"Seijuuro.."
"O tou san apa yang.."
"Aku sudah menemukan calon menantuku"
"Heh.."
Tok..tok..
"Summimasen"
"Tetsuya.."
"Itu dia calon menantu ku"
Matchmaking Akakuro
Dislaimer : Fujimaki Tadatoshi
Author : Au
Chapter 1
"Aku melihat ayah Akashi-kun pingsan di trotoar jadi aku menolongnya" Kuroko berkata datar.
"Bagaimana dia bisa pingsan di trotoar?" Akashi mengusap keningnya. Selalu saja ada yang dilakukan ayahnya yang membuatnya pusing sendiri.
"Kondisi fisiknya memang sedang tidak stabil, seharusnya kau tidak membiarkannya berjalan sendirian"
"Shintaro.. kau tau seberapa keras kepalanya dia, mana mau di temani. Lagi pula kata mu bagus untuk kesehatannya, berjalan-jalan di pagi hari.."
Midorima Shintarou, dokter pribadi keluarga Akashi sekaligus teman lama Akashi Seijuuro. Ia salah lagi memberi penjelasan kepada pemuda heterokromatik itu.
"Bagus ada kau Tetsuya.." Akashi menatap surai biru di sampingnya yang juga teman satu sekolah mereka di SMP.
"Akashi-kun maaf tapi aku ada pekerjaan."
"Ya.. kau boleh pergi, terimakasih Tetsuya."
"Iya.."
"Tapi ayah mu tidak mengijinkan Kuroko pulang." potong Midorima, pria itu menaikan kaca matanya yang turun.
"Heh.. Kenapa?"
"Ya.. kau tau seberapa keras kepalanya dia" Midorima mengulang ucapan Akashi.
"Kau tau penyakit jantung ayahmu kan?" Midorima menatap Akashi dengan wajah seserius yang ia bisa.
"Ya aku tau."
"Untuk saat ini, jangan banyak melakukan atau mengatakan sesuatu yang mengejutkannya, jika tidak akan berakibat pada menurunnya kesehatannya sendiri, jika terus menerus akan berakibat fatal dan kemungkinan terburuknya menyebabkan kematian."
"Hah.." Kedua orang didepan Midorima terkejut bukan main, terlebih Akashi walaupun wajahnya tetap tenang.
"Lalu.."
"Untuk sekarang turuti saja keinginannya dan kalian harus pasti tau keinginannya sekarang apa."
Akashi mengerutkan keningnya, menatap tak mengerti pria berjas putih dihadapannya. "Apa?"
Midorima mengembuskan nafas pelan. "Seperti yang kita dengar.. ia ingin Kuroko, jadi dapat disimpulkan ia ingin Kuroko menikah dengan mu Akashi"
"Hah.."
"Akashi-kun" Kuroko menatap Akashi bingung ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi. Niatnya menolong ayah teman lamanya itu malah berakhir seperti ini.
"Kau tidak perlu memikirkan itu Tetsuya.. mungkin ayahku hanya sedang lelah sehingga berkata konyol seperti itu, jadi.."
"Seijuurou mana Kuroko, calon menantuku." Suara teriakan seorang Akashi Masaomi dari dalam memotong pembicaraan mereka.
"Aku tidak akan makan jika tidak ada Kuroko."
Akashi memejamkan matanya mendengar perkataan ayahnya, ada apa sebenarnya dengan otak ayahnya saat ini.
"Akashi-kun, ayahmu tidak boleh melewatkan makannya jika tidak kondisi kesehatannya akan menurun." Akashi menatap wajah Kuroko yang terlihat lebih khawatir dibanding dirinya.
"Tapi bagaimana dengan pekerjaanmu Tetsuya?" Tanya Akashi khawatir jika Kuroko harus di omeli atau sampai di pecat oleh bosnya karena kemauan konyol ayahnya.
"Tidak apa aku berada disini lebih lama,masih ada waktu satu jam sebelum aku masuk." Kuroko tersenyum menatap Akashi dan sekarang Akashi tak tahu harus berbuat apa. Akashi tidak mau merepotkan Kuroko, tapi untuk sekarang mungkin ia memang membutuhkan Kuroko untuk menyelesaikan permasalahan ayahnya.
"Ini suapan yang terakhir o ji san." Akashi menatap Kuroko yang tengah menyuapi ayahnya, tangannya menyila didadanya. Ia sungguh heran melihat tingkah manis ayahnya di hadapan Kuroko yang sangat berbeda jauh sekali jika dengannya.
"Sekarang Tetsuya jangan panggil aku o ji san, panggil o tou san. Sebentar lagi kau kan akan menjadi menantuku."
