GADIS HARI KETUJUH

REMAKE NOVEL CHANBAEK VERSION

amandaerate

Novel By Sherls Astrella

.

FF ini adalah hasil Remake dari novel dengan judul yang sama karya Sherls Astrella. Terdapat beberapa perubahan nama atau yang lainnya sesuai dengan kebutuhan cerita.

.

Warning: Genderswitch

.


Chapter 3


Hari kedua tiba.

Sang gadis tiba tepat setelah makan pagi usai. Pangeran mengantarnya ke Ruang Tahta untuk menemui orang tuanya sebelum berdua dengannya sepanjang hari.

Gadis hari kedua ini sangat mirip dengan Xiumin. Mereka bagai anak kembar.

"Engkau sangat mirip dengan kakakmu," ujar Ratu, "Andai kalian berdua ada di sini, akan sangat sulit membedakan kalian."

"Anda terlalu melebihkan, Paduka Ratu. Anda pasti dapat membedakan kami berdua sebab kakak lebih cantik dari saya. Banyak yang pada mulanya berkata kami seperti anak kembar, tetapi setelah kami berdiri berdampingan, mereka baru tahu kami memiliki perbedaan. Anda juga akan menyadarinya bila bertemu kami berdua sekaligus."

"Kalian semua sangat cantik hingga sukar dipilih siapa yang paling cantik. Itulah yang kudengar."

"Saya kira yang Anda dengar salah, Paduka Raja. Banyak yang berkata adik bungsu saya paling cantik dari kami semua. Tetapi ada pula yang mengatakan kakak paling cantik. Pendapat semua orang berbeda-beda."

"Aku tidak dapat menilai sekarang. Aku belum bertemu kalian semua. Setelah aku bertemu kalian semua, aku boleh menentukan siapa yang tercantik?"

"Tentu saja, Paduka Raja. Saya akan menantikan saat itu. Saya yakin Anda juga akan mengatakan dia yang paling cantik di antara kami semua karena ia memang sangat manis. Anda akan senang memandangnya. Semua orang senang melihatnya. Melihat anak itu merupakan suatu pekerjaan yang tidak membosankan."

"Sebaiknya kami tidak menahanmu terlalu lama di sini. Aku yakin engkau sudah tidak sabar menanti saat ini."

Ratu menatap Raja ketika mereka pergi. "Gadis itu cantik seperti kakaknya."

"Tetapi mereka berbeda. Xiumin lebih pendiam daripada Luhan."

Ratu mengangguk tetapi Pangeran berpendapat lain. Xiumin maupun Luhan baginya sama saja. Mereka sama-sama membosankan dan membuatnya jenuh.

Satu hari terasa bagian jutaan tahun bagi Pangeran. Pangeran tidak tahu hari ini lebih lama dari kemarin atau hari ini lebih membosankan dari kemarin.

Sepanjang saat Luhan tiada henti-hentinya berbicara. Luhan lebih parah dari Xiumin. Wanita satu ini selalu berbicara tiap detiknya. Entah mengapa ia tidak kehabisan nafas karena terus menerus berbicara? Pangeran yang mendengarkan saja merasa hidupnya telah berakhir.

Sehari lagi Pangeran disuruh bersama wanita seperti ini, Pangeran yakin ia akan mati karena bosan.

"Kemarin Xiumin bercerita banyak hal tentang Anda. Mulanya saya mengira ia terlalu berlebihan tetapi ternyata ia tidak salah. Anda benar benar membuat setiap orang kagum pada Anda," kata Luhan ketika melihat sekelompok wanita berbisik-bisik sambil melihat mereka.

Luhan yakin para wanita itu iri padanya. Mereka tidak bisa mendekati Pangeran karena hari ini Pangeran adalah miliknya.

"Apa yang ia katakan tentangku?" tanya Pangeran tanpa rasa tertarik.

Luhan bersemangat untuk menceritakan segala perkataan Xiumin.

