A Love Song That Tied Us To The Future
A/N: Yoooo~ Ketemu lagi~ kali ini chapter satunya. Ya… nggak banyak yang harus gue jelasin, karena apa yang mau gue omongin udah diomongin di prolog. Jadi langsung aja. Enjoy~
Disclaimer: K-project © GoRA x GoHands, Raise de Aou © Sayuri & Yuki Kajiura.
Chapter 1
.
.
.
A past couldn't be changed then
No matter how many times it said that we couldn't learn it by experience could we?
We shake off repeatedly just to be left behind
.
.
.
Fajar sudah menyingsing dari ufuk timur. Cahaya hangatnya menyebar luas ke seluruh pelosok kota Tokyo. Langit biru, awan putih, kedua hal tersebut merupakan benda yang menghiasi sang kota metropolitan. Pohon sakura yang bermekaran di pinggir jalan—memberikan sentuhan warna cerah di musim semi. Orang-orang yang sibuk berlalu-lalang dengan aktivitasnya masing-masing. Di sisi lain kota Tokyo—tepatnya di dalam apartemen yang berdiri kokoh menjulang tinggi—terdengar suara nyaring sebuah alarm. Tak berapa lama kemudian, sebuah tangan yang terlihat cukup basah merogoh PDA yang dipasangi alarm tersebut dan mematikan tombol off alarm itu.
"Cih."
Satu decakan lidah keluar dari mulut pemuda berusia dua puluh tahunan tersebut. Disaat tangan kanannya menaruh kembali PDA di atas meja kerja yang tak jauh dari situ, tangan kirinya kembali bergerak melanjutkan aktivitas mengeringkan rambut yang sempat tertunda tadi. Kedua pasang mata berwarna biru gelap melirik layar PDAnya. Waktu di layar PDA tersebut menunjukkan pukul delapan tepat. Ia sadar sebentar lagi ia harus berangkat kuliah.
Tanpa menunggu lama, pemuda dengan surai hitam itu mengeluarkan beberapa setelan baju. Tidak terlalu casual, namun juga tidak terlalu formal. Ia hanya memilih untuk mengenakan setelan kemeja putih, yang diperlengkap dengan vest berwarna abu-abu dan jaket hitam berbentuk jas, ditambah dengan celana jeans panjang. Melihat persiapan sudah selesai, ia kemudian segera mengambil tas selempangnya dan berjalan keluar dari apartemennya.
Tepat di luar apartemen tersebut, sesosok laki-laki bersurai coklat kemerahan kini tengah menunggu si pemuda bersurai hitam. Si pemuda bersurai coklat kemerahan hanya memandangi arloji di tangan kirinya. Ketika kedua pasang matanya menangkap sosok pemuda bersurai hitam itu tengah berjalan mendekat, sebuah senyum lebar terpampang di wajahnya yang bulat.
"Ooohh! Akhirnya kau datang juga Saruhiko!"
"Cih… pagi-pagi begini kau sudah berisik ya Misaki."
"Hah! Terserah kau. Aku berisik juga ada alasannya. Ini musim semi lho! Musim semi!"
"Ya… ya…"
Fushimi hanya menanggapi ucapan Yata dengan setengah hati. Entah kenapa ia merasa malas hari ini, sampai-sampai ia pun ikut malas menanggapi ucapan Yata yang notabene-nya selalu ia tanggapi dengan sukarela. Melihat Fushimi yang berjalan melewati dirinya tanpa melihatnya, Yata segera berjalan menyusul si pemuda berkacamata itu. Ia menjatuhkan skateboardnya hingga menimbulkan suara hentakan yang kasar antara roda skateboard dengan aspal yang ada.
"Oh… oh… ada apa ini Saruhiko? Kayaknya kau enggak semangat ya?"
"Bukan apa-apa…"
"Hoooo… begitu. Heh! Pasti paling-paling kau merasa malas karena harus masuk kuliah lagi setelah libur sebulan," ujar Yata sambil jalan berdampingan dengan Fushimi di atas skateboardnya.
