5. Gift For You

Surai pirang nya bergoyang sedikit karena hembusan angin yang masuk melalui jendela yang tertutup tirai transparannya. Bau yang sedap dan wangi mampir ke lubang hidung si pemilik yang masih saja menutup matanya. Rasa sakit kepala yang kemarin di alaminya kini muncul lagi. Tangan kanan si pirang mengetuk-ngetuk kecil kepalanya sendiri. Berharap sakitnya akan menghilang atau setidaknya berkurang.

Mata nya terbuka perlahan, iris shappirenya mengedar untuk melihat kondisi sekitar. Kepalanya di tengokan ke samping, ia melihat semangkuk bubur, segelas air dan beberapa obat. Kesadarannya mulai pulih setelah beberapa menit ia terdiam.

"Sepertinya aku pingsan lagi semalam," ditegakkannya tubuh si pirang dan memilih untuk bersandar dengan alas sebuah bantal. Nampan bubur yang ada di sampingnya sungguh menarik perhatian Naruto. Setelah diperhatikan lebih dekat ada kertas kecil yang di tindih oleh mangkuk buburnya. 'apa ini?' ia bertanya dalam hati. Tak sabar untuk membukanya, Naruto tanpa basa-basi mengambil dan membukanya.

'Naruto-kun, makanlah bubur ini sampai habis. Dan jangan lupa minum obatnya. Kau tak boleh kemana-mana jika demam mu belum turun. Minami'

Diletakkan nya kertas itu, Naruto memakannya hingga habis. Lalu meminum obatnya. Jam di nakasnya menunjukkan pukul 10. 'Selama itu kah aku tertidur.' pikirnya. Naruto beranjak dari tempat tidurnya dan memilih untuk turun ke lantai bawah. Seperti biasa, rumahnya selalu sepi. Inilah kenapa yang membuat Naruto bosan di rumah. Ya, lebih baik diluar rumah, ia bisa bertemu teman-temannya.

Hari ini, hari kedua setelah insiden pernyataan cinta itu. Naruto lupa bahwa harusnya tiap pagi ia mengirimkan bunga lili ungu untuk Hinata. Diacak-acak surai pirangnya itu, merasa kesal karena di saat seperti ini ia harus sakit. Naruto ingat, kemarin Shikamaru bilang, bahwa perempuan itu sangat suka hadiah, jadi sering-seringlah berilah kejutan kepada Hinata. Begitulah katanya.

Karena Naruto sakit, ia yakin Minami akan memberi tahu wali kelas dan Shikamaru bahwa ia tak masuk sekolah hari ini. Tapi, bukannya istirahat. Naruto lebih memilih untuk bersiap-siap mandi dan pergi mencari sesuatu yang akan diberikan kepada Hinata.

Kaos dengan dibalut kemeja diluarnya dengan celana jeans yang pas membuatnya terlihat sangat santai, bahkan Naruto sama sekali tidak terlihat sakit. Naruto lebih memilih untuk memakai topi nya, jaga-jaga jika ada siswa sekolahnya yang tahu ia tidak masuk sekolah tapi malah jalan-jalan santai di luar.

-0-

"Ternyata hari ini tidak ada bunga seperti kemarin ya," celetuk Sakura mengabaikan mood Hinata pagi ini. "Apa ia sudah bosan untuk mengejarmu." Lanjut Sakura berniat meledek Hinata dan membuatnya moodnya hancur lagi. "Jangan ganggu aku hari ini Sakura." Wajah Sakura cemberut, ia hanya berniat bercanda. Hinata sangat serius membaca buku sejarahnya sejak tadi. "Sebenarnya apa yang kau baca sih Hinata sejak tadi." Sakura menghampiri Hinata dan mengambil buku kecil yang ada di balik buku sejarahnya. Ternyata sebenarnya bukan buku sejarah yang ia baca.

