7. Naruto

Naruto POV

Hari itu, aku tak ingin mengingatnya. Sungguh tak ingin. Mungkin ini terdengar terlalu berlebihan. Banyak orang yang mengatakan bahwa stress atau bahkan bunuh diri karena cinta adalah hal yang konyol. Bahkan aku menyetujuinya. Tapi, aku sungguh tak percaya. Sekarang ini aku tak sependapat dengan orang-orang yang pernah mengatakan hal itu. Aku mengatakan itu sangat wajar. Wajar, jika kau patah hati, mungkin bunuh diri salah satu cara yang tepat untuk melampiaskannya.

Saat aku SMP, karena aku pernah menjadi salah satu orang yang diidolakan, semua wanita mendekatiku. Teman-temanku bertanya bagaimana rasanya mencintai seseorang atau bahkan berpacaran dengan salah satu gadis di kelas sebelah. Padahal aku tak pernah merasakannya. Tragis, saat aku mengenal cinta. Rasanya cinta adalah kata yang tak ingin ku dengar lagi.

Hari dimana, ia menolakku. Dan mengatakan bahwa aku membohonginya. Aku tak mengerti semua itu. Aku tak mengerti cerita seperti apa yang sudah di setting dan aku mendapatkan hal yang tak menyenangkan ini. Selama aku mengenalnya, aku selalu memberikan seluruh milikku secara tulus. Aku pun merasa bahwa ia juga begitu. Tapi ada apa ini? "Cukup, aku tau kau berbohong Naruto." Apakah kata-kata itu yang pantas untukku. Memang apa yang sudah kulakukan padanya, hingga ia dengan yakinnya mengatakan itu.

Aku tak bisa mengendalikan emosiku. Sesampainya di kelas, bahkan wajah sahabatku tak ingin ku lihat. Akal ku hilang ketika dengan seenaknya Hinata meninggalkanku secara sepihak tanpa aku mendapat penjelasan apapun. Coklat yang ku bawa, bahkan ku lempar ke arah Shikamaru yang hampir mengenai wajahnya. Entah kenapa aku sangat muak melihatnya. Hari itu aku ingin cepat-cepat pulang. Jadi, aku mengabaikan semua yang ada di sekelilingku dan melesat pulang ketika bel berbunyi.

Aku tau ini menyiksa diri, tapi aku tak peduli. Aku hanya ingin melakukan semua ini. Sesampainya di rumah pun, mungkin jika di kamarku terlalu banyak barang bisa lebih berantakan dari ini. Untung saja, kamarku cukup lengang dengan hanya beberapa barang penting. Bingkai foto, piala yang pernah ku dapat atau apapun itu ku lempar sembarang arah. Tak peduli apa akan ada yang pecah atau tidak.

Aku sengaja mengurung diri, saat ini aku tak ingin menemui siapapun. Lampu kamar pun tak ingin ku nyalakan. "Apa yang telah kulakukan Hinata, hingga membuatmu begitu?" aku tak kuasa menahan tangis. Walau kamar ini gelap, aku tak ingin memperlihatkan pada siapapun bahwa Naruto Uzumaki ini sedang menangis. Tak jarang aku melamun. Tak tau apa yang sedang di pikirkan.

Sore itu, aku mencoba untuk keluar kamar dan duduk di ruang tamu beberapa saat untuk melihat pemandangan yang berbeda. Tapi, tiba-tiba saja pintu depan terbuka dan menampakkan wajah yang ku kenal. Ya Minami. Wajahnya sangat polos saat itu. Ia melihatku dan bertanya, "Bagaimana dengan sekolahmu hari ini Naruto?" ia terlihat bahagia hari ini. Senyumnya sangat lebar.

Dan lagi-lagi aku muak melihat mukanya yang merasa tak bersalah apa pun. Tak menjawab pertanyaan nya, Aku melempar beberapa majalah di hadapanku secara acak, aku tak peduli itu akan mengenainya atau tidak. "INI SALAHMU, SEMUA SALAHMU. APA KAU TAK BISA MELIHATKU BAHAGIA?" aku teriak sekencang-kencangnya agar ia sadar apa kesalahannya. Tapi, wajahnya berkaca dan terlihat ketakutan. "Kenapa Naruto? Ada apa denganmu? Apa aku berbuat salah?"