"Kata Xiumin Anda sangat mengagumkan. Anda mampu membuat setiap orang tunduk pada Anda dengan suara Anda. Anda adalah pria paling tampan yang pernah ditemuinya. Ia sangat mengagumi Anda. Hanya Anda yang mampu membuat Xiumin tampak berseri seperti itu. Saya yakin setelah mendengar cerita Xiumin, saudara-saudara saya yang lain tidak sabar untuk segera bertemu dengan Anda."

"Akupun tidak sabar untuk segera bertemu dengan kalian semua," tambah Pangeran.

"Benarkah itu?" tanya Luhan tak percaya, "Saudara-saudara saya akan sangat senang mendengarnya. Mereka akan tidak sabar lagi untuk bertemu Anda setelah mendengar hal ini. Saya yakin Tao akan semakin mempersiapkan diri untuk bertemu Anda besok."

Pangeran tidak menanggapi.

"Di antara kami semua, hanya Kyungsoo yang paling ingin segera bertemu Anda. Setiap saat ia selalu berkata mengapa aku terlahir sebagai anak ke enam?"

Luhan tertawa. Seperti wanita-wanita lainnya, ia menutupi mulutnya ketika tertawa.

"Pada saat ini ia sangat ingin dilahirkan sebagai anak pertama tetapi pada saat yang lain ia ingin dilahirkan sebagai anak terakhir. Dalam keluarga kami, anak terakhir selalu mendapat kasih sayang yang terbanyak karena ia merupakan yang terakhir."

Pangeran tidak tertarik untuk mendengar cerita Luhan tentang keluarganya. Ia tertarik mendengar bunyi serangga saat matahari mulai terbenam. Seluruh kebosanan Pangeran hilang ketika matahari telah tenggelam dan malam mulai menyelimuti langit.

Dengan tidak sabar, Pangeran menanti waktu makan malam tetapi penantian hari itu terasa sangat panjang dan menjemukan.

"Malam sudah tiba," kata Luhan penuh sesal, "Saya merasa baru saja tiba di sini tetapi sekarang sudah malam. Tak lama lagi saya akan pulang. Sebelum waktu berakhir, saya ingin mengatakan sesuatu."

Pangeran yakin tanpa diberi ijin Luhan akan melakukannya.

"Sejak kecil saya tidak pernah membayangkan akan pergi ke Istana. Istana adalah tempat yang paling mengagumkan yang pernah saya datangi. Saya tidak pernah bermimpi akan merasakan sehari di Istana ini. Dulu saya sering melihat Istana tetapi tidak berani membayangkan seperti apa rupa dalam Istana. Kalau saya dulu membayangkannya, saya yakin bayangan saya tidak akan sama dengan apa yang saya lihat. Mama selalu berkata pada saya bahwa Istana adalah tempat yang paling indah di negeri ini. Tidak seorangpun yang tidak ingin ke Istana. Istana adalah tempat yang paling indah juga paling menakutkan. Anda tahu sebabnya?"

Pangeran diam tak menjawab.

"Sebab di sini adalah tempat tinggal Raja. Semua orang tunduk pada Paduka Raja. Semua ingin bertemu Raja tetapi takut. Entah mengapa mereka merasa takut tetapi itulah adanya. Mungkin ketakutan itu muncul akibat mereka merasa berdosa pada Raja."

Pangeran hanya memandangnya tanpa rasa tertarik. Satu-satunya hal yang membuat Pangeran merasa tertarik adalah kenyataan bahwa waktu terus berjalan walau dengan lambat.

Gadis hari kedua terasa begitu menjemukan bagi Pangeran tetapi gadis ketiga lebih parah lagi. Pangeran tidak menyukainya. Ingin sekali Pangeran mengatakannya tetapi ia harus menahan perasaannya.

Cara berjalannya membuat sakit mata. Dagunya diangkat tinggi-tinggi dan dadanya dibusungkan. Matanya memandang lurus. Tangannya memegang kipas merah. Langkah-langkahnya pendek.

Bagi Pangeran, cara jalannya seperti seekor siput yang senantiasa berjalan perlahan-lahan sambil mengangkat matanya tinggi-tinggi agar tidak terinjak orang lain.

