Disclaimer: Masashi Kishimoto

This fic by Chimi Wila chan

Warning: ooc, typo, Au, etc.

.

.

.

Lima tahun berlalu begitu cepat setelah kepergian Ino. Semua kembali berjalan seperti semula. Sasuke begitu bahagia bersama Sakura, mereka memiliki satu momongan. Awalnya, Sakura merasa kesal pada Sasuke, tapi berkat kegigihan Sasuke, Sakura mau memaafkan suaminya tersebut.

Yah, walaupun kehidupan keluarga mereka terlihat sangat bahagia, namun dalam diri mereka masih ada rasa bersalah yang ditujukan pada gadis yang entah ada dimana. Sebahagia apapun jika jiwa terus dikejar rasa bersalah, tidur pun rasanya seperti hendak menjemput ajal. Ironis memang, tapi itulah yang dirasakan dalam hati mereka.

Untung saja kehadiran Sarada Uchiha mampu mengurangi tekanan di hati mereka. Senyum anak mereka laksana bulan yang menentramkan jiwa. Bagi mereka, anak pertamanya adalah sebuah obat yang mujarab untuk hatinya yang resah dan gelisah. Apapun yang terjadi di depan nanti, mereka berjanji akan slalu melindungi dan menjaga senyuman buah hati mereka.

Lima tahun pula membuat Gaara menjelma menjadi lelaki tampan. Semenjak kepergian Ino, ia menfokuskan diri menyelesaikan kuliahnya dan mampu menyelesaikan kuliahnya lebih cepat yaitu setahun setelah kepergian Ino. Lelaki lulusan universitas ternama di Amerika itu lantas mengadu nasib di perusahaan ayahnya, untuk membantu sang kakak, Kankorou. Ia memegang perusahaan yang berada di Jepang. Perusahaan yang bergerak di dalam bidang properti itu berkembang pesat di bawah kepemimpinannya. Sedangkan kakaknya yang sebelumnya memegang perusahaan di Jepang, sekarang ini memegang cabang di New York menggantikan Temari yang kini resmi menjadi istri dari dokter muda, Shikamaru Nara.

Sabaku no Gaara

Diusianya yang menginjak 26 tahun harusnya ia telah memiliki partner hidup atau bisa dibilang calon istri. Usianya yang matang sudah sepantasnya ia menikah. Tapi nyatanya Gaara masih setia menyendiri. Oh ayolah, Gaara itu tampan, mapan, jika ia mau, dengan sekali kedip saja banyak wanita yang mengantri untuk diliriknya. Tapi entahlah, apa yang dipikirkan Gaara tak ada yang tahu. Yang terlihat sepertinya Gaara menutup hatinya hingga tidak ada seorang pun yang bisa masuk ke dalam hatinya.

Tentu saja, bukankah hati Gaara telah terpahat satu nama. Yang takan digantikan oleh siapapun dan ia tidak ingin ada yang menggantinya. Ia tidak ingin satu orang pun masuk ke dalam hatinya kecuali 'dia, seseorang yang terlukis di hatinya.

Gaara terdiam memandangi pigura kecil di mejanya. Dimana di dalamnya ada potret dirinya dan gadis yang memiliki senyum hangat. Gaara tersenyum simpul, tangan terulur mengusap potret itu seolah ia memang membelai gadis itu. "Hime," lirihnya.

"Gaara, benarkah kau mengajak kami liburan ke Osaka!" Lamunan Gaara harus terusik oleh suara cempreng seseorang yang baru masuk ke ruangannya diikuti dua orang lainnya. Ia memberi deatglare mematikan pada sahabat berambut blonde yang masih menyengir lebar menampilkan deretan giginya.

Ia melirik pemuda berambut coklat bertato segitiga yang juga menatapnya antusias, di sebelahnya pria dingin berambut coklat panjang menatap acuh.

"Hei Gaara kenapa kau diam saja hm?" tanya kembali pemuda pirang yang tidak ada lelahnya bersuara keras.