"Bagaimana menghadapi teman masa kecil orang yang kau sukai?" Sakura tertawa terbahak-bahak setelah membaca judulnya. Rasanya air mata ingin keluar di ujung matanya. Sakura lagi-lagi mengabaikan wajah Hinata yang cemberut. "Kenapa kau tertawa Sakura? Memang ada yang salah?" begitu polos wajah Hinata menjawab tawaan Sakura.

"Kau sangat lucu, Hinata. Untuk apa kau membeli buku seperti ini? Ternyata kau tidak menyerah pada Naruto ya, kau tak mau kalah dengan Minami." Sebenarnya Hinata juga malu untuk membeli buku itu, karena saat ia membayar ke kasir pun, si kasir juga sedikit menahan tawa saat melihat judul buku nya. Tapi Hinata mengabaikannya. Ia sudah bingung sejak kemarin, bagaimana sebenarnya harus menghadapi Minami.

"Kau tak membutuhkan buku ini Hinata," Sakura memasukkannya ke dalam tas, bermaksud menyita buku tak pentingnya Hinata itu. "Hadapilah Minami dengan alami, tak perlu aturan ini itu, itu juga dapat melatih membuatmu menjadi dewasa" lagi-lagi cemberut. Jika Sakura sudah berbicara seperti itu, Hinata hanya bisa diam dan tak mood untuk menjawabnya lagi.

-0-

Hinata tak ingin mendengar ocehan panjang lebar nya Sakura di kelas, jadi ia memilih untuk mencari cemilan ke kantin. Baru saja ia keluar kelas, Minami ada di hadapannya. "Ketua, aku sudah menyelesaikan manga untuk lomba. Aku sudah meletakkannya di ruang klub." Hinata hanya mengangguk. Hinata merasa mungkin ia terlalu berlebihan Minami saja sangat bersikap biasa dengan nya. Tak ada hal yang aneh yang sering ia lihat di acara dorama yang selalu ia tonton.

"Baiklah aku akan mengeceknya nanti." Hinata menyunggingkan senyum dan melewati Minami. "Etto.. satu lagi Ketua. Naruto hari ini tidak masuk, ia sakit mendadak, semalam ia demam dan jatuh pingsan." Hinata tersentak, ia berpikir kenapa Minami memberitaunya. Kali ini Hinata berpikir dua kali, mungkin Minami adalah orang yang baik. "Oh begitu, baiklah terimakasih sudah memberi tau ku. Oh ya satu lagi bisakah kau memanggilku Hinata saja" Minami yang kali ini menyunggingkan senyumnya dan meninggalkan Hinata.

Langkah nya terhenti saat melihat Shikamaru sedang duduk sendirian di kantin. Hinata menghampirinya dengan membawa susu kotak dan roti manis di tangannya. "Shikamaru, kenapa kau sendiri?" Shikamaru menoleh mendengar suara lembut si rambut indigo. "Ya, hari ini Naruto sakit. Apa kau sudah tau?" Hinata bilang ia sudah tau dari Minami. Sebenarnya Shikamaru agak bingung, kenapa ia bisa tau dari Minami. Bagaimana sebenarnya hubungan dua orang yang memperebutkan teman nya ini? Terkadang Shikamaru tidak mengerti jalan pikiran perempuan.

"Apa kau berniat menjenguknya nanti Hinata?" Hinata menggeleng, ia tak ingin bertemu Naruto dulu saat ini. Karena ia tau, besok adalah penentuan apakah ia bisa terus bersama Naruto atau tidak. "Tidak, aku tak ingin mengganggunya dulu. Lagi pula aku yakin besok dia sudah masuk sekolah." Shikamaru tak ingin ambil pusing dengan jawaban Hinata. Seperti biasa ia tak ingin memikirkannya karena hanya akan merepotkan. Teng teng teng.. bel istirahat berakhir. Mereka memilih kembali ke kelas bersama.

-0-

Di lain tempat, Naruto sedang duduk di sebuah kafe. Memesan secangkir latte untuk menenangkan pikirannya. Mungkin jika di lihat dari jauh, Naruto tidak tampak seperti seorang siswa SMA. Ia lebih terlihat seperti seorang mahasiswa atau seorang anak band yang sedang memikirkan untuk membuat lagu baru. Naruto sangat kesal, bahkan kekesalannya membuatnya menghabiskan latte itu dalam sekali teguk. Mau tidak mau Naruto memesannya lagi.

