Disclaimer : kalau sampai ada yang bilang Vocaloid punya saia, itu fitnah./gaada
Genre : (sementara) friendship-family. Romens kemudian/mungkin
Rated : T
"Kita mau kemana, Yutaka-san?" Yohio merasa tak nyaman ketika atasannya itu membukakan pintu mobil untuknya.
"Aku ingin mengantarmu pulang hari ini.." Jawab Yukari enteng.
"E-eh? Tapi...kan..rumah Kagamine-san tidak jauh..aku bisa jalan kaki.." Yohio berusaha menolak dengan halus.
"Aku ada urusan dengan Kagamine-san...dan, kenapa kau tidak memanggilnya ayah saja? Kau kan sudah jadi anaknya sekarang?" Yukari masih tak mengerti mengapa Yohio belum bisa memanggil Kagamine-san dengan sebutan 'ayah'.
"Ku-kurasa...aku belum siap.."
"Kalau begitu siapkan dirimu.." Yukari mendorong punggung pemuda itu hingga masuk ke dalam mobil. Yukari lalu menutup pintu mobil keras-keras dan menuju ke bangku kemudi.
"Eh? Besok ternyata golden week?"
Yuu baru saja melihat kalendar bulan ini. Benar, rupanya minggu depan adalah golden week yang artinya, deadline diundur seminggu lagi. Mereka bekerja sampai-sampai lupa melihat tanggal.
"Untung saja, ya." Kyo menghela nafas lega. Menahan ujung kaki pada pijakan bawah meja, meregangkan otot-ototnya yang pegal.
"Kupikir aku akan mati karena besok tenggat waktunya, tapi syukurlah..." Iroha menengadahkan kepalanya.
Tentu saja, golden week tak pernah disia-siakan. Olivia mengamati kembali lembar demi lembar manga-nya. Sebenarnya sudah selesai dan tinggal disatukan. Tapi, ini sudah sore dan besok golden week. Artinya mereka masih punya waktu seminggu untuk memperbaiki apa yang kurang. Dan itu artinya..
"YEYY! LIBUR!"
Ah, selalu saja begini.
Suasana makan malam di kediaman Kagamine berlangsung khidmat. Sang tuan rumah ―Kagamine Len; bersama anak angkatnya, Yohio, serta Yukari. Yukari kerap makan malam disini, karena ia tidak punya saudara di rumah. Ayahnya juga sibuk keluar negeri. Yukari hanya ingin menghabiskan waktu bersama ― err, mungkinkah ia dan Yohio bisa disebut teman?
Lagipula, Olivia jarang pulang ke Oita. Susah pula mencocokkan jadwalnya dengan Yukari. Jadi...ya begitulah..
"Bagaimana kabar perusahaanmu, Yukari?" Tanya Len.
"Baik-baik saja, Kagamine-san. Kami baru saja akan membuat cabang baru di Kagoshima." Jelas Yukari tanpa berpaling.
"Kagoshima? Aku yakin kita ditakdirkan bersama..ahahaha..aku juga ada usaha di sana..." Len tertawa pelan.
Entah sudah berapa tahun Yohio menjadi pihak pasif. Memang sekarang ia anak Kagamine-san, tapi ia tak berani menyela percakapan antara ayah angkatnya dengan teman semasa SMA-nya.
Ia bahkan tak pernah berfikir bahwa, Len juga menganggapnya seperti anaknya sendiri. Tentu saja. Yohio merasakan hal yang sama. Tidak mungkin ia menganggap pria itu sama dengan ayahnya.
"..hio? Yohio?"
Yohio tersentak saat menyadari dirinya dipanggil oleh ayah angkatnya itu. Buru-buru ia tersenyum,
"A-ada apa, Kagamine-san?"
Len sebenarnya ingin sekali pemuda itu memanggilnya ayah. Tapi, apa boleh buat. Ia tidak boleh memaksa. Hanya Yohio sekarang satu-satunya keluarga yang ia miliki sekarang. Ia tidak mau Yohio ikut meninggalkannya juga.
Len tidak mau sendirian lagi.
"Kau belum menyentuh makananmu, Yohio."
"Ah, maaf, Kagamine-san."
