GADIS HARI KETUJUH

REMAKE NOVEL CHANBAEK VERSION

amandaerate

Novel By Sherls Astrella

.

FF ini adalah hasil Remake dari novel dengan judul yang sama karya Sherls Astrella. Terdapat beberapa perubahan nama atau yang lainnya sesuai dengan kebutuhan cerita.

.

Warning: Genderswitch

.


Chapter 5


Lonceng makan malam berbunyi keras.

Dengan lesu, Pangeran turun dari tempat tidur. Pangeran merapikan diri sebelum menuju Ruang Makan.

Ketika Pangeran tiba di sana, kedua orang tuanya juga baru tiba.

Tanpa banyak berbicara, Pangeran memasuki Ruang Makan. Ia sedang tidak tertarik untuk berbicara dengan kedua orang tuanya.

Raja dan Ratu mengikuti langkah Pangeran.

Ketika mereka telah duduk, beberapa pelayan muncul untuk membuka lap bagi mereka. Pelayan yang lain menuangkan minum dalam cangkir. Dan banyak pelayan yang muncul dari pintu samping dengan nampan-nampan emas di tangan mereka.

"Bagaimana kegiatanmu hari ini?" Pertanyaan yang paling dikhawatirkan Pangeran dari ibunya akhirnya muncul.

Pangeran enggan membicarakan kegiatannya hari ini. Ia yakin ia tidak akan dapat membicarakan kegiatannya tanpa menyebut gadis aneh yang ia temui di Pienlang. Pangeran tidak mau didesak lagi untuk menikah. Sudah merupakan keputusannya untuk tidak menikah seumur hidup.

"Semuanya berlangsung tidak seperti yang kuharapkan."

"Apa maksudmu?" Raja terkejut, "Apakah mereka tidak senang dengan bantuan yang kaubawa?"

"Tidak. Mereka senang," Pangeran cepat-cepat membantah, "Tetapi mereka tidak segembira yang kuharapkan. Aku telah kedahuluan."

"Kedahuluan?" dahi Raja mengkerut.

"Ada orang yang telah datang memberikan banyak bantuan sebanyak yang kukumpulkan sejak dua minggu lalu. Bahkan lebih menurutku."

"Siapa orang itu?"

"Aku tidak tahu. Tidak seorang pun di sana yang bisa memberitahuku siapa orang yang telah memberikan banyak bantuan ini," Pangeran menyembunyikan keberadaan gadis aneh itu.

Ratu kecewa oleh jawaban itu.

"Pria itu cukup berani juga," gumam Raja, "Ia mengetahui keadaan Pienlang tetapi tidak melaporkannya padaku bahkan membantunya dengan kemampuannya sendiri."

Pangeran tidak membenarkan kesalahan ayahnya.

"Aku berharap engkau salah," keluh Ratu.

Suasana menjadi sepi. Mereka termenung dalam pikirannya masing-masing.

Pangeran memanfaatkan kesunyian ini untuk menghabiskan makan malamnya. Ketika sendok terakhir telah memasuki perutnya, Pangeran berdiri.

"Engkau mau ke mana?" cegah Ratu.

"Aku ingin beristirahat. Besok aku masih mempunyai banyak pekerjaan."

"Temanilah kami sebentar. Ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu."

"Biarlah ia tidur. Kurasa ia sangat lelah."

"Selamat malam," Pangeran meninggalkan Ruang Makan.

.


.

Walaupun tahu gadis aneh itu tidak akan kembali ke Pienlang, Pangeran tetap berangkat lebih pagi dari kemarin.

"Tuan Puteri berjanji akan datang lagi."

Kata-kata itulah yang dipegang Pangeran dalam keyakinannya.

Gadis itu telah dua minggu lebih berada di antara rakyat Pienlang. Tak mungkin ia dapat meninggalkan mereka begitu saja setelah semua yang telah ia lakukan dan setelah semua yang telah terjadi di antara mereka.

Pangeran tidak mengetahui bagaimana perasaan gadis itu pada Pienlang.

Tetapi Pangeran tahu Pienlang sangat mencintai gadis itu dan tidak ingin ditinggalkan oleh gadis itu.

Langit biru kelam perlahan-lahan mencerah. Sinar matahari menyingkap tabir malam dan membirukan langit.

Penduduk Pienlang sudah bangun semua. Melihat kedatangan Pangeran dan rombongannya, mereka pergi menyambut. Tak seperti kemarin, mereka segera membantu prajurit menurunkan bantuan bagi mereka.

Pangeran melihat sekeliling. Tak seorangpun memperhatikannya ketika ia mengelilingi desa Pienlang.

Suasana desa masih sepi. Dari hutan kejauhan samar-samar terdengar kicau burung bersahut-sahutan. Bunyi serangga masih terdengar di pagi yang sunyi ini.

Di belakangnya, terdengar suara penduduk yang sibuk menurunkan barang dari kereta. Terdengar pula seruan-seruan senang penduduk.

Pangeran gembira. Belum pernah ia merasa segembira ini.

Tak disangkanya membantu orang lain bisa membawa kebahagiaan seperti ini. Kebahagiaan ini terasa lebih berharga dari semua kebahagiaan yang bisa diberikan orang tuanya. Kebahagiaan ini melebihi kebahagiaan atas kekayaannya.