Sudah beberapa jam, dan sudah beberapa toko yang ia masuki. Naruto belum menemukan barang yang cocok untuk Hinata. Mungkin, karena perasaannya yang cuek terhadap apapun membuatnya bingung sendiri. Ia tak pernah mendengarkan teman-temannya bercerita mengenai hal yang disukai perempuan. Kini ia hanya bingung sendiri.

Ponsel nya hanya diputar sana-sini. Sudah 15 menit ia duduk tapi belum mendapatkan pencerahan. Akhirnya tak ada pilihan lain, ia menelepon Shikamaru.

Drrtt…Drrtt… Ponsel di kantung Shikamaru bergetar berkali-kali. Ini hanya membuat jengkel si rambut nanas. Ia tak bisa konsentrasi untuk mendengarkan penjelasan gurunya. Berkali-kali sejak tadi, semakin diabaikan, Shikamaru semakin kesal. Mau tak mau Shikamaru mengangkat tangan untuk izin ke kamar mandi kepada gurunya.

Di lorong arah kamar mandi, ia mengeluarkan ponselnya dan mengecek, siapa orang kurang kerjaan yang menjahilinya siang-siang begini? Ternyata terpampang nama Naruto. 8 panggilan tidak terjawab. 'Apa-apaan anak ini? Mengganggu waktu belajarku saja, bahkan sedang sakitpun bisa merepotkanku juga' pikirnya dalam hati.

Tak lama ponselnya kembali bergetar, tak perlu hitungan menit, Shikamaru mengangkat panggilannya. "APA!" orang yang diseberang telpon terkekeh dan hanya bisa cengar-cengir yang tak bisa dilihat lawan bicaranya.

"Bisakah kau bicara pelan sedikit Shikamaru? Jangan marah begitu." Ucap Naruto dengan pelannya.

"Bagaimana aku tidak marah? Kau meneleponku saat jam pelajaran Asuma-sensei!" masih dengan nada marahnya Shikamaru. "Jadi, apa yang ingin kau bicarakan sampai-sampai menggangguku saat jam pelajaran." Lanjutnya masih dengan nada kesal.

"Begini, dengarkan aku. Kau tau kan hari ini aku tidak masuk, aku memutuskan untuk mengikuti saranmu yang kemarin. Jadi walaupun aku sakit, aku pergi mencari kado untuk Hinata. Kira-kira kado apa ya yang harus ku beli?" diseberang telpon, Shikamaru mencoba untuk menahan amarahnya. Kekesalannya kali ini, memukul dinding yang ada di depannya saja rasanya tidak akan cukup. "Kau menggangguku di jam pelajaran hanya untuk menanyakan pertanyaan tak penting mu itu? Lebih baik kau putuskan saja sendiri." Tut tut tut.. ternyata Shikamaru memutus telponnya. "Shikamaru temeee... bisa-bisanya ia menutup telponku." Naruto mulai menggerutu sendiri.

Sedangkan perempat jalan tergambar di kening Shikamaru, kaki nya di hentakan masuk ke dalam kelas. Asuma-sensei sampai berhenti saat menjelaskan di depan kelas.

Setelah menyeruput latte terakhirnya, akhirnya Naruto memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya mencari kado yang pas untuk wanita pujaannya. Iseng melewati toko buku, Naruto masuk ke dalam melihat jejeran buku rapi yang masih di sampul di tiap raknya. Matanya mengedar, Naruto berhenti didepan salah satu rak. Tulisan 'Novel' pada rak itu menarik perhatian Naruto.

Akhirnya, Naruto memutuskan kado yang pas untuk Hinata adalah Novel pilihannya. Cukup lama ia memilih, bahkan saking selektif nya, Naruto tiga kali mengitari rak novel tersebut. Naruto memutuskan mengambil salah satu novel dengan cover pasangan yang sedang duduk di bukit sambil melihat banyak nya bintang di langit, sang pria menunjukkan jarinya ke arah langit. Di langit Nampak ada bintang jatuh diantara ribuan bintang yang kelap-kelip. Judul novel tersebut adalah "Kupastikan kau menjadi bintang masa depanku".

