Hai.. hai.. adakah yang menunggu ff ini. Maaf kan saya atas typo yang bertebaran. Terimakasih atas review chapter sebelumnya. Semoga suka sama kelanjutannya. Happy reading ^_^
Matchmaking Akakuro
Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi
Author : Au
Chapter 2
"Halo.. Akashi-kun." Kuroko mengapit ponselnya di leher dan bahunya, tangannya sibuk memakai dasi.
"Tetsuya bisakah kita bertemu nanti."
"Mungkin saat makan siang nanti bisa, sekarang aku sedang terburu-buru Akashi-kun." Kuroko berganti memegang ponsel dengan tangannya, sedangkan tangannya yang satu lagi sibuk merapikan rambutnya yang agak berantakan.
"Baiklah sampai jumpa nanti siang Tetsuya."
"Ha'i Akashi-kun." Kuroko lalu menutup ponselnya.
Kuroko lalu terburu-buru mengambil tasnya dan pergi ke ruang makan, ia sangat telat.. dan itu salahkan ibunya yang semalaman tak henti-hentinya menanyai perihal hubungannya dengan Akashi. Meskipun ia berkata jujur tidak memiliki hubungan dengan Akashi, ibunya hanya akan mengatakan jika dirinya berbohong. Jadi sama sekali tak ada gunanya menanggapi ibunya. Dan sekarang ia benar-benar telat karena tidur terlalu larut.
Kuroko meminum sedikit susu yang dibuatkan ibunya di meja makan, lalu lekas berangkat.
.
.
.
"Kuroko.." Surai abu-abu itu langsung menghampiri Kuroko begitu dirinya masuk ke ruangannya.
"Ada beberapa kiriman naskah yang harus di selesaikan" Mayuzumi menunjuk meja Kuroko yang sudah dipenuhi tumpukan kertas.
"Eh.." Kuroko kaget menghampiri mejanya, ia melihat ada 10 naskah karya sastra yang harus ia lihat untuk di perbaiki jika ada kesalahan. Biasanya paling banyak ia hanya harus menyelesaikan 3-5, itu untuk waktu 1 bulan loh.. makanya sebelumnya ia mengatakan pekerjaannya tidak memerlukan banyak waktu di kantor.
"Sekarang sudah masuk liburan musim dingin, jadi banyak penulis yang mulai beraksi dengan penanya dan mengirim karya mereka kesini. Jadi kau bisa mengerjakannya kan Kuroko, kuharap bisa selesai dalam satu bulan."
Kuroko hanya mengangguk, ya bagaimana pun ini kan pekerjaannya. Ia juga tidak perlu mengkhawatirkan pekerjaan lainnya sebagai guru tk, karena sekolah itu juga libur. "oh..ya Kuroko, mungkin jika terlalu banyak naskah yang kuterima mungkin nanti akan ada tambahan pekerjaan untuk mu." Tambah Mayuzumi sebelum pergi.
"Ha'i"
Dan sekarang yang Kuroko lakukan adalah membaca satu per satu naskah yang ada dimejanya sebelum ia mengeditnya.
.
.
.
Pemuda crimson duduk di pojok ruangan sebuah restoran cepat saji. Pojok ruangan menjadi tempat paling nyaman di restoran itu saat ini, mungkin karena tidak dilalui banyak orang karena ini jam makan siang. Restoran cepat saji yang letaknya tak jauh dari kantor seorang yang di tunggunya itu.
Akashi melirik ponselnya, bukankah ini sudah jam istirahat? Tapi kenapa Kuroko belum datang untuk menemuinya. Sudah lima belas menit ia menunggu, itu rekor terlamanya menuggu seseorang. Sangat langka jika seorang Akashi Seijuurou itu menunggu. Biasanya ia akan memaki atau mungkin melempar apa saja untuk menghukum seseorang yang membuatnya membuang waktunya yang berharga, tapi..
"Summimasen Akashi-kun, aku membuatmu menunggu.." pemuda yang di tunggunya itu berdiri di hadapan Akashi masih dengan nafas terengah-engah, mungkin karena ia habis berlari untuk ke sini.
"Eh.. tidak kok Tetsuya."
Tuh kan, itu tapinya. Akashi tidak bisa memarahi pemuda berwajah malaikat itu.
Kuroko lekas menarik kursi dan duduk di hadapan Akashi. "Tetsuya tidak memesan makan siang atau Vanila Shake?" Tanya Akashi melihat Kuroko yang langsung duduk tanpa memesan.
"Nanti saja Akashi-kun, Jadi ada apa Akashi-kun mengajak ku bertemu?" Tanya Kuroko dengan wajah datarnya.
"Tentu saja tentang rencana membatalkan perjodohan kita." Kuroko mengangguk mengerti.
"Lalu apa rencana mu Akashi-kun?" Tanya Kuroko.
