A Love Song That Tied Us To The Future
A/N: Baru aja kemarin gue nulis cerita dan sekarang udah nulis cerita baru…. Yha hebat sekali hahahaha benar-benar keajaiban banyak ide yang mengalir. Yo semuanya~ Ayumi kembali hadir dengan FF K-project. Masih dengan pairing yang sama; SaruSaya. Setting kali ini mungkin bisa dibilang AU (?) dan bertemakan reinkarnasi. Ide ini dapat ketika lagi baca komik yang ada tema reinkarnasinya di toko buku ya you know lah. Akan ada kutipan lagu "Raise de Aou" dari single Sayuri terbaru "Sore wa Chiisana Hikari no You na." yang susunannya terbilang ngacak. Niatnya mau dibuat oneshot tapi berhubung akan sedikit panjang jadi dibuat berchapter. Doakan gue supaya fict multichap yang ini kelar… (dulu sering bikin fict multichap tapi ga kelar-kelar yha aja… /author kurang ajar/digampar/) Yaudah Daripada nyerocos nggak jelas langsung aja deh. Enjoy~
Disclaimer: K-project © GoRA x GoHands, Raise de Aou (Let's meet in the next World) © Sayuri & Yuki Kajiura
Summary: "Hanya mimpi di siang hari pun tidak apa-apa… aku ingin bertemu denganmu sekali lagi…" roda gigi reinkarnasi mulai bergerak. Memberikan kesempatan kedua bagi Fushimi dan yang lainnya untuk memulai kehidupan baru. Terlahir kembali di Tokyo sang kota metropolitan sebagai mahasiswa tingkat tiga, Fushimi hanya menjalani hari-harinya seperti biasa. Namun, pertemuannya dengan gadis yang terasa tak asing baginya membuat Fushimi teringat kembali akan kehidupan masa lalunya. Kali ini, lagu cinta seperti apa yang akan menuntun pemuda itu?
Prologue
.
.
.
Kota Shizume, sebuah kota yang memiliki tujuh raja berkekuatan supernatural. Sebuah kota dimana tujuh raja tersebut saling bertikai namun juga memiliki ikatan yang kuat, dan sekarang sebuah pertarungan dengan klan hijau sedang terjadi di kota itu. Dendang pedang yang saling beradu satu sama lain, pedang raksasa—Damocles—yang bergantung di atas langit, medan pertarungan yang dipenuhi dengan aura berwarna hijau, merah, biru dan perak menghiasi kota yang padat penduduk ini.
Suatu tempat di kota itu, tepatnya di dalam gedung Mihashira sedang terjadi pertarungan intens antara satu anak kecil dengan tiga remaja. Adu senjata antara bat, sabit dan saber terdengar dengan jelas di tempat itu. Tepat di tempat yang sudah setengah hancur dan berisi puing-puing bangunan tersebut terlihat pemuda bersurai cokelat kemerahan dengan beanie sedang mengayunkan bat miliknya—menangkis ayunan sabit dari anak bersurai perak. setelah satu tangkisan itu, si anak menyeringai dan segera berlari menuju pemuda bersurai cokelat kemerahan itu dan kemudian berusaha untuk menyerangnya sekali lagi.
Tapi sebelum itu terjadi, sebuah saber berhasil menangkis sabit itu yang kemudian disusul oleh lemparan pisau jarak jauh dari pemuda berkacamata frame tebal. Melihat serangan beruntun itu tidak membuat si anak kecil takut. Dari pada takut, ia justru merasa senang dan menerima tantangan itu sepenuhnya. Si anak bersurai perak itu kemudian menyeringai kembali dan menangkis pisau yang dilempar dari jarak jauh dengan memutar sabitnya, setelah berhasil menangkis lemparan pisau tersebut, ia kemudian menangkis ayunan saber yang datang padanya. Gema dari ayunan saber dan gagang sabit yang saling beradu memenuhi ruangan itu. Seringai masih tertempel di wajah si anak lalu ia membuka mulutnya.
"Konohana Saya ya? Huh, untuk seorang perempuan, seranganmu boleh juga."
