GADIS HARI KETUJUH
REMAKE NOVEL CHANBAEK VERSION
amandaerate
manyeolbae
Novel By Sherls Astrella
.
FF ini adalah hasil Remake dari novel dengan judul yang sama karya Sherls Astrella. Terdapat beberapa perubahan nama atau yang lainnya sesuai dengan kebutuhan cerita.
.
Warning: Genderswitch
.
CHAPTER 13
.
Xiumin tersenyum melihat Baekhyun. "Engkau memang nakal," katanya, "Engkau menyuruh Sehun membawa pergi Luhan agar engkau bisa pergi tetapi aku tidak akan membiarkanmu."
"Menurutku, sekarang kita harus pergi juga," kata Tao tiba-tiba.
Tao melirik Pangeran lalu Baekhyun .
"Kita harus menjaga pintu," sahut Kyungsoo, "Jangan sampai ada seorang priapun yang memasuki kamar Baekhyun ."
"Aku ingin melihat siapa yang pertama kali mengirimkan bunga untuk Baekhyun," timpal Yixing.
"Ayo kita pergi!" Krystal setuju.
"Aku bergantung pada kalian," kata Baekhyun.
"Jangan khawatir, Baekhyun. Kami akan mencegah setangkai bungapun memasuki kamarmu," gadis-gadis itu berjanji.
Satu per satu mereka mencium dahi Baekhyun lalu meninggalkan kamar itu.
Sebelum pergi, Xiumin berpesan, "Pangeran, tolong jaga Baekhyun. Jangan sampai ia meninggalkan tempat tidurnya."
Pangeran mengangguk.
Baekhyun tersenyum senang melihat kakak-kakaknya pergi. Saat mendengar suara canda tawa mereka menjauh, Baekhyun segera menyingkap selimutnya.
Pangeran terkejut melihat Baekhyun telah mengenakan gaun yang rapi dan bersiap meninggalkan kamarnya.
"Apa yang kaulakukan? Cepat kembali ke tempat tidurmu!" Pangeran mendorong Baekhyun kembali ke tempat tidur.
"Saya mempunyai janji," kata Baekhyun .
"Tidak bisa!" bantah Pangeran. Dengan lembut Pangeran mendorong Baekhyun kembali berbaring di tempat tidur. "Engkau sedang sakit."
"Saya hanya sakit biasa."
Tiba-tiba Baekhyun terbatuk-batuk.
"Sakit biasa katamu?" ejek Pangeran, "Selama aku berada di sini, engkau tidak boleh meninggalkan tempat tidur!"
"Anda akan membuat saya mengalami kesulitan dengan para pria itu," keluh Baekhyun .
Tiba-tiba Pangeran tersentak kaget. Ia baru menyadari sebuah alasan yang lebih masuk akal. Baekhyun bukan tidak senang bila ada orang yang mengunjunginya tetapi ia tidak senang menerima bunga-bunga itu dari para lelaki.
Baekhyun memanfaatkan kediaman Pangeran untuk beranjak dari tempat tidur.
"Kembali ke tempat tidurmu!" perintah Pangeran.
Baekhyun memandangi Pangeran. Ia tersenyum. "Maafkan saya, Pangeran. Sakit seperti ini tidak akan membuat saya menjadi penurut."
Baekhyun membuka lemari bajunya.
"Mau ke mana engkau?"
"Ke tempat di mana saya bisa beristirahat dengan tenang," jawab Baekhyun .
"Ke mana?" desak Pangeran.
"Ke tempat yang tak seorang priapun bisa menemukan…" Baekhyun kembali terbatuk-batuk.
Pangeran mendekati Baekhyun. Tangannya menepuk-nepuk punggung Baekhyun dengan lembut. "Batukmu sedemikian parah, engkau masih mau keluar di hari sedingin ini."
"Udara musim dingin memang tidak bersahabat," kata Baekhyun , "Dingin dan kering."