"Cih… kau itu bodoh ya…? Jangan samakan aku denganmu."
"Yah terserahlah."
"…"
Keheningan menyelimuti mereka berdua. Fushimi hanya diam, tidak balas menanggapi. Alasan ia hanya menanggapi setengah hati ucapan Yata, itu karena pikirannya sedang disibukkan oleh satu mimpi yang didapatnya tadi malam.
Mimpi yang sama selama sebulan ini, yang membuat ia bertanya-tanya.
Mimpi dimana ia melihat sebuah kota terdapat aura merah, biru, hijau dan perak yang saling bertabrakan, dan juga sebuah pemandangan dimana ada seorang gadis yang terbaring lemah sambil bercucuran darah. Jika Fushimi ingat kembali, ia merasa seperti mengenal sosok gadis yang ada di dalam mimpinya. Tapi, ia sendiri tidak bisa mengingat siapa gadis tersebut. Ia merasa seperti ingatan yang begitu penting telah dikunci rapat-rapat, jauh di dalam ingatannya sendiri. Gadis bersurai coklat panjang dengan manik mata berwarna coklat madu. Sosok yang seperti sudah sangat ia kenal, namun setiap kali ia berusaha mengingatnya, kepalanya terasa sakit seakan menolak untuk mengingat.
"—sakuranya terlihat indah ya…"
Satu kalimat yang keluar dari mulut Yata membawa kembali kesadaran Fushimi. Si pemuda dengan wajah stoic kemudian mengangkat wajahnya. Kedua mata dibalik kacamata berframe tebal tersebut menatap pohon sakura dengan tatapan rindu. Tiba-tiba saja sekelibat bayangan dari ingatannya yang jauh kembali menghampirinya.
Like clinging on to the memories
Like waiting for a punishment to be handed down
I was locking up my own self in this room
Wah~! Bunga sakuranya indah ya Fushimi-kun!
Cih… biasa saja.
Meskipun begitu aku senang! Rupanya benar kalau melihat bunga dengan Fushimi terasa beda! Terima kasih ya! Lain kali ayo kita lihat bunga bersama lagi.
Kedua pasang mata berwarna coklat keemasan menatap Fushimi dengan seksama. Yata melihat gerak-gerik Fushimi yang ia rasa sedari tadi terlihat aneh. Peluh keringat membasahi pelipisnya, ekspresi wajahnya pun tidak bisa dijelaskan. Melihat sosok Fushimi yang seperti itu lantas membuat Yata membuka mulutnya.
"Oi Saruhiko, wajahmu kelihatan pucat. Kau enggak apa-apa?"
"Cih… aku tak apa-apa. Hanya sedikit kelelahan."
"Oh begitu…"
Sesaat sempat terjadi keheningan kembali, namun sebelum Fushimi melontarkan satu kalimat lagi, Yata telah memotongnya dengan mengeluarkan suaranya terlebih dahulu.
"…Kalau begitu sampai disini ya. Aku harus kerja part-time. Sampai nanti ya," ujar Yata sambil menggunakan ibu jarinya untuk menunjuk jalur yang berbeda.
"Ya, sampai nanti," jawab Fushimi dengan singkat. Kedua sahabat itu kemudian berjalan menuju jalan yang berbeda. Yata menuju tempat kerja part-timenya, sedangkan Fushimi berjalan menuju tempat kuliahnya.
XXX
Bel tanda pelajaran hari ini selesai pun telah berbunyi. Para mahasiswa dan mahasiswi yang ada di kelas kini mulai membereskan semua peralatannya—tak terkecuali Fushimi. Bisa terlihat di mejanya yang berada di dekat tembok, pemuda berkacamata tersebut juga sedang membereskan barang-barang miliknya. Ia ingin segera angkat kaki dari ruangan berisik ini. Rasanya ia benar-benar tidak tahan dan kebisingan ini hanya akan memperburuk keadaan. Aura gelap penanda untuk tidak mendekati dirinya pun keluar—membuat hampir semua orang di kelas perlahan berjalan menjauh dari pemuda tersebut. Setelah berhasil angkat kaki dari ruang kelas, ia segera berjalan menuju perpustakaan untuk mengerjakan semua tugas yang diberikan oleh sang dosen.