"Eh.. tapi,"
"Tetsuya tidak akan menikah denganku tou san. "
"Seijuuro, kan sudah kukatakan aku aku menjodohkan mu dengan Kuroko, apa kurang jelas."
"Memangnya apa yang membuat Tou san ingin menjadikan Tetsuya menantumu?" Tanya Akashi heran.
"Ini sebagai balas budiku karena Tetsuya sudah menolongku. Aku sudah berjanji akan menjadikan siapapun dia menantuku karena sudah menyelamatkan nyawaku yang berharga untukku"
"Lalu walapun yang menyelamatkanmu bukan Tetsuya melainkan nenek-nenek atau kakek-kakek tou san tetap akan menjodohkanku dengan mereka?" Akashi bertanya sarkatik.
"Seijuuro.. aku ini mutlak"
"Tou san.." Akashi sedikit meninggikan suaranya namun bahunya di tepuk pelan oleh Midorima yang berada disampingnya. Matanya seakan mengingatkan apa yang dikatakannya sebelumnya di ruang kerjanya. Akashi menghela nafas pelan, ia kan juga absolute tapi ayahnya sekarang benar-benar bertindak di luar dari biasanya. Mana ke-perfect-an keluarga Akashi yang selalu diajarkan ayahnya sejak ia kecil? Sekarang ia malah ingin menikahkan anaknya dengan laki-laki yang akan membuat aib bagi keluarga Akashi karena pernikahan sesama jenis.
"Baiklah.. Tou san mau menjodohkan ku dengan Tetsuya, memangnya Tetsuya mau menikah denganku?" Tanya Akashi tenang, sambil tersenyum pada ayahnya.
"Eh.. Tetsuya tidak mau menikah dengan anakku." Masaomi menatap Kuroko dengan wajah yang memelas, seperti anak kecil yang ingin meminta permen dari ibunya. Kuroko yang sudah biasa melihat anak kecil pasti tidak tega untuk menolaknya.
"Eh.. bukan begitu…" Kuroko tidak tau harus berkata apa, sementara Akashi mengusap keningnya pelan. Akashi tau orang selembut Kuroko tidak akan tega mengatakan yang sebenarnya pada ayahnya. Jika sebenarnya Kuroko pasti sangat tidak mau menikah dengan Akashi. Siapa juga yang mau menikah dengan sesama jenis walaupun kenyataanya di luar sana banyak pernikahan seperti itu.
"Hanya saja mereka butuh waktu pendekatan untuk mencocokan diri sebelum menikah ji san.. " Akashi kembali bergerutu dalam hati mendengar perkataan Midorima. Siapa yang butuh pendekatan? Siapa juga yang akan menikah? Toh.. selama apapun pendekatan itu mereka tidak akan pernah menikah.
Akashi melirik arloji yang melingkar di tangannya. "Tou san, sekarang Tetsuya harus bekerja."
"Kau akan kembali lagi bukan?" Masaomi menatap Kuroko penuh harap membuat surai biru itu tersenyum lalu mengangguk, tak peduli kira-kira apa yang akan terjadi padanya nanti jika berhubungan dengan Masaomi.
"Ya tentu.." Kuroko pun bangkit di ikuti Akashi.
"Aku akan mengantar Tetsuya."
Akashi Masaomi tersenyum melihat kepergian anak tunggalnya dan calon menantunya. Kini ia menatap pria berjas putih dihadapannya.
"Jadi apa yang kau katakan padanya Shintaro?"
"Seperti yang ji san perintahkan."
"Itu bagus Shintaro." Midorima menatap senyum di wajah pria parubaya dihadapannya.
"Tapi bukannya berlebihan jika sampai mengatakan kau akan mati ji san?"
"Jika tidak seperti itu apa menurutmu Seijuuro akan langsung setuju."
"Aku tidak yakin tapi bagaimana dengan Kuroko, bukankah kau terlalu memaksanya."
"Ya.. kau benar, tapi cinta kan akan tumbuh seiring berjalannya waktu."
"Tapi tetap saja ini cinta yang tidak wajar" Midorima bergumam pelan menyahuti Masaomi.
"Eh… kau tidak perlu mengantarku Akashi-kun" Kuroko menolak ketika Akashi membukakan pintu mobil untuknya.
"Tidak apa Tetsuya, lagipula hari ini aku sudah banyak merepotkanmu"
"Akashi-kun.."
"Ini perintah Tetsuya" Kuroko menghembuskan nafas pelan, lalu masuk ke mobil Akashi. Memang tidak ada yang berubah dari Akashi, masih tetap absolut .