Ketika ia tiba, tangannya sudah terulur sebelum Pangeran mengulurkan tangan. Mata hijaunya memandang lurus ketika Pangeran mencium tangannya.

"Sungguh suatu kehormatan bagi saya Anda mau menyambut kedatangan saya di sini," Tao membalas ucapan selamat datang Pangeran.

Entah mengapa Pangeran merasa nada bicara Tao aneh. Dalam suaranya seperti terdapat keinginan untuk selalu dihormati dan dikagumi.

Sangat aneh bagi Pangeran ketika Raja berkata, "Daripada kakak-kakakmu, engkau lebih tegas. Tidak ada keraguan sedikitpun dalam kata-katamu."

Pangeran ingin mengusir Tao pulang. Pangeran jemu melihat wanita seperti Tao. Wanita-wanita kaya selalu seperti itu. Mereka angkuh dan memandang rendah sekitarnya. Mereka tidak mau peduli pada orang lain dan hanya sibuk dengan kecantikan mereka sendiri.

Setiap saat mereka memikirkan gaun baru seperti apa yang akan mereka kenakan untuk esok hari. Perhiasan apa yang akan mereka pamerkan pada teman-teman mereka. Tatanan rambut apa yang akan membuat mereka semakin menarik.

Tao sangat cantik dengan mata hijaunya yang dipadu dengan gaun hijau pula. Rambutnya ditata rapi menurut model terbaru. Tao tampak segar seperti musim semi. Wajahnya bersinar ceria.

Ketika Ratu memuji kecantikannya, ia dengan nada kurang senang berkata,

"Pandangan orang berbeda. Setelah melihat adik-adik saya, Anda akan berkata mereka lebih cantik dari saya."

Ratu tertawa mendengarnya. "Kalian kakak beradik sama-sama suka merendahkan diri. Kalian selalu mengatakan adik kalian lebih cantik dari kalian. Sebenarnya siapakah yang paling cantik dari kalian?"

Kecantikan Tao membuat para pria terpukau dan para gadis iri. Para pria memandang iri pada Pangeran dan para gadis memandang iri pada Tao.

Orang-orang selalu memandang penuh ingin tahu kepada mereka.

Mereka ingin mengetahui apa yang dibicarakan Pangeran dan Tao, tetapi mereka tidak berani mendekat. Selalu, setiap ada yang mendekat, prajurit pengawal Pangeran cepat-cepat menghadang orang itu.

Pengawal pribadi Pangeran telah mendapat titah dari Ratu untuk mencegah seorangpun mendekati Pangeran selama seminggu ini terlebih bila

Pangeran sedang bersama seorang dari Pelangi Evangellynn itu.

Ratu sangat keras menekankan titahnya itu. Tiap pagi ia selalu mengulangi titahnya dan mengancam mereka. Bila seorang dari para Pelangi itu mengeluh karena diganggu, mereka akan mendapatkan hukuman darinya.

Ratu juga memerintahkan mereka untuk berada lebih dari lima meter di belakang Pangeran.

Keseriusan Ratu untuk membuat Pangeran tertarik pada seorang dari Pelangi Evangellynn yang menjadi harapan terakhirnya, membuat pengawal pribadi Pangeran takut. Mereka benar-benar melaksanakan apa yang ditugaskan pada mereka.

Ke mana pun Pangeran pergi, mereka mengikuti lima meter lebih di belakang. Mereka selalu waspada pada setiap orang dan berjaga-jaga bila ada yang berusaha mendekat.

Sikap mereka itu membuat Pangeran merasa penjagaan terhadapnya diperketat. Pangeran semakin merasa dikurung dalam rumahnya sendiri.

Setiap sarapan, Pangeran mengingatkan Ratu akan janjinya untuk membiarkannya lepas setelah ia menemui ketujuh gadis itu. Ratu pun selalu mengingatkan Pangeran agar bersikap ramah pada para gadis itu.

Sikap saling mengingatkan itu hanya disambut dengan senyum oleh Raja. Tidak seperti Ratu, Raja tidak terlalu tertarik untuk menjodohkan Pangeran dengan seorang dari para Pelangi Evangellynn yang memukau seluruh pria di kerajaan ini.

