8. Yes!
Shikamaru berpikir sejenak apa yang sebenarnya terjadi dengan sahabatnya ini. Shikamaru sebenarnya bisa saja mengamuk hari ini di hadapan Naruto. Karena apa? Jelas saja sudah seminggu lebih ia tidak masuk sekolah membuat semua orang mengkhawatirkan keadaannya yang tidak jelas kabarnya dan setelah ia masuk, Naruto membuat masalah baru lagi. Ini benar-benar sangat menyebalkan.
Naruto memakan ramennya tanpa bersuara sejak tadi. Tidak seperti biasanya, karena biasanya Naruto akan terus berteriak enak sampai ramen nya habis. Tapi, kali ini ia terdiam. Shikamaru memerhatikan Naruto lekat-lekat. Ia yakin ada yang salah dengan orang yang ada di hadapannya ini.
Keringat Naruto mengucur sangat deras. Padahal kuahnya pun tak sepedas yang di lihatnya. Merah bagai darah pun tidak. Sumpit nya sudah 3 kali jatuh sejak tadi. Rasanya sangat tidak biasa. Naruto begitu gelisah. Seperti seorang penjahat yang bisa ketauan kejahatannya kapan saja. Tangan yang Shikamaru tumpu kan di dagu telah di lepasnya. "Hey, Naruto.." ucap Shikamaru santai. Yang di panggil hanya menenggakan sedikit kepalanya dengan ramen yang masih menyangkut di mulutnya.
"Aku tau kau berbohong." Naruto terdiam saat mendengar perkataan Shikamaru. Terlihat sekali ia menelan ludahnya secara perlahan. "A-apa maksudmu Shikamaru?" Naruto sedikit terkekeh. Cengar-cengir tak jelas. Dengan tergesa ia habiskan ramen nya dengan sekali suap. Naruto bangun dari duduknya. Dan membelakangi Shikamaru. "Shikamaru sepertinya aku perlu ke toilet." Baru saja Naruto hendak pergi. Tapi, dengan cepat Shikamaru menarik kerah belakang bajunya. "Hey, tunggu dulu ada yang ingin ku bicarakan denganmu." Tegas Shikamaru.
-0-
"Hinata, kau tak apa?" Sakura agak berlari dari tempat duduknya saat Ia melihat Hinata telah di antar kekasihnya,Sasuke, ke kelasnya. "Sasuke, ada apa dengan Hinata?" Hinata menunduk tanpa menjawab apapun. Sakura membawa Hinata ke tempat duduknya dan memberinya minum, berusaha untuk menenangkannya.
Sasuke bersandar di dekat jendela di depan kelas Sakura. Tak lama Sakura menghampirinya untuk mendapat penjelasan. Karena Sakura tau Hinata tak bisa untuk di tanya saat ini. "Ada apa sebenarnya Sasuke? Kenapa Hinata sampai seperti itu?" Sakura benar-benar butuh penjelasan. Emosinya tak karuan. Sahabatnya tampak begitu terluka entah apa yang telah ia alami. Sakura sempat berpikir ini pasti ulah Naruto.
"Apa ini karena Naruto?" Sasuke menganggukan kepalanya. "Ya, begitu lah. Ini semua ulah Naruto. Ia mengabaikan Hinata, saat Hinata menyapa dan mengajaknya bicara." Tanpa menanggapi penjelasan Sasuke, Sakura cepat-cepat pergi untuk menghukum seseorang yang bernama Naruto. Sasuke menarik tangan Sakura lembut, menggelengkan kepala sambil berkata "Sakura, tunggu… ini bukan urusan kita. Biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka sendiri." Sakura agak kecewa dengan perkataan Sasuke. Tapi setelah beberapa saat, Sakura berpikir ada benarnya juga, ini adalah urusan mereka. Walaupun sebagai teman, mereka harus menyelesaikannya sendiri. "Lebih baik kau tenangkan Hinata saja, aku akan melihat bagaimana keadaan Naruto." Sakura mengikuti apa kata Sasuke dan kembali ke kelas.
"Hinata,,," Sakura menghampirinya dengan pelan. Hinata hanya menunduk sejak tadi. Luka yang kini ia rasakan seperti tak terbendung. Apa ini kesalahannya hingga Naruto berlaku seperti itu terhadapnya. Apa Hinata tidak akan bisa berbicara dengan Naruto lagi? Semua pertanyaan itu berputar di kepalanya. Dan bagai jarum yang siap menusuk hatinya kapan saja.