Pangeran merasa damai dalam kebahagiaan ini.

Langkah-langkah kaki Pangeran membawanya ke rumah sakit.

Dokter Junmyeon segera menyambut kedatangannya.

"Selamat pagi, Pangeran," katanya, "Bila Anda tidak keberatan, bisakah Anda memberi tahu saya apa yang membuat Pangeran datang sepagi ini?"

"Aku mengkhawatirkan keadaan kalian," jawab Pangeran berbohong.

"Situasi di tempat ini jauh lebih baik dari hari-hari kemarin. Dan, untuk esok hari akan semakin membaik. Saya yakin Pienlang akan cepat pulih."

Pangeran melihat sekeliling rumah sakit. Pasien-pasien yang kemarin masih terlantar sudah terawat oleh suster serta dokter yang dibawa Pangeran.

Petugas paramedis yang berbaju putih panjang berlalu-lalang di dalam ruangan yang telah ditata sedemikian rupa menjadi sebuah rumah sakit.

"Aku melihat hampir semua kendala yang ada di sini telah ditangani. Kendala apa yang belum teratasi?"

"Kendala utama kami adalah masalah obat-obatan."

"Berikan padaku daftar obat yang kalian perlukan. Obat-obatan bisa segera kukirim dalam waktu dekat ini."

"Baik, Pangeran. Saya akan segera membuat daftarnya berikut jumlah yang saya butuhkan."

"Aku yakin engkau membutuhkan secepatnya. Aku akan segera mengirim orang ke Schildi setelah daftar itu kau buat."

"Saya sangat berharap obat-obatan itu akan segera datang dalam waktu singkat."

"Aku akan menyuruh Donghae mengumpulkan secepatnya. Ia bisa menyusun tim dokter terbaik Evangellynn dalam waktu semalam. Aku yakin ia juga bisa mengumpulkan obat-obatan dalam jumlah besar. Sayang, ia terlambat memanggil dokter paling baik di Evangellynn."

"Saya sungguh menyesal, Pangeran. Tuan Puteri telah memanggil saya terlebih dulu."

"Aku berharap kali ini aku tidak keduluan," kata Pangeran bercanda.

"Saya yakin tidak, Pangeran. Tuan Puteri berkata kami telah mendapatkan bantuan dari orang yang tepat. Sekarang ia bisa mencurahkan sebagian besar perhatiannya pada hal lain. Ia telah membantu Pienlang sejauh yang ia bisa."

"Ya, aku telah mengetahuinya dari penduduk. Adakah hal lain yang menjadi kendala?"

"Peralatan kedokteran di tempat ini masih belum memadai untuk merawat pasien. Peralatan kami kurang lengkap. Tempat ini jauh dari kota. Untuk membawa pasien ke kota juga sangat berbahaya."

"Masalah ini cukup sulit. Aku berpikir satu-satunya jalan adalah membawa peralatan medis ke tempat ini. Kita membutuhkan waktu yang cukup lama untuk…"

Pangeran terdiam.

Matanya menangkap gerakan seseorang yang bergaun putih lembut.

Rambut hitam yang panjang bergelombang tergerai indah menutupi punggungnya. Tangannya terulur pada wajah wanita di sampingnya.

Wanita kurus itu tersenyum lemah padanya.

Tangan putih gadis itu mengusap wajah wanita itu dengan penuh kasih sayang. Dengan lembut, ia mengangkat kepala wanita itu dan menyuapkan sesendok bubur.

Wanita itu kesulitan menelan makanan yang disuapkan kepadanya.

Dengan sabar, gadis itu menanti hingga wanita itu menelannya.

Ketika gadis itu menyuapkan sesendok lagi, wanita itu menggeleng lemah. Gadis itu terus menyodorkan sendok itu. Tampaknya ia berusaha membujuk wanita itu.

"Itulah antara lain kesulitan kami, Pangeran."

Pangeran terlonjak kaget.

Dokter Junmyeon tidak tampak bersalah karena telah menganggu keasyikan Pangeran.

"Penduduk sulit sekali untuk makan. Setiap kali makanan masuk ke mulut mereka, mereka akan memuntahkannya kembali bersama cairan lambungnya. Akibatnya mereka takut dan enggan untuk makan. Mereka tidak merasa lapar."

Junmyeon menyelipkan tangannya ke dalam kantong jas dokternya.

"Mereka mau makan sedikit demi Tuan Puteri yang telah melakukan banyak hal untuk membantu mereka. Tetapi bila bukan Tuan Puteri yang membujuk mereka, mereka tidak mau."

Pangeran kembali pada gadis itu tetapi gadis itu telah menghilang.

Pangeran menjelajahi seluruh ruangan untuk menemukan gadis bergaun putih lembut yang mencolok itu tetapi ia tidak dapat menemukannya.

"Engkau tahu dia, Junmyeon?" Pangeran terus menjelajahi ruangan dengan mata tajamnya.

"Tuan Puteri yang Anda maksud, Pangeran?" Junmyeon balik bertanya.

"Saya menyesal, Pangeran. Saya tidak dapat memberitahu hal yang ingin Anda ketahui. Saya tidak mengenalnya."