SHIT! Jika aku terus berhadapan dengannya bisa-bisa emosi ku meledak. Aku tak menginginkan sesuatu yang buruk terjadi seperti aku memukulnya hingga gegar otak atau semacamnya. Jadi aku memilih untuk mengurung diri di kamar.

Saat kembali ke kamar, ruangan yang semula bersih dengan dominasi warna putih. Kini sudah berantakan tak berupa. Aku melihat ponsel berharap Hinata menghubungiku. Tapi, Nihil. Ternyata Hinata memang tak menyukaiku. Semua pesan yang ada di ponselku bernama Shikamaru menanyakan apa yang terjadi denganku. Dan aku tak ingin membahasnya jadi aku mengabaikannya.

3 hari berlalu, aku tetap seperti ini. Keadaan kamarku jauh lebih berantakan. Pesan-pesan di ponselku juga bagai spam tak berguna yang datang setiap harinya. Mereka hanya menanyakan ada apa? Mulai dari penggemarku di sekolah, guru-guruku dan Shikamaru. Aku tak tertarik untuk membalasnya. Selama 3 hari ini, aku sudah mengabaikan Minami. Tapi, setiap pagi dan malam ia selalu menaruh makanan di depan kamarku. Mungkin aku harus berterimakasih suatu saat nanti.

Rasa kecewa ku masih menghinggap, aku ingin menyudahinya. Tapi ia tetap tak mau pergi. Aku tak bisa pergi keluar rumah. Dan memang tak ingin. Aku tak ingin berinteraksi dengan orang dulu. Tapi aku harus menghilangkan kebosananku. Bisa-bisa bukan hanya mati karena rasa kecewa tapi juga karena rasa bosan juga. Akhirnya aku berinisiatif mengambil laptopku dan mulai menulis. Sebenarnya banyak kata-kata tak berguna yang menghiasi barisnya tapi aku tak ingin repot-repot mengeditnya bagai ingin mengikuti kompetisi nasional.

Akhirnya, tanpa sadar aku membuat sebuah blog untuk melampiaskan semua perasaan ku. Kagetnya postingan pertamaku, sudah banyak yang berkomentar. Aku membuat sebuah cerita dengan plot kehidupanku dengan nama yang berbeda.

"Kak Naruto, apa ini tentang kehidupanmu?"

"Kak Naruto, kenapa kau tak masuk sekolah, kami merindukanmu."

"Naruto, ada apa denganmu?"

"Hey apa ini tentang perasaan mu?"

"sepertinya kau baru saja di tolak ya, hahaha."

Sedikit banyak komentarnya banyak yang menjengkelkan. Dan juga banyak yang mengkhawatirkanku ternyata. Ini adalah hari keempat, aku tak masuk sekolah dan aku hanya berkutat di kamar menjadi seorang blogger tak jelas menulis seperti tak punya harapan. Sudah empat hari berlalu, tak jarang juga aku sering bermimpi mengenai Hinata. Selama empat hari juga, Hinata tak menghubungiku. Bahkan walaupun aku tak masuk sekolah.

"HINATAAA.. ADA APA DENGANMU?" teriakku tak jelas. "Mengapa jadi seperti ini?" aku tau ini masih belum jelas. Aku tau aku belum menanyakannya pada Minami. Tapi entah kenapa aku sangat tidak ingin menemuinya. Pada akhirnya, aku hanya bisa berdiam diri di kamar. Dan berkutat dengan tulisan-tulisanku untuk ku posting di blog ku.

Hari kelima, banyak sekali bel rumah ku berbunyi. Saat dilihat, hanya Shikamaru dan aku tak ingin menemuinya. Memang ini sudah ke 3 kali Shikamaru kesini tapi aku tetap belum ingin menemuinya. Sampai hari ke 7, aku benar-benar tak berguna. Aku masih saja seperti ini. Benar-benar menyedihkan. Tapi kesedihanku kali ini mulai berkurang.