"Pelankan suaramu, Naruto," kali ini pria berambut coklat bertato segitiga di masing pipi'nya ikut membuka suara.

"Kau juga penasaran kan, Kiba?" Naruto menekuk wajahnya.

"Jadi, Gaara?" kali ini pria berambut ala model sampo itu membuka suara mengabaikan pertengkaran kedua sahabat berisiknya itu. Manik peraknya meminta syarat akan jawaban dari pria berambut merah itu.

"Ya, besok minggu kita akan pergi liburan musim semi ke Osaka," ucap Gaara, jemarinya ia tautnya di atas meja.

"Kau mengambil jadwal saat perusahaan kita tengah sibuk-sibuknya?" Neji menatap mengintimidasi. Yah, sejujurnya ada proyek gabungan antara perusahan Sabaku, Hyuuga, Namikaze, Inuzuka dan Uchiha yang belum lama mereka bentuk dan baru saja mereka meluncurkan produk mereka ke pasaran. Minggu depan akan ada launching produk kedua mereka. Tetapi tanpa diduga sahabat merahnya itu mengirim email mengajak liburan musim semi ke Osaka dalam waktu dekat ini. Benar-benar gila.

"Oh ayolah, Neji. Sesekali merilekskan otak kita dari berkas-berkas terkutuk itu," rajuk Naruto yang sangat memimpikan liburan.
"Iya, lagian launching'nya 2 minggu lagi," ucap Kiba mendukung ucapan Naruto.

Neji menghela nafas, "terserah kalian," dua lawan satu, Neji bisa apa?

Naruto bersorak girang. Waktu berlalu begitu cepat, tetapi entah kenapa putra keturunan Namikaze tetap saja berisik dan aktif seperti biasa. Penampilannya memang jauh lebih mantap dan keren. Tubuh atletis yang dibalut jas putih dengan kemeja biru di dalamnya.

"Jadi kita akan berangkat memakai helikopter atau mobil saja, Gaara?" Naruto menatap Gaara yang hanya ditanggapi helaan nafas pemuda itu.

"Baka, tentu saja memakai pesawat. Itu bisa lebih cepat dan la-"

"Kita ke sana memakai jasa tour and travel," ucapan Kiba dipotong begitu saja oleh Gaara.

Kiba dan Naruto terdiam dan mencerna apa yang baru saja Gaara datang. Beberapa menit memproses, "Apaaa!" mereka berteriak hingga Gaara dan Neji harus menutup telinga mereka.

"Tunggu sebentar, Gaara! Apa maksudmu dengan memakai jasa tou and travel? Bukankah kita biasanya memakai pesawat pribadi ataupun mobil pada saat liburan?" Neji ikut mengernyit bingung dengan maksud Gaara. Mungkinkah sahabatnya ini mulai gila? setelah memutuskan liburan, sekarang memutuskan memakai jasa seperti itu. Sebenarnya apa yang terjadi dengan sahabatnya ini.

"Ku pikir lebih baik memakai jasa itu, bukankah kita liburan untuk merilekskan tubuh. Percuma bila kita liburan tetapi mengendarai mobil sendiri," dan ucapan Gaara mampu membuat Naruto, Kiba dan Neji melongo, oke berapa banyak kata yang dikeluarkan Gaara? Ini melebihi kapasitas biasanya. Gaara benar-benar gila' batin mereka bertiga.

"Hah, apapun itu yang penting liburan," Naruto kembali bersemangat dan mengabaikan kebingungannya. "Bolehkah aku mengajak Hinata-chan, Gaara?" pertanyaan Naruto langsung mendapat delikan tidak suka oleh Neji.

"Hn,"

"Yes," Naruto mengepalkan kepalan tangannya ke udara. "Hei Neji... Eh kau kenapa?" tanya Naruto dengan polosnya melihat Neji yang bertampang masam dengan deathglare mematikan.

"Dia tidak suka kau dekat dengan Hinata," Naruto menoleh ke arah Kiba yang bersandar di sebuah sofa.