"Nanti malam Tetsuya datang ke rumahku untuk makan malam, ini perintah dari ayahku jadi kau harus datang"
"Ayah Akashi-kun sudah baikan?"
"Ya. Jadi begini Tetsuya, kau tahu ayahku sangat mengikuti tata krama dan disiplin dalam segala hal." Kuroko mengangguk menunggu Akashi lanjut menjawab.
"Sudah jelas ia pasti tidak akan suka dengan orang yang tidak mematuhi tata krama dan disiplin, jadi Tetsuya hanya perlu bersikap di luar tata krama untuk membuat ayahku tidak menyukaimu sehingga ia akan membatalkan perjodohan ini."
Kuroko mengerutkan keningnya. "Maksud Akashi-kun aku harus bersikap tidak sopan? Maaf Akashi-kun, aku juga di ajari tata krama oleh orangtua ku, jadi aku tidak akan melakukannya." Kuroko menolak datar.
"Heh.. ini kan kita lakukan cuma untuk membatalkan perjodohan ini. Jadi Tetsuya lebih memilih menikah denganku daripada mengikuti rencana ku."Akashi menarik sudut bibirnya kecil.
"Eh, bukan begitu Akashi-kun.." Kuroko blushing sendiri, ini Akashi yang gagal paham, apa ia sih yang salah bicara. Kuroko mana mau jadi OOC hanya karena perjodohan itu, kan masih banyak cara lain.
"Apa tidak ada cara lain Akashi-kun.. lagipula tata krama yang bagaimana?"Tanya Kuroko sedikit bingung mungkin, tata krama kan ada banyak bukan hanya satu.
"Tidak harus di luar tata krama tapi yang tidak disukai ayahku saja seperti mengobrol saat makan atau berisik dengan cara mendentingkan suara piring dengan sendok. Makan belepotan atau lainnya deh."
"Harus begitu ya.." Kuroko lesu dibalik wajah datarnya. Akashi hanya mengangguk sembari memikirkan cara lain.
.
.
.
Malam harinya Kuroko langsung pergi ke rumah Akashi tanpa pulang dari kantor terlebih dulu. Katanya Akashi sih ga perlu ganti baju, supaya kesan berantakannya ada. Ya tentunya dijemput dong sama Akashi di kantornya.
"Tetsuya.." Kuroko menoleh ke arah Akashi sebelum turun dari mobil. Lalu Akashi mendekat ke arahnya, menyemprotkan parfum ke tubuhnya.
Kuroko mencium bau di kemejanya, bukannya Akashi menyuruhnya tidak pulang supaya ia bau, tapi kok malah di pakaikan parfum.
"Akashi-kun bukannya.."
"Ini parfum yang biasa dipakai ibuku"
"Sepertinya ayahku tidak menyukai parfum ini. Beberapa kali ia marah jika aku memakainya, mungkin karena mengingatkannya pada ibuku. Mungkin ini sedikit membantu untuk membuat ayahku tidak menyukaimu"
Kuroko mengangguk mengerti.
Mereka pun masuk dan langsung disambut sama Akashi Masaomi dengan senyum lebarnya. Kuroko balas tersenyum ramah tapi Akashi hanya memutar bola matanya melihat ayahnya.
"Tetsuya baru pulang dari kantor ya..?" Tanya Masaomi.
"Iya.. "
"Eh.." Akashi menatap ekspresi ayahnya dengan serius.
"Aroma ini.." Akashi tersenyum melihat ayahnya mengerukan kening. Sudah jelas jika ayahnya mencium parfum yang ia pakaikan pada Kuroko.
"Ini.." Akashi mengendurkan senyumnya. Mengapa ayahnya…
Tersenyum
"Ini mengingatkanku dengan Shiroi.. ibunya Seijuurou.. hahaha…"
Kuroko sama Akashi Sweetdrop.
Ini bukan rencana mereka. Lagian kenapa Akashi Masaomi malah bahagia bukannya marah-marah. Akashi mendecak kesal. Rencana pertama mereka..
Gagal
.
.
.
Tiba waktunya makan malam. Makanan sudah tertata rapi di meja. Kuroko duduk berhadapan dengan Akashi.
Hanya makan dengan berisik
Itulah pesannya Akashi yang diingat Kuroko. Baiklah demi membatalkan perjodohan ini Kuroko rela jadi OOC.
Kuroko mulai memegang pisau dan garpu.
"Huh.." Kuroko menghela nafas sebelum itu.
Tang
Ia memotong daging di piring dengan cukup keras. Kuroko pun memulai lagi memotong daging-mengetuk pisau di piring- membuat suara
Tang..tang..tang..
"Pelayan.." Masaomi memanggil pelayan.
"Bagus Tetsuya, ayah pasti tidak suka" Akashi membatin senang.
