"Our Story"
Chapter 2 : Midle
By : L For Lucius ft. FerLuci
BTS Fanfiction
Lil' drama & Romance ; BoysLove
Enjoy It! *WinkleWinkle
\Lucius/
Yoongi menatap pantulan dirinya di cermin bulat yang dia pegang. Tampak wajahnya yang semakin menirus juga kulitnya yang bertambah pucat dan yang paling dia perhatikan adalah keberadaan surai mint kebanggaannya yang sudah dipotong habis oleh salah satu suster di rumah sakit untuk kelancaran operasinya nanti. Dia terlihat seperti mayat hidup sekarang. Dia sangat membenci keadaannya sekarang dimana dia menjadi orang yang menyusahkan orang-orang disekitarnya terutama Jimin orang yang paling dia cintai. Entah sudah berapa kali dia membuat Jimin menangis dengan semua perlakuan kasarnya akhir-akhir ini. Seperti saat ini dia melihat pantulan Jimin di cermin yang dia pegang. Dia bisa melihat wajah lelah Jimin, kedua mata sipitnya sembab. Yoongi tau Jimin menangis dibalik pintu kamar ketika rambutnya dipotong. Seharnya Jimin meninggalkannya dan hidup bahagia dengan orang lain bukan bersama dirinya yang hanya bisa menyusahkan dan melukainya. Yoongi mengeratkan pegangannya pada cermin itu lalu …
PRANG!
"Hyung!"
Yoongi melempar cermin itu ke dinding dan membuat kaget Jimin yang langsung berlari menghampirinya. Yoongi terus melempar barang-barang yang ada didekatnya dan Jimin berusaha untuk menenangkannya.
"Hyung, tenanglah. Ada aku disini. Aku mohon hyung berhenti!"
Yoongi mendorong jatuh Jimin sehingga membuat kedua telapak tangan Jimin terkena pecahan cermin. Beberapa suster laki-laki datang dan menahan tubuh Yoongi lalu salah satu dokter menyuntikan obat penenang padanya yang langsung bereaksi dengan cepat. Pergerakannya langsung melemah.
"Jimin-Ssi, Kau baik-baik saja?" Tanya Seokjin, dokter yang baru saja datang.
"Aku baik-baik saja Kim Uisanim"
"Ayo, aku obati tanganmu"
Lalu dia membbantu jimin berdiri dan mendudukannya di sofa yang ada disana.
"Maaf karena menambah kerjaanmu kim uisanim" ucap Jimin sungkan karena dia tau kalau Kim Seokjin adalah salah satu dokter yang selalu sibuk di rumah sakit ini.
"Ini bukan apa-apa Jimin-Ssi, kau tidak perlu meminta maaf seperti itu" jawab Seokjin dengan senyuman angelic khasnya yang terukir manis di wajahnya.
Jimin menatap kedua tangannya yang terbalut kain kasa dengan sedikit bercak obat merah mengotori kain itu.
"Hyungie, aku akan selalu bersamamu. Kau hanya perlu mengingat itu. Jangan pikirkan apapun selain itu" gumam Jimin sambil menggenggam erat tangan Yoongi yang dulu selalu memeberikannya kehangatan. Malam sudah meraja tapi Yoongi belum juga sadar dari efek obat penenang yang Seokjin berikan. Padahal Seokjin bilang dia akan sadar saat malam hari. Itu membuat Jimin khawatir. Perlahan dia mengelus pipi tirus Yoongi. Desir sakit kembali terasa dihatinya. Perjuangan Yoongi untk menjadi seorang produser terkenal membawanya pada penyakit yang sekarang dideritanya. Dan semua itu karena Jimin. Ya, Jimin menyalahkan dirinya karena dirinyalah yang meminta Yoongi untuk masuk kesalah satu agency besar dan belajar menjadi seorang produser. Itu membuat Yoongi harus menghabikan ¾ harinya di studio dan membuat pola makannya dan istirhanya sangat kuarang. Jimin menyesalinya sekarang. Tapi bukan karena itu dia menetaokan dirinya untuk menjadi sandaran Yoongi saat semua orang berpaling darinya. Ini murni karebna rasa cinta dan sayangnya pada Yoongi.
"Aku akan selalu bersamamu hyung, selamanya" gumamnya lalu dia membiarkan keheningan ikut menemani mereka.
\FerLuci/
Taehyung menyusuri wajah seorang namja yang menjadi cover sebuah majalah yang tadi dia tarik keluar dari etalase buku saat membaca healine yang tertulis di cover majalah itu "Penyanyi pendatang baru Jeon Jungkook berkencan dengan Kim Namjoon produser yang menangani project album debutnya"
"Manis seperti biasanya" gumanya dengan senyuman kecil terukir di wajah sendunya.
"Tae" sapa seseorang sambil menepuk pundaknya.
"Jimin, sedang apa kau disini?" tanyanya saat melihat siapa yang menyapanya.
"Mencari Ikan"
"Huh?"