Kali ini ia merasa beruntung, perpustakaan kampus tidak begitu ramai, jadi ia bisa bekerja disini dengan tenang. Suara langkah kakinya terdengar begitu lembut, benar-benar berbanding terbalik dari sifatnya yang asli. Melihat ada tempat kosong, pemuda itu segera memilih untuk duduk disana. Ia kemudian menaruh tasnya, lalu tangannya segera merogoh isinya untuk mengeluarkan laptop yang tersimpan disana.
Suara ketikan yang terdengar berirama layaknya sebuah konser musik kecil di perpustakaan. Kedua mata Fushimi hanya terfokus pada layar di depannya—hampir tidak bergeming sedikit pun atau beranjak dari tempat duduknya—diam, tenang, sambil fokus dengan tugas-tugas yang meminta untuk segera diselesaikan. Hampir tiga jam berlalu dan perlahan pemuda berkacamata itu mulai merasakan kelelahan menyebar di tulang rusuk dan otot-ototnya. Ia kemudian melepas kacamatanya sambil memijat diantara kedua matanya, lalu meregangkan kedua lengannya ke atas untuk menghilangkan rasa pegal yang bertengger di seluruh tubuhnya.
Fushimi kemudian kembali melihat layar laptopnya. Kedua manik mata biru gelap si pemuda mengecek semua tugas yang berhasil ia ketik, berusaha memeriksa jika ada kesalahan. Ia benar-benar tidak suka ketika ada kesalahan kecil dalam pekerjaannya. Karena, itu artinya, ia harus kembali mengulang seluruhnya dan kata 'gagal' adalah kata terlarang dalam kamus hidup seorang Fushimi Saruhiko. Memastikan semua tidak ada yang salah, Fushimi kemudian melepas satu helaan nafas.
Pemuda bersurai hitam tersebut lalu segera beranjak dari tempat ia duduk. Ia lantas membereskan meja perpustakaan yang berantakan dengan berbagai macam buku-buku. Kedua pasang matanya sempat melirik pemandangan di luar jendela. Di luar sana, langit yang tadinya biru cerah, kini telah berubah menjadi merah keoranyean—menandakan senja telah tiba. Hari ini benar-benar satu hari yang panjang.
Tak berapa lama kemudian, kakinya yang panjang itu membawanya menuju rak-rak buku yang ada di sana. Seperti sudah hafal tempat dimana buku-buku tersebut disusun, tangan Fushimi dengan lihainya menaruh semua buku yang ada. Tetapi, ketika ia sedang menaruh semua buku itu, tiba-tiba saja sebuah suara lembut yang mengalunkan lagu klasik menyusup ke dalam kedua telinga Fushimi. Tubuhnya kemudian terdiam, kedua matanya sedikit membulat. Tanpa disadari aktivitasnya telah berhenti. Rupanya Fushimi tengah terpaku dengan suara lembut yang ada di dalam perpustakaan. Sekali lagi, sekelibat bayangan masa lalu menghampirinya. Ia ingat kalau ada seseorang yang memiliki suara yang sama seperti yang ia dengar. Fushimi yakin ia pernah mendengar suara ini, ia tidak bisa lupa karena suara itu seperti sudah terukir di dalam tubuhnya.
