dia yang selalu menang dalam permainan kartu kali ini?
"Apa kau melihat Sakura-chan?" tanya Naruto kepada salah satu rekan kerjanya—Rin, saat ia sudah berada di stasiun perawat di depan poli lansia. Tidak ada Sakura di sana. Mungkin ia sedang ada di tempat lain.
"Tadi dia memang duduk bersamaku, mungkin sedang di kantin," beritahu Rin apa adanya. "Hem, sepertinya atmosfir di antara kalian sudah berbeda. Ada apa yaaa?" Rin malah menggodanya, membuat Naruto mendadak salah tingkah.
"Nah, itu Sakura sudah kembali." Rin menunjuk ke arah belakang Naruto.
Entah mengapa ekspresi Rin yang berlebihan itu membuat degupan jantung Naruto berubah. Sepertinya ini cukup berlebihan. Apa yang harus ia lakukan bertemu dengannya? Ah, ya. seharusnya ia segera bertemu dengan Sasuke sekarang juga—bukankah pria emo itu mencarinya?
"Hai, Rin."
Naruto terdiam ketika Sakura hanya meyapa Rin saja. Sedikit pun matanya tidak menoleh kepada dirinya. Ada apa ini? Setelah sapaan singkat itu yang dibalas Rin dengan senyuman, Sakura malah berjalan menuju tangga.
"Sakura-chan!" Naruto segera berlari menuruni anak tangga untuk mengejar langkah kaki gadis berambut merah muda itu. Tapi, tetap saja. Sedikit pun Sakura tidak menoleh, ia seolah tidak bisa mendengar jika Naruto sedang mengejarnya. "Kau kenapa sih?" dengan menuruni dua anak tangga sekaligus, akhirnya Naruto bisa berada di hadapan Sakura.
Gadis itu terlihat menghela napas. Di tangannya ada sebuah buku catatan—entahlah itu apa, mungkin ia berniat akan mengecek keadaan seorang pasien. "Minggir, aku mau lewat." Wajah Sakura benar-benar menakutkan untuk detik ini. Wajahnya begitu datar tidak seperti biasanya.
"Kau kenapa, Sakura-chan?" Naruto mengulangi pertanyaannya lagi. Pria itu tidak berniat membiarkan Sakura lewat dari sana.
"Kita sedang berada di tangga sekarang, kalau kamu menghalangi aku mau lewat, salah satu dari kita pasti akan jatuh."
Dahi Naruto berkerut. Ia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Sakura. Itu terdengar seperti; sebentar lagi akan ada perkelahian.
"Minggir, aku sedang sibuk."
Sakura ingin maju, tetapi Naruto malah mencegatnya. "Dengan sikap dan ekspresimu seperti itu, apa ada sesuatu yang tengah terjadi? Kau sedang marah padaku?" tanya Naruto langsung.
Sakura malah memijit pelipisnya, seperti menunjukkan kepada Naruto bahwa ia punya beban yang berat sekarang. "Aku tidak ingin membuang waktu, jadi minggir!"
Sakura masih bersikeras ingin lewat walau harus mendorong badan Naruto. Pria blonde itu hanya mempertahankan posisinya, tidak sedikitpun bergeser untuk membiarkan wanita itu lewat sebelum menjawab pertanyaannya. "Maafkan aku, Sakura-chan. tapi, aku benar-benar tidak bisa membiarkanmu pergi dari—AAA!"
Sakura menutup mulut dengan buku yang ia pegang, matanya terbelalak. Dan ini memang kesalahannya. "Ya ampun, Naruto! Kau tak apa?"
.
.
.
"Aku tak apa-apa, Sakura-chan." Walau terluka seperti itu, cengiran Naruto tetap saja selalu lebar.
Sakura menghela napas pasrah. Kejadian di anak tangga tadi memang benar-benar berbahaya. Untung saja posisi mereka berada di tiga anak tangga terakhir. Sehingga saat Naruto terjatuh akibat dorongannya tadi, membuat cideranya tidak terlalu fatal. Tidak ada luka yang berat, tidak ada juga darah yang keluar. Tetapi, hanya kaki pria itu saja yang terkilir beserta bokongnya yang mendadak kram.