"Yo.. Sakura, Hinata. Kau tau aku baru saja di beri hadiah oleh Sai. Aaah dia memang pria idaman. Ada coklat, pakaian. Oh nanti akan kubagi coklat yang diberi oleh Sai." Mungkin Ino adalah orang paling bodoh yang ada di sekolah ini, sangat bodoh hingga tak bisa melihat suasana yang ada di depannya. BUK! Sakura mendaratkan sebuah pukulan di kepalanya, berharap itu akan menyadarkannya dari lamunan tak jelas di siang bolong seperti ini.
"Apa yang kau lakukan, Temee. Sakit tauuuu" Ino mengusap-usap bagian kepalanya. Sedikit bulir air di ujung matanya akan jatuh jika tersenggol sedikit saja. "Apa kau tak bisa lihat temanmu sedang bersedih Pig" bisik Sakura dengan sangat pelan mencoba tak membuat Hinata untuk mendengarnya. Akhirnya Ino menyadari kesalahannya. Ino hampir memukul dirinya sendiri untuk bisa meminta maaf kepada benar-benar terdiam sejak tadi. Tak ada yang di lakukannya dan hanya menundukkan kepalanya. Mungkin menangis, pikir Sakura. Mereka berdua lebih memilih untuk diam dan menunggu Hinata hingga mengangkat kepalanya. Lebih baik diam daripada memperburuk suasana.
-0-
Sasuke mencoba mencari-cari, dimana sebenarnya Shikamaru dan Naruto pergi. Taman, tak ada. Perpustakaan, tak ada. Mungkin kantin, pikirnya. Itu adalah tempat paling logis yang akan di kunjungi Naruto. "Sebenarnya apa maumu Shikamaru?" Naruto berusaha melepaskan diri dari Shikamaru. Teriakan Naruto terdengar sampai ke telinga Sasuke. Ramai-ramai di kantin, orang-orang yang berkerumun dengan dua orang yang sedang tampak bertengkar. Lagi-lagi ulah Naruto, orang ini benar-benar harus di beri pengawasan yang ketat.
"Aku tau kau berbohong. Jelaskan padaku sekarang, apa maksudmu berlaku seperti itu?' padahal Shikamaru sudah sangat berusaha untuk tidak menarik perhatian seisi kantin. Tapi tetap saja banyak yang berkerumun untuk melhat apa yang terjadi. bisikan-bisikan tak jelas dari orang yang melihatnya membuat Shikamaru tak nyaman. Junior dan teman seangkatannya melihat perbuatan mereka. Bisa-bisa karena kejadian ini berita sekolah akan membuat headline nya dengan judul 'Kedua sahabat, bertengkar dengan tak elitnya di kantin sekolah' dan Shikamaru tak ingin itu terjadi.
"Naruto, kita pindah tempat. Banyak yang ingin ku tanyakan padamu." Naruto memberontak. "Lepaskan aku Shikamaruuu…" Sasuke dari jauh hanya melihat Shikamaru menyeret Naruto. "Shikamaru, ku serahkan Naruto padamu." Shikamaru tak ingin menanggapinya. Sebentar lagi jam istirahat selesai. Tapi mereka berdua belum sempat menyelesaikan masalah ini.
Shikamaru membawa Naruto ke atap sekolah. Sepi. Jelas saja jam pelajaran sudah di mulai kembali. Hanya terik matahari yang menemani mereka. "Jadi bisa kau jelaskan semuanya Naruto?" Shikamaru masih mencoba menahan emosinya. "Jangan buat aku kecewa. Aku sudah merelakan diriku tak mengikuti pelajaran selanjutnya. Hanya karena masalahmu dengan Hinata." Naruto masih tertunduk.
"Aku tau, sebenarnya kau tak ingin berbicara seperti itu terhadap Hinata kan? Sebenarnya kau gugup saat Hinata menyapamu kan? Kau tak tau harus bersikap bagaimana sehingga kau mengambil tindakan yang salah kan?" Shikamaru memang tak pernah mengecewakan Naruto. Ia memang paling mengerti. Naruto membenarkannya. "Kau benar, padahal aku sudah bertekad untuk memberikan penjelasan mengenai masalah kemarin. Bahkan mungkin aku akan mencoba menyatakan perasaan ku kembali. Tapi saat ia bicara padaku, aku malah tak bisa mengatakan apa-apa dan dengan seenaknya aku bersikap dingin padanya. Shikamaru apa yang harus kulakukaaaaaaaaan? Tolong aku." Jelasnya panjang lebar.
