GADIS HARI KETUJUH
REMAKE NOVEL CHANBAEK VERSION
amandaerate
Novel By Sherls Astrella
.
FF ini adalah hasil Remake dari novel dengan judul yang sama karya Sherls Astrella. Terdapat beberapa perubahan nama atau yang lainnya sesuai dengan kebutuhan cerita.
.
Warning: Genderswitch
.
Chapter 4
Pangeran tidak dapat menjawab pertanyaannya itu. Ia memacu kudanya kembali ke Istana. Ia telah berjanji pada pria itu untuk membantunya dan ia akan menepatinya.
Karena masalah ini, rencana Pangeran untuk bersenang-senang terpaksa ditunda. Daripada bersenang-senang, masalah rakyat lebih penting baginya. Ia masih bisa bersenang-senang di kemudian hari tetapi nyawa penduduk desa itu belum tentu bertahan sampai esok.
Mereka kelaparan, kedinginan, dan juga kesakitan. Mereka yang lebih membutuhkan perhatian pada saat ini daripada kejemuannya yang perlu diobati dengan bersenang-senang.
Secepat kepergiannya, secepat itu pula Pangeran memacu kudanya kembali ke Istana Welyn.
Setengah berlari, Pangeran menuju Ruang Tahta.
"Apa yang membuatmu kembali secepat ini?" tanya Ratu keheranan.
"Ada masalah penting yang ingin kukatakan."
"Engkau menemukan seorang gadis?" tanya Ratu tertarik.
"Tidak. Aku menemukan penduduk yang memerlukan perhatian besar," sahut Pangeran kesal.
"Katakan apa yang terjadi pada mereka," ujar Raja.
"Mereka mengalami musim kemarau yang panjang. Makanan mereka habis dan sekarang mereka terserang wabah penyakit. Kalau mereka tidak segera ditangani, banyak korban yang akan mati. Aku khawatir wabah itu akan menyebar ke daerah lain."
"Ada kejadian sebesar itu dan tidak seorangpun yang melaporkannya padaku?" Raja geram.
"Tempat itu sangat jauh dari kota dan cukup tersembunyi di balik hutan."
"Baiklah, kita akan melakukan banyak hal untuk mereka. Pertama, aku akan mengirim makanan ke tempat itu dan dokter. Tugas ini kuserahkan padamu. Engkau yang mengetahui tempat itu dan mengetahui apa tepatnya yang terjadi di sana."
"Baik!"
"Lihatlah sekelilingmu kalau ada gadis cantik yang menarik hatimu!" pesan Ratu.
"Aku tidak akan melakukannya," sahut Pangeran, "Tidak akan! Gadis-gadis adalah makhluk yang paling membosankan."
"Chanyeol" pekik Ratu, "Ingatlah engkau adalah Putra Mahkota dan sudah waktunya engkau menikah. Apa jadinya kerajaan ini bila engkau tidak mempunyai keturunan?"
"Aku pergi menangani Desa Pienlang," Pangeran mengacuhkan Ratu.
"Anak ini selalu begini tiap kali diajak bicara tentang pernikahannya," keluh Ratu.
"Aku pusing memikirkannya. Ketujuh gadis tercantik di Evangellynn pun dianggapnya jelek. Ia benar-benar tidak mempunyai selera pada wanita."
Sesering apa pun Ratu mendesak putranya untuk menikah, Pangeran tetap tidak peduli. Semua kata-kata Ratu bagaikan angin lalu baginya. Seumur hidup Pangeran tidak tertarik untuk menikah.
Walau Pangeran mendengar keluhan-keluhan orang tuanya, pendiriannya tidak berubah. Pangeran menyukai masa sendirinya tanpa seorang gadispun.
Seminggu yang penuh kejemuan telah berlalu. Tanpa beban, Pangeran melangkah di dalam Istana. Di dalam hati dan pikirannya kini yang ada hanya keinginan untuk membantu rakyat desa itu yang menderita.
Pangeran bergegas meraih kudanya – meninggalkan Istana.
Orang pertama yang ditemui Pangeran adalah Menteri Kesehatan.
"Selamat siang, Pangeran," sambut Menteri itu terkejut akan kehadiran Pangeran yang mendadak di kantornya. "Adakah yang dapat saya lakukan untuk Anda?"
"Engkau bisa mempersiapkan dokter sebanyak-banyaknya dalam waktu dekat?"
"Untuk apa, Pangeran?"
"Ada penduduk desa yang terkena wabah penyakit dan membutuhkan bantuan saat ini juga. Mereka tidak dapat menanti lebih lama lagi. Sekurang-kurangnya aku membutuhkan sepuluh dokter untuk memeriksa mereka. Aku ingin dokter spesialis dan dokter umum ikut denganku besok pagi."
"Saya akan segera menjalankan perintah Anda, Yang Mulia."
"Engkau bisa mengumpulkan mereka besok pagi?" tanya Pangeran,"Beserta obat-obatan dalam jumlah banyak."
"Saya akan menyiapkan tim medis yang terbaik untuk mereka, Pangeran."
"Aku menanti mereka di Hall," kata Pangeran puas, "Bila diperlukan, kalian juga dapat membawa barang-barang bersih. Tempat yang akan kita datangi adalah suatu daerah kumuh yang cukup terpencil."
"Saya mengerti, Pangeran."
Pangeran tersenyum senang.
Selanjutnya, ia akan menemui Menteri Kesejahteraan Rakyat. Pria itu akan mendapat tugas berat darinya yang harus dilakukan dalam waktu singkat.
Seperti Donghae, Jisoo terkejut melihat kedatangan Pangeran yang tak terduga.
"Aku mempunyai tugas besar untukmu, Jisoo."