Sukuna, begitulah ujar anak kecil itu ketika ia melihat gerakan Saya yang mengayunkan sabernya untuk menghalagi serangan sabit milik Sukuna. Seringai anak bersurai perak itu kemudian melebar, pegangan tangannya menguat. Suara gesekan antara gagang sabit dan bilah pedang terdengar begitu nyaring. Sukuna lantas menggunakan sabitnya itu untuk memukul saber Saya, kemudian saber itu terlempar jauh dan membuat gadis bersurai coklat panjang itu berkeringat—menyadari keadaan gawat yang sedang melandanya.
Sukuna yang melihat celah itu hanya tersenyum penuh kemenangan. Anak itu kembali mengayunkan sabitnya pada Saya. Tapi, sebelum sabit itu mengenai gadis itu, Yata berhasil menghalanginya dengan bat miliknya. Mengetahui serangannya berhasil, Yata segera menggunakan batnya untuk memukul anak kecil itu hingga terlempar cukup jauh. Sesaat ketika ia terlempar, Sukuna sempat kehilangan keseimbangan, tapi kemudian ia berhasil mengembalikan keseimbangannya.
"Konohana, oi, kau enggak apa-apa?" ujar Yata. Matanya berusaha memastikan ada luka pada Saya atau tidak, dan ia tenang ketika gadis itu tak terluka.
"Ya, terima kasih Yata-kun."
"Oi, Konohana. lebih baik kau mundur, sabermu tak bersamamu kan? Dan lagi kekuatan strainmu tidak bisa dipakai disini," ujar pemuda dengan kacamata tebal bernama Fushimi Saruhiko.
"Tapi Fushimi-kun, kau kan—"
"—sudahlah dengar apa kataku."
Pemuda itu—Fushimi—kemudian berjalan melewati Saya tanpa memandangnya dan berdiri di depan gadis itu. Saya hanya mengangguk, ia hanya menuruti apa kata Fushimi dan kemudian perlahan berjalan mundur. Ia tidak mau membuat Fushimi repot lebih dari ini. Pemuda itu sedang terluka di bagian pahanya dan Saya datang kemari untuk menolong partnernya di Scepter 4 tersebut.
Fushimi dan Yata kembali berdiri berdampingan, siap untuk menyerang Sukuna. Sukuna yang melihat itu hanya menyeringai, anak itu kini merasa tertantang.
"Dengan bar darah kalian yang menguning itu memangnya kalian bisa apa?!" tanpa menunggu lama, Sukuna segera berlari. Gerakannya begitu gesit. Yata yang melihat Sukuna berlari segera maju menuju garis depan, ia kembali mengayunkan batnya ke arah anak kecil tersebut, namun karena gerakan Sukuna terbilang gesit, anak bersurai perak itu berhasil menghindari ayunan bat Yata dan kini gilirannya mengayunkan sabit miliknya. Saat yata melihat serangan tiba-tiba itu, dengan sigap ia menangkis serangan itu menggunakan bat miliknya yang akhirnya terjadi benturan antara bat Yata dan sabit Sukuna. Benturan itu cukup keras sehingga membuat tubuh Yata ikut terlontar jauh.
Fushimi yang melihat kesempatan itu lantas segera melempar kembali pisau di tangannya ke arah Sukuna. Si anak menyadari serangan yang sama dan kemudian berputar untuk menghalangi lemparan pisau jarak jauh Fushimi. Ia kembali memutar gagang sabitnya dan pisau-pisau yang dilempar tadi kini berjatuhan di sekitar kaki Sukuna. Setelah berhasil menangkis semua pisau tersebut, Sukuna kembali berlari—kini ke arah Fushimi—setelah ia melihat celah besar. Menggunakan kesempatan itu, dengan menambah sedikit kecepatan, Sukuna kini berada tepat di depan Fushimi dan bersiap menyerang.
"Na—?!"
"Pertama aku dapat 4000 poin!"