"Benar-benar bodoh. Tak ku sangkat kebodohanmu sampai seperti ini Naruto." Naruto tak akan marah pada Shikamaru. Karena kelakuan nya ini benar-benar sangat bodoh dan menyebalkan. "Apa aku begitu jahat pada Hinata tadi pagi?"
"Ya"
"Apa aku sedingin es kepada Hinata tadi pagi?"
"Ya"
"Apa mungkin ia akan membenciku?"
"Mungkin iya"
"Apakah ia tak ingin menemuiku lagi Shikamaru."
"Kuharap Ya"
"Kenapa kau sangat jahat padaku Shikamaru…"
"Karena kau benar benar bodoh Naruto. Kau selalu membuatku Kesal."
"Maafkan aku." Naruto tak bisa berkata apa-apa lagi. Shikamaru mendesah. Lelah dengan semua kelakuan temannya ini. "Bagaimana bisa gadis cantik, baik hati, dan elegan seperti Hinata menyukai pria bodoh seperti dirimu, Naruto?" Naruto menegak. "Apa kau bilang? Ia juga menyukaiku?"
"Tidak. Hanya saja, saat kau tak masuk ia selalu mengkhawatirkanmu. Hampir setiap hari ia menanyakan keadaan mu." Terik matahari semakin membakar kulit mereka. Dan tampaknya sudah cukup lama mereka membolos pelajaran. Bruk! Pintu terbuka lebar. "Asuma-Sensei" teriak Naruto dan Shikamaru bersamaan.
"Ternyata kalian disini ya? Ikut aku kalian akan mendapat hukuman yang pas." Asuma-sensei,ternyata mencari murid-muridnya yang hilang entah kemana ini. Karena tidak masuk ke kelasnya. Pasti ia memberikan tugas yang banyak di kelas sehingga punya waktu untuk mencari Naruto dan Shikamaru. Asuma-sensei menyeret mereka ke depan kelas untuk dihukum. Dua ember dan kaki diangkat. Hukuman yang menyebalkan. "Naruto kau harus membayar semua ini." Naruto hanya tertawa menganggap dirinya tak bersalah.
-0-
Sepulang sekolah, seorang wanita surai hitam berlari-lari di lorong. Kecepatannya pun lumayan tinggi, untung saja ia tak terpeleset. Bruk! Pintu kelas bergeser. Minami memasuki kelas Hinata, Hinata baru bersiap hendak pulang. "Hinata… Hinata… kau tak apa?" Minami sungguh tergesa-gesa bahkan rambut rapinya itu telah berantakan bagai diterpa badai.
"Aku baik-baik saja Minami." Keadaan nya nampak pucat dengan sedikit sembab. "Apa yang terjadi. apa ini berkaitan dengan Naruto? Apa si bodoh itu melukaimu?" Minami sungguh penasaran apa yang terjadi. Tapi, Hinata hanya terdiam, ia menggeleng tanpa mengeluarkan suara. "Aku akan mengantarmu pulang Hinata. Akan ku pastikan kau baik-baik saja sampai rumah."
Selama perjalanan tak ada yang bicara. Minami bingung apa yang harus ia katakan. Jika asal berkata bisa bisa ia menyakiti hati Hinata tanpa ia tau. "Etto… Hinata sebenarnya masalah ciuman itu Naruto tak sengaja. Ia benar-benar mabuk saat itu dan tak sadarkan diri. Aku yakin semua ini terjadi pasti karena kesalahanku kan? Maafkan aku Hinata. Aku sungguh menyesal. Benar-benar menyesal."Surai hitamnya berterbangan. Ekspresi di wajah Hinata tak berubah. Malah, bulir air di ujung matanya tak kuasa ia tahan.
