A Love Song That Tied Us To The Future

A/N: Yahooo~ kembali bertemu di chapter 2~ sejauh ini berjalan dengan baik. Ide yang ada pun mengalir. Ga ada hambatan. Teman doakan gue supaya rasa malas nggak menghampiri! /woi/ kali ini masih dengan kutipan lagu dari raise de aou. Di chap berikutnya baru akan berubah huehehehe~ oke, lanjut~

Disclaimer: K-project © GoRA x GoHands, Raise de Aou © Sayuri & Yuki Kajiura.


Chapter 2

.

.

.

Satu lagi hari di salah satu universitas di Tokyo. Pemandangan biasa dimana mahasiswa dan mahasiswi berlalu-lalang—entah yang sedang mencari sang dosen atau hanya yang sedang beristirahat tapi tidak bisa diam. Seorang gadis berusia sekitar dua puluh tahunan terlihat tengah berjalan di lorong untuk segera masuk ke kelas. Langkahnya terlihat beitu cepat, sepertinya ia khawatir jika telat masuk kelas di jam ini. Wajar saja, jam pelajaran kali ini adalah jam pelajaran dimana dosennya adalah dosen yang tegas—dengan kata lain, killer. Tentu saja mengetahui hal tersebut membuat sang gadis buru-buru masuk kelas agar tidak kena batunya.

Saat ia sampai di tempat tujuannya, satu helaan nafas keluar dari mulutnya. Sepertinya ia aman karena sang dosen belum datang. Bagi dirinya, cukup susah menjadi mahasiswi sastra inggris tingkat tiga—dimana ia harus berhadapan dengan beberapa dosen yang sepertinya begitu tegas. Gadis bersurai coklat panjang itu segera berjalan menuju tempat duduknya, ketika ia duduk, telinganya menangkap suara renyah yang memanggilnya tak jauh dari situ.

"Saya-chaaaaaann~!"

Gadis yang namanya dipanggil Saya tersebut kemudian menoleh. Ia mendapati sahabat baiknya—Yukizome Kukuri tengah berjalan menuju bangkunya.

"Ah! Kukuri-chan! Ada apa?"

"Hehe~ enggak ada apa-apa kok. Cuma mau bilang kalau dosennya hari ini enggak masuk," ujar Kukuri dengan gampangnya.

Mendengar itu pun membuat Saya membuat aksi buka-tutup mulut layaknya ikan koi. Matanya membulat. Ia benar-benar kaget dengan apa yang ia dengar.

"Eh?! Kenapa?"

"Entahlah… sepertinya urusan mendadak. Begitu kata ketua kelas tadi," Kukuri hanya menaikkan bahunya. Entah kenapa bagi Kukuri, ada atau tidaknya dosen killer itu bukan masalah baginya.

Mengetahui keadaan tersebut membuat Saya bersandar pada kursinya dan kembali mengeluarkan satu helaan nafas. Yah setidaknya kali ini patut dibilang keberuntungan. Terlepas dari rasa gugup yang mampir di hatinya, kedua mata Saya kemudian melirik Kukuri.

"Mau ke kantin?"

"Tentu saja!"

Akhirnya kedua gadis itu memutuskan untuk pergi ke kantin. Memang saat yang tepat karena matahari sudah berhenti di arah jam dua belas—yang artinya—ini sudah tengah hari dan waktunya mengisi perut yang lapar. Ketika mereka berjalan berdampingan di koridor juga mereka tidak banyak bicara. Bagi Kukuri yang sudah lama kenal Saya, gadis bersurai panjang tersebut pasti akan menceritakan segala hal; baik yang penting maupun yang tidak penting alias biasa saja. Namun kali ini sepertinya ada yang beda. Si gadis bersurai coklat gelap pendek kemudian menatap wajah Saya, dari apa yang ditangkap oleh matanya, ekspresi wajah Saya terlihat tidak biasa, tatapannya menyiratkan rindu, kedua matanya dengan warna coklat madu seperti sedang mencari seseorang. Kukuri kemudian menyeringai jahil, mungkin ia akan menanyakannya ketika mereka sampai di kantin nanti.

Ketika mereka sampai di kantin, tempat tujuan mereka, Saya dan Kukuri segera memesan beberapa makanan yang tidak terlalu berat. Saya hanya memesan roti sandwich ditemani dengan susu, sedangkan Kukuri memesan roti yakisoba dengan jus jeruk. Sesudah memesan makanan mereka, kedua gadis tersebut segera mencari bangku kosong. Dan detik itu juga pastilah akan dimulai girls talk.

"Jadi… apa terjadi sesuatu?"