"Hie!? Kenapa? Aku kan baik hati dan tampan. Rugi loh melewatkan kesempatan memiliki adik ipar sepertiku!" ucap Naruto dengan narsisnya.

"Cih," Neji mendecih dongkol mendengar kenarsisan rekan kerja sekaligus sahabatnya itu. Ia sudah teramat jengah melihat Naruto tanpa diundang ke kantornya, atau berlama-lama berdiam diri setelah rapa hanya untuk menggoda adiknya.

"Aku tidak akan menyerahkan adik manisku pada pria mesum sepertimu, Naruto!" kata Neji dengan sarkasme.

"Wah, kau fitnah. Tidak baik loh! Aku kan tidak mesum," elak Naruto dengan santai.

"Tidak mesum dari mana? Sewaktu selesai olahraga bukankah kau mengintip anak perempuan ganti baju?" Kiba ikut nimbrung memojokan Naruto.

"Dasar pengkhianat!" dengus Naruto kesal. Bukankah Kiba itu sekutunya? Harusnya sahabatnya itu ikut membantu dirinya mendapat restu dari si kutub selatan, Neji.

Kiba terkekeh puas melihat wajah tertekuk Naruto.

"Itu kan dahulu, saat ini aku sudah menjadi pria sejati," ucap Naruto penuh bangga.

"Tetap saja aku tidak akan merelakan Hinata bersamamu!" kata Neji.

"Ijinkan saja, Neji. Kau tega membiarkan adik manismu keriputan kaya nenek Chiyo akibat terus berhadapan dengan dokumen dan terpenjara dalam mansion?" kali ini Kiba berusaha ikut membela Naruto, membujuk Neji si siscom tingkat akut itu agar mengijinkan Hinata yang juga sahabatnya itu ikut pergi berlibur.

Naruto melebarkan cengirannya, menatap Kiba penuh terima kasih.

Neji terdiam. 'Benar juga yah? Bukankah Hinata jarang sekali berlibur?' batinya. Ia tidak bisa membayangkan bila adik imutnya menjelma menjadi nenek-nenek peot, keriput dan kisut, itu membuat bulu kuduk Neji meremang. Ia menghela nafas sejenak. "Baiklah, kau boleh mengajak Hinata. Tapi ingat! Aku mengawasimu!" ucap Neji penuh ancaman.

"Terima kasih kakak ipar," seru Naruto dengan girang, ia hendak memeluk Neji, beruntung sulung Hyuga ini segera menghindar.

Gaara tak menghiraukan kehebohan yang dibuat sahabatnya itu. Manik azure'nya terfokus pada sebuah kartu nama yang ia pegang. 'Y Agency *Tour and Travel*'. Ia tersenyum mengetahui siapa pemilik kartu nama ini. Ia mengingat bagaimana percakapannya dengan Shikamaru kemarin malam.

Flashback...

Shikamaru menatap ke luar jendela, gelap gulita. Waktu telah menunjukan 01.00 dini hari. Putra dan istrinya telah terlelap beberapa jam yang lalu. Seharusnya ia tengah menikmati kehangatan kasur dan pelukan sang istri dalam buaian mimpi. Terima kasih buat adik iparnya yang menggagalkan acara tidurnya.

Dengan tidak sopan adik iparnya ini mengirim pesan menyuruhnya ke kamarnya. Setengah tidak rela akhirnya ia beranjak dari kasur hangatnya dan bergegas menemui adik ipar berwajah es itu. Dan di sinilah dirinya, berdiri di samping jendela mengamati kegelapan yang tersaji di luar.

Ia membalik tubuhnya dan menatap adik iparnya yang berambut merah itu tengah duduk di tepi ranjang.

"Jadi kau ingin menemuinya?" tanya Shikamaru yang membuat Gaara mendengus.

"Ini sudah 5 tahun, Shika. Bukankah dulu kau berjanji memberitahuku 'dimana keberadaannya' setelah aku sukses? Jadi, kau tidak bisa mengelak lagi!" dengus Gaara yang kesal dengan pertanyaan kakak iparnya yang terkenal jenius itu.

