6. Failure
Hari ini cuaca sangat cerah, si pirang merasa hari ini adalah hari kemenangannya. Cucacanya pagi ini seperti mengikuti suasana hatinya. Gumaman atau senandung kecil terdengar dari mulut rapatnya si pirang. Jarang sekali Naruto berada di depan cermin untuk menyisir rambutnya. Ini adalah hari ketiga dimana Hinata akan memberikan jawabannya. Naruto ingin tampil setampan mungkin di depan Hinata untuk hari ini.
"Ah ternyata jika dilihat aku cukup tampan." Pujian untuk dirinya sendiri dilontarkan dari mulutnya. Jika saja Shikamaru mendengar hal ini, mungkin pukulan kecil akan didaratkan di kepalanya yang kuning, atau bahkan ledekan seperti berpura-pura muntah misalnya.
Minami yang sudah ada di meja makan pagi ini juga merasa heran melihat Naruto yang lebih ceria dari biasanya. "Pagi, Minami. Apa semalam kau tidur nyenyak?" Bahkan Minami sampai mengerutkan keningnya. Apa yang terjadi dengan nya semalam. Minami hanya mengangguk sambil menggigit ujung lembar rotinya.
"Baiklah aku akan berangkat. Aku duluan ya Minami." Naruto hanya meneguk susu di depannya dengan cepat dan mengambil selembar roti untuk di jepit di mulutnya. Naruto bergegas tanpa mendengar jawaban dari Minami.
Di perjalanan ke sekolah pun, Naruto masih saja bersenandung kecil. Jalan yang biasa dilalui nya ia lewati. Karena seperti biasa, ia harus melewati jalan memutar untuk sekedar membeli bunga lili yang akan di berikannya kepada Hinata.
Sekitar 10 menit kemudian, Naruto harus menelan rasa kecewanya karena toko dengan papan nama Shizune Florist itu tak menampakkan adanya bunga yang di pajang. Tidak salah lagi, kata 'Closed' tertera di depan pintunya. Naruto menundukkan wajahnya merasa agak kesal. Apa pagi-pagi begini ia harus mendapat sial?
"Tidak apa, aku akan mencari yang lainnya." Tak patah semangat, senyuman dikeluarkannya lagi dari bibir pinknya. Sebenarnya apa yang membuat Naruto sampai seperti ini. Jelas sekali, ini berbeda dari dirinya yang biasa. Baiklah kita lihat beberapa jam sebelumnya.
Pukul 05.00 pagi.
Naruto masih berada di alam mimpi, sepertinya ia memiliki mimpi yang indah. Terlihat dari wajahnya yang berseri walaupun masih tidur. Tapi sebuah getaran merusak mimpi indahnya. Drrt.. Drrt..
'Temui aku jam 8 pagi sebelum kelas dimulai di kebun belakang sekolah. Aku tak ingin kau terlambat. –Hinata-'
Naruto yang membacanya langsung terlonjak. Saking kegirangan ia memecahkan gelas yang berada di nakas samping tempat tidurnya. Padahal tak ada satu katapun dalam pesan Hinata yang mengatakan ia telah menerimanya. Tapi, Naruto menganggap ini pertanda baik. Tak perlu menunggu ia bergegas ke kamar mandi.
-0-
Naruto masih saja melompat kegirangan memasuki gerbang sekolah. Pluk! Ternyata Shikamaru yang menepuknya dari belakang. "Sepertinya kau sangat senang hari ini." Ucap Shikamaru santai. Sepertinya ia tahu kenapa Naruto bisa seperti ini. "Benar sekali. Kau benar sekali Shika…" Shikamaru memicing. "Sejak kapan kau memanggilku Shika. Sangat menjijikan dipanggil begitu olehmu."
"Biarlah Shika, kau tak bisa lihat temanmu sedang sangat senang. Bahkan aku mencari lili ungu ini kearah yang berlawanan dari sekolah tadi." Ucap Naruto panjang lebar. Ia ingin orang lain tau perjuangannya.
"Yang benar saja. Hanya untuk Hinata kau melakukan itu. Kau memang gila Naruto."
"Untuk wanita tercintaku kenapa tidak?" ucapnya sambil itu Naruto berlari meninggalkan Shikamaru sambil berteriak, 'Doakan aku sukses Shika.' Shikamaru yang mendengar namanya dipanggil begitu oleh Naruto tetap saja membuatnya merinding.