Sukuna berseru sambil mengayunkan sabitnya. Fushimi tahu ia tidak bisa menghindar di waktu yang singkat itu. Ia sadar kalau ia telah menggunakan semua pisaunya, dan kini ia hanya menunggu serangan itu datang. Sesaat sebelum serangan Sukuna mengenai Fushimi, tiba-tiba saja sekelibat bayagan hitam melewati Fushimi dan menghadang serangan itu. Kejadian itu berlangsung dengan lambat layaknya slow motion di film-film, darah segar kemudian bercucuran dimana-mana. Manik biru gelap dibalik kacamata berframe tebal itu membulat. Jelas saja, bagaimana Fushimi tidak sangat kaget ketika ia melihat gadis bersurai coklat panjang yang ia suruh untuk mundur tadi kini berada tepat di depannya sambil bersimbah darah.
"Che… sayang sekali aku tak berhasil membunuh Saruhiko. Yah, tapi aku dapat 4000 poin dari strain ini."
Fushimi hanya diam. Ia tidak percaya—amat sangat tidak percaya kalau Saya akan menjadi tameng bagi dirinya. Menyadari tubuh gadis itu jatuh, kaki pemuda itu bergerak dan Fushimi segera menopang tubuh Saya yang bersimbah darah itu. Didekapnya dengan erat tubuh gadis itu. Ekspresi wajahnya tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Marah dan terkejut bercampur menjadi satu. Saya yang melihat ekspresi Fushimi saat itu lantas hanya bisa tersenyum lembut.
"Syukurlah… kau… tidak apa… apa…"
"Da-dasar bodoh! Sudah kubilang untuk mundur kenapa kau malah—" tak sanggup melanjutkan kalimatnya, Fushimi hanya mengeratkan pelukannya.
"Karena… Fushimi-kun dalam… bahaya… jadi—"
"—Jangan bicara lagi… lukamu harus ditangani. Kalau tidak, pendarahan ini…" Fushimi tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Lidahnya kelu untuk mengucapkan satu kalimat tersebut. Satu alimat yang membuat hatinya bergetar karena takut.
"Ini bukan… apa-apa…"
Fushimi hanya bungkam. Bukan apa-apa… bagaimana bisa Saya bilang ini bukan apa-apa? Jelas ini apa-apa. Pundaknya terluka dan pendarahannya juga tidak mau berhenti. Fushimi mengernyitkan alisnya, ia lalu mencoba untuk membuka mulutnya, tetapi gadis bersurai coklat panjang itu kemudian melanjutkan kalimatnya.
"Tidak apa-apa… jangan… khawatir…"
Mendengar bisikan itu membuat Fushimi hanya menggeletukkan giginya. Sejujurnya ia kesal. Kesal karena ia tidak bisa melindungi seseorang yang penting baginya.
"Ayo cepat kita obati lukamu!" seru Fushimi saat ia mulai berdiri. Tapi sebelum ia berhasil berdiri sepenuhnya, tangan Saya menggenggam jaket Fushimi. Merasakan genggaman tersebut lantas membuat perhatian Fushimi kembali jatuh kepada gadis yang ada di dalam dekapannya.
Dari kejauhan, Yata bisa melihat adegan tadi. Ia kemudian geram dan segera bangkit lalu berlari menuju tempat Fushimi dan Saya sembari menyerang Sukuna. Yata yang saat itu sampai di tempat kedua orang tersebu, hanya berdiri di depan mereka—berusaha melindungi keduanya. Dilihat dari keadaan Saya, luka yang didapat cukup dalam. Pemuda itu sempat berpikir apa Saya akan selamat? Tapi ia segera menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin berpikiran negatif.
"Oi Konohana! bertahanlah!" seru Yata saat ia melihat keadaan Saya semakin melemah.
Melihat keadaan Saya yang semakin melemah—seperti sudah menjadi kebiasaan—Fushimi mendecakkan lidahnya. Kini amarah dan rasa terkejutnya berubah menjadi rasa takut. Meskipun ia tidak pernah sekalipun mengatakannya di depan gadis ini, jujur saja, Fushimi sama sekali tidak ingin kehilangan Saya. Gadis bersurai coklat panjang itu memberikan warna lain di dunianya, dan ia tak pernah sekalipun membayangkan untuk kehilangan warna-warna itu. Tapi, melihat adegan saat Saya menjadi tameng baginya dan tubuh gadis itu yang bersimbah darah, membuat rasa takut yang ia pendam selama ini mencuat keluar dan mulai menjalar di hatinya.