"Memang benar aku berjanji seperti itu, tapi-" Shikamaru menggantungkan ucapannya yang semakin membuat Gaara jengkel setengah mati.

"Katakan dari awal jika kau pun tidak tahu dimana dirinya!" sungut Gaara.

Shikamaru tersenyum simpul melihat tingkah Gaara yang sangat manis saat merajuk *nah loo*. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kartu nama dan menyodorkan kepada Gaara.

Gaara mengernyit bingung memandangi sebuah kartu nama jasa traveling itu. Apa maksud shikamaru? Yang ia butuhkan info tentang 'dia, bukan id card travel itu!

"Ini adalah milik Ino," mendengar ucapan Shikamaru, secepat kilat Gaara menyambar id card itu dan memandanginya.

"Ia berwira usaha dengan mendirikan sebuah perusahan yang bergerak dalam bidang kepariwisata'an menurut bidang yang ia ambil sewaktu kuliah dulu. Cabangnya ada di beberapa negara seperti Florida, Inggris, Italia, China, tetapi pusatnya ada di Paris," jelas Shikamaru.

"Jadi dia sekarang ada di Paris?" tanya Gaara antusias mendengar jawaban Shikamaru.

"Ya, cita-citanya memang tinggal di negeri seribu cinta itu," jawab Shikamaru.

"Kalau begitu besok pagi aku akan pergi ke sana," Gaara benar-benar sudah tidak sabar bertemu dengan Ino. Perempuan yang selalu ada di hatinya itu.

"Aku tidak mengijinkan!" Gaara mengernyit bingung dengan perintah Shimaru.

"Kalau kau ke sana, kau tidak akan bisa bertemu dengannya, ia akan menghindarimu," Shikamaru mencoba mengingatkan adiknya itu. Gaara mendengus, setelah bertahun-tahun tidak bertemu dan tidak tahu dimana gadis pujaannya berada, saat ia telah mendapatkan kesempatan kenapa ia dipersulit?.

"Lalu aku harus bagaimana?" kali ini ia hanya ingin mencoba menurut dengan saran kakak iparnya. Karna ia benar-benar tidak tahu harus apa. Bisa saja sih dengan sikap arogannya ia datang dan menerobos masuk, memaksa gadis itu menemuinya, tapi itu terkesan bahwa dirinya layaknya seperti dulu saat masih brutal.

"Kau bisa berpura-pura menggunakan jasanya," saran Shikamaru.

"Maksudmu traveling?"

"Hm,"

Flashback off...

.
.
.

Sebuah gedung sederhana berlantai 2 yang diapit oleh gedung-gedung yang menjulang tinggi. Gedung dengan aksen natural terlihat mencolok di antara bangunan lain. Tata dekor dengan nuansa alam dan juga wangi ruangan yang fresh begitu memanjakan setiap tamu yang datang.

Karin, Tenten dan Fuu berjalan di koridor. Gema langkah kakinya terdengar memantul. Mereka berjalan layaknya model di atas catwalk. Senyum diantara ketiganya terkembang setiap bertemu sapa pegawai gedung itu.

"Akhirnya! Sekian lama tidak bersama, akhirnya kita bisa juga yah?" celoteh Fuu dengan gembira. Di antara mereka bertiga memanglah Fuu yang paling muda dan energik. Gadis berambut hijau itu tersenyum gembira karna ia akan bertemu sahabatnya yang tlah lama tidak ia jumpai.

"Ah, aku jadi tidak sabar ingin bertemu dengan lady 'speak' hihihi," ucap Karin sembari terkikik kecil. Wanita berambut merah dengan perut membuncit itu tak kalah gembiranya. Ia terlihat sangat semangat sekali.

"Hey, sebentar lagi kita kan bertemu denganya, hanya tinggal beberapa ruang lagi. Jadi, kalian tak boleh heboh seperti itu!"tegur Tenten menggeleng kepala. Hei, mereka itu tidaklah muda lagi. Saat ini umur mereka memasuki 26, aneh bukan! Bila masih bertingkah layaknya anak remaja.