"Hamba siap melaksanakan perintah Anda, Yang Mulia."
"Sebelum malam, aku ingin engkau mengumpulkan makanan sebanyak mungkin untuk kita berikan pada penduduk desa yang kelaparan dan terserang wabah penyakit. Sejak musim kemarau lalu, penduduk desa Pienlang telah mengalami kekeringan. Hingga kini hujan belum turun di tempat mereka.
Mereka telah kehabisan makanan dan mereka membutuhkan banyak bahan makanan."
"Saya akan segera mengumpulkan makanan yang sehat untuk mereka."
"Aku juga ingin engkau mempersiapkan barang-barang bersih untuk merawat mereka seperti selimut, tempat tidur dan segala yang mungkin dibutuhkan Donghae. Engkau bisa bertanya padanya apa saja yang diperlukannya."
"Saya akan segera bertanya padanya," kata Jisoo, "Berapa banyak yang kita butuhkan, Pangeran?"
"Kita membutuhkannya dalam jumlah besar. Jangan lupa, mereka adalah orang-orang sakit yang kelaparan."
Pangeran diam berpikir.
"Kalau kita tidak mempunyai cukup persediaan makanan untuk mereka atau barang-barang, kita bisa meminta bantuan Kris. Aku akan menemuinya sekarang juga."
Pangeran beranjak ke pintu. Sebelum menghilang ke balik pintu, Pangeran berkata,
"Besok pagi-pagi, aku ingin semuanya telah siap di Hall."
"Saya akan melakukan yang terbaik, Pangeran."
Pangeran tersenyum lalu menghilang dari balik pintu dan menuju pintu ruang kerja Menteri Sosial.
"Kris!" panggil Pangeran sambil membuka pintu. Menteri tua itu meloncat dari balik meja kerjanya. "P… Pangeran, Anda membuat saya terkejut."
Pangeran hanya tersenyum. Ia berjalan cepat ke meja kerja Kris dan menatap lekat-lekat mata pria tua itu.
"Aku mempunyai tugas untukmu," Pangeran mendekatkan tubuhnya ke Kris. Kedua tangannya menempel di meja kerja Kris – menyangga tubuhnya.
Kris mundur kebingungan dan ketakutan.
"Engkau bisa membuat pengumuman secepat mungkin dan mengumpulkan bantuan secepat mungkin?"
"Saya akan berusaha, Pangeran."
"Aku tidak ingin mendengar kata 'akan'," Pangeran berkata tegas, "Aku ingin kepastian."
"Saya tidak dapat memastikannya, Pangeran. Semuanya tergantung pada kesukarelaan rakyat."
"Baiklah," Pangeran mengalah.
Pangeran duduk di depan Kris.
"Aku ingin engkau membuat pengumuman. Bunyinya kira-kira seperti ini:
Sebuah desa terlanda kelaparan dan wabah penyakit.
Tanah-tanah kering dan retak. Tumbuhan tidak satupun hidup di sana. Di saat kita bergelimangan air, mereka hidup tanpa air.
Keadaan ini telah berlangsung sejak musim kemarau lalu. Musim kemarau berkepanjangan menimbulkan bencana kelaparan di sana yang akhirnya menyebabkan wabah penyakit.
Saat ini pemerintah sedang berusaha menanganinya.
Untuk memperlancar pemberian bantuan, pemerintah sangat mengharapkan bantuan saudara-saudara sekalian.
Mereka dan Anda adalah rakyat Evangellynn. Sudah sepantasnya Anda membantu mereka. Segala macam bantuan dibutuhkan penduduk desa itu. Bila hati Anda terketuk untuk membantu mereka, kirimkanlah bantuan Anda ke Hall Istana Welyn. Kami atas nama penduduk desa Pienlang mengucapkan
terima kasih atas kebaikan hati Anda.
Bagaimana menurutmu, Kris?"
"Pengumuman ini pasti berhasil mengetuk hati semua orang," puji Kris, "Anda menggambarkan keadaan mereka dengan sangat jelas."
"Segera buat dan sebarkan. Aku ingin bantuan itu segera terkumpul sehingga besok pagi bisa kubawa ke sana. Sekarang aku harus mempersiapkan kereta untuk dibawa besok."
"Saya akan segera membuat pengumuman itu, Pangeran."
Pangeran menyukai kesibukan barunya ini. Kesibukan ini jauh lebih menyenangkan daripada menemani ketujuh Pelangi Evangellynn.
Sepintas, kesibukan ini lebih melelahkan daripada menenami Pelangi Evangellynn. Tetapi menemani gadis-gadis keluarga Kim Horthrouth yang menyebalkan itu jauh lebih melelahkan.
Pangeran menanti hingga Kris selesai menulis pengumuman.
"Silakan, Pangeran," Kris menyerahkan pena pada Pangeran.
Pangeran segera menandatangi pengumuman itu.
"Segera pasang pengumuman ini di kota dan bacakan di segala sudut Evangellynn."
"Baik, Pangeran."
Pangeran meninggalkan gedung tempat kerja Menteri Sosial dalam kesibukan yang luar biasa.
Kris segera memanggil prajurit untuk membawa pengumuman itu ke kota-kota dan memasang satu di pusat kota Schildi.
Di gedung lain, Menteri Kesejahteraan Rakyat sibuk memerintahkan bawahannya untuk mendata segala keperluan yang diperlukan penduduk Pienlang juga keperluan tambahan yang dibutuhkan tim medis.
Jisoo mengumpulkan semua barang yang bisa disiapkan dalam waktu dekat dan segera memerintahkan bawahannya mengirimnya ke Istana.
Dokter-dokter terbaik Evangellynn dipanggil. Berbagai macam obato-batan dikumpulkan dan dikirim ke Hall.