Len tersenyum. Tidak apa. Selama ia tidak kehilangan Yohio.
Lampu berpendar merah. Inilah waktunya pejalan kaki menyeberang.
"Orin-sensei! Hari ini kita coba restoran disana!" Yuu paling bersemangat sambil menunjuk ke arah restoran seberang jalan. Yuu, Kyo, dan Iroha mulai menyeberang lewat trotoar.
Olivia bergeming. Tak mau beranjak satu langkah pun, melihat apa yang ada di seberang jalan.
Setiap golden week, para asistennya akan mencari tempat untuk sekedar mengobrol atau saling bertukar cerita; bicara mengenai pengalaman mereka saat masih sekolah dan kehidupan mereka. Bisa di kedai teh, cafe, atau warung makan biasa.
Tapi, kenapa kali ini harus ke restoran itu?
Restoran bergaya barat favoritnya sewaktu masih tinggal di Akihabara dulu.
Restoran yang sekarang ia pandangi dengan penuh penyesalan.
Ia ingat betul. Waktu itu, ia dan Rinto makan bersama disini ―itupun atas paksaan Rinto dulu. Kepalanya tiba-tiba terasa sakit. Ia masih merasa bersalah atas kematian sahabatnya waktu itu. Dan entah kenapa..ia mulai tidak suka melihat hal-hal yang berhubungan dengan Rinto. Memaksanya mengulang kembali memorinya tanpa ingin.
"Orin-sensei..?" Iroha baru menyadari jika Olivia tak ada bersama mereka ketika tiba di tengah trotoar.
Olivia hanya menundukkan kepalanya.
"Eh? Ma-maaf...aku, kurang bernafsu makan..a-aku..permisi.." Olivia mencengkeram erat tas selempangnya dan berlari menjauh; bersembunyi di antara keramaian.
Ketiga asistennya hanya berkedip heran.
"Aku akan mengejar Orin-sensei. Mungkin, kita harus menunda acara makannya lain waktu..." Yuu berbalik dan mengejar Olivia. Sementara Kyo dan Iroha mendesah kecewa.
"Fumiya-san.."
"Ada apa, tuan?"
"Kenapa kau berdiri di balik pintu? Ada apa?"
Yang disebut Fumiya-san itu membuka pintu dengan ragu. Sementara tuannya di dalam yang sedang berkutat dengan laptop hanya terkekeh.
"Berjaga-jaga jika tuan Kagamine ketiduran, nanti akan saya bereskan."
"Jangan bersikap seperti kita baru kenal, Fumiya-san.." Len terkekeh. Kepala pelayannya itu selalu saja bertingkah aneh dan ―yang menurut Len― tidak perlu. Len bukan anak kecil lagi. Ia sudah mengenal Fumiya-san sejak lama. Fumiya-san juga yang mengusulkan tema untuk pernikahannya dengan Rin dulu. Bayangkan saja, temanya adalah festival musim panas. Bagaimana Len tidak menertawainya ―meski akhirnya ia tetap memakai tema itu untuk pernikahannya karena Rin menyukai tema itu.
Ah, semoga Rin sedang tersenyum melihatnya.
"Kalau tuan butuh sesuatu..silahkan panggil saya." Kepala pelayan itu undur diri dan pergi dari hadapan Len.
Len memiringkan kursi kerjanya ke arah kiri. Mengamati foto Rin yang ia letakkan disana. Foto ketika Rin tersenyum bersamanya saat menikah dulu.
Kenapa tiba-dia dia teringat mendiang istrinya itu?
Tes
Ia menengadahkan kepalanya ke atas. Berusaha mengatur nafas.
Mungkin, ia sedang merindukannya?
"Hiruzen-san!"
Olivia menyadari ada seseorang yang mengejarnya, yang tak lain salah satu asistennya.
Olivia memilih berhenti berlari. Di saat itu juga, Yuu menubruk punggungnya.
"Hi..Hiruzen-san..kenapa kau tidak mau makan?" Langsung saja Yuu bertanya.
"Aku tidak lapar." Jawaban kuno, tapi benar sih.
"Hiruzen-san.." Yuu membalikkan tubuh Olivia, sehingga kini mereka saling berhadapan. Matanya menuntut jawaban, sembari memperlihatkan raut heran.