"Kita kan hanya mengeluarkan ekspresi bahagia kita," sungut Karin memanyunkan bibirnya. Sedangkan Fuu hanya terkikik geli melihat ekspresi karin yang begitu lucu.

Tenten menghela nafas. "Kau kan tengah hamil tua. Harusnya kau lebih hati-hati dengan tingkahmu! Aku tak mau kejadian di bandara terulang lagi, mengerti!" nasihat Tenten yang masih teringat akan kehebohan Karin yang membuat wanita hamil itu hampir saja terpeleset. Ia tidak habis pikir dengan Karin. Mengapa wanita keturunan Uzumaki ini sangat keras kepala ingin ikut pergi ke Perancis. Seharusnya ia kan istirahat menunggu detik-detik kelahiran buah hatinya. Mengingat usia kehamilan Karin sudah menginjak 9 bulan. Dan yang membuat Tenten merasa aneh lagi, kenapa si Suigetsu tidak ikut mendampinginya? Oke, ia paham bila suami sahabatnya ini sangat sibuk dengan pekerjaannya sebagai direktur perusahaan ikan milik keluarganya itu. Tapi bisakah ia mengambil cuti beberapa hari untuk menemani Karin liburan? Mungkin Suigetsu bisa meminta tolong pada Mangetsu yang notabene kakaknya itu untuk menggantikannya sementara.

Tenten menghela nafas. Yah, akhirnya dirinya juga yang bertugas menjaga Karin. Makanya Tenten terlihat begitu tegas dengan wanita rambut merah ini.

Mereka bertiga akhirnya sampai pada sebuah pintu berwarna hitam. "R. Direktur" tulisan itu tertempel pada pintu. Artinya mereka tlah sampai. Saling melirik satu sama lain dan mengangguk. Tenten mulai memegang knop pintu dan memberi isyarat hitungan dengan tangan.

"Surprise" teriak mereka bersamaan.

Seorang gadis yang duduk di kursi membelakangi pintu. Memandang ke luar jendela. Memandang ke arah hangatnya mentari sore.

"Surprise"

Ia terkejut mendengar teriakan itu. Secepat kilat ia memutar kursinya dan matanya terbelalak melihat teman-teman yang tlah lama tidak bertemu berdiri di hadapannya. Lantas, ia bangkit dengan senyum yang terkembang.

"Tenten, Karin, Fuu," ucapnya tak percaya. Ia segera menghambur ke arah tiga sahabatnya.

"Iya Ino, ini kami," jawab Tenten memeluk Ino.

"Kau suka dengan kejutannya?" tanya Fuu tersenyum jahil. Kini giliran Fuu yang memeluk Ino.

"Yap, aku sangat suka," Ino melepas pelukannya, lalu ia beralih ke karin, "Hey sejak kapan kau membawa bola di dalam perutmu, Karin?" gurau Ino mengelus perut gendut Karin.

"Jangan meledekku, Ino! Ini gara-gara ikan jelek itu," gerutu Karin.

"Ahaha biarpun begitu dia itu suamimu lohh!" tegur Ino. "Ku rasa Sui terlalu bersemangat ingin memiliki anak," bisik Ino di telinga Karin yang mampu membuat calon ibu itu merah padam.

"Firasatku mengatakan bayinya kembar," sela Fuu santai, ia menduduki sofa yang berada di ruangan itu.

"Aku tak bisa membayangkan betapa repotnya kalian nantinya," sahut Tenten mengikuti Fuu duduk.

"Hey, jangan menakutiku!" seru Karin.

"Um, ku rasa tidak salah bila memiliki bayi kembar. Ah pasti mengasyikan," ucap Ino berbinar.

"Bila itu terjadi, aku akan merancang baju bayi kembar paling trend untukmu," sahut Fuu ikut berbinar dan membayangkan dua bayi kembar yang lucu-lucu.

Karin hanya mendengus kesal dan memalingkan wajahnya.

