Our Story

Chapter 3 : Almost end

By : L for Lucius ft. Min Ji-Mine

BTS Fanfiction; Many more typos; amatir

Lil' drama & romance; Rate T

Warning :

Amburadul dan gak nyambung

Enjoy it! *WinkleWinkle

Lucius

Jimin terbangun pagi itu dan kedua matanya langsung menatap ranjang Yoongi yang kosong.

"Hyung?" panggilnya yang langsung turun dari ranjangnya dan berjalan menuju kamar mandi

Tok!Tok!

"Hyungie, kau di dalam?" Tanya Jimin setelah mengetuk pintu kamar mandi. Tidak ada jawaban dari dalam membuat Jimin mulai khawatir diapun membuka pintu kamar mandi itu. Kosong. Jimin mulai mengelilingi ruangan kamar rawat tapi tidak ada Yoongi disana. Diapun berlari keluar dan mulai membuka setiap pintu ruangan di lantai 5 rumah sakit itu sambil berteriak memanggil Yoongi membuat kegaduhan disana. Protesan dan makian dilayangkan untuknya tapi dia tidak peduli dan malah terus melakukan hal itu sampai beberapa perawat laki-laki mencoba menenangkannya dan menahannya. Jimin menangis histeris dia terus memanggil nama Yoongi dan terus memberontak. Memukul, mendorong jatuh, bahkan menendang perawat-perawat itu. Sampai Seokjin dating dan menyuntikan obat penenang padanya. Yang terakhir dia lihat adalah bayangan wajah Yoongi yang tersenyum padanya dan memeluk tubuhnya erat.

Klap!

Jimin kembali membuka matanya, seluruh tubuhnya terasa kebas, kepalanya juga terasa berat. Dia terduduk di ranjang menatap kosong dinding putih kamar. Memikirkan keberadaan Yoongi hyung'nya dan alasan kenapa sang hyung pergi.

Jimin melihat sebuah cermin di atas nakas. Pasti hyungnya kembali melihat cermin itu. Jimin menatap lam cermin itu sampai tangannya meraih cermin itu. Tidak ada yang aneh dengan cermin itu. Cermin itu tetap memantulkan apa yang ada dihadapannya sampai Jimin baru menyadari apa yang selama ini tidak disadari olehnya.

Ji-Mine

"Taehyungie, bagaimana dengan gaun ini ?" Tanya NamJoo sambil memutar tubuhnya anggun menunjukan betapa pas'nya gaun itu ditubuh langsingnya. Taehyung mengacungkan 2 jempolnya sambil tersenyum penuh

"Apapun yang kau pakai semua terlihat indah"

"Apa itu pujian atau kau memang tidak tertarik untuk menilainya,hm?" NamJoo mempoutkan bibirnya

Taehyung menghampiri NamJoo dan mencubit pipinya gemas.

"Aku bersungguh-sungguh, kau cocok mengenakan apapun. Bahkan piyama tidurpun akan terlihat mewah jika kau yang memakainya"

Taehyung semakin gemas melihat NamJoo yang semakin mempoutkan bibirnya dan pii yang menggembung lucu.

"Aiigooo,, puppy siapa ini,hm" Taehyung gemas dan mencubit kedua pipi NamJoo

"HHeeyy! Thaeyhungh LhePhaash!" NamJoo berusaha melepas cubitan tangan Taehyung tapi, si pencubit masih betah dan malah menggerakan tangannya ke kanan dan kiri membuat NamJoo semakin menggaduh. Gerakan Taehyung terhenti saat mata tajamnya melihat seseorang masuk ke ruangan itu dengan 2 jas berbeda tersampir di lengannya dan jas lainnya yang di bawa oleh salah satu pegawai butik di belakangnya. Mereka saling menatap satu sama lain. Waktu terasa terhenti beberapa saat disekitar mereka. Membiarkannya terlarut dalam dunia mereka yang dingin dan gelap.

"Tae" panggil NamJoo pelan sambil menarik lengan jas yang di pakai Taehyung. Menggerakan kembali waktunya dan menyadarkan Taehyung.