"Apanya?"

"Apanya katamu?! Pasti kemarin terjadi sesuatu kan? Soalnya saat perjalanan kita kesini, kamu yang selalu bicara tentang keseharianmu tiba-tiba saja jadi pendiam."

"O-oh… begitu ya…"

"Jadi~ ceritakan padaku sebenarnya ada apa~?"

"…"

Saat itu Saya sempat merasa bimbang. Haruskah ia menceritakan ini pada Kukuri? Tapi, jika ia simpan sendiri ia akan semakin bingung. Jadi mungkin ia ceritakan saja. Saya kemudian menarik nafas dan memulai pembicaraannya.

"…Kemarin aku bertemu dengan seseorang…"

"Eh?! Seriusan?! Pasti laki-laki ya?! Kalau enggak, wajahmu enggak akan selembut itu."

Mendengar kalimat tersebut hanya membuat Saya bungkam, disertai dengan garis merah yang merambat dari leher hingga ke wajah.

"Ah~ maaf-maaf~ lalu?" Kukuri kemudian bertopang dagu—menunggu jawaban dari sahabat baiknya.

"Eh… ya… tidak ada yang spesial sih… ia memergokiku sedang bergumam di perpustakaan dan lalu pergi begitu saja."

"Waaahh~ pertemuan yang indah~"

"Apanya?"

"Habisnya… kalian bertemu di perpustakaan~ ngomong-ngomong pasti itu sore hari kan?"

"Bagaimana kau tahu?!"

"Ahahahahaha~ kita sudah lama kenal, jadi wajar saja aku tahu. Pertemuan di sore hari di musim semi."

"Kukuri-chan…"

"Maaf-maaf~ lalu… seperti apa orangnya?"

"Hmm… rambutnya hitam lalu dia pakai kacamata frame hitam. Kulitnya wara putih pucat, lalu wajahnya juga dingin…"

Mengetahui Kukuri tidak menjawab, Saya lantas menjatuhkan tatapannya ke wajah gadis yang duduk di depannya.

"Kukuri-chan? Ada apa?"

"Hmmm…. Laki-laki yang kau sebut tadi… rasanya aku pernah lihat…"

"Benarkah?"

"Ya… dia rambutnya hitam dan pakai kacamata frame hitam tebal kan? Kulit putih pucat dan wajah dingin…. Mungkin dia itu Fushimi-kun."

"Fushimi-kun?"

"Ya," ujar Kukuri sambil mengangguk, tetapi kalimatnya belum selesai sampai disitu, "Fushimi Saruhiko. Mahasiswa tingkat tiga seperti kita jurusan IT. Dia memang cukup terkenal karena sifat dinginnya itu…"

"Heeee…" Saya kemudian menatap Kukuri lekat-lekat—ia merasa tertarik dengan topik ini. Ia sendiri sebenarnya tidak tahu kenapa, tapi, ia merasa seperti ada magnet yang membuatnya tertarik pada pemuda dengan kesan misterius ini. Rasanya ia semakin ingin tahu tentang pemuda bernama Fushimi Saruhiko itu. Ia berharap semoga saja hari ini ia bisa bertemu dengannya lagi.

XXX

Hari kini telah berubah menjadi senja. Dengan Informasi yang didapatnya tadi siang, Saya sedikit berharap kalau ia bisa bertemu dengan Fushimi sekali lagi. Namun, ia sendiri sadar kalau hal itu tidak mungkin terjadi di kampus yang luas ini. Jangankan mencari seseorang, terkadang ia saja masih kesulitan untuk mencari satu kelas. Si gadis kemudian menghela nafas, satu lagi hari yang panjang bagi seorang gadis bernama Konohana Saya.

Sang gadis bersurai coklat panjang kini berjalan menuju perpustakaan kembali. Ia harus meminjam beberapa buku untuk mengerjakan tugas yang belum selesai. Tepat pukul lima sore hari, Saya telah sampai di tempat favorit para mahasiswa yang berkutat dengan tugas mereka. Hari ini tidak begitu banyak pengunjung, yang artinya ini adalah satu hal yang menguntungkan. Langkah kaki gadis tersebut mulai membawanya ke bagian rak buku mengenai sastra, matanya mencari deretan buku bertema fonologi yang berjajar dengan rapi disana. Tangannya kemudian meraih buku yang ia cari. Karena sudah sampai disini, Saya memutuskan untuk melihat-lihat buku bacaan lain untuk ia pinjam.