Tiga jam setelah Pangeran menurunkan perintahnya, Hall Istana mulai ramai. Banyak orang berlalu-lalang membawa makanan maupun obat-obatan.
Di tengah Hall yang luas, tertumpuk perlahan-lahan berbagai macam barang. Pangeran memandangi kesibukan itu dengan gembira.
Ketika barang-barang itu sudah cukup banyak, pelayan-pelayan Istana mengangkatnya ke dalam kereta barang yang disiapkan Pangeran.
Lalu lalang orang-orang terus bertambah. Semakin banyak orang yang datang membawa bantuan.
Pengumuman yang dibuat Pangeran telah membawa hasil. Mereka yang mendengarnya segera mengumpulkan segala yang mereka miliki yang dapat disumbangkan pada penduduk Pienlang.
Kesibukan di Hall memancing keingintahuan orang-orang di Istana.
"Apa yang terjadi?" pertanyaan itu bergaung di mana-mana.
Ratu yang kebetulan mendengarnya dengan tersenyum berkata, "Chanyeol ingin menolong penduduk Pienlang yang kelaparan. Ia mengumpulkan semua bantuan yang bisa dikumpulkan dari rakyat Evangellynn dan akan membawanya ke Pienlang besok pagi."
"Pienlang?"
"Tempat itu cukup tersembunyi di balik lebatnya hutan, itu kata Chanyeol," kata Ratu, "Melihat kesibukan ini, aku percaya penduduk desa itu akan tertolong."
"Saya juga ingin membantu."
"Tentu. Siapa saja bisa menyalurkan bantuan."
Wanita-wanita yang berbincang-bincang dengan Ratu segera membungkuk dalam-dalam lalu bergegas pergi.
Pembicaraan Ratu dengan cepat tersebar di seluruh Istana.
"Kau dengar itu?" tanya seorang gadis.
"Pangeran hendak membantu penduduk Pienlang. Kalau kita juga ikut membantu, mungkin Pangeran akan tertarik pada kita."
"Ya, engkau benar. Kurasa aku harus segera mengumpulkan segala yang bisa kusumbangkan."
"Akupun tak mau ketinggalan olehmu. Kita akan bersaing merebut hati Pangeran."
Gadis-gadis itu menghilang dari Istana.
Pangeran puas melihat bantuan terus bergulir. Ia yakin besok pagi ia akan membawa kejutan besar bagi penduduk Pienlang. Kejutan yang tak pernah dibayangkan oleh penduduk desa itu.
Pangeran mengawasi kesibukan itu dari ujung tangga.
Banyak orang datang membawa bantuan. Pelayan-pelayan Istana dengan sigap mengepak barang-barang itu kemudian mengangkatnya ke kereta yang telah dipersiapkan di belakang Istana.
Tiba-tiba Pangeran melihat lambaian rambut hitam. Pangeran teringat pada gadis yang dilihatnya sekilas di Pienlang.
Pangeran terus mengawasi gadis itu.
"Tidak," katanya pada dirinya sendiri, "Ia bukan gadis itu. Rambut gadis itu panjang dan mengkilap, tidak sependek itu."
Pangeran yakin gadis yang dilihatnya bukan gadis yang ditemuinya di Pienlang.
Gadis yang dilihatnya saat ini mengenakan gaun sutra kuning yang mencolok. Walau tak melihat keseluruhan, Pangeran melihat ujung gaun gadis di Pienlang berwarna putih yang lembut.
Pria tua itu mengatakan gadis itu telah membantu mereka. Artinya, besok mereka mungkin masih bisa bertemu lagi.
Gadis itu…
Pangeran tidak mengenal gadis itu juga tidak mengetahuinya. Pangeran juga tidak melihatnya. Ia hanya melihat lambaian ujung rambutnya yang hitam mengkilat dan gaunnya yang putih. Tetapi gadis itu menimbulkan perasaan ingin tahu Pangeran.
Pangeran ingin tahu mengapa gadis itu mau berada di tempat sekumuh itu dan penuh dengan wabah penyakit.
"Bantuan sangat banyak, Pangeran."
Pangeran terkejut. Lamunannya buyar.
"Ya," sahutnya cepat-cepat, "Besok pagi kita akan membawa kejutan bagi penduduk Pienlang. Mereka akan senang sekali dengan apa yang kita bawa untuk mereka."
"Tak saya sangka bantuan akan datang sebanyak ini dalam waktu singkat."
"Aku khawatir kereta yang kita sediakan tidak cukup. Carilah kereta barang lain, Jongdae. Kalau tidak memungkinkan untuk menambahnya, kita terpaksa membawanya dua atau mungkin tiga kali."
"Baik, Pangeran."
Pangeran kembali mengawasi kesibukan di Hall.
"Aku bangga padamu, Nak." Seseorang menepuk pundak Pangeran.
"Dalam waktu singkat engkau telah berhasil mengumpulkan bantuan sebanyak ini. Istrimu pasti bangga padamu."
"Gadis-gadis sombong itu?" ejek Pangeran, "Jangan berharap seorangpun dari mereka menjadi istriku. Aku tidak sudi."
"Kulihat banyak gadis yang ikut menyumbang."
"Jangan membuatku geli, Papa. Mereka menyumbang untuk menarik perhatianku."
Ratu yang baru datang sedih mendengar cara bicara Pangeran yang penuh perasaan jijik.
"Engkau terlalu sinis memandang wanita, Chanyeol. Aku beruntung engkau tidak memandangku serendah pandanganmu pada yang lain."
"Mama lain dari wanita yang lain. Tak ada lagi wanita seperti Mama di dunia ini."