"Ah, Maaf. Kau sudah selesai memilih?" tanyanya sambil menatap NamJoo yang balik menatapnya khawatir. Taehyung tersenyum dan mengelus lembut kepala NamJoo. Bukan untuk memanasi sosok yang masih berdiri di depan pintu tapi memang murni untuk menenangkan yeoja manis di depannya. Dia tau kalau NamJoo mengkhawatirkannya karena dia kembali bertemu dengan sosok yang memberinya kehampaan selama bertahun-tahun. Meninggalkannya dengan luka yang perlahan menggerus hatinya yang sudah hancur. Jeon Jungkook. Taehyung kembali tersenyum lalu menggenggam erat tangan hangat NamJoo.

"Gwaenchana, ayo kita pilih lagi gaun yang lain" ucapnya sambil berjalan melewati pintu lain NamJoo hanya mengangguk dan mengikuti langkah Taehyung. Dia membalas genggaman erat tangan besar Taehyung, mencoba untuk memberinya kekuatan.

Sementara itu Jungkook yang masih terdiam di depan pintu menatap sendu punggung Taehyung yang semakin menjauh. Ya, dia sedih melihat Taehyung pergi tanpa sepatah katapun. Tapi, dia senang karena dia bisa melihat senyuman Taehyung walaupun bukan untuknya. Itu cukup memberitahunya kalau Taehyung sudah menjalani kehidupannya dengan baik tanpa dirinya seperti yang dia minta di surat yang dia tinggalkan dulu sebelum dia pergi meninggalkannya

Lucius

Seokjin melangkah menuju rumah di ujung jalan. Langkah kakinya terhenti saat melihat sebuah sepeda berhenti di depan rumah itu, si pengendara turun dari sepedanya dan membawa beberapa kantung belanjaan. Seokjin mengenal si pengendara itu. Sangat mengenalnya. Jeon Jungkook. Ya, dia yakin pengendara sepeda itu adalah Jungkook. Seokjin meremas kuat kertas berisi alamat yang Hoseok berikan padanya saat dia menanyakan kebaradaan Namjoon yang tidak pulang 3 hari ini dan ponselnya juga tidak aktif membuat Seokjin khawatir . Dia bilang kalau Namjoon ada di studio baru yang dibeli olehnya. Seokjin mengeratkan kedua tangannya , dia menunduk berusaha menahan air mata yang akan keluar dari matanya menunjukan rasa sakit yang mendera hatinya saat ini. Apa gossip yang dia lihat dari berbagai media kemarin itu benar kalau Jungkook memiliki hubungan khusus dengan Namjoon'nya. Dia kembali berbalik menuju mobilnya. Memastikannya hanya akan menambah rasa sakit dihatinya.

Seokjin mulai menyalakan tapi matanya melihat Jungkook yang keluar dengan raut wajah panik dengan ponsel yang menempel di telinganya. Seokjin mematikan kembali mesin mobilnya lalu berlari keluar menghampiri Jungkook yang sedang terisak, air mata mulai menganak sungai di pipinya.

"Ada apa Jungkook-ah?" Tanya Seokjin sambil memegang kedua bahu Jungkook yang bergetar.

"Jinnie Hyung … Namjoon hyung .. dia … dia.." Jungkook terus terisak membuat apa yang di katakannya tidak terdengar jelas. Dia menarik tangan Jin memasuki rumah itu. Seokjin terhenyak kaget saat melihat Namjoon yang sedang terbaring tidak sadarkan diri di depan pintu masuk rumah itu.

"Ayo bantu aku" perintahnya pada Jungkook yang masih terisak di belakangnya setelah memeriksa denyut nadi Namjoon. Mereka membawa Namjoon menuju mobil Seokjin di luar.

"Apa yang membuat Namjoon pingsan seperti?" Tanya menatap Jungkook yang duduk di kursi belakang dari spion mobil mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit terdekat disana.

"Aku tidak tau hyung, sebelum aku pergi tadi Namjoon hyung masih baik-baik saja"

"Baik-baik saja ? aku lihat banyak luka lebam di lengan ? apa yang dia lakukan beberapa hari ini?"

Jungkook terdiam, dia menunduk dan menggenggam erat tangan besar Namjon erat.