Naruto sudah menyiapkan cukup banyak hadiah untuk Hinata hari ini. Ia ingin hari pertama menjadi pacar Hinata, semuanya harus sempurna. Saat Naruto ke kebun belakang sekolah ternyata belum ada siapapun disana. Memang belum tepat jam 8. Kurang 15 menit lagi untuk tepat pada waktunya. Naruto masih saja bersenandung riang. Ia menunggu nya, duduk di sebuah bangku dibawah pohon yang besar. Kira-kira bisa dihitung tiap 2 menit sekali ia melihat pakaian nya apakah sudah rapi. Atau apakah rambutnya terlihat berantakan. Atau mungkin ada yang terlupa untuk di bawa.
Tuk tuk tuk.. suara langkah menghampiri Naruto. Ternyata Hinata dengan elegannya mendatangi Naruto. Tak perlu disuruh, Naruto dengan sigap berdiri di depan Hinata. Kedatangannya di sambut dengan sebuket lili ungu. Hinata terlihat sedikit bersemu karena hadiah pertama yang di terimanya itu.
"Aku sudah siap dengan jawabanmu." Lagi-lagi ia tersenyum lebar. Sebenarnya Hinata tak ingin merusak suasana ini. "Etto.. Naruto ada yang ingin ku tanyakan padamu." Ucap Hinata lembut. Masih dengan senyumnya yang lebar, senandung kecil pun masih terdengar dari bibirnya. Naruto mengangguk senang dan berkata 'apapun akan ku jawab. Tanya saja.' Ya itu lah katanya.
"Apa benar kau telah mencium Minami?" Naruto terlonjak. Senandung kecilnya hilang. Senyumnya berubah menjadi kebingungan. Ada apa tiba-tiba Hinata bertanya seperti itu. Naruto tak mengerti maksud dari perkataan Hinata. "Apa maksudmu Hinata?" Naruto cemberut dengan wajah penuh meminta penjelasan apa maksudnya ini. "Ku ulangi, apa kau telah mencium Minami?"
"Tidak. Jika memang itu benar. Ketika umurku 7 tahun Minami yang pernah menciumku. Dan aku tak menghitung itu sebagai ciuman." Ucapnya dengan wajah memelas. Naruto tak ingin hanya karena masalah ciuman yang sudah terlewat begitu lama menghancurkan hubungannya.
"Cukup, aku tau kau berbohong Naruto." Hinata meninggalkannya sendirian tanpa memberi Naruto waktu untuk bicara. "Ada apa ini sebenarnyaaaaaa? Apakah aku melakukan kesalahan? Tunggu, tadi dia bilang tentang ciuman dengan Minami. Mungkin aku harus menanyakan padanya." Naruto masih bertanya-tanya apa yang sebenarnya baru terjadi.
Naruto berjalan ke kelas dengan wajah cemberut, dan tubuh yang lemas. Padahal ia sudah menyiapkan coklat dan sebagainya. Setelah sampai kelas, tepat sekali bel berbunyi. Shikamaru yang melihat dari jauh begitu bingung ada apa dengannya. "Hey, apa jawabannya?" Naruto tak menjawab dan hanya melempar coklat yang di pegang nya ke Shikamaru. Shikamaru terlonjak. "Ada apa ini? Kau tak berniat menyatakan cinta padaku kan Naruto?"
Naruto terbakar emosi, "Apa kau sudah gila? Aku masih normal Nara Shikamaru!" Shikamaru tak mengerti perasaan bahagia yang meluap bagai sungai yang melebihi batas normal ketinggian, yang ia lihat tadi pagi, kini sirna. Di gantikan perasaan marah terbakar emosi yang tak bisa di padamkan. "Cukup, duduk semua kita akan mulai pelajaran."
Selama pelajaran, Naruto terlihat sangat diam, bahkan diam di pelajaran kesukaannya. Shikamaru pikir ia harus mengintrogasinya, sebenarnya apa yang terjadi pada sahabatnya ini.
Bel pulang berbunyi, Naruto tak ditemukan dimana-mana. Ia menghilang, mungkin langsung pulang, pikir Shikamaru. Shikamaru tak mempunyai kesempatan untuk menanyainya. "Baiklah mungkin besok akan ku tanya." Tapi, rencana Shikamaru tak terlaksana, karena sudah seminggu Naruto tidak masuk sekolah. Ponselnya di telpon pun, tak diangkat oleh pemiliknya. Rumahnya tak ingin di datangi siapapun. Naruto hilang bagai di telan bumi.