"Gadis seperti apakah yang kauinginkan?" tanya Raja ingin tahu.
"Tidak seorang gadis pun yang kuinginkan!"
Pangeran bosan diajak berbicara tentang makhluk yang paling menjijikannya di dunia ini. Seorang gadis adalah makhluk yang memuakkannya.
Mereka adalah satu-satunya mahkluk yang tidak ingin didekati Pangeran.
"Tak seorang gadispun akan kudekati. Aku tidak akan tertarik pada mereka. Tidak satu pun!" janji Pangeran tegas.
Pangeran memimpin rombongan pembawa bantuan.
Rombongan besar itu berjalan perlahan-lahan meninggalkan Welyn hingga ke Pienlang. Sebuah kereta barang, penuh oleh dokter yang berbaju putih dan suster-suster yang selalu siap membantunya. Kereta-kereta yang lain penuh berisi barang bantuan. Semuanya berjumlah enam kereta.
Pangeran berkuda di depan. Di kanan-kirinya, berjajar pengawal-pengawalnya.
Ketika desa Pienlang mulai terlihat, Pangeran berkata, "Itu tempatnya."
Dua ratus meter di luar Pienlang, tanah masih hijau tetapi makin lama tanah makin gersang. Dan, ketika mereka tiba tanah yang tampak adalah tanah kering yang pecah-pecah.
Penduduk desa mendengar langkah-langkah kuda yang banyak. Satu per satu memperlihatkan diri dari dalam sebuah rumah besar. Sebagian dari mereka yang duduk di depan rumah, melongok dengan penuh keingintahuan.
"Inilah desa Pienlang yang membutuhkan bantuan kita," Pangeran memperkenalkan.
Rombongan Pangeran tercengang melihat keadaan penduduk Pienlang.
Di luar Pienlang, rakyat hidup makmur tetapi di tempat ini rakyat sangat pucat. Tubuh kurus mereka seperti tulang terbalut kulit. Wajah mereka lusuh seperti pakaiannya yang kotor.
Anak-anak duduk di depan rumah. Tidak ada keceriaan di wajah mereka. Yang tampak hanya perasaan kelaparan.
Udara sangat tidak nyaman. Penuh debu dan panas. Angin yang bertiup membuat kerongkongan kering.
Pangeran membawa rombongannya memasuki Pienlang.
Dengan penuh keheranan, Pangeran melihat seluruh penduduk desa yang berkumpul di rumah yang paling besar di tempat itu.
Tiba-tiba Pangeran menghentikan langkah kudanya. Mata Pangeran tertumbuk pada lambaian rambut hitam yang mengkilat. Punggung hingga ujung kaki gadis itu terbalut gaun putih yang lembut.
Pangeran ingin mengetahui siapa gadis itu. Sayang, hari ini ia juga tidak dapat melihat wajah gadis itu. Ia hanya dapat melihat punggungnya ketika berjalan ke belakang rumah besar itu.
Pangeran ingin turun dari kudanya dan segera menemui gadis aneh itu tetapi rombongan di belakangnya menanti perintahnya. Pangeran yakin gadis itu masih akan tinggal di tempat ini hingga siang nanti.
"Kita berhenti di sini," perintah Pangeran.
Pangeran turun dari kudanya kemudian memanggil Jongdae. "Siapkan makanan untuk penduduk. Aku yakin mereka belum sarapan."
"Baik, Pangeran."
"Turunkan makanan!" perintah Pangeran.
Prajurit-prajurit segera menurunkan makanan dan mengangkatnya ke rumah besar tempat penduduk berkumpul.
Penduduk kebingungan melihat prajurit-prajurit datang mengangkat kotak yang sangat besar.
Pangeran mendekati penduduk. "Kami datang membawakan bantuan untuk kalian. Ada dokter, pakaian, obat-obatan, juga makanan. Saya yakin kami belum makan pagi."
Penduduk desa saling bertatap-tatapan lalu tertawa geli.
Pangeran kebingungan.
"Anda terlambat, Tuan," kata pria tua yang kemarin diajak bicara
Pangeran, "Kami baru saja menyelesaikan sarapan kami."
Pangeran menatap pria itu.
"Tuan Puteri membawakan kami banyak sekali makanan. Ia baru saja kembali tetapi ia berjanji akan datang lagi untuk mengantarkan obat-obatan yang habis."
"Sekarang kami berkumpul di sini menanti giliran untuk diperiksa dokter yang dibawa Tuan Puteri," sahut yang lain.
"Tuan Puteri?" tanya Pangeran keheranan.
"Ia adalah gadis yang kemarin Anda lihat, Pangeran."
Pangeran merasa terlambat selangkah.
"Tidak apa-apa," kata Pangeran, "Semakin banyak dokter yang ada, semakin cepat kalian mendapatkan perawatan. Makanan yang kubawa bisa kalian simpan untuk persediaan kalian."
Pangeran memerintahkan para dokter untuk turun. Para dokter dan suster itu segera masuk untuk membantu dokter yang saat ini bertugas di dalam.
Prajurit-prajurit diperintahkannya untuk menurunkan semua barang.
Pelayan-pelayan Istana yang dibawanya diperintahkan Pangeran untuk membagi bantuan pada seluruh penduduk.
Penduduk saling memandang kebingungan. Mereka berbisik satu sama lain.
"Silakan Anda berbaris di sini untuk mendapatkan bantuan."
Satu persatu penduduk mulai bangkit dan segera berbaris rapi di depan pelayan-pelayan Istana yang dengan sigap memberikan bantuan.
Beberapa prajurit masuk ke dalam rumah besar itu dengan peti-peti yang penuh berisi obat-obatan dan peralatan kedokteran.