"Hinata... " Minami berusaha menenangkan dirinya sendiri. Minami bingung apa yang harus ia lakukan. Hinata terlihat sangat rapuh saat ini. Minami memutuskan untuk memeluknya. Hinata pun tak menolak saat di peluk. "Menangislah jika itu membuatmu tenang." Minami mengusap kepala Hinata. Lagi-lagi mencoba untuk menenangkannya. "Aku sangat menyayanginya Minami. Aku telah jatuh cinta pada karya-karya nya. Aku siap menerima semua kekurangan dan kelebihannya. Tapi, mengapa dia mengabaikanku saat aku tau keadaan nya telah baik-baik saja." Terisak. Suaranya agak tak jelas di dengar karena dihiasi tangis dan suaranya yang tiba-tiba serak.
"Naruto juga menyayangimu Hinata. Untuk apa ia menyatakannya perasaannya kepadamu, memberikan begitu banyak kejutan, jika ia tak menyayangimu." Ucap Minami berusaha membuatnya tenang. "Tapi, tapi, mengapa ia mengabaikan ku dan bersikap dingin padaku pagi ini."
"etto.. soal itu sebenarnya aku tak tau kenapa? Padahal semalam ia bilang akan menjelaskan semuanya padamu. Ayolah Hinata.. mungkin ini hanyalah kesalahpahaman." Sebenarnya Hinata juga percaya bahwa Naruto menyayanginya. Setelah mendengar penjelasan dan beberapa nasehat Minami. Hinata mulai membaik.
"Baiklah sampai jumpa, istirahat yang cukup ya Hinata." Hinata tersenyum. Ini pertama kalinya Hinata tersenyum hari ini. Mungkin beban nya sedikit berkurang.
-0-
"Lagi-lagi aku melakukan kesalahan. Bodohnya diriku. Mungkin jika aku jadi Hinata, aku akan mengutuk seseorang bernama Naruto uzumaki." Naruto menyesali kesalahannya sejak tadi. Suasana rumah Naruto tetap sepi, sudah beberapa minggu ini, ayah dan ibu nya belum juga pulang. Karena ayah Naruto ada pekerjaan di luar negeri dan cukup lama, Kushina Uzumaki, ibu Naruto juga ikut di bawa oleh ayahnya. Alhasil ia selalu sendirian di rumah.
"Haaah… Bagaimana ya caranya ayah mendapatkan ibu dulu. Pasti penuh perjuangan juga." Naruto masih mengkhayal. Menerawang, dan berimajinasi. Kira-kira apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
Bruk! Tap! Tap! Seseorang mendobrak pintu dan melangkah dengan menghentak seperti kawanan gajah yang ingin mengamuk. "Hey Naruto bodoh… apa yang kau lakukan kepada Hinata? Apa kau hanya bisa menyakiti perasaan wanita saja? Kau tau Hinata menangis seharian di sekolah hingga membuat matanya sembab." Naruto terlonjak. Tiba-tiba Minami masuk marah-marah bagai ibunya yang sedang mengamuk. "Apa? Menangis seharian? Apa sebegitu parahnya kelakuan diriku tadi pagi?"
Minami menggelengkan kepalanya. Dan mulai menjambak Naruto. "Hey, kau kira apa yang telah kau lakukan Naruto bakaaa.."
"S-sakit Minami. A-apa yang kau lakukan." Minami masih tak bisa berhenti menjambak Naruto. Bisa-bisanya ia seperti orang tak bersalah. Minami mendorong Naruto keluar rumah dan melemparkan sebuah jaket. "Pergi lah meminta maaf pada Hinata. Jangan pulang sampai kau mendapatkan maaf darinya." Bruk!
"Heeee..."
-0-
Malam ini, cuaca lumayan dingin. Angin tertiup lumayan kencang. Seorang pria pirang mencoba menggosok-gosokan tangannya agar dapat membuatnya hangat. Ia terduduk di taman sepi beberapa blok dari rumahnya. Tak ada kendaraan berlalu lalang. Warga sekitar pun hanya sedikit yang melewati tempat itu. Naruto masih berpikir bagaimana ia harus meminta maaf pada Hinata. Lagi-lagi angin bertiup kencang membuat Naruto memeluk dirinya sendiri. Sialnya Naruto hanya memakai celana pendek selutut. Mungkin ini memang hari sialnya.