-0-
Di sisi lain, Hinata merasa bersalah. Sepertinya ia terlalu berlebihan terhadap Naruto. Sejak saat itu pun, Hinata belum bicara lagi dengan Minami, bahkan untuk membicarakan masalah lomba yang akan klub nya ikuti, ia harus memiliki perantara. Semua anggota klubnya seakan tau ia sedikit memiliki masalah dengan Minami. Minami pun merasa ada yang salah dengan dirinya. Jadi bisa disimpulkan mereka ini tak ingin bicara satu sama lain.
Shikamaru, yang sering sekali bertemu Hinata di kantin selalu menanyakan, apa yang terjadi pada hari dimana ia harus memberi jawaban. Tapi, Hinata lebih memilih bungkam. Hinata akan mengalihkan pembicaraan setiap Shikamaru menanyai itu.
Hari ke-8, Shikamaru dan Hinata kembali dari kantin. Saat menaiki tangga dekat kelasnya, banyak anak kelas 2 yang berbisik. "Hey, apa kau tau kak Uzumaki Naruto membuat blog tentang kehidupannya."
"Ya aku tau, memang banyak yang membicarakannya. Aku yakin walaupun ia mengganti nama tokohnya. Itu pasti cerita tentang kehidupan pribadinya."
"Sepertinya kak Naruto sedang depresi ya, terlihat sekali dari tulisan-tulisan nya seperti putus asa dan ingin bunuh diri saja. Kira-kira apa ya yang membuatnya begitu."
Hinata dan Shikamaru pun yang mendengarnya saling pandang. "Hey, Hinata apa kau tau dia punya blog?" Hinata hanya menggeleng. Setelah mendengar jawaban Hinata, Shikamaru tak ingin ambil pusing dan lebih memilih untuk pergi ke kelas secepatnya.
"AAH, ADA APA DENGAN MEREKA SEMUA SEBENARNYA, SEMUANYA MEMBUATKU PUSING!" Tiba-tiba Shikamaru marah-marah tak jelas. Seisi kelas pun memperhatikannya.
-0-
Sepulang sekolah Shikamaru berinisiatif untuk membuat janji dengan Minami. Mereka bertemu di pinggir sungai dekat sekolah. "Ada apa memanggilku kesini, Shikamaru?"
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Naruto?" Tanya Shikamaru to the point. Minami tak mengerti. Ia juga tak tau apa yang terjadi pada Naruto sebenarnya. "Aku tak mengetahui apa pun, sudah seminggu ini kita tak saling bicara di rumah. Bahkan ia tak ingin melihatku. Ia selalu mengurung diri di kamarnya." Shikamaru terdiam, ia berpikir sejenak, kira-kira apa kemungkinan yang bisa saja terjadi dengan mereka.
"Apa kau tau Naruto baru saja membuat blog?" Tanya Shikamaru lagi pada Minami. "Ya, aku juga baru tau kemarin dari adik kelas yang dekat dengan ku. Dia salah satu orang yang mengagumi Naruto. Jadi dia tau hal semacam itu."
"Apa kau sudah membaca isinya?" Tanya Shikamaru lagi tanpa ekspresi. Minami menggeleng. "Aku belum sempat mengeceknya karena tugasku sangat menumpuk sejak kemarin. Sebenarnya ada apa ini? Kenapa seakan-akan kau menyalahkanku."
"Aku tak menyalahkanmu, hanya saja ada kemungkinannya ini berhubungan dengan mu." Ucapnya tak ingin menghakimi. "Ah memang ada hal yang aneh dari Naruto." Minami sedikit mengganggu saat Shikamaru sedang berpikir. Tapi antusiasnya luar biasa setelah nya. Shikamaru bertanya dengan antusias apa itu.
"Seminggu yang lalu, saat aku pulang sekolah, aku melihatnya sedang duduk di ruang tamu. Aku menyapanya, setidaknya bagaimana dengan sekolahmu. Tapi tiba-tiba saja, semua majalah yang ada di meja di depannya di lempar tak tentu arah bahkan hampir saja mengenai wajahku. Ia berteriak-teriak, 'INI SALAHMU, SEMUA SALAHMU. APA KAU TAK BISA MELIHATKU BAHAGIA?' begitu katanya. Saat kutanya kenapa. Ia hanya melarikan diri ke dalam kamar." Cerita Minami panjang lebar. "Aku sangat ketakutan saat itu, karena wajah Naruto sangat menyeramkan."