Angin musim dingin yang bertiup sangat dingin. Dinginnya sangat tajam melebihi ketajaman pisau tetapi sinar matahari bersinar dengan terik. Sinar matahari terasa menyengat kulit tetapi angin dingin terus bertiup.
Udara tidak benar-benar panas juga tidak benar-benar dingin. Banyak orang yang sakit di saat seperti ini.
Pangeran meraih mantel tebal di dalam lemari dan mengenakannya pada Baekhyun .
"Terima kasih, Pangeran," Baekhyun merapatkan mantel itu pada tubuhnya.
Sesaat kemudian Baekhyun merasa kakinya tidak lagi menginjak lantai. Baekhyun membelalak menatap Pangeran.
"Aku akan membawamu ke tempat yang kauinginkan."
"Tetapi…"
Pangeran tidak senang melihat wajah panik itu. Selalu! Setiap disentuh olehnya, gadis itu selalu panik seperti ini tetapi bila Sehun menyentuhnya, ia tidak panik.
"Kalau engkau tidak menurut padaku, mereka tidak akan membiarkanmu meninggalkan rumah ini," kata Pangeran tegas.
Baekhyun pun terdiam. Ia memeluk leher Pangeran dan menyandarkan kepalanya di bahu bidang itu.
Samar-samar Pangeran dapat mencium bau wangi rambut Baekhyun .
Pangeran ingin menyentuh rambut itu dan mencium wanginya yang khas, lembut tetapi menyegarkan.
"Anda mau ke mana?" tanya Xiumin mencegat Pangeran.
"Aku akan membawa Baekhyun ke dokter."
"Benar," kata Krystal, "Bawalah dia ke dokter agar ia cepat sembuh dan tidak merepotkan kami."
"Lihatlah, Baekhyun. Sudah ada dua rangkaian bunga yang datang untukmu," Kyungsoo mengangkat dua rangkaian besar bunga mawar merah yang segar, "Engkau ingin aku meletakkannya di kamarmu?"
"Aku akan membencimu seumur hidupku kalau engkau melakukannya," ancam Baekhyun .
Kyungsoo tertawa geli.
"Bolehkah aku meletakkannya di kamarku?" tanya Yixing.
"Dengan sangat senang hati."
Pangeran meletakkan Baekhyun ke atas kudanya.
"Selamat tinggal, semuanya," kata Baekhyun sambil melambaikan tangannya ketika kuda mulai bergerak.
"Jangan lupa pulang!" sahut kelima gadis itu.
Baekhyun tertawa riang. "Akhirnya saya bisa meninggalkan…," Baekhyun kembali terbatuk-batuk.
"Lihatlah," hardik Pangeran, "Sudah kuperingatkan untuk tidak keluar tetapi engkau tidak mau menurut."
"Kalau saya semakin parah, saya tidak akan menyalahkan Anda," kata Baekhyun sambil tersenyum.
"Tetapi aku akan menyalahkan diriku sendiri."
"Saya gadis yang kuat," Baekhyun meyakinkan.
"Aku juga yakin tetapi kalau kita tidak berpindah ke kereta, engkau akan jatuh sakit juga."
Pangeran membelokkan kudanya ke Istana. Pangeran terus melajukan kudanya ke istal belakang istana.
"Cepat siapkan kereta," perintahnya pada penjaga kuda.
"Baik, Pangeran."
Pangeran menggendong Baekhyun turun dan segera membawanya masuk ke dalam kereta yang siap untuk berangkat.
"Katakan pada orang tuaku kalau aku pergi."
"Baik, Pangeran."
"Bawa kami ke Ruethpool," perintah Pangeran lalu ia masuk ke dalam kereta. Kusir segera membawa kereta meninggalkan Istana.
Pangeran melihat Baekhyun yang duduk di tepi kereta sambil memeluk tubuhnya. "Kemarilah," Pangeran membentangkan tangannya.
Baekhyun kebingungan dan ragu-ragu.
"Mendekatlah agar engkau merasa hangat."
Baekhyun hanya menatap Pangeran.
"Apakah engkau takut Sehun akan marah padaku dan padamu?"