Lampu taman berkedap-kedip membuatnya semakin redup. Matanya kosong menatap pohon sekitar. Ia bingung apa yang harus ia lakukan. Jika ia pulang, Naruto yakin Minami tak akan mengijinkannya masuk. Andai ibu dan ayahnya sudah pulang mungkin ia bisa dengan tenang masuk ke rumah tanpa mendapat omelan panjang lebar dari Minami. "Kurasa aku akan sakit besok, Minami benar-benar kejam."
Pluk! Sekaleng minuman hangat telah menempel di pipi Naruto. "Eh?" Naruto menengok ke sebelah kirinya. Gadis yang sangat di kenalnya telah duduk di sampingnya tanpa sepengetahuan Naruto. Rambut panjangnya tetap rapi, mengkilat bagai berlian. Wajahnya yang mulus semakin cantik di lihat saat malam hari terkena cahaya bulan. "Kau akan sakit jika duduk di luar dalam cuaca seperti ini." Ucap gadis itu lembut. Senyumnya tak berubah sejak terakhir kali ia bertemu. Tetap menawan hingga membuat hatinya menjadi hangat.
"Hinata.." tiba-tiba air mata Naruto berlinang dan memeluk Hinata dalam sekejap. Hinata terdiam tak menolak untuk di peluk tapi tak juga merespon pelukan Naruto, tangannya tetap berada di samping tak ingin mengusap punggung Naruto. "Maafkan aku, maafkan aku telah menyakitimu. Hinata, apa kau bersedia memaafkanku?" Hinata tak menjawab. Naruto melepaskan pelukannya. Naruto benar-benar tak bisa membaca ekspresi Hinata.
"Aku tau, Naif sekali diriku berharap kau akan memaafkan ku. Pasti tidak akan, aku tau. Kesalahanku begitu fatal. Aku begitu membuatmu terluka." Naruto sedikit kecewa. Atau mungkin benar-benar kecewa. Sejak pertama melihat Hinata. Ia ingin sekali selalu berada di sisinya. "Naruto..." ucapannya begitu lembut bagai malaikat. Naruto benar-benar menyukai suara Hinata. Sangat indah. Setelah seminggu lamanya ia tak bertemu dan mendengar suaranya itu sangat membuatnya senang.
"Apa kau mencintaiku?" Naruto terbelalak. Naruto tak bisa melihat mata Hinata matanya tertutup poni depannya. "Apakah aku masih berhak untuk berkata aku mencintaimu setelah aku menyakitimu Hinata? Apakah aku bisa mencintaimu lagi?"
"Jawab pertanyaan ku Naruto. Apa kau benar-benar mencintaiku?" Ulangnya lagi.
"Ya, aku sangat mencintaimu Hinata." Naruto menjawab dengan tegas dan tekadnya. Seluruh perasaannya ia coba keluarkan dalam kata-katanya. "Terimakasih." Hinata menghambur memeluk Naruto. Suaranya agak serak terdengar di telinga Naruto. Naruto masih bingung apa yang sebenarnya terjadi. Pelukan Hinata makin erat. "Syukurlah aku masih bisa berbicara padamu seperti ini Naruto." Hinata menangis.
Naruto membalas pelukan Hinata. Memeluknya dengan sangat erat. "Harusnya aku yang berterimakasih padamu Hinata. Kau masih mau bicara dengan ku. Sebenarnya aku takut, sangat takut kau tak ingin menemuiku lagi. Aku takut kau membenciku setelah apa yang kulakukan padamu. Membuatmu khawatir selama seminggu. Aku sempat bertanya pada diriku. Pria macam apa sebenarnya aku?" Hinata melepaskan pelukannya. Kepalanya menggeleng, dan lagi senyumnya merekah. "Tak apa, aku sudah memaafkan mu Naruto. Aku sungguh senang kita masih bisa bertemu dan bicara seperti ini."
Hinata mengambil sepotong kain, tangannya mulai ia lingkarkan di leher Naruto mencoba untuk membuat si Pria kuning ini hangat. "Apa ini?" Ucapnya agak bingung. Naruto mengenakan Syal merah rajutan tangan. Sangat hangat. "Ini hadiah untukmu, aku yang merajutnya sendiri untukmu. Sebenarnya sudah ku siapkan sejak lama. Tapi tak ada waktu yang tepat untuk memberikannya padamu." Sambil malu-malu Hinata tak ingin menatap wajah Naruto.