"Engkau tidak mengenalnya?" Pangeran keheranan, "Bukankah dia yang membawamu ke sini?"

"Suatu hari tiba-tiba ia muncul di rumah saya dan meminta saya untuk segera mengemasi barang saya. "Sekelompok besar orang membutuhkan Anda saat ini juga. Saya sangat berharap Anda bersedia ikut dengan saya dan tinggal di sana beberapa saat," itulah yang dikatakannya pertama kali saat saya menemuinya."

"Dan engkau ikut begitu saja?" selidik Pangeran.

"Tidak bila Tuan Puteri tidak menjelaskan keadaan penduduk Pienlang. Yang mencengangkan saya adalah Tuan Puteri mengetahui tentang ilmu kedokteran. Saat itu ia berkata, "Saya telah memeriksa beberapa penduduk dan kesimpulan saya mereka terkena radang usus yang cukup parah. Saya berharap kesimpulan saya salah. Ikutlah dengan saya untuk memastikan keadaan mereka, Dokter. Bila Anda enggan meninggalkan pasien Anda, saya bersedia membayar semua pendapatan yang seharusnya Anda terima selama Anda berada di sana."

Saat itu saya kebingungan. Tetapi Tuan Puteri tidak memberi saya waktu banyak untuk berpikir.

"Putuskanlah sekarang, Dokter. Anda adalah seorang dokter. Tugas seorang dokter adalah menolong sesamanya yang sakit. Hanya Anda yang dapat saya andalkan untuk mengobati mereka. Bila Anda tidak segera memutuskan, ada banyak jiwa yang akan berpulang."

Tuan Puteri benar-benar membuat saya tergugah. Tuan Puteri tahu saya pasti ikut tetapi wajah maupun nada suaranya sangat sedih. Hingga saat ini ia selalu terlihat sangat sedih setiap kali membicarakan masalah penduduk Pienlang. Tuan Puteri benar-benar mencintai penduduk Pienlang.

Tidak ada jawaban lain yang bisa saya berikan selain, "Saya sudah memutuskan, Nona. Saya akan ikut Anda. Anda tidak perlu membayar semua kerugian saya akibat menolong mereka. Saya merasa sangat senang dapat menyumbangkan keahlian saya untuk menolong sesama."

Tuan Puteri sangat terharu tetapi ia menyembunyikannya. Tetapi Tuan Puteri tidak dapat menyembunyikan rasa harunya ketika ia berkata, "Terima kasih, Dokter. Saya sangat berterima kasih pada Anda."

Itulah perjumpaan saya yang pertama kali dengan Tuan Puteri. Saya sungguh menyesal tidak dapat memberitahu Anda semua yang ingin Anda ketahui. Bagaimana ia dipanggil Tuan Puteri oleh penduduk Pienlang, saya juga tidak mengetahuinya. Ketika saya tiba, semua orang telah memanggilnya Tuan Puteri."

"Menurutku ia bukan orang biasa. Ia memiliki pengaruh besar dan tangkas. Ia dapat mengantarkan banyak bahan makanan setiap hari dalam waktu lebih dari dua minggu, pertanda ia orang yang sangat kaya. Sikapnya sungguh anggun seperti seorang Putri. Entah putri dari kerajaan mana dia."

"Anda benar. Hanya gadis yang cerdas, tangkas serta berpengalaman yang dapat menangani masalah penduduk Pienlang seorang diri."

"Aku sangat berterima kasih padanya. Ia telah banyak membantu rakyatku bahkan mencintainya. Aku berharap bisa bertemu dengannya."

"Sungguh disayangkan, Pangeran, keinginan Anda tidak akan tercapai. Tuan Puteri sedang terburu-buru."

Pangeran kembali kecewa. Ia baru saja berharap gadis itu menghilang keluar dan ia masih bisa menemuinya lagi.

"Pagi ini Tuan Puteri menemui saya untuk memberi saya ganti rugi atas biaya pengobatan yang tidak saya dapatkan selama saya di sini," Dokter Junmyeon bercerita, "Tetapi saya menolaknya. Kemudian Tuan Puteri berpesan pada saya untuk merawat penduduk Pienlang hingga mereka sembuh. Tuan Puteri berkata setelah hari ini, ia tidak dapat kembali ke sini. Ia sudah lama meninggalkan rumahnya dan ia tidak ingin orang tuanya terus mencemaskannya."

"Aku semakin yakin ia tidak berasal dari Evangellynn," kata Pangeran jujur.

"Saya juga berpikir demikian ketika saya bertemu dengan Tuan Puteri, Pangeran. Tuan Puteri sangat anggun dan cantik tetapi ia berbeda dengan gadis-gadis Evangellynn umumnya. Tidak seorang gadis Evangellynnpun yang memiliki rambut hitam bergelombang seperti Tuan Puteri. Juga tidak ada gadis Evangellynn yang memiliki kulit sekuning Tuan Puteri. Bila Anda mendengar tutur katanya, Anda akan berpikir bahwa Tuan Puteri adalah seorang Ratu. Ia memiliki tata krama yang tinggi."

"Entah aku harus merasa apa atas kejadian ini. Aku Pangeran dari kerajaan ini tidak mengetahui keadaan Pienlang tetapi ia yang Putri dari kerajaan lain mengetahui. Aku benar-benar tidak dapat tidak berterima kasih padanya."