Lalu lalang prajurit yang mengangkat peti obat-obatan dan penduduk yang berebut berbaris untuk menerima bantuan membuat pintu masuk ke dalam rumah besar itu penuh sesak. Dokter-dokter juga para suster kewalahan menembus kerumunan penduduk.
Pelayan Istana terus mengulurkan barang kepada penduduk di depannya. Prajurit terus menurunkan peti-peti di sekitar para pelayan.
Ketika semua barang telah diturunkan, para prajurit segera membantu membagikan barang.
Kemacetan di pintu masuk rumah besar itu akhirnya berkurang.
Pangeran melihat keadaan di luar mulai lancar. Ia menuju rumah besar itu. Pangeran mendahului para dokter yang berjubah putih memasuki rumah besar itu.
Semua tertegun melihat keadaan di dalam ruangan itu yang jauh berbeda dengan keadaan di luar.
Dinding ruangan itu kusam. Lantai kayunya berderit tiap kali mereka melangkah. Tetapi ruangan itu bersih. Tak ada satu debupun yang berani mendekati tempat itu walau semua jendela dibuka lebar-lebar.
Di lantai berbaring rapi penduduk yang masih lemah. Tubuh mereka tertutup oleh selimut putih bersih. Tiga suster dengan penuh perhatian merawat mereka.
"Tempat ini seperti rumah sakit sederhana," kata seorang dokter.
"Siapapun yang membuatnya, ia sangat ahli dalam hal ini."
Mereka melihat sejumlah penduduk berbaris antri di depan sebuah ruangan.
Pangeran segera menuju ruangan itu. Ia ingin tahu siapa yang berada di dalam sana.
Penduduk menepi melihat sejumlah besar orang berbaju putih mendekat. Mereka membiarkan orang-orang itu memasuki ruangan.
Seorang dokter membungkuk pada pasiennya. Ia memeriksanya dengan teliti.
"Junmyeon!?" pekik orang-orang itu kaget.
Dokter yang umurnya sekitar 35 keatas itu mendongakkan kepalanya dengan marah.
"Apa yang kalian lakukan di sini? Aku takkan mengijinkan seorangpun berteriak di dalam rumah sakit ini."
Para dokter itu saling berpandangan dengan heran.
Pangeran mendekati Junmyeon. Ia mengawasi Junmyeon memeriksa anak kecil.
"Engkau sudah lebih baik, bocah. Katakan pada orang tuamu untuk tidak khawatir lagi pada keadaanmu. Bawa kertas ini dan berikan pada suster di depan. Ia akan memberimu obat yang kauperlukan."
"Baik, Dokter."
Anak itu segera mengenakan kembali bajunya dan berlari keluar.
"Rupanya engkau sudah berada di sini," kata Pangeran, "Pantas saja Donghae tak berhasil menemukanmu ketika aku membutuhkanmu dalam tim medisku."
"Sudah sejak dua minggu lalu saya berada di sini, Pangeran," aku Junmyeon, "Tuan Puteri memanggil saya ke sini untuk merawat penduduk."
"Tuan Puteri?" Pangeran semakin ingin tahu. Gadis yang dipanggil Tuan Puteri oleh penduduk Pienlang ini tampaknya bukan orang biasa. Ia bisa memanggil dokter terbaik di Evangellynn untuk memeriksa penduduk Pienlang.
Junmyeon adalah dokter terbaik di Evangellynn. Semua orang kaya selalu mencarinya bila ada keluarga mereka yang sakit. Semua orang mencarinya bila ada penyakit yang sulit disembuhkan. Banyak yang mengatakan tak ada penyakit yang tak dapat disembuhkannya.
Nama Dokter Junmyeon sangat terkenal di Kerajaan Evangellynn. Tak seorangpun yang tidak mengetahui nama dokter pribadi keluarga kerajaan ini.
Ia setenar Raja dan Ratu.
"Ia adalah gadis yang pertama kali menemukan desa ini dalam keadaan yang memprihatinkan. Keadaan Pienlang sekarang ini sudah jauh lebih baik daripada minggu lalu ketika saya baru datang. Tuan Puteri banyak melakukan perubahan di tempat ini. Ia yang mengusulkan untuk mendirikan rumah sakit sederhana ini."
Junmyeon memandang dokter-dokter lain di pintu lalu memandang Pangeran dengan heran.
"Aku bermaksud membawa banyak dokter untuk menangani wabah penyakit di tempat ini."
"Anda terlambat selangkah, Pangeran. Semua masalah di sini telah ditangani oleh Tuan Puteri. Saat ini saya mendengar Tuan Puteri sedang merencanakan sesuatu untuk mengembalikan kesejahteraan penduduk Pienlang."
"Rencana apa?"
"Saya tidak tahu menahu, Pangeran. Tuan Puteri tidak pernah membicarakannya dengan saya. Setiap kali bertemu dengan saya, pertanyaan yang diajukannya adalah, 'Engkau membutuhkan apa?' Ia tidak pernah bertanya yang lain."
"Sepertinya kedatanganku ini percuma."
"Tidak, Pangeran. Kedatangan Anda akan mempercepat pemulihan keadaan penduduk Pienlang. Semakin banyak bantuan yang datang, semakin baik."
Pangeran duduk di tempat tidur pasien. "Sepertinya gadis itu telah melakukan banyak hal yang baru kurencanakan."
"Anda tidak perlu sesedih itu, Pangeran. Anda hanya terlambat selangkah darinya," hibur Dokter Junmyeon. "Anda masih dapat memberikan bantuan. Penduduk Pienlang membutuhkan banyak bantuan untuk dapat pulih kembali."