Tugas Raja hanyalah menyambut para gadis itu di Ruang Tahta.

Sedangkan Ratu merasa wajib mengawasi putranya terus menerus. Ratu tahu bila putranya tidak diawasi, ia pasti akan kabur meninggalkan gadis hari itu.


Pangeran benar-benar tidak dapat berbuat apa-apa selain dengan sabar menemani Tao. Pangeran berharap gadis esok hari lebih baik daripada hari ini.

Sekedar untuk berbasa-basi, ketika makan siang selesai, Pangeran berkata, "Kuharap makanan yang disediakan membuatmu puas."

"Harus saya akui makanan buatan koki Istana lebih enak daripada koki kami."

"Kokimu harus belajar pada kokiku."

Tao diam berpikir. "Anda benar," katanya sesaat kemudian, "Suatu hari nanti bila Anda mengijinkan, saya akan menyuruh koki saya belajar pada koki Istana."

"Kapanpun aku akan mengijinkan."

"Terima kasih, Pangeran. Saya akan menantikan saat itu."

"Setelah ini Anda ingin ke mana?"

"Saat ini saya tidak ingin ke mana-mana. Hari susah siang dan terik. Saya tidak senang pada cuaca panas seperti ini."

"Sebaiknya kita berada di dalam Istana. Aku akan mengajakmu ke tempat paling sejuk di dalam Istana."

"Saya tidak akan sabar melihat tempat itu."

Pangeran segera mengantar Tao ke tempat yang ia maksudkan.

Ruangan itu berdinding hijau segar. Atap hanya menaungi sebagian dari ruang yang dikelilingi dinding hijau tinggi.

Tiga meter dari pintu, tidak ada lagi lantai marmer yang mengkilap.

Rumput-rumput hijau segar menjadi permadari ruangan luas itu. Berbagai tumbuhan tinggi rendah tumbuh dengan indahnya.

Sebuah kolam air terjun kecil terdapat di tengah-tengah taman. Airnya yang jernih berkilau-kilau tertimpa sinar matahari yang terik. Di sekelilingnya tumbuh bunga bunga yang berwarna-warni.

"Indah sekali!" seru Tao, "Belum pernah saya melihat taman di dalam rumah seperti ini."

"Taman ini didirikan untuk keadaan seperti ini. Di sini kita hanya akan merasa sejuk tanpa kepanasan. Fungsi lain Viridis Cella ini adalah sebagai tempat istirahat untuk keluarga kerajaan yang sakit dan bosan terus berada di kamar."

"Viridis Cella?" Tao kebingungan, "Apa itu?"

"Nama ruangan ini," jawab Pangeran kesal. "Dari bahasa Latin, artinya Ruang Hijau."

"Pantas saya tak pernah mendengar kata aneh itu," kata Tao tanpa rasa bersalah.

Pangeran dibuat jemu oleh Tao. Semua wanita adalah sama di mata Pangeran. Mereka hanya tahu bagaimana menjaga kecantikkan mereka sendiri.

Tidak seorang wanitapun yang menarik untuk diajak berunding.

Bagi Pangeran, wanita adalah makhluk yang cantik tetapi juga membosankan. Termasuk di antaranya ketujuh gadis anak keluarga Kim Horthrouth yang menarik seluruh pria di Evangellynn.

"Ruang ini cukup menyejukkan. Memang lebih baik berada di sini daripada di taman. Udara di luar sangat panas. Membuat saya merasa terpanggang."

Tao mengamati sekeliling.

"Tak diragukan semua keluarga kerajaan senang bersantai di tempat yang sejuk dan indah ini. Sayang, tempat ini tidak dibuka untuk umum."

Pangeran harus menahan diri untuk tidak berkata, "Tutup mulutmu! Aku bosan mendengar cara bicaramu yang mengejek itu."

"Kasihan kakak-kakak saya, mereka tidak sempat berkunjung ke ruang ini. Mereka akan sangat iri ketika mendengar cerita saya."

Pangeran mendengarkan dengan jemu.

Tao duduk di sebuah kursi.