"Saya merasa sungguh besar hutang Evangellynn pada Tuan Puteri. Sebelum menemui pasien untuk terakhir kalinya, Tuan Puteri berkata pada saya bahwa ia telah merencanakan pembangunan saluran air dari sungai ke tempat ini. Tuan Puteri meminta saya untuk menyampaikan pada penduduk bahwa tak lama lagi akan ada banyak orang yang datang untuk memulai pembangunan."

Pangeran diam berpikir.

"Setelah membujuk mereka untuk makan baik untuk saat ini maupun besok, Tuan Puteri akan pergi. Ia mengatakan banyak yang harus dilakukannya dan yang tidak bisa ditinggalkannya terlalu lama."

"Ia membuatku semakin tidak tahu harus berbuat apa. Semuanya telah dilakukannya. Aku benar-benar merasa terlambat datang."

"Tidak ada kata terlambat untuk membantu orang lain," Dokter Junmyeon membesarkan hati Pangeran.

Pangeran diam. Segala macam pikiran berkecamuk dalam dirinya.

.


.

"Engkau sudah mengetahui siapa pria yang mendahuluimu itu?"

Pangeran menatap makanannya.

"Chanyeol, engkau sudah mengetahui siapa orang itu?" ulang Raja lebih keras.

Pandangan Pangeran kosong ketika memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

"Chanyeol!" seru Raja, "Chanyeol! Engkau mendengarkanku!?"

Pangeran terlonjak kaget. "A…ada apa?"

"Aku bertanya padamu?"

"Bertanya apa?"

"Apa yang sejak tadi engkau pikirkan?" tanya Raja.

"Sikapmu itu seperti orang yang sedang jatuh cinta. Siapakah gadis yang beruntung itu?" tanya Ratu penuh semangat.

"Tidak ada," bantah Pangeran, "Aku tidak memikirkan apa-apa."

"Jawablah sejujurnya, Chanyeol," desak Ratu, "Siapa yang sedang kaupikirkan?"

"Penduduk Pienlang," Pangeran berbohong, "Aku sedang berpikir bagaimana cara untuk membantu mereka semakin cepat pulih dari krisis ini."

"Bukankah kau katakan sudah ada orang yang membantu mereka sebelum engkau?"

"Benar, Papa. Tetapi hari ini aku mengetahui dari Dokter Junmyeon bahwa orang itu tidak akan kembali lagi."

"Dokter Junmyeon?" Raja keheranan, "Bukankah ketika engkau akan berangkat, engkau kebingungan mencari dia. Donghae sendiri sampai pusing mencarinya. Bagaimana ia bisa berada di sana?"

"Orang yang mendahuluiku itu yang membawanya."

"Orang itu lagi," kata Raja tertarik, "Siapakah dia? Apakah engkau sudah mengetahui?"

"Tidak. Bahkan Junmyeon sendiri tidak mengetahui siapa gadis itu."

"Gadis!?" seru Ratu tak percaya, "Hebat! Hebat sekali!" Dengan penuh semangat, Ratu mendesak Pangeran, "Engkau sudah bertemu dia? Menurutmu bagaimana dia? Apakah ia cantik? Apakah ia mempesonakanmu? Seperti apakah dia? Apakah dia sopan?"

"Aku belum pernah bertemu dia. Selama ini aku hanya melihat punggungnya. Pernah ia bertatap wajah denganku, tetapi ia segera berpaling. Ia sepertinya enggan untuk bertatap muka denganku. Entah mengapa aku merasa ia berusaha menghindariku."

"Sekarang aku tahu siapa yang kaupikirkan. Engkau jatuh cinta padanya?"

"TIDAK!" bantah Pangeran, "Berdasarkan cerita Junmyeon tentang gadis itu, aku yakin ia telah memiliki tunangan. Junmyeon sendiri berkata gadis secantik dia tak mungkin tidak mempunyai tunangan."

"Junmyeon adalah pria yang jarang memberikan pujian. Bila ia sampai berkata seperti itu tentunya gadis itu adalah gadis yang sangat cantik," kata Raja.

"Kata Junmyeon ia adalah gadis tercantik yang pernah dijumpainya juga paling menarik. Aku melihat Junmyeon terkagum-kagum padanya. Demikian pula semua orang di Pienlang."

"Apakah Junmyeon pernah bertemu Pelangi Evangellynn?"

"Entahlah, aku tidak tahu. Tetapi para gadis itu sering mendapat undangan, kurasa mereka pernah bertemu."

Pangeran jengkel mendengar nama Pelangi Evangellynn itu disebut-sebut kembali oleh orang tuanya. Mereka adalah masa lalu Pangeran yang paling menjengkelkan dan paling ingin dilupakan.

Raja termenung. "Gadis itu pasti lebih cantik dari Pelangi Evangellynn termasuk putri bungsu yang kata Luhan paling cantik itu," gumamnya.

"Dan, ia sudah pasti mempunyai tunangan atau mungkin ia sudah menikah," tekan Pangeran.