Pangeran melompat dari tempat tidur. "Engkau benar, Junmyeon. Aku datang untuk membawa bantuan bukan untuk bersaing dengan gadis itu.
Siapapun dia, aku harus berterima kasih atas bantuannya pada rakyatku."
Dokter Junmyeon tersenyum.
"Junmyeon, pimpinlah tim dokter yang kubawa. Aku membawa dokter umum juga dokter spesialis. Aku yakin mereka akan sangat membantumu."
"Saya merasa terlalu tua untuk melakukannya, Pangeran."
"Engkau banyak mengetahui tentang keadaan penduduk tempat ini. Aku yakin engkau mampu melakukannya."
"Saya akan berusaha melakukan yang terbaik bagi penduduk, Pangeran."
Dokter-dokter lain memasuki ruangan itu dan mulai mendengarkan instruksi Junmyeon.
"Penduduk Pienlang telah lama tidak makan. Tubuh mereka kekurangan vitamin. Usus mereka saling mencerna akibat tidak mendapat makanan.
Akibatnya perut mereka membengkak. Beberapa sudah membaik tetapi banyak yang masih belum pulih."
Kenyataan itu sangat mengerikan semua yang mendengarnya.
"Untung Tuan Puteri segera membawaku ke sini sebelum semua orang terkena penyakit ini. Beberapa hampir terkena tetapi aku telah memberikan obat untuk mencegahnya. Tuan Puteri juga telah mengantarkan banyak makanan tiap hari untuk mengatasi kelaparan ini sehingga penduduk mendapatkan kembali kekuatan mereka yang hilang."
"Kalian bisa mulai memeriksa mereka di luar sana," Junmyeon memberikan perintah pertamanya.
Ketika para dokter itu mempersiapkan peralatan mereka dan para suster membantu suster yang telah ada, Pangeran menemui penduduk Pienlang yang terkapar di dalam rumah sakit.
Semua berwajah kurus kering. Wajah mereka pucat pasi. Bibir mereka kering. Mereka tampak sangat menderita.
"Keadaan mereka sangat mengenaskan."
"Benar, Jongin."
"Untung mereka segera ditemukan. Entah apa jadinya bila tidak ada yang menemukan tempat ini."
"Aku tidak dapat membayangkannya," desah Pangeran, "Satu desa Evangellynn akan hilang ditelan tanah. Itu yang mungkin terjadi."
Pangeran mendekati pasien.
"Jangan, Pangeran," Jongin cepat-cepat menghadang. "Saya khawatir Anda tertular."
"Lihatlah suster-suster itu. Mereka telah dua minggu berada di sini tetapi mereka tidak tertular. Lihat pula Junmyeon. Ia sendiri yang menangani pasien-pasien ini tetapi ia tidak tertular."
"Tolong, pahamilah keadaan saya, Pangeran. Saya adalah Kepala Pengawal Anda, apa yang harus saya katakan bila Anda jatuh sakit setelah ke tempat ini?"
"Engkau tidak perlu khawatir."
Pangeran menemui penduduk yang terkapar di lantai.
"Bagaimana keadaan Anda, Tuan?"
"S… aya merasa jauh lebih baik."
"Saya turut senang mendengarnya. Semoga Anda cepat sembuh."
"Pasti. Saya harus bisa cepat sembuh agar Tuan Puteri tidak bersedih hati. Tuan Puteri telah melakukan banyak hal agar saya bisa sembuh, saya tidak akan mengecewakannya. Kami tidak akan mengecewakan Tuan Puteri."
Pangeran diam. Keingintahuannya pada orang yang disebut Tuan Puteri itu semakin besar.
Sepanjang hari itu, semua penduduk diperiksa ulang oleh dokter spesialis penyakit dalam yang dibawa Pangeran. Dokter Junmyeon meneruskan pemeriksaannya pada penduduk yang telah berdiri antri di depan ruang periksanya.
Pangeran sibuk berbicang-bincang dengan mereka yang sakit. Pangeran selalu memberi mereka dorongan semangat untuk melawan penyakitnya. Kata-kata yang menghibur tak terlewatkan oleh Pangeran.
Banyak hal yang didapat Pangeran dari perbincangannya dengan sebagian penduduk itu. Mereka banyak menyebutkan keluh kesah mereka pada kemarau panjang di desa mereka hingga terjadi wabah penyakit yang menyiksa ini.
Orang-orang tua yang masih percaya takhayul, mengatakan bencana ini dikarenakan kemurkaan para dewa dan leluhur mereka. Tetapi mereka yang tidak mempercayainya mengatakan tidak. Ada pula yang mengatakan mata air sungai yang mengalir di dekat desa mereka, kering.
Pangeran menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk bertanya pada mereka. Pangeran telah diberitahu ia tidak dapat bertanya banyak. Mereka masih lemah untuk bergerak apalagi berbicara. Dokter Junmyeon taku mereka akan menghabiskan banyak tenaga yang saat ini justru banyak dibutuhkan mereka.
"Mereka harus banyak istirahat," itulah yang ditekankan Dokter Junmyeon berulang kali.
Pangeran tak mengerti apa-apa tentang kedokteran tetapi ia sependapat dengan Junmyeon. Orang yang sakit membutuhkan banyak istirahat agar bisa segera sembuh.
Usai bertanya pada semua orang di dalam rumah sakit itu, Pangeran menemui Junmyeon.
"Apakah ada yang dapat kulakukan untukmu, Junmyeon?"
"Tidak ada, Pangeran," jawab Junmyeon sambil memeriksa pasiennya.
"Bila demikian, aku dapat pulang. Aku masih akan menemui penduduk di luar sebelum pulang. Engkau bisa memberitahuku bila ada yang kaubutuhkan dari kota. Besok pagi aku akan kembali, aku dapat membawakan obat yang kauperlukan."