Dengan malas Pangeran duduk di kursi sebelahnya dan memandang jemu taman di depannya.

Seorang pelayan muncul.

"Silakan diminum. Air jeruk yang dingin ini akan membuat suasana semakin sejuk."

"Kami bisa kedinginan karenanya. Udara di sini sudah sangat sejuk."

Pangeran menatap Tao dengan tajam lalu berkata, "Terima kasih. Aku memang membutuhkan ini untuk mendinginkan kepalaku."

Pelayan itu membungkuk sambil menjauh.

"Anda marah kepada dia?"

Pangeran tidak menjawab. Ia terus meneguk minumannya hingga habis.

"Minum saja air jeruknya," jawab Pangeran, "Minuman ini sangat cocok untuk siang sepanas ini."

"Dan mendinginkan sikapmu yang sombong itu," tambah Pangeran pada dirinya sendiri, "Kuharap."

Satu hari lagi Pangeran bersama wanita seperti Tao, Pangeran akan mati karena marah yang dipendam.

Wanita semacam Tao adalah jenis wanita yang selalu ingin ditampar Pangeran. Bila bukan karena Ratu berpesan berulang kali padanya untuk bersikap ramah Pangeran para putri keluarga Kim Horthrouth, Pangeran sudah tak tahu apa yang terjadi.

Setiap hari, Pangeran merasa harinya semakin bertambah lama. Makin dirasakan, satu menit makin terasa berjam-jam. Tetapi hari apapun pasti ada akhirnya demikian pula hari yang penuh kekesalan ini.

Hingga ketika akan pulang, Tao tetap bersikap angkuh. Dadanya terus membusung seolah-olah ia tidak pernah kenal lelah. Dagunya terus terangkat tanpa kenal lelah. Pandangan matanya terus memandang dingin sekelilingnya.

Kereta kuda keluarga Kim Horthrouth telah menanti di depan pintu ketika mereka berdua keluar.

Tao mengangkat tangannya.

Pangeran meraihnya dengan malas dan menciumnya. "Selamat malam, Lady Tao."

"Selamat malam, Pangeran. Saya sangat senang dapat menemani Anda sepanjang hari ini."

Pangeran tidak ingin memberi komentar.

Komentar itu akan disimpannya hingga hari ketujuh saat Ratu memintanya. Hingga hari ketujuh, Pangeran akan terus mengumpulkan semua komentarnya dan ia akan memberikannya pada Ratu. Kemudian Ratu tidak akan pernah mendesaknya lagi.

.


.

Akhirnya hari ketujuh tiba.

Tak seperti biasanya, Pangeran cepat-cepat menyelesaikan sarapannya dan berdiri di depan menanti kedatangan sang gadis ketujuh. Pangeran ingin hari ini segera berlalu dan setelah itu ia bebas.

Pangeran tak sabar menanti berakhirnya hari ketujuh yang membosankan ini.

Dalam benak Pangeran telah tersusun rapi daftar kegiatan yang akan dilakukannya esok hari dan seterusnya. Besok pagi hingga hari-hari berikutnya, Pangeran akan bersenang-senang dengan kawan-kawannya tanpa perlu mendengarkan ceramah Ratu.

Mulai besok pagi, Pangeran akan mengadakan suatu perjalanan yang selama ini diinginkannya. Perjalanan berkeliling tanpa pengawal dan tanpa nasehat panjang lebar dari ibunya.

Seminggu lamanya ia menahan kebosanan dan kejemuan. Esok tiba saatnya untuk melepas semua itu dengan kegembiraan. Tak cukup seminggu untuk melepas semua kejenuhan itu.

Sesuai janjinya, Ratu takkan melarangnya. Raja juga membiarkannya.

Ini adalah perjanjian antara orang tua dan anak sebelum Pangeran menyetujui usul Ratu yang membosankan.

Kereta keluarga Kim Horthrouth tiba.

Pangeran tak sabar ingin segera mengajak gadis ketujuh itu menemui orang tuanya. Semakin cepat memulai hari yang menyebalkan ini akan semakin cepat pula mengakhirinya.