Ratu mengangguk kecewa. "Sungguh sayang. Padahal aku berharap dia bisa merubah keinginanmu. Andai ia bisa membuat Junmyeon terkagum-kagum, tentunya ia adalah gadis yang sangat menarik. Dan tentu ia sudah mempunyai tunangan."

"Engkau tahu dari mana ia berasal?"

"Aku tidak tahu. Tetapi aku dan Junmyeon beranggapan ia Putri dari kerajaan tetangga."

Raja mendengarkan dengan tertarik.

"Selama hampir satu bulan ia memberi bantuan kepada Pienlang. Tanpa henti, tiap hari ia mengirim banyak barang untuk mereka. Junmyeon yang selalu sibuk pun bisa dibawanya ke Pienlang dengan mudah. Bahkan pagi ini sebelum meninggalkan Pienlang, ia berkata pada Junmyeon bahwa ia telah mengirim orang untuk membangun saluran air dari sungai ke Pienlang."

"Aku tidak tahu siapa yang sangat kaya seperti itu di Evangellynn juga sangat berkuasa hingga Junmyeon yang selalu sibuk itu bisa tunduk pada keinginannya. Demi dia, Junmyeon mau meninggalkan segala kesibukannya yang mendatangkan banyak uang. Bahkan, ia berjanji pada Jumnyeon untuk mengganti semua kerugiannya akibat permintaannya. Kata Junmyeon, gadis itu sangat sopan. Melebihi semua gadis yang pernah dilihatnya. Junmyeon menyebut sikapnya itu sebagai tata krama kelas tinggi."

"Itu belum seberapa dibandingkan orang yang diutusnya untuk membangun saluran air. Yang pasti, aku sendiri belum tentu bisa mendatangkan dia untuk rakyat Pienlang."

"Siapa yang didatangkannya?" Raja semakin tertarik.

"Arsitektur ternama di kerajaan ini," jawab Pangeran.

"Siwon yang sulit ditemui itu?" Raja terpukau. "Ketika aku membutuhkannya untuk memperbaiki Istana ini, aku harus memesannya setengah tahun sebelumnya. Gadis itu menemuinya dan Siwon langsung menyanggupinya."

Raja menggelengkan kepalanya tak percaya. "Gadis itu mengagumkan. Siwon dibuat mengorbankan banyak keuntungannya untuk Pienlang."

"Entah berapa banyak uang yang dikeluarkan gadis itu untuk membayar Siwon," Ratu ikut kagum.

"Yang pasti jumlahnya sesuai dengan keuntungan yang harusnya didapat Siwon selama ia menangani Pienlang," sambung Raja.

"Selain sangat kaya, ia juga memiliki pengaruh yang besar. Selain keluarga kerajaan, siapa lagi yang mempunyainya di Evangellynn?"

"Tidak ada," jawab Raja. "Harus kuakui ia pandai memanfaatkan pengaruhnya hingga Siwon yang terkenal paling sulit meninggalkan pekerjaannya itu bisa begitu saja ikut dengannya. Aku ingin berjumpa dengan Putri ini."

"Akupun demikian. Tetapi pagi ini ia mengatakan pada Junmyeon bahwa ia tidak dapat datang lagi. Ia masih memiliki banyak pekerjaan yang tidak dapat ditinggalkannya."

"Tentu saja. Ia tidak bisa meninggalkan tugas-tugas kerajaannya.

Ayahnya pasti cemas putrinya yang sangat cantik itu pergi berhari-hari."

"Aku ingin bertemu dengan ayah yang beruntung itu," celetuk Ratu.

"Aku tidak tertarik untuk dijodohkan dengannya!" Pangeran menyahut.

"Tetapi engkau memikirkannya."

"Itu karena aku ingin mengetahui dari mana dia. Aku ingin berterima kasih padanya."

"Jangan lupa. Gadis yang menarik seperti dia, pasti telah ditunangkan oleh ayahnya. Apalagi ia seorang Putri."

Ratu memandang suaminya dengan penuh kecewa.

"Aku pergi!" kata Pangeran kesal. Ia tidak ingin lagi mendengar semua ceramah ibunya.

"Mau ke mana engkau? Makananmu belum…," Ratu tak sempat mencegah kepergian Pangeran.

"Selalu!" geram Ratu kesal, "Anak ini selalu begini bila diajak berbicara tentang pernikahannya."

"Engkau terlalu mendesaknya."

"Ia sudah besar. Apa yang terjadi bila ia tidak menikah?" sahut Ratu.

Wajah Ratu menjadi sendu, "Aku ingin menggendong cucuku."

"Entah apa yang membuatnya berpikir sesinis itu pada wanita. Bahkan sampai membuatnya tidak mau menikah."

"Aku lebih suka bertanya siapa yang memberinya filsafat itu."

.


.

Pangeran melangkah cepat ke dalam kamarnya.

Dalam hati Pangeran merasa menyesal telah bercerita banyak kepada orang tuanya. Sekarang orang tuanya, terutama ibunya akan semakin sering mendesaknya.

Kehidupan di dalam Istana dalam waktu yang mendatang ini akan menjadi kehidupan yang menjenuhkan. Setiap hari Pangeran harus mendengarkan ceramah panjang lebar Ratu.

"Andai engkau berjumpa dengannya lebih awal."