Detik itu juga, kedua pasang matanya menelusuri seluruh ruangan perpustakaan—seakan seperti berusaha menemukan sosok yang ia cari. Dan tentu saja, saat itu juga kedua matanya menangkap sosok seorang gadis yang tengah duduk di dekat jendela, sambil memasang earphone dan menggumam. Lagu klasik yang terasa familiar. Fushimi yakin ia pernah mendengarnya. Angin senja berhembus dengan perlahan—menyapu surai coklat panjang sang gadis tersebut. Sesaat perhatian Fushimi sempat terkunci di gadis itu, matanya sedikit menyipit ketika ia melihat ciri-ciri fisik sang gadis. Surai coklat panjang dan suaranya. Ia lalu melihat mata gadis tersebut terbuka dengan perlahan—memperlihatkan kedua manik mata berwarna madu kecoklatan.
Melihat warna kedua mata si gadis membuat Fushimi segera membatu. Angin senja berhembus semakin kuat lewat jendela yang terbuka. Ciri-ciri fisik gadis tersebut benar-benar sama persis seperti gadis yang ada dalam mimpinya. Fushimi sendiri tidak mengerti, entah ini kebetulan atau apa. Selain itu, lagu yang dialunkan oleh gadis tersebut sama dengan lagu yang selalu dialunkan oleh si dia.
Dia?
Dia? Dia siapa? Begitulah pikir Fushimi. Ia mengernyitkan alisnya, kedua matanya sedikit menyipit, kepalanya juga tiba-tiba terasa sedikit sakit. Semakin lama ia mendengarkan gumaman musik klasik sang gadis, semakin kuat pula rasa sakit di kepalanya. Tangannya yang semula hanya memegang buku, kini menyentuh dahinya. Matanya pun juga ikut tertutup. Ingatan yang selama ini terkunci, akhirnya terbuka kembali. Bayangan masa lalu—lebih tepatnya kehidupannya yang lalu, mulai berputar di dalam kepala Fushimi layaknya sebuah video yang diputar ulang. Ia kemudian ingat semuanya. Tentang pedang Damocles, tentang batu Dresden, tentang pertikaian antar raja, tentang pertarungan mereka dengan klan hijau, hingga tentang satu ingatan yang sebenarnya tidak ingin ia ingat kembali…
…tentang saat dimana ia harus kehilangannya…
…kehilangan seseorang bernama Konohana Saya.
Is it allowed?
If a day like that was coming
Will you be waiting for me?
At the head of this pain
Matanya kini terbuka sangat lebar, peluh keringat mengalir jatuh dari pelipisnya, nafasnya sedikit memburu. Bisa ia rasakan dadanya sedikit berdegup kencang. Kedua pasang mata berwarna biru gelap itu kini kembali terkunci di gadis yang masih menggumamkan lagu klasik dengan indahnya. Tatapan yang tadinya kasar kini melembut. Di sisi lain, merasa seperti sedang diperhatikan, si gadis bersurai coklat panjang kemudian mengalihkan pandangannya dari buku yang ia baca, dan kini tatapannya terkunci pada pemuda berkacamata yang berdiri tak jauh dari sana. Gadis itu sedikit memiringkan kepalanya—tanda bahwa ia bingung dengan si pemuda. Lalu, sang gadis itu pun membuka mulutnya perlahan.
"Ada apa?"
Menyadari kalau ia tertangkap basah sudah menatapinya, Fushimi kemudian mendecakkan lidahnya dan memalingkan pandangannya ke arah lain, berusaha untuk tidak menatapnya.
"Cih… bukan apa-apa…"
Tepat saat itu di dalam perpustakaan, keheningan menyelimuti keduanya. Fushimi masih menolak untuk menatap sang gadis, sedangkan gadis yang disebutkan hanya menaikkan satu alisnya. Tatapannya kini berubah, dari yang penasaran berubah menjadi kekhawatiran.
"Kau yakin kau tidak apa-apa…? Wajahmu terlihat pucat…" ujar sang gadis yang saat itu mulai beranjak dari tempat duduknya.
Mengetahui kalau gadis bersurai coklat panjang mulai berdiri, Fushimi buru-buru untuk angkat kaki dari perpustakaan. Ia kemudian segera mengambil tas selempang miliknya dan segera berjalan dengan cepat ke arah pintu keluar.