"Hey, Naruto. Apa kau ma uterus seperti ini. Menjadi pemuda tak berguna yang terus mengurung diri di kamar?" aku menepuk kedua pipiku dan mencoba menyemangati diriku sendiri. "Tidak, tidak aku tak boleh seperti ini terus. Aku harus bangkit. Aku harus buktikan pada Hinata aku tak bersalah. Aku harus buktikan tak ada yang salah dalam diriku." Yossh.. semangatku bangkit.

Pikiranku mulai jernih kembali. Aku turun dari tempat tidur. Sebelum nya laptop yang beberapa hari ini hanya aku 'sleep' kini ku matikan untuk membuatnya istirahat.

Wajah kusut ini ku basuh. Dan mencoba menyisir rambut yang tak pernah rapi ini. Aku berusaha untuk mulai membereskan kamarku. Pakaian kotor yang sudah ku tumpuk di pojok ruangan, ku taruh tempat cucian. Menjijikkan. Aku berpikir sejenak. "Mungkin jika Hinata melihat ini ia benar-benar tak ingin memilihku. Laki-laki macam apa aku ini." Pikirku agak terkekeh. Semua piala, ku bereskan di tempat semula. Butuh waktu beberapa jam merenung untuk bersikap biasa seperti ini setelah seminggu terlewat.

"Bodohnya dirimu Naruto. Bahkan foto kedua orang tua mu, kau lempar ke sembarang arah." Ucapku asal. Aku memang anak tak berguna. Akhirnya seharian ini, aku menghabiskan waktuku untuk membersihkan kamar. Pikiran ku tentang Hinata sedikit hilang. Sebagai gantinya, membereskan kamar sambil bernyanyi sekencangnya tak buruk juga. Jam di samping nakasku menunjukkan pukul 7 malam. "Tak ku sangka membereskan kamar butuh waktu selama ini."

Badan yang sudah lengket sungguh menjengkelkan. Mandi adalah pilihan terbaik, kupikir. Saat sudah tampak segar. Aku keluar kamar. Minami terlihat sedang makan malam. Tapi, ia segera menyudahinya dan pergi ke kamar setelah melihatku. Memang ia terlihat sedikit ketakutan. Mungki ia tak ingin melihatku membentaknya lagi dan melempar majalah kea rah wajahnya. Sebelum pergi ia mengatakan bahwa makanan sudah di siapkan. Aku menyantap makan malamku sendiri, sambil merenung sedikit.

"Aku belum siap untuk ke sekolah besok." ucapku sambil menggigit sumpit. "Lusa, aku akan masuk sekolah." Ku putuskan untuk masuk sekolah lusa. Selesai makan, aku kembali ke kamar. Dan memikirkan beberapa hal.

"Ada beberapa hal yang harus ku lakukan. Pertama, aku harus mendapat penjelasan dari Minami mengenai ciuman tak jelas asalnya itu. Kedua, aku harus memberikan penjelasan ke Hinata. Ah tunggu dulu aku harus bersikap biasa dulu terhadapnya aku tak ingin membuatnya tak nyaman ketika bersamaku.

"Ketiga, aku harus minta maaf pada Minami dan Shikamaru karena sudah membentak mereka." Aku mengucapkannya sambil menghitung jariku. "Ah satu lagi, aku harus mengerjakan tugas yang sudah tertinggal selama seminggu ini." Ah bodohnya diriku, kenapa bisa aku tak masuk sekolah hingga seminggu. Aku mengacak rambutku asal. "Baiklah lebih baik aku istirahat."

Keesokan harinya, karena aku tak bertemu Minami di pagi hari, jadi aku akan menemuinya sepulang sekolah. Aku harus menyusun kata-kata ku dengan benar. Sepulang sekolah, aku menunggunya di ruang tamu, persis seperti saat aku membentaknya. "Minami bisakah kita bicara sebentar?" ucapku dengan nada yang lembut. Minami menunduk sedikit ketakutan. Bahkan ia mengambil tempat duduk agak jauh dariku.