Kalimat itu akan menjadi kalimat yang sering didengar Pangeran dalam hari-hari mendatang. Ratu adalah satu-satunya orang yang menyesali

kenyataan bahwa gadis itu telah bertunangan.

Berbeda dengan Pangeran, yang membuat Pangeran menyesal adalah ia tidak dapat bertemu dengan gadis itu. Hingga malam ini, Pangeran tersiksa oleh keingintahuannya yang begitu besar.

Tidurnya terasa tidak nyenyak memikirkan gadis asing itu.

Dalam awangnya selalu terbayang punggung gadis itu. Dalam mimpinya selalu terlihat rambut hitam lebat yang bergelombang indah itu. Dalam pikirannya selalu terlintas senyum manis yang indah di wajah yang cantik berseri itu.

Pangeran menyesal tidak dapat melihat rupa gadis itu dengan jelas.

Pangeran menyesal tidak dapat berbicara dengan gadis itu.

Segala macam perasaan menyesal dan ingin tahu terus berkecamuk di hati Pangeran dan menyiksanya.

Ketika melihat kegembiraan rakyat Pienlang, hati Pangeran terasa damai tetapi ia tidak merasa sempurna. Ia merasa ada yang terlewatkan olehnya dan itu adalah gadis asing itu.

Gadis itu mengetahui siapa dirinya tetapi Pangeran tidak mengetahui siapa dia.

Pangeran menyesal, sedih, kecewa juga marah.

Gadis itu tidak akan datang lagi ke Pienlang. Tidak setelah semua yang telah dilakukannya. Tidak setelah Pangeran Evangellynn mengetahui keadaan penduduknya yang malang.

Gadis itu menghindarinya. Ketika tahu Pangeran datang, ia tidak mau menemuinya bahkan menghilang.

Siang malam, kehidupan Pangeran tidak lagi menyenangkan seperti dulu.

Kesibukannya di Pienlang tidak membuatnya melupakan gadis asing itu bahkan membuatnya semakin ingin tahu.

Setiap berada di Pienlang ia selalu berharap melihat kembali gadis itu.

Sayangnya, harapan itu tak pernah terwujud.

Gadis itu benar-benar menghilang dari Pienlang seperti yang telah dikatakannya. Satu-satunya yang tak hilang darinya adalah peninggalannya.

Siang hari setelah kepergian gadis itu, seorang pria bertubuh besar dan berjenggot hitam tebal dengan rambut coklat bergelombangnya yang gerondong, muncul. Pria itu adalah Siwon.

Siwon datang memenuhi panggilan gadis itu untuk melihat keadaan Pienlang hingga ke sungai terdekat yang berjarak lebih kurang dua mil.

Sepanjang hari itu Siwon mengukur dan menghitung saluran yang akan dibuatnya. Menjelang malam, Siwon pergi tetapi ia kembali lagi keesokan harinya bersama puluhan pekerja.

Bersamaan kedatangan para pekerja itu, berdatangan pula banyak kereta. Segala yang diperlukan bagi pembangunan saluran didatangkan oleh berpuluh-puluh kereta barang.

Dua buah kereta penuh berisi peralatan membangun terutama cangkul.

Kereta-kereta yang lain membawa kayu dan perlengkapan untuk tidur yakni selimut hangat.

Di antara kereta-kereta itu ada sebuah kereta yang khusus berisi peralatan memasak dan bahan-bahan memasak.

Tujuh pekerja yang telah diperintahkan Siwon untuk membangun rumah kayu sederhana, segera melaksanakannya.

Tiga orang laki-laki bertopi putih tinggi, turun dari kereta yang berisi perlengkapan memasak itu dan segera menurunkan barang-barang yang perlu.

Ketika rumah kayu untuk dapur mereka usai dibangun, mereka dengan bantuan pekerja lain, segera memindahkan barang-barang di kereta ke rumah itu.

Pekerja yang lain juga membangun perkampungan sementara mereka dari kayu-kayu yang telah didatangkan. Di tempat yang mereka bangun itulah mereka menempatkan selimut hangat yang akan mereka gunakan untuk tidur di malam hari.

Sepanjang hari itu mereka sibuk mempersiapkan pembangunan saluran air dari sungai ke Pienlang.

Penduduk Pienlang berlalu lalang mengawasi para pekerja itu. Kemarin gadis itu telah meminta Junmyeon untuk mengatakan kedatangan Siwon dan para pekerjanya pada penduduk, hari ini beberapa penduduk tampak di antara para pekerja.

Penduduk merasa sangat berterima kasih pada kesukarelaan para pekerja itu untuk membangun saluran yang kelak akan menyejahterahkan hidup mereka. Mereka merasa perlu terlibat dalam usaha pembangunan ini.

Pria-pria yang telah dinyatakan sehat oleh dokter, membantu para pekerja membangun perkampungan sementara.

Wanita-wanita yang telah pulih dari sembuhnya, membantu para koki itu menyiapkan makanan bagi pekerja.

Anak-anak yang mendapatkan kembali keceriaan mereka, dengan riang melakukan segala pekerjaan ringan yang dibebankan pada mereka.

Suasana kerja sama hari itu menakjubkan Pangeran.