Kusir kuda membuka pintu kereta dan seseorang keluar dari dalam.

Pangeran tertegun melihat Earl.

"Selamat pagi, Pangeran," sapa Earl.

"Selamat pagi." Pangeran heran melihat yang datang hanya Earl.

"Saya ingin bertemu orang tua Anda bila Anda tidak keberatan."

"Tidak, tentu saja tidak," sahut Pangeran.

Seperti Pangeran, Raja dan Ratu terkejut melihat yang datang pada hari ketujuh adalah Earl.

"Di mana putrimu?" tanya Ratu.

"Itulah yang ingin saya bicarakan, Paduka," Earl merasa bersalah, "Ia tidak dapat hadir memenuhi undangan Anda."

"Mengapa?" tanya Ratu.

"Ia jatuh sakit."

"Sayang sekali," Ratu kecewa, "Aku telah lama menantikan saat berjumpa dengan putri ketujuh yang katanya paling cantik. Kuharap ia segera sembuh."

"Terima kasih, Paduka."

"Ia sakit tetapi tidak berarti Chanyeol tidak dapat bertemu dengannya, bukan?" Earl kebingungan menatap Ratu.

"Chanyeol, hari ini engkau ikutlah Earl menjenguk putrinya. Temani dia sepanjang hari ini di Clypst."

Pangeran membelalak kaget. Baru saja ia merasa senang karena tidak harus bertemu dengan gadis ketujuh. Ratu benar-benar membuat ia tidak bisa merasa senang terlalu lama.

"Maafkan hamba, Paduka," Earl tampak semakin bersalah, "Hamba tidak ingin menghalangi Anda tetapi Pangeran tidak akan bisa bertemu putri hamba."

"Mengapa?" tanya Raja keheranan, "Saat ini putrimu beristirahat di rumah." Earl kebingungan dan bersalah, "Pangeran tidak akan dapat menemui putri saya. Ia tidak mau ditemui siapa pun ketika ia jatuh sakit."

Mereka terhenyak kaget.

"Mengapa!?" tanya Ratu tak percaya.

"Entahlah, Paduka Ratu. Hamba sungguh menyesal tidak dapat mengatur putri hamba sendiri. Walaupun Pangeran ingin menjenguknya, saya khawatir ia tidak mau. Putri saya sakit cukup parah dan saya khawatir Pangeran tertular."

Ratu menatap Earl dengan tak percaya.

"Entah mengapa ia tiba-tiba jatuh sakit. Kemarin ia masih terlihat segar tetapi pagi ini ia jatuh sakit dan tidak mampu meninggalkan tempat tidurnya."

"Sayang sekali," desah Ratu, "Padahal ia adalah gadis tercantik di Evangellynn yang kuharap bisa menarik perhatian putraku ini."

"Apakah kalian telah memanggil dokter?"

"Sudah, Paduka. Untuk sementara waktu ini, kami tidak berani mempertemukan putri kami dengan Pangeran. Kami tidak ingin Pangeran tertular."

"Aku mengerti kecemasanmu. Aku juga mengerti keinginan putrimu," kata Ratu bijaksana, "Banyak gadis yang tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang lain. Kuharap ia segera sembuh dan dapat menemui putraku."

Ratu melirik Pangeran. "Aku yakin putraku mau menanti hingga saat itu tiba."

Pangeran tak peduli. Diam-diam ia bersyukur gadis itu sakit sehingga ia tak perlu menemuinya.

Earl tertegun melihat sikap Ratu. Ratu mengerti apa yang terjadi dan ia sama sekali tidak tampak marah.

"Aku yakin dalam waktu dekat ini putrimu akan sembuh dan dapat bertemu dengan putraku."

"Mungkin…," jawab Earl ragu-ragu.

"Sejujurnya, aku merasa sangat kecewa," ujar Raja, "Aku ingin sekali bertemu dengan ketujuh putrimu. Aku telah berjanji pada Luhan untuk membandingkan siapa yang paling cantik di antara mereka. Tanpa bertemu putri bungsumu, aku tak bisa menilai. Kata Luhan, ia adalah gadis yang paling cantik."