Saat sedang mencari novel yang ingin ia baca, tentunya ia harus melewati beberapa rak buku seperti filsafat dan IT. Tepat ketika kakinya sampai di rak buku mengenai IT, disana perhatiannya tersita oleh sosok yang ia rasa kenal. Seorang pemuda dengan surai hitam dan kacamata frame hitam tebal. Saya sendiri tidak mengerti entah ini kebetulan atau takdir, tapi yang pasti satu harapannya telah terkabul. Ia tak menyangka ia bisa bertemu kembali dengan pemuda itu lagi di tempat yang sama ini.

Pikiran tentang jangan mengganggu dan rasa penasarannya beradu di benaknya. Ia mengerti ia penasaran, tapi ia sendiri juga merasa tidak enak kalau mengganggu begitu saja. Tapi memang namanya juga manusia, pada akhirnya rasa penasaranlah yang mengalahkan logikanya. Saya dengan perlahan melangkah maju menuju tempat pemuda itu berdiri, wajahnya sedikit dimiringkan karena penasaran dengan aktivitasnya. Merasakan kalau dirinya sedang ditatap oleh seseorang, Fushimi mengalihkan pandangannya dan kaget ketika ia melihat Saya tengah menatapinya.

"Apa—?!"

"Ah! Maaf! Aku hanya kaget bisa ketemu lagi. Kau yang kemarin disini kan?"

"Lalu?"

"Sepertinya kau sudah baikan ya? Kemarin kulihat wajahmu pucat sih… syukurlah…" satu helaan nafas keluar dari mulut Saya. Rupanya si gadis merasa khawatir dengan keadaan Fushimi. Oke mungkin memang aneh ketika kau harus mengkhawatirkan orang asing yang bahkan belum kau kenal baik. Tapi bagi Saya, ada aura dari Fushimi yang memberitahukan padanya kalau Fushimi bukan hanya sekadar orang asing. Mungkin lebih dari itu. Sebuah senyum lembut layaknya bunga kini merekah di wajahnya.

Fushimi yang melihat senyuman yang terpampang di wajah Saya hanya bisa diam. Ia tertegun. Bahkan setelah sekian lama berpisah, sifat gadis di hadapannya ini tidak berubah. Tetap murah senyum kepada siapa saja sama seperti dulu. Seperti sudah menjadi kebiasaan, satu decakkan lidah keluar dari lidah Fushimi. Matanya berpaling. Ia tiba-tiba saja merasa tidak ingin menatap wajah gadis yang ada di depannya.

"Namaku Konohana Saya, kau?"

Saya kemudian mengulurkan tangannya. Fushimi sedikit mengernyitkan alisnya, kedua pasang matanya yang berwarna biru gelap memandang wajah Saya, kemudian ke tangannya, lalu kembali ke wajahnya. Si pemuda sempat berpikir, haruskah ia mengambil uluran tangan tersebut? Apa jadinya kalau ia tidak mengambilnya dan apa yang akan terjadi kalau ia mengambilnya? Ia tidak tahu. Fushimi kemudian kembali melirik wajah Saya. Tepat di wajah gadis itu terpampang sebuah senyum lembut yang (jujur saja) ia rindukan. Satu helaan nafas ia keluarkan. Sepertinya ia tidak bisa lari lagi.

Akhirnya tanpa membuat gadis tersebut menunggu lebih lama, Fushimi kemudian mengambil uluran tangan sang gadis sambil mengatakan.

"Fushimi Saruhiko, jurusan IT."

Disaat mereka saling menggenggam tangan satu sama lain, senyum Saya kini melebar. Pipinya bersemu merah. Detik itu juga Fushimi tidak bisa lari lagi. Ia tahu ia telah kalah telak oleh permainan takdir yang membelenggunya—dengan membiarkan benang merah takdir mengikat dirinya sekali lagi—padahal ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak kembali terhubung dengan gadis di depannya ini.

Fushimi hanya mendecakkan lidahnya. Ia akan membiarkannya sembari melihat benang takdirnya kali ini akan menuntun ia ke arah mana. Pemuda berkacamata itu hanya berharap jika kejadian di kehidupannya yang lalu tidak akan kembali terjadi di kehidupannya yang sekarang.

.

.

Let's meet in the next world

At the sign to untie the little fingers promise

We are going to face every place

Let's meet in the next world

That's why we won't turn around again

.

.

.

.

Everything is not wrong

I'm prayed as if it seems spring was coming

.

.

.

.


A/N: JREEEEEEEEENGG~! Chapter 2 selesai~ masih ada beberapa chapter lagi sih. Dan semoga nggak lebih dari 20 chapter. DOAKAN GUE SUPAYA LANCAR YA AMPUN /sobs/ oke~ let's meet again in next chapter~