Cuaca malam ini memang cukup dingin bahkan tangan Hinata yang bersentuhan dengan Naruto terasa membeku. Naruto mulai menggapai Hinata, dan dengan perlahan mencium punggung tangan Hinata. "Hinata, bisakah aku mengulanginya sekali lagi?" Wajah Hinata agak bingung. apa maksudnya?
"Aku akan mengatakannya sekali lagi, aku mencintaimu Hinata. Maukah kau menjadi kekasihku?" Ucapnya sambil mencium punggung tangannya lagi. Hinata tentu saja mengangguk. Dan wajah nya merona bagai tomat. "Yattaaa... akhirnya..." Naruto teriak kegirangan. Bahkan ia sampai lari kesana kemari untuk mengekspresikan kebahagiaannya.
Jam taman menunjukkan pukul 10 malam. Ini waktunya mereka untuk istirahat. Naruto memutuskan untuk mengantar Hinata pulang. Di perjalanan pun tangannya tak lepas bergandengan sedikitpun bahkan tangan yang bergandengan itu Naruto masukkan ke dalam kantung jaketnya agar lebih hangat. Dan itu lebih membuat pipi Hinata merona hebat. "Kau sangat cantik saat kau tersipu Hinata." Ledek Naruto asal. "Jangan goda aku Naruto."
"Baiklah sampai jumpa besok. Aku akan menjemputmu besok. Tidurlah yang nyenyak." Tangan Hinata di lambaikan. Naruto pulang dengan hati yang sangat lega. Rajutan syal Hinata pun berulang kali di ciumnya. Bau Hinata seakan menempel di sana dan Naruto sangat menyukainya.
Tok. Tok. Tok. Pintu di buka. Minami yang telah memakai piyama telah menunggunya sejak tadi. "Apakah sebegitu lamanya kau mendapatkan maaf dari Hinata? Apa dia tak ingin memaafkanmu?" Ucap Minami serius. "Sudahlah,aku mau tidur. Setidaknya aku telah mendapatkan maafnya."
"Benarkah?"
"Ya" Naruto berlalu meninggalkan Minami sendirian. Di dalam kamar, Naruto senyum senyum, membayangkan apa yang baru saja terjadi. kebahagiaannya serasa meluap tak bisa lagi di bendungnya. "Kupikir ini hari keberuntunganku." Hari sialnya berubah seratus delapan puluh derajat karena kejadian malam ini. Naruto akan mengingat bagaimana Hinata menerima perasaannya.
-0-
Udara pagi terasa segar, bahkan burung berkicau tak seperti biasanya. Naruto bersiap mengenakan seragam terbaiknya dan rambutnya yang tetap seperti itu walaupun disisir. Naruto menuruni tangga. Di lihatnya, Minami sedang menyusun bekal makan siangnya. Tampak ada dua bekal. Naruto tak memintanya dan tak menginginkannya. "Untuk siapa bekal yang satunya?" celetuk si pria kuning.
"Apa pedulimu? Ini urusanku." Minami mengabaikan Naruto dan pergi berangkat sekolah. Alhasil Naruto hanya bisa sarapan sendirian. Moodnya pagi ini sangatlah baik. Jelas saja. Ini hari terbaik bagi hidup Naruto. Hari pertama menjadi kekasih Hinata Hyuga. Naruto berangkat dengan langkah ringan dan ceria. Saking cerianya bahkan ia hampir melewati toko bunga yang biasa ia sambangi.
Naruto membawa sebuket bunga kecil untuk di serahkannya pada Hinata sebagai hadiah pertama di hari pertamanya menjadi kekasih Hinata.
Sebenarnya agak kecewa untuk hari ini. Hinata tak ingin di jemput karena ia tak ingin satu sekolah tau bahwa mereka sudah menjadi sepasanga kekasih dulu. Karena ia yakin, nanti penggemar Naruto akan sakit hati. Hinata memang orang yang selalu mengerti perasaan orang lain.
-0-
"Sepertinya kau mendapat kiriman bunga lagi." Ledek Sakura. Sakura benar-benar tak bisa menahan godaan nya untuk Hinata. "Jadi sebenarnya apa yang terjadi semalam? Bukankah kemarin kau menangis seharian." Hinata tak ingin menutupinya lagi. Sahabatnya ini harus tau apa yang telah terjadi semalam.
