"Di mana ini…?"

Levi bertanya dalam hatinya. Berdiri di bawah birunya langit. Terdiam di tengah ladang bunga Dandelion kuning cerah yang juga ditumbuhi beberapa bunga matahari muda.

Berjalan pelan dengan kaki yang tak beralas, Levi menemukan sesosok lain yang berada pada tempat yang sama dengannya. Tidak jauh dari posisi pertama kali ia berdiri.

" Heh? Siapa tuh? Jangan-jangan bukan orang lagi-"

(Eeyyy, Levi jangan suudzon dulu dong…)

Perlahan tapi pasti, ia dekati sedikit demi sedikit 'sosok' tersebut. Sebelum sempat menghampiri dan memanggilnya, 'sosok' tersebut menoleh kearah Levi. Tanpa diberi aba-aba, 'ia' langsung berlari dengan tangan yang terentang lebar.

Sesosok-laki-laki? ...Mungkin tepatnya anak laki-laki? Dengan senyum yang sangat manis terlukis di wajahnya. Sayangnya, Levi tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas karena poni rambutnya yang errr….cokelat? menutupi sebagian wajahnya.

Tangan yang sebelumnya terentang bebas di udara kini melingkar di pinggang Levi.

"Levi-saa…"

Angin lembut berhembus menerbangkan bunga Dandelion beserta helai-helai mahkota kuningnya. Levi yang mendapat pelukan tiba-tiba mulai kehilangan keseimbangan tubuhnya…

.


.

.

:- The Eyes of Summer -:

by Yuu . Kanacchi

Shingeki no Kyojin © Hajime Isayama

Warnings : Typo(s), OOC-ness, EYD not found :v, Semi plot-less, Humor ringan sebagai pemanis~ ;)), BL, ShoAi, Levi x Eren (RivaEre/Riren)

Enjoy! (•̀ᴗ•́)و

.

- Chapter 2: Pertemuan -

.

.


BBRRRUUUUKKKKKK!

.

"Ugh, sialan. Apa-apaan in…."

Mengelus punggungnya yang sakit akibat terjatuh dari kasur. Levi Ackerman, pemuda asal kota Trost yang 'berlibur' ke desa Shigansina. Mulai hari ini akan bekerja selama beberapa hari kedepan di tempat pamannya.

Jam di kamarnya menunjukkan pukul 04:05 dini hari. Levi yang terbangun dari bobok cantiknya baru saja akan menarik selimut dan kembali berlayar ke pulau kapuk, tapi….

Geraknya terhenti setelah melihat 'tonjolan' aneh di bawah selimutnya yang tidak salah lagi, berbentuk menyerupai manusia.

Kaget sih, banget malah. Dengan tangan terkepal erat dan hati yang jengkel karena terbangun dan terjatuh akibat lahan tempat tidurnya yang habis terpakai oleh orang yang berada dibawah selimut . Levi bersikap waspada dan bersiap-siap untuk menghadiahkan "Pukulan Pukul 4" kepada sang tersangka.

Selimut disibak dengan cepat. Tangan Levi yang terkepal erat diarahkan tepat ke orang tersebut.

Harusnya sih, begitu.

"Uuhhnng…nyem..nyem-"

"Hah?"

Tangan yang sudah setengah jalan terhenti. Levi tidak menyangka dengan apa yang ia lihat sekarang.

Seorang anak laki-laki brunette tertidur pulas dengan wajah yang menggemaskan. Levi tidak habis pikir. Siapa, mengapa, dan kenapa bocah ini bisa-bisanya tidur dengan tenang di tempat tidur yang jelas-jelas bukan miliknya?

(Halah, nanti juga kamu kepengen dia seranjang dengan mu, Lev…. *uhuk*)

-abaikan kalimat di atas…

Entah kerasukan atau hasrat apa yang membuat Levi ingin mencoba menyibak poni kecoklatan si bocah. Pelan-pelan, ia dekatkan telapak tangannya dan…

"YOOO LEVIIII! BANGUN DAN BERSIAPLAH UNTUK SARAPAAN!" terdengar suara yang tidak lain adalah suara Kenny yang berteriak sekencang toa dari luar kamar untuk membangunkan si pemuda.

"WAAAAAKKH?!"

JJDDUUUUUKKKKKK!

"AAAKKHH!"

.

.

.

-Cip…..cip…cip

.

"Selamat pagi, Levi! Selamat pagi…Eren?"

Di ruang makan sederhana yang didominasi perabot dari kayu, terlihat Bibi yang sedang menyiapkan nasi dan Mikasa yang sedang menyusun piring di atas meja makan beralaskan taplak motif plaid hijau-putih.

Mikasa yang awalnya cuek-cuek saja, langsung menghampiri bocah yang bernama Eren dengan tampang khawatir bak seorang ibu. Levi melihat kelakuan mereka berdua dari seberang meja makan.

"Eren? Apa yang terjadi padamu?" Mikasa bertambah cemas setelah melihat kondisi Eren yang dahinya terlihat kemerahan dan sedikit benjol.

"Cukup, Mikasa! Aku tidak apa-apa! Aku bukan anak kecil ataupun adikmu!" ujar Eren seraya menepis tangan Mikasa yang memegang bahunya.