"Dia pasti akan kerepotan, mengingat saat mengasuh anak kakak iparnya, ia saja langsung menelponku yang kebetulan tugas di sana. Menelfon hanya untuk memintaku mengajari memakai popok, dasar payah ck ck ck," kata Tenten tersenyum usil sembari menggelangkan kepala.

"Jangan mengejeku, Tenten! Itu kan dulu, saat ini aku sudah banyak belajar menjadi ibu yang baik," bela Karin yang sedari tadi merasa terpojokan oleh Tenten.
"Kau nampak berubah pesat dari terakhir kali ku lihat," ucap Karin mengalihkan pandangan ke arah Ino. Menelusuri dari atas hingga bawah. Hari ini Ino memakai kemeja biru muda dilapisi jaz biru tua dan rok span berwarna senada dengan jaz. Rambut yang disanggul dengan membiarkan beberapa anak rambut. Juga riasan wajah yang terlihat elegan. Dan Ino hanya memakai sepatu hitam berhak 5cm. Seingat Karin, sahabatnya ini sangat suka dengan hak tinggi, paling rendah 7cm itupun Ino jarang memakainya karna Ino terbiasa memakai hak 10cm.

Ino hanya tersenyum kikuk melihat teman-temannya yang memandangi dirinya seolah ingin menelanjangi pakaiannya.

"Benar kata Karin, kau nampak dewasa. Berbeda dengan 3 tahun lalu saat lulus kuliah. Dulu bahkan kau masih terlihat remaja," ucap Fuu membenarkan ucapan Karin.

"Hah," Ino menghela nafas. "Aku ini kan bukan remaja lagi, jadi sudah sepantasnya berpakaian sedikit feminim," jawab Ino yang dihadiahi anggukan oleh Tenten, Karin dan Fuu.

"Lalu, kapan kau mau menikah?" tanya Tenten spontan.

"Kau bertanya seperti itu, bagaimana denganmu?" Ino tersenyum senang menepis ucapan Tenten.

Tenten hanya meringis. Meski sudah dewasa, Ino memang tetap pintar bicara seperti dulu. Gadis blonde yang satu ini sangat suka membalikan kata milik lawanya.

"Ku dengar kau dekat dengan Pelukis muda itu. Apa itu benar?" tanya Karin penasaran.

"Darimana gosip itu beredar?" Bukanya menjawab, Ino justru balik bertanya.

"Hah, walaupun kau tlah resmi mengundurkan diri dari dunia entertaint, bukan berarti kau lolos dari gosip,Ino!" Ucap Tenten menjelaskan. Ia sebenernya ikut risih bila sahabatnya digosipkan. Apalagi gosip itu dipublikasikan. Yah, Tenten tahu, itu resiko sebagai mantan artis. Kemanapun pergi, mata para fans pasti mencari.

"Maksud kalian si Sai?" Ucap Ino. Mereka bertiga mengangguk dengan ucapan Ino. "Kami tidak ada apa-apa, dia sudah ku anggap sebagai adikku," jelas Ino.

Mereka bertiga mengangguk paham.

"Ah iya, kapan kita ke Jepang? Aku ingin menjenguk Shikamaru dan bayinya," ucap Fuu girang.

"Maksudnya Temari sudah melahirkan?" Tanya Ino penasaran.

"Aiisshh kau tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?"Karin mendengus sebal mendengar ucapan Ino.

"Hey, wajar saja aku tak tahu. Shikamaru tidak memberitahuku," bela Ino, ia benar-benar tidak tahu masalah itu.

"Yang benar?" Ino mengangguk mendengar ucapan Fuu. Gadis muda itu hanya menggeleng tak percaya, seingatnya Ino itu paling dekat dengan Shikamaru.

"Mungkin dia masih kesal karna kau tidak hadir dipernikahannya," ucap Tenten. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju lemari es kecil di dalam ruangan itu. Ia mengambil 4 kaleng jus jeruk. "Kau harusnya datang! Shikamaru sangat menantikanmu saat itu," sambung Tenten.