"Tuan Puteri telah pergi untuk mengambil obat yang saya perlukan, Pangeran. Tuan Puteri selalu menjaga agar kami tidak kekurangan obat maupun peralatan di dalam rumah sakit ini."
Pangeran termangu-mangu. "Engkau ada pesan untuk keluargamu? Atau mungkin ada sesuatu yang ingin kau titipkan padaku?"
"Saya sungguh mengecewakan Anda, Pangeran," Junmyeon menyesal, "Tuan Puteri telah memberi kabar pada keluarga saya. Saya selalu sibuk dengan para pasien hingga tak sempat menulis surat tetapi Tuan Puteri selalu memberikan kabar pada keluarga saya mengenai keadaan saya. Mereka menulis surat untuk saya yang pada malam hari menjelang tidur baru bisa saya baca. Kemudian saya membalasnya dengan berbicara langsung pada Tuan Puteri. Tuan Puteri langsung menyampaikan balasan saya setibanya ia di Schildi."
"Aku mengerti, Junmyeon. Bila ada yang kauperlukan, jangan ragu untuk meminta bantuanku."
"Tentu, Yang Mulia."
"Selamat siang, Junmyeon."
"Selamat siang, Pangeran. Maaf saya tidak bisa mengantar Anda."
"Jangan kaupikirkan, Junmyeon. Aku mengerti kesibukanmu."
Dengan dikawal pasukan pengawal pribadinya, Pangeran meninggalkan rumah sakit.
Suasana di depan rumah sakit tidak lagi seramai ketika ia datang.
Penduduk telah kembali ke rumah mereka masing-masing. Asap mengepul tinggi dari beberapa cerobong asap rumah penduduk.
Beberapa penduduk duduk di depan rumah sambil menikmati angin kering yang bertiup perlahan. Anak kecil yang kemarin tak terlihat oleh Pangeran terlihat duduk berkumpul bermain dengan mainan kayu yang bagus.
Wajah-wajah lesu dan sedih itu tampak lebih gembira daripada kemarin.
"Semua bantuan telah saya bagikan, Pangeran," lapor Kris. "Mereka sangat senang dengan pemberian kita."
Pangeran mengangguk. Pandangannya terus mengawasi rumah-rumah penduduk di sekelilingnya.
Tiba-tiba matanya menumbuk tubuh mungil seorang gadis yang terbalut gaun putih.
Gadis berambut hitam itu tampak menyolok di kawasan kumuh ini.
Gaunnya yang putih bersih tampak aneh di antara baju penduduk desa yang lusuh. Kulit tubuhnya yang berseri sangat berbeda dengan kulit penduduk yang kemerahan akibat terlalu lama berjemur dalam musim kemarau panjang.
Tapi ia seperti bagian dari tempat ini. Penduduk desa tampak akrab dengannya. Mereka berkumpul dan berbicara seperti sahabat lama. Penduduk desa begitu tekun mendengarkan gadis itu berbicara. Sesekali mereka tersenyum bahagia. Entah apa yang dikatakan gadis itu pada mereka tetapi sepertinya hal itu membuat penduduk bahagia.
Lama Pangeran menatap punggung gadis itu hingga gadis itu perlahanlahan memalingkan kepalanya. Gadis itu tersenyum sekilas padanya lalu menghilang di balik sebuah rumah kayu.
Gadis itu bergerak dengan luwes.
Pangeran cepat-cepat mengejar gadis itu.
Sayang, ketika ia tiba di belakang rumah kayu itu, gadis itu telah menghilang. Ia pergi begitu saja seperti ditelan bumi.
Pangeran memandang sekitarnya dengan kebingungan.
"Tuan Puteri tidak akan datang lagi."
Pangeran terkejut. Ia menatap lekat-lekat orang itu.
"Tuan Puteri mengatakan kami telah kedatangan orang yang tepat. Orang itu akan banyak membantu kami. Lebih banyak dari yang bisa Tuan Puteri lakukan. Tuan Puteri juga mengatakan ia tidak tega meninggalkan kami sebelum kami benar-benar pulih tetapi masih banyak tempat yang membutuhkan perhatiannya. Kami pasti bisa bangkit dengan adanya orang tersebut."
Pangeran diam tak mengerti.
"Tuan Puteri telah berjanji pada kami untuk datang bila ia memiliki waktu luang. Tetapi ia tidak bisa berjanji akan datang sesering mungkin. Ada banyak pekerjaan yang harus dilakukannya di luar sana."
"Pangeran, hari sudah sore. Sudah waktunya kita pulang."
"Pangeran? Anda Pangeran Chanyeol?" seru orang-orang itu terkejut.
"Kami sungguh tak menyangka Anda akan datang sendiri untuk memberikan bantuan."
Penduduk Pienlang segera berkumpul untuk mengetahui apa yang terjadi. Ketika mereka tahu, mereka menangis terharu.
"Tentunya Anda yang dimaksudkan oleh Tuan Puteri. Kemarin malam Tuan Puteri mengatakan tak lama lagi kami akan mendapatkan bantuan besar yang akan semakin mempercepat kepulihan kami. Ternyata orang yang membawa bantuan besar itu adalah Anda, Pangeran."
Pengawal-pengawal Pangeran segera melindungi Pangeran. Mereka mengelilingi dan mencegah penduduk semakin mendekati Pangeran.
"Sebaiknya kita pulang sekarang, Pangeran. Identitas Anda sudah ketahuan. Bila keadaan ini diteruskan, keselamatan Anda bisa terancam."
Pangeran tidak dapat membantah ketika pasukan pengawalnya di bawah pimpinan Jongin mengelilinginya sambil bergerak ke kereta.