Baekhyun menggeleng.
"Mendekatlah. Jangan sampai engkau merasa kedinginan sebelum engkau lebih baik."
"Tetapi saya hanya sakit biasa," bantah Baekhyun , "Tak lama lagi saya juga akan sembuh."
"Pantaslah Earl mengatakan engkau gadis yang sulit diatur," Pangeran tersenyum lembut, "Mendekatlah. Jangan takut aku akan mencelakakanmu. Katamu seorang Pangeran harus memegang janjinya, aku juga akan melakukannya."
Perlindungan di antara kedua tangan Pangeran itu sangat menarik. Baekhyun pernah merasakan kehangatan di dalam sana. Baekhyun menyukai perasaan hangat ketika berada di dalam sana.
Pangeran tersenyum lembut sambil tetap membentangkan tangannya.
Baekhyun menatap wajah Pangeran dan menunduk lalu menatap Pangeran lagi.
Dengan sabar Pangeran menanti Baekhyun.
Baekhyun ragu-ragu melihat Pangeran. Perlahan-lahan ia mendekatkan diri pada Pangeran dan membiarkan Pangeran menariknya ke dalam pelukannya.
"Tidurlah yang nyenyak. Perjalanan kita akan panjang."
"Ke mana Anda akan membawa saya?" tiba-tiba Baekhyun merasa panik.
"Ke tempat di mana Anda bisa beristirahat dengan nyaman. Tempat itu tidak terlalu dingin dan juga tidak terlalu panas. Sangat cocok untuk memulihkan keadaan Anda," Pangeran ikut bersikap sopan.
Baekhyun menatap Pangeran. "Bagaimana dengan janji saya?"
"Saya akan mengijinkan Anda pergi menemui orang itu setelah Anda cukup sembuh."
"Tetapi saya belum memberitahu keluarga saya," protes Baekhyun .
"Saya telah mengaturnya. Saya telah menyuruh orang untuk memberitahu keluarga Anda bahwa saya membawa Anda ke tempat yang sejuk untuk membantu kepulihan kesehatan Anda."
Baekhyun tidak berusaha menutupi kesedihan di wajahnya.
"Jangan bersedih," hibur Pangeran. Pangeran merasa ikut sedih melihat wajah cantik itu. "Saya berjanji akan menuruti semua keinginan Anda setelah Anda sembuh."
Pangeran menunduk mencium dahi Baekhyun.
Seketika wajah Baekhyun memerah. Baekhyun merasa pipinya memanas dan ia malu melihat Pangeran. Baekhyunmenyembunyikan wajahnya di dada Pangeran.
Pangeran tersenyum lembut. Sikap Baekhyun itu tidak menunjukkan ia benar-benar mencintai Sehun. Artinya masih ada harapan bagi Pangeran untuk mendapatkan cinta gadis itu. Pangeran memeluk Baekhyun semakin erat.
Baekhyun merasakan kepala Pangeran di atas kepalanya. Tangan Pangeran membelai rambutnya dan membawa jantung Baekhyun berdebar semakin kencang. Baekhyun panik. Ia bingung harus berbuat apa.
Baekhyun memejamkan matanya dan berharap mereka segera tiba entah ke manapun Pangeran membawanya pergi. Baekhyun ingin menyembunyikan diri dari Pangeran.
Pangeran merasakan getaran tubuh Baekhyun tetapi ia menduga Baekhyun kedinginan. Pangeran semakin merapatkan Baekhyun pada dirinya – berusaha melindungi gadis itu dari udara dingin.
Sesaat kemudian Pangeran merasa Baekhyun sudah tidak bergetar lagi.
Pangeran bertanya lembut, "Engkau sudah merasa hangat?"
Tidak ada jawaban dari Baekhyun .
"Baekhyun ," bisik Pangeran.
Baekhyun masih tidak menjawab.
"Rupanya engkau sudah tidur," ujar Pangeran. "Tidurlah yang nyenyak sampai kita tiba," Pangeran mencium dahi gadis itu.
.
.
.