"Tetsuya.."
"Hmm.."
"Perkataan ayahku jangan terlalu di pikirkan" Kuroko melirik Akashi yang masih menatap lurus ke jalan raya. Kuroko tersenyum kecil kemudian.
"Sebenarnya itu tidak terlalu kupikirkan." Kuroko menunduk menatap kakinya.
"Baguslah kalau begitu." Akashi menghembuskan nafas pelan setelahnya, entah karena lega atau kenapa.
"Kau bekerja di gedung percetakan itu kan?" Tanya Akashi.
"Iya" Jawab Kuroko. Tapi sedetik kemudian tidak ada yang memulai pembicaraan. Mereka berdua terhanyut dengan pikiran masing-masing. Hingga mereka sampai di Gedung percetakan dimana itulah tempat tujuan Kuroko.
Kuroko melepaskan seat belt setelah Akashi memberhentikan mobilnya.
"Tetsuya." Panggil Akashi begitu Kuroko hendak membuka pintu mobil.
"Ya, ada apa Akashi-kun" Kuroko menatap Akashi yang masih menatap lurus ke depan.
"Kau masih akan mau menemui ayahku lagi kan?" Akashi bertanya, takut jika yang di katakan Midorima itu benar
"Tentu saja.." Akashi mendongak menatap manik biru secerah langit yang menatap lembut padanya.
"Walaupun apa yang ia minta padamu? Apa kamu tidak merasa risih."
Kuroko tersenyum menatap Akashi " Bukankah jika masalah pernikahan, kita bisa mencari jalan keluarnya.. aku percaya jika ayah Akashi-kun hanya sedang kelelahan sehingga berkata seperti itu."
"Ya… kau benar. Kita akan mencari jalan keluar." Akashi menarik sudut bibirnya kecil.
"Aku pergi dulu ya Akashi-kun." Kuroko keluar dari mobil Akashi dan bergegas memasuki kantornya.
"Terimakasih.. Tetsuya." Akashi bergumam sambil memandang kepergian Kuroko.
Akashi sudah kembali ke kantornya setelah sebelumnya ia ke rumah sakit dan kata Midorima ayahnya sudah di perbolehkan pulang untuk istirahat. Akashi mengantar ayahnya dan sepanjang perjalanan ayahnya terus-terusan menanyai Kuroko. Jujur telinganya sedikit panas mendengarnya, entah panas karena apa atau kenapa? Ia juga tidak tahu. Akashi menatap berkas-berkas di hadapannya, ia sudah tidak bisa fokus.. pikirannya kacau dan itu semua salahkan pada ayahnya sendiri..
"Kuroko sudah waktunya pulang, sampai kapan kau akan berada disini." Pemuda bersurai abu-abu, dengan manik yang serupa menghampiri Kuroko yang masih sibuk berkutat dengan komputernya.
"Ya, sebentar lagi Mayuzumi-san." Mayuzumi Chihiro pemuda yang dua tahun lebih tua darinya itu hanya menghela nafas melihat Kuroko.
"Baiklah kalau begitu, aku pulang duluan ya"
"Ha'i" Kuroko berkata tanpa menoleh sedikit pun.
Kuroko meregangkan tubuhnya kemudian setelah pekerjaannya telah selesai. Ia memang jarang masuk ke kantor, tapi ketika ia sudah masuk kantor rasanya sangat sulit untuk tidak menyelesaikan pekerjaannya walaupun itu bukan dead-line nya. Makanya ia memiliki banyak waktu luang di luar. Kuroko bersiap, sudah pukul 9 malam, biasanya ia paling larut pulang jam 8 malam.
Ketika keluar dari kantornya Kuroko mengernyit menatap lamborgini merah di parkiran gedungnya. Mobil yang sama dengan yang mengantarnya sebelumnya. Lalu dilihatnya surai merah yang keluar dari mobil itu.
"Eh.. Akashi-kun.. Apa yang Akashi-kun lakukan disini?" Tanya Kuroko menghampiri Akashi.
"Menjemputmu.." jawab Akashi sambil tersenyum.
"Apakah ayah Akashi-kun mencariku lagi?"
"Tidak. Bisakah kau masuk lebih dulu." Kuroko pun menuruti Akashi, masuk ke limosin merah tersebut.
"Jadi..?" Tanya Kuroko lagi menatap Akashi yang sudah menjalankan mobilnya.
"Sebenarnya aku hanya kebetulan lewat, makanya aku mampir dan bertemu Mayuzumi-san.. katanya Tetsuya masih ada di kantor jadi aku menunggu mu." Kuroko mengangguk, ia tahu jika Mayuzumi adalah teman SMA Akashi di Kyoto. Tapi bukankah itu berarti Akashi menunggunya sudah lama.