"Kurasa aku akan memberinya ini." Akhirnya setelah seharian berkeliling. Sebuah buku dengan cover yang cantik ini lah yang di pilihnya. Novel tersebut tak lupa di sampul sedemikian rupa. Pita ungu menghias di ujung nya.

Langit berubah kehitaman, sore yang cukup dingin. Naruto memilih untuk mempercepat langkah. Ia tak ingin dirinya kehujanan dan besoknya tak masuk sekolah. Cukup hari ini saja. Karena Naruto sangat yakin besok adalah hari keberuntungannya. Sebelum memberikan kepada Hinata, Naruto mampir ke sebuah toko bunga. Sebenarnya ini adalah toko bunga langganannya.

"Permisi.." toko bunga yang mempunyai nama Shizune florist ini cukup sepi, tidak seperti biasanya. "Ah Naruto... sudah lama kau tidak datang kesini." Shizune si pelayan memberikan senyuman kepada Naruto. "Kemarin, aku baru saja kesini. Tapi saat itu kau tidak ada." Si pelayan hanya menjawab oh begitu dan menanyakan Naruto bunga apa yang ia butuhkan.

"Tolong 1 buket lili ungu ya," pinta Naruto. "Tolong buat karangan yang bagus ya, dan pitanya gunakan warna putih ya." Lanjutnya lagi. Setelah beberapa menit, bunga tersebut sudah siap. Naruto membayarnya dan pamit.

Naruto harus cepat-cepat mengantarkan barang-barang ini sebelum Hinata pulang. Ia tidak ingin bertemu Hinata dulu, Naruto ingin memberinya kejutan.

-0-

Sebelum pulang, Hinata harus mampir ke ruang klub terlebih dahulu. Ia harus mengecek hasil karya teman-temannya untuk disertakan di lomba bulan depan. Pintu bergeser, ternyata saat Hinata masuk ada Minami sedang duduk sendirian. "Minami, kau belum pulang?" Hinata berbasa-basi tak ingin terlihat canggung. "Ah iya belum, tadi ada bagian yang kulupa. Jadi aku kesini lagi untuk memperbaikinya." Hinata hanya menjawab oh begitu dan suasana sepi lagi.

Minami juga tak ingin keadaan seperti ini, jadi Minami mengambil inisiatif untuk membuka obrolan. "Apa kau akan menjenguk Naruto hari ini?" Hinata yang sedang mengecek pekerjaan teman-temannya itu berhenti sejenak. "Ah tidak, aku yakin Naruto besok pasti masuk." Tak lupa untuk tersenyum, Hinata bertanya lagi kenapa Naruto bisa sakit lagi. Minami menceritakan semua kejadiannya dengan detail. "... kurasa mungkin karena dia kelelahan jadi demamnya kambuh, sampai-sampai saat menciumku ia mengira itu adalah kau."

Hinata kaget, apa maksudnya dengan ciuman. Minami sedikit merasa menang, atau mungkin sedikit merasa bersalah juga. Minami sebenarnya tak ingin mempunyai musuh di sekolah ini. Ia juga melihat Hinata adalah perempuan yang sangat baik dan juga lembut. "Benarkah dia menciummu Minami?" tentu saja Minami bingung bagaimana menjelaskannya. Sebenarnya saat Naruto mengigau tentang dirinya yang dikira Hinata, dari situ Minami sudah menyerah terhadap Naruto. Jadi, ia ingin mengklarifikasi tentang masalah ini.

"Ehm,,, mungkin ini tidak seperti yang ada di pikiranmu Hinata. Ia salah mengira aku adalah kau. Lagi pula ini hanya kejadian yang tak sengaja." Minami berusaha sebaik mungkin agar Hinata tidak salah paham. Tapi, Hinata hanya diam dan meninggalkan ruangan begitu saja. Minami tak tau harus berbuat apa. Ia merunduk keluar ruangan.