Mikasa menoleh sejenak kearah Levi. Manik Mikasa menatap Levi dengan tatapan yang mengintimidasi, lalu kembali ke Eren.

"Levi…Sebenarnya apa yang terjadi dengan Eren?" Tanya bibi yang sedang mengeringkan sebuah gelas.

"Tch, si bocah sialan bernama Eren itu dengan entengnya tidur di kamarku, apa itu tidak cukup sebagai alasan?" jawab Levi risih sambil melihat adegan drama-like Mikasa dan Eren.

Bibi pun terdiam sejenak, lalu tersenyum simpul, "Aah…Eren ya?" ia melirik sebentar ke arah Eren dan Mikasa yang saling adu 'debat'.

"Dia…bisa dibilang teman akrab Mikasa. Saking akrabnya, seringkali Eren bermain bahkan menginap di sini. Ketika ditanya apa alasannya, jawabannya selalu beragam dan unik"

Tertawa kecil sebentar, ia lalu melanjutkan. "Aku maupun Carla tidak keberatan akan ini. Kurasa Mikasa juga senang, karena ia hanya memiliki Eren sebagai salah satu sahabat baiknya. Sikap Mikasa yang seringkali meremehkan orang lain membuatnya tidak memiliki banyak teman…"

Saat itu juga, Levi teringat dengan sikap Mikasa saat pertama kali bertemu dengannya.

"Wajar saja kalau si Bandana Merah itu tidak punya banyak teman-"

"Hei, sudah…sudah. Mikasa, Eren, duduklah. Sarapan sudah siap," lerai sang Bibi usai bercerita kepada Levi.

Nasi hangat yang disajikan bersama omelet dan tumis sayur hasil kebun sendiri akan menjadi sumber energi untuk hari ini.

"Kemana si Paman Topi Jerami?" tanya Levi seusai meneguk tehnya.

" Kenny? Dia sudah pergi ke ladang sedari tadi," jawab Bibi seraya merapikan piring.

"Hoo.." Levi hanya menjawab singkat.

"A…ano.."

Suara Eren yang pelan kayak angin lewat menginterupsi acara makan Levi. Levi yakin 100% Eren bermaksud untuk memanggilnya karena ingin mengatakan sesuatu. Terlihat jelas dari gesture Eren yang menatap Levi takut-takut seraya menunduk, 'aku-mau-bilang-sesuatu-tapi-aku-takut'.

"Levi"

"Oh!, uumm… Levi-san. Soal tadi pagi, maafkan aku…"

"OHOK!-OHOOKKK!" Mikasa tiba-tiba tersedak nasi yang sedang dikunyahnya.

"EREN! APA YANG SEBENARNYA TADI PAGI KAU LAKUKAN DENGAN ORANG KURANG KALSIUM INI!?" Mikasa mengguncang-guncang tubuh Eren yang duduk bersisian dengannya.

"Eemm…se-sebenarnya, semalam aku menginap lagi di sini untuk mengerjakan PR sambil nonton Sh*ng*k* Ch**g*kk** setelahnya. Ta-tapi aku lupa kalau mulai hari itu ada Levi-san yang akan menginap," Eren menjawab takut-takut.

"Ketika aku ke kamar yang biasa kupakai menginap, lampunya sudah dimatikan. Saat mencoba menghidupkan lampu, tidak sengaja aku tersandung sebuah tas berisi buku yang akhirnya tercecer kemana-mana. Karena penasaran, kucoba membacanya dengan lampu meja di dekatku…lalu ketiduran di atas kasur"

"Hoo… pantas saja di atas kasur ku penuh buku berserakkan, untung saja buku-buku pelajaran ku yang berharga tidak sampai lecek." Levi menjawab dengan sinis, membuat nyali bocah yang duduk di hadapanya ciut.

"Ma..maaf, aku tidak bermaksud begi…"

"Diamlah, bocah. Aku sudah tau alasanmu. Jangan mengulangi hal ini lagi, atau kutambah jumlah benjol di kepala mu."

"Eeehhh!? Ba…baik!"

Mikasa bernafas lega, tetapi ia tetap tidak terima dengan sikap Levi terhadap Eren. Bibi hanya terseyum dengan kelakuan mereka bertiga. "Sepertinya mereka akan cepat akrab-"

.

.

-o0o-

.

"Heh… apa tidak ada acara TV yang bagus kali ini?"

Jam di ruang tengah menunjukkan pukul 5 sore. Hari pertama Levi bekerja di ladang dan kebun berjalan cukup baik, walaupun ia merasa sebal karena pulang dalam keadaan mandi keringat yang tentu sangat menjijikkan baginya.

Seusai mandi dan makan malam, Levi menonton TV sambil sambil membolak-balikkan halaman dari sebuah buku yang ia bawa dari rumah. Kebetulan, Mikasa dan orangtuanya juga sedang tidak ada di rumah.

"Levi-san? Kau sedang apa?" tanya Eren yang tiba-tiba muncul di samping Levi.

"Apa kau tidak bisa melihat aku sedang apa?" jawab Levi bete.