"Ada apa Naruto?" ucapnya gemetar. "Tenanglah sedikit, ada yang ingin ku tanyakan. Kemarin Hinata mengatakan bahwa kita berciuman? Kapan itu? Kenapa aku tak ingat?" Minami tiba-tiba mengangkat wajahnya. "Ah, aku sedikit lupa, mungkin beberapa minggu yang lalu. Kau pulang dalam keadaan mabuk. Dan saat kau melihatku kau menciumku dan meracau tak jelas memanggil nama Hinata."Jelas Minami singkat. "Benarkah?" jawabku kaget.

Minami hanya mengangguk. Aku menepukan tanganku dengan keras ke kening. "Bodohnya diriku, ada apa denganku?" Minami berkata ia juga kaget waktu itu. "Dan kau mengatakan ini ke Hinata?" Minami lagi-lagi mengangguk. "Kau benar-benar menghancurkan hidupku Minami." Jadi begini kesalahpahamannya. Aku baru mengerti. "Saat itu, aku masih mencintaimu dan berusaha untuk membuatnya cemburu. Tak ku sangka akibatnya akan seperti ini. Maafkan aku Naruto."

Terlihat Minami menyesali kesalahannya. "Sudahlah aku tak ingin mendengarnya." Aku mulai sakit kepala. Ya, kepala ku sedikit berdenyut. "Bisakah kau berhenti menyukaiku, Minami. Itu sangat merepotkan." Dengan cepat, ia menjawab bisa. Aku sempat kaget karena ia selalu menempel padaku. Dan kini ia berkata akan berhenti menyukaimu. "Aku sudah menemukan orang yang tepat dan itu bukan dirimu Naruto. Terimakasih selama ini telah menjagaku."

Aku sedikit lega. "Baguslah, jadi siapa orang itu?" Minami tak ingin menjawabnya, ia bilang aku tau orang yang tepat untuknya. Aku tak ingin memikirkannya. Jadi aku tak akan membahasnya lagi. "Mulai besok aku akan mulai sekolah lagi. Jadi kau tak perlu mengantar sarapan ke depan kamarku." Minami terlihat senang. Ia sedikit meloncat bahagia dan tersenyum lebar.

End POV

Minami pergi ke kamarnya dan mengambil ponselnya. Di seberang sana, cowo berambut nanas mengambil ponselnya karena bergetar. Nama Minami pun terpampang. Setelah diangkat suara tinggi Minami terdengar di seberang telepon.

"Shikaaaaaa… kau tau?"

"Ada apa Minami? Kau menelepon malam sekali."

"kau tau? Kau tau? Naruto.. Narutoo.."

"Jangan bercanda denganku. Ada apa dengan Naruto?"

Minami sedikit cemberut. Memang Shikamaru orang yang cukup dingin. Tapi itulah yang membuat Minami jatuh hati dengan Shikamaru.

"Naruto akan kembali sekolah besok. Tadi ia yang mengatakannya sendiri."

"Benarkah? Baguslah. Jadi kita tak harus menjalankan rencana kita."

"Ya, kalau begitu. Selamat tidur Shika sayang. Aku hanya ingin memberitau mu itu."

"Ah, baiklah. Sampai bertemu besok."

Akhirnya hari yang di tunggu datang. Naruto kembali ke kelas cukup ceria. Sepanjang koridor pun ia bercanda dengan para penggemar atau adik kelasnya. Seperti idol yang baru saja vakum, Naruto di tanyai berbagai macam pertanyaan. Dan ia hanya akan menjawab dengan cengiran.

"Yo Shikaa,,,," Cukup senang untuk melihatnya kembali sekolah. Tapi panggilan Shika tetap saja membuat jengkel jika Naruto yang harus memanggilnya. "Ada apa dengan mu selama seminggu ini?" ucap Shikamaru basa-basi. "Ah tidak aku hanya sedang stress saja hahahaha. Maaf jika membuatmu khawatir selama ini." Naruto menanggapi dengan candaan. Cukup panjang mereka berbincang. Shikamaru bilang ia harus bekerja keras untuk mengikuti pelajaran dan tugas yang tertinggal. "Kau harus membantuku Shikamaru."