"Selamat Hinataaaaa..." Sakura reflek memeluk Hinata. Akhirnya mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Sosok gadis surai Hitam telah memasuki kelas Hinata. Siap untuk mewawancara dirinya apakah teman masa kecilnya itu berhasil membuat Hinata memaafkannya. Tampak dari raut wajahnya. Minami cukup optimis dengan apa yang akan ia dengar.
"Hinata.. bagaimana semalam. Apa yang dikatakannya padamu? Apa dia menyakitimu lagi." Minami benar-benar khawatir pada Hinata. "Tenang saja Minami. Naruto berhasil mencuri hati Hinata dengan sukses." Sakura mengambil alih untuk menjawab pertanyaan Minami. Minami tak bisa membendung bahagianya lagi. Akhirnya musuhnya dulu kini bisa menjadi sahabatnya, dan teman masa kecilnya telah menjadi kekasih mantan musuhnya.
"Baiklah, aku akan pergi ke kelas nya Naruto untuk mengantarkan ini." Minama bergegas untuk pergi mengantar bekal makanan yang ia bawa. "Minami, apa itu untuk Naruto?" Minami menggeleng. "Lihat saja nanti." Ledek Minami meninggalkan mereka semua.
-0-
Tap, Tap, Tap. "Untuk apa kau kesini?" Cegah Naruto di ambang pintu. "Bukankah kau mengabaikanku tadi pagi saat ku tanya?" lanjutnya lagi. "Aku taka ada urusan dengan mu hari ini Naruto. Minggir." Minami berusaha menyingkirkan Naruto dari pintu kelas 3A. Shikamaru yang sedang duduk sambil memandangi luar jendela nampak kaget dengan kedatangan kekasihnya. "Ini ku bawakan bekal untuk mu. Makanlah." Ucap Minami meberinya dengan senyuman.
"Tunggu dulu apa ini Shikamaru..? Ada hubungan apa kau dengan Minami?" semua orang nampak memerhatikan mereka. Sampai-sampai saking penasarannya Sakura dan Hinata mengikuti Minami ke kelas Naruto untuk tau apa yang ingin dia lakukan. Shikamaru menanggapinya dengan malas. Hal yang merepotkan jika harus menjelaskan pada orang-orang yang tak tau apa-apa ini.
"Aku adalah kekasihnya Shikamaru." Ucap Minami menggandeng Shikamaru. Shikamaru tak ingin menanggapi dan memalingkan wajahnya agar teman-temannya tak melihat. "EEEEEEHHHHH..." kaget. Seisi kelas riuh. Geger akan berita bersatunya Minami dengan Shikamaru.
"Sejak kapan?" pertanyaan itu lah yang muncul pertama kali. Atau "Bagaimana bisa?" dan Shikamaru tak ingin menanggapinya.
-0-
Angin menerpa lembut surai indigo sang empunya. Pemandangan cukup indah dilihat memanjakan mata. duduk di pinggir sungai sambil mengamati matahari terbenam adalah kegiatan yang tak buruk.
"Hey, Hinata kau tau?" ucap Naruto lembut tanpa menengok ke Hinata.
"Apa?" jawabnya singkat.
"Sebenarnya sejak pertama kali kita bertemu aku sedang menulis sebuah novel untuk di terbitkan. Dan dalam beberapa minggu akan selesai. Aku juga sudah mempunyai penerbit yang akan menerbitkan novelku."
"Ah bagus sekali. Novelnya tentang apa?" Hinata agak antusias. Berniat menjadi pembaca pertama novel milik kekasihnya.
"Tentang kita pastinya." Naruto sedikit malu saat mengatakannya.
"Lalu apa judulnya?"
"When Epilog Become Prolog"
-0-
Authors Note:
Yatta... akhirnya selesai. Bagaimana? Bagaimana tanggapan kalian tentang ini? Gaje? Tentu saja. Plot kecepetan? Apalagi wakakak. Yang pasti aku sudah berusaha yang terbaik untuk menyelesaikan fic ini dalam waktu yang sudah ku usahakan singkat hehe xD
Thanks to : semua silent reader yang sudah baca. Semua reader yang sudah fav, follow dan review dengan krisar yang sangat membangun.
Masih ada satu lagi multichap yang belum selesai ganbatte xD jika berkenan kalian bisa baca fic ku yang lain.
Akhir kata,
Arigatou and Jaa ne..