"Eh? bu-bukan, maksud ku…itu..." Eren langsung gelagapan saat Levi menjawab dengan nada yang tidak senang.

"Kau mau apa, bocah?" Levi membalikkan badan kearah Eren. Ditatapnya Eren dengan intens.

"Heh?"

Eren menatap balik ke arahnya dengan ketakutan setengah mati. Dan bertambah jelaslah 'sesuatu' yang menyebabkan sang pemuda mengunci pandangannya kepada bocah tersebut.

Kedua bola mata Eren yang sangat indah. Sebelumnya, Levi tidak dapat melihatnya dengan jelas karena Eren yang menghindari untuk bertatap muka dengan Levi seharian ini (karena trauma sih).

Dua buah permata yang berkilau indah, dengan gradasi warna antara warna dominan hijau teal dengan sedikit warna biru di bagian atas dan kuning amber di bagian bawah. Terlihat sangat cocok dengan….

"Musim panas" Levi tiba-tiba keceplosan.

"Musim panas? Levi-san ada apa dengan mu?" Eren bingung. Diguncangnya lengan Levi dengan pelan.

Levi segera tersadar dari lamunannya. Dengan muka yang (tetap) datar, ia bertanya lagi dengan Eren.

"Apa maksudmu menemuiku di sini?"

"Huaaampir saja terlupa! Begini, kemarin aku sempat membaca buku…uhm…ah ya! ensiklopedia bunga milik Levi-san, kemarin baru sempat baca sedikit karena ketiduran, boleh aku pinjam?"

Diam sejenak. Levi mengangkat tangan kanannya yang sedang memegang sebuah buku yang cukup tebal.

"Maksudmu, buku ini?"

"Ya! Itu dia! Boleh kupinjam? Kubaca di sini kok!" Eren menjawab dengan penuh semangat seperti anjing yang diajak tuannya jalan-jalan. Tidak sabar untuk membuka lembaran buku tersebut.

"Hm."

"Uaaahh! Terima kasih, Levi-san!"

"Tch, dasar bocah," gumam Levi. Eren dengan perasaan yang sangat senang mulai membaca buku tersebut dengan senyuman yang saaaangat manis terlukis di wajahnya. Levi memerhatikannya yang sedang sibuk membaca kata demi kata yang tertulis disana.

"Levi-san suka bunga?" sebuah pertanyaan singkat dikeluarkan oleh Eren.

"Lumayan. Ibuku sangat suka bunga. Ia senang menanam dan merawat bunga yang ada di halaman belakang rumah kami. Seringkali ia memberitahuku hal-hal tentang bunga dan kadang meminta bantuanku untuk merawatnya. Kenapa kau tiba-tiba bertanya?"

"Aku juga suka bunga. Bunga favoritku salah satunya bunga matahari, dandelion, krisan dan..banyak lagi! Ibuku juga sangat suka bunga. Ia juga menanam beberapa tangkai bunga matahari di dekat rumah. Aku penasaran apakah Levi-san juga suka bunga karena ada ensiklopedia bunga di tumpukan bukumu."

"Dasar bocah penguntit." Levi menjitak kepala Eren.

"Ughh…Levi-san!"

"Apa? Jangan berisik bocah"

Malam itu dihabiskan oleh mereka berdua dengan bercengkrama tentang bunga-bunga indah yang dijelaskan di dalam buku bersampul cantik tersebut. Tidak lupa jeweran dan jitakan coretpenuhcintacoret dari Levi yang mendarat cantik ke Eren.

Sayangnya, mereka tidak berduaan saja di ruang itu….

"LE-VI-SAN!"

Apakah yang akan dilakukan si gadis oriental terhadap pemuda tinggi dibawah standar?

.

.

.

l- To Be Continue -l


a/n ~(°v°~)

AHAHAHAHAHAAAAAAAHAHAHAAAAAAA SORI TELAT APDET, AUTHOR DIKEJAR DEDLEN TUGAS YANG MINTA DISELESEIN AKIBAT SERING PROCASTINATE SIH, HAHAHAHAHAHAA/plakk

Oke oke, maaf, selain alasan di atas^^^ author juga lagi kena WB akut…. jadiii maaf kalo gak sesuai harapan…

Tapi, author usahain yang terbaik agar fic ini tetap lanjut! /yeaah!

Untuk kimhyunsun58, Nanaho Haruka, Hikaru Rikou, dan RaFa LLight S.N yang nagih Eren ama Author. Nih, Eren hadir dengan membawa fanservice yang kyun-kyun untuk kalian semuaaa~ /tebar plushie eren ke readers (Btw, makasih banyak udah mau ninggalin review di sini /cries)

Untuk Silent Readers juga, terima kasih sebanyak-banyaknya mau menyempatkan waktu untuk membaca fic ini! Tanpa kalian semua, mungkin fic ini hanya bakalan jadi butiran kutu….

Kalau ada saran atau mau ngasih tambahan ide ataupun pengen fangirlingan, mampir aja ke review! pasti author baca kok! *kedip*

Oke dehh, sekian dari author. Tunggu kelanjutannya, oke!

-Yuu . Kanacchi