"Jungkook'ah,"

"Itu…"

Jungkook menggantungkan kalimatnya, dia bingung harus mengatakan apa. Dia takut salah menceritakannya dan malah membuat semuanya semakin rumit. Akhirnya Jungkook hanya terdiam sampai mereka memasuki rumah sakit.

Ji-Mine

Yoongi menatap kosong pemandangan pantai di depannya. Membiarkan angin awal musim dingin yang menerpa tubuhnya yang hanya terbalut piyama rumah sakit membekukan seluruh perasaannya, mematikan semua beban pikirannya. Dia sudah lelah dengan semuanya, dia sudah tidak pantas untuk hidup. Tapi sanggupkah dia meninggalkannya. Meninggalkan Park Jimin'nya. Sepasang tangan terasa melingkari pinggangnya dan seseorang itu menyandarkan kepalanya di punggungnya. Rasa hangat langsung menjalar dan menepis dingin yang sejak tadi menusuk tubuhnya.

"Aku selalu bersamamu hyung" bisiknya sambil mengeratkan pelukannya. Membuat yoongi menghela nafas berat lalu melepas pelukan itu. Dia berbalik dan menatap si pemeluk. Keningnya langsung berkerut melihat sesuatu berbeda dari biasanya.

"Jimin?" Yoongi merasa kalau ada yang berbeda dari Jimin. Jimin tersenyum lebar sampai mata sipitnya memperlihatkan lengkungan bulan sabit. Dia menarik beanie hitam yang di pakainya menunjukan kepala tanpa surai merah yang selalu dimainkan oleh Yoongi dulu.

"Aku ingin menunjukan padamu kalau perasaanku tetap sama untukmu sampai kapanpun hyung . apapun yang Kau tetap Min Yoongi namja yang aku cintai sepenuh hatiku. Namja beruntung yang mendapatkan seorang Park Jimin" ucap Jimin membuat Yoongi terdiam air mata berkumpul disudut matanya. Dia tidak bias menahan rasa haru di dalam hatinya. Siapa dia berani meninggalkan sosok manis yang selalu menggenggam tangannya, yang selalu menjadi sandarannya.

Yoongi menarik tangan Jimin untuk masuk ke dalam pelukannya.

"Mianhae… jeongmal mianhaeyo" bisik Yoongi. Ya, dia tidak sendirian, dia tidak membebaninya, dia masih dicintai, dia tidak ditinggalkan. Seharusnya dia menyadari ketulusan Jimin.

"Mia.."

"Ssshh… berhenti minta maaf hyung. Bukan itu yang aku inginkan" potong Jimin sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir pucat Yoongi. Jimin menangkup wajah Yoongi lalu dia menyalurkan kehangatan nafasnya pada Yoongi dengan mencium lembut bibir pucat itu.

Sementara itu di rumah sakit dimana Namjoon dibawa terlihat Seokjin meremas jari-jari tangannya merasa tidak percaya dengan yang diceritakan Jungkook. Dimensia. Namjoon menderita dimensia? Seokjin benar-benar tidak mempercayainya. Dulu Namjoon sering melupakan apa yang sedang dia kerjakan, mengulang perayaan ulang tahun Jin dan terakhir dia sering melupakan hal kecil seperti sepatu, jaket, ponsel, Namjoon juga sering sibuk dengan laptopnya. Yang ternyata berisi catatan apa saja yang dia lakukan seharian ini dan apa yang akan dia lakukan besok itu yang dikatakan Jungkook padanya. Kenapa dia tidak menyadari perubahan Namjoon dari awal padahal penyakit itu sudah bersamanya sejak 1 tahun yang lalu. Dia menatap Namjoon yang masih belum sadar dari pingsannya. Meraih tangannya dan menggenggamnya erat.

"Maafkan aku, Joonnie" gumamnya air mata perlahan turun dari kedua matanya.

"hyung"

Seokjin langsung mengangkat wajahnya saat mendengar suara Namjoon memanggilnya.

"Kau sudah sadar, akan aku panggilkan dokter. Tunggu sebentar"

Seokjin berdiri dari kursinya tapi tangan Namjon menahannya. Namjoon menggeleng pelan.