Mereka yang tidak saling mengenal bisa bekerja bersama tanpa perasaan asing untuk satu tujuan. Mereka membantu tanpa peduli kenal atau tidak.

Pangeran terharu melihat rakyatnya.

Pangeran pun tidak mau ketinggalan. Bila kemarin-kemarin gadis itu yang mendatangkan banyak bantuan untuk Pienlang, kali ini Pangeran ingin memberikan bantuan.

Kedatangan para pekerja itu disambut Pangeran dengan memerintahkan prajurit segera ke Istana untuk mengumpulkan bahan makanan bagi para pekerja. Pangeran juga memerintahkan Kris untuk mengumpulkan bahan bangunan bagi pembangunan saluran ini.

"Barang apa saja yang kauperlukan untuk pembangunan ini, Siwon?" tanya Pangeran sebelum menugaskan Kris."Saya tidak membutuhkan banyak bahan bangunan, Pangeran," jawab Siwon, "Tuan Puteri menginginkan sebuah saluran buatan yang terlihat alami."

Pangeran hanya menatap Siwon.

"Kemarin saya telah menemui Tuan Puteri untuk membicarakan saluran ini. Saya memberikan padanya rancangan saluran yang akan bangun. Saat itulah Tuan Puteri menyatakan keinginannya. Ia ingin kami membuat anak cabang sungai itu ke Pienlang. Untuk mencegah bila ada hujan deras yang menyebabkan anak sungai meluap, ujung anak cabang akan dibuat dalam dan besar menyerupai kolam besar. Pada tepi-tepinya akan dibangun dinding yang sangat kuat untuk mencegah luapan air. Itulah yang kemarin dikatakan Tuan Puteri. Sebagian besar pekerjaan kami adalah menggali anak cabang ke Pienlang."

Pangeran mendengarkan dengan tercengang.

Siwon adalah pria keras kepala yang tidak mau ditolak rancangannya. Ia adalah arsitektur terbaik Evangellynn tetapi ia tidak memiliki sifat yang menyenangkan. Siwon tidak mau orang lain mengkritik apa yang dibuatnya. Baginya, apa yang ia rencanakan adalah yang terbaik. Tak peduli siapapun yang memerintahkannya, Siwon akan membangun apa yang ia rencanakan walau orang itu tak setuju. Itulah sifat keras kepala Siwon yang sering membuat orang lain jengkel. Tetapi harus diakui hasil pekerjaan Siwon selalu memuaskan.

"Anda mungkin bisa membawakan tambahan cangkul dan alat pencongkel batu. Melihat penduduk yang ikut membantu, saya khawatir peralatan yang disediakan Tuan Puteri tidak mencukupi."

"Berapa yang kaubutuhkan?"

"Saya tidak dapat memastikannya, Pangeran."

"Aku akan melihat dulu seberapa banyak penduduk Pienlang yang akan membantu pembuatan saluran ini kemudian akan kuputuskan berapa yang harus didatangkan."

"Itu adalah ide yang baik, Pangeran."

Pekerjaan membangun dimulai pada keesokan harinya. Pagi hari ketika langit masih malam, para pekerja telah bangun dan bersiap-siap untuk memulai pekerjaan mereka.

Ketiga koki juga bangun dan mulai mempersiapkan sarapan.

Ketika penduduk Pienlang bangun, mereka telah terlambat. Pekerjaan telah dimulai. Penduduk bergegas membantu menggali sungai kecil.

Pekerja yang jumlahnya hampir 80 orang itu dipimpin oleh Siwon untuk menggali saluran dari sungai ke Pienlang. Siwon mengawasi pekerjaan para pekerja itu tanpa berhenti memberi komando.

Ketika Pangeran tiba, suasana desa kembali menjadi sangat sepi.

Bahkan jauh lebih sepi dari saat pertama kali Pangeran datang.

Tawa anak kecil yang telah muncul, kembali menghilang. Para wanita dan pria pergi ke sungai untuk memberikan bantuan.

Pangeran sungguh tidak tahu bagaimana harus berterima kasih pada gadis asing itu. Gadis itu telah membuat segalanya menjadi jauh lebih mudah bagi Pangeran. Ia membuka jalan untuk diteruskan Pangeran.

Pangeran menemukan Siwon berada di tepi sungai bersama anak buahnya yang telah menggali anak sungai.

Air sungai mengalir deras. Riak-riaknya menerjang tepi sungai dengan keras. Percikan-percikan air berhamburan dari batu-batu di tengah sungai.

Warna airnya yang biru jernih, semakin indah biru oleh langit. Awan-awan putih mengambang di permukaan air.

Di sampingnya, para pekerja yang penuh keringat, menggali tanpa kenal lelah. Bunyi cangkul terdengar bertalu-talu bagai nyanyian ombak di laut.

"Bagaimana perkembangannya?"

"Semuanya berjalan lancar sesuai yang direncanakan," lapor Siwon.

"Air sungai sangat deras, apakah tidak berbahaya bagi Pienlang?" tanya Pangeran.

"Tidak, Pangeran. Ketika melewati anak sungai yang kami buat, aliran air makin lama kian melambat dan ketika tiba di Pienlang, airnya tidak akan meluap."

"Air sungainya akan merupakan air mati yang tidak dapat mengalir. Air akan mengalir ke Pienlang tetapi setelah itu ia tidak dapat pergi ke manapun.