Baekhyun terbangun. Ia merasa sudah tidur begitu lama seperti berabad-abad.
Mata Baekhyun mengerjap-ngerjap – berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya yang memasuki kamarnya yang gelap.
Baekhyun kebingungan melihat ruangan di sekelilingnya.
Ini bukan kamarnya, bukan tempat tidurnya.
Baekhyun tidak mengenali tempat ini.
Samar-samar Baekhyun teringat di mana ia berada. Pangeran membawanya ke Istana musim dinginnya, Ruethpool. Sekarang Baekhyun tengah berbaring di salah satu kamar di Ruethpool.
Baekhyun berdiri.
Tiba-tiba Baekhyun merasa kepalanya sangat sakit. Seperti ada sesuatu yang mencengkeram kepalanya.
Baekhyun terduduk di tempat tidur dan berusaha bertahan dalam sakit kepalanya. Baekhyun merasa seluruh tubuhnya sangat lemas. Sakitnya terasa lebih parah dari tadi pagi. Tadi pagi Baekhyun hanya batuk-batuk dan sedikit demam. Sekarang Baekhyun merasa kepalanya sangat sakit dan tubuhnya lemas.
Baekhyun berjalan gontai ke pintu.
Sesaat sebelum Baekhyun membuka pintu, seseorang telah membukanya.
"Ya Tuhan, apa yang kaulakukan, Baekhyun!?"
Suara tinggi itu membuat kepala Baekhyun semakin sakit. Baekhyun merasa tubuhnya diangkat dan sesaat kemudian ia telah berbaring kembali di tempat tidur.
"Apa yang kaulakukan?" tegur Pangeran.
"Bisakah Anda memelankan suara Anda?" pinta Baekhyun, "Anda membuat kepala saya semakin pening."
Pangeran menyentuh dahi Baekhyun. "Panasmu semakin tinggi," katanya terkejut.
"Sepertinya memang begitu," Baekhyun tersenyum.
"Apanya yang sepertinya?" Pangeran naik pitam, "Tubuhmu semakin panas dan engkau berani meninggalkan tempat tidur!?"
Baekhyun terkejut. Pangeran lebih menakutkan dari kakak-kakaknya. Mata hijaunya menatap Pangeran.
"Aku akan pergi sebentar," kata Pangeran kemudian dengan nada tegas, ia mengancam, "Kalau engkau berani meninggalkan tempat tidur, aku akan menghukummu."
Baekhyun tersenyum. Ia merasa sudah tidak kuat lagi untuk membantah.
Pangeran mencari pelayan. "Panggil dokter," perintahnya ketika ia menemukan seorang pelayan.
Tanpa menanti jawaban pria itu, Pangeran segera kembali ke sisi Baekhyun . Pangeran mencemaskan Baekhyun.
Pangeran merasa bersalah. Karena ia memaksa membawa Baekhyun dalam udara sedingin ini, sakit Baekhyun semakin parah.
Baekhyun menyadari perasaan Pangeran itu.
"Keadaan saya seperti ini bukan karena Anda," kata Baekhyun menghibur, "Tetapi sudah seharusnya saya semakin parah. Kemarin saya menolong anak yang tergelincir di tepi sungai. Saya berhasil menyelamatkan anak itu tetapi saya terjatuh ke air sungai yang dingin."
Pangeran terkejut. "Engkau masih bisa tersenyum di saat seperti ini?"
Pangeran marah, "Bagaimana kalau engkau terkena paru-paru air!?"
"Menurut saya, itulah yang sedang terjadi pada saya," jawab Baekhyun sambil tersenyum.
"Ingin sekali aku menghukummu. Di saat aku merasa cemas seperti ini, engkau masih bisa tersenyum," geram Pangeran.
"Jangan terlalu kejam, Pangeran," goda Baekhyun , "Saya akan takut mendekati Anda bila Anda kejam pada saya."
Pangeran menggeram panjang.
Baekhyun tertawa.