Perasaan bersalah kini merasuki dirinya. Minami adalah orang yang pengertian. Cukup cepat menyerahkan orang yang sudah lama dicintainya dengan begitu lapang. Mungkin tidak bisa di bilang lapang, karena jika Naruto sedang bersama Hinata, rasa cemburu itu masih ada.

Bulir air keluar di ujung matanya. "Lagi-lagi kau menangis, apa tidak bosan?" walaupun poni panjang nya menutupi matanya, tapi Shikamaru bisa melihatnya. "Shikamaru apa yang kau lakukan?" Shikamaru hanya tertawa dan menjawab, "Tentu saja berjalan pulang kerumah, apa lagi?" Minami tak menanggapinya lagi.

Shikamaru berbicara panjang lebar untuk menghibur Minami yang intinya jangan di pikirkan lagi, karena jika di pikirkan kau akan stress. Minami menatap tajam Shikamaru, "Aku benci kau," Shikamaru terbelalak ada apa ini tiba-tiba saja bicara begitu. "Aku benci kau, kenapa kau selalu tau saat aku sedih dan menangis?" Minami melanjutkan tangisnya lagi. "Orang ku cintai, tak mencintaiku. Dan aku melukai orang yang mencintai Naruto." Minami sedikit terseguk. Shikamaru mengusap kepala Minami, "Tak apa, masih banyak orang lain. Kau itu cantik, kau bisa mencari pria yang lebih tampan dari Naruto."

"Jika aku memilihmu, apa kau akan mengatakan iya?" lagi-lagi di buatnya terkejut. Shikamaru hanya bisa berkata, "EEEEHHH?"

-0-

Rintik hujan sudah mulai turun, untung saja Naruto sudah sampai rumah. Tapi, Minami belum tampak. Naruto pergi mandi dan mencari sesuatu yang bisa ia makan di kulkas. Cklek! Pintu terbuka, Naruto berpikir itu pasti Minami. Dan benar saja, Minami muncul dengan senyum yang sumringah.

"Naruto, apa kau sudah baik-baik saja?" Naruto hanya mengangguk. Minami meninggalkan Naruto dan langsung pergi ke kamar setelah mendapat jawaban.

Di lain tempat, Hinata sampai ke rumah dengan baju sedikit basah. Buru-buru ia lari ke kamar untuk mengganti baju. Tapi apa yang dilihat pertama kali saat memasuki kamar? Ya sebuah kado dan karangan bunga lili ungu yang cantik. Di situ terdapat sepucuk surat yang diselipkan.

'besok kutunggu di taman belakang sekolah untuk mendengar jawabanmu'

Hinata senyum-senyum sendiri, ini pasti dari Naruto, pikirnya. Dibukanya sampul kado ternyata sebuah Novel keluaran terbaru yangbelum ia miliki. "Hey Hinata-nee tadi ada bingkisan dari pria pirang." Teriak Hanabi dari luar kamar. Hinata menjawabnya, aku sudah melihatnya.

-0-

Lagi-lagi Naruto tak bisa memejamkan matanya. Sudah berapa kali ia tak bisa tidur karena Hinata. Di kepalanya terus berputar apa yang akan terjadi besok. Naruto sudah senyum-senyum sendiri memikirkannya. Memikirkan jawaban paling positif yang ada di kepalanya.

"Yosshh... baiklah aku sudah siap untuk besok!" setelah menyemangati dirinya sendiri ia mencoba untuk tidur. Drrt…Drtt… Baru saja ingin tidur, ponsel Naruto bergetar. Nama Hinata terpapar di layarnya. Dibukanya isi pesan.

"Jangan terlalu berharap untuk besok, karena aku masih belum yakin terhadap dirimu dan lagi ada yang ingin ku tanyakan secara langsung padamu masalah Minami. –Hinata-"

Pikiran senang itu hilang mendadak. "Apa lagi sih yang di lakukan Minami?" gerutunya.