"Oi Konohana! kau dengar aku? Konohana!"
Mata Saya yang tertutup sesaat kemudian terbuka kembali. Manik coklat madu tersebut menatap lekat-lekat wajah Fushimi. Saya kemudian tersenyum lembut, sepertinya ia sudah tidak tahan lagi. Rasa sakit di pundaknya begitu besar, dan lagi darah yang mengalir tetap tak mau berhenti. Dengan sisa tenaga yang ia punya, tangannya yang mencengkram jaket Fushimi kemudian terangkat dan menyentuh pipi pemuda berkacamata tersebut. Kulit yang saling bersentuhan itu terasa lembut. Mata Saya berkaca-kaca, senyumnya begitu lembut namun terlihat begitu sedih. dengan senyum itu ia membuka mulutnya.
"Fushimi-kun…"
"Oi Konohana!"
Saya menggerakkan mulutnya dengan perlahan. Berusaha menyampaikan suaranya kepada pemuda yang kini telah menjadi pusat perhatiannya.
"Jangan lupakan… aku… ya… lalu…" ia terdiam sebentar, kemudian membisikkan satu kalimat ke telinga Fushimi.
"…daisuki…"
Tepat saat ia berhasil menyampaikan satu kalimat itu, tangan Saya yang menyentuh pipi Fushimi kemudian terjatuh. Matanya yang menatap Fushimi kini tertutup, suhu tubuhnya yang tadinya hangat perlahan-lahan mulai mendingin. Tentu saja saat Saya berbisik, Fushimi bisa mendengar bisikan itu dengan jelas. Setelah melihat Saya menghembuskan nafas terakhirnya, Fushimi hanya diam membatu. Seakan-akan waktu di sekelilingnya berhenti, begitu pula dengan warna-warna cerah yang menghiasi kesehariannya, kini berubah menjadi hitam pekat. Pemuda itu kemudian kembali menggeletukkan giginya, matanya kini tersembunyi di balik poninya yang panjang. Ia kemudian menenggelamkan wajahnya di ujung leher gadis tersebut. Persetan dengan bau amis darah yang begitu menyengat di hidungnya. ia tidak menyangka jika kehilangan seseorang akan sebegitu sakitnya. Hatinya remuk dan hancur berkeping-keping. Kehilangan Saya cukup membuat Fushimi Saruhiko untuk pertama kalinya menangis dalam diam. Lengannya pun hanya menggenggam erat-erat tubuh yang dingin itu di dalam dekapannya.
Bahkan hingga akhir hayatnya, Fushimi masih tidak bisa melupakan satu kejadian yang membuatnya terpuruk tersebut.
Hanya mimpi di siang hari pun tidak apa-apa… aku ingin bertemu denganmu sekali lagi….
Seakan harapannya didengar oleh sang dewa, roda gigi reinkarnasi kini mulai bergerak maju—memberikan kesempatan sekali lagi bagi pemuda berkacamata tersebut beserta yang lainnya untuk memulai kehidupan yang baru.
.
.
Let's meet in the next world, when we are reincarnated
Both of us surely waiting for a different future
.
.
A/N: Wew akhirnya prolognya jadi. Gaje ya? Maaf ya…. Bikin scene pertarungan itu ga gampang…. Well… bentuknya kata-kata sih…. Lebih gampang gambar scene pertarungan daripada nulis hahahaha /digampar/ bagi yang penasaran, gue pinjem scene dari K return of kings eps 12 dengan campuran dialog dari episode 4 (gue lupa episode yg keberapa… maaf /yha) wahahaha /nak/ hanya sedikit diubah dan dibikin versi gue sendiri. Ya sudahlah, sampai sini dulu. Sampai jumpa di chap berikutnya