Tiba-tiba Pangeran menjatuhkan diri di atas Baekhyun. Tangannya mencengkeram kuat kedua tangan Baekhyun .
Baekhyun terbatuk-batuk.
"Itu adalah hukuman karena mempermainkanku."
Baekhyun ingin membalas Pangeran tetapi batuknya tidak mau berhenti.
Pangeran cemas melihat Baekhyun. Ia menepuk-nepuk punggung Baekhyun hingga akhirnya batuk panjang itu berakhir.
"Jangan membuatku cemas, Baekhyun." Pangeran memeluk Baekhyun .
Wajah Baekhyun merah padam. Entah karena batuknya atau karena kepanikannya.
"Saya sudah membaik," kata Baekhyun malu-malu.
Pangeran membaringkan Baekhyun dengan hati-hati bagai membaringkan bayi di tempat tidur.
Baekhyun menatap langit-langit kamar lalu jendela yang tertutup tirai tebal. "Saya merasa telah tidur selama berabad-abad."
"Engkau tidur pulas seperti seekor babi kecil."
Baekhyun memasang wajah cemberut.
Pangeran tertawa geli. "Benar, engkau tidur seperti seekor babi kecil. Babi kecil yang cantik."
"Sepertinya Anda menyukai seekor babi," balas Baekhyun .
"Ya, aku mencintai babi kecil cantik ini," Pangeran berterus terang. Ia tidak dapat lagi menahan perasaannya lebih lama.
Baekhyun terpana. Wajahnya memerah. Ia tidak tahu Pangeran bersungguh-sungguh atau hanya menggodanya. Yang pasti Baekhyun tidak sedang serius.
Seseorang mengetuk pintu.
Pangeran pergi membuka pintu.
"Dokter sudah datang, Pangeran."
"Suruh dia masuk memeriksa Baekhyun," perintah Pangeran.
"Baik, Pangeran."
"Jangan bertingkah nakal," pesan Pangeran sambil tersenyum nakal lalu menghilang dari ruangan itu.
"Silakan masuk, Dokter. Pasien Anda telah menanti di tempat tidur."
"Permisi, Pangeran," dokter itu memasuki kamar Baekhyun bersama seorang pelayan wanita.
Pangeran menanti di depan kamar.
Tak lama kemudian dokter itu muncul kembali. "Tuan Puteri sepertinya sudah tahu ia sakit apa," katanya memuji, "Ia mengerti kedokteran."
"Bagaimana keadaannya?" tanya Pangeran.
"Penyakit biasa di musim dingin," jawab dokter itu. "Anda tahu bukan orang-orang di musim dingin selalu mudah sakit flu karena udara yang tidak enak ini. Dinginnya menyengat kulit tetapi panasnya sangat terik. Sudah banyak orang yang menemui saya karena sakit ini."
"Terima kasih, Dokter," potong Pangeran. Pangeran enggan mendengar ceramah dokter itu yang berbelit-belit. "Bisakah saya meminta obat untuk dia?"
"Tuan Puteri tahu obat apa yang diperlukannya. Tetapi sekarang ia sedang memegang resep saya," Dokter itu kembali berbelit-belit. "Resep saya itu sangat manjur. Saya yakin Tuan Puteri akan segera sembuh. Keampuhannya sudah…"
"Terima kasih," Pangeran memotong dengan kesal. Saat ini ia tidak membutuhkan ceramah dokter itu. "Mari saya antar ke depan."
Dokter itu terus berceramah hingga mereka tiba di depan pintu.
"Sekali lagi terima kasih atas kehadiran Anda, dokter."
"Saya senang dapat membantu. Bila keadaan Tuan Puteri tidak segera membaik, panggillah saya lagi."
"Tentu," kata Pangeran tetapi dalam hatinya ia berjanji untuk tidak memanggil dokter itu lagi.
Pangeran menanti hingga kereta kuda membawa pergi dokter itu kemudian kembali ke kamar Baekhyun.
Pelayan tengah menyuapi Baekhyun ketika Pangeran datang.