"Tentu saja belanja bodoh. Kau itu masih saja.." Jimin menghentikan kalimatnya saat melihat majalah yang sedang Taehyung pegang.
"Untuk apa kau melihatnya" ujarnya sambil menarik majalah it dan menjejalkannya dengan kaar ke etalase buku.
"Berhenti melihatnya jika kau masih belum bisa merelakannya. Aku tidak mau kau.."
"Aku tau" potong Taehyung sambil tersenyum lebar.
"kau tidak perlu memberitahuku lagi. Ah, ada kejutan untukmu"
Taehyung mengeluarkan sebuah undangan berwarna merah maroon dari bagpack yang dipakainya.
'Undangan?"
Jimin membuka undangan itu dan mata sipitnya melebar saat melihat nama Kim Taehyung & Kim Nam Joo tertera sebagai mempelai disana.
"Kau yakin?"
"Hm, Aku akan memulainya dari awal lagi, menjalani semuanya dengan baik dan menjadikannya yang terakhir dalam hidupku"
"Dia yang kau maksud itu Jungkook?"
Taehyung hanya tersenyum dan membuat Jimin menggeleng pasrah.
"Aku tidak tau yang bodoh disini itu kau atau dia"
"Cinta Jimm, dialah yang membuat kita bodoh"
"Ne,Ne,Ne"
Taehyung merangkul bahu sahabat satu-satunya itu.
"Kau harus datang. Kau yang akan mendampingiku nanti di altar"
"Haruskah? Nanti Namjoo-Ssi malah menyangka aku yang akan menikahinya"
Taehyung menarik pipi tembem Jimin.
"Kau mau bilang kau lebih cocok untuknya begitu,hm?"
Jimin tertawa dan berusah melepaskan tangan Taehyung.
"Taehyungie, aku sudah selesai. Eo! Jiminie"
Namjoo yang memegang 2 kantung penuh belanjaan melonjak senang dan langsung memeluk Jimin yang meringis karena kantung belanjaan Namjoo mengenai punggungnya.
"Apa kabar ?"
"Aku baik dank au pasti sangat baik. Selamat untuk kalian berdua. Aku sangat senang mendengar kalian akan segera menikah"
"Hm, terima kasih jiminie. Ah, bagaimana kabar Yoongi Oppa?"
"Dia.. Dia jauh lebih baik sekarang, kalau dokter mengijinkan aku akan dating bersamanya nanti"
"Benarkah. Wah aku senang mendengarnya"
Taehyung melihat raut wajah Jimin sedikit menegang. Dia tau Yoongi hyung masih sama seperti saat pertama kali dia masuk rumah sakit. Jadi sebelum Namjoo bertanya yang lain lagi Taehyung mengajaknya pulang.
"Ini sudah malam, sebaiknya kami pulang sekarang. Kau jangan kelayapan malam-malam Jimin. Nanti ada hantu yang menyergapmu"
Jimin memeukul kepala Taehyung kesal
"Aku bukan anak kecil. Sana!sana1 pergi"
Mereka tertawa melihat wajah kesal Jimin.
"Aku tunggu di acaraku nanti" ucap Taehyung sebelum keluar dari minimarket itu meninggalkan Jimin yang kembali melihat majalah yang tadi dia jejalkan.
"Kau bodoh Jeon Jungkook. Sangat bodoh" gumamnya. Dia sangat tau Taehyung. Dia bukan orang yang cepat melupakan seseorang apalagi itu seorang Jungkook yang Jimin ketahui adalah belahan jiwa Taehyung. Walaupun tahun sudah berganti tapi Taehyung pasti belum benar-benar melupakan Jungkook.
\Lucius/
Namjoon memakai coat yang Seokjin berikan padanya. Dia akan pergi ke studio sekarang tanpa Jungkook karena dia sedang ada sesi pemotretan.
"Kau akan menginap lagi?" Tanya SeokJin yang di jawab dengan anggukan Namjoon.
"Aku berangkat"
Namjoon mencum dahi Seokjin seperti biasa lalu membuka pintu apartement.
"Aku usahakan pulang cepat Ne"
Seokjin mengangguk sambil tersenyum yang dibalas Namjoon sebelum menutup pintu. Mata Seokjin langsung melebar kaget saat melihat sneakers yang tadi dia siapkan masih ada di dekat pintu
"Apa dia memakai sepatu yang lain?" gumamnya bingung. Tapi dia yakin tadi namjoon tidak membawa sepatu lain.
"Jangan-jangan.."
Seokjin langsung berlari keluar setelah sebelumya dia mengambil sneakers itu.
Namjoon membuka pintu mobilnya sampai suara Seokjin yang memanggilnya terdengar menghentikan badannya yang mau memasuki mobil. Dia melihat eokjin berlari menghampirinya dengan tergesa-gesa.
"Ada apa Hyung?"
Seokjin mengatur nafasnya saat dia berhenti di depan Namjoon. Lalu dia melihat ke bawah dimana kaki Namjoon hanya terbalut kaos kai abu-abu.
"Namjoon'ah, kau melupakan sepatumu" ucap Seokjin pelan dia menatap kaki Namjoon tidak percaya.