"Tapi bukankah Akashi-kun menungguku terlalu lama, lagi pula Akashi-kun tidak perlu repot-repot seperti itu."
"Aku tidak merasa di repotkan Tetsuya. Lagipula aku bingung jika pulang lalu bertemu tou san, mungkin nanti ia langsung akan menanyai mu. Ia sudah terlanjur menyukaimu." Kuroko menunduk tidak tau harus mengatakan apa.
"Lalu menurutmu bagaimana jika ayahku menanyakanmu lagi?" Tannya Akashi masih fokus pada stir mobilnya.
"Akashi-kun hanya perlu menelfonku dan aku akan datang ke rumah Akashi-kun." Jawab Kuroko.
"Tidak.. kau tidak boleh datang ke rumah ku lagi Tetsuya, ayahku hanya akan memaksamu menikah denganku. Begitulah dia.."
"Eh, tapi.."
"Kecuali jika kau mau menikah denganku."
Kuroko terdiam sesaat, lalu tanpa sadar ia terbatuk cukup keras. "Hah.." Kuroko menatap Akashi yang hanya tersenyum kecil.
"Aku hanya bercanda." Kuroko berdecak dalam hati. Kedua perkataan Akashi sebelumnya benar-benar kejam di telinga Kuroko.
Akashi menatap surai biru itu yang hanya menunduk. "Tetsuya kau.. tidur.."
Akashi memberhentikan mobilnya didepan pagar biru yang sudah di kenalnya. "Tetsuya kita sudah sampai." Akashi mengusap pelan kepala Kuroko. Sementara surai biru itu hanya mengulet, lalu mengerjapkan matanya kemudian.
"Eh.. Akashi-kun tahu rumahku?" Tanya Kuroko serak, masih efek bangun tidur. Akashi hanya mengangguk.
"Cepat bangun Tetsuya atau kau mau aku gendong."
Blush
Kuroko langsung membuka matanya penuh dengan sedikit rona merah di pipi nya. Akashi hanya tertawa kecil melihatnya.
"Akashi-kun berhenti berkata yang aneh seperti ayahmu." Kuroko melepas selt beltnya.
"Akashi-kun mampir lah dulu, aku memaksa." lanjut Kuroko, Akashi hanya tersenyum kecil melihat Kuroko. Itu mah bukan memaksa, tapi wajahnya hanya datar tak terlihat memaksa sedikit pun.
"Baiklah jika kau memaksa."
Akashi pun menurut mengikuti Kuroko yang berjalan lebih dulu.
"Tadaima."
"Tetsuyaa…"
Eh.. baik Akashi maupun Kuroko kaget melihat ibu Kuroko yang langsung berteriak menghampiri Kuroko.
"Eh.. ada Akashi-kun juga.." ibu Kuroko tersenyum menatap Akashi, sementara Akashi hanya membungkuk sopan.
"Jadi selama ini kalian memiliki hubungan seperti itu, aku akan merestui hubungan kalian dengan senang hati." Kuroko dan Akashi saling berpandang tidak mengerti.
"Maaf maksud bibi Tetsuna apa ya?" Akashi bertanya sopan.
"Eh.. kalian tidak perlu menyembunyikannya, tadi ayah Akashi-kun datang dan mengatakan kalian memiliki hubungan special. Dia mengatakan akan menikahkan kalian, agar hubungan kalian lebih resmi jadi.."
"Maaf.. bibi, tadi ayahku kesini?" Akashi bertanya kaget, sumpah ia tidak berfikir ayahnya senekat itu mau menjodohkannya sama Tetsuya sampai langsung ngarang cerita ke ibunya Kuroko.
"Iya.."
"Lalu apa yang Bibi Tetsuna katakan padanya?"
"Tentu saja aku setuju, bagaimanapun juga jika itu demi kebahagiaan anakku aku akan sangat setuju."
"Setuju untuk apa Kaa-san?" Tanya Kuroko.
"Untuk menikahkan kalian secepatnya." Tetsuna menjawab dengan mata berbinar, hingga akan mengeluarkan airmata. Sementara Akashi dan Kuroko mereka terkejut bukan main, walaupun tidak di tunjukan dalam raut wajah. Sekarang ancaman yang harus mereka lalui tidak hanya ayahnya Akashi saja, melainkan ibunya Kuroko juga yang sudah setuju dengan perjodohan itu. Bagaimana cara mereka menghentikan perjodohan ini?
To be continue
review please ^_^V