Baekhyun sangat gembira melihat kedatangan Pangeran. "Tanyalah pada Pangeran kalau Anda tidak percaya."
Pangeran tidak mengerti apa yang dibicarakan Baekhyun .
"Ia memaksa menyuapi saya," lapor Baekhyun , "Tolong katakan padanya bahwa saya bisa makan sendiri."
Pangeran tersenyum nakal. "Berikan padaku."
Pelayan itu memberikan piring itu pada Pangeran lalu mengundurkan diri dari ruangan.
"Terima kasih, Pangeran." Baekhyun mengulurkan tangannya.
"Buka mulutmu untuk menunjukkannya."
Baekhyun terbelalak.
Pangeran menyuapkan bubur panas itu ke dalam mulut Baekhyun .
"Saya merasa seperti seorang bayi lemah."
"Dan aku akan menjadi pengasuhmu sampai engkau sembuh."
"Saya sungguh merasa tidak enak pada Raja dan Ratu. Karena saya, Anda meninggalkan tugas-tugas kerajaan."
"Aku akan merasa sangat bersalah pada rakyat Evangellynn bila gadis yang mereka cintai ini tidak segera pulih."
"Saya tidaklah lebih penting dari Anda."
"Anda tidak menghargai bantuan saya?"
"Bukan maksud saya berkata seperti itu, tetapi saya sungguh merasa bersalah."
"Engkau tidak tahu bagaimana perasaanku sekarang ini," kata hati Pangeran sambil menatap Baekhyun . "Aku sungguh tak mengerti mengapa aku bisa berbohong seperti ini. Aku merasa serba salah tetapi aku masih bisa bersikap wajah seolah aku tak pernah berkata apa-apa."
"Pangeran," panggil Baekhyun cemas, "Apakah yang menjadi ganjalan hati Anda? Maukah Anda mengatakannya padaku?"
Pangeran menatap Baekhyun . "Tentu," jawab Pangeran, "Aku sedih karena engkau tidak mau makan."
Baekhyun menatap Pangeran. Ia tahu bukan itu yang dipikirkan Pangeran.
Mungkinkah Pangeran merasa menyesal telah membawanya ke sini? Bukankah Pangeran melakukan ini semua karena tidak ingin kehilangan orang yang sangat penting bagi rakyatnya?
.
.
.
Baekhyun tidak tahu tetapi ia cukup senang berada di tempat ini.
Udara tempat ini sangat segar. Seperti kata Pangeran, tempat ini cocok untuk memulihkan kesehatannya.
Pagi hari Baekhyun bisa merasakan udara yang dingin hangat memasuki kamarnya. Siang hari tidak ada sinar matahari yang sangat menyengat dan angin dingin yang menyayat.
Hujan salju turun dengan deras kadang-kadang turun di siang hari, kadang di malam hari. Setiap pagi, Baekhyun dapat melihat tumpukan salju tebal yang menutupi taman.
Pangeran sungguh keras padanya. Jauh lebih keras dari kakak-kakaknya dan orang tuanya.
Sedikitpun Baekhyun tidak boleh meninggalkan tempat tidur. Pangeran selalu mengawasinya saat makan. Pangeran tidak membiarkan Baekhyun meninggalkan sedikitpun makanan yang khusus dibuat untuknya. Setiap waktu minum obat, Pangeran tidak lupa untuk mengawasinya.
Baekhyun merasa seperti berada dalam penjara orang sakit tetapi ia tetap merasa gembira. Seperti kakak-kakaknya, Pangeran selalu menghiburnya sehingga ia tidak pernah merasa bosan di tempat tidur.
Selama berada di Ruethpool, Baekhyun merasa ia semakin membaik tetapi Pangeran tidak mengijinkan ia meninggalkan tempat tidur. Tidak juga untuk mengintip keluar jendela.
Jendela-jendela besar ruang tidurnya selalu tertutup rapat. Pagi hari pelayan membuka tirainya yang tebal tetapi di sore hari pelayan menutupnya rapat-rapat.