"Tukar dagingnya. Daging yang kau berikan kepada Tetsuya terlalu keras " Perintah Masaomi datar kepada Maid. Maid itupun langsung mengambil piring dihadapan Kuroko. Akashi menatap ayahnya heran.
"Apa ini berhasil?" batin Akashi
"Maaf ya Tetsuya, pasti dagingnya terlalu keras. Tunggu ya, para Maid akan mengganti makanannya." Wajah datar Masaomi terganti dengan senyum.
"Eh.." Kuroko tersenyum canggung lalu menatap Akashi bingung, sementara yang ditatap hanya mengusap keningnya. Akashi sudah menduganya.
Akashi pun menusuk daging cukup kencang karena sedikit kesal.
"Seijuro.. makan yang tertib jangan berisik."
Hah.. Akashi membatin kesal. Lah tadi Kuroko yang berisik biasa aja, kenapa giliran dia ayahnya jadi.. Apa orang disampingnya ini benar ayahnya. Apa waktu kecelakaan kemarin kepalanya terbentur sesuatu. Kenapa ayahnya jadi beda banget kalo sama Kuroko.
Lalu Maid datang membawa makanan yang baru untuk Kuroko. Maid juga kelihatan membawa
"O ji san."
Akashi menatap Kuroko yang sepertinya akan menjalankan rencana selanjutnya.
Mengobrol sambil makan
"Panggil aku o tou san Tetsuya"
"Ah..iya o tou san" Kuroko berkata kikuk.
"Ya ada apa.."
"Hmm.. bukannya sakit jantung itu tidak boleh memakan udang ya karena itu memiliki kolestrol tinggi ditambah udang itu di goreng, penyakit jantung kan tidak boleh memakan sesuatu yang mengandung banyak minyak." jelas Kuroko
Akashi menatap makanan ayahnya, benar juga yang dikatakan Kuroko.
"Benar juga.. kenapa tou san memakan udang goreng, bukannya sakit jantung tou san sedang memburuk." Akashi Masaomi hanya tersenyum.
Gawat.. pikirnya
Ia harus meyakinkan mereka berdua atau tidak ia akan ketahuan jika berbohong.
"Ya.. makan sedikit kan tidak apa-apa. Lagipula Shintarou yang mengatakannya." Jawab Masaomi tenang. Ya.. itu alasan yang bisa dibuatnya, jadi Akashi kan hanya tinggal bertanya pada dokter pribadinya. Dan biarlah dokternya itu yang berfikir lebih keras untuk mencari alasan.
"Benarkah..? Biasanya ia akan melarangmu walaupun jantungmu masih normal." Akashi bertanya menyelidik.
"Ya.. mana kutahu, aku kan hanya mengikuti perkataan dokter, jika kau tidak percaya tanya saja padanya. Lagi pula Seijuro, kita sedang makan kenapa kau terus bicara."
Akashi mendesis kesal, seharusnya Kuroko yang banyak bicara, tapi kan ini reflex seorang anak jika menyangkut kesehatan ayahnya.
"Oh.. iya. Tetsuya kau perhatian sekali."
Salah. Arah pembicaraan mereka salah dan sekarang ayahnya malah merasa diperhatikan oleh Kuroko bukannya tidak menyukainya.
.
.
.
"Tidak ada yang berhasil ya.." Kuroko mengangguk mengiyakan. Mereka sedang dalam perjalanan ke rumah Kuroko. Ayahnya sih maunya Kuroko tetap di rumahnya tapi Kuroko menolak dengan sopan mengatakan jika ia besok akan kerja dan besok akan datang lagi.
"Aku rasa ayahmu lebih lembut daripada yang selalu Akashi-kun ceritakan" Kuroko menunduk menatap kakinya.
"Itu hanya jika dia bersamamu. Lihat saja jika ia berbicara denganku saja masih tegas seperti biasa. Aku merasa bukannya semakin tidak suka.. ia malah semakin menyukaimu." Jawab Akashi masih fokus dengan stir.
"Itu karena Akashi-kun terlalu cuek sama ayah Akashi-kun. Bersikap manis lah sedikit padanya."
"Aku sudah sangat manis. Tetsuya jangan terlalu imut makanya.."
Eh.. Kuroko mengerutkan keningnya. Pipinya sedikit bersemu antara malu dan kesal. Dia tuh laki-laki, masa imut.
"Aku tidak imut Akashi-kun.." Akashi tersenyum kecil melihat pipi Kuroko yang sedikit bersemu, sementara wajahnya sangat datar.
"Yah.. mau bagaimana lagi. Langkah kedua ya membuat ibu mu tidak menyukaiku.."
"Ibuku?"
.
.
.
To Be Continued
OMAKE
Akashi Masaomi meneguk kopinya sambil menarik sudut bibirnya kecil. "Memangnya aku tidak tahu itu semua rencana mu Seijuro.."
.
.
Bagaimana… ga jelas yaaa…?
Jangan lupa Review ya ^_^