"Kenapa, Orin-sensei?"
"Kau tuli, ya?" Olivia justru geram. Tanpa sadar mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Biar saja. Mungkin ada bagusnya.
Hening.
"Olivia-san.."
Olivia menepis tangan Yuu yang hendak meraihnya.
"Jangan panggil aku begitu. Cukup Hiruzen atau Olivia." Tegas Olivia. Yuu menunduk sebentar, sebelum mengangkat wajahnya kembali.
"Kenapa? Kenapa aku tidak boleh memanggilmu begitu? Bukankah kita sudah―"
"Maaf. Aku tak bisa menceritakannya padamu, Yuu." Olivia bersikeras. Tak sedikitpun ia ceritakan masa lalunya pada pemuda yang kini menjadi kekasihnya itu. Panggilan itu mengingatkannya pada Rinto. Lagi-lagi penyesalan masih terselip dalam nuraninya.
Memang, tidak ada yang tahu perihal hubungan mereka selama ini. Tidak terendus kabar aneh selama mereka tetap berpura-pura di depan orang lain. Berkamuflase dengan pekerjaan untuk menutupi hubungan mereka yang sebenarnya.
"Aku juga ingin tahu semua tentangmu, Olivia..kita sudah setahun bersama..." Yuu mencengkeram erat kedua bahu Olivia. Mengabaikan tatapan dari orang sekitar yang tengah melintas di dekat mereka.
"Maaf."
Sebuah penolakan halus terucap dari kekasihnya itu. Yuu tahu, ia tidak boleh memaksa...tapi..apakah salah jika ia ingin tahu tentang kekasihnya?
"Aku mengerti.." Yuu melepas tangannya. Saling bertukar pandang sebentar sebelum Olivia berbalik.
"Aku mau mengunjungi orang tuaku besok.." Ujar Olivia memunggunginya.
Olivia takkan mau melewatkan kesempatan di hari libur untuk mengunjungi kedua orang tuanya. Selalu begitu, tapi...Yuu merasa harus melakukan sesuatu kali ini.
"Aku ikut. Boleh?"
Olivia hanya mengangguk.
Yohio terbangun ketika mendengar alarm ponselnya berbunyi. Tangannya mencari letak ponsel itu dan mematikannya segera.
Yohio bangun dengan rambut kusut. Menatap malas ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan. Ia menguap dan merenggangkan tangan serta punggungnya. Namun, ia terkejut ketika mendapati Yukari duduk di sisi ranjangnya.
"Hwaaaa! A-apa yang kau lakukan disini, Yutaka-san?!" Yohio sangat terkejut melihat Yukari.
Bukankah Yukari sudah pulang semalam? Lalu, kenapa dia bisa...?
Ah, sudahlah, Yohio menebak Yukari bangun pagi dan sedang mengerjainya hari ini, ia yakin sekali. Lalu Fumiya-san meminjamkan kunci duplikat kamarnya. Haha, lucu sekali. Sekarang Yukari dan Fumiya-san sedang bekerja sama membuatnya jantungan di pagi hari.
Yukari berdiri dan bicara,
"Hari ini Kagamine-san berangkat ke Hokkaido. Tapi, di bandara aku tidak menemuimu. Jadi, kufikir, kau masih tidur.."
Yohio terdiam sejenak.
"Tapi, Kagamine-san tidak..." ―berbicara denganku semalam.
"Kenapa kau tidak memanggilnya ayah saja?" Yukari sedikit menoleh ke arahnya.
Pertanyaan Yukari sukses membuat Yohio berhenti berfikir. Bukannya ia tidak mau, hanya saja..
"A-aku akan bersiap. Maaf, bisakah kau keluar, Yutaka-san..?" Yohio menundukkan kepalanya. Yukari melangkahkan kakinya keluar dari sana dan menutup pintu ruangan Yohio.
"Hah."
Tsuzuku /ditebas/
Bingung mau nerusin =w= review saya bales lewat pm yhaa okesip/g
Thanks for reading =w=)b
Btw saya makin banyak kegiatan en ga janji apdet cepet. Tapi cerita ini pasti saya selesaikan :") soalnya udah kebayang endingnya sih/lha
De wa.