"Jadi begitu.." jawab Shikamaru singkat. "Lalu saat keesokannya ku tanya apa salahku, ia hanya diam dan mengabaikanku."
"Baiklah, terimakasih. Mungkin akan lebih jelas jika Hinata mau cerita." Shikamaru mengucapkan selamat tinggal kepada Minami. Dan pergi ke rumah Sakura. "Permisi, apa Sakura nya ada?" ibunya menjawab ada dan sedang memanggilnya. Ternyata saat Shikamaru datang, ada Sasuke juga sedang disana.
"Sakura, ada yang ingin ku tanyakan padamu." Sakura tau apa yang ingin di tanyakan Shikamaru. Jadi sebelum pertanyaan nya di ajukan Sakura lebih memilih untuk menjawabnya lebih dulu. "Hinata tak pernah cerita apapun tentang Naruto padaku sejak seminggu lalu. Ternyata Shikamaru juga tak mendapat informasi dari ini. Dan ia lebih memilih pamit untuk pulang.
-0-
Keesokan harinya, Minami berlari-lari menghampiri Shikamaru. Mereka memang sudah membuat janji sejak semalam. Karena Naruto yang tak kunjung masuk sekolah, ia sering berkomunikasi lewat e-mail dengan Minami untuk mengetahui keadaan Naruto.
"Huh, huh, huh, Shi.. Ka.. Ma.. ru.." Minami mencoba untuk mengatur nafasnya. "Ada apa? Kau bilang ada hal penting."
"Kurasa aku tau ada apa degan Naruto." Mata Shikamaru membelalak dan bertanya apakah benar. "Aku agak lupa kapan itu terjadi tapi yang jelas belum lama ini. Saat itu Naruto pulang dalam keadaan mabuk. Aku tak mengerti kenapa ia bisa seperti itu. Dan ia tiba-tiba saja menciumku dan berkata, 'Hinata, Hinata' begitu."
"Apa? Ia mencium mu? Dasar si Naruto itu memang sudah gila terhadap Hinata. Lalu?"
"Lalu, aku tak sengaja keceplosan di depan Hinata. Ah sedikit kesengajaan memang. Ku yakin ini salah paham. Mereka salah paham terhadapku. Padahal sejak saat itu aku sudah memutuskan untuk melepaskan Naruto. Aku harus membenarkan keadaan ini. Bantu aku Shikamaru." Shikamaru menjentikkan jarinya dan berkata dengan lega 'ternyata begitu cerita sebenarnya. Ini semua masuk akal'
"Aku akan membantumu, aku tak ingin melihat Naruto si bodoh itu tak masuk sekolah terus. Apa benar kau telah melepaskannya?" Minami mengangguk secara pasti dan meyakinkan Shikamaru. "Karena sudah ada orang lain yang kucintai." Shikamaru tak ingin terlalu menanggapi.
"oh begitu." Ucap Shikamaru singkat.
"Ya, karena aku telah jatuh hati padamu, Shikamaru." Shikamaru membelalakan matanya. Tak percaya, bagaimana bisa Minami menyatakan cintanya pada saat seperti ini. "A-apa maksudmu?" Shikamaru agak tergagap. Ini terlalu mendadak baginya. "Apa kau ingin menjadi kekasihku Shikamaru?" Ucap Minami sambil menunduk. Shikamaru berpikir agak lama.
"Mungkin, kita bisa mencobanya." Jawab Shikamaru sedikit tersipu malu. "Benarkah?" Shikamaru mengangguk. Minami menghambur ke pelukan Shikamaru. Shikamaru agak bersemu, karena ia juga merasa malu, sore itu banyak orang lewat yang melihatnya di pinggir sungai. "Yosh, Baiklah kita harus memikirkan cara untuk menyatukan mereka kembali. Aku yakin mereka saling mencintai."
"Kau begitu bersemangat Minami." Minami menyunggingkan senyumnya. "Em, Karena aku yakin jika melakukannya dengan mu. Pasti bisa"
-0-
Hinata mulai gusar. Sudah seminggu lebih Naruto tidak masuk. Lagi-lagi perasaan bersalah menyerangnya. Ponsel nya ia ambil, ingin di tekannya tombol bergambar gagang telpon dengan kontak Naruto. Tapi lagi-lagi ia meletakannya lagi. Ia belum bisa berbicara kepada Naruto. Hinata pun tak menyangka bahwa Naruto adalah sosok yang begitu rapuh.