Kini punggung kaki Naruto sudah selesai diperban. Beberapa saat yang lalu, kakinya terlihat merah. Kemungkinan sangat terasa sakit—mengingat jarang sekali pria itu mengunjungi tempat latihan fitnes atau berolahraga dengan rutin. Sakura menyesal atas apa yang sudah ia lakukan. Tidak sengaja, mengeluarkan semua kekuatannya untuk mendorong tubuh Naruto hingga terjungkal ke bawah. Ini semua gara-gara pria blonde itu sendiri sebenarnya—yang membuatnya marah.
"Aku benar-benar minta maaf."
"Tidak, aku yang harusnya minta maaf. Kau marah padaku karena aku telat sampai ke atas, kan?"
Sakura tercengang. Untuk yang kali ini Naruto menyadari sikap cerobohnya sendiri. "Baka ..." umpatnya pelan nyaris berbisik.
"Aku tidak tahu kalau kau menungguku, Sakura-chan. Maafkan aku ya?" Naruto tersenyum lebar. Tidak ada pria yang memiliki senyuman selebar itu dalam pandangannya.
Sontak Sakura membuang mukanya ke arah lain. Oh, susah sekali membuat hati ini untuk sedikit tenang. "Baiklah kalau begitu kita impas sekarang."
"Lain kali jangan seperti itu lagi," Naruto merubah ekspresinya ke raut sedikit serius. "Aku jadi kebingungan kalau kamu bertindak seperti itu."
"Yaaah, itu salahmu sendiri. Menyuruhku menunggu lima menit yang ternyata menjadi setengah jam." Sakura mengangkat bahunya acuh.
"Aaa, tega sekali. Hanya gara-gara itu saja kamu jadi marah."
"Kamu bilang hanya seperti itu?" Sakura merasa gemas, ia hampir saja meremas kaki Naruto yang baru saja terasa sedikit lebih baik. "Menunggu itu menyedihkan, aku paling benci di-PHP."
Naruto mengerucutkan bibirnya. Meneliti setiap perkataan Sakura yang terlontar, meneliti sikapnya yang ternyata sekarang sangat mudah marah. Benar, ia dulu tidak seperti ini. Harusnya Sakura terkesan sangat acuh. Itu dulu. Dan sekarang sudah berbeda. Berapa detik yang telah mereka lalui bersama sepanjang hari-hari yang telah terlewati? Berapa kisah yang sudah mereka lewati selama kebersamaan di antara mereka?
Dan itu ternyata sudah berjalan sampai pada detik ini, sampai pada kisah ini. Harus Naruto ketahui, ciri-ciri wanita yang keenam adalah sangat mudah marah pada pria yang disukainya. Seseorang akan cepat marah pada orang yang ia sukai, itu semua karena mereka merasa dekat, karena mereka berhak menunjukkan sikap manja yang mereka miliki kepada orang yang disukainya itu.
"Oh iya, Sasuke mencarimu tadi." Sakura membuka obrolan baru, membuat Naruto kembali dari lamunannya.
"Ah, jangan-jangan dia mau marah."
Sakura merasa geli sendiri dengan sikap konyol Naruto dan sikap Sasuke yang kelewat cool, mereka berdua sangat cocok. "Soal poto itu, kan?"
"Dia bilang apa saja padamu?"
"Semuanya. Yang pasti ... kenapa kau tidak mengajakku juga ke pantai pada liburan kemarin? Kenapa kau hanya mengajak Sasuke?"
Dari nadanya kemungkinan Sakura mulai marah lagi. Ya ampun, susah juga menghadapi wanita yang berciri seperti ini. "Aku kira kamu tidak akan tertarik dengan liburan seperti itu."
"Menurutmu aku tidak tertarik?"
Naruto mengangguk pelan. Ia takut pergerakkannya ini adalah sebuah kesalahan.
Alis Sakura langsung bertaut, ia melipat tangan di depan dadanya. Ekspresi yang menjengkelkan di mata Naruto.
"Sekarang, kau benar-benar telah berubah, ya?"
"Berubah seperti apa? Aku dari dulu seperti ini!"