Di siang hari bila tidak sedang turun salju, Baekhyun dapat melihat gunung putih di kejauhan. Terlihat pula batang pohon yang tertutup salju putih.
Baekhyun ingin sekali bermain di luar tetapi pengawasnya sangat keras. Ia mudah naik pitam bila melihat Baekhyun tidak mau menurut.
Satu-satunya yang membuat Baekhyun tidak bosan berada di tempat tidur adalah Pangeran selalu menemaninya. Mereka berbicara banyak hal dan kadang saling menggoda. Baekhyun tidak dapat membayangkan betapa bosannya dia bila tidak ada orang yang menemaninya.
Kadang bila melihat keluar jendela, Baekhyun merasa rindu pada orang-orang di luar sana. Baekhyun merasa sangat terkurung selama dua hari ini. Baekhyun ingin menemui penduduk Pienlang, dan banyak tempat lain.
Seperti Baekhyun, mereka pasti juga merindukannya.
Penduduk Herbranchts, tempat ia jatuh ke sungai pasti mencemaskannya karena tak melihatnya. Mereka pasti tengah mencarinya ke mana-mana.
Hari itu Baekhyun menolong anak yang tergelincir di tepi sungai. Ia berhasil menolong anak itu tetapi ketika ia akan naik ke atas, ia tergelincir dan jatuh ke atas permukaan es yang tipis itu. Seketika es tipis itu retak dan pecah.
Anak-anak itu segera memanggil orang-orang desa.
Untuk beberapa saat, Baekhyun tidak dapat bernafas. Air dingin itu menghentikan jalannya udara ke paru-parunya. Baekhyun merasa seluruh tubuhnya membeku. Dalam keadaan seperti itu, Baekhyun tidak mau berdiam diri.
Ia berusaha keluar dari air itu.
Tak lama kemudian orang-orang datang untuk mengeluarkannya dari tempat itu. Mereka membawanya ke sebuah rumah kecil dan menghangatkan tubuhnya.
Seorang dari mereka menawarkan bantuan untuk mengantarnya pulang, tetapi Baekhyun menolaknya sebab ia datang dengan kuda. Walaupun cemas, orang-orang itu membiarkannya pulang sendiri.
Sekarang, mereka pasti tengah mencemaskannya. Baekhyun merasa bersalah pada mereka. Tetapi bila mereka mengetahui siapa dirinya, Baekhyunlah yang akan kerepotan.
Setelah penduduk mengetahui bahwa ia adalah putri bungsu keluarga Kim Horthrouth yang terkenal itu, para pria yang mengejarnya pasti akan mengetahui keberadaannya. Para pria itu kemudian akan menarik perhatiannya dengan ikut dalam perbuatan Baekhyun.
Baekhyun tidak mau orang lain berbuat amal hanya karena untuk mendapatkan perhatiannya. Baekhyun tidak senang.
Kepada saudara-saudaranya sendiri, Baekhyun tidak pernah mau mengatakan ke mana ia akan pergi. Bukan karena ia tidak mempercayai mereka, tetapi karena ia mencemaskan sifat Luhan yang bila berbicara maka segala hal akan dikatakannya termasuk hal yang tidak boleh dikatakannya.
Demi menjaga ketenangan hidupnya dari pria-pria yang mengejar cintanya, Baekhyun tidak mau memberitahu orang tuanya ke mana ia pergi.
Keluarganya telah memahami dirinya dan mereka tidak pernah mempermasalahkannya walau ia jarang pulang.
Bunga api perapian meloncat-loncat dengan riang. Tawa kayu menghiasi kamar yang sunyi.
Baekhyun memandangi perapian yang tidak pernah padam sejak ia memasuki kamar ini.
"Apa yang kau lamunkan?"
Baekhyun terkejut.
Pangeran tersenyum. "Apa yang sedang kaupikirkan?"
"Saya memikirkan Sehun."
Kegembiraan Pangeran seketika hilang. Kecemburuan kembali menghantui perasaannya.
Selama dua hari ini Pangeran merasa bahagia bisa bersama-sama Baekhyun tanpa gangguan, tetapi rupanya gadis itu tidak bisa melupakan pria itu.