Ino menghela nafas. Bukannya ia tidak mau menghadiri pesta pernikahan Shikamaru, ia hanya belum siap menginjak negri Sakura itu. Terlalu banyak kenangan yang akan terlintas dalam memory bila ia menginjak negara asalnya.

Ino menghela nafas kembali lalu ia berjalan ke arah telepon di atas meja kerjanya. "Kalian mau makan?" tawar Ino. Kebetulan waktu sudah memasuki jam makan siang, jadi ia hendak memesan makanan. Biasanya sih ia pergi ke cafe atau kantin sendirian. Tetapi kali ini ada sahabatnya, ia enggan beranjak pergi. Lagian ia tidak tega pada Karin yang harus ke sana sini membawa beban di perutnya.

Mereka bertiga mengangguk semangat. Kebetulan ia juga belum makan setibanya dari bandara pagi tadi.

"Baiklah," lalu terlihat Ino berbicara melalui telepon meminta agar karyawannya mengantarkan makan siang untuk 4 orang. Setelahnya ia menutup telepon itu.

"Berbicara tentang Jepang. Ada permintaan klien untuk menemani perjalanan ke Osaka. Bagaimana menurut kalian?" tanya Ino pada Fuu, Karin dan Tenten, membuat mereka menoleh segera ke arah Ino. Hening belum ada sahutan.

Tok tok tok

"Itu pasti pesananku," ucap Ino bergegas menuju pintu. Tenten, Karin dan Fuu saling pandang dan berkedip misterius mencerna ucapan Ino tadi.

Saat ini mereka tengah menyantap hidangan makan siang mereka yang baru saja datang. Memakan beberapa menu yang menggiurkan penuh nikmat. Ino melirik ke arah 3 sahabatnya.

"Jadi bagaimana?" tanya Ino ambigu.

"Hm?" Karin menaikan sebelah alisnya.

Ino menghela nafas jengkel. "Aku terima atau tidak?" ucapnya kesal.

"Terima saja, kau kan sudah lama tidak pulang ke Jepang?" ucap Fuu memasukan steak daging ke dalam mulutnya.

"Benar kata Fuu, sesekali tidak apalah kau pulang. Memangnya kau tidak merindukan Hanami?" Karin mendukung ucapan Fuu.

Hanami? Ah iya, Ino lupa. Saat ini di negara tempatnya lahir adalah awal musim semi, dimana bunga sakura bermekaran. Bohong kalau Ino berkata tidak merindukan wangi musim semi di Jepang. Bahkan ia sangat ingin menari di bawah rindangnya pohon sakura.

"Tapi aku tidak memiliki cabang di sana. Tidak mungkin aku membiarkan klien'ku tidur di emperan toko," yah benar. Ino memang tidak mendirikan cabang di Jepang, atau memang ia sangat menghindari negara matahari terbit itu dan segala kenangannya?

"Soal penginapan kau tidak usah khawatir. Aku memiliki vila di sana," Tenten angkat bicara.

"Vila? Kau tidak pernah cerita tentang hal ini," Karin dan Fuu terkikik geli hingga membuat Ino tambah keheranan.

"Kau kan masuk KHS sendirian jadi kau tidak tahu bahwa Tenten memiliki vila," jawab Karin.

"Hu'um, kita bertiga kan satu sekolah di Osaka dan kami tinggal di vila itu dulu," tambah Fuu.

"Huh, jangan memanasiku!" sungut Ino, bagaimana pun memang dirinya terpisah dengan sahabatnya saat masuk KHS sedangkan teman-temannya memilih sekolah di Osaka. Bisa saja ia ikut tetapi ia tidak tega meninggalkan ibunya di Konoha sendirian.

"Jadi, mau diambil?" tanya Tenten.

"Hum, baiklah," jawab Ino mantap. Tak apalah, lagian Jepang itu luas, ia takan bertemu dengan orang-orang masalalu jika tidak direncanakan.

'Yes, mission complete, captain," batin Tenten, Karin dan Fuu bersorak riang. Mereka tersenyum penuh arti.

.

.

.

Tbc