Hinata mengambil ponselnya lagi. Bukan untuk menelepon tapi untuk membuka sebuah laman yang akhir-akhir ini di bicarakan kalangan gadis anak kelas 2 sekolahnya. Blog milik Naruto.
Setelah dilihat, memang benar ini ciri khas tulisan Naruto.
Bagaimana bisa dalam 3 hari yang kubuat bersusah payah. Karena kata-kata yang tak ku ketahui asalnya dari mana. Hubungan kita menjadi hancur begitu saja. Jika memang aku pernah melakukannya, aku pasti akan mengakuinya. Tapi… aku tak mengetahui apapun tentang hal yang ia katakan. Kehilangannya begitu berdampak besar bagiku. Bisakah aku menghilang dari dunia ini. Atau bisakah aku bereinkarnasi untuk menemui dirinya di dunia yang tak sama.
Hinata terkaget melihatnya. Ini benar-benar cerita tentang mereka berdua. "Tunggu, apa Naruto berusaha untuk bunuh diri?" Hinata menggeleng. "Tidak mungkin, ini hanya bualannya saja. Pasti. Tak mungkin, ia begitu ceria. Tak mungkin sikapnya berubah 360 derajat seperti ini." Perasaan bersalah lagi-lagi menghantuinya.
-0-
Kriiing-kriiiing… "Halo, Minami disini."
"Halo, Minami. Ini Hinata. Bisakah aku menanyakan mengenai keadaan Naruto. Apakah ia baik-baik saja?"
"Ah Hinata. Sampai saat ini, Naruto memang makan tidak teratur. Dan aku sering mendengarnya teriak-teriak tak jelas dikamar."
"Apa sebegitu parahnya?"
"Kurasa begitu, sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian?"
"Ah, itu.. Minami, bisakah aku meminta tolong kepadamu untuk menjaga Naruto untuk dua hari ini?"
"Akan kuusahakan."
"Aku ingin menemuinya, tapi aku harus menyiapkan mentalku terlebih dahulu."
Ini adalah salah satu cobaan yang cukup sulit untuk Hinata. Ia tak malu atau canggung lagi untuk meminta tolong pada Minami. Ia sudah tak peduli. Yang ia pikirkan kini adalah kesehatan Naruto.
"Minami, Tolong kau pastikan Naruto makan dengan cukup dan istirahat dengan cukup."
"Baiklah, Ketua." Di putusnya sambungan telpon itu. "Apa yang harus kulakukan sekarang. Aku tak ingin terjadi apa-apa padanya." Hinata masih tak bisa tenang. "Mungkin besok aku harus bertanya kepada Shikamaru atau Sakura."
Hinata memilih untuk tidur dan menghilangkan pikiran cemasnya untuk sementara.
-0-
"Shikamaru.. ada yang ingin ku bicarakan denganmu." Shikamaru menjawab dengan tenang. "Aku sudah tau Hinata. Aku tau dari Minami. Tenanglah, aku sudah mempunyai rencana untuk membuat Naruto kembali ke sekolah." Mata Hinata terlihat sedikit berbinar.
"Hinata, ada apa?" Tiba-tiba Minami datang dari belakang. Ia membawa bekal untuk di beri ke Shikamaru. Hinata menggenggam tangan Minami. "Bagaimana keadaan Naruto, Minami?" Minami berusaha untuk membuat Hinata tenang. "Tenanglah, ia masih belum melakukan hal yang berbahaya. Tadi pagi aku juga sudah menaruh sarapan di depan kamarnya."
"Tunggu, kenapa kau membawakan bekal untuk Shikamaru?" Keduanya tersenyum dan tersipu malu. Mereka tak menjawab. "Itu tak penting, yang penting adalah rencana untuk membuat Naruto kembali sekolah." Hinata langsung melupakannya dan mendengar perkataan Shikamaru. "Ah benar. Jadi bagaimana? Apa yang akan kau lakukan, Shikamaru?"
Notes :
Maaf sekali, updatenya sangat sangat sangat lama. Karena terkena WB dan sudah banyak tugas kuliah juga. Sekali lagi aku minta maaf. Akan kuusahakan update berkala dengan cepat. Mungkin sedikit saran dari kalian bisa membuatku sedikit bersemangat xD aku masih gatau ini finish sampe chapter berapa karena jalan ceritanya masih berbayang bayang di satu lagi, ini ga sempet aku baca ulang jadi kalo ada yang salah maklumi saja yaa Hehe.
Akhir kata,
Love you reader hehe