"Demikianlah yang dikatakan banyak orang. Tetapi ada pula yang mengatakan Xiumin yang paling cantik. Pendapat tiap orang berbeda-beda."

"Tetapi mereka benar dalam satu hal. Putri-putrimu semuanya cantik dan mempesona."

"Anda terlalu berlebihan, Paduka Raja."

"Putri bungsumu adalah gadis yang tercantik di antara putri-putrimu yang lain. Aku yakin Chanyeol akan jatuh cinta pada pandangan pertama," kata Raja. "Aku tidak salah, bukan?"

"Saya pikir juga demikian, Paduka. Banyak pria yang jatuh cinta padanya ketika mereka bertemu dengannya."

"Ia pasti gadis yang sangat mempesona!"

Raja mengeluh lagi. "Sayang ia tidak datang. Aku ingin sekali berjumpa dengannya."

Arah pembicaraan mereka membuat Pangeran merasa jenuh. Gadis ketujuh tidak datang artinya ia bisa memajukan rencananya.

"Maaf saya tidak bisa menemani Anda lebih lama lagi. Silakan Anda berbicang-bincang dengan orang tua saya, Earl."

"Silakan, Pangeran."

"Mau ke mana engkau?"

"Menagih janji," Pangeran menatap ibunya penuh kepuasan.

Dengan hati lega Pangeran melangkah meninggalkan Ruang Tahta.

.


.

Pangeran merasa seperti seekor burung yang baru saja dilepaskan dari kurungannya.

Orang-orang kebingungan melihat Pangeran sendirian. Mereka tahu hari ini adalah hari terakhir Pangeran bersama Pelangi Evangellynn.

Pangeran tersenyum puas tanpa mempedulikan sekitarnya.

Dengan langkahnya yang lebar, Pangeran cepat tiba di istal.

Penjaga kuda kebingungan melihat Pangeran.

"Siapkan kudaku," perintah Pangeran.

Pangeran menghilang dari istal. Ia berjalan cepat ke kamarnya untuk berganti baju. Dalam waktu singkat, Pangeran telah muncul di depan Istana dengan pakaian berkudanya.

Kuda untuk Pangeran telah siap menanti di depan pintu. Tanpa menanti siapapun, Pangeran melajukan kudanya dengan kencang.

Seluruh pengawal Pangeran telah mengetahui sang gadis ketujuh tidak datang. Dengan demikian Pangeran memajukan semua rencana bersenang-senangnya tanpa seorang pengawal pun.

Ratu telah memberikan bendera putih atas keinginan Pangeran sebelum Pangeran bertemu dengan Xiumin. Tidak perlu menanti ijin dari orang tua Pangeran untuk melepas kepergian Pangeran seorang diri.

Hati Pangeran sungguh gembira. Akhirnya seminggu yang membosankan ini telah terlewatkan.

Udara siang terasa sejuk bagi Pangeran. Sinar matahari yang terik terasa hangat baginya.

"Inilah kebebasan!" seru Pangeran pada alam.

Tak akan pernah ia menghargai kebebasan lebih besar daripada hari ini.

Seluruh rantai yang selama seminggu ini terasa membelenggu seluruh tubuhnya, lepas. Beban berat di hatinya hilang. Kejemuan di kepalanya hangus dalam kegembiraannya.

Pangeran memacu kudanya dengan cepat.

Tidak dipedulikannya orang-orang yang kebingungan melihat ia mengendalikan kudanya seperti kesetanan. Tidak didengarnya keluhan orang-orang yang terkena debu yang mengepul akibat lari kudanya.

Pangeran hanya peduli pada perasaannya yang sedang bergembira ini.

Jalan yang dilewati Pangeran terus membawanya ke sebuah desa kecil di pinggir kota.

Pangeran melihat kerumunan rumah-rumah kumuh itu tetapi tidak mempedulikannya. Ia terus melaju dengan kencang.

Hari ini ia ingin merasakan kenikmatan berkuda. Berkuda seorang diri tanpa pengawal, tanpa teman, tanpa penganggu, dan tanpa wanita-wanita yang membosankan.

Ketika tiba di dalam desa, Pangeran ingin mempercepat laju kudanya tetapi ia tidak dapat melakukannya. Jalanan sangat berbahaya. Banyak batu-batu besar di tanah yang tak rata itu.

Tanah coklatnya memerah dan kering. Rumput-rumput bersinar dengan malas. Ladang-ladang penduduk kering hingga tanahnya berkerak.

Pangeran keheranan. Saat ini bukan musim kemarau yang panjang. Ini adalah musim gugur yang penuh hujan.

Pandangan Pangeran menyapu sekelilingnya. Desa ini seperti desa mati. Tidak tampak seorang pendudukpun yang bekeliaran. Tidak ada anak-anak yang selalu bermain di siang hari. Suasananya sungguh sunyi sepi.

Pangeran melajukan kudanya dengan perlahan-lahan.

Di depan rumah-rumah, Pangeran melihat orang-orang duduk di tanah dengan lesu. Mereka tampak kurus dan tak terawat. Pakaian mereka lusuh dan kusut. Wajah mereka sayu dan pucat. Tubuh mereka kurus kering.

Pangeran turun dari kudanya dan menghampiri seorang pria yang duduk bersandar di depan gubuk kecil.

"Apa yang terjadi pada tempat ini?" tanya Pangeran.

"Musim kemarau yang panjang melanda tempat ini. Sungai-sungai mengering sejak bulan lalu dan hujan tidak mau turun walau hanya setetes."

"Bukankah sekarang sudah musim gugur?" Pangeran keheranan.

Pria tua itu tersenyum mengejek. "Apa yang kauketahui tentang musim, Anak Muda? Engkau jangan terlalu berpegang pada kepercayaanmu, Tuhanlah yang berkuasa di alam ini. Bila ia mengatakan tempat ini harus mengalami musim kemarau, itulah yang akan terjadi."

"Jangan karena suatu hal, engkau menyamakan semuanya," pria tua itu memberi nasehat.

Pangeran mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Lihatlah tempat ini. Di kejauhan tampak hutan lebat, tetapi tempat ini kering seperti padang pasir. Tidak sebatang tumbuhan pun yang mau tumbuh di sini. Makanan terus berkurang. Wabah penyakit akhirnya menyerang."

"Kami sungguh beruntung masih ada yang mau memperhatikan kami."

Pangeran melihat rumah-rumah yang lain.

Tiba-tiba Pangeran melihat rambut hitam tergerai dari balik sebuah rumah. Ujung gaun putihnya menyentuh tanah yang kering tetapi sepertinya ia tidak mempedulikannya. Ia terus menghilang di belakang rumah itu. Pangeran keheranan. Ia ingin mengetahui siapa gadis itu.

"Ia adalah penolong kami," pria tua itu seperti mengetahui apa yang dipikirkan Pangeran. "Tanpa dia, kami takkan bertahan hingga saat ini."

"Aku sungguh prihatin pada keadaan kalian. Aku akan berusaha membantu semampuku," janji Pangeran sebelum meninggalkan pria itu.

Pangeran cepat-cepat menuju rumah tempat gadis berambut hitam itu menghilang.

Tak tampak seorang gadispun di tempat itu. Pangeran mencarinya di sekeliling tempat itu tetapi ia tidak melihat gadis bergaun putih itu.

Pangeran keheranan melihat sekeliling. Gadis itu menghilang secepat Pangeran melihatnya. Mungkin gadis itu telah pergi dengan kereta kudanya.

Pangeran segera menuju tempat ia menambatkan kudanya dan bergegas mengejar gadis itu.

Sepanjang jalan yang disusuri Pangeran, tak tampak sebuah kereta kudapun. Pangeran terus memacu kudanya dengan kencang tetapi ia tidak melihat gadis bergaun putih di jalan.

Pangeran keheranan. "Apakah ia seorang malaikat?"


TBC


Chanyeol menderita bgt ya idupnya wkwk~~~

Baekhyun mana baekhyun?

Harap bersabarrrrr yaaa muehehe

Thankyou yg udh repiew, loveee youu❤❤

See^^