Pangeran cemburu. Sehun sungguh beruntung bisa mendapatkan cinta gadis ini.
"Seharusnya sekarang ia dan Luhan sedang berbahagia," kata Baekhyun setengah melamun. Baekhyun menengadah memandang langit-langit.
"Saya ingin mengetahui keadaan mereka."
Pangeran menatap Baekhyun . "Sebenarnya apa yang sedang kaukatakan?"
"Sehun dan Luhan."
Baekhyun merasa perlu menjelaskannya pada Pangeran. "Sejak dulu Sehun mencintai Luhan tetapi ia tidak mempunyai cukup keberanian untuk mengatakannya. Sehun sungguh aneh. Ia mencintai Luhan tetapi mendekati saya. Ia membujuk saya untuk mengatakannya pada Luhan tetapi saya menolaknya."
"Luhan juga sama anehnya. Ia mencintai Luhan tetapi selalu mempertemukan saya dengan Sehun. Saya menjadi serba salah pada mereka. Tetapi seharusnya sekarang semua telah berakhir."
Pandangan Baekhyun melembut. "Saya telah memaksa Sehun mengatakannya pada Luhan sebelum Anda membawa saya ke sini. Tentunya sekarang kedua orang itu sedang berbahagia."
Pangeran tidak mempercayai cerita Baekhyun.
"Mereka sedang berbahagia tetapi saya bersedih."
Pangeran menjadi kecewa. Ternyata ia benar, Baekhyun mencintai Sehun.
"Saya merasa terkurung di tempat ini."
"Engkau belum cukup sehat untuk meninggalkan tempat tidur," Pangeran berusaha menyembunyikan kekecewaannya.
"Saya merasa sudah sembuh."
"Aku akan percaya setelah mendengar dokter yang mengatakannya."
"Panggilah dokter itu, biarlah ia yang mengatakannya pada Anda agar Anda percaya pada saya."
"Tidak," sahut Pangeran, "Aku tidak menyukai dokter cerewet itu. Ia terlalu berbelit-belit. Aku lebih setuju untuk memanggil Suho."
"Benarkah itu?" Baekhyun tersenyum gembira. "Oh, saya sudah sangat merindukannya. Saya merasa seperti dikurung selama berabad-abad di tempat ini."
Pangeran sedih. Baekhyun tidak merasakan keberadaannya di sisinya.
"Besok aku akan menyuruh pelayan menjemput Suho."
Baekhyun heran melihat kesedihan Pangeran. "Apakah yang merisaukan hati Anda, Pangeran?" tanyanya penuh perhatian, "Apakah Paduka Ratu marah karena Anda meninggalkan Istana tanpa pamit? Atau Paduka Raja marah karena Anda meninggalkan tugas-tugas kerajaan?"
"Maafkan saya. Saya telah membawa banyak masalah untuk Anda."
"Tidak apa-apa," Pangeran mencoba tersenyum.
Baekhyun sedih melihat Pangeran murung. Ia mendekatkan wajahnya.
Tangannya menyentuh wajah Pangeran. "Apakah yang menjadi kerisauan Anda? Beritahulah saya."
Pangeran memeluk Baekhyun .
"Pangeran."
"Panggil saja Chanyeol."
"Chan..Chanyeol?"
.
TBC~
.
Yap, aku ngaret lagi dari jadwal yang biasanya. Kemarin aku ada tugas. Maaf yaaa. Huhu~~
Masih ada dua episode lagi. Atau mau aku jadiin satu aja biar chapter depan adalah chapter terakhir? Bagaimana menurut kalian?
Aku memang mengakui kalo diawal memang ceritanya membosankan tapi karena penasaran aku sampe selesai baca ga sampe beberapa jam lohhh muehehe.
Sudah denger lagu chen kan? Aku suka bangettt wkwk. Aku udah cover juga di smule. Join juseeyoo^^
Thankyou for read and review.
See you in last chapter?;ppp