"Sepatu?"
Namjoon ikut melihat ke bawah dan dia langsung terdiam. Dengan tangan yang sedikit gemetar Namjoon mengambil sneakers yang dibawa Seokjin.
"A-Ah, karena terlalu terburu-buru, aku sampai lupa memakai sepatuku hhe" Namjoon tertawa bodoh.
"Sebegitu pentingnyakah studiomu itu?"
"Tentu saja lebih penting kau Hyung"
Namjoon langsung memeluk Seokjin cukup lama.
"Aku akan pulang malam ini, aku tidak akan membiarkan beruang itu menggantikanku memelukmu" bisiknya. Seokjin tersenyum lalu membalas pelukannya.
"Akan aku tunggu"
Namjoon memasuki mobilnya dia melambaikan tangannya sebelum menutup kaca jendela mobilnya yang langsung dibalas dengan semangat olah Seokjin. Ya, dia senang karena Namjoon akan pulang cepat hari ini. Tapi itu menjadi hari terakhir Seokjin melihat namjoon. Dia tidak pulang malam itu ataupun malam-malam berikutnya.
\FerLuci/
Yoongi membuka matanya yang langsung disambut oleh kegelapan hanya ada sedikit cahaya bulan yang menembus tirai jendela kamar rawatnya. Dia bangun lalu melihat Jimin yang tertidur di ranjang di sampingnya. Dia bias melihat kain kasa yang membalut kedua tangan Jimin. Luka yang dia buat tadi pagi. Menghela nafas berat sebelum turun dari ranjang dan menghampiri ranjang Jimin. Tangannya perlahan terangakat menuju pipi Jimin yang terlihat jejk air mata yang belum kering. Tangannya berhenti sebelum menyentuh pipi itu.
"Mianhae" gumamnya pelan lalu dia berjalan keluar kamar tanpa suara meninggalkan Jimin dan juga kegelapan kamarnya.
Dan beberapa blok dari rumah sakit itu terlihat seorang namja tengah bersandar dipagar besi balkon apartementnya dengan sebuah undangan berwarna merah maroon di tangan kirinya.
'Kookie, kau suka undangan yang mana?" Tanya Taehyung sambil menunjukan 2 undangan dengan bentuk berbeda di kedua tangannya.
"Hyung yang akan menikah itu Daehyun-hyung bukan kau. Seharusnya kau Tanya Youngjae hyung" jawab Jungkook sambil terkekeh pelan
"Kau benar Kookie'ah, dasar Tae-babbo"ujar Youngjae calon kakak sepupu ipar Taehyung.
"tapi bukan hanya kau saja yang akan menikah chubbycheeks"
"Hey! Berani sekali kau memanggilku begitu"
Yongjae mulai mencakar0cakar(?) wajah Taehyung dengan ganasnya membuat Jungkook tertawa sampai matanya melihat sebuah undangan berwarna merah maroon dengan pita emas di salah satu sudutnya.
"Aku suka yang ini hyung" ucapnya sambil menunjukan undangan itu pada Taehyung yang sedang dijambak rambutnya oleh Youngjae.
"Wah, itu bagus sekali aku ingin mengambilnya"
"Eits kau tidak boleh memaki yang ini Chubby hyung"
Dan kembali terjadi perkelahian lucu antara Taehyung dan Youngjae membuat Jungkook lagi-lagi tertawa lepas.
Jungkook kembali tertawa pelan mengingat salah satu kenangan manisnya bersama Taehyung yang sebentar lagi akan menikah dengan salah satu teman SMA'nya dulu. Iri? Tentu saja dia iri, cemburu, kesal, dan menyesal. Tapi ini adalah resiko yang harus dia hadapi dengan tenang. Luapan emosinya tidak akan membuat Taehyung kembali padanya dan sudah terlalu terlambat untuk meminta Taehyung kembali padanya. Sangat terlambat.
Undangan itu perlahan jatuh dari tangannya seiring dengan air mata yang perlahan menyusuri pipinya. Sebuah tangan merangkul bahunya dan menarik kepalanya untuk bersandar di bahunya.
"Kau tidak sendirian Jungkook'ah" ucap Namjoon si pemilik tangan. Membuat jungkook semakin terisak.
TBC
Terima kasih untuk reader yang udah dating datan review. Semoga fic ini tidak terlihat buruk.
Reply review:
Hantu Just In : terima kasih ini tidak keren tapi keren sekali hhhahha *PD tingkat Negara
Jchimchimo : tak apa sudah mau di baca juga L senang. Terima kasih sudah dating reviw Chimo sunbaenim. *winklewinkle
KahoriKen : ini bukan drable sunbae, hhehhe. Tentu saja masih dilanjut. ^^ terima kasih sudah review * winklewinkle
EsaZame: Yapz ini YoonMin. Aku JIMIN UKE SHIPER*teriak pake toa. HIDUP JIMIN UKE! HIDUP YOONGI SEME! Terima kasih sudah review * winklewinkle