"Gwaenchana hyung, kau tidak perlu memanggil dokter. Bukankah aku sedang bersama seorang dokter ?"

Seokjin menepuk dahinya. Ya, dia lupa kalau dia juga seorang dokter.

Lucius

Jungkook menatap Hoseok yang ada di depan rumahnya tidak percaya. Baru saja dia mau berangkat ke rumah sakit untuk menjenguk Namjoon yang baru saja sadar tapi Hoseok mengatakan kalau da harus recording track list terakhirnya sekarang.

"Hyung bisakah kita lakukan itu nanti saat aku sudah melihat Namjoon hyung?"

"Tidak bisa, maaf Jungkook tapi kita sudah hamper mendekati deadline. Kau ingin CEO menegur keterlambatan kita. Belum lagi jadwal shooting MV yang dipercepat. Kita harus menyelesaikannya sekarang."

Jungkook menunduk lalu dia menghubungi Seokjin yang masih ada di rumah sakit memberitahunya kalau dia belum bisa ke rumah sakit.

Jungkook memasuki mobil Hoseok dan dia melihat undangan merah maroon di dashboard mobil Hoseok. Undangan pernikahan Taehyung. Jungkook terus menatapnya. Tusukan menyakitkan mulai terasa di dalam dadanya.

"Ah! Maaf" ucap Hoseok sambil mengambil undangan itu dan melemparnya ke kursi belakang. Jungkook hanya terdiam. Pikirannya melayang entah kemana.

Musik intro terdengar dari headphone yang dipakai oleh Jungkook, matanya sekali lagi melihat kertas lirik lagu outro untuk tracks list terakhir di album debutnya. Dan intruksi isyarat Hoseok yang ada di balik kaca ruang recording diangguki olehnya. Diapun mulai menyanyikan bait pertama lagu itu.

I realize that this might be my fate
You and I may not be together
Even if the heart keeps crying

I dont regret the whole story that have been happened
I let time accompany my lonely heart

Forgive my sincerity even if it hurts
And maybe I won't be able to forget it
Until the end
I let go of this love, I'm willing to sacrifice
It doesn't matter, but you should be happy

I dont regret the whole story that have been happened
I let time accompany my lonely heart

Forgive my sincerity even if it hurts
And maybe I won't be able to forget it
Until the end
I let go of this love, I'm willing to sacrifice
It doesn't matter, but you should be happy

Jungkook merasakan kedua matanya memanas. Dia teringat dengan Taehyung, undang pernikahan, kejadian di butik, dan semua yang telah dia matapun turun perlahan mengiringi suaranya yang masih menyanyikan setiap bait lagu itu. Dan dari balik kaca ruang recording Hoseok juga tampak ikut terhanyut dengan suara lembut Jungkook yang menyanyikan lagu ciptaannya dengan penuh perasaan.

(Forgive my sincerity even if it hurts)
And maybe I won't be able to forget it
Until the end
I let go of this love, I'm willing to sacrifice
It doesn't matter, but you should be happy

(Forgive my sincerity even if it hurts
And maybe I won't be able to forget it)
Until the end
I let go of this love, I'm willing to sacrifice
It doesn't matter, but you should be happy
It doesn't matter, but you should be happy

Jungkook terduduk di lantai dia benar-benar tidak bisa menahannya. Perasaan menyesal langsung melingkupi pikiran dan hatinya. Dia tidak ingin kehilangan Taehyung. Dia tidak bisa kehilangannya. Sungguh jika dia bisa dia ingin meminta Taehyungienya kembali. Hoseok menepuk punggung Jungkook menenangkannya dan mengusapnya pelan.

TBC

Thanks to readers who still read my amburadul fic. Special thanks to FerLuci and Min Ji-Mine who help me to finish this fic.

Reply Review:

IoriNara : L juga ga tega bikin sad end buat YoonMin. Thanks dah datang mereview *WinkleWinkle

Esazame : Jangan-jangan…?

Jchimchimo : hehehe ,, kan lebih lama di ffn, jadi kamu senior L *KedipkedipUnyu. Bunuh diri ga ya? ntar Jimin ama siapa kalau Yoongi'nya bunuh diri?