Ia akan terperangkap di ujung anak sungai. Air itu tidak akan sehat. Kalau kita mengembalikannya ke sungai atau ke laut, air akan terus mengalir."

"Anda tidak perlu mengkhawatirkannya, Pangeran. Tuan Puteri telah memikirkannya. Air anak sungai buatan ini, akan dapat mengalir masuk dan pergi. Selama sungai induknya deras, air dapat pergi dan kembali."

Pangeran memikirkannya.

"Anda tidak perlu memikirkannya, Pangeran. Kemarin malam Tuan Puteri menemui saya untuk merubah pembangunan saluran. Ia ingin kami membelokkan anak sungai ke Herbranchts kemudian mengembalikan kepada induknya."

"Herbranchts?" Pangeran kebingungan, "Apakah desa itu mengalami nasib yang sama seperti Pienlang?"

"Tidak, Pangeran. Dibandingkan Pienlang, Herbranchts jauh lebih makmur. Jaraknya dengan Pienlang tidak jauh hanya sekitar 2 mil. Anda dapat melihat keadaan di sana bila Anda ingin. Dengan kuda Anda, saya yakin Anda bisa mencapainya dalam waktu kurang dari seperempat jam."

Seorang pria mendekati Siwon dan berbisik padanya.

"Maafkan saya, Pangeran. Ada yang perlu saya urus."

Pangeran memperhatikan Siwon yang menjauh bersama pria itu.

Pria itu tidak terlalu tua juga tidak terlalu muda, Pangeran menilai pria yang menganggu pembicaraannya dengan Siwon, mungkin umurnya sekitar empat puluh tahun. Pakaian yang dikenakannya rapi. Bajunya berwarna hitam mengkilat seperti celananya. Pakaiannya sangat rapi seperti seorang bangsawan.

Mereka berbicara dengan serius. Entah apa yang dikatakan pria itu sehingga membuat Siwon mengangguk berulang kali. Tak lama kemudian mereka berjabat tangan dan pria itu pergi.

Siwon kembali ke tempat Pangeran dengan wajah berseri-seri.

Pangeran menduga pria itu adalah utusan Putri negeri tetangga itu.

Kedatangannya menemui Siwon adalah untuk memberitahunya berapa bayaran yang akan didapatkan Siwon setelah pekerjaannya selesai. Hal itu terlihat jelas di wajah berseri Siwon.

"Maafkan atas gangguan ini, Pangeran," kata Siwon, "Ia adalah utusan Tuan Puteri."

Pangeran sudah menduganya.

"Sekarang kita dapat meneruskan kembali pembicaraan kita," kata Siwon, "Sebelum saya lupa, Pangeran, saya ingin memberitahu Anda bahwa bantuan Anda telah saya terima kemarin. Saya sangat berterima kasih atas bantuan yang sangat banyak itu, tetapi sayang saya tidak memerlukan bahan-bahan bangunan itu lagi."

"Ya," Pangeran mengangguk, "Engkau hanya menggali anak sungai."

"Tidak, Pangeran. Kami tetap akan membangun tetapi kami tidak memerlukan banyak bahan bangunan. Tuan Puteri ingin kami membangun beberapa sumur di tempat yang telah ditentukan oleh geologis yang dikirim Tuan Puteri. Hari ini para geologis itu akan datang ke Pienlang untuk mulai menentukan sumber air di dalam tanah."

"Begitu banyak yang ia keluarkan untuk Pienlang," pikir Pangeran, "Kerajaan ini berhutang banyak pada kerajaannya. Entah dari kerajaan mana ia berasal."

Berpuluh-puluh orang mendekat dengan cangkul di tangannya.

Siwon menepuk tangannya dan dengan puas berkata, "Akhirnya mereka datang juga."

Pangeran keheranan melihat puluhan pria itu.

Siwon meninggalkan Pangeran dan berseru pada pria-pria itu, "Kalian cepat membantu yang lain menggali!"

Tanpa perlu diperintah dua kali, orang banyak itu segera berjajar di antara para pekerja yang lain dan mulai menggali.

"Mereka adalah para pekerja yang dikirim Tuan Puteri pagi ini. Pria itu tadi datang untuk memberitahukan kedatangan mereka," Siwon memberitahu Pangeran.

Pangeran terpana melihat deretan pria yang berjajar berhadap-hadapan sejauh seratus meter lebih itu.

"Kalian akan membutuhkan banyak makanan. Aku akan mengirimkannya untuk kalian."

"Terima kasih, Pangeran. Kami sangat mengharapkan bantuan itu."

"Aku tak dapat membayangkan berapa banyak uang yang Tuan Puteri kalian itu keluarkan untuk membiayai pembangunan besar-besaran ini."

.


TBC


.

EAAAAAA. Galau ya Bebek kesayanganya belum muncul? Wkwk.

FF ini akan berakhir di chapter 15.

Semoga tidak ada typooo:)

Jangan bosen buat baca hanya karna bebek nya belum muncul. Soalnya sesuatu yg terbilang sabar akan membuahkan hasil. Muehehe ga nyambung.

Terimakasih banyak yg sudah mau read dan revieww..

See youu❤❤^^