"Aku tidak apa-apa… kau tak perlu melakukan hal yang tak perlu."
Gadis tersebut sedikit tertegun dengan ucapan Fushimi. Ia kembali memiringkan kepalanya dengan kedua matanya mengekor punggung lebar si pemuda berkacamata hingga punggung itu menghilang di balik pintu.
Di koridor kampus pun Fushimi berjalan dengan sedikit cepat. Langkahnya seperti yang mengatakan kalau ia gugup, padahal orangnya sendiri tahu ia tidak perlu merasakan hal tersebut. Menyadari bahwa ia sudah cukup jauh dari perpustakaan, kedua langkah kaki itu kini melambat. Fushimi kemudian berhenti sejenak dan menyandarkan punggungnya di jendela yang tidak jauh dari sana. Telapak tangan kanannya kembali memegangi dahinya. Bisa terlihat saat ini wajah Fushimi tertutup oleh lengannya. Isi kepalanya kembali memutar kejadian di perpustakaan tadi. Kedua matanya melebar, ia tidak menyangka ia akan bertemu kembali dengannya—dengan orang yang dikasihnya—seakan takdir berusaha untuk membelenggunya sekali lagi.
"Konohana… Saya…" Nama itu keluar dari mulut Fushimi dengan terbata-bata. Nafasnya sedikit tidak berirama. Tiba-tiba saja Fushimi merasa kelelahan—entah karena apa.
Dengan punggung yang masih bersandar pada jendela, Fushimi menutup matanya—membiarkan seluruh ingatan jauh di masa lalunya berputar ke belakang. Mulai dari pertemuan pertama mereka, hingga satu kejadian yang sempat menghancurkan hatinya. Fushimi lalu membuka matanya dengan perlahan. Perasaannya campur aduk, antara senang, takut dan khawatir. Sejujurnya ia senang ketika ia bisa melihat Saya kembali, namun suatu tempat di hatinya juga merasa khawatir. Bagaimana kalau saat bersama dengan dirinya terjadi sesuatu pada Saya? Bagaimana jika hal yang sama terulang kembali? Membayangkannya saja sudah membuat Fushimi merasa takut.
Daripada begitu…
…lebih baik tidak usah kenal saja…
…agar dia tetap aman.
Ya… lebih baik begitu bukan? Dari pada harus merasakan kembali betapa sakitnya kehilangan seseorang yang berharga, lebih baik ia tidak pernah mengikat dirinya dengan hubungan yang ada. Fushimi tahu, ketika kau dekat dan semakin dekat dengan seseorang, lalu ketika kau kehilangan mereka itu akan menyakitkan, karena itu dari pada ia merasakan hal itu untuk kedua kalinya, akan jauh lebih gampang jika ia memilih untuk tidak berhubungan dengannya.
Tapi pertanyaannya… apakah ia sanggup?
Membayangkannya saja sudah cukup membuat Fushimi menyeringai. Seringainya terlihat begitu masam. Ia pun menyembunyikan kedua matanya di balik lengannya yang diangkat ke atas. Ia tidak tahu apakah ia sanggup melakukannya, tapi ia akan mencoba.
Fushimi kemudian mengangkat kakinya dari tempat ia berdiri. Ia benar-benar merasa lelah, setidaknya malam ini ia akan mengistirahatkan tubuhnya. Sambil berjalan menjauh dari lorong itu, pemuda bersurai hitam tersebut juga meninggalkan ingatannya. Berusaha untuk tidak peduli, dan memilih untuk menjalani hari-harinya seperti biasa.
Namun sepertinya, usahanya kali ini takkan semudah itu berjalan.
A/N: Akhirnya chapter 1 selesai. Wow words 2l+ nggak gue nyangka hahahahaha. Dan… apa ini review Cuma satu?! Oh ya sudahlah… gue ga gitu mikirin review kok, dan wajar juga sih… pairing gue pairing rare untuk ukuran fans K project Indonesia wahahahaha /digampar/ okesip~ sampai ketemu di chap 2~