"Ah, yang benar? Kamu dulu tidak peduli padaku. Bahkan kita jarang sekali bisa berduaan seperti sekarang ini."
Sakura terdiam, Naruto benar. Hanya ada mereka berdua di dalam ruangan berukuran tiga kali empat ini. "Oh, aku mengerti. Kamu menyuruhku keluar dari sini, kan?"
Niat ingin menggoda Sakura mendadak buyar. Kemungkinkan Sakura hanya pura-pura tidak peka saja. Naruto melipat tangannya di depan dada. Kenapa harus pria dulu sih yang memulai? Padahal timing-nya sudah bagus begini.
"Hanya bercanda kok," aku Sakura cepat karena melihat ekspresi Naruto. "Sebaiknya kamu menginap di sini saja malam ini, atau ... mau kuteleponkan gojek untukmu?"
"Aku tidak suka naik yang seperti itu."
"Baiklah, selamat istirahat kalau begitu." Sakura membantu Naruto berbaring. Ia menarik selimut yang berada di ujung ranjang untuk Naruto. "Aku akan kembali lagi jam dua belas malam."
"Baiklah, kalau begitu aku akan menunggu."
"Sudah, kau tidur saja. Tidak perlu menunggu!" Sakura berjalan riang menuju ke pintu ruangan ini. Ekspresi yang bagus untuk dilihat sebagai pengantar menuju ke mimpi indah. "Jangan lupa mimpikan aku, ya?" setelah mengatakan itu, ia menutup pintunya dengan perlahan.
Naruto tertawa pelan mendengar itu. Sakura itu, manis juga. "Hm, kalau mimpi basah, boleh?"
Sebuah buku mendarat di atas kepala Naruto. Oh, ternyata Sakura mendengarnya.
.
.
.
[owari]
Hallo hallo. Hanya fanfic fun-fun-an aja. Tidak ada menyinggung ke sana. Tidak ada bermaksud negatif. Sedikit kisah romens dan dengan ditambah kegilaan penulisnya XD
Hem, terimakasih untuk yang sudah membaca kemarin. Terimakasih juga buat yang sudah merespon dengan pikiran yang baik. Sinyal-sinyal inspirasi di fanfic ini saya lihat di sini : fundedgrads com /tanda-ciri-wanita-jatuh-cinta-kepada-seseorang/ (spasi dihilangkan dan diganti dengan titik sebelum com)
Baiklah, sampai jumpa di fanfic Amai yang lainnya.
Epilog
.
.
.
"Ya, Sakura-chan. Kamu tidak tidur?" Naruto melirik jam dinding kamarnya. Hari sedang menunjukkan jam sembilan pagi. Ia butuh tidur. Karena jam enam sore nanti harus segera kembali ke rumah sakit.
"Aku menunggu teleponmu, bodoh. Kamu bilang akan telepon kalau sudah sampai rumah."
Naruto meringis sendiri. Posisinya sudah di atas tempat tidur, tirai jendela masih seperti semalam, menghalangi sinar matahari merambat ke dalam kamarnya, dan jika ia memejamkan mata beberapa detik saja. Ia pasti akan segera terlelap. Walau begitu, Sakura itu, perhatian sekali. "Maaf, aku lupa~" Naruto mulai memejamkan matanya. Suaranya hampir terdengar menggumam.
"Aku hanya ingin memastikan kondisimu bahwa kamu selamat sampai rumah. Aku pikir kamu akan tertidur di jalan gara-gara kram pinggangmu itu."
"He he he ... tapi, sepertinya kakiku perlu sedikit pijatan biar tidak terasa kram."
"Kau pikir aku akan memijatmu?"
"Aku tidak memaksa." Lama-lama ia rela tak tidur jika Sakura terus-terusan mengganggunya seperti ini.
"Kalau begitu jam tiga sore aku akan mampir ke rumahmu."
Naruto hampir saja menangis terharu mendengar itu. Sakura akan memijatnya, demi apa? "Oh, Sakura-chan. Kamu memang calon istri yang baik!"
Terdengar suara tawa dari seberang. "Kamu mau menggodaku?"
"Akan kupikirkan lebih dari itu."
"Baiklah, dengan senang hati."