"Hey itu kan karena ulahmu sendiri. Kau harus usaha sendiri." Naruto cemberut. "Hey apakah itu yang namanya teman?" mereka bertengkar di pagi hari seperti sebelum-sebelumnya. "Hey bagaimana dengan Hinata?" Naruto terdiam. Tak lama bel berbunyi.

Sebelum memasuki kelas, Minami mampir ke kelas Hinata untuk memberitau bahwa Naruto mulai masuk sekolah hari ini. "Benarkah?" Minami mengangguk. Hinata terlihat sangat senang bahkan hampir menangis. "Baiklah istirahat aku akan ke kelasnya untuk melihat keadaannya." Minami setuju. Lagi pula Hinata sudah berjanji untuk bicara dengan Naruto dalam 2 hari ini. Ia mungkin sudah menyiapkan mentalnya.

'Aku harus bersikap bagaimana jika bertemu Hinata nanti?' ucap Naruto dalam hati. Selama jam pelajaran ia hanya memikirkan itu. Bel istirahat berbunyi. Naruto dan Shikamaru terlihat berdiri di koridor sedang mengobrol. Sasuke juga ada disana. Sasuke juga sempat menanyai Naruto masalah kemarin, tapi Naruto tak ingin menjawab nya. Ia hanya akan mengalihkan pembicaraan.

Sakura menyemangati Hinata untuk menemui Naruto di kelasnya. Ternyata Hinata cukup gugup. Benar-benar gugup, tak tau kata-kata apa yang harus di keluarkan. "Yosh, baiklah doakan aku." Hinata beranjak dari kelasnya. Untuk menemui si penulis pujaan. Naruto selalu terlihat sama seperti dulu. Penulis yang ia sering baca karyanya. Ketampanannya pun tak berubah.

Saat melihat Shikamaru, Sasuke dan Naruto mengobrol di koridor ia teringat dulu saat ia belum mengenalnya. Ternyata sekarang ia memang menyukai bahkan mencintainya. Beberapa langkah sebelum mendekati Naruto, hatinya berdebar cukup keras. "Naruto?" ucapnya pelan. Naruto hanya terpaku Hinata di depannya dan memanggilnya.

"Ada apa?" ucap Naruto dingin. Hinata memiliki perasaan tak enak. Raut wajah Naruto berubah. Sangat dingin seperti tak ingin bicara dengannya. Bahkan Shikamaru dan Sasuke yang ada di sampingnya kaget. "Bisakah kita bicara sebentar?" tak di sangka. Naruto melawati Shikamaru dan Sasuke lalu meninggalkan HInata. "Maaf, ada hal yang harus ku lakukan." Naruto meninggalkan mereka tanpa melihat ke belakang. Shikamaru benar-benar terkejut. Padahal tadi pagi masih Naruto yang ia kenal tapi saat Hinata berbicara padanya, ia berubah drastis.

"Ada apa? Ada apa dengan Naruto. Kupikir ia sudah kembali seperti biasa." Hinata jatuh terduduk. Beberapa siswa bahkan melihat mereka. Shikamaru mencoba menenangkan Hinata. "Tenanglah Hinata. Aku akan mengejar Naruto. Sasuke, antarkan Hinata ke kelasnya." Shikamaru mengejar Naruto. Tapi keberadaannya hilang entah kenapa. Sedangkan Hinata masih syok. Ia diantar sasuke ke kelasnya.

Naruto di temukan sedang makan ramen di kantin. "Ada apa denganmu Naruto?" ucap Shikamaru terengah. "itu bukan urusanmu, Shika."

'Ada apa sebenarnya dengan Naruto?' Shikamaru sendiri bingung.

Notes :

Kependekan yaaaa? Kecepetan ya? Gomenasaaaaaaiii…

Chapter kali ini Naruto di awalnya adalah Naruto POV yang dilakukan naruto selama seminggu itu. Oiya,,, aku akan coba apdet tiap minggu jadi mohon bantuannya yaa..

Akhir kata,

Love you reader