Cukup sulit mengendalikan penduduk Pienlang yang sedang terharu akibat Putra Mahkota Kerajaan Evangellynn datang untuk mengulurkan bantuan untuk mereka. Dengan perjuangan yang sulit, pengawal Pangeran berhasil membawa Pangeran ke kudanya.
Mereka masih mengelilingi Pangeran ketika Pangeran telah duduk di atas kudanya. Ketika prajurit yang lain dan pelayan istana telah siap pulang, mereka dengan sigap meloncat ke kuda mereka dan segera mengelilingi Pangeran lagi.
Beberapa prajurit berjalan mendahului untuk menghalau penduduk yang menghalangi jalan.
"Minggir!" seru mereka berulang kali. "Beri jalan pada Pangeran!"
"Pangeran! Pangeran! Datanglah lagi besok. Tuan Puteri pasti akan sangat gembira bertemu dengan Anda," panggil mereka.
"Aku berjanji. Besok aku akan datang," balas Pangeran sekeras-kerasnya. Rombongan Pangeran setengah berlari meninggalkan Pienlang.
"Hari sudah sore. Kita harus cepat bila tidak ingin kemalaman di jalan," kata Jongin cemas.
"Dengan kecepatan seperti ini, kita akan terlambat," kata Pangeran, "Kita percepat laju kuda agar tidak terlambat!"
Mereka menambah kecepatan untuk mengejar waktu yang terus berjalan.
"Pangeran, besok Anda akan datang lagi ke Pienlang?" tanya Jongin tiba-tiba.
"Tentu, aku telah berjanji pada mereka. Tak mungkin aku mengingkarinya."
"Tetapi mereka telah mengetahui identitas Anda."
"Lalu?"
Jongin terdiam.
"Tidak akan ada pemberontak di sana. Tidak ada orang yang ingin mencelakakanku. Aku berani menjaminnya. Gadis itu sudah lama seorang diri di antara penduduk Pienlang tetapi ia masih sehat-sehat saja. Tak mungkin terjadi sesuatu padaku!"
"Seperti keinginan Anda, Pangeran," kata Jongin, "Saya akan menuruti keinginan Anda."
Pangeran diam. Ia memusatkan perhatiannya pada jalanan. Seperti Jongn, Pangeran tidak ingin kemalaman tiba di Istana. Bukan karena ia akan dimarahi orang tuanya bila pulang larut malam, tetapi Pangeran tidak ingin melewati daerah yang sepi ini di malam hari yang gelap.
Musim gugur penuh awan. Cuaca tak menentu. Di saat pagi hari cerah, bukan berarti siang hari akan cerah pula. Sepanjang hari ini cerah, tetapi belum tentu malam ini.
Pangeran tidak ingin kehujanan yang akhirnya membuat mereka terpaksa menginap di hutan. Pangeran telah berjanji pada penduduk Pienlang untuk kembali besok pagi. Pangeran telah mengatur barang-barang yang akan dibawanya esok hari. Banyak orang yang akan kecewa bila besok ia tidak dapat datang pagi hari karena bermalam di hutan.
Setelah bermalam di hutan, Pangeran tidak dapat langsung pergi ke Pienlang. Penduduk Pienlang pasti akan kecewa bila ia datang tanpa membawa bantuan untuk mereka.
Menjelang malam, mereka tiba di Istana.
Seluruh yang duduk di kereta segera meloncat turun. Prajurit-prajurit juga turun dari kudanya.
Pangeran segera menuju kamarnya. Ia merasa sangat letih.
"Air mandi untuk Anda sedang disiapkan, Pangeran. Tak lama lagi akan siap," lapor seorang pelayan, "Setelah mandi Anda mau makan?"
"Kurasa tidak. Aku sangat lelah. Bila ada yang mencariku, katakan aku sedang tidur. Nanti ketika makan malam, aku pasti muncul di Ruang Makan."
"Baik, Pangeran."
Cukup sudah yang dilakukannya untuk hari ini. Esok ia masih mempunyai banyak pekerjaan.
Cukup pula keingintahuannya pada gadis aneh yang dilihatnya. Esok ia mungkin dapat menemui gadis itu.
.
.
Pangeran menghentikan semua pikirannya dan mencoba tidur tetapi ia tidak bisa. Pikirannya terus melayang pada gadis aneh yang dilihatnya di Pienlang.
Entah mengapa gadis itu terlihat aneh baginya. Ia seperti seorang pria yang belum pernah melihat gadis. Gadis itu telah menimbulkan perasaan mengganjal di hatinya dan membuat pikirannya terganggu.
Pangeran mengeluh pada keingintahuannya. Seorang gadis aneh telah menimbulkan perasaan ingin tahunya hingga ia tidak bisa tidur barang sejenak. Besok ia akan datang lebih pagi sehingga ia mempunyai kesempatan untuk berbicara dengan gadis itu ketika ia menyiapkan sarapan bagi penduduk Pienlang.
"Tuan Puteri tidak akan datang lagi."
Pangeran terhenyak kaget.
Besok ia tidak akan dapat menemuinya seperti harapannya. Entah siapa gadis itu, ia tidak akan mengetahuinya.
.
TBC
.
Duh, kapan sih Baekhyunnya muncul? Wkwk.
Gak muncul-muncul~ Ngumpet terosssss haha.
Semoga ini gaada typo yaa;)
Iya ini udah aku lanjutt nih. Aku usahain sehari satu kali. Udah kayak minum obat aja pokoknya.
So, mind to review? Mungkin ada yang mau menebak Baekhyun kapan munculnya?;p
Terimakasih untuk yang sudah nyempetin baca dan review.
See